Di Jamuan Mewah, Suamiku yang CEO Mempermalukanku Demi Selingkuhannya—Aku Hanya Menelepon Satu Orang

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 741 tayangan
Di Jamuan Mewah, Suamiku yang CEO Mempermalukanku Demi Selingkuhannya—Aku Hanya Menelepon Satu Orang
Indeks

Di Jamuan Mewah, Suamiku yang CEO Mempermalukanku Demi Selingkuhannya—Aku Hanya Menelepon Satu Orang

Di sebuah jamuan mewah, suamiku yang menjabat sebagai CEO mempermalukanku di depan semua orang demi selingkuhannya.

Aku hanya membuat satu panggilan telepon.

—Berhentikan CEO-nya. Bekukan semua fasilitasnya. Ambil kembali rumah dan semua mobil milikku.

Keluarga suamiku langsung tertawa.

Mereka mengira aku sudah kehilangan akal sehat.

Namun tiga puluh menit kemudian…

tak seorang pun di ruangan itu masih bisa tersenyum.

Seluruh ballroom mendadak sunyi ketika suamiku, Arga Mahendra, mengangkat segelas sampanye dan menatap ke arahku dari atas panggung.

Di Jamuan Mewah, Suamiku yang CEO Mempermalukanku Demi Selingkuhannya—Aku Hanya Menelepon Satu Orang

—Untuk istriku, Nadira Prameswari —katanya dengan senyum mengejek— wanita yang mungkin merupakan kesalahan termahal yang pernah kubuat dalam hidupku.

Tawa kecil terdengar dari beberapa meja.

Dadaku terasa sesak.

Tapi aku tidak bergerak.

Kemudian Arga melakukan sesuatu yang bahkan lebih buruk.

Di hadapan hampir empat ratus tamu, ia merangkul pinggang seorang perempuan muda yang berdiri di sampingnya.

Celine Wijaya.

Perempuan yang selama enam bulan terakhir diam-diam menjadi selingkuhannya.

Arga menarik Celine mendekat lalu menciumnya di depan semua orang.

Kamera ponsel langsung terangkat.

Beberapa tamu menahan napas.

Yang lain justru tersenyum, menikmati penghinaan itu seperti sedang menonton sinetron secara langsung.

Arga kemudian menatapku.

Dia menunggu.

Mungkin dia ingin melihatku menangis.

Mungkin dia berharap aku berlari keluar dari ballroom sambil menutupi wajah.

Aku tidak melakukan keduanya.

Malam itu seharusnya menjadi perayaan lima tahun Arga menjabat sebagai CEO Mahendra Meridian Group, sebuah perusahaan investasi dan properti besar yang berkantor pusat di kawasan Sudirman, Jakarta.

Lampu kristal bergantung megah dari langit-langit ballroom sebuah hotel bintang lima.

Meja-meja ditutupi kain hitam elegan.

Para pengusaha, pejabat perusahaan, investor, dan sosialita memenuhi ruangan.

Di meja terdepan duduk ibu mertuaku, Bu Ratna Mahendra, mengenakan kalung berlian bernilai miliaran rupiah.

Kalung yang biaya asuransinya sebenarnya dibayar oleh kantorku.

Di sebelahnya duduk adik Arga, Bima Mahendra, mengenakan jam tangan Swiss yang dibeli melalui salah satu perusahaan investasi keluargaku.

Bahkan Celine datang malam itu menggunakan Bentley berwarna perak.

Mobil senilai miliaran rupiah yang ia pamerkan di media sosial selama berbulan-bulan.

Ada satu hal kecil yang tidak diketahui Celine.

Mobil itu bukan miliknya.

Bukan pula milik Arga.

Bentley itu terdaftar atas nama Prameswari Holdings.

Perusahaanku.

Selama bertahun-tahun, aku memilih menghindari sorotan.

Aku membiarkan Arga memberikan wawancara televisi.

Aku membiarkannya menerima penghargaan.

Aku berdiri sedikit di belakang ketika fotografer meminta kami berpose.

Dan perlahan, Arga mulai mempercayai cerita yang ia ciptakan sendiri.

Bahwa dialah yang membangun semuanya.

Bahwa aku hanyalah istri pendiam yang kebetulan menikah dengan lelaki sukses.

Setelah ayahku meninggal, Arga selalu mengatakan kepada teman-temannya bahwa aku hanya mewarisi “beberapa investasi konservatif”.

Dia tidak pernah membaca dokumen trust keluargaku.

Dia tidak pernah bertanya mengapa direktur beberapa bank terbesar di Jakarta selalu membalas teleponku dalam hitungan menit.

Dia tidak pernah bertanya mengapa nama keluargaku muncul pada perusahaan-perusahaan yang memiliki gedung tempat kantornya berada.

Rumah kami di Pondok Indah?

Milik perusahaan keluargaku.

Vila di Bali?

Milik trust keluargaku.

Apartemen yang digunakan Bima di SCBD?

Milik perusahaan investasiku.

Jet perusahaan yang sering Arga gunakan untuk perjalanan bisnis?

Dibiayai dan dimiliki entitas yang berada di bawah kendaliku.

Bahkan gedung tempat Mahendra Meridian Group berkantor…

berdiri di atas properti milik keluargaku.

Tapi Arga terlalu sibuk menikmati statusnya sebagai “raja” untuk memeriksa siapa sebenarnya yang memiliki kerajaannya.

Di atas panggung, dia kembali mengangkat gelas.

—Nadira selalu menjadi istri yang sangat… mendukung.

Dia sengaja berhenti sebelum mengatakan kata terakhir.

Beberapa orang tertawa.

Celine menyentuh jas Arga lalu tersenyum manis.

—“Mendukung” itu kata yang sangat baik hati.

Tawa kembali terdengar.

Aku merasakan panas menjalar sampai ke wajahku.

Namun tanganku tetap tenang di atas meja.

Aku hanya menatap mereka.

Arga kemudian mengangkat mikrofon lagi.

—Dan malam ini, aku ingin mengumumkan awal dari babak baru bagi perusahaan kita.

Dia mengulurkan tangan kepada Celine.

—Mulai bulan depan, Celine Wijaya akan menjabat sebagai Executive Vice President of Strategic Development.

Tepuk tangan langsung memenuhi ballroom.

Aku ikut bertepuk tangan pelan.

Lalu menatap Celine.

—Selamat.

Wajahnya berubah.

Aku tahu dia kecewa.

Dia ingin aku marah.

Dia ingin melihatku hancur.

Di sebelahku, Bu Ratna membungkuk sedikit.

—Jangan membuat keributan, Nadira —bisiknya.— Setidaknya pergilah dengan harga diri.

Aku menoleh kepadanya.

Bu Ratna tersenyum puas.

—Kamu harus menerima kenyataan. Arga sudah berkembang jauh. Dia membutuhkan perempuan yang bisa berjalan sejajar dengannya.

Aku hampir tertawa.

Selama dua belas tahun, keluarga ini menganggap diamku sebagai kelemahan.

Mereka tidak pernah menyadari bahwa aku diam karena tidak pernah merasa perlu membuktikan apa pun.

Namun kalimat Bu Ratna akhirnya membuatku mengambil keputusan.

Aku berdiri.

Mengeluarkan ponsel dari clutch-ku.

Lalu menelepon satu nomor.

Seseorang langsung menjawab.

—Ya, Bu Nadira?

Aku menatap Arga yang kini turun dari panggung bersama Celine.

—Pak Daniel Santoso, jalankan voting consent yang sudah saya tandatangani.

Suasana di meja kami mulai berubah.

Daniel adalah kepala penasihat hukum keluargaku.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

—Efektif malam ini, berhentikan CEO Mahendra Meridian Group.

Senyum Bu Ratna melebar.

Ia mengira aku sedang menggertak.

Aku belum selesai.

—Bekukan seluruh fasilitas eksekutif atas nama Arga Mahendra. Batalkan akses kartu perusahaan. Hentikan penggunaan pesawat korporat. Dan ambil kembali seluruh kendaraan milik Prameswari Holdings yang saat ini digunakan oleh Arga maupun anggota keluarganya.

Bu Ratna tiba-tiba tertawa keras.

Beberapa orang di meja sebelah menoleh.

Bima hampir tersedak anggur.

—Ya ampun, Kak Nadira —katanya sambil tertawa.— Kamu benar-benar sudah gila.

Aku tetap berbicara melalui telepon.

—Untuk kediaman Pondok Indah, aktifkan klausul kepemilikan pribadi. Mulai proses pengambilalihan kembali properti sesuai perjanjian penggunaan.

Kali ini bahkan Celine tertawa.

—Kamu mau mengambil rumah Arga?

Aku menatapnya.

—Bukan rumah Arga.

Aku mengakhiri panggilan.

Arga berjalan mendekat dengan senyum lebar.

Ia meletakkan satu tangan ke dalam saku celananya.

—Sudah selesai pertunjukannya?

—Sudah.

—Bagus.

Dia mencondongkan tubuh sedikit.

—Karena kamu tidak bisa memecatku, Nadira.

Aku tersenyum.

—Aku memang tidak bisa.

Arga mengangguk puas.

Kemudian aku melanjutkan.

—Tapi pemegang 68 persen hak suara perusahaan bisa.

Untuk pertama kalinya malam itu…

senyum Arga menghilang.

—Apa?

Aku merapikan clutch-ku.

—Kamu seharusnya membaca dokumen perusahaan sebelum mulai mempermalukan pemegang saham pengendali di depan empat ratus orang.

Wajah Bu Ratna perlahan berubah.

Bima berhenti tertawa.

Celine menoleh dari Arga kepadaku.

—Enam puluh delapan persen? —gumamnya.

Arga menggeleng.

—Tidak mungkin.

—Kamu benar —jawabku.— Secara pribadi, aku tidak memiliki semuanya.

Aku mendekat sedikit.

Prameswari Family Trust yang memilikinya.

Nama gadisku adalah Prameswari.

Dan malam itu, akhirnya mereka mulai memahami arti sebenarnya dari nama tersebut.

Tepat beberapa menit kemudian, telepon Arga bergetar.

Ia melihat layarnya.

Satu pesan.

Lalu pesan kedua.

Kemudian telepon dari direktur keuangan.

Senyumnya benar-benar lenyap.

Tak lama setelah itu, kartu akses korporat di ponselnya dinonaktifkan.

Bima menerima telepon dari sopir.

Bu Ratna menerima pesan mengenai kendaraan yang selama ini digunakannya.

Dan di depan pintu utama hotel, dua petugas perusahaan sedang menunggu kunci Bentley yang dibawa Celine.

Namun itu bahkan belum menjadi kejutan terbesar malam itu.

Karena ketika Daniel meneleponku kembali, ia mengatakan sesuatu yang membuatku sendiri terdiam.

—Bu Nadira, ada satu hal lagi yang baru ditemukan tim audit.

Aku berjalan menjauh beberapa langkah.

—Apa?

Suara Daniel berubah serius.

—Tentang Arga dan Celine.

Aku menatap keduanya di seberang ballroom.

—Ada apa?

Daniel menarik napas.

—Mereka bukan hanya berselingkuh.

Aku tidak menjawab.

Kemudian dia mengucapkan kalimat yang mengubah seluruh malam itu.

Mereka sudah mencoba memindahkan aset perusahaan senilai Rp280 miliar tanpa persetujuan trust.

Aku membeku.

Daniel melanjutkan.

—Dan kami punya bukti siapa yang membantu mereka.

Mataku perlahan beralih ke meja keluarga Mahendra.

Saat itulah aku menyadari…

pengkhianatan malam itu jauh lebih besar daripada sekadar seorang suami yang memilih selingkuhannya.

Dan orang yang membantu Arga ternyata adalah seseorang yang selama dua belas tahun selalu memanggilku…

keluarga.

Suara musik di ballroom masih terdengar, tapi bagiku semuanya seperti menjauh.

Aku menatap Arga.

Lalu Celine.

Kemudian Bu Ratna.

Daniel baru saja mengatakan bahwa ada transaksi ilegal senilai Rp280 miliar.

Dan seseorang dari keluarga Mahendra ikut membantu.

—Siapa? —tanyaku pelan.

Daniel terdiam sesaat.

—Saya lebih baik menunjukkan buktinya langsung, Bu.

Aku menutup mata sebentar.

—Kirim semuanya ke tablet saya.

Tidak sampai semenit, notifikasi masuk.

Aku membuka dokumen pertama.

Transfer antarperusahaan.

Surat kuasa.

Draft pengalihan aset.

Kemudian satu nama muncul berulang kali sebagai pihak yang memberikan otorisasi internal.

Bima Mahendra.

Aku langsung menatap adik Arga.

Ia sedang berdiri di dekat meja, wajahnya mulai pucat.

Namun Daniel belum selesai.

—Ada satu nama lagi.

Aku menggeser layar.

Di halaman terakhir ada salinan persetujuan administratif.

Tanganku membeku.

Nama itu membuat dadaku terasa jauh lebih sakit daripada ketika Arga mencium Celine di atas panggung.

Ratna Mahendra.

Ibu mertuaku.

Perempuan yang selama dua belas tahun kupanggil Ibu.

Perempuan yang pernah kupeluk ketika suaminya meninggal.

Perempuan yang pernah menangis di pundakku saat rumah sakit meminta biaya tambahan untuk pengobatan jantungnya.

Aku bahkan pernah memindahkan dokter spesialis dari Singapura ke Jakarta untuk memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik.

Dan dia ikut membantu anak-anaknya mencuri dariku.

Aku menatapnya lama.

Bu Ratna segera memalingkan wajah.

Saat itu aku tahu.

Dia tahu aku sudah melihat semuanya.

Aku berjalan kembali ke meja.

Arga langsung menghadang.

—Apa yang Daniel katakan?

Aku tidak menjawab.

—Nadira.

—Kamu ingin tahu?

Aku meletakkan tablet di atas meja.

—Baca sendiri.

Arga menarik tablet itu.

Bima mendekat.

Bu Ratna tetap duduk.

Aku memperhatikan perubahan wajah Arga saat membaca satu halaman demi satu halaman.

Pertama bingung.

Lalu tegang.

Kemudian marah.

Ia menatap Bima.

—Apa ini?

Bima tidak menjawab.

—Aku tanya, apa ini?!

Beberapa tamu mulai memperhatikan.

Celine mendekat.

—Arga, jangan bikin keributan di sini.

Arga menepis tangannya.

—Kamu tahu soal ini?

Celine terdiam.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Arga menatapnya seperti baru pertama kali melihat perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia cium di depan empat ratus orang.

—Kamu tahu?

Celine menarik napas.

—Kamu juga tahu sebagian rencananya.

—Sebagian?

Aku hampir tertawa mendengar mereka.

Betapa cepatnya orang-orang yang bersekutu mulai saling menyalahkan ketika kapal mulai tenggelam.

Bima akhirnya bicara.

—Kita cuma memindahkan aset. Bukan mencuri.

Aku menatapnya.

—Ke perusahaan siapa?

Dia diam.

—Saya tanya sekali lagi. Ke perusahaan siapa?

Tidak ada jawaban.

Aku membuka dokumen lain.

—PT Aurora Strategi Nusantara.

Celine langsung pucat.

Aku menatapnya.

—Direktur utamanya siapa?

Ia tidak menjawab.

Aku sendiri yang menjawab.

—Kakak kandungmu.

Ruangan di sekitar kami semakin sunyi.

Beberapa orang sudah berhenti berpura-pura tidak mendengar.

Arga menoleh tajam pada Celine.

—Kamu bilang perusahaan itu hanya kendaraan investasi!

—Memang.

—Atas nama kakakmu?!

—Karena aku tidak bisa menggunakan namaku!

Arga menatapnya dengan mata membesar.

Lalu perlahan dia melihatku.

Untuk pertama kalinya malam itu, bukan aku yang dipermalukan.

Dia.

Namun aku tidak merasa puas.

Aneh sekali.

Aku sudah membayangkan berkali-kali bahwa jika suatu hari perselingkuhan Arga terbongkar, aku akan marah.

Aku akan menang.

Aku akan merasa lega.

Tapi berdiri di sana, melihat satu keluarga yang selama dua belas tahun kusebut keluarga sendiri saling menuduh demi menyelamatkan diri…

aku hanya merasa lelah.

Daniel menelepon lagi.

—Bu Nadira, pihak audit menemukan sesuatu yang lebih serius.

—Lebih serius dari Rp280 miliar?

—Ya.

Aku menahan napas.

—Transaksi itu bukan satu-satunya.

Aku menoleh ke arah Arga.

—Berapa?

—Jika dihitung dari delapan belas bulan terakhir, potensi pengalihan aset mencapai hampir Rp640 miliar.

Aku menutup mata.

Enam ratus empat puluh miliar rupiah.

Aku hampir tidak mendengar kalimat berikutnya.

—Dan sebagian dokumen menggunakan tanda tangan digital Ibu.

Aku membuka mata.

—Tanda tangan saya?

—Dipalsukan.

Aku menatap Arga.

Wajahnya berubah.

Aku tahu saat itu dia memahami apa arti kata tersebut.

Bukan lagi perselingkuhan.

Bukan lagi konflik keluarga.

Ini sudah masuk wilayah pidana.

Aku mematikan telepon.

—Arga.

Dia menatapku.

—Kamu memalsukan tanda tanganku?

—Nadira, dengar dulu.

Kalimat itu.

Selalu kalimat itu.

Dengar dulu.

Seolah selalu ada penjelasan yang cukup baik untuk sebuah pengkhianatan.

—Jawab.

Arga menurunkan suara.

—Aku tidak tahu semuanya.

Aku tersenyum getir.

—Jadi kamu tahu sebagian?

Dia diam.

Aku mengangguk perlahan.

—Baik.

Lalu aku menatap Celine.

—Kamu?

—Saya cuma mengikuti arahan.

—Dari siapa?

Dia melihat Arga.

Arga melihat Bima.

Bima melihat ibunya.

Dan akhirnya…

semua mata jatuh pada Bu Ratna.

Perempuan itu perlahan berdiri.

—Sudah cukup.

Suaranya masih tenang.

Masih angkuh.

Seolah dia tetap ibu kepala keluarga yang bisa menghentikan semua pertengkaran dengan satu perintah.

—Nadira, kita selesaikan ini di rumah.

Aku memandangnya.

—Rumah yang mana, Bu?

Dia membeku.

Aku melanjutkan.

—Rumah Pondok Indah milik Prameswari Holdings. Vila Bali milik Prameswari Family Trust. Apartemen Bima milik perusahaan saya.

Aku mendekat sedikit.

—Jadi saya tidak yakin rumah mana yang Ibu maksud.

Wajahnya memerah.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Bu Ratna tidak punya jawaban.

Arga meraih lenganku.

Aku langsung melepaskannya.

—Jangan sentuh saya.

—Nadira, jangan lakukan ini di depan semua orang.

Aku menatapnya.

—Kamu mencium selingkuhanmu di depan empat ratus orang.

Ia menunduk.

—Tapi sekarang kamu khawatir soal kehormatan?

Kalimat itu membuat beberapa orang di sekitar kami menahan napas.

Aku tidak berteriak.

Tidak perlu.

Kadang suara paling tenang justru terasa paling tajam.

Tak lama kemudian, tiga orang dari bagian legal dan keamanan perusahaan masuk ke ballroom.

Mereka berjalan langsung menuju Arga.

Salah satunya menyerahkan amplop.

—Pak Arga Mahendra, berdasarkan keputusan pemegang saham pengendali, posisi Anda sebagai CEO diberhentikan efektif malam ini.

Arga tidak langsung menerima amplop.

—Kalian serius?

—Sangat serius, Pak.

Kemudian petugas lain meminta kartu akses perusahaan.

Arga menatapku.

Aku tidak bergerak.

Ia perlahan menyerahkan kartu hitam yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuasaannya.

Setelah itu mereka meminta kunci mobil.

Celine mulai panik.

—Bentley itu saya pakai untuk pulang.

Petugas menjawab sopan.

—Kendaraan itu adalah aset perusahaan, Bu. Sopir taksi atau kendaraan sewaan bisa disediakan.

Wajah Celine langsung berubah.

Beberapa tamu berbisik.

Aku merasa tidak nyaman melihat semuanya berubah menjadi tontonan.

Ironis.

Setengah jam sebelumnya, mereka menertawakan aku.

Sekarang mereka menatap keluarga Mahendra seolah menyaksikan sebuah kerajaan runtuh di depan mata.

Aku berbalik hendak pergi.

Namun Bu Ratna memanggil.

—Nadira.

Aku berhenti.

Suaranya berbeda.

Tidak lagi angkuh.

—Kamu tidak bisa mengambil semuanya.

Aku menoleh.

—Saya tidak mengambil apa pun, Bu.

Aku menunjuk tablet.

—Saya hanya mengambil kembali apa yang memang milik saya.

Lalu aku pergi.

Aku keluar dari ballroom sendirian.

Tidak ada rasa kemenangan.

Hanya udara malam Jakarta yang lembap dan suara lalu lintas dari kejauhan.

Sopir membukakan pintu mobil untukku.

Aku masuk.

Baru ketika pintu tertutup, aku menangis.

Bukan karena Celine.

Bukan karena uang.

Bukan karena penghinaan di atas panggung.

Aku menangis karena dua belas tahun hidupku terasa seperti kebohongan.

Semua makan malam keluarga.

Semua ulang tahun.

Semua Lebaran yang kami rayakan bersama.

Semua kali Bu Ratna menggenggam tanganku dan berkata, “Kamu sudah seperti anak sendiri.”

Ternyata mungkin aku memang seperti anak sendiri.

Anak yang bisa mereka manfaatkan.

Aku pulang ke apartemen kecil milikku di Kuningan yang hampir tidak pernah kugunakan.

Aku tidak pulang ke rumah Pondok Indah.

Aku belum sanggup melihat kamar tidur kami.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku tidur sendiri.

Dan anehnya…

aku tidur lebih nyenyak daripada yang kuduga.

Tiga hari berikutnya berubah menjadi badai.

Dewan direksi mengumumkan pergantian CEO sementara.

Tim audit menyerahkan bukti kepada pihak berwenang.

Beberapa rekening perusahaan dibekukan.

Media mulai menulis tentang “krisis internal Mahendra Meridian Group”.

Aku menolak semua wawancara.

Arga meneleponku tujuh belas kali.

Aku tidak menjawab.

Pada hari keempat, Daniel datang ke apartemenku.

Ia membawa satu map cokelat.

—Ada sesuatu yang perlu Ibu lihat sendiri.

Aku mengambil map itu.

—Transaksi lagi?

Daniel menggeleng.

—Bukan.

Di dalamnya ada surat lama.

Tanggalnya dua belas tahun lalu.

Tepat sebulan sebelum pernikahanku dengan Arga.

Aku mengenali tanda tangan ayahku.

Dadaku langsung sesak.

Ayah meninggal tujuh tahun lalu.

Aku membaca halaman pertama.

Itu surat pribadi.

Ditujukan kepadaku.

Namun aku tidak pernah menerimanya.

“Nadira,

jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti seseorang telah gagal memberikan sesuatu yang seharusnya menjadi hakmu untuk diketahui.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku membaca terus.

Ayah menulis bahwa sebelum pernikahan, ia pernah meminta investigasi sederhana terhadap keluarga Mahendra.

Bukan karena ia membenci Arga.

Tapi karena aset keluarga kami sangat besar dan ia ingin memastikan aku aman.

Investigasi itu menemukan bahwa bisnis keluarga Mahendra sedang mengalami masalah likuiditas serius.

Mereka hampir bangkrut.

Arga tahu.

Bu Ratna tahu.

Bima tahu.

Dan kemudian muncul kalimat yang membuatku berhenti bernapas.

“Dugaan saya, mereka mengetahui identitas sebenarnya dari Prameswari Family Trust sebelum Arga melamarmu.”

Aku menatap Daniel.

—Mereka tahu sejak awal?

Ia mengangguk pelan.

—Setidaknya Bu Ratna tahu.

Aku kembali membaca.

Ayah ternyata sudah menyadari kemungkinan bahwa keluarga Mahendra mendekatiku karena uang.

Namun ia tidak pernah melarangku menikah.

Sebaliknya, ia membuat struktur trust yang sangat ketat.

Aset utama tidak bisa berpindah karena pernikahan.

Hak suara tetap berada di bawah kendaliku.

Semua rumah dan kendaraan bernilai tinggi tetap menjadi aset perusahaan.

Aku dulu mengira ayah terlalu protektif.

Sekarang baru kupahami.

Dia sedang melindungiku.

Di halaman terakhir ada satu catatan tangan.

“Nadira, saya tidak ingin memilihkan suami untukmu. Saya hanya ingin memastikan jika suatu hari seseorang memilih uangmu lebih dulu daripada dirimu, kamu masih punya jalan pulang.”

Aku tidak bisa menahan tangis.

Untuk beberapa menit, aku hanya duduk diam sambil memegang surat itu.

Ayah sudah pergi tujuh tahun.

Namun seolah malam itu dia kembali duduk di sampingku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tidak sendirian.

Tapi masih ada satu pertanyaan.

—Kenapa surat ini tidak pernah sampai kepada saya?

Daniel membuka map kedua.

—Karena orang yang diberi tugas menyerahkannya adalah Bu Ratna.

Aku menatapnya.

—Apa?

—Ayah Ibu, mungkin karena ingin menjaga hubungan keluarga, memberikan salinan kepada Bu Ratna. Dengan pesan bahwa surat itu harus diberikan jika suatu hari ada konflik soal aset.

Aku tertawa kecil.

Pahit.

Tentu saja.

Dia menyembunyikannya.

Bukan cuma mengkhianatiku sekarang.

Dia sudah memulai sejak sebelum aku menikah.

Sore itu aku meminta Daniel mengatur satu pertemuan.

Bukan di rumah.

Bukan di kantor.

Di ruang rapat kecil sebuah kantor notaris di Jakarta Selatan.

Aku meminta Arga, Bu Ratna, dan Bima hadir.

Celine tidak kuundang.

Dia sudah memberikan keterangan melalui kuasa hukumnya.

Saat aku masuk, Arga tampak seperti orang berbeda.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada aura CEO.

Hanya seorang lelaki berusia empat puluh tahun yang terlihat kelelahan.

Bu Ratna duduk dengan mata bengkak.

Bima menunduk.

Aku meletakkan surat ayah di meja.

—Saya cuma ingin satu jawaban.

Bu Ratna menatap surat itu.

Wajahnya langsung pucat.

—Kenapa Ibu menyembunyikannya?

Dia tidak langsung menjawab.

—Karena kalau kamu baca itu sebelum menikah…

Suaranya pecah.

—…kamu mungkin tidak akan menikahi Arga.

Aku mengangguk.

—Jadi benar. Ibu tahu siapa saya.

Air matanya mulai jatuh.

—Kami sedang hampir kehilangan semuanya waktu itu.

Arga menatap ibunya.

—Ibu bilang kepada saya keluarga Nadira hanya punya investasi biasa.

Bu Ratna menutup wajah.

Aku menatap Arga.

Dan saat itulah kejutan terbesar justru datang.

Arga benar-benar tidak tahu.

Dia tahu keluargaku kaya.

Tapi tidak tahu seberapa besar.

Tidak tahu bahwa ibunya sejak awal telah menghitung pernikahan kami sebagai jalan menyelamatkan keluarga.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Arga bukan hanya sebagai pengkhianat.

Tapi juga sebagai anak yang dibesarkan untuk merasa berhak atas segalanya.

Tetap bersalah.

Tetap bertanggung jawab.

Namun bukan dalang pertama.

Bu Ratna menangis.

—Saya pikir setelah kalian menikah, semuanya akan baik-baik saja.

Aku menatapnya.

—Lalu kenapa tetap mencoba mencuri?

Dia menunduk.

—Karena kami takut kehilangan gaya hidup yang sudah kami anggap milik kami.

Kalimat itu begitu jujur sampai menyakitkan.

Tidak ada alasan mulia.

Tidak ada kebutuhan mendesak.

Hanya keserakahan.

Aku akhirnya menatap Arga.

—Dan Celine?

Ia menutup mata.

—Itu salah saya.

—Aset Rp640 miliar?

—Saya tahu ada perpindahan sebagian dana. Saya bilang pada diri sendiri itu cuma restrukturisasi.

Aku tertawa lirih.

—Kamu selalu punya nama yang elegan untuk sesuatu yang jelek.

Dia menunduk.

—Saya tahu.

Lalu Arga melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Ia mengeluarkan satu map.

—Saya sudah menandatangani pengakuan lengkap untuk audit.

Aku menatapnya.

—Apa?

—Saya menyerahkan semua komunikasi, email, pesan, dan instruksi yang saya punya.

Bima langsung menoleh tajam.

—Mas?!

Arga tidak melihatnya.

—Kalau saya harus kehilangan semuanya, ya sudah.

Dia menatapku.

—Tapi saya tidak akan membiarkan mereka terus menyalahkan kamu.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Bukan karena aku ingin memaafkannya.

Aku tidak.

Tapi setelah bertahun-tahun, untuk pertama kalinya Arga mengambil tanggung jawab tanpa mencoba mencari alasan.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.

Aku tidak mengambil satu rupiah pun dari harta pribadi Arga yang memang benar miliknya.

Aku tidak perlu.

Ia mundur dari semua jabatan.

Bima menghadapi proses hukum bersama beberapa pihak terkait.

Bu Ratna menjual sebagian aset pribadinya untuk menutup kewajiban yang muncul.

Celine menghilang dari lingkaran sosial Jakarta jauh lebih cepat daripada saat ia masuk.

Tapi hidupku tidak berakhir malam itu.

Justru dimulai.

Aku mengambil alih kursi ketua aktif Prameswari Holdings.

Bukan untuk membuktikan apa pun pada Arga.

Tapi karena aku akhirnya berhenti bersembunyi.

Setahun kemudian, di ballroom yang berbeda, aku berdiri di atas panggung untuk meresmikan yayasan pendidikan atas nama ayahku.

Di barisan depan duduk ratusan penerima beasiswa.

Bukan investor.

Bukan sosialita.

Anak-anak muda dari keluarga biasa.

Di akhir acara, seorang staf menghampiriku.

—Bu Nadira, ada seseorang menitipkan ini.

Sebuah amplop putih.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada satu kartu.

Tulisan tangan Arga.

“Nadira,

dulu aku pikir kehilangan jabatan, rumah, dan semua fasilitas adalah hukuman terbesar dalam hidupku.

Ternyata bukan.

Hukuman terbesar adalah menyadari bahwa selama dua belas tahun aku punya seseorang yang mencintaiku tanpa perlu aku menjadi siapa-siapa…

dan aku justru menghancurkannya karena terlalu sibuk terlihat hebat di mata orang lain.

Saya tidak meminta dimaafkan.

Saya hanya ingin mengatakan satu hal yang seharusnya saya katakan bertahun-tahun lalu.

Terima kasih sudah pernah memilih saya.

Semoga kali ini kamu memilih dirimu sendiri.”

Aku membaca surat itu dua kali.

Lalu melipatnya.

Tidak ada air mata besar.

Tidak ada musik dramatis.

Aku hanya tersenyum kecil.

Karena Arga akhirnya memahami sesuatu yang sudah kupahami sejak malam jamuan itu.

Kekuasaan bisa hilang dalam tiga puluh menit.

Mobil bisa ditarik.

Rumah bisa diambil kembali.

Jabatan bisa dicabut dengan satu tanda tangan.

Tapi harga diri…

hanya bisa hilang jika kita menyerahkannya sendiri.

Aku berjalan kembali ke ballroom.

Seorang gadis penerima beasiswa berusia tujuh belas tahun menghampiriku dengan gugup.

—Bu Nadira?

—Ya?

—Saya cuma mau bilang… terima kasih. Kalau bukan karena beasiswa ini, saya mungkin sudah berhenti sekolah.

Aku menatapnya.

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada semua tepuk tangan yang pernah kuterima.

Saat itulah aku akhirnya memahami hadiah terakhir dari ayahku.

Bukan saham.

Bukan rumah.

Bukan perusahaan.

Bukan Rp640 miliar yang berhasil kuselamatkan.

Hadiah terbesarnya adalah jalan pulang yang ia bangun untukku…

sampai suatu hari aku cukup berani menyadari bahwa rumah sebenarnya bukan tempat yang diberikan orang lain.

Rumah adalah hidup yang kita bangun kembali setelah orang-orang yang kita cintai mencoba meruntuhkannya.

Dan malam ketika suamiku mempermalukanku di depan empat ratus orang?

Dulu aku mengira itu adalah malam terburuk dalam hidupku.

Sekarang aku tahu…

itu adalah malam ketika hidupku akhirnya kembali menjadi milikku.