Suamiku Bilang Semua Penerbangan Penuh—Saat Hamil Enam Bulan, Aku Disuruh Menempuh Perjalanan Hampir 50 Jam
Suamiku bilang semua tiket pesawat untuk pulang sudah habis, jadi aku tidak punya pilihan selain menempuh perjalanan hampir 50 jam dengan kereta dan bus antarkota saat sedang hamil enam bulan.
Yang tidak diketahui suamiku, Arga, adalah aku sebenarnya sudah menemukan cara lain untuk pulang.
Dan di dalam tasku ada sebuah amplop cokelat yang sengaja belum kubuka.
Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membukanya di depan seluruh keluarganya.
BAGIAN 1
Namaku Nadira Prameswari.
Aku sedang hamil enam bulan ketika akhirnya kusadari bahwa bagi suamiku, kenyamanan kakak perempuannya jauh lebih penting daripada keselamatanku dan bayi kami.
Menjelang libur panjang, Arga mengatakan bahwa kami harus pergi dari Jakarta menuju Surabaya, tempat orang tuanya tinggal.
Awalnya aku mengira kami akan naik pesawat seperti biasanya.
Namun beberapa hari sebelum keberangkatan, Arga datang kepadaku dengan wajah seolah-olah baru saja menyelesaikan masalah besar.
—Semua penerbangan penuh, Nadira. Tidak ada tiket lagi.
Aku mengerutkan kening.
—Semua?
—Semua. Aku sudah cek.
Menurutnya, satu-satunya pilihan adalah melakukan perjalanan darat dan kereta yang panjang, dengan beberapa kali transit.
Hampir dua hari perjalanan jika semuanya berjalan lancar.
Aku sebenarnya tidak nyaman.
Dokter kandunganku bahkan sudah menyarankan agar aku tidak duduk terlalu lama tanpa istirahat karena kakiku mulai sering membengkak.
Tapi Arga terus meyakinkanku.
—Sekali ini saja. Nanti setelah sampai rumah Papa dan Mama, kamu bisa istirahat.
Aku percaya padanya.
Setidaknya sampai kami tiba di stasiun.
Di sana aku melihat Arga mengeluarkan dua tiket kabin tidur kelas eksekutif.
Aku menatap tiket itu.
Lalu menatap Arga.
—Tiketku mana?
Arga bahkan tidak langsung menjawab.
Ia sibuk memasukkan ponselnya ke saku.
—Cuma tersisa dua.
Aku menoleh ke samping.
Kakak perempuannya, Maya, berdiri dengan koper kecil berwarna krem dan sebuah tas mahal di lengannya.
—Jadi… satu untukmu dan satu untuk Maya?
—Ya.
Jawabannya begitu ringan.
Seolah-olah tidak ada yang aneh.
Aku menyentuh perutku yang sudah cukup besar.
—Lalu aku tidur di mana?
Arga mengangkat bahu.
—Di kursi biasa dulu. Nanti kita cari solusi.
Aku menatapnya tidak percaya.
—Aku sedang hamil enam bulan, Arga.
Sebelum suamiku menjawab, Maya tertawa kecil.
—Justru ibu hamil katanya jangan terlalu banyak tidur. Sering berdiri bagus untuk sirkulasi darah, kan?
Arga ikut tertawa.
Aku tidak.
Mungkin beberapa bulan sebelumnya aku akan marah.
Atau menangis.
Tapi malam itu aku hanya berdiri diam.
Karena kenyataannya, aku sudah tidak terlalu terkejut lagi.
Pernikahanku dengan Arga mulai berubah sejak aku hamil.
Sebelumnya, dia selalu mengatakan bahwa memiliki anak adalah impian terbesarnya.
Namun ketika aku benar-benar mengandung anak kami, dia justru semakin jarang berada di rumah.
Rapat dengan klien.
Makan malam bisnis.
Pertemuan mendadak.
Acara kantor.
Alasannya selalu berubah.
Tapi satu hal tidak berubah.
Dia sering pulang lewat tengah malam.
Ponselnya juga mulai tidak pernah lepas dari tangannya.
Saat mandi, ponsel dibawa.
Saat tidur, ponsel diletakkan di bawah bantal.
Bahkan ketika hanya pergi mengambil air minum, dia membawanya.
Maya juga berubah.
Dulu kami tidak terlalu dekat, tetapi hubungan kami cukup sopan.
Belakangan, setiap kali aku bertanya tentang Arga, Maya langsung membelanya.
Padahal terkadang aku bahkan belum menuduh apa pun.
Tiga minggu sebelumnya, aku menemukan satu transaksi hotel di kartu kredit yang Arga kira tidak pernah kuperiksa.
Hotel mewah di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Kamar dipesan pada malam ketika Arga mengatakan bahwa dia harus menemani klien dari luar kota.
Aku tidak langsung menghadapinya.
Aku sudah terlalu lama mengenal Arga untuk melakukan kesalahan semacam itu.
Kalau aku bertanya tanpa bukti, dia akan menyangkal semuanya.
Lalu menghapus jejak.
Jadi aku memilih diam.
Dan menyewa seseorang untuk mencari tahu.
Laporan terakhir dari penyelidik itu tiba pada pagi sebelum keberangkatan kami.
Aku belum membukanya.
Amplop cokelat tebal itu sekarang berada di dalam tote bag yang selalu kubawa.
Arga mengira isinya dokumen pemeriksaan kandungan.
Dia tidak tahu apa sebenarnya yang kubawa.
Sekitar lima belas menit setelah perjalanan dimulai, aku masih berusaha mencari posisi nyaman di kursi ketika ponselku bergetar.
Pesan dari Arga.
Kalau nanti berhenti, belikan aku sama Maya makanan hangat. Kami mau tidur dulu.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu entah kenapa aku tertawa kecil.
Bertahun-tahun, Arga menganggap diamku sebagai kelemahan.
Dia mengira karena aku jarang membantah, berarti aku akan selalu menuruti apa pun yang dia katakan.
Mungkin itu kesalahan terbesarnya.
Beberapa waktu kemudian terdengar pengumuman bahwa perjalanan akan berhenti cukup lama di salah satu titik transit.
Begitu kendaraan berhenti, aku turun membawa tote bag.
Udara dingin menyambut wajahku.
Aku berdiri di sana sambil melihat rombongan perjalanan kembali bergerak setelah waktu transit berakhir.
Arga mungkin berpikir aku sedang membeli makanan.
Dia pasti akan marah ketika sadar aku tidak kembali.
Namun untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku tidak peduli.
Aku membuka aplikasi penerbangan di ponsel.
Dan hanya butuh beberapa detik sebelum dadaku terasa sesak.
Ada tiket pesawat.
Bukan satu atau dua.
Banyak.
Memang harganya lebih mahal karena musim liburan.
Tapi kursinya tersedia.
Ada penerbangan menuju Surabaya sore itu.
Ada juga penerbangan malam.
Bahkan beberapa maskapai masih menawarkan kursi bisnis.
Arga telah berbohong.
Bukan karena tidak ada tiket pesawat.
Dia hanya tidak mau membelikan tiket untukku.
Aku langsung memesan penerbangan sore menuju Surabaya.
Setelah itu aku duduk di sebuah kedai kopi kecil dekat area transit.
Tanganku gemetar ketika akhirnya mengeluarkan amplop cokelat dari tas.
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu kubuka.
Di dalamnya ada foto.
Bukti pembayaran.
Catatan tanggal.
Salinan percakapan.
Dan beberapa lembar laporan.
Aku melihat foto pertama.
Arga memasuki hotel di Kuningan.
Foto kedua.
Arga berada di restoran bersama seorang perempuan yang tidak kukenal.
Foto ketiga.
Perempuan yang sama masuk ke mobil Arga.
Foto berikutnya menunjukkan mereka berada di lobi sebuah apartemen.
Aku merasa seperti kehilangan udara.
Jadi benar.
Suamiku berselingkuh.
Sudah berbulan-bulan.
Tapi anehnya, air mataku tidak keluar.
Mungkin karena jauh di dalam hati, aku sudah tahu.
Yang mengejutkanku justru foto terakhir.
Aku memegangnya lebih dekat.
Ada Arga.
Ada perempuan itu.
Dan ada orang ketiga.
Maya.
Kakak perempuan Arga.
Dalam foto itu, Maya berdiri di depan hotel yang sama.
Tangannya sedang menyerahkan sesuatu kepada Arga.
Sebuah kartu akses kamar.
Sementara perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan suamiku menunggu di dalam mobil.
Aku membalik foto itu.
Ada tulisan tangan dari penyelidik.
Maya bukan perempuan yang menjalin hubungan dengan suami Anda. Namun berdasarkan pengamatan kami, ia beberapa kali membantu mengatur pertemuan mereka.
Tanganku mulai dingin.
Jadi Maya tahu.
Bukan hanya tahu.
Dia membantu adiknya menyembunyikan perselingkuhan dariku.
Aku terus membaca laporan.
Maya beberapa kali melakukan reservasi hotel atas namanya sendiri.
Dia juga pernah menggunakan rekening pribadinya untuk melakukan pembayaran agar transaksi tidak muncul di kartu kredit Arga.
Semua itu sudah cukup menghancurkan.
Tapi ternyata masih ada satu catatan terakhir.
Tulisan tangan penyelidik berada di halaman paling belakang.
Hanya satu kalimat.
Sebelum Anda menghadapi suami Anda, periksa terlebih dahulu catatan kepemilikan properti keluarga Mahendra.
Aku membacanya lagi.
Kemudian sekali lagi.
Jantungku berdegup semakin keras.
Perselingkuhan bisa kupahami.
Pengkhianatan Maya juga sudah jelas.
Tapi apa hubungannya semua itu dengan catatan kepemilikan properti?
Dan kenapa penyelidikku menganggap hal itu begitu penting?
Saat itulah aku teringat sesuatu.
Besok pagi, setelah kami tiba di Surabaya, keluarga Arga memang akan mengadakan pertemuan besar.
Ayah Arga, Pak Surya Mahendra, sudah meminta semua anak dan menantunya hadir.
Katanya ada masalah mengenai perusahaan keluarga dan beberapa aset yang harus dibicarakan.
Selama dua minggu terakhir, Arga berkali-kali memastikan aku ikut.
Awalnya aku mengira dia ingin menunjukkan bahwa keluarga kami masih harmonis.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Arga bahkan sangat bersikeras agar aku melakukan perjalanan panjang bersamanya.
Dia ingin aku sampai dalam keadaan kelelahan.
Dia ingin aku datang terlambat.
Dan, yang paling aneh…
beberapa hari sebelumnya, dia sempat berkata:
—Kalau besok Papa mengajak bicara empat mata, jangan tanda tangan apa pun dulu sebelum aku lihat.
Waktu itu aku tidak memikirkannya.
Sekarang kalimat itu terasa seperti peringatan.
Aku membuka ponsel dan mulai mencari informasi tentang beberapa properti keluarga Mahendra.
Nama perusahaan.
Nama ayah mertuaku.
Alamat rumah lama keluarga.
Gudang.
Tanah.
Sebuah vila di Batu.
Lalu aku menemukan satu dokumen publik yang membuatku membeku.
Aku memperbesar layar.
Nama pemiliknya bukan Pak Surya.
Bukan Arga.
Bukan Maya.
Nama yang tercantum di sana adalah nama seseorang yang sangat kukenal.
Nadira Prameswari.
Namaku sendiri.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Aku sama sekali tidak pernah membeli properti itu.
Aku bahkan tidak tahu kenapa namaku tercatat di sana.
Lalu ponselku berdering.
Arga.
Aku tidak menjawab.
Dia menelepon lagi.
Lagi.
Lagi.
Kemudian sebuah pesan masuk.
KAMU DI MANA?
Pesan kedua.
Kenapa kamu tidak naik lagi?!
Lalu yang ketiga.
Nadira, jangan lakukan sesuatu yang bodoh. Besok kita harus tiba bersama di rumah Papa.
Aku menatap kalimat terakhir itu.
Bukan:
Kamu baik-baik saja?
Bukan:
Bagaimana keadaan bayi kita?
Bukan pula:
Kenapa kamu turun sendirian?
Hal terpenting bagi Arga hanyalah memastikan aku hadir bersamanya dalam pertemuan besok.
Saat itulah aku tahu bahwa perselingkuhan bukan satu-satunya rahasia dalam pernikahan kami.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang disembunyikan keluarga Mahendra dariku.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Arga, aku tidak akan datang ke rumah keluarganya sebagai istri yang diam dan menurut.
Aku akan datang lebih dulu.
Aku akan berbicara dengan ayah mertuaku sebelum Arga tiba.
Dan amplop cokelat itu akan tetap berada di dalam tasku sampai seluruh keluarga duduk di satu ruangan.
Karena jika nama yang kulihat di dokumen kepemilikan tadi benar…
mungkin selama ini Arga bukan sedang berusaha mengambil sesuatu untuk keluarganya.
Mungkin dia dan Maya sedang berusaha mengambil sesuatu…
dariku.
BAGIAN 2
Aku tiba di Surabaya hampir enam jam lebih cepat daripada Arga.
Selama penerbangan, aku tidak bisa tidur.
Amplop cokelat itu tetap berada di pangkuanku.
Setiap kali aku menutup mata, aku melihat lagi foto Arga bersama perempuan itu.
Lalu wajah Maya.
Lalu dokumen kepemilikan yang mencantumkan namaku.
Nadira Prameswari.
Semakin kupikirkan, semakin jelas bahwa perjalanan hampir dua hari itu bukan sekadar soal tiket.
Arga sengaja ingin mengendalikan waktuku.
Ia ingin memastikan aku tiba bersama dirinya.
Ia ingin memastikan aku tidak sempat berbicara dengan siapa pun lebih dulu.
Pertanyaannya cuma satu.
Kenapa?
Ketika pesawat mendarat, aku langsung memesan mobil menuju rumah keluarga Mahendra di kawasan Surabaya Barat.
Rumah itu sudah kukunjungi berkali-kali selama delapan tahun pernikahan kami.
Rumah besar dua lantai dengan gerbang hitam, halaman luas, dan pohon kamboja tua yang ditanam almarhum ibu Pak Surya.
Biasanya setiap kali aku datang, rumah itu terasa hangat.
Hari itu berbeda.
Gerbang terasa seperti pintu menuju sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan dariku.
Satpam membuka pintu.
Begitu mobil berhenti, salah satu asisten rumah tangga menatapku dengan terkejut.
—Bu Nadira? Pak Arga belum sampai.
—Saya tahu.
—Pak Surya sedang di ruang kerja.
Aku langsung berkata:
—Tolong katakan saya perlu bicara dengannya. Sekarang.
Tidak sampai lima menit, pintu ruang kerja terbuka.
Pak Surya berdiri di sana.
Ayah mertuaku berusia hampir tujuh puluh tahun. Tubuhnya masih tegap, rambutnya sudah putih hampir seluruhnya.
Ketika melihatku, ekspresinya berubah.
Bukan terkejut.
Lebih seperti seseorang yang sudah menunggu hari ini cukup lama.
—Masuklah, Nadira.
Aku menutup pintu di belakangku.
Pak Surya menunjuk kursi.
Aku tidak duduk.
Aku meletakkan ponsel di mejanya dan membuka dokumen kepemilikan yang kutemukan.
—Kenapa nama saya ada di sini?
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Ia melepas kacamatanya.
Menaruhnya perlahan.
Lalu bertanya:
—Arga sudah tahu kamu menemukan ini?
—Belum.
Ia mengembuskan napas panjang.
—Syukurlah.
Jawaban itu membuat bulu kudukku berdiri.
—Apa maksud Papa?
Pak Surya menatapku beberapa saat.
—Duduklah. Ceritanya panjang.
Aku duduk.
Dan kemudian ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
—Sebagian besar aset yang akan dibicarakan besok memang secara hukum milikmu.
Aku menatapnya.
—Apa?
—Bukan seluruh perusahaan. Tapi beberapa tanah, gudang, saham minoritas, dan vila di Batu. Semuanya sudah dialihkan kepadamu tiga tahun lalu.
—Kenapa?
Pak Surya menunduk.
—Karena dulu aku membuat kesalahan besar terhadap ayahmu.
Aku membeku.
Ayahku meninggal empat tahun lalu.
Sepanjang hidupku, aku hanya tahu bahwa ia pernah bekerja sama dengan Pak Surya pada masa muda.
Tidak lebih.
Pak Surya berdiri, membuka laci, lalu mengeluarkan sebuah map biru tua.
—Dua puluh delapan tahun lalu, aku dan ayahmu membangun usaha distribusi bersama. Dia punya jaringan. Aku punya modal kecil dan keberanian yang mungkin terlalu besar.
Ia tersenyum pahit.
—Perusahaan kami hampir bangkrut saat krisis. Ayahmu menjual tanah warisan keluarganya untuk menyelamatkan bisnis itu.
Aku mendengarkan dalam diam.
—Tapi beberapa tahun kemudian, ketika perusahaan mulai besar, kami bertengkar. Aku egois. Aku merasa perusahaan itu bisa berdiri tanpa dia. Kami berpisah.
Pak Surya membuka beberapa dokumen lama.
Ada nama ayahku.
Prasetyo Prameswari.
Tanganku langsung gemetar.
—Ayahmu tidak pernah menuntut saham yang seharusnya menjadi haknya. Dia hanya meminta satu hal.
—Apa?
—Kalau suatu hari aku merasa berutang kepadanya, jangan bayar kepadanya. Bayar kepada anaknya.
Air di mataku mulai menggenang.
—Ayah tidak pernah cerita.
—Karena dia tidak ingin kamu tumbuh dengan merasa aku berutang kepadamu.
Pak Surya menatapku.
—Setelah kamu menikah dengan Arga, awalnya aku pikir semuanya seperti sudah ditakdirkan. Putraku menikahi putri sahabat yang pernah kubuang dari hidupku.
Aku mencoba memahami semuanya.
—Jadi Papa mengalihkan aset itu kepada saya karena merasa bersalah?
—Bukan hanya karena itu.
Ia berhenti.
—Karena aset-aset tersebut dibangun dari modal awal ayahmu.
Ruangan itu seperti kehilangan suara.
Aku memandang dokumen di depan kami.
Tiba-tiba semuanya memiliki arti berbeda.
Rumah.
Gudang.
Tanah.
Vila.
Itu bukan hadiah.
Itu pengembalian.
Pak Surya kemudian berkata pelan:
—Arga tahu sebagian.
Jantungku berdegup lagi.
—Sebagian yang mana?
—Dia tahu akan ada pengalihan aset. Tapi dia tidak tahu bahwa prosesnya sudah selesai sejak tiga tahun lalu.
Aku memejamkan mata.
Sekarang aku mulai mengerti.
—Jadi dia mengira besok Papa baru akan memutuskan siapa yang mendapat aset itu.
Pak Surya mengangguk.
—Benar.
—Dan dia ingin saya datang bersama dia supaya…
—Supaya dia bisa mengendalikan keputusanmu.
Aku tertawa kecil.
Tapi tawaku terdengar kosong.
—Luar biasa.
Pak Surya menatapku penuh penyesalan.
—Nadira, aku harus meminta maaf karena tidak memberitahumu lebih cepat.
Aku menggeleng.
—Bukan Papa yang perlu meminta maaf kepada saya hari ini.
Aku mengeluarkan amplop cokelat.
Meletakkannya di meja.
Pak Surya memandangnya.
—Apa itu?
Aku membuka foto pertama.
Lalu kedua.
Lalu ketiga.
Wajahnya berubah ketika melihat Arga bersama perempuan itu.
Namun saat melihat Maya, ia benar-benar terdiam.
—Maya membantu dia?
Aku mengangguk.
Pak Surya menyandarkan tubuh ke kursi.
Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu kulihat begitu kuat itu tampak tua.
Sangat tua.
—Aku gagal membesarkan mereka.
Aku hampir mengatakan sesuatu.
Tapi ponselku bergetar.
Arga.
Dua puluh tiga panggilan tak terjawab.
Lalu sebuah pesan.
Aku tahu kamu sudah sampai Surabaya. Jangan bicara ke Papa sebelum aku tiba. Kita selesaikan ini sebagai suami istri.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Pak Surya.
Ia membaca.
Kemudian berkata:
—Jangan jawab.
Aku mengangkat kepala.
—Besok pertemuan tetap dilakukan?
Pak Surya menatapku.
—Justru sekarang aku ingin semuanya hadir.
Arga dan Maya tiba malam itu sekitar pukul sebelas.
Aku mendengar suara mobil mereka dari kamar tamu.
Tak lama kemudian, Arga mengetuk pintu.
—Nadira!
Aku tidak menjawab.
—Nadira, buka pintunya!
Ia mengetuk lebih keras.
—Aku tahu kamu di dalam!
Aku tetap diam.
Lalu terdengar suara Maya.
—Sudahlah. Besok saja.
Arga berkata pelan, tapi cukup keras untuk kudengar:
—Kalau dia sudah bicara ke Papa, kita habis.
Kalimat itu menjawab semua keraguanku.
Aku tidur hanya dua jam malam itu.
Pukul delapan pagi, seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang makan besar.
Pak Surya duduk di ujung meja.
Arga di sebelah kanan.
Maya di sebelah kiri.
Ibu mertua kami, Bu Ratih, duduk dengan wajah bingung.
Aku masuk terakhir.
Begitu melihatku, Arga berdiri.
—Kita perlu bicara berdua.
Pak Surya langsung berkata:
—Duduk.
Arga menatap ayahnya.
—Papa, ini masalah rumah tangga kami.
—Tidak lagi.
Ruangan menjadi sunyi.
Aku duduk.
Pak Surya meletakkan sebuah map di atas meja.
—Pertemuan hari ini seharusnya membahas restrukturisasi aset keluarga.
Arga langsung menyela.
—Betul. Makanya Nadira dan aku sudah bicara—
—Kalian belum bicara apa pun.
Nada Pak Surya datar.
Arga menutup mulut.
Pak Surya melanjutkan.
—Aku ingin menjelaskan bahwa sejumlah aset yang selama ini dianggap bagian dari warisan Mahendra sebenarnya bukan milik Arga ataupun Maya.
Wajah Maya berubah.
Arga masih berusaha tenang.
—Kalau memang akan dibagi, kita bisa bicara baik-baik.
Pak Surya menggeleng.
—Tidak ada yang akan dibagi.
Ia mendorong dokumen ke tengah meja.
—Karena aset itu sudah menjadi milik Nadira sejak tiga tahun lalu.
Wajah Arga langsung pucat.
Maya berdiri.
—Apa?!
Bu Ratih menatap suaminya.
—Surya, maksudmu apa?
Pak Surya lalu menceritakan semuanya.
Tentang ayahku.
Tentang perusahaan lama.
Tentang modal yang menyelamatkan bisnis mereka.
Tentang janji yang dibuat hampir tiga puluh tahun lalu.
Aku melihat wajah Arga sepanjang penjelasan itu.
Awalnya terkejut.
Lalu takut.
Lalu marah.
Ketika Pak Surya selesai, Arga menoleh kepadaku.
—Kamu tahu dari kapan?
—Kemarin.
—Dan kamu sengaja tidak bilang?
Aku hampir tertawa.
—Lucu kamu bertanya soal rahasia.
Maya langsung memucat.
Aku mengambil amplop cokelat.
—Sekarang mungkin saat yang tepat membicarakan rahasia lain.
Aku mengeluarkan foto Arga.
Meletakkannya satu per satu di meja.
Bu Ratih menutup mulutnya.
Pak Surya tidak bereaksi karena sudah melihatnya.
Maya menunduk.
Arga berkata:
—Nadira, dengarkan dulu—
Aku meletakkan foto Maya menyerahkan kartu akses hotel.
—Lalu mungkin kakakmu juga ingin menjelaskan.
Bu Ratih menoleh tajam.
—Maya?
Maya mulai menangis.
—Aku cuma membantu Arga sekali dua kali.
Aku membuka laporan.
—Tujuh kali reservasi hotel menggunakan nama kamu. Empat transaksi dari rekeningmu. Dan dua kali kamu menjemput perempuan itu dari apartemennya.
Maya terdiam.
Arga bangkit dari kursinya.
—Cukup!
Pak Surya berkata:
—Duduk.
—Papa tidak ngerti!
—Aku bilang duduk!
Untuk pertama kalinya aku melihat Arga benar-benar kehilangan kendali.
Ia menatapku.
—Baik. Aku salah. Aku selingkuh. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kita menikah. Asetmu adalah aset keluarga kita.
Aku menatapnya.
—Salah.
Aku mengeluarkan satu dokumen lagi dari map yang diberikan Pak Surya pagi tadi.
—Semua aset ini dialihkan kepada saya melalui hibah dengan klausul kepemilikan pribadi.
Wajah Arga kosong.
Aku melanjutkan.
—Dan perjanjian pranikah kita menyatakan aset hibah serta warisan tidak menjadi harta bersama.
Maya memejamkan mata.
Arga masih mencoba bertahan.
—Kita bisa perbaiki pernikahan kita.
Aku menatapnya lama.
—Kenapa?
—Karena kita akan punya anak.
—Kita akan punya anak, benar.
Aku menyentuh perutku.
—Tapi memiliki anak tidak mengharuskan aku tetap menikah dengan seseorang yang mempermalukan ibunya bahkan sebelum bayi itu lahir.
Ia menelan ludah.
Aku berkata:
—Kamu menyuruh istrimu yang hamil enam bulan melakukan perjalanan hampir lima puluh jam sementara kamu tidur nyaman bersama kakakmu.
Bu Ratih menatap Arga, terkejut.
—Lima puluh jam?
Aku mengangguk.
—Katanya semua pesawat penuh.
Aku membuka ponsel.
—Ternyata masih banyak penerbangan.
Pak Surya memukul meja pelan.
Bukan keras.
Tapi cukup membuat semua orang terdiam.
—Kamu sengaja membuat istrimu melakukan perjalanan itu?
Arga tidak menjawab.
Pak Surya berdiri.
—Kenapa?
Dan akhirnya, mungkin karena merasa sudah tidak punya apa pun untuk disembunyikan, Arga menjawab.
—Karena aku butuh waktu.
—Waktu untuk apa?
—Untuk meyakinkan dia supaya menandatangani surat kuasa.
Aku membeku.
Bu Ratih berkata:
—Surat kuasa apa?
Maya mulai menangis lagi.
Arga menatap meja.
—Kami pikir aset itu baru akan dialihkan minggu ini. Kalau Nadira memberikan kuasa kepadaku sebelum pertemuan, aku bisa mengurus semuanya atas nama kami.
Aku merasa mual.
Bukan karena perselingkuhan.
Bukan karena perempuan lain.
Tapi karena kalimat sederhana itu.
Atas nama kami.
Padahal maksudnya selalu:
Atas namanya.
Pak Surya memandang putranya seolah tidak mengenalinya.
—Jadi perjalanan itu direncanakan supaya dia kelelahan?
Arga tidak menjawab.
Maya berkata sambil terisak:
—Kami cuma ingin dia tidak banyak bertanya.
Aku menoleh padanya.
—Dan perselingkuhannya?
Maya diam.
—Kamu membantu karena apa?
Ia menutupi wajah.
Beberapa detik kemudian, ia berkata:
—Karena Arga berjanji kalau aset itu berhasil dia kuasai, dia akan memberiku rumah di Jakarta.
Tidak ada yang bicara.
Aku bahkan tidak marah lagi.
Aku cuma merasa kosong.
Seluruh pengkhianatan itu akhirnya menjadi sangat sederhana.
Bukan soal cinta.
Bukan soal keluarga.
Bukan soal persaudaraan.
Uang.
Hanya uang.
Pak Surya duduk kembali.
Kemudian berkata sesuatu yang membuat Arga menatapnya cepat.
—Mulai hari ini, kamu bukan lagi direktur operasional perusahaan.
—Papa—
—Dan Maya, posisi kamu di yayasan keluarga juga selesai.
Maya menangis lebih keras.
Bu Ratih berkata:
—Surya…
Pak Surya mengangkat tangan.
—Aku menghabiskan hidup membangun sesuatu karena dulu aku mengkhianati seorang sahabat. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku mengulang kesalahanku kepada anak sahabat itu.
Mata Pak Surya kemudian berpindah kepadaku.
—Nadira, aset itu milikmu. Tidak ada satu orang pun di rumah ini yang berhak menentukan apa yang harus kamu lakukan dengannya.
Aku mengangguk.
—Terima kasih, Pa.
Arga menatapku.
—Jadi sekarang apa? Kamu akan menghancurkan semuanya?
Aku menatap lelaki yang pernah kucintai.
Aneh sekali.
Dulu aku mengira hari ketika pernikahanku berakhir akan menjadi hari paling menyakitkan dalam hidupku.
Ternyata tidak.
Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa aku sudah terlalu lama berusaha menyelamatkan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada.
Aku menjawab:
—Tidak, Arga.
Aku berdiri.
—Aku tidak menghancurkan apa pun.
Aku meletakkan cincin pernikahanku di meja.
—Aku hanya berhenti membiarkan kalian menghancurkanku.
Perceraian kami selesai beberapa bulan setelah anakku lahir.
Aku melahirkan seorang bayi perempuan sehat.
Namanya Alya Prameswari.
Aku sengaja tidak memakai nama Mahendra sebagai nama belakangnya.
Bukan karena aku ingin menghapus ayahnya.
Arga tetap ayah biologisnya, dan aku tidak pernah menghalangi haknya untuk membangun hubungan dengan Alya selama ia mengikuti aturan yang ditentukan pengadilan.
Aku hanya ingin putriku tumbuh dengan memahami bahwa identitasnya tidak harus bergantung pada nama keluarga yang pernah mencoba menggunakan ibunya.
Arga kehilangan sebagian besar posisinya di perusahaan.
Pak Surya tidak mengusirnya dari keluarga.
Ia hanya mengatakan:
—Konsekuensi bukan berarti aku berhenti menjadi ayahmu.
Kalimat itu justru menjadi hukuman paling berat bagi Arga.
Karena Pak Surya tidak membencinya.
Ia hanya kecewa.
Maya pindah dari Jakarta selama beberapa waktu.
Setahun kemudian, ia mengirim pesan kepadaku.
Tidak meminta uang.
Tidak meminta bantuan.
Hanya berkata:
Aku minta maaf karena pernah menganggap kebahagiaanmu sebagai harga yang pantas dibayar untuk kenyamananku.
Aku tidak membalas hari itu.
Tiga minggu kemudian, aku menulis dua kata.
Aku dengar.
Belum berarti memaafkan.
Tapi mungkin itu awalnya.
Sedangkan perempuan yang bersama Arga?
Ternyata ada satu kejutan terakhir.
Namanya Selina.
Dan setelah perceraian kami berjalan, penyelidikku menemukan bahwa Selina sebenarnya sudah beberapa kali mencoba mengakhiri hubungan mereka.
Arga yang terus mengejarnya.
Foto terakhir mereka di hotel ternyata bukan malam romantis.
Selina datang untuk mengembalikan barang-barang Arga.
Maya membantu mengatur pertemuan itu karena Arga memohon agar diberi satu kesempatan terakhir.
Aku sempat membenci perempuan itu.
Tapi setelah mengetahui seluruh kebenaran, aku sadar bahwa orang yang berjanji setia kepadaku bukan Selina.
Arga.
Beberapa tahun kemudian, Pak Surya meninggal dengan tenang.
Satu minggu sebelum meninggal, ia memintaku datang ke rumah sakit.
Ia sudah sangat lemah.
Tangannya dingin ketika menggenggam tanganku.
—Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan.
Aku tersenyum.
—Masih ada rahasia lagi?
Ia tertawa kecil.
Lalu menyerahkan sebuah surat tua.
Tulisan tangan ayahku.
Tanggalnya dua puluh sembilan tahun lalu.
Di bagian akhir, ayah menulis:
Kalau suatu hari anak-anak kita dipertemukan, jangan pernah paksa mereka membayar utang kita. Biarkan mereka memilih hidup mereka sendiri.
Aku menangis saat membacanya.
Pak Surya berkata:
—Ayahmu lebih bijaksana dariku.
Aku menggeleng.
—Papa sudah memperbaiki kesalahan Papa.
Ia tersenyum.
—Tidak. Aku hanya mengembalikan sesuatu yang memang bukan milikku.
Itulah kalimat terakhir yang kudengar darinya.
Setelah Pak Surya meninggal, aku menjual vila di Batu.
Banyak orang mengira aku akan menggunakan uangnya untuk membeli rumah mewah.
Aku tidak melakukannya.
Aku menggunakan sebagian besar hasil penjualan untuk mendirikan program beasiswa bagi anak-anak perempuan dari keluarga sederhana yang ingin belajar bisnis dan keuangan.
Program itu kuberi nama:
Prasetyo–Surya Foundation.
Dua nama.
Dua sahabat yang pernah bertengkar.
Dua keluarga yang hampir hancur karena kesalahan generasi berikutnya.
Dan sebuah pengingat bahwa warisan paling berharga tidak selalu berupa tanah, saham, atau rumah.
Kadang warisan terbaik adalah kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan orang sebelum kita.
Alya sekarang berusia lima tahun.
Suatu malam ia bertanya kepadaku:
—Mama, Kakek Surya itu orang baik atau orang jahat?
Aku tersenyum.
—Kakek Surya orang yang pernah membuat kesalahan besar.
—Terus?
—Terus dia berusaha memperbaikinya.
Alya berpikir sejenak.
—Berarti orang baik masih bisa salah?
Aku mengusap rambutnya.
—Bisa.
—Orang jahat bisa berubah?
Aku melihat foto ayahku dan Pak Surya yang sekarang tergantung berdampingan di ruang kerja.
Lalu aku menjawab:
—Kalau mereka benar-benar mau bertanggung jawab, mungkin.
Alya mengangguk puas, lalu kembali bermain.
Aku berdiri di depan jendela sambil memikirkan perempuan yang dulu turun sendirian di sebuah tempat transit, hamil enam bulan, membawa amplop cokelat, dan percaya hidupnya sedang runtuh.
Seandainya aku bisa berbicara dengannya, aku hanya ingin mengatakan satu hal.
Naiklah ke pesawat itu.
Jangan kembali ke kereta hanya karena seseorang membuatmu merasa bersalah karena memilih dirimu sendiri.
Karena ternyata perjalanan yang mengubah hidupku bukan perjalanan hampir lima puluh jam yang direncanakan suamiku.
Melainkan perjalanan beberapa jam yang kupilih sendiri.
Dan kadang-kadang, keputusan paling penting dalam hidup dimulai dari hal sederhana:
Turun dari kendaraan yang membawa kita ke tempat yang salah.

