Satu Menit Setelah Perceraian, Mantan Suamiku Mengajak Selingkuhannya Membeli Berlian Rp24 Miliar—Tapi Kartunya Ditolak

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 536 tayangan
Satu Menit Setelah Perceraian, Mantan Suamiku Mengajak Selingkuhannya Membeli Berlian Rp24 Miliar—Tapi Kartunya Ditolak
Indeks

Satu Menit Setelah Perceraian, Mantan Suamiku Mengajak Selingkuhannya Membeli Berlian Rp24 Miliar—Tapi Kartunya Ditolak

Baru satu menit setelah perceraian kami resmi, mantan suamiku dengan bangga membawa selingkuhannya yang sedang hamil ke butik perhiasan mewah untuk membeli cincin berlian senilai Rp24 miliar.

Dengan angkuh dia berkata,

—Akhirnya istriku sudah menyingkir. Sekarang pilih apa pun yang kamu mau.

Namun ketika dia mengeluarkan kartu hitamnya, manajer butik tiba-tiba menghentikannya.

—Maaf, Pak. Kartu ini sudah dibatalkan oleh pemilik utama rekening.

Wajah mantan suamiku langsung pucat.

Satu Menit Setelah Perceraian, Mantan Suamiku Mengajak Selingkuhannya Membeli Berlian Rp24 Miliar—Tapi Kartunya Ditolak

Lalu aku keluar dari balik pilar marmer.

—Benar. Aku yang membatalkannya.

Namaku Nadira Prameswari.

Dan pagi itu, mantan suamiku akhirnya mengetahui bahwa kehidupan mewah yang selama ini dia banggakan…

sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya.


—Sayang, lihat yang ini.

Suara mantan suamiku, Arga Mahendra, terdengar begitu percaya diri dari dalam sebuah butik perhiasan mewah di kawasan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Aku berdiri beberapa meter dari mereka, tersembunyi di balik pilar marmer besar di dekat pintu masuk.

Arga sama sekali tidak tahu aku berada di sana.

Perempuan di sampingnya adalah Celine Wijaya, mantan manajer pemasaran di perusahaan tempat Arga bekerja.

Perutnya sudah terlihat membesar.

Selama hampir delapan bulan, perempuan itulah yang diam-diam menjalin hubungan dengan suamiku.

Dan kurang dari satu jam sebelumnya, aku baru saja menandatangani dokumen terakhir yang secara resmi mengakhiri pernikahan kami.

Celine tertawa manja.

Jarinya yang dihiasi kuku mengilap bergerak di atas kaca etalase.

Lalu berhenti.

Tepat di depan cincin paling mahal di ruangan itu.

Sebuah berlian lima karat dengan potongan sempurna, terpasang di atas cincin platinum.

Harganya hampir Rp24 miliar.

—Yang ini cantik sekali, Ga.

Arga bahkan tidak melihat label harganya.

Dia justru tersenyum lebar.

—Kalau kamu suka, ambil.

Celine menatapnya tidak percaya.

—Serius?

—Tentu.

Arga sengaja mengeraskan suaranya.

Aku mengenal kebiasaan itu.

Setiap kali berada di tempat mewah, Arga selalu berbicara sedikit lebih keras daripada biasanya.

Bukan karena orang di depannya tidak bisa mendengar.

Dia ingin semua orang mendengar.

Dia ingin orang asing mengetahui bahwa dia kaya.

Bahwa dia penting.

Bahwa dia mampu membeli sesuatu yang tidak bisa dibeli kebanyakan orang.

—Anggap saja hadiah untuk kamu dan bayi kita.

Celine tersenyum puas.

Beberapa pelanggan menoleh.

Dan seperti biasa, Arga menikmati perhatian itu.

—Bungkus yang bagus —katanya kepada staf butik.— Saya bayar sekarang.

Kemudian dia membuka dompet kulit hitamnya.

Tangannya menarik sebuah kartu metal berwarna hitam.

Kartu premium yang selama bertahun-tahun selalu dia banggakan di depan teman-temannya.

Arga pernah mengatakan kepada orang-orang bahwa kartu itu adalah bukti keberhasilannya sebagai pengusaha.

Aku hampir tertawa.

Karena ada satu detail kecil yang tidak pernah dia ceritakan.

Arga bukan pemilik utama kartu itu.

Aku pemiliknya.

Dia hanyalah pengguna tambahan.

Fasilitas yang kuberikan kepadanya bertahun-tahun lalu ketika aku masih percaya bahwa seorang istri seharusnya membantu suaminya membangun kehidupan bersama.

Ponsel di tanganku bergetar.

Aku menunduk.

Sebuah notifikasi dari layanan private banking muncul di layar.

Seluruh akses kartu tambahan atas nama Arga Mahendra telah dihentikan.

Aku mengunci layar.

Tepat waktu.

Staf butik menerima kartu Arga dengan kedua tangan.

—Mohon tunggu sebentar, Pak.

Arga menyandarkan tubuhnya ke meja kaca dengan ekspresi puas.

Celine sudah mengangkat ponselnya, mungkin bersiap merekam cincin barunya untuk media sosial.

Kartu dimasukkan ke mesin pembayaran.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

Transaksi ditolak.

Senyum staf butik sedikit berubah.

—Maaf, Pak. Sepertinya transaksi belum berhasil.

Arga mengernyit.

—Coba lagi.

Staf itu mencoba sekali lagi.

Hasilnya sama.

Ditolak.

Wajah Arga mulai menegang.

—Mesinnya bermasalah?

—Kami periksa dulu, Pak.

Manajer butik segera datang.

Seorang pria berusia sekitar lima puluhan dengan setelan rapi.

Dia berbicara pelan kepada stafnya, memeriksa terminal, lalu menatap Arga.

—Mohon maaf, Pak Arga. Sistem kami tidak bermasalah.

—Kalau begitu kenapa ditolak?

Manajer itu terlihat sedikit tidak nyaman.

—Berdasarkan informasi yang kami terima, akses kartu tambahan ini sudah dihentikan oleh pemilik utama rekening.

Keheningan jatuh.

Senyum Celine menghilang.

Arga berkedip.

—Apa?

—Kartu ini sudah tidak aktif, Pak.

—Tidak mungkin.

Arga merampas kartu tersebut.

—Ini kartu saya.

Manajer tetap sopan.

—Berdasarkan sistem, Bapak merupakan pengguna tambahan. Pemilik utama rekening telah meminta penghentian fasilitas.

Aku melihat rahang Arga mengeras.

—Pemilik utama?

Suaranya mulai meninggi.

—Saya yang menggunakan kartu ini bertahun-tahun!

—Kami hanya menyampaikan informasi yang tersedia, Pak.

—Siapa yang punya wewenang membatalkannya?

Saat itulah aku keluar dari balik pilar.

Suara hak sepatuku terdengar jelas di lantai marmer.

Tok.

Tok.

Tok.

Arga perlahan menoleh.

Ketika melihatku, seluruh warna di wajahnya menghilang.

Aku.

Celine ikut menoleh.

Matanya membesar.

—Nadira?

Aku berhenti beberapa langkah dari mereka.

—Selamat siang, Arga.

Dia menatapku seperti baru melihat hantu.

—Apa yang kamu lakukan di sini?

Aku tersenyum tipis.

—Kebetulan ada urusan di gedung sebelah. Lalu aku melihat mobilku terparkir di bawah.

Arga langsung menegang.

Aku sengaja menekankan kata itu.

Mobilku.

SUV mewah yang tadi dia gunakan membawa Celine ke sini memang terdaftar atas nama perusahaan investasiku.

Arga menunjuk kartu hitam di tangannya.

—Kamu membobol rekeningku?

Aku hampir tertawa.

—Rekeningmu?

Aku menatap Celine.

—Sepertinya dia belum pernah menjelaskan semuanya kepadamu.

—Menjelaskan apa? —tanya Celine.

Arga langsung memotong.

—Jangan dengarkan dia. Dia cuma marah karena perceraian.

Aku mengangguk pelan.

—Baik. Kalau begitu, kita buktikan.

Aku menunjuk kartu di tangannya.

—Kartu itu rekening siapa?

Arga diam.

—Jawab.

—Aku punya akses—

—Aku tidak bertanya siapa yang punya akses. Aku bertanya siapa pemilik utamanya.

Wajah Arga memerah.

Celine mulai menjauh sedikit darinya.

—Arga?

Aku melanjutkan.

—Jas yang kamu pakai sekarang dibeli menggunakan fasilitas perusahaan keluargaku.

Aku menunjuk pergelangan tangannya.

—Jam itu dibayar melalui rekening yang selama ini kamu sebut “rekening investasi pribadi”.

Lalu aku menunjuk ke arah pintu.

—Mobil yang kamu gunakan membawa perempuan ini kemari juga milik salah satu perusahaan holding milikku.

Mata Celine melebar.

—Apa?

—Dan apartemen tempat kalian tinggal selama enam bulan terakhir?

Aku tersenyum.

—Juga milikku.

Celine menatap Arga.

—Kamu bilang apartemen itu kamu beli.

—Celine, jangan—

—Kamu bilang kamu pemiliknya!

Beberapa pelanggan mulai memperhatikan.

Arga kehilangan kesabaran.

Dia membuka dompetnya.

—Omong kosong.

Dia mengeluarkan kartu lain.

Kartu platinum.

Diletakkannya di meja.

—Pakai ini.

Staf butik memandang manajernya.

Manajer mengangguk.

Kartu dimasukkan.

Ditolak.

Arga mengeluarkan kartu kedua.

—Yang ini.

Ditolak.

Kartu ketiga.

—Coba lagi!

Staf itu memasukkannya.

Beberapa detik kemudian, layar menunjukkan transaksi gagal karena dana tidak mencukupi.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat ketakutan sungguhan di mata mantan suamiku.

Celine juga melihatnya.

—Arga…

Dia mundur satu langkah.

—Kamu sebenarnya punya uang berapa?

—Aku punya perusahaan!

Aku mengangkat alis.

—Perusahaan?

Arga menatapku tajam.

Aku membuka tas dan mengeluarkan sebuah map tipis.

—Maksudmu Mahendra Strategic Consulting?

Dia terdiam.

—Perusahaan yang kamu banggakan kepada teman-temanmu sebagai perusahaan dengan aset ratusan miliar itu?

Aku membuka salah satu halaman.

—Modal awalnya berasal dari pinjaman perusahaan keluargaku.

Aku membuka halaman berikutnya.

—Kantornya disewa oleh anak perusahaan milikku.

Halaman berikutnya.

—Tiga mobil operasionalnya milikku.

Halaman berikutnya.

—Bahkan kontrak terbesar perusahaanmu berasal dari rekomendasi ayahku.

Arga tampak seperti kesulitan bernapas.

Celine menutup mulut.

Aku tidak merasa puas melihatnya.

Anehnya, yang kurasakan justru sedih.

Karena lelaki yang berdiri di depanku dulu adalah seseorang yang benar-benar kucintai.

Dua belas tahun sebelumnya, Arga bukan pria seperti ini.

Kami bertemu ketika dia masih mengendarai motor tua dan bekerja sampai malam.

Aku menyukai ambisinya.

Aku menyukai caranya bermimpi.

Karena itulah aku menyembunyikan sebagian besar latar belakang keluargaku.

Aku tidak ingin dia menikahiku karena uang.

Setelah kami menikah, aku perlahan membantunya.

Satu koneksi.

Satu pinjaman.

Satu kesempatan.

Lalu kesempatan berikutnya.

Sampai suatu hari Arga mulai percaya bahwa semua pintu itu terbuka karena dirinya sendiri.

Lebih buruk lagi…

dia mulai percaya aku adalah beban yang menghalangi kesuksesannya.

Celine tiba-tiba memegang perutnya.

—Kamu bilang Nadira tidak punya apa-apa.

Aku memandangnya.

Kalimat itu terasa seperti pisau kecil yang akhirnya menjelaskan banyak hal.

—Dia bilang begitu?

Celine mengangguk perlahan.

—Dia bilang kamu cuma ibu rumah tangga yang hidup dari uangnya.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena ternyata kebohongan Arga jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

—Aku memang sengaja tidak pernah tampil di depan publik.

Aku menatap Arga.

—Tapi hampir semua investasi yang membuat kehidupan kami seperti sekarang dikelola melalui perusahaan keluargaku.

Arga mengepalkan tangan.

—Kamu sengaja mempermalukanku!

—Tidak.

Aku menggeleng.

—Kamu yang memilih datang ke butik ini satu menit setelah perceraian kita selesai.

Kamu yang memilih membawa perempuan yang kamu selingkuhi.

Kamu yang memilih membual ingin membeli berlian Rp24 miliar.

Aku hanya…

berhenti membayar tagihanmu.

Saat itu terdengar langkah kaki dari pintu butik.

Seorang pria bersetelan gelap masuk bersama dua petugas keamanan mal.

Arga menoleh.

—Ada apa lagi?

Manajer umum pusat perbelanjaan mendekat.

—Pak Arga Mahendra?

—Ya.

—Kami perlu berbicara mengenai kendaraan yang Bapak gunakan untuk masuk ke area valet.

Arga membeku.

Aku melirik jam tanganku.

Tepat waktu.

Pria itu melanjutkan.

—Kami menerima pemberitahuan dari perusahaan pemilik kendaraan bahwa izin penggunaan mobil tersebut sudah dicabut.

Celine menatap Arga.

Lalu menatapku.

Aku mengeluarkan kunci cadangan dari tas.

—Mobil itu juga pulang bersamaku hari ini.

Arga akhirnya kehilangan kendali.

—Kamu tidak bisa mengambil semuanya dariku!

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian menjawab pelan.

—Aku tidak mengambil apa pun darimu, Arga.

Ruangan mendadak hening.

—Aku hanya mengambil kembali apa yang sejak awal memang milikku.

Wajahnya berubah.

Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, ponselnya berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berkali-kali.

Arga melihat layar.

Aku melihat ekspresinya berubah dari marah menjadi bingung.

Kemudian takut.

—Kenapa mereka meneleponku?

Aku tahu siapa “mereka”.

Dewan direksi perusahaan tempat Arga menjabat sebagai direktur utama.

Aku mengambil napas panjang.

Karena ada satu hal terakhir yang belum dia ketahui.

Satu hal yang bahkan tidak tercantum dalam dokumen perceraian kami.

Aku bukan hanya perempuan yang membiayai gaya hidupnya.

Bukan hanya pemilik kartu.

Bukan hanya pemilik mobil dan apartemen.

Tiga tahun sebelumnya, ketika perusahaan Arga hampir bangkrut, sebuah perusahaan investasi diam-diam membeli sebagian besar saham melalui beberapa entitas berbeda.

Arga tidak pernah mencari tahu siapa pemilik sebenarnya.

Yang dia tahu hanyalah ada “investor pasif” yang menyelamatkan perusahaannya.

Investor itu…

adalah aku.

Ponselnya kembali berbunyi.

Arga menatap nama yang muncul.

Ketua dewan komisaris.

Tangannya mulai gemetar.

—Nadira…

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak ada kesombongan dalam suaranya.

Hanya ketakutan.

—Apa yang sudah kamu lakukan?

Aku menatapnya.

Kemudian menatap layar ponselnya yang terus menyala.

—Aku?

Aku tersenyum tipis.

—Belum banyak.

—Apa maksudmu?

Aku berbalik menuju pintu butik.

Lalu berhenti.

—Tapi kalau aku jadi kamu…

Aku menoleh kepadanya.

—Aku akan menjawab telepon itu.

Karena rapat dewan darurat baru saja dimulai.

Dan agenda pertamanya…

adalah membahas posisi direktur utama.

Arga berdiri membeku.

Celine melepaskan tangannya dari lengan Arga.

Cincin berlian Rp24 miliar masih berada di balik kaca.

Belum dibeli.

Tidak akan pernah dibeli.

Dan ketika aku berjalan keluar dari butik itu, aku mendengar suara Arga yang gemetar menjawab telepon.

—Halo… Pak?

Aku tidak menoleh lagi.

Karena setelah bertahun-tahun hidup sebagai perempuan yang diam-diam membangun panggung agar suaminya bisa berdiri lebih tinggi…

akhirnya aku berhenti menjadi panggung itu.

Dan untuk pertama kalinya, Arga harus mengetahui apakah dia benar-benar bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

 

Arga masih berdiri di tengah butik ketika aku keluar menuju koridor Plaza Indonesia.

Suara terakhir yang kudengar adalah suaranya yang berubah kecil.

—Halo… Pak?

Pintu kaca butik menutup di belakangku.

Untuk beberapa detik, aku berhenti.

Bukan karena ingin kembali.

Aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini aku benar-benar bisa berjalan pergi tanpa menoleh.

Dua belas tahun pernikahan tidak hilang hanya karena sebuah tanda tangan.

Tidak juga karena satu kartu dibatalkan.

Tidak juga karena satu perselingkuhan terbongkar.

Ada terlalu banyak pagi ketika aku menyiapkan kopi untuknya sebelum rapat.

Terlalu banyak malam ketika aku menunggu lampu ruang kerjanya padam.

Terlalu banyak tahun ketika aku percaya bahwa suatu hari dia akan memahami bahwa semua yang kulakukan bukan untuk membuatnya kecil.

Aku hanya ingin melihatnya tumbuh.

Tapi Arga tidak tumbuh.

Dia berubah.

Dan ketika akhirnya aku menerima kenyataan itu, yang tersisa hanyalah keberanian untuk berhenti menyelamatkannya.

Ponselku bergetar.

Pesan dari pengacaraku, Dimas Santoso.

Rapat dewan sudah dimulai. Mereka menunggumu masuk lewat video.

Aku berjalan menuju lounge privat di lantai atas.

Begitu pintu tertutup, aku duduk di depan laptop yang sudah disiapkan staf.

Layar menyala.

Tujuh wajah muncul.

Ketua dewan komisaris.

Dua direktur independen.

Kepala bagian legal.

Kepala audit internal.

Dan dua perwakilan dari perusahaan investasiku.

Kursi kedelapan kosong.

Milik Arga.

Beberapa detik kemudian, wajahnya muncul.

Ia masih berada di butik.

Aku bisa melihat rak perhiasan di belakangnya.

Celine tidak terlihat.

Arga langsung menatap layar dengan penuh amarah.

—Apa-apaan ini?

Ketua dewan, Pak Surya, menjawab tenang.

—Rapat ini dipanggil untuk membahas pelanggaran tata kelola perusahaan yang cukup serius.

—Pelanggaran apa?

Pak Surya tidak menjawab langsung.

Ia membuka sebuah dokumen.

—Pertama, ditemukan penggunaan dana representasi perusahaan untuk keperluan pribadi.

Arga mendengus.

—Itu biasa.

—Tidak untuk pembelian barang mewah, perjalanan pribadi, dan pembayaran apartemen untuk pihak yang tidak memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan.

Wajah Arga berubah.

Aku tahu apartemen mana yang mereka maksud.

Apartemen tempat Celine tinggal.

Pak Surya melanjutkan.

—Kedua, tim audit menemukan adanya pemindahan anggaran pemasaran ke tiga vendor berbeda yang ternyata terafiliasi secara tidak langsung dengan pihak yang sama.

Arga mulai pucat.

—Itu keputusan tim.

Kepala audit internal membuka suara.

—Tidak, Pak. Semua instruksi digital berasal dari akun Bapak.

Sunyi.

Aku tidak berkata apa-apa.

Belum.

Arga menatapku.

—Ini semua kerjaan kamu?

Aku menyandarkan punggung ke kursi.

—Aku bahkan tidak tahu soal sebagian temuan itu sampai tiga hari lalu.

Dan itu benar.

Saat perselingkuhan Arga terungkap, aku tidak langsung mengambil tindakan.

Aku meminta timku memeriksa semua aset bersama dan seluruh hubungan bisnis yang berkaitan dengannya.

Yang kami temukan jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

Ada pembayaran tak wajar.

Ada kontrak fiktif.

Ada tagihan jamuan bisnis yang sebenarnya dilakukan bersama Celine.

Ada tiket pesawat, hotel, hadiah, dan fasilitas pribadi yang dimasukkan sebagai biaya perusahaan.

Aku tadinya mengira Arga hanya mengkhianatiku sebagai suami.

Ternyata dia juga mengkhianati semua orang yang bekerja di bawahnya.

—Tapi perusahaan tetap untung! —bentaknya.

Pak Surya menatap dingin.

—Keuntungan tidak memberi siapa pun hak mengambil uang perusahaan.

Arga menoleh ke arahku lagi.

—Kamu sengaja menunggu hari perceraian untuk menjatuhkanku.

Kali ini aku menjawab.

—Tidak.

—Bohong!

—Aku menunggu sampai proses audit selesai.

Aku mendekat ke kamera.

—Aku tidak ingin keputusan terhadapmu terlihat seperti dendam istri yang dikhianati. Aku ingin semuanya berdiri di atas bukti.

Arga terdiam.

Kalimat itu memukulnya lebih keras daripada teriakan.

Pak Surya kemudian membuka agenda terakhir.

—Berdasarkan temuan audit sementara, saya mengajukan pembebastugasan Arga Mahendra dari posisi direktur utama efektif hari ini, sambil menunggu pemeriksaan lanjutan.

Salah satu direktur mengangkat tangan.

—Setuju.

Yang lain menyusul.

—Setuju.

Satu per satu.

Arga menatap layar dengan napas memburu.

—Kalian tidak bisa melakukan ini.

Pak Surya menjawab,

—Bisa.

—Perusahaan ini milikku!

Lalu untuk pertama kalinya, aku tersenyum kecil.

Pak Surya menatapku.

—Bu Nadira, apakah Ibu ingin menjelaskan struktur kepemilikan?

Arga langsung membeku.

Aku membuka folder di depanku.

—Tiga tahun lalu, ketika perusahaanmu gagal membayar utang pemasok utama dan bank menolak memperpanjang fasilitas kredit, Mahendra Strategic Consulting hampir tutup.

Aku berhenti sebentar.

—Kamu ingat?

Arga tidak menjawab.

Tentu saja dia ingat.

Itu adalah masa ketika dia pulang setiap malam dengan wajah hancur.

Ketika aku memeluknya dan berkata semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa bulan kemudian, investor misterius masuk.

Menyuntikkan modal.

Membeli utang.

Mengambil sebagian saham.

Arga menganggap itu keberuntungannya.

Dia bahkan pernah berkata,

“Aku tahu mereka melihat potensi dalam diriku.”

Aku menatapnya melalui layar.

—Investor itu adalah Prameswari Capital.

Arga mengerutkan dahi.

Lalu wajahnya kosong.

Nama itu adalah nama keluarga ayahku.

Perlahan, dia memahami.

—Tidak…

—Ya.

Aku membuka halaman terakhir.

—Melalui beberapa entitas investasi, kami menguasai lima puluh enam persen saham perusahaanmu.

Arga hanya menatapku.

—Jadi…

—Secara hukum, perusahaan itu tidak pernah lagi berada di bawah kendali penuhmu.

Suara Arga turun hampir menjadi bisikan.

—Kamu pemiliknya?

Aku menggeleng.

—Bukan sendirian.

Aku menunjuk layar.

—Ada investor lain. Ada karyawan dengan opsi saham. Ada orang-orang yang benar-benar bekerja untuk membangun perusahaan itu.

Aku menarik napas.

—Dan mereka berhak dilindungi dari seseorang yang menganggap rekening perusahaan sebagai dompet pribadinya.

Pak Surya mengetuk meja.

—Keputusan disahkan. Pak Arga dibebastugaskan efektif sekarang.

Layar Arga berguncang.

Dia berdiri terlalu cepat.

—Kalian semua akan menyesal!

Lalu koneksinya terputus.

Rapat berakhir.

Aku menutup laptop.

Seharusnya aku merasa menang.

Anehnya, aku justru merasa lelah.

Sangat lelah.


Sore itu, aku pulang ke rumah ibuku di Menteng.

Sudah enam bulan aku diam-diam menyimpan beberapa pakaian di sana.

Seolah tubuhku sudah tahu lebih dulu bahwa pernikahan itu tidak akan bertahan.

Ibu tidak banyak bertanya.

Dia hanya meletakkan secangkir teh hangat di depanku.

—Sudah selesai?

Aku mengangguk.

—Hampir.

Ibu duduk.

—Kamu masih sedih.

Aku tertawa pelan.

—Harusnya aku senang, kan?

—Tidak.

Dia memegang tanganku.

—Keadilan dan kebahagiaan bukan hal yang sama.

Kalimat itu membuat mataku panas.

Aku menunduk.

—Aku benar-benar mencintainya, Bu.

—Aku tahu.

—Aku pikir kalau aku memberinya kesempatan, dukungan, ruang… dia akan menjadi versi terbaik dirinya.

Ibu mengusap tanganku.

—Masalahnya, Nak, kita tidak bisa mencintai seseorang sampai dia berubah menjadi orang yang dia sendiri tidak mau jadi.

Aku akhirnya menangis.

Bukan tangisan besar.

Hanya air mata yang keluar tanpa izin.

Untuk semua tahun yang tidak bisa kukembalikan.

Untuk semua penghinaan yang dulu kupikir bisa kutoleransi.

Untuk perempuan yang dulu selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Tiga hari kemudian, sesuatu terjadi.

Celine datang menemuiku.

Sendirian.

Tanpa Arga.

Dia menunggu di lobi kantor Prameswari Capital di Sudirman.

Ketika asistanku memberi tahu, aku sempat ingin menolak.

Tapi kemudian aku berubah pikiran.

Aku menyuruhnya masuk.

Celine tampak berbeda.

Tidak ada gaun mahal.

Tidak ada riasan tebal.

Tidak ada tas desainer.

Dia mengenakan blus sederhana dan celana longgar.

Wajahnya pucat.

Tangannya menggenggam map.

—Aku cuma butuh lima menit.

Aku menunjuk kursi.

—Duduk.

Dia duduk, tapi tidak langsung bicara.

Lalu air matanya jatuh.

Aku diam.

—Aku tidak datang untuk minta maaf supaya kamu memaafkan aku.

Kalimat pertamanya mengejutkanku.

—Aku tahu aku salah.

Dia mengusap pipinya.

—Aku tahu aku ikut menghancurkan pernikahanmu.

Aku tetap diam.

—Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Arga.

Aku menatapnya.

Celine membuka map.

Di dalamnya ada beberapa hasil pemeriksaan medis.

Tanganku menegang.

—Bayimu?

Dia mengangguk.

—Bukan itu.

Dia mendorong satu lembar ke arahku.

—Aku melakukan tes DNA prenatal dua minggu lalu.

Aku membacanya.

Lalu mengernyit.

Celine berkata pelan,

—Arga bukan ayah bayi ini.

Aku mengangkat kepala.

—Apa?

Air matanya semakin deras.

—Aku juga baru tahu.

Cerita berikutnya keluar seperti bendungan pecah.

Sebelum mengenal Arga, Celine sempat berhubungan singkat dengan mantan tunangannya, Rendra.

Mereka berpisah.

Beberapa minggu kemudian ia dekat dengan Arga.

Ketika mengetahui dirinya hamil, tanggalnya memang berdekatan.

Arga langsung menganggap bayi itu miliknya.

Dan Celine…

membiarkannya percaya.

—Aku takut —katanya.— Arga menjanjikan semuanya. Apartemen. Rumah. Pernikahan. Kehidupan baru.

Aku menatapnya dingin.

—Jadi kamu berbohong.

—Ya.

Dia menunduk.

—Aku berbohong.

Aku tidak membela atau menghiburnya.

Dia memang salah.

Tapi lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku menegang.

—Kemarin aku memberi tahu Arga hasil tesnya.

—Lalu?

Celine menatapku.

Ada ketakutan di matanya.

—Dia menyuruhku menghilangkan kandungan ini.

Ruangan terasa dingin.

—Apa?

—Dia bilang bayi ini sudah tidak berguna untuknya.

Aku tidak bisa berkata-kata.

Celine gemetar.

—Aku pikir dia marah dan akan tenang. Tapi kemudian dia bilang kalau aku mempertahankannya, aku tidak akan mendapat apa-apa.

Dia membuka ponselnya.

Ada rekaman suara.

Aku menekan play.

Suara Arga terdengar jelas.

“Kalau itu bukan anakku, jangan harap aku mengurusnya. Selesaikan saja masalahnya.”

Aku mematikan rekaman.

Dadaku sesak.

Bukan karena Arga mengejutkanku lagi.

Tapi karena aku akhirnya melihat sejauh apa dia telah jatuh.

Celine berkata pelan,

—Aku akan pergi dari Jakarta.

—Ke mana?

—Surabaya. Orang tuaku masih di sana.

Aku mengangguk.

—Bagus.

Dia tampak terkejut.

Mungkin mengira aku akan mengejeknya.

Aku melanjutkan.

—Pulang ke keluargamu. Fokus pada bayimu. Dan jangan pernah lagi menyerahkan seluruh hidupmu pada janji laki-laki yang belum kamu kenal benar.

Dia menangis.

—Kenapa kamu masih mau bicara baik-baik denganku?

Aku memandangnya lama.

—Karena aku tidak perlu menghancurkanmu untuk membuktikan bahwa kamu pernah menyakitiku.

Celine menutup wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak melihatnya sebagai “selingkuhan suamiku”.

Aku melihatnya sebagai seorang perempuan yang membuat keputusan buruk, mempercayai lelaki yang salah, dan sekarang harus hidup dengan konsekuensinya.

Aku tidak memaafkan.

Belum.

Tapi aku juga tidak membencinya lagi.


Dua bulan berlalu.

Kasus Arga semakin besar.

Audit menemukan bahwa dia mengalihkan dana perusahaan melalui vendor milik teman kuliahnya.

Tidak cukup besar untuk membuat perusahaan runtuh.

Tapi cukup serius untuk membuatnya diperiksa secara hukum.

Rumah mewah yang dulu kami tinggali dijual.

Aku tidak mau kembali ke sana.

Terlalu banyak ruangan menyimpan suara masa lalu.

Aku membeli apartemen lebih kecil di Jakarta Selatan.

Bukan karena tidak mampu membeli rumah besar.

Aku hanya ingin sesuatu yang benar-benar kupilih untuk diriku sendiri.

Aku mulai memasak lagi.

Aku mulai jogging pagi.

Aku bertemu teman-teman lama yang selama pernikahan perlahan kujauhkan karena Arga selalu berkata mereka “tidak selevel”.

Hidupku mengecil.

Dan anehnya, terasa jauh lebih luas.

Lalu suatu malam, Arga datang.

Tanpa jas mahal.

Tanpa mobil.

Tanpa jam mewah.

Dia berdiri di luar apartemenku mengenakan kemeja sederhana.

Aku hampir tidak mengenalinya.

—Aku cuma ingin bicara.

Aku membuka pintu sedikit.

—Tentang apa?

Dia tertawa pahit.

—Tentang hidupku yang hancur.

—Itu bukan urusanku lagi.

—Aku tahu.

Dia menunduk.

Beberapa detik.

Lalu dia berkata,

—Celine pergi.

—Aku tahu.

Arga menatapku.

—Dia cerita?

—Cukup.

Wajahnya penuh malu.

—Bayinya bukan anakku.

—Aku tahu.

Dia menghela napas panjang.

—Semuanya hilang, Nadira.

Aku tidak menjawab.

—Jabatan. Rumah. Teman-teman.

Dia tertawa lagi.

—Lucu ya? Saat semua fasilitas hilang, hampir semua orang juga hilang.

Aku menyilangkan tangan.

—Kenapa kamu datang?

Dia menatapku.

—Aku ingin tahu satu hal.

—Apa?

—Apakah pernah ada waktu… kamu benar-benar mencintaiku?

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Bukan karena sulit.

Karena jawabannya sangat mudah.

—Setiap hari.

Mata Arga merah.

Aku melanjutkan.

—Aku mencintaimu saat kamu belum punya apa-apa.

Saat kamu masih naik motor hujan-hujanan.

Saat kamu malu karena tidak bisa membelikan aku hadiah ulang tahun.

Saat perusahaanmu pertama kali gagal.

Saat semua orang meragukanmu.

Aku menelan ludah.

—Aku mencintaimu bahkan ketika kamu mulai berubah.

Arga menutup mata.

—Lalu kenapa kamu tidak bilang soal uang keluargamu?

—Karena aku ingin tahu apakah kamu mencintaiku tanpa itu.

Sunyi.

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di wajahnya.

Arga duduk di kursi koridor.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, dia menangis di depanku.

Bukan karena kehilangan perusahaan.

Bukan karena kehilangan uang.

Karena akhirnya memahami satu hal sederhana.

Dia sudah memiliki seseorang yang mencintainya ketika dia tidak punya apa-apa.

Lalu dia menghancurkan cinta itu setelah dia merasa punya segalanya.

—Aku menyesal.

Aku percaya dia menyesal.

Tapi penyesalan bukan mesin waktu.

Aku duduk di kursi seberangnya.

—Aku juga menyesal.

Dia mengangkat wajah.

—Kamu?

—Aku menyesal terlalu lama melindungimu dari konsekuensi.

Arga mengangguk pelan.

—Apa ada kemungkinan…

Aku tahu pertanyaan berikutnya.

Aku memotong.

—Tidak.

Dia menutup mulut.

Aku berkata lembut,

—Aku memaafkanmu, Arga.

Matanya membesar.

—Tapi memaafkan bukan berarti kembali.

Air mata mengalir lagi.

Aku melanjutkan.

—Kalau aku kembali, aku akan mengkhianati perempuan yang akhirnya berani keluar dari pernikahan itu.

Arga mengangguk.

Lama.

Lalu berdiri.

Sebelum pergi, dia berkata,

—Aku harap kamu bahagia.

Aku menatapnya.

—Aku juga berharap suatu hari kamu belajar hidup tanpa harus terlihat hebat di mata orang lain.

Dia pergi.

Dan kali ini…

aku benar-benar tidak menoleh.


Enam bulan kemudian, aku menerima sebuah amplop.

Dari Surabaya.

Di dalamnya ada foto seorang bayi perempuan.

Kecil.

Sehat.

Tersenyum.

Di belakang foto tertulis:

Namanya Kirana.

Di bawahnya ada tulisan tangan Celine.

“Terima kasih karena pada hari ketika kamu punya semua alasan untuk menghancurkanku, kamu memilih menyuruhku pulang.”

Aku duduk lama memegang foto itu.

Lalu tersenyum.

Beberapa hari setelahnya, aku mendapat kabar lain.

Arga telah menjual sisa saham pribadinya untuk membayar utang dan kewajiban hukum.

Dia tidak masuk penjara.

Tapi ia kehilangan hampir seluruh kekayaan pribadinya dan dilarang menduduki posisi direktur selama beberapa tahun.

Aku mendengar dia pindah ke Bandung.

Bekerja sebagai konsultan biasa untuk sebuah perusahaan kecil.

Tidak ada kartu hitam.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada meja VIP.

Anehnya, dari seorang teman lama, aku mendengar bahwa untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…

Arga mulai terlihat lebih tenang.

Mungkin kehilangan semuanya akhirnya memaksanya bertemu dengan dirinya sendiri.

Dan aku?

Aku mengambil keputusan yang dulu tidak pernah kubayangkan.

Aku keluar dari balik bayang-bayang keluargaku.

Untuk pertama kalinya, aku menerima jabatan resmi sebagai direktur utama Prameswari Capital.

Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada Arga.

Bukan untuk membalas dendam.

Tapi karena aku akhirnya berhenti mengecilkan diriku agar orang lain merasa besar.

Pada hari pertamaku memimpin rapat perusahaan, aku berdiri di depan jendela lantai tiga puluh dengan pemandangan Jakarta.

Kota itu masih sama.

Macet.

Bising.

Penuh ambisi.

Tapi aku sudah berbeda.

Asistenku masuk.

—Bu Nadira, mobil sudah siap.

Aku tersenyum.

—Tidak usah. Saya jalan kaki sebentar.

Ketika turun ke lobi, aku melewati butik perhiasan beberapa gedung dari sana.

Di etalasenya ada cincin berlian besar.

Entah kenapa aku berhenti.

Seorang staf keluar.

—Mau lihat, Bu?

Aku tersenyum.

—Tidak.

—Tidak suka berlian?

Aku menatap pantulanku sendiri di kaca.

Lalu menggeleng.

—Saya pernah menghabiskan terlalu banyak waktu mengira nilai seseorang bisa terlihat dari apa yang melekat di tangannya.

Aku melangkah pergi.

Di luar, matahari sore Jakarta menyentuh trotoar.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku tidak merasa seperti mantan istri seseorang.

Tidak seperti perempuan yang ditinggalkan.

Tidak seperti pewaris keluarga kaya.

Tidak seperti orang yang menang dalam perceraian.

Aku hanya merasa seperti Nadira.

Dan ternyata…

itu sudah lebih dari cukup.

Karena akhir paling mengejutkan dari semua ini bukanlah ketika kartu Arga ditolak.

Bukan ketika dia kehilangan jabatan.

Bukan ketika Celine mengetahui bayinya bukan anak Arga.

Bukan pula ketika perusahaan yang dia banggakan ternyata dikendalikan oleh perempuan yang dia remehkan.

Akhir paling mengejutkan adalah ini:

Setelah bertahun-tahun mencoba membuat Arga menjadi lelaki yang layak dicintai…

aku akhirnya sadar bahwa orang yang paling lama kulupakan untuk kucintai

adalah diriku sendiri.