Ketiga Bayiku yang Berusia Delapan Bulan Selalu Menjerit Saat Masuk Kamar Mereka—Dua Dokter Tidak Menemukan Apa Pun, Sampai Seorang Anak Empat Tahun Berbisik, “Mereka Bukan Sakit. Mereka Takut.”
Malam Ketika Tidak Ada yang Masuk Akal
Sepanjang sebagian besar hidup dewasaku, aku selalu menjadi orang yang dicari ketika sesuatu berjalan salah.
Namaku Adrian Pratama.
Usiaku tiga puluh tujuh tahun, pendiri sekaligus direktur utama Pratama Properti Nusantara, sebuah perusahaan pengembang yang awalnya hanya berkantor kecil di Jakarta Selatan, lalu berkembang menangani hotel, gedung perkantoran, apartemen, dan kawasan hunian premium di berbagai kota di Indonesia.
Aku membangun reputasiku dengan satu kebiasaan sederhana.
Aku tidak suka masalah yang dibiarkan tanpa jawaban.
Dalam rapat, orang-orang selalu datang dengan persiapan lengkap karena mereka tahu aku akan menanyakan hal yang justru berharap tidak ditanyakan siapa pun.

Aku terbiasa melihat kelemahan sebelum orang lain menyadarinya.
Terbiasa mengambil keputusan cepat.
Terbiasa mengendalikan keadaan.
Lalu aku menjadi ayah dari bayi kembar tiga.
Dan delapan bulan kemudian, aku akhirnya memahami bahwa jabatan, uang, koneksi, dan kemampuan mengambil keputusan tidak berarti apa-apa ketika tiga bayi menangis bersamaan dan tidak ada seorang pun yang tahu sebabnya.
Semuanya bermula pada suatu Selasa malam di rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Ketiga anakku—Raka, Rafa, dan Alya—memang sedikit rewel setelah makan malam.
Itu bukan hal aneh.
Siapa pun yang pernah merawat lebih dari satu bayi tahu bahwa tangisan seorang anak bisa menular ke dua lainnya hanya dalam hitungan detik.
Namun sekitar pukul tujuh malam, tangisan mereka berubah.
Bukan sekadar rewel.
Bukan tangisan karena lapar.
Bukan pula rengekan karena mengantuk.
Ketiganya menjerit seolah-olah ada sesuatu yang benar-benar membuat mereka ketakutan.
Kamar bayi kami segera dipenuhi orang.
Dua pengasuh bergerak cepat di antara tiga ranjang bayi kayu berwarna terang, memeriksa popok, botol susu, pakaian tidur, selimut, suhu ruangan, bahkan posisi bantal kecil yang sebenarnya hampir tidak pernah berubah.
Salah satu pengasuh meredupkan lampu.
Yang lain menyalakan mesin white noise kecil di dekat rak buku.
Aku menggendong Alya di bahuku sampai lenganku terasa kebas, berjalan bolak-balik di atas karpet dengan langkah yang sama berulang kali.
Tidak ada yang berhasil.
Tangisan mereka justru semakin keras.
Dokter anak kami, dr. Maya Santoso, kebetulan tinggal tidak terlalu jauh dari rumah.
Ia tiba malam itu kurang dari setengah jam kemudian.
Maya memeriksa ketiga bayi satu per satu.
Lalu mengulang pemeriksaan karena aku memintanya.
Suhu tubuh normal.
Pernapasan bersih.
Telinga tidak menunjukkan tanda infeksi.
Perut tidak kembung.
Tidak ada ruam.
Tidak ada tanda alergi.
Tidak ada satu pun gejala yang menjelaskan kenapa mereka menjerit seperti itu.
Maya melepaskan stetoskopnya.
“Secara fisik, semuanya terlihat normal.”
Aku menatapnya.
Lalu menatap ketiga anakku.
“Kalau begitu, apa yang kita lewatkan?”
Maya terdiam.
Aku paling membenci jeda seperti itu.
Dalam keadaan biasa, aku pasti sudah menembakkan pertanyaan kedua, ketiga, dan keempat sampai seseorang memberiku jawaban.
Tetapi malam itu aku bukan direktur utama yang duduk di ujung meja rapat.
Aku hanya seorang ayah yang tidak bisa menenangkan anak-anaknya sendiri.
Aku kemudian menelepon dr. Arif Wibowo, seorang dokter spesialis anak yang fokus pada pendengaran dan gangguan sensorik.
Aku mengenalnya melalui sebuah yayasan rumah sakit tempat perusahaanku pernah menjadi donatur.
Arif datang hampir satu jam kemudian.
Ia bahkan masih mengenakan kemeja rapi yang tampaknya dipakai untuk makan malam bersama keluarganya.
Ia memeriksa mata ketiga bayi.
Respons terhadap cahaya.
Respons terhadap suara.
Refleks.
Pernapasan.
Pendengaran.
Gerakan tangan dan kaki.
Kemudian ia berdiri di samping Maya.
Keduanya tidak terlihat panik.
Namun keduanya juga tidak terlihat puas dengan hasil pemeriksaan.
Aneh sekali, tetapi justru itu yang membuatku semakin takut.
Sementara itu, kepala operasional rumah kami, Pak Budi Hartono, telah memeriksa hampir semua hal yang bisa dipikirkan orang dewasa.
AC bekerja normal.
Kadar karbon monoksida normal.
Tidak ada bau gas.
Jendela terkunci.
Kamera keamanan tidak menunjukkan siapa pun masuk ke lantai atas.
Tidak ada bahan pembersih baru yang digunakan di kamar bayi hari itu.
Tidak ada serangga.
Tidak ada suara mesin aneh.
Tidak ada korsleting listrik.
“Kamarnya normal, Pak Adrian,” kata Budi pelan.
Aku langsung menoleh kepadanya.
“Kamarnya tidak normal.”
Ia terdiam.
Aku menunjuk tiga ranjang bayi.
“Tiga anak saya baik-baik saja sore tadi. Sekarang mereka menjerit bersamaan. Jadi jangan katakan kamar ini normal hanya karena alat ukur tidak menemukan sesuatu.”
Salah satu pengasuh kemudian mencoba sesuatu yang sederhana.
Ia mengangkat Alya dari ranjang bayi dan membawanya keluar menuju lorong.
Mungkin hanya untuk mengubah suasana.
Mungkin berharap udara berbeda akan menenangkannya.
Namun yang terjadi membuat semua orang berhenti bergerak.
Begitu Alya keluar dari kamar…
dia langsung tenang.
Bukan perlahan.
Bukan setelah beberapa menit.
Hampir seketika.
Tangisan kerasnya berubah menjadi satu isakan kecil.
Kemudian diam.
Alya menyandarkan pipinya yang basah ke bahu pengasuh.
Maya menatap Arif.
Arif menatapku.
Aku menatap pintu kamar bayi.
“Bawa dia masuk lagi.”
Pengasuh itu ragu.
“Pak Adrian…”
“Tidak perlu jauh. Cukup melewati pintu.”
Ia melangkah kembali ke dalam.
Begitu tubuh Alya melewati ambang pintu, aku melihat bahunya menegang.
Kakinya bergerak gelisah.
Wajahnya berubah.
Lalu ia menjerit lagi.
Ruangan mendadak sunyi, kecuali suara tangisnya.
Aku langsung berkata,
“Keluar.”
Pengasuh membawa Alya kembali ke lorong.
Beberapa detik kemudian tangisannya mulai reda lagi.
Aku menatap Raka dan Rafa.
“Bawa mereka keluar juga.”
Satu per satu, kedua anak laki-lakiku dipindahkan ke lorong.
Rafa berhenti menangis lebih dahulu.
Raka membutuhkan sekitar dua puluh detik.
Tetapi hasilnya sama.
Ketiga bayi itu tenang ketika berada di luar kamar.
Dan mulai ketakutan saat dibawa masuk lagi.
Saat itulah kami akhirnya mengerti satu hal.
Masalahnya bukan pada anak-anak kami.
Masalahnya ada di dalam kamar itu.
Dan tidak ada satu pun orang dewasa di ruangan tersebut yang tahu apa penyebabnya.
Pada saat itulah Kirana muncul di ambang pintu.
Kirana baru berusia empat tahun.
Ia adalah putri Bu Sari, pengelola rumah tangga kami yang telah bekerja bersama keluargaku hampir tujuh tahun.
Kadang-kadang Sari membawa Kirana ke rumah ketika sekolahnya libur atau tidak ada yang bisa menjaganya.
Malam itu, Kirana sebenarnya sedang duduk di dapur lantai bawah sambil menggambar menggunakan krayon.
Ia mengenakan gaun kuning muda dan memeluk boneka kain buatan tangan dengan rambut dari benang wol yang dijahit tidak rata.
“Kirana, Sayang, turun dulu,” kata Sari lembut. “Adik-adik sedang butuh ketenangan.”
Kirana tidak bergerak.
Ia hanya memandang ke dalam kamar bayi yang sekarang kosong.
Tatapannya membuatku memperhatikannya.
Anak kecil sering kali melihat sesuatu dengan cara yang berbeda dari orang dewasa.
Mereka belum belajar mengabaikan bunyi kecil.
Belum terbiasa menyebut sesuatu “normal” hanya karena tidak bisa menjelaskannya.
Kirana perlahan masuk.
Sari hendak menarik tangannya.
“Kirana.”
Tetapi anak itu sudah berjalan melewati karpet.
Ia berhenti di samping ranjang Raka.
Selama beberapa detik, ia hanya berdiri diam.
Lalu ia berjongkok.
Aku melihatnya memiringkan kepala.
Kemudian menempelkan satu telinganya ke lantai kayu di dekat ujung karpet.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.
Kirana mengangkat satu jari ke bibir.
“Ssst.”
Ekspresinya begitu serius hingga, tanpa sadar, semua orang dewasa di kamar benar-benar diam.
Kirana mendengarkan.
Beberapa detik.
Lalu ia bergeser mendekati dinding.
Ia merangkak ke bawah sisi ranjang bayi dan menempelkan telinganya lagi, kali ini tepat pada bagian bawah dinding dekat lis kayu.
Sari tampak malu.
“Maaf, Pak Adrian. Saya bawa dia turun saja.”
Namun sebelum Sari mendekat, Kirana tiba-tiba mundur.
Wajah anak kecil itu berubah.
Bukan wajah seseorang yang bingung.
Bukan juga wajah anak yang sedang berimajinasi.
Ia terlihat seperti seseorang yang baru mengenali sesuatu.
Kirana memeluk boneka kainnya lebih erat.
Kemudian menatapku.
“Om Adrian?”
Aku berjongkok agar sejajar dengannya.
“Iya?”
Ia menelan ludah.
Kemudian berbisik,
“Adik-adik itu bukan sakit.”
Tidak ada seorang pun bergerak.
Kirana menunjuk ke dinding di belakang ranjang Raka.
“Mereka takut.”
Aku merasakan tengkukku meremang.
“Takut pada apa?”
Kirana menatap dinding itu lagi.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat dr. Maya langsung mendekat.
“Ada suara orang di dalam sana.”
Sari pucat.
Pak Budi mengernyit.
Aku hampir mengatakan bahwa itu tidak mungkin.
Hampir.
Namun aku teringat bahwa anak-anakku hanya menangis di kamar ini.
Aku menatap dinding.
“Kirana, suara apa?”
Anak itu menggeleng.
“Bukan ngomong.”
Ia mendekat ke telingaku dan berbisik,
“Kayak ada orang garuk-garuk… terus kadang bunyinya seperti bayi kecil menangis.”
Ruangan langsung terasa jauh lebih dingin.
Pak Budi mengambil senter.
Arif mematikan mesin white noise.
Kami semua berdiri diam.
Pada awalnya, aku tidak mendengar apa pun.
Lalu…
sangat pelan…
dari balik dinding dekat ranjang Raka terdengar suara kecil.
Krek.
Krek.
Diam.
Kemudian bunyi tipis lain.
Seperti gesekan logam.
Pak Budi menatapku.
“Ada rongga servis di belakang dinding ini, Pak.”
“Buka.”
“Pak Adrian, kita sebaiknya panggil teknisi dulu karena ada jalur listrik—”
“Matikan listrik lantai ini. Lalu buka.”
Beberapa menit kemudian, listrik kamar bayi diputus.
Pak Budi datang kembali membawa peralatan.
Ia melepaskan bagian lis dinding.
Lalu satu panel kecil.
Di belakangnya terdapat rongga sempit untuk jalur kabel dan ventilasi.
Aku menyinari bagian dalam dengan senter ponsel.
Awalnya hanya debu.
Kabel.
Pipa kecil.
Lalu cahaya senter menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak berada di sana.
Sebuah kotak hitam kecil.
Dipasang dengan perekat industri.
Dengan satu kabel tipis menjulur menuju sisi lain dinding.
Pak Budi langsung berkata,
“Saya tidak pernah memasang alat ini.”
Aku menatap benda itu.
“Apa itu?”
Ia menarik napas.
“Sepertinya perangkat suara.”
Tanganku terasa dingin.
Ia mengambil sarung tangan dan menarik kotak itu keluar perlahan.
Di sisi belakangnya terdapat kartu memori kecil.
Dan satu stiker servis.
Tanggalnya membuat jantungku berhenti sesaat.
Sebelas bulan lalu.
Tiga bulan sebelum Raka, Rafa, dan Alya lahir.
Aku menatap Pak Budi.
“Rumah ini direnovasi sebelas bulan lalu.”
Ia mengangguk pelan.
Saat itu kami memang mengubah kamar tersebut menjadi nursery.
Dan hanya ada satu kontraktor khusus yang mendapat akses penuh ke dinding, sistem listrik, dan ventilasi lantai dua.
Perusahaan itu bukan perusahaan asing.
Bukan vendor yang kupilih secara acak.
Pemiliknya adalah seseorang yang telah kukenal hampir lima belas tahun.
Seseorang yang pernah duduk di meja makanku.
Seseorang yang memegang kunci rumah ini selama renovasi.
Dan seseorang yang, menurut catatan keamanan perusahaan…
seharusnya sudah tidak berada di Indonesia sejak hampir setahun lalu.
Aku mengambil kartu memori itu.
Di satu sisi, dengan spidol hitam yang mulai pudar, terdapat tulisan kecil.
Hanya dua kata.
“Untuk Adrian.”
Saat itulah aku sadar bahwa misteri ini tidak dimulai malam ini.
Ia bahkan tidak dimulai ketika anak-anakku mulai menangis.
Seseorang telah menyiapkan sesuatu di balik dinding kamar bayi kami…
berbulan-bulan sebelum mereka lahir.
Dan apa pun isi kartu memori itu,
jelas-jelas ditujukan kepadaku.
LANJUTAN
Aku masih memegang kartu memori itu ketika Pak Budi bertanya,
“Pak Adrian… kita buka sekarang?”
Aku tidak langsung menjawab.
Dua kata yang ditulis dengan spidol hitam terus memenuhi kepalaku.
Untuk Adrian.
Sebelas bulan.
Benda itu sudah berada di balik dinding kamar anak-anakku selama sebelas bulan.
Artinya, seseorang memasangnya ketika istriku, Nadia, masih mengandung.
Aku menoleh ke lorong.
Raka, Rafa, dan Alya sudah dibawa ke kamar tamu di ujung lantai dua. Anehnya, setelah meninggalkan nursery, ketiganya kembali tenang.
Alya bahkan sudah tertidur.
Seolah-olah mereka sejak awal memang berusaha memberi tahu kami sesuatu yang tidak bisa mereka katakan.
“Laptop,” kataku akhirnya.
Pak Budi mengambil laptop yang biasa digunakan untuk sistem keamanan rumah.
Dr. Maya dan dr. Arif memilih tetap berada di luar kamar bersama para pengasuh.
Bu Sari membawa Kirana turun.
Namun sebelum pergi, Kirana menarik ujung bajuku.
“Om Adrian.”
Aku menoleh.
Anak kecil itu menatap lubang di dinding.
“Jangan taruh adik-adik di sini lagi.”
Aku berlutut di depannya.
“Tidak akan.”
“Janji?”
“Om janji.”
Kirana mengangguk.
Barulah ia menggenggam tangan ibunya dan pergi.
Aku memasukkan kartu memori ke laptop.
Ada enam folder.
Lima di antaranya berisi file audio dengan nama berupa tanggal.
Folder keenam hanya bernama:
TERAKHIR.
Aku melihat tanggal file pertama.
Sebelas bulan lalu.
Hari kedua renovasi nursery.
Aku membukanya.
Awalnya hanya terdengar desis.
Kemudian suara laki-laki.
Aku langsung mengenalinya.
Dimas Kurniawan.
Sahabatku sendiri.
Atau setidaknya, orang yang selama hampir lima belas tahun kupanggil sahabat.
Kami bertemu ketika sama-sama baru merintis bisnis. Saat perusahaanku hampir bangkrut pada tahun ketiga, Dimas pernah meminjamkanku uang tanpa kontrak.
Ia hadir di pernikahanku.
Ia orang pertama yang datang ke rumah sakit ketika Nadia mengalami komplikasi pada awal kehamilan.
Dan ketika kami memutuskan mengubah kamar kosong menjadi nursery, perusahaan interior milik Dimas yang mengerjakannya.
Aku menatap Pak Budi.
Dia juga mengenali suara itu.
“Pak Dimas?”
Aku mengangkat tangan.
“Dengarkan.”
Rekaman berlanjut.
Suara Dimas terdengar sedang berbicara dengan seseorang.
Suara kedua tidak kukenal.
“Pasang di sini.”
“Untuk apa?”
“Jangan tanya.”
“Ini pemancar?”
“Perekam dan speaker frekuensi tinggi. Bisa dikendalikan dari unit utama.”
“Pak Adrian tahu?”
Dimas terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab,
“Justru ini untuk Adrian.”
Aku menghentikan rekaman.
Jantungku berdebar keras.
Pak Budi menatap kotak hitam di meja.
“Speaker frekuensi tinggi…”
Aku langsung memahami sebagian jawabannya.
Dr. Arif pernah mengatakan bahwa bayi bisa bereaksi jauh lebih kuat terhadap suara tertentu daripada orang dewasa.
Kami mungkin hampir tidak mendengarnya.
Tetapi bagi Raka, Rafa, dan Alya, suara dari balik dinding itu bisa terasa sangat mengganggu.
Itulah sebabnya mereka menangis.
Namun pertanyaan terbesar belum terjawab.
Kenapa?
Aku membuka file berikutnya.
Kali ini suara Dimas terdengar lebih dekat.
“Kalau Adrian menemukan ini lebih cepat, berarti rencanaku gagal.”
Ada tarikan napas panjang.
“Tapi kalau dia menemukannya setelah anak-anak lahir… mungkin akhirnya dia akan berhenti cukup lama untuk mendengarkan.”
Aku membeku.
Apa maksudnya?
Aku membuka file ketiga.
Tidak ada percakapan.
Hanya rekaman suara.
Tangisan bayi.
Pendek.
Berulang.
Kemudian suara gesekan lembut.
Krek.
Krek.
Persis suara yang didengar Kirana.
Pak Budi berbisik,
“Jadi alat itu memang sengaja memutar suara.”
Aku mengepalkan tangan.
“Dia sengaja menakuti anak-anak saya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahanku mengalahkan rasa takut.
Aku mengambil ponsel.
“Aku akan hubungi polisi.”
Namun Pak Budi menunjuk laptop.
“Pak… mungkin dengarkan semuanya dulu.”
Aku menatapnya.
Kemudian melihat folder terakhir.
TERAKHIR.
Aku membukanya.
Video.
Bukan audio.
Layar menampilkan Dimas duduk di sebuah ruangan sederhana.
Wajahnya kurus.
Rambutnya jauh lebih pendek daripada terakhir kali aku melihatnya.
Dan yang paling aneh…
ia mengenakan gelang rumah sakit.
Dimas menatap kamera.
“Adrian, kalau kamu menonton ini, berarti kamu akhirnya menemukan alatnya.”
Aku mendekat ke layar.
“Maaf.”
Aku hampir tertawa karena marah.
Maaf?
Anak-anakku ketakutan selama entah berapa lama, dan dia memulai dengan kata maaf?
Namun kalimat berikutnya membuatku diam.
“Aku tidak tahu apakah aku masih hidup ketika kamu menemukan ini.”
Ruangan seolah berhenti bergerak.
Dimas melanjutkan.
“Dan sebelum kamu marah karena suara yang keluar dari alat itu, kamu harus tahu sesuatu. Alat itu tidak seharusnya aktif terus-menerus.”
Aku menatap kotak hitam.
“Pemancar itu hanya dirancang aktif jika unit utama menerima sinyal tertentu.”
Dimas mengangkat sebuah benda kecil ke depan kamera.
Bentuknya seperti sensor.
“Sensor kelembapan dan getaran.”
Pak Budi langsung berdiri.
Ia kembali ke lubang dinding.
Senter bergerak mengikuti pipa kecil.
Lalu ia memanggilku.
“Pak Adrian.”
Aku mendekat.
Di sudut rongga dinding terlihat noda gelap.
Air.
Sangat sedikit.
Tetapi jelas ada kebocoran.
Pak Budi menyentuh bagian bawah pipa.
“Ini bocor.”
Aku kembali menatap video.
Dimas melanjutkan,
“Kalau alat itu berbunyi, Adrian, jangan hanya cabut alatnya.”
Ia menatap lurus ke kamera.
“Buka seluruh dinding.”
Aku merasakan sesuatu jatuh di perutku.
Kami memanggil tim teknis malam itu juga.
Aku tidak peduli pukul berapa.
Dinding nursery dibongkar.
Panel demi panel.
Insulasi dikeluarkan.
Pipa diperiksa.
Dan sekitar empat puluh menit kemudian, salah satu teknisi menemukan sesuatu.
Bukan kamera.
Bukan alat penyadap.
Bukan benda kriminal.
Ia menemukan retakan tipis pada sambungan pipa air panas.
Air telah merembes perlahan ke bagian dalam dinding.
Tidak cukup banyak untuk membasahi permukaan luar.
Tetapi cukup untuk membuat lapisan kayu di bagian struktur mulai lembap.
Dan di belakang insulasi…
terdapat bercak jamur.
Aku menatapnya tanpa bicara.
Pak Budi terlihat pucat.
“Kalau ini terus dibiarkan…”
“Berapa lama?”
“Mungkin beberapa bulan sebelum terlihat dari luar.”
Dr. Maya yang berdiri di belakang kami berkata,
“Dan bayi bisa lebih sensitif terhadap kualitas udara.”
Aku kembali menatap kotak hitam.
Tiba-tiba aku memahami.
Suara itu bukan jebakan.
Itu alarm.
Alarm yang sengaja dibuat begitu menjengkelkan sehingga seseorang pasti akan mencari sumbernya.
Tetapi kenapa Dimas tidak memberitahuku saja?
Aku kembali ke video.
Seolah tahu pertanyaan itu akan muncul, Dimas tersenyum pahit.
“Aku tahu kamu sedang bertanya kenapa aku tidak memasang sensor biasa.”
Ia batuk.
Lama.
Ketika menurunkan tangannya, wajahnya terlihat kelelahan.
“Karena sebelas bulan lalu, aku belum tahu pipa mana yang akan gagal. Yang kutahu hanya satu hal: material yang dipasang di rumahmu bukan material yang kupesan.”
Aku menahan napas.
Dimas mulai menjelaskan.
Saat renovasi nursery, perusahaannya memesan sistem pipa premium.
Namun seseorang di bagian pengadaan menggantinya dengan produk lebih murah dan memalsukan dokumen.
Dimas mengetahuinya setelah instalasi selesai.
Ia memerintahkan semuanya dibongkar.
Tetapi sebelum sempat dilakukan…
dia masuk rumah sakit.
Kanker pankreas.
Stadium lanjut.
Aku duduk perlahan.
Tidak.
Dimas tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku.
Dalam sebelas bulan terakhir, ia hanya mengirim beberapa pesan singkat.
Katanya sedang menangani proyek di Singapura.
Kemudian Jepang.
Lalu komunikasi kami berhenti.
Aku marah karena mengira dia terlalu sibuk.
Ternyata dia sedang menjalani pengobatan.
“Aku tidak ingin kamu tahu aku sakit,” katanya dalam video. “Karena aku tahu apa yang akan kamu lakukan.”
Aku menatap layar.
“Kamu akan datang. Membatalkan rapat. Mencari dokter terbaik. Membayar apa pun. Mengubah penyakitku menjadi proyek yang harus kamu selesaikan.”
Aku menunduk.
Dia benar.
“Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, Adrian, aku tidak ingin menjadi masalah yang harus kamu selesaikan.”
Mataku mulai panas.
Pak Budi diam-diam meninggalkan ruangan.
Tinggal aku dan suara seorang sahabat yang entah masih hidup atau tidak.
“Aku memasang sensor sementara karena aku tidak percaya data pengadaan. Aku ingin ada peringatan kalau kelembapan muncul di balik dinding sebelum anak-anakmu lahir.”
Dimas tersenyum kecil.
“Kenapa pakai suara bayi?”
Ia tertawa lemah.
“Karena kamu tidak pernah mendengar alarm biasa.”
Aku hampir tersenyum.
Itu juga benar.
Di kantor, aku terkenal mematikan notifikasi.
Mengabaikan bunyi peringatan.
Menyuruh orang lain mengurusnya.
“Tapi aku tahu satu suara yang tidak akan pernah kamu abaikan.”
Tangisan anakmu.
Air mataku jatuh.
Aku bahkan tidak menyadarinya sampai menyentuh tanganku.
Kemudian Dimas mengatakan sesuatu yang mengubah semuanya.
“Ada satu hal lagi.”
Wajahnya menjadi serius.
“Pergilah ke kantor lama kita di Kemang. Lemari arsip nomor tujuh. Kodenya tanggal ketika kita mendirikan perusahaan pertamamu.”
Video berhenti.
Keesokan paginya, aku pergi ke Kemang.
Kantor kecil itu sudah hampir tidak pernah digunakan.
Di sanalah Pratama Properti Nusantara bermula.
Dua ruangan.
Satu AC yang sering bocor.
Tiga meja bekas.
Dan dua orang bodoh berusia dua puluhan yang yakin suatu hari akan membangun gedung pencakar langit.
Lemari nomor tujuh masih ada.
Aku memasukkan kode.
Di dalamnya terdapat map cokelat.
Dokumen pengadaan.
Foto.
Email cetak.
Bukti transfer.
Dan nama seseorang.
Aku membaca nama itu dua kali.
Hendra Pratama.
Pamanku sendiri.
Orang yang selama dua belas tahun menjabat sebagai direktur pengadaan perusahaan.
Dimas telah menemukan bahwa Hendra menjalankan skema penggantian material di beberapa proyek.
Bukan hanya rumahku.
Apartemen.
Hotel.
Perumahan.
Material berkualitas tinggi ditagihkan kepada perusahaan, kemudian diganti dengan produk murah.
Selisih uang dialihkan melalui perusahaan cangkang.
Nilainya lebih dari Rp38 miliar.
Aku merasa mual.
Rumahku bukan sasaran.
Rumahku hanya salah satu proyek yang terkena skema tersebut.
Namun Dimas menemukan semuanya karena nursery anak-anakku.
Ada satu amplop lagi.
Namaku tertulis di depan.
Di dalamnya hanya ada surat satu halaman.
Tulisan tangan Dimas.
Adrian,
kalau kamu membaca ini, jangan jadikan kemarahanku sebagai warisanmu. Lindungi orang-orang yang bisa terluka. Hentikan orang yang melakukannya. Tapi setelah itu, pulanglah.
Kamu membangun terlalu banyak rumah untuk orang lain sampai hampir lupa caranya tinggal di rumahmu sendiri.
Aku duduk sendirian di lantai kantor lama kami.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku menangis seperti anak kecil.
Hendra ditangkap dua minggu kemudian setelah audit internal dan penyelidikan polisi menemukan bukti yang jauh lebih besar daripada yang ditinggalkan Dimas.
Perusahaanku memeriksa ulang seluruh proyek yang berpotensi terdampak.
Kami mengganti material bermasalah tanpa membebankan biaya kepada pemilik.
Kerugiannya besar.
Aku tidak peduli.
Tidak ada keluarga lain yang boleh mengetahui bahayanya setelah terlambat.
Namun masih ada satu hal yang belum kuselesaikan.
Dimas.
Aku meminta staf mencari rumah sakit tempat video itu direkam.
Tiga hari kemudian, mereka menemukannya.
Sebuah rumah sakit di Bandung.
Aku menelepon.
Tanganku gemetar ketika menyebut namanya.
Perawat di ujung telepon terdiam.
“Bapak keluarga Pak Dimas?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku berkata,
“Saya sahabatnya.”
Ada jeda.
Kemudian perempuan itu berkata,
“Pak Dimas meninggal tujuh bulan lalu.”
Aku menutup mata.
Tujuh bulan.
Selama tujuh bulan aku menjalani hidupku.
Rapat.
Perjalanan bisnis.
Kontrak.
Aku bahkan sempat marah karena dia tidak membalas pesan ulang tahunku.
Sementara sahabatku sudah tidak ada.
“Apakah ada keluarga yang bisa saya hubungi?”
Perawat itu terdengar bingung.
“Bukankah Anda sudah bertemu putrinya?”
Aku membuka mata.
“Putrinya?”
“Iya. Pak Dimas punya seorang anak perempuan.”
Aku berdiri.
“Tidak. Dimas tidak punya anak.”
Perawat itu terdiam lagi.
Lalu menyebut sebuah nama.
Dan seluruh tubuhku terasa membeku.
Sari Benson.
Bu Sari.
Pengelola rumah tanggaku.
Ibu Kirana.
Ketika aku pulang, Bu Sari sudah menungguku di ruang keluarga.
Kirana sedang bermain bersama tiga bayiku di atas karpet.
Aku hanya perlu melihat wajah Sari untuk tahu bahwa itu benar.
“Dimas adalah ayah Kirana?”
Sari menunduk.
“Iya, Pak.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena Pak Dimas meminta saya merahasiakannya.”
Hubungan mereka tidak pernah resmi.
Ketika Sari hamil, Dimas ingin menikahinya.
Namun Sari menolak karena pada saat itu kehidupan Dimas berantakan dan ia baru mengetahui penyakitnya.
Mereka sepakat satu hal.
Kirana tidak boleh tumbuh merasa menjadi beban seorang ayah yang sakit.
Dimas diam-diam membayar pendidikan putrinya.
Mengunjunginya ketika bisa.
Membuat boneka kain untuknya saat dirawat di rumah sakit.
Aku menatap boneka yang selama ini selalu dibawa Kirana.
Rambut benangnya yang tidak rata.
Jahitan buruk di lengannya.
Dimas yang membuatnya.
Lututku hampir lemas.
Kemudian aku menyadari sesuatu.
“Kirana bilang dia mengenali suara di dinding.”
Sari mengangguk sambil menangis.
“Pak Dimas pernah membuat alat kecil untuk Kirana ketika dia masih balita. Kalau kamar mandi bocor, alat itu mengeluarkan bunyi yang mirip. Kirana takut pada suara itu dulu.”
Itulah sebabnya anak berusia empat tahun itu tahu.
Bukan karena sesuatu yang gaib.
Bukan karena kemampuan aneh.
Ia pernah mendengar alarm buatan ayahnya.
Aku menatap Kirana.
Anak kecil yang malam itu menyelamatkan ketiga anakku ternyata adalah putri dari lelaki yang telah berusaha melindungi mereka sebelum mereka lahir.
Aku berjalan mendekatinya.
“Kirana.”
Ia menatapku.
“Ya, Om?”
Aku berjongkok.
“Boneka itu siapa yang buat?”
Ia tersenyum.
“Ayah.”
Satu kata itu menghancurkan pertahanan terakhirku.
Aku memeluknya.
Kirana tampak bingung, tetapi kemudian tangan kecilnya melingkari leherku.
“Om Adrian kok nangis?”
Aku tertawa di tengah air mata.
“Karena Om kangen ayahmu.”
Kirana berpikir sebentar.
Lalu berkata dengan kepolosan yang hanya dimiliki anak kecil,
“Kalau kangen, jangan nangis terus.”
“Terus harus apa?”
Ia menunjuk Raka, Rafa, dan Alya.
“Main sama mereka.”
Aku menatap ketiga anakku.
Dan tiba-tiba aku teringat kalimat terakhir surat Dimas.
Setelah itu, pulanglah.
Enam bulan kemudian, nursery itu selesai direnovasi.
Semua pipa diganti.
Dinding dibangun ulang.
Sistem udara diperiksa.
Namun aku tidak memasang kembali desain mahal yang sebelumnya kupilih.
Di satu sisi kamar, aku memasang sebuah rak sederhana.
Di atasnya ada boneka kain buatan Dimas.
Dan di sampingnya terdapat foto lama.
Aku dan Dimas.
Dua pemuda kurus berdiri di depan kantor kecil kami di Kemang sambil memegang papan nama perusahaan pertama kami.
Di bawah foto itu tidak ada gelar.
Tidak ada penjelasan panjang.
Hanya satu kalimat kecil:
Untuk seseorang yang mendengar bahaya sebelum kami semua mampu mendengarnya.
Kirana sering datang bermain.
Raka, Rafa, dan Alya menyayanginya seperti kakak sendiri.
Dan aku melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat Dimas tertawa jika masih hidup.
Aku mulai pulang sebelum makan malam.
Tidak setiap hari.
Aku masih memimpin perusahaan besar.
Masih ada rapat.
Masih ada krisis.
Namun aku berhenti menganggap semua hal sebagai keadaan darurat.
Karena sekarang aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan sekolah bisnis mana pun.
Ada gedung yang bisa dibangun kembali.
Kontrak yang bisa dinegosiasikan ulang.
Uang yang bisa dicari lagi.
Tetapi ada suara-suara kecil dalam hidup yang hanya akan memanggil kita selama beberapa tahun.
Jika kita terlalu sibuk untuk mendengarnya…
suatu hari rumah akan menjadi sunyi.
Malam itu aku berdiri di pintu nursery.
Raka dan Rafa sudah tidur.
Alya masih terjaga.
Ketika aku hendak pergi, tangan kecilnya keluar melalui sela ranjang bayi.
Aku berhenti.
Dulu, aku mungkin akan memanggil pengasuh.
Malam itu tidak.
Aku kembali.
Kududuk di lantai dan memasukkan jariku melalui sela ranjang.
Alya menggenggamnya.
Lalu tertidur.
Aku tetap duduk di sana lama setelah genggamannya melemah.
Di luar, Jakarta masih sibuk.
Ponselku bergetar tiga kali.
Aku tidak melihatnya.
Karena akhirnya aku mengerti pesan terakhir sahabatku.
Dimas tidak memasang alat di dinding hanya untuk memperingatkanku tentang pipa yang bocor.
Tanpa pernah merencanakannya, ia meninggalkan peringatan yang jauh lebih besar.
Selama bertahun-tahun aku mengira tugasku adalah membangun rumah yang kuat.
Ternyata orang yang paling mengenalku harus meninggalkan sebuah suara di balik dinding agar aku memahami bahwa rumah bukanlah tempat yang kita bangun.
Rumah adalah orang-orang yang masih menunggu kita pulang.
