Bagian 3 — Ketika Ibu Mertua Menuduhku Istri Tak Berguna di Depan Keluarga, Aku Membuka Catatan Pengeluaran dan Membiarkan Mereka Menghitung Sendiri Harga Kesabaranku

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 1,471 tayangan
Bagian 3 — Ketika Ibu Mertua Menuduhku Istri Tak Berguna di Depan Keluarga, Aku Membuka Catatan Pengeluaran dan Membiarkan Mereka Menghitung Sendiri Harga Kesabaranku
Indeks

Bagian 3 — Ketika Ibu Mertua Menuduhku Istri Tak Berguna di Depan Keluarga, Aku Membuka Catatan Pengeluaran dan Membiarkan Mereka Menghitung Sendiri Harga Kesabaranku

Setelah kalimatku, ruang tamu seperti kehilangan udara.

Ardi yang paling dulu bereaksi.

“Kamu bercanda, kan?”

“Tidak.”

“Kamu membatalkan rumah ini tanpa bicara sama aku?”

“Aku tidak membatalkan apa pun. Masa sewanya memang selesai enam minggu lagi. Aku hanya tidak memperpanjang kontrak atas namaku.”

Ardi berjalan mendekat.

“Laras, ini rumah kita.”

Aku menatap sekeliling.

Sofa dipilih Bu Ratna.

Tirai diganti Bu Ratna.

Lemari dapur diatur Bu Ratna.

Freezer dipenuhi titipan keluarga Bu Ratna.

Jadwal hidupku juga perlahan diatur sesuai kebutuhan mereka.

Aku menjawab tenang.

“Kalau ini rumah kita, kenapa selama delapan bulan terakhir aku merasa seperti orang numpang?”

Bu Ratna langsung menyela.

“Jangan drama!”

Kali ini Kak Mira justru menahan lengan ibunya.

“Bu, sebentar.”

Bu Ratna menepis.

“Kamu diam saja! Ini urusan rumah tangga adikmu!”

Aku hampir ingin bertanya mengapa kalau itu urusan rumah tangga kami, satu jam sebelumnya dia merasa perlu mengundang enam orang.

Tapi aku terlalu lelah.

Bukan lelah karena pertengkaran malam itu.

Aku lelah karena baru sekarang menyadari sudah berapa lama aku hidup dengan cara yang membuat semua orang nyaman kecuali diriku sendiri.

Ardi menarik napas panjang.

“Oke. Kamu kesal. Aku ngerti.”

Tidak.

Dia masih belum mengerti.

Aku tidak sedang kesal.

Kesal adalah ketika seseorang lupa membeli sesuatu yang kita titipkan.

Kesal adalah ketika pasangan datang terlambat.

Apa yang kurasakan saat itu jauh melewati kemarahan.

Aku sudah selesai berharap.

Ardi melanjutkan.

“Besok aku bicara sama Ibu. Kamu juga turunkan ego. Kita perpanjang rumah ini. Selesai.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Masalahmu adalah kamu selalu merasa semua bisa selesai tanpa ada yang berubah.”

“Memangnya apa yang harus berubah?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya aku mendapat jawaban paling jujur dari suamiku sendiri.

Dia benar-benar tidak tahu.

Empat tahun menikah.

Dan dia tidak tahu.

Aku menarik kursi, duduk kembali, lalu berkata pelan.

“Aku bangun lebih pagi daripada kamu hampir setiap hari.”

Ardi diam.

“Aku memasak sebelum kerja. Aku mengecek kebutuhan rumah saat makan siang. Aku pesan galon di sela rapat. Aku mengingat jadwal kontrol ibumu. Aku pulang lalu berpikir besok kalian sarapan apa.”

Aku menunjuk meja.

“Semua itu tidak pernah kalian lihat karena semuanya selalu tersedia.”

Aku menatap Bu Ratna.

“Ibu membuka lemari, sabun ada.”

Lalu Ardi.

“Kamu membuka kulkas, makanan ada.”

“Gas habis? Tabung baru datang.”

“Air habis? Galon muncul.”

“Baju kerjamu kotor? Laundry sudah dijemput.”

“AC bocor? Teknisi datang.”

“Obat Ibu habis? Stok baru sudah ada.”

Aku berhenti.

“Karena semuanya ada tepat waktu, kalian mengira semua itu terjadi sendiri.”

Tak seorang pun menjawab.

Aku mengambil tas.

“Sekarang kalian punya kesempatan belajar.”

Aku pulang ke kamar dan mengunci pintu.

Malam itu Ardi tidur di sofa.

Aku tahu karena sekitar pukul satu dini hari dia mengetuk pintu.

“Ras.”

Aku tidak menjawab.

“Buka sebentar.”

Tetap diam.

“Aku cuma mau ngomong.”

Aku memasang earphone.

Bukan untuk menghukumnya.

Aku hanya sudah terlalu sering mendengar kata-kata yang tidak pernah diikuti tindakan.

Dua hari berikutnya suasana rumah membeku.

Bu Ratna berhenti bicara kepadaku.

Justru itu membuat rumah terasa lebih damai.

Ardi beberapa kali mencoba bersikap normal.

Pagi Kamis dia bertanya, “Kamu mau aku antar?”

“Tidak.”

Malamnya dia mengirim pesan.

Makan bareng di luar?

Aku menjawab:

Sudah makan.

Hari Jumat dia membeli dua porsi nasi goreng dan meletakkan satu di meja makan.

Aku pulang setelah mengikuti kelas pilates dekat kantor.

Nasi goreng itu sudah dingin.

“Aku beli buat kamu,” katanya.

“Terima kasih. Tapi aku sudah makan.”

Wajahnya kecewa.

Dulu, melihat wajah seperti itu akan langsung membuatku merasa bersalah.

Sekarang tidak.

Perubahan paling besar ternyata bukan ketika aku berhenti memasak.

Perubahan paling besar terjadi ketika aku berhenti merasa bertanggung jawab atas setiap emosi orang lain.

Sabtu pagi aku pergi melihat sebuah unit apartemen studio di Jatibening.

Tidak besar.

Hanya tiga puluh dua meter persegi.

Satu kamar.

Dapur kecil.

Balkon sempit menghadap jalan tol.

Tetapi jaraknya ke kantor jauh lebih dekat.

Ada minimarket di lantai bawah.

Ada laundry.

Ada tempat makan.

Dan yang paling kusukai—

ketika pintunya kututup, suasananya benar-benar tenang.

Agen properti bernama Nisa bertanya, “Mbak tinggal sendiri?”

Aku terdiam sesaat.

Kemudian mengangguk.

“Iya.”

Aneh.

Mengucapkan satu kata itu membuat dadaku terasa ringan.

Hari itu aku membayar tanda jadi.

Bukan karena ingin mengambil keputusan impulsif.

Aku sudah memikirkan semuanya sejak lama tanpa kusadari.

Bahkan sebelum soto itu dibuang.

Panci kosong di bak cuci hanya menjadi kejadian terakhir yang membuka sesuatu yang selama ini kupaksa tertutup.

Minggu kedua setelah aku berhenti mengurus rumah, kekacauan kecil berubah menjadi pengeluaran nyata.

Ardi mulai makan di luar tiga kali sehari.

Bu Ratna hampir setiap malam memesan makanan melalui aplikasi.

Laundry kiloan datang dua kali seminggu.

Mereka membeli air galon satuan dari minimarket dengan harga lebih mahal karena tidak tahu nomor agen langganan.

Gas habis malam-malam dan Ardi harus membeli dari warung ujung jalan.

Listrik bulan itu naik.

Aku tahu karena tagihannya masuk ke emailku.

Aku meneruskannya kepada Ardi.

Tidak kubayar.

Lima menit kemudian dia menelepon.

“Ras, listrik belum kamu bayar?”

“Belum.”

“Biasanya kamu yang bayar.”

“Iya.”

“Terus?”

“Sekarang bayar sendiri.”

Hening.

“Nomor pelanggannya mana?”

Aku hampir tertawa.

Empat tahun.

Dia bahkan tidak tahu nomor pelanggan listrik rumahnya sendiri.

Aku mengirim nomor itu.

Dua hari kemudian internet jatuh tempo.

Kukirim lagi tagihannya.

Lalu air.

Lalu iuran keamanan kompleks.

Untuk pertama kalinya, Ardi mulai melihat rumah tangga bukan sebagai latar belakang hidupnya, tetapi sebagai rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan seseorang.

Sore itu dia mengirim pesan:

Ternyata banyak juga ya.

Aku membaca tanpa menjawab.

Karena itu baru tagihannya.

Belum termasuk waktu.

Minggu berikutnya, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Kak Mira meneleponku.

Aku hampir tidak mengangkat.

Akhirnya kujawab.

“Ya, Kak?”

Suaranya terdengar canggung.

“Ras… aku mau minta maaf.”

Aku diam.

“Waktu malam itu aku ikut bilang kamu terlalu membesar-besarkan masalah.”

“Hmm.”

“Ternyata aku nggak tahu seluruh ceritanya.”

Aku duduk di bangku kantin.

Kak Mira melanjutkan.

“Sejak kamu berhenti ngurus Ibu, Ardi telepon aku hampir tiap hari.”

Aku bisa membayangkannya.

“Dia minta kamu bantu?”

“Iya.”

Aku tertawa kecil.

Kak Mira juga tertawa, tapi terdengar lelah.

“Ibu kemarin minta aku yang antar kontrol.”

“Terus?”

“Aku antar. Habis itu Ibu minta mampir pasar, beli obat, ambil paket, terus katanya sekalian bantu bersihkan lemari.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Baru satu hari,” katanya pelan, “aku sudah capek.”

Ada rasa puas kecil dalam diriku.

Bukan karena dia kerepotan.

Melainkan karena akhirnya ada seseorang dari keluarga Ardi yang melihat pekerjaan yang selama ini disebut “hal kecil”.

Kak Mira menarik napas.

“Aku juga baru tahu soal frozen food itu.”

“Oh?”

“Ternyata sudah berbulan-bulan freezer kalian dipakai untuk titipan.”

Aku mengernyit.

“Berbulan-bulan?”

“Iya.”

Ternyata lebih buruk daripada yang kukira.

Sepupu Bu Ratna menjalankan usaha frozen food rumahan.

Karena freezer di rumahnya kecil, beberapa stok dititipkan di rumah kami.

Tanpa pernah ada yang bertanya kepadaku.

Bukan dua hari.

Bukan seminggu.

Hampir empat bulan.

Aku membayar listrik untuk membantu usaha orang lain yang bahkan tidak tinggal di rumahku.

Sementara panci masakanku dibuang karena dianggap “menghabiskan tempat”.

Ironis sekali.

“Aku sudah bilang ke Ibu jangan begitu lagi,” kata Kak Mira.

“Terima kasih.”

“Ras…”

“Ya?”

“Kamu benar-benar mau pindah?”

Aku melihat kartu akses apartemen baruku yang sudah ada di meja.

“Iya.”

“Kalau Ardi minta maaf?”

Aku berpikir sebentar.

“Permintaan maaf bukan masalahnya, Kak.”

“Terus?”

“Kalau seseorang minta maaf tetapi masih percaya kamu seharusnya kembali menjadi versi lama yang nyaman baginya, itu bukan perubahan.”

Kak Mira terdiam lama.

Akhirnya dia berkata, “Aku ngerti.”

Tiga minggu sebelum kontrak rumah berakhir, Ardi akhirnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia pulang membawa bunga.

Bunga lili putih.

Kesukaanku.

Aku sedang memasukkan beberapa buku ke kardus.

Dia berhenti di pintu kamar.

“Kamu benar-benar packing?”

“Iya.”

Dia menaruh bunga di meja.

“Ras, kita jangan begini.”

Aku melanjutkan melipat pakaian.

“Aku sudah bicara sama Ibu.”

Aku berhenti.

“Apa katanya?”

“Dia… ya, dia mengaku mungkin waktu itu kebawa emosi.”

Aku menatapnya.

“Mungkin?”

Ardi mengusap tengkuk.

“Laras, kamu tahu sifat Ibu.”

Aku kembali melipat pakaian.

Kalimat itu lagi.

Kamu tahu sifat Ibu.

Kalimat yang selama ini digunakan untuk menjelaskan mengapa semua orang harus beradaptasi dengan satu orang, sementara orang itu sendiri tidak pernah diminta berubah.

“Aku juga sudah bikin rencana,” katanya.

“Rencana apa?”

“Mulai bulan depan aku kasih uang rumah lebih banyak.”

Aku mengangkat alis.

“Berapa?”

“Lima juta.”

Aku hampir tertawa.

Bukan karena jumlahnya kecil.

Melainkan karena cara dia mengatakannya terdengar seperti sedang memberiku hadiah.

“Lalu?”

“Kita cari rumah lain. Ibu tetap sama kita sementara.”

Tanganku berhenti.

“Masih tinggal bersama kita?”

“Iya, mau bagaimana lagi?”

Aku menatapnya.

Ardi buru-buru menambahkan, “Tapi nanti kamu nggak perlu ngurus semuanya. Kita bagi.”

“Bagaimana?”

Dia berpikir.

Benar-benar berpikir.

“Aku bisa… buang sampah.”

Aku menunggu.

“Itu saja?”

“Ya nanti lihat.”

Jawaban itu sudah cukup.

Aku melanjutkan packing.

Ardi mulai panik.

“Laras, aku sedang usaha.”

“Tidak.”

“Kamu bahkan belum kasih kesempatan!”

Aku menoleh.

“Aku sudah memberi kesempatan empat tahun.”

“Itu beda!”

“Apa yang beda?”

Dia tidak menjawab.

Kemudian keluar kalimat yang akhirnya membuat seluruh harapanku mati tanpa sisa.

“Kalau kamu pergi sekarang, keluarga bakal pikir aku nggak bisa mengatur istri.”

Aku memandangnya.

Jadi itu yang paling dia takutkan.

Bukan kehilangan aku.

Bukan pernikahan kami.

Bukan kenyataan bahwa selama bertahun-tahun aku merasa tidak dihargai.

Citra.

Dia takut dianggap tidak bisa “mengatur” istrinya.

Aku tersenyum sangat tipis.

“Terima kasih, Di.”

Dia bingung.

“Buat apa?”

“Karena akhirnya kamu jujur.”

Malam itu aku menghubungi seorang pengacara yang direkomendasikan rekan kerjaku.

Aku tidak mengajukan apa pun saat itu juga.

Aku hanya berkonsultasi.

Mempelajari pilihan.

Memahami dokumen yang harus kusiapkan.

Satu hal yang kupelajari dalam beberapa minggu terakhir adalah:

keputusan besar tidak harus dilakukan sambil berteriak.

Kadang keputusan paling serius justru dibuat dalam ruangan tenang, dengan kepala dingin, setelah semua alasan untuk bertahan benar-benar habis.

Dua minggu sebelum masa sewa selesai, aku pindah.

Aku menyewa mobil box kecil.

Hanya membawa barang milikku.

Pakaian.

Buku.

Laptop pribadi.

Peralatan kerjaku.

Satu set piring yang dibeli ibuku sebelum menikah.

Mesin kopi kecil hadiah kantor.

Dan panci enamel biru yang biasa kupakai membuat sup.

Aku sengaja meninggalkan hampir seluruh peralatan rumah tangga yang memang kami beli bersama.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada adegan menarik koper sambil menangis.

Ardi berdiri di ruang tamu melihat kardus-kardusku dibawa keluar.

Bu Ratna tidak muncul dari kamar.

Ketika kardus terakhir dinaikkan ke mobil, Ardi berkata,

“Kamu serius pergi?”

Aku mengangguk.

“Jadi empat tahun kita selesai gara-gara satu panci soto?”

Aku menatapnya.

Mungkin seumur hidup dia tidak akan mengerti kalau dia terus menyederhanakan semuanya seperti itu.

“Bukan gara-gara soto.”

“Terus gara-gara apa?”

“Karena ketika seseorang membuang hasil kerja enam jamku ke bak cuci, kamu menyuruhku membuat yang baru.”

Aku menarik napas.

“Dan selama bertahun-tahun, itulah pola hidup kita.”

“Setiap kali sesuatu dariku dibuang, diabaikan, atau dianggap sepele, solusimu selalu sama.”

“Laras yang mengalah.”

“Laras yang memahami.”

“Laras yang melakukan lagi.”

Aku tersenyum lelah.

“Aku sudah tidak mau melakukan lagi.”

Aku masuk mobil.

Ardi tidak mengejarku.

Dan entah kenapa, justru itu membuat semuanya lebih mudah.

Apartemen baruku tidak sempurna.

Hari pertama, aku tidur hanya dengan kasur, satu lampu, dan tiga kardus yang belum dibuka.

Aku makan nasi ayam dari warung bawah.

Paginya aku minum kopi di balkon sempit sambil melihat kendaraan bergerak di jalan tol.

Tidak ada yang bertanya sarapan apa.

Tidak ada yang mengeluh handuk belum dicuci.

Tidak ada yang membuka lemari lalu berkata aku salah menaruh sesuatu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

keheningan terasa seperti rumah.

Aku bahkan mulai memasak lagi.

Bukan karena harus.

Karena ingin.

Suatu Minggu sore aku membuat sop iga dalam panci kecil.

Hanya dua porsi.

Satu untukku.

Satu kubawa ke apartemen Nisa karena dia membantuku menerima paket ketika aku sedang kerja.

Ketika kuah mulai mendidih dan aroma rempah memenuhi ruangan, tanganku sempat berhenti.

Aku teringat panci soto yang masuk bak cuci.

Anehnya, aku tidak marah lagi.

Aku hanya merasa jauh.

Seperti mengingat kehidupan orang lain.

Sebulan setelah aku pindah, kontrak rumah lama habis.

Ardi tidak sanggup mengambil alih rumah yang sama.

Pemilik meminta deposit baru dan bukti penghasilan untuk perpanjangan.

Akhirnya Ardi menyewa rumah yang lebih kecil di daerah Tambun.

Bu Ratna ikut dengannya.

Aku mengetahuinya dari Kak Mira.

“Sekarang Ardi ngerti kenapa kamu dulu suka pusing tiap akhir bulan,” katanya.

Aku tertawa.

“Kenapa?”

“Gajinya habis.”

Rupanya setelah harus membayar sewa sendiri, listrik, makanan, laundry, internet, obat ibunya, transportasi, dan kebutuhan rumah, uang yang dulu terasa cukup tiba-tiba menjadi sangat sempit.

Mereka tidak miskin.

Tidak terlantar.

Mereka hanya akhirnya hidup sesuai kemampuan mereka sendiri.

Dan entah kenapa, konsekuensi itu terasa jauh lebih adil daripada balas dendam apa pun.

Bu Ratna juga tidak lagi bisa menitipkan frozen food sebanyak dulu.

Freezer kontrakan baru mereka kecil.

Ketika sepupunya memprotes, Bu Ratna menyuruhnya menyewa freezer sendiri.

Aku tertawa cukup lama ketika mendengar itu.

Ternyata ruang kulkas memang berharga.

Hanya saja baru terasa ketika yang membayarnya adalah uang sendiri.

Proses perpisahanku dengan Ardi tidak selesai dalam semalam.

Ada percakapan.

Ada mediasi keluarga.

Ada beberapa kali dia datang menemuiku.

Pernah sekali dia benar-benar menangis.

“Aku baru sadar setelah kamu pergi.”

Aku percaya.

Aku benar-benar percaya dia baru sadar.

Masalahnya, kesadaran tidak otomatis menghapus akibat.

“Aku bisa berubah,” katanya.

“Mungkin.”

“Kita coba lagi?”

Aku menatapnya.

“Aku harap kamu berubah.”

Matanya langsung berbinar.

Namun aku melanjutkan.

“Tapi bukan supaya aku kembali.”

Wajahnya jatuh.

“Aku ingin kamu berubah supaya suatu hari nanti kamu tidak memperlakukan orang lain seperti kamu memperlakukanku.”

Dia terdiam.

Itu adalah percakapan paling dewasa yang pernah kami miliki.

Dan ironisnya, percakapan itu baru terjadi ketika pernikahan kami sudah sampai di ujung.

Beberapa bulan kemudian, kami resmi berpisah.

Tidak ada pesta kemenangan.

Tidak ada adegan seseorang berlutut memohon.

Tidak ada keluarga yang tiba-tiba mengakui aku paling benar.

Kehidupan nyata jarang serapi itu.

Tapi ada satu hal yang berubah sangat jelas.

Aku mendapatkan kembali hidupku.

Hampir setahun setelah hari ketika soto itu dibuang, perusahaan kami mengadakan acara makan bersama.

Tim keuangan sepakat membuat potluck.

Orang lain membawa ayam goreng, pempek, salad buah, sambal, dan kue.

Aku membawa satu panci besar soto daging.

Ketika kubuka tutupnya, teman-temanku langsung bersorak.

“Wah, Laras! Harumnya gila!”

“Bikin sendiri?”

“Iya.”

“Dari jam berapa?”

Aku tertawa.

“Lumayan lama.”

Mereka mengambil mangkuk.

Dalam dua puluh menit, hampir seluruh panci habis.

Seorang rekan kerjaku, Sinta, kembali membawa mangkuk kosong.

“Ada lagi nggak?”

“Sudah habis.”

“Yah!”

Aku tertawa.

Aneh sekali.

Dulu melihat panci kosong membuatku ingin menangis.

Hari itu, melihat panci yang benar-benar habis justru membuatku bahagia.

Karena ternyata yang kubutuhkan selama ini bukan rumah besar.

Bukan suami yang sempurna.

Bukan keluarga mertua yang selalu menyukaiku.

Aku hanya membutuhkan satu hal sederhana.

Hidup di tempat di mana usahaku tidak dianggap tidak terlihat.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Kak Mira.

Sebuah foto.

Bu Ratna sedang duduk di meja makan kecil kontrakan mereka.

Di depannya ada satu mangkuk sup buatan Ardi.

Tulisan Kak Mira:

Ardi sekarang bisa masak tiga menu. Ibu juga sudah nggak berani buang makanan. 😂

Aku memandang foto itu cukup lama.

Lalu tersenyum.

Aku tidak membalas dengan sindiran.

Aku hanya menulis:

Bagus.

Karena ternyata itulah “balasan” terbaik.

Bukan melihat mereka hancur.

Bukan melihat mereka menderita.

Melainkan melihat orang-orang yang dulu menganggap pekerjaanku sepele akhirnya harus belajar melakukan semuanya sendiri.

Dan aku?

Aku tidak lagi bangun pukul lima pagi untuk mendapatkan penghargaan seseorang.

Kalau ingin memasak, aku memasak.

Kalau sedang lelah, aku membeli makanan.

Kalau ingin pulang malam, aku pulang malam.

Gajiku tidak lagi diam-diam habis untuk menjaga rumah yang bahkan tidak membuatku merasa diterima.

Aku mulai menabung lagi.

Enam bulan kemudian, aku membeli mobil kecil bekas yang selama bertahun-tahun selalu kutunda.

Setahun kemudian, aku mengambil cicilan unit apartemen sederhana atas namaku sendiri.

Di dapurnya ada kulkas dua pintu yang kupilih sendiri.

Rak pertama untuk sayuran.

Rak kedua untuk makanan siap masak.

Freezer untuk stok pribadiku.

Tidak ada satu pun kotak titipan orang tanpa izinku.

Suatu sore, setelah pulang kerja, aku membuka kulkas dan melihat sebuah panci kecil berisi sup yang kubuat malam sebelumnya.

Masih ada banyak ruang di sebelahnya.

Aku tiba-tiba teringat ucapan Bu Ratna:

“Disimpan di mana?”

Aku menutup pintu kulkas.

Tersenyum sendiri.

Lalu berbisik,

“Di rumahku.”

Dua kata.

Sederhana.

Tapi setelah semua yang terjadi, akhirnya aku benar-benar mengerti artinya.

Rumah bukan tempat di mana seorang perempuan paling banyak berkorban.

Rumah bukan tempat seseorang diwajibkan terus mengalah agar semua orang lain nyaman.

Dan rumah bukan tempat enam jam usahamu bisa dibuang ke bak cuci lalu orang-orang menyuruhmu mengulanginya seolah waktumu tidak bernilai.

Rumah adalah tempat di mana kamu ikut dihormati.

Didengar.

Dan diperlakukan sebagai manusia.

Aku kehilangan sebuah pernikahan untuk memahami itu.

Tetapi setelahnya—

aku mendapatkan kembali diriku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama,

itu terasa lebih dari cukup.