Ketika Tanah Warisan Menjadi Umpan Terakhir, Arman Pulang dan Keluarga Kami Memulai Hidup Baru

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 237 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Ketika Tanah Warisan Menjadi Umpan Terakhir, Arman Pulang dan Keluarga Kami Memulai Hidup Baru

Polisi melarangku pergi sendiri.

Tetapi aku juga tidak mau hanya menunggu.

Dalam perjalanan menuju penginapan lama itu, aku akhirnya menceritakan sesuatu yang bahkan Arman tidak tahu sepenuhnya.

Tanah pabrik bukan sekadar sebidang tanah warisan.

Beberapa bulan sebelumnya, sebuah perusahaan besar pernah menawarkan kerja sama pembangunan pusat distribusi di kawasan tersebut. Nilai tanah di sekitar sana meningkat berkali-kali lipat.

Aku menolak menjual.

Rupanya informasi itu bocor.

Sekarang semuanya masuk akal.

Utang palsu delapan miliar dibuat agar aku panik.

Penjualan pabrik senilai sepuluh miliar disiapkan agar aku menandatangani dokumen.

Di antara puluhan halaman kontrak, mereka bisa menyisipkan surat pengalihan tanah.

Arman mengetahui rencana itu.

Karena itulah dia menghilang sebelum mereka berhasil mendapatkan tanda tanganku.

Kami tiba di penginapan menjelang malam.

Polisi meminta aku dan Maya tetap di dalam mobil.

Beberapa petugas masuk dari belakang.

Aku menunggu dengan tangan gemetar.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lalu terdengar keributan.

Pintu samping terbuka.

Seorang pria berlari keluar, tetapi langsung ditahan petugas.

Aku tidak mengenalnya.

Kemudian satu orang lagi dibawa keluar.

Dan akhirnya aku melihat Arman.

Dia berjalan dengan bantuan seorang petugas.

Wajahnya pucat, janggutnya tumbuh tidak teratur, tetapi dia hidup.

Aku membuka pintu mobil dan berlari.

—Arman!

Dia mengangkat kepala.

Saat melihatku, matanya langsung memerah.

Aku memeluknya.

Untuk beberapa detik kami tidak mengatakan apa-apa.

Aku hanya bisa merasakan detak jantungnya.

Nyata.

Hangat.

Masih ada.

—Maaf, bisiknya.

Aku menangis sambil memukul pelan bahunya.

—Sebelas hari! Kamu membuatku menunggu sebelas hari!

Arman memelukku lebih erat.

—Aku pikir kalau aku menghubungimu, mereka akan menggunakanmu dan anak kita untuk memaksaku.

Setelah keadaan aman, Arman menjelaskan semuanya.

Tiga minggu sebelum menghilang, dia menemukan transaksi palsu.

Dia awalnya mengira hanya Rizky yang terlibat.

Kemudian dia mengetahui ayah dan ibunya ikut menutupi.

Damar membantu mengatur perusahaan perantara.

Namun masih ada satu orang lain.

—Maya? tanyaku.

Arman menggeleng.

—Bukan.

Aku terdiam.

—Lalu siapa?

Arman memandang perempuan yang selama tiga tahun kupanggil seperti adik sendiri.

Maya menunduk.

Kemudian Arman berkata:

—Maya adalah orang yang memberitahuku semuanya.

Ternyata Maya sudah lama curiga terhadap faktur-faktur tersebut.

Dia diam-diam menyalin dokumen.

Video yang kulihat bukan rekaman asli penculikan.

Itu bagian dari upaya Maya membuat para pelaku percaya bahwa dia berada di pihak mereka.

Dia berpura-pura memaksa Arman menandatangani dokumen.

Dengan cara itu, dia mendapatkan akses ke tempat Arman ditahan.

—Lalu pesan “jangan percaya pria pembawa USB”?

Arman tersenyum lemah.

—Aku yang mengirimnya lewat ponsel cadangan.

Damar memang datang karena terpancing.

Semua yang terjadi di rumahku hari itu justru membuatnya membuka hubungan dengan transaksi palsu.

Penyelidikan kemudian berlangsung berbulan-bulan.

Aku memberikan semua dokumen yang kumiliki.

Arman menyerahkan salinan pembukuan.

Maya menjadi saksi penting.

Audit menemukan aliran uang yang jauh lebih besar daripada dugaan awal.

Kontrak pinjaman delapan miliar dinyatakan menggunakan dokumen dan tanda tangan yang tidak sah.

Hak atas tanah tetap berada padaku.

Pabrik tidak jadi dijual.

Rizky, Damar, serta beberapa orang yang membantu transaksi fiktif harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.

Ayah mertuaku juga tidak bisa lagi menyangkal keterlibatannya.

Yang paling sulit bagiku adalah Ratih.

Suatu hari, sebelum pemeriksaan lanjutan, dia meminta bertemu denganku.

Dia terlihat jauh lebih tua.

—Sari, Ibu hanya ingin keluarga ini tetap utuh.

Aku menatapnya lama.

—Keluarga tidak menjadi utuh dengan mengambil milik anggota keluarga lain.

Ratih menangis.

—Ibu salah.

—Bukan hanya salah, Bu. Ibu tahu apa yang dilakukan Rizky dan tetap membantu menutupinya. Arman hampir tidak pulang kepada anaknya.

Dia tidak mampu menjawab.

Aku tidak memakinya.

Aku juga tidak mengatakan bahwa aku memaafkannya.

Aku hanya berdiri.

—Biarkan hukum menentukan bagian yang harus Ibu pertanggungjawabkan. Setelah itu, kalau Ibu benar-benar berubah, mungkin suatu hari cucu Ibu sendiri yang akan memutuskan apakah ia ingin bertemu.

Aku pergi tanpa menoleh.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang sama.

Enam bulan kemudian, pabrik kami kembali beroperasi penuh.

Kami tidak menjual tanah.

Sebaliknya, aku dan Arman mengambil keputusan besar.

Kami menghentikan kerja sama dengan seluruh perusahaan pemasok lama dan membangun sistem pembelian yang transparan.

Setiap transaksi besar harus disetujui dua orang.

Audit dilakukan secara berkala.

Para pekerja yang sempat takut kehilangan pekerjaan akhirnya kembali.

Hari pertama produksi normal, mereka membuat kejutan kecil.

Di pintu masuk tergantung sebuah tulisan:

“SELAMAT DATANG KEMBALI, PAK ARMAN DAN BU SARI.”

Aku tertawa sekaligus menangis ketika melihatnya.

Arman berdiri di sampingku.

Putri kami berlari keluar dari kantor kecil.

—Ayah!

Arman berjongkok dan membuka kedua tangannya.

Anak kami menabrak pelukannya begitu keras hingga dia hampir jatuh.

—Ayah jangan pergi lama-lama lagi.

Arman mencium rambutnya.

—Tidak akan.

Malam itu, setelah semua pekerja pulang, kami bertiga duduk di lantai ruang produksi.

Tidak ada pesta mewah.

Hanya tiga kotak nasi, teh hangat, dan suara mesin yang sudah dimatikan.

Arman tiba-tiba bertanya:

—Kamu masih ingat seratus bungkus pertama kita?

Aku tertawa.

—Tentu. Kamu salah mencetak label sampai kita harus menempel ulang semuanya semalaman.

—Dan kamu hampir meninggalkanku karena aku menjatuhkan satu kardus ke selokan.

—Bukan hampir. Waktu itu aku memang ingin meninggalkanmu.

Putri kami tertawa meskipun tidak memahami ceritanya.

Arman kemudian menggenggam tanganku.

—Aku ingin mengubah kepemilikan perusahaan.

Aku langsung menatapnya.

—Mengubah bagaimana?

—Tanah tetap atas namamu. Tapi sebagian saham pabrik akan kita masukkan ke dana keluarga untuk masa depan anak kita. Sebagian lagi aku ingin jadikan program kepemilikan untuk karyawan lama.

Aku terdiam.

Sepuluh tahun lalu, pabrik ini dimulai hanya karena dua orang ingin hidup sedikit lebih baik.

Kami tidak pernah membayangkan uang bisa membuat keluarga berubah menjadi orang asing.

Mungkin karena itulah aku akhirnya memahami satu hal.

Yang perlu kami wariskan kepada putri kami bukan hanya tanah atau uang.

Melainkan cara menjaga sesuatu tanpa membiarkan sesuatu itu menguasai hidupnya.

Setahun kemudian, pabrik kami memiliki hampir enam puluh pekerja.

Produk kami masuk ke lebih banyak toko.

Maya memilih berhenti menjadi konsultan dan mendirikan usaha administrasi kecil miliknya sendiri. Kami masih bertemu sesekali.

Hubunganku dengan keluarga Arman tidak pernah kembali seperti dahulu.

Dan aku tidak memaksanya.

Ada hubungan yang bisa diperbaiki.

Ada pula yang hanya bisa diselesaikan dengan batas yang jelas.

Suatu sore, aku sedang memeriksa laporan ketika Arman meletakkan sebuah bingkai kecil di mejaku.

Di dalamnya ada kartu nama penginapan tua yang dulu ditemukan di dekat gudang.

Tulisan di belakangnya masih terlihat.

“Tempat pertama kita menjual 100 bungkus.”

Aku tersenyum.

—Kenapa kamu simpan?

Arman duduk di sampingku.

—Karena benda ini pernah membawamu menemukanku.

Aku menggeleng.

—Bukan kartu itu.

—Lalu apa?

Aku memandang keluar jendela.

Di halaman, putri kami sedang membagikan makanan kepada beberapa pekerja yang baru selesai giliran kerja.

—Aku menemukanmu karena setelah sepuluh tahun, aku masih ingat tempat kita memulai.

Arman terdiam.

Lalu dia menggenggam tanganku.

Menjelang matahari terbenam, kami menutup pintu pabrik bersama.

Bangunan itu masih berdiri di tanah peninggalan ayahku.

Tetapi bagiku, nilainya tidak lagi ditentukan oleh angka sepuluh miliar, dua puluh miliar, atau berapa pun yang ditawarkan orang.

Di sanalah aku hampir kehilangan suamiku.

Di sana pula aku belajar bahwa orang yang menyebut dirinya keluarga belum tentu berhak menentukan hidup kita.

Dan di tempat yang sama, kami memilih memulai lagi.

Bukan sebagai pasangan yang takut kehilangan harta.

Melainkan sebagai dua orang yang akhirnya mengerti apa yang benar-benar harus dipertahankan.

Saat kami berjalan menuju mobil, putri kami berlari di tengah, menggenggam tanganku dengan tangan kirinya dan tangan Arman dengan tangan kanannya.

—Besok Ayah sama Ibu datang lagi?

Aku dan Arman saling memandang.

Dia tersenyum.

—Tentu.

Putri kami mengangguk puas.

Aku menatap pintu pabrik yang perlahan tertutup di belakang kami.

Sebelas hari aku pernah berdiri di depan pintu rumah menunggu seseorang yang kukira mungkin tidak akan pernah pulang.

Kini aku tidak perlu menunggu lagi.

Arman berjalan di sampingku.

Anak kami berada di antara kami.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika memikirkan hari esok, yang kurasakan bukan ketakutan.

Melainkan ketenangan.

Karena akhirnya aku tahu, kami tidak menyelamatkan sebuah pabrik senilai miliaran rupiah.

Kami menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Rumah tempat kami ingin kembali.

Dan keluarga yang memilih untuk tetap berjalan bersama.