BAGIAN 2 — NAMA DI BALIK PENGKHIANATAN MEMBUKA RAHASIA KELUARGA YANG SELAMA DUA PULUH TAHUN TAK PERNAH KUCURIGAI
Aku masih menatap nama pada dokumen itu ketika pintu ruang pesta terbuka.
Para tamu rupanya mulai bertanya mengapa acara belum dimulai. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar sambil tersenyum, seolah hendak mencariku.
Senyumnya lenyap saat melihat dokumen di tanganku.
Namanya Surya.
Dia bukan sekadar rekan bisnis.
Dua puluh tiga tahun lalu, ketika usahaku hampir bangkrut, Surya meminjamkan modal tanpa meminta jaminan. Setelah istriku meninggal, dialah yang membantu mengurus perusahaan ketika aku kehilangan semangat bekerja.
Aku bahkan pernah mengatakan kepada Nadira bahwa jika sesuatu terjadi padaku, Surya adalah orang pertama yang harus dia hubungi.
Dan sekarang namanya tercantum sebagai pihak yang menyetujui pengalihan aset.
—Surya.
Dia berhenti.
Laras buru-buru menyela.
—Mas, kita jangan membicarakan urusan bisnis di sini. Para tamu—
—Diam.
Untuk pertama kalinya, aku berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.
Aku mengangkat dokumen.
—Surya, apakah ini tanda tanganmu?
Dia tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku membuka pintu ruang pesta lebar-lebar.
Musik masih terdengar. Hampir seratus tamu menoleh.
Aku berjalan menuju panggung.
Laras mengejarku.
—Mas, apa yang kamu lakukan?
Aku mengambil mikrofon.
—Maaf karena membuat kalian menunggu. Pertunangan hari ini dibatalkan.
Ruangan langsung gaduh.
Ibu Laras berdiri. Dimas mencoba pergi ke pintu samping.
Aku menunjuknya.
—Jangan biarkan dia keluar.
Dua petugas keamanan hotel yang sebelumnya sudah kuhubungi berdiri di depan pintu.
Laras menatapku dengan wajah pucat.
—Kamu mempermalukanku di depan keluargaku hanya karena ucapan seorang anak?
Aku mengeluarkan kartu memori.
—Bukan karena ucapan Raka. Karena ini.
Surya menunduk.
Laras masih berusaha tersenyum.
—Apa pun yang ada di dalamnya bisa dijelaskan.
—Bagus. Jelaskan kepada polisi nanti.
Wajah Dimas berubah.
Aku sebenarnya belum menelepon polisi.
Namun reaksinya membuatku semakin yakin.
Dimas tiba-tiba menunjuk Surya.
—Semua itu idenya!
Surya mengangkat kepala.
—Jangan menyeretku lebih jauh.
—Kamu yang bilang dokumennya aman!
Laras berteriak:
—Dimas, tutup mulut!
Terlambat.
Seluruh ruangan mendengarnya.
Aku memandang Surya.
—Kenapa?
Dia terdiam lama sebelum akhirnya berkata:
—Aku butuh uang.
Ternyata perusahaan Surya sudah mengalami kesulitan hampir dua tahun. Dia menyembunyikan utang besar dari keluarganya dan menggunakan pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama.
Laras mengetahuinya.
Dia menawarkan jalan keluar.
Jika Surya membantu meloloskan dokumen pengalihan aset, perusahaan yang menguasai enam puluh persen saham itu akan memberikan sejumlah uang kepadanya.
Aku bertanya:
—Perusahaan itu milik siapa?
Surya menatap Laras.
Aku langsung mengerti.
Laras menggeleng.
—Bukan milikku.
Dimas tertawa pahit.
—Memang bukan atas namamu. Atas namaku.
Laras menatap adiknya tajam.
Dimas seperti orang yang sadar dirinya akan ditinggalkan.
—Aku yang disuruh mendirikan perusahaan. Aku yang membuka rekening. Aku yang disuruh meniru tanda tangan. Tapi semua rencana datang darinya.
—Pembohong!
—Kalau aku masuk penjara, aku tidak akan masuk sendirian!
Kekacauan pecah.
Aku tidak ingin mendengar lagi.
Yang kupikirkan hanya Nadira.
Aku menyerahkan urusan di hotel kepada kepala keamanan dan menelepon pengacara pribadiku—bukan pengacara Laras.
Empat puluh menit kemudian aku sudah berada di klinik.
Raka berlari lebih dulu memasuki kamar.
—Mama!
Nadira membuka mata.
Wajahnya pucat, tetapi ketika melihat putranya, dia langsung memeluknya.
Aku berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak tahu bagaimana berbicara kepada anakku sendiri.
—Nadira…
Dia menatapku.
Aku duduk di samping ranjang.
—Ayah minta maaf.
Matanya langsung berkaca-kaca.
—Ayah tidak perlu—
—Perlu. Kamu sudah memperingatkan Ayah. Tapi Ayah menganggap kamu hanya sulit menerima Laras.
Nadira menggeleng perlahan.
—Aku bukan membenci dia karena Ayah ingin menikah lagi. Aku hanya ingin Ayah bersama seseorang yang benar-benar menyayangi Ayah.
Aku menunduk.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada seluruh dokumen palsu yang baru saja kulihat.
Nadira kemudian menceritakan bagaimana dia mulai curiga.
Dua bulan sebelumnya, seorang pegawai lama menemukan fotokopi sertifikat gudang di meja bagian akuntansi. Nadira memeriksa transaksi perusahaan dan menemukan pembayaran aneh kepada beberapa konsultan.
Dia mengikuti jejaknya hingga menemukan perusahaan milik Dimas.
Malam sebelumnya, dia sengaja datang ke gudang setelah mengetahui akan ada pertemuan rahasia.
—Apa yang terjadi setelah kamera tidak merekammu?
Nadira terdiam.
—Dimas mengambil ponselku. Kami bertengkar. Aku berhasil keluar lewat pintu belakang. Aku terlalu takut untuk pulang karena kupikir mereka akan mencariku. Aku menelepon Tante dari mobil.
—Dia menyakitimu?
—Dia menarik tanganku dan mencoba mengambil tas. Tidak lebih dari itu. Aku hanya sangat panik.
Aku mengembuskan napas panjang.
Setidaknya anakku selamat.
Malam itu pengacara pribadiku datang membawa kabar penting.
Dokumen pengalihan memang telah diajukan.
Tetapi prosesnya belum selesai.
Karena tanah dan gudang terdaftar sebagai aset dengan beberapa pembatasan lama, perubahan kendali masih membutuhkan verifikasi tambahan.
—Artinya kita masih bisa menghentikannya?
—Bisa. Dan bukti pemalsuan tanda tangan membuat posisi mereka sangat lemah.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasakan sedikit harapan.
Namun pengacara itu belum selesai.
Dia membuka laptop.
—Ada satu hal lagi yang harus Bapak lihat.
Dia menunjukkan laporan transaksi dari perusahaan Dimas.
Ada transfer kepada Surya.
Ada transfer kepada kepala bagian akuntansi.
Dan ada satu transfer terbesar.
Jumlahnya hampir tiga kali lipat dari seluruh pembayaran lainnya.
Penerimanya bukan Laras.
Bukan Dimas.
Bukan Surya.
Melainkan sebuah rekening perusahaan yang sudah sangat kukenal.
Perusahaan yang selama ini menjadi pemasok terbesar bisnis keluargaku.
Aku menatap Nadira.
Dia juga mengenali namanya.
Pengacara berkata pelan:
—Kalau kita benar-benar ingin menghentikan mereka, kita tidak cukup hanya membatalkan pertunangan. Kita harus membongkar seluruh jaringan ini.
Aku menutup laptop.
Kali ini aku tidak merasa takut.
Aku menatap putriku dan cucuku.
Selama bertahun-tahun aku membangun gudang, toko, tanah, dan perusahaan karena mengira itulah warisan terbesar yang bisa kuberikan kepada keluarga.
Hari itu aku baru memahami sesuatu.
Warisan terbesar bukanlah aset.
Melainkan keberanian untuk melindungi orang yang kita cintai.
Aku menggenggam tangan Nadira.
—Besok pagi kita selesaikan semuanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak acara pertunangan itu dibatalkan, putriku tersenyum.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
