Aku Kembali ke Usia Lima Tahun dan Menolak Membeli Permen, Lalu Membongkar Rahasia Ayahku di Depan Sepupunya

Avatar penulis
Cerita 01
24 menit baca 336 tayangan
Aku Kembali ke Usia Lima Tahun dan Menolak Membeli Permen, Lalu Membongkar Rahasia Ayahku di Depan Sepupunya
Indeks

Aku Kembali ke Usia Lima Tahun dan Menolak Membeli Permen, Lalu Membongkar Rahasia Ayahku di Depan Sepupunya

Bagian 1

Aku kembali ke usia lima tahun tepat pada pagi ketika ayah seharusnya menyuruhku membeli permen ke warung ujung gang.

Di kehidupan sebelumnya, aku menurut. Dua puluh menit kemudian, aku menghilang dari kompleks rumah petak tempat kami tinggal di Semarang dan tak pernah pulang lagi.

Kali ini aku berdiri di depan sebuah pintu yang tertutup, mendengarkan suara ayahku sendiri dari dalam.

“Pelan sedikit, Man,” suara Tante Rina terdengar terengah. “Kalau Nisa dengar bagaimana?”

“Biar saja.”

Aku mengenali suara Ayah, Arman, bahkan setelah bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya berusaha melupakannya.

“Anak itu juga tidak akan lama di sini. Orang yang menanggung utangku sudah menunggu. Nanti dia dibawa jauh. Kalau sudah besar, mau dijadikan apa pun bukan urusan kita lagi.”

Tanganku yang masih kecil mencengkeram ujung kaus.

Aku Kembali ke Usia Lima Tahun dan Menolak Membeli Permen, Lalu Membongkar Rahasia Ayahku di Depan Sepupunya

Di kehidupan sebelumnya, sampai beberapa hari menjelang kematianku, aku masih percaya aku diculik karena kebetulan berada di tempat yang salah.

Aku baru mengetahui kebenaran setelah mendengar dua orang yang menahanku bertengkar. Salah satu dari mereka menyebut nama Ayah dan mengatakan bahwa anak perempuan itu memang sudah “diserahkan” untuk menutup utang.

Aku pernah mencoba kabur.

Akibatnya, kedua kakiku rusak dan aku menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupku bergantung pada orang lain, dikurung, dipindah-pindahkan, dan diperlakukan seperti barang.

Aku meninggal tanpa pernah melihat rumah lagi.

Sekarang aku kembali ke pagi yang sama.

Dan di balik pintu itu, Ayah sedang bersama istri sepupunya sendiri.

“Perutku akhir-akhir ini sering tidak enak,” Tante Rina berbisik. “Jangan-jangan aku hamil.”

“Kalau hamil, ya lahirkan.”

Nada suara Ayah berubah senang.

“Siapa tahu laki-laki. Aku sudah bosan punya anak perempuan.”

Aku menundukkan kepala.

Aneh sekali. Setelah seluruh hidup yang kujalani sebelumnya, kalimat itu masih bisa menyakitiku.

Tante Rina bertanya, “Terus Hendra bagaimana?”

Om Hendra adalah sepupu Ayah. Ia bekerja sebagai sopir truk antarkota dan sering baru pulang setelah beberapa hari.

“Dia hampir tidak pernah di rumah. Bilang saja anaknya dia.”

Aku tidak menangis.

Tangisku sudah habis di kehidupan sebelumnya.

Aku mundur dari pintu, lalu berlari menuruni tangga rumah petak yang sempit.

Ayah mengira beberapa menit lagi aku akan menerima uang darinya dan berjalan sendirian menuju warung.

Ia salah.

Aku ingat sesuatu yang tidak ia ketahui.

Hari itu Om Hendra pulang lebih cepat.

Di kehidupan sebelumnya, aku sempat berpapasan dengannya sebelum Ayah menyuruhku ke warung. Truknya rusak di jalan, sehingga ia menyerahkan muatan lebih cepat dan kembali sekitar tengah hari.

Saat itu Om Hendra mengusap kepalaku.

“Nisa kurus sekali. Makan yang banyak, ya.”

Kalimat sederhana itu menjadi salah satu kenangan terakhirku tentang seseorang yang memperlakukanku sebagai anak manusia.

Aku berlari menuju pohon mangga di dekat gerbang kompleks.

Beberapa ibu sedang duduk di bangku panjang sambil mengipas diri. Ada Bu Lastri dari rumah nomor tujuh, Bu Yani yang berjualan gorengan sore hari, dan dua tetangga lain.

Aku tidak mengatakan apa-apa kepada mereka.

Belum.

Aku hanya menunggu.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki berkulit gelap karena sering terkena matahari masuk dari ujung gang sambil membawa tas kain besar.

Om Hendra.

Wajahnya lelah, kausnya penuh debu jalanan.

Ketika melihatku, ia berhenti.

“Nisa?”

Aku berlari dan memeluk kakinya.

Ia tertawa kecil.

“Kenapa sendirian? Ayahmu mana?”

Aku mengangkat kepala.

Kemudian, dengan suara sekeras yang mampu dikeluarkan anak lima tahun, aku berkata, “Ayah lagi membantu memperbaiki pipa di rumah Om.”

Beberapa kipas di belakangku berhenti bergerak.

Om Hendra mengerutkan kening.

“Pipa?”

Aku mengangguk penuh keyakinan.

“Tante Rina bilang Ayah kuat sekali. Sampai Tante Rina terus mengeluarkan suara dari kamar.”

Wajah Om Hendra berubah.

Bu Lastri batuk mendadak.

Bu Yani menatap temannya.

Aku melanjutkan sebelum siapa pun sempat menghentikanku.

“Ayah juga bilang nanti Tante Rina akan melahirkan anak laki-laki untuk Ayah.”

Tas di tangan Om Hendra jatuh ke tanah.

“Nisa.”

Suaranya menjadi pelan.

“Kamu dengar sendiri?”

Aku mengangguk.

“Dari kamar Om.”

Om Hendra berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Kemudian ia membuka tasnya, mengambil kunci rumah dan sebuah kunci roda yang biasa dipakai untuk memeriksa truk.

Aku langsung memegang ujung bajunya.

“Om.”

Ia menatapku.

Mungkin karena melihat wajahku, mungkin karena sadar aku ketakutan, tangannya yang memegang kunci roda turun.

Ia menyerahkan benda itu kepada salah satu tetangga laki-laki yang baru datang karena mendengar keributan.

“Tolong pegang.”

Lalu ia berjalan cepat menuju rumah.

Aku mengikuti dari belakang.

Tentu saja para tetangga ikut.

Di kompleks seperti tempat kami tinggal, suara pintu dibanting saja bisa membuat lima kepala muncul dari jendela. Apalagi seorang sopir truk pulang mendadak setelah seorang anak mengatakan ayahnya berada di kamar bersama istri orang.

Seseorang berbisik, “Jangan-jangan benar.”

Yang lain menjawab, “Tadi pagi aku memang lihat Arman masuk.”

Aku tidak menoleh.

Kami naik ke lantai dua.

Dari balik pintu masih terdengar suara percakapan.

Om Hendra berhenti.

Wajahnya kehilangan warna.

Kemudian tangannya mendorong pintu keras-keras.

Kuncinya ternyata tidak terpasang sempurna.

Pintu terbuka.

Tante Rina menjerit dan menarik selimut.

Ayah melompat dari sisi ranjang.

“Hen?”

Om Hendra hanya menatap.

Ayah buru-buru mengambil celananya.

“Dengar dulu.”

“Aku dengar apa?”

Suara Om Hendra begitu datar sampai lebih menakutkan daripada teriakan.

Ayah mencoba mendekat.

Om Hendra mendorong dadanya.

“Jangan sentuh aku.”

“Ini bukan seperti yang kamu pikir.”

Kalimat itu membuat beberapa orang di luar pintu mendengus.

Bu Lastri berkata pelan, “Terus seperti apa?”

Tante Rina mulai menangis.

“Mas Hendra, aku bisa jelaskan.”

Om Hendra melihat istrinya, lalu Ayah, lalu kembali kepada istrinya.

“Sudah berapa lama?”

Tante Rina tidak menjawab.

Ayah berkata, “Hen, kita keluarga. Jangan bikin ini besar.”

“Justru karena keluarga.”

Om Hendra menunjuknya.

“Kamu masuk rumahku saat aku kerja.”

Ayah mulai menaikkan suara.

“Kamu juga jarang pulang! Rina sendirian terus.”

Tante Rina tiba-tiba menyela.

“Aku tidak mau begini sebenarnya.”

Ayah berbalik.

“Apa?”

“Aku bingung. Dia yang terus datang.”

Wajah Ayah langsung merah.

“Jangan lempar semua ke aku.”

“Memang kamu yang mulai!”

“Kamu sendiri yang membuka pintu setiap kali aku datang!”

Mereka mulai saling menyalahkan.

Aku berdiri di belakang Bu Lastri sambil memperhatikan.

Di kehidupan sebelumnya, dua orang itu bekerja sama menyingkirkanku.

Sekarang, saat keselamatan mereka sendiri terancam, mereka bahkan tidak mampu mempertahankan kebohongan selama lima menit.

Om Hendra menutup mata sebentar.

Aku tahu masih ada satu hal yang harus ia dengar.

Aku melangkah maju.

“Tante tadi bilang perutnya tidak enak.”

Semua orang terdiam.

Tante Rina menatapku dengan wajah pucat.

Aku menunjuknya.

“Tante bilang mungkin ada bayi.”

“Nisa!” bentaknya.

Aku mundur setengah langkah, tetapi tidak berhenti.

“Ayah bilang kalau ada bayi, lahirkan saja. Ayah ingin anak laki-laki.”

Om Hendra perlahan menoleh kepada istrinya.

Tatapan itu membuat Tante Rina berhenti menangis.

“Benar?”

“Anak kecil tidak mengerti apa yang dia dengar.”

“Aku tanya benar atau tidak.”

Tante Rina menggigit bibir.

“Aku belum tahu.”

Om Hendra menarik napas panjang.

“Belum tahu hamil atau belum tahu anak siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ayah mencoba menyelinap melewati pintu.

Bu Lastri langsung berkata, “Arman, mau ke mana?”

Semua mata beralih kepadanya.

Ayah berhenti.

Aku melihat orang yang sepanjang hidup pertamaku selalu hadir dalam ingatan sebagai sosok besar dan menakutkan.

Ternyata sekarang, dengan celana yang dipakai terburu-buru, wajah pucat, dan puluhan tetangga menyaksikan, ia tampak sangat kecil.

“Ayah.”

Ia menatapku.

Untuk sesaat, matanya terlihat seperti mata seorang ayah yang sedang melihat anaknya.

Lalu aku melihat kemarahan di sana.

“Ini gara-gara kamu.”

Aku tidak menjawab.

Om Hendra segera berdiri di antara kami.

“Jangan bicara begitu kepada anakmu.”

Ayah tertawa pendek.

“Kamu sekarang mau membela dia?”

“Setidaknya dia satu-satunya orang di ruangan ini yang mengatakan apa adanya.”

Di koridor, bisik-bisik semakin ramai.

Ada yang mengatakan mereka pernah melihat Ayah datang ketika Om Hendra sedang pergi.

Ada yang mengingat Tante Rina beberapa kali membeli makanan untuk dua orang.

Ada pula yang hanya menggeleng sambil memandang mereka dengan jijik.

Rahasia yang selama ini mereka simpan rapi pecah di depan seluruh kompleks.

Hubungan Ayah dan Tante Rina terbongkar.

Dugaan kehamilan ikut terdengar semua orang.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku membuka mata di tubuh kecil berusia lima tahun ini, satu bagian dari rencana Ayah gagal total.

Ia tidak berhasil membuatku pergi ke warung.

Ia tidak berhasil menghilangkanku dengan tenang.

Yang belum diketahui siapa pun adalah alasan sebenarnya mengapa hari itu ia sangat ingin aku keluar rumah.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Ayah menungguku sampai kerumunan mulai berkurang.

Om Hendra menyuruh Tante Rina berpakaian dan mengatakan ia tidak ingin berbicara lagi sebelum semuanya tenang. Para tetangga perlahan turun, meski sebagian masih berdiri di tangga.

Aku tetap dekat Om Hendra.

Ayah akhirnya menunjukku.

“Kamu ikut pulang.”

Tubuhku membeku.

Ia tinggal hanya beberapa pintu dari rumah Om Hendra, tetapi bagiku jarak itu terasa seperti kembali menuju kehidupan lama.

“Aku mau sama Om.”

Ayah maju satu langkah.

“Kamu anak siapa?”

Om Hendra berdiri di depanku.

“Jangan dipaksa sekarang.”

“Kamu tidak punya hak mengatur anakku.”

“Dan kamu sedang marah karena anak lima tahun membongkar apa yang kamu lakukan.”

Ayah mengepalkan tangan.

Aku tahu pertengkaran tentang perselingkuhan bisa membuat semua orang melupakan bahaya yang sebenarnya.

Aku menarik ujung kaus Om Hendra.

“Om.”

Ia menunduk.

“Ayah tadi mau menyuruh aku ke warung.”

Ayah langsung berkata, “Memangnya kenapa?”

Aku menatapnya.

“Katanya ada orang yang menunggu.”

Wajahnya berubah sangat cepat, tetapi Om Hendra melihatnya.

“Orang apa?”

“Dia mengarang,” kata Ayah.

Aku menggeleng.

“Aku dengar Ayah bilang aku akan dibawa jauh untuk bayar utang.”

Koridor kembali sunyi.

Om Hendra perlahan menatap Ayah.

“Kamu punya utang apa?”

“Jangan dengarkan anak kecil.”

Saat itu ponsel Ayah berdering.

Benda itu tergeletak di lantai dekat celananya tadi dan belum sempat ia masukkan ke saku.

Ayah langsung membungkuk hendak mengambilnya.

Namun layar sudah menyala.

Om Hendra berdiri paling dekat.

Ia tidak membuka ponsel itu.

Ia hanya membaca tulisan yang muncul di layar terkunci.

Darto.

Pesannya pendek.

Anaknya jadi keluar ke warung jam sebelas, kan? Mobil sudah dekat. Jangan bikin orangku menunggu.

Om Hendra tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik.

Ayah meraih ponselnya.

Om Hendra lebih cepat mengambilnya.

“Berikan!”

Ayah mencoba merebut.

Om Hendra mundur.

“Ini maksudnya apa?”

“Urusan kerja.”

“Kerja apa yang menunggu anakmu di warung?”

“Pesannya bukan begitu maksudnya.”

“Terus maksudnya bagaimana?”

Ayah tidak bisa menjawab.

Aku melihat jam dinding.

Hampir pukul sebelas.

Persis seperti kehidupan sebelumnya.

Aku mulai gemetar.

Bukan karena aku ingin menangis. Tubuh kecilku hanya mengingat ketakutan lebih cepat daripada pikiranku.

Om Hendra memperhatikannya.

Ia berjongkok.

“Nisa, lihat Om.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak perlu pergi ke mana-mana.”

Aku mengangguk.

Kemudian terdengar suara Bu Yani dari bawah.

“Hendra!”

Ia berlari naik, napasnya terputus-putus.

“Ada mobil hitam berhenti dekat warung Bu Aminah. Dua laki-laki dari tadi tanya-tanya anak kecil bernama Nisa.”

Ayah menutup mata.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup.

Om Hendra berdiri.

“Bu Lastri, tolong temani Nisa.”

Ayah langsung memotong, “Jangan ikut campur!”

Om Hendra menatapnya.

“Kamu baru saja ketahuan selingkuh dengan istriku dan sekarang ada orang asing menunggu anakmu setelah pesan seperti ini masuk ke ponselmu.”

Ia mengangkat ponsel Ayah.

“Aku sudah cukup tidak ikut campur.”

Beberapa tetangga turun ke gerbang bersama Om Hendra, tetapi ia melarang mereka mendekati mobil tersebut.

Aku tidak melihat langsung apa yang terjadi.

Bu Lastri membawaku masuk ke rumahnya dan memberiku air.

Dari jendela, aku melihat mobil hitam itu pergi tidak lama kemudian.

Om Hendra kembali sekitar sepuluh menit setelahnya.

Wajahnya keras.

“Mereka kabur begitu aku tanya siapa yang dicari.”

Ayah berkata, “Nah. Berarti salah orang.”

Om Hendra tidak menjawab.

Ia hanya mengeluarkan ponselnya sendiri.

“Aku sudah menghubungi polisi.”

Ayah benar-benar panik kali ini.

“Hendra, ini urusan keluarga.”

“Bukan lagi.”

“Itu utangku. Aku bisa jelaskan.”

Om Hendra menatapku sebentar, lalu kembali kepadanya.

“Kalau penjelasanmu melibatkan anak lima tahun sebagai pembayaran, jelaskan nanti di tempat yang ada petugasnya.”

Ayah tidak mencoba merebut ponselnya lagi.

Ia hanya berdiri diam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah sempat kulihat dalam kehidupan sebelumnya.

Rencana yang seharusnya menghapusku dari hidupnya telah meninggalkan jejak.

Nama.

Pesan.

Waktu.

Mobil.

Dan beberapa saksi yang melihat orang-orang itu menungguku.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Polisi datang sebelum tengah hari.

Aku tidak mengingat banyak hal dari jam-jam berikutnya secara utuh. Ada terlalu banyak orang dewasa berbicara, terlalu banyak pertanyaan, dan tubuhku sudah kelelahan.

Tetapi satu hal kuingat jelas.

Ayah terus mengatakan bahwa semua orang salah paham.

Tentang Tante Rina, katanya itu masalah pribadi.

Tentang pesan Darto, katanya urusan utang.

Tentang dua orang di dekat warung, katanya ia tidak mengenal mereka.

Tentang aku, katanya ia hanya meminta seseorang menjemputku.

“Untuk apa?”

Seorang petugas bertanya.

Ayah terdiam.

Ia kemudian menjawab, “Untuk dibawa ke saudara.”

“Saudara siapa?”

Diam lagi.

Aku duduk di kursi plastik dengan kedua tangan di pangkuan.

Om Hendra ada di sebelahku.

Ia tidak banyak bicara. Sejak petugas datang, kemarahannya berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang dan berat.

Ketika aku diminta menceritakan apa yang kudengar, aku mengulangnya dengan bahasa seorang anak.

Aku mengatakan Ayah menyebut utang.

Aku mengatakan ia menyebut aku akan dibawa jauh.

Aku mengatakan tadi pagi ia berencana menyuruhku ke warung.

Aku tidak menceritakan kehidupan sebelumnya.

Tidak mungkin.

Jika aku mengatakan bahwa aku sudah pernah diculik, disiksa, dan mati, orang-orang akan mengira anak lima tahun sedang kebingungan setelah melihat pertengkaran orang dewasa.

Aku hanya menggunakan hal-hal yang memang ada di kehidupan ini.

Pesan di ponsel.

Orang-orang yang menunggu.

Perkataan Ayah.

Kesaksian para tetangga.

Itu sudah cukup untuk membuat persoalan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai pertengkaran keluarga biasa.

Petugas meminta Ayah ikut untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Ia menolak pada awalnya.

“Aku harus menjaga anakku.”

Om Hendra langsung menjawab, “Sejak kapan?”

Ayah menatap tajam.

Aku melihat rahangnya mengeras.

Lalu ia berbalik kepadaku.

“Nisa, bilang ke mereka kamu mau sama Ayah.”

Aku tidak bergerak.

“Nisa.”

Nada suaranya berubah menjadi nada yang kukenal.

Nada yang dulu membuatku segera menurut.

“Kemari.”

Kakiku tetap diam.

Om Hendra tidak menyentuhku, tidak menyuruhku memilih.

Ia hanya menunggu.

Aku menarik napas.

“Aku takut sama Ayah.”

Kalimat itu sederhana.

Namun ruangan mendadak sangat sunyi.

Wajah Ayah berubah.

“Aku pernah memukul kamu?”

Aku menggeleng.

Belum.

Ia belum perlu melakukannya.

Di kehidupan sebelumnya, ia cukup memberiku uang receh dan menyuruhku pergi.

“Aku dengar Ayah mau kasih aku ke orang.”

“Nisa, Ayah cuma marah tadi.”

“Kenapa orangnya sudah menunggu di warung?”

Ayah tidak bisa menjawab.

Petugas menyuruhnya berhenti berbicara kepadaku untuk sementara.

Ia akhirnya dibawa pergi.

Ponselnya ikut diamankan sesuai prosedur untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah petugas menjelaskan bahwa pesan dan komunikasi dengan orang bernama Darto perlu ditelusuri.

Aku tidak tahu apakah Ayah mengira semuanya masih bisa diselesaikan dengan meminta maaf kepada Om Hendra.

Mungkin ia belum memahami bahwa satu pesan pendek telah mengubah seluruh arah hidup kami.

Sore itu, aku tidak kembali ke rumah Ayah.

Karena tidak ada orang tua lain yang hadir untuk menjemputku dan situasinya dianggap tidak aman, petugas berkoordinasi dengan pihak perlindungan anak mengenai tempat tinggalku sementara.

Om Hendra menawarkan diri.

“Aku keluarga dekatnya,” katanya. “Dia kenal aku.”

Petugas tidak langsung berkata boleh.

Mereka menanyakan kondisi rumahnya, pekerjaannya, siapa yang akan menjaga jika ia harus mengemudi keluar kota, dan apakah ada pilihan kerabat lain.

Aku duduk mendengarkan sambil memegang gelas susu yang diberikan Bu Lastri.

Baru saat itu aku mengerti sesuatu.

Di kehidupan pertama, aku selalu membayangkan penyelamatan sebagai seseorang datang, meraih tanganku, lalu semuanya selesai.

Kenyataannya jauh lebih biasa.

Ada formulir.

Ada pertanyaan.

Ada orang yang harus memastikan aku tidak dipindahkan dari satu tempat berbahaya ke tempat lain hanya karena semua orang sedang emosi.

Akhirnya aku diizinkan tinggal sementara bersama Om Hendra sambil urusan keluarga dan perlindunganku ditinjau.

Rumahnya terasa berbeda malam itu.

Tante Rina tidak ada.

Setelah memberikan keterangannya, ia membawa beberapa pakaian dan pergi ke rumah kakaknya.

Om Hendra tidak mengusirnya dengan teriakan.

Ia hanya mengatakan, “Aku tidak sanggup melihatmu sekarang.”

Tante Rina menangis.

“Aku salah.”

Om Hendra membuka pintu.

“Aku tahu.”

“Mas, aku tidak punya tempat.”

“Kakakmu tadi bilang kamu boleh tinggal di sana.”

“Aku hamil bagaimana?”

Om Hendra menutup mata sebentar.

“Kita bahkan belum tahu kamu hamil.”

Tante Rina meraih lengannya.

“Kalau benar?”

Ia melepaskan tangannya perlahan.

“Kalau benar, kita urus kenyataannya nanti. Tapi malam ini aku tidak bisa pura-pura semuanya biasa.”

Tante Rina melihatku.

Untuk pertama kalinya ada kebencian terbuka di wajahnya.

“Semua ini karena anak itu.”

Om Hendra langsung berdiri di antara kami.

“Jangan.”

“Apa?”

“Jangan salahkan anak lima tahun karena kamu ketahuan.”

Tante Rina terdiam.

Ia mengambil tasnya dan pergi.

Pintu ditutup.

Om Hendra berdiri lama menghadap pintu.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Akhirnya aku bertanya, “Om sedih?”

Ia tertawa pendek, tetapi tidak terdengar seperti orang yang sedang tertawa.

“Iya.”

“Karena Tante?”

“Iya.”

Aku menunduk.

“Maaf.”

Om Hendra menoleh cepat.

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

Aku tidak menjawab.

Di dalam diriku masih ada kebiasaan lama.

Jika orang dewasa marah, anak yang paling lemah akan mencari kesalahan pada dirinya sendiri karena itu terasa lebih aman daripada menerima bahwa orang dewasa memang bisa berbuat buruk.

Om Hendra duduk di kursi seberangku.

“Nisa.”

Aku mengangkat kepala.

“Yang terjadi antara aku dan Rina bukan salahmu.”

Aku mengangguk, meski bagian kecil dalam diriku belum benar-benar percaya.

Malam itu aku tidur di kamar kecil dekat ruang tengah.

Om Hendra mengganti seprai, meletakkan lampu kecil di meja, lalu menunjukkan bahwa pintunya bisa kukunci dari dalam.

“Kalau takut, panggil Om.”

Aku melihat kunci itu lama.

Di kehidupan sebelumnya, pintu selalu dikunci dari luar.

Aku mengulurkan tangan dan mencoba penguncinya sendiri.

Bisa dibuka.

Bisa ditutup.

Dari sisiku.

Aku melakukannya dua kali.

Om Hendra memperhatikan tanpa bertanya.

“Boleh lampunya nyala?”

“Boleh.”

Setelah ia pergi, aku berbaring dan menatap langit-langit.

Aku seharusnya merasa aman.

Namun sekitar tengah malam, aku terbangun sambil menangis.

Dalam mimpi, aku kembali berdiri di depan warung.

Seorang laki-laki memegang tanganku.

Ayah sudah berjalan pergi.

Aku berteriak memanggilnya.

Ia tidak pernah menoleh.

Aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu.

Om Hendra tertidur di sofa ruang tengah.

Aku berdiri di sana sampai ia terbangun sendiri.

“Nisa?”

Aku tidak sanggup menjelaskan mimpi.

“Aku boleh duduk di sini?”

Ia menggeser tubuh.

“Boleh.”

Aku duduk di lantai dekat sofa.

Ia mengambil bantal tambahan.

“Naik sini saja.”

Aku tidur di ujung sofa dengan lampu ruang tengah menyala.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke usia lima tahun, aku tidur sampai pagi.

Dua hari kemudian, petugas datang lagi.

Penyelidikan mulai menemukan bahwa Darto bukan sekadar teman Ayah.

Nama itu muncul dalam komunikasi mengenai utang yang sudah menumpuk berbulan-bulan.

Ayah pernah meminjam uang dari beberapa orang untuk berjudi kartu dan menutup cicilan lama dengan utang baru. Jumlahnya tidak sampai membuat seseorang kaya atau miskin seketika, tetapi cukup besar untuk orang dengan penghasilan tidak tetap seperti Ayah.

Yang paling buruk bukan utangnya.

Yang paling buruk adalah cara ia berusaha menyelesaikannya.

Dalam beberapa pesan yang diperiksa, Ayah berkali-kali membicarakan “anak perempuan” dengan Darto.

Ia tidak menulis terang-terangan bahwa aku akan dijual.

Orang jarang sebodoh itu.

Namun ada kalimat tentang “dibawa ke luar kota”, “keluarga yang mau menerima”, dan “uang sisanya dianggap lunas setelah anak sampai”.

Petugas tidak menunjukkan isi lengkap kepadaku.

Aku mengetahuinya dari percakapan Om Hendra dengan salah satu petugas ketika mereka mengira aku sedang tidur.

Ada pula keterangan dari Bu Aminah, pemilik warung.

Dua laki-laki memang datang pagi itu.

Mereka membeli rokok, duduk cukup lama, lalu salah satunya bertanya apakah rumah Arman dekat.

“Katanya mau menjemput anak saudara,” cerita Bu Aminah.

Ia tidak curiga saat itu.

Setelah Om Hendra datang dan bertanya siapa mereka, keduanya langsung masuk mobil dan pergi.

Keterangan itu bukan bukti tunggal yang ajaib.

Tetapi digabungkan dengan pesan, waktu yang sama, dan penjelasan Ayah yang berubah-ubah, semuanya menjadi jauh lebih serius.

Darto akhirnya ditemukan beberapa hari kemudian.

Aku tidak pernah bertemu dengannya.

Aku tidak ingin.

Aku hanya tahu penyelidikan berkembang dan Ayah tidak pulang ke kompleks.

Beberapa tetangga terus datang membawa makanan atau sekadar melihatku.

Bu Lastri membawa telur rebus.

Bu Yani memberiku sandal baru karena sandal lamaku sudah tipis.

Aku menerima semuanya dengan bingung.

Di kehidupan pertama, orang-orang di kompleks juga ada.

Mereka hanya tidak tahu aku sedang dikirim keluar untuk menghilang.

Aku dulu sering membenci mereka karena tidak mencari cukup lama.

Sekarang aku mengerti betapa mudahnya kejahatan disembunyikan ketika orang yang seharusnya melindungi seorang anak justru membantu membuatnya hilang.

Sementara itu, masalah Om Hendra dan Tante Rina juga tidak menghilang.

Seminggu setelah kejadian, Tante Rina datang.

Ia membawa hasil pemeriksaan klinik.

Ia memang hamil.

Om Hendra membaca kertas itu lama.

Tante Rina duduk di kursi.

“Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Om Hendra meletakkan kertas di meja.

“Aku juga tidak.”

“Aku takut.”

“Aku juga.”

“Mas masih sayang aku?”

Pertanyaan itu membuatku yang sedang menggambar di meja makan berhenti menggerakkan pensil.

Om Hendra menatap istrinya.

“Aku tidak tahu.”

Tante Rina menangis.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku menyesal.”

“Aku percaya kamu menyesal sekarang.”

“Terus?”

Om Hendra mengusap wajah.

“Menyesal tidak membuat aku tiba-tiba bisa percaya lagi.”

Tante Rina tidak membantah.

Ia hanya menangis pelan.

Mungkin ia datang berharap permintaan maaf akan membuka pintu.

Ternyata tidak.

Om Hendra meminta mereka hidup terpisah dulu dan mulai mengurus perpisahan mereka secara resmi.

Ia tidak meneriaki Tante Rina.

Tidak mempermalukannya di depan kompleks.

Tidak menyebarkan cerita lebih jauh.

“Orang sudah tahu cukup banyak,” katanya ketika seorang tetangga menyarankan agar semua pesan Tante Rina diumumkan supaya ia malu.

“Aku tidak perlu membuatnya lebih besar.”

Aku mengingat kalimat itu.

Di kehidupan pertama, aku tidak pernah melihat orang dewasa menahan diri ketika memiliki kesempatan membalas.

Beberapa minggu kemudian, hidup kami mulai berubah bentuk.

Om Hendra tidak lagi mengambil perjalanan truk sejauh biasanya.

Pendapatannya berkurang.

Suatu malam aku mendengar ia menghitung uang di meja.

Ada biaya rumah.

Makan.

Bensin.

Kebutuhanku.

Ia menghela napas beberapa kali.

Aku berdiri di pintu.

“Om.”

Ia buru-buru menutup buku kecil.

“Belum tidur?”

Aku menunjuk uang itu.

“Aku bikin Om susah?”

Wajahnya langsung berubah.

“Siapa bilang?”

“Om kerja jadi sedikit.”

Ia terdiam beberapa saat.

“Memang.”

Aku menunduk.

“Kalau aku pergi…”

“Jangan selesaikan kalimat itu.”

Aku mengangkat kepala.

Om Hendra menarik kursi untukku.

“Nisa, dengar. Orang dewasa harus mengatur pekerjaan karena ada anak di rumah. Itu bukan kesalahan anak.”

“Tapi uang Om jadi sedikit.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus Om menyesuaikan.”

Ia menunjukkan buku di meja.

“Lihat. Ini uang sewa. Ini makan. Ini bensin. Ini tabungan.”

Aku tidak terlalu memahami angka.

Tetapi aku mengerti maksudnya.

Tidak semua pengorbanan harus dibayar dengan rasa bersalah.

Om Hendra kemudian mendapat rute yang lebih pendek, meski bayarannya memang tidak sebesar perjalanan antarkota jauh. Ia lebih sering pulang sore.

Untuk pertama kalinya aku memiliki jadwal yang bisa ditebak.

Pagi, sarapan.

Siang, bermain di rumah Bu Lastri jika Om belum pulang.

Sore, Om datang.

Malam, pintu dikunci dari dalam.

Hal-hal kecil.

Tetapi bagiku, itu seperti membangun dunia baru dari bata satu per satu.

Ayah sempat meminta bertemu denganku.

Permintaan itu disampaikan melalui petugas.

Ketika ditanya apakah aku mau, aku langsung berkata tidak.

Namun beberapa hari kemudian, aku berubah pikiran.

Bukan karena rindu.

Aku ingin melihat wajahnya ketika ia tidak lagi bisa menyuruhku ke mana pun.

Pertemuan dilakukan dengan pendamping.

Ayah duduk di seberang meja.

Ia tampak jauh lebih tua.

“Nisa.”

Aku tidak menjawab.

“Ayah salah.”

Aku masih diam.

“Ayah sedang terdesak.”

Aku menatapnya.

“Karena utang?”

Ia mengangguk.

“Ayah tidak benar-benar mau menyakiti kamu.”

Aku bertanya, “Terus kenapa orang itu menunggu?”

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara.

“Ayah pikir mereka cuma akan membawa kamu tinggal dengan keluarga lain.”

“Jauh?”

Ia menunduk.

“Untuk sementara.”

“Kenapa Ayah dapat uang?”

Ia memandangku cepat.

“Siapa bilang?”

Aku menggeser kakiku di bawah kursi.

“Om bilang polisi menemukan pesan.”

Ayah mengembuskan napas.

“Orang dewasa punya masalah yang anak kecil belum mengerti.”

Kalimat itu dulu mungkin akan membuatku diam.

Sekarang tidak.

“Kalau aku pergi, Ayah mau cari aku?”

Ayah tidak langsung menjawab.

Itulah jawaban sebenarnya.

Aku berdiri dari kursi.

Pendamping bertanya, “Nisa mau selesai?”

Aku mengangguk.

Ayah panik.

“Nisa, tunggu.”

Aku berhenti.

Ia berkata, “Ayah tetap ayahmu.”

Aku menatapnya cukup lama.

Kemudian aku mengatakan satu-satunya hal yang selama bertahun-tahun ingin kuucapkan.

“Aku tahu.”

Tidak ada “tapi”.

Tidak ada pidato.

Aku hanya berbalik dan pergi.

Menjadi ayahku adalah fakta biologis.

Menjadi orang yang aman bagiku adalah hal lain.

Penyelidikan terhadap Ayah dan Darto berlanjut.

Aku tidak mengikuti setiap detailnya.

Aku juga tidak membutuhkan penjelasan hukum panjang untuk mengetahui bahwa apa yang mereka rencanakan bukan urusan utang biasa.

Kasusnya diproses berdasarkan bukti komunikasi, keterangan saksi, dan upaya penjemputan yang sudah disiapkan.

Beberapa hal membutuhkan waktu.

Pemeriksaan tambahan.

Pencarian orang lain yang terlibat.

Prosedur yang tidak selesai dalam semalam.

Tetapi satu hal sudah pasti.

Ayah tidak lagi memiliki kesempatan membawa aku pergi sesuka hati.

Beberapa bulan kemudian, penetapan mengenai pengasuhanku sementara diperpanjang.

Aku tetap tinggal bersama Om Hendra.

Saat seseorang dari layanan sosial bertanya apakah aku nyaman, aku menunjuk kamar kecilku.

“Aku bisa kunci pintunya sendiri.”

Perempuan itu tersenyum.

“Kenapa itu penting?”

Aku memikirkan jawabannya.

“Aku suka tahu siapa yang boleh masuk.”

Ia tidak menertawakan jawabanku.

“Bagus.”

Om Hendra juga berubah.

Pada bulan-bulan awal ia jarang berbicara tentang Tante Rina.

Setelah proses perpisahan mereka berjalan, Tante Rina beberapa kali menghubunginya mengenai pemeriksaan kehamilan dan hal-hal yang memang perlu mereka bicarakan.

Om Hendra tetap menjawab seperlunya.

Ia tidak kembali tinggal bersamanya.

Suatu malam aku bertanya, “Om benci Tante?”

Ia sedang memperbaiki kipas angin.

Tangannya berhenti.

“Tidak tahu.”

“Kalau tidak benci, kenapa tidak pulang sama Tante?”

Ia tersenyum tipis.

“Tidak membenci seseorang bukan berarti kita harus hidup dengannya.”

Aku mencerna kalimat itu.

“Kalau Tante minta maaf?”

“Dia sudah minta maaf.”

“Terus?”

“Maaf itu penting. Tapi setelah itu orang harus lihat apakah yang rusak masih bisa diperbaiki.”

“Bisa?”

Om Hendra menatap baling-baling kipas di tangannya.

“Tidak semua benda rusak harus dipasang kembali seperti semula.”

Aku melihat kipas itu.

“Kipasnya?”

Ia tertawa kecil.

“Kalau kipas ini masih bisa.”

Aku ikut tersenyum.

Itu pertama kalinya aku tertawa tanpa merasa bersalah sejak kembali.

Ketika waktu berjalan, aku mulai mengalami hal yang paling aneh dari semuanya.

Aku kembali menjadi anak-anak.

Tidak sepenuhnya.

Kenangan kehidupan sebelumnya tetap ada.

Aku masih terbangun karena mimpi buruk.

Aku masih panik jika ada mobil berhenti terlalu lama dekat warung.

Aku tidak suka orang asing memegang tanganku.

Namun suatu sore Bu Yani memberi kami karet gelang dan mengajarkan permainan yang biasa dimainkan anak-anak kompleks.

Aku kalah.

Lalu mencoba lagi.

Beberapa minggu kemudian aku menang melawan anak kelas satu yang tinggal di rumah nomor sembilan dan merasa begitu bangga sampai berlari memberi tahu Om Hendra.

Di tengah cerita, aku berhenti.

Mengapa hal sekecil itu membuatku senang?

Baru kemudian aku sadar.

Di kehidupan sebelumnya, umur lima tahun adalah hari terakhir aku menjadi anak.

Setelah itu, semua yang kulakukan hanya bertahan hidup.

Sekarang, mungkin aku diberi kesempatan untuk menjalani bagian yang hilang.

Satu tahun setelah hari di rumah Tante Rina, kompleks kami tidak lagi membicarakan skandal itu setiap hari.

Orang punya masalah baru.

Atap bocor.

Harga kebutuhan naik.

Anak Bu Lastri masuk sekolah.

Pak RT memperbaiki saluran air.

Nama Ayah sesekali masih muncul, tetapi tidak lagi menguasai hidupku.

Itulah hal yang paling mengejutkan.

Aku pernah mengira balas dendam terbaik adalah melihatnya hancur.

Ternyata bukan.

Hal terbaik adalah bisa melewati satu hari penuh tanpa memikirkannya.

Om Hendra masih bekerja sebagai sopir.

Rumah kami tidak berubah menjadi besar.

Tidak ada keberuntungan mendadak.

Tidak ada orang kaya datang menyelamatkan kami.

Ada bulan ketika uang harus dihitung lebih ketat.

Ada malam ketika Om pulang kelelahan.

Ada hari ketika aku menangis karena mimpi buruk.

Ada juga saat Om duduk sendirian terlalu lama karena sesuatu mengingatkannya pada pernikahannya.

Hidup tidak menjadi sempurna.

Hidup hanya menjadi milik kami sendiri.

Suatu pagi sebelum berangkat sekolah, aku menemukan beberapa lembar uang di meja.

Om Hendra menunjuknya.

“Buat beli buku gambar nanti.”

Aku menatap uang itu.

Dulu, uang dari Ayah berarti aku harus pergi ke warung dan tidak pernah pulang.

Tanganku tidak langsung mengambilnya.

Om Hendra memperhatikan.

“Kenapa?”

Aku bertanya, “Aku belinya sama siapa?”

“Kalau mau, nanti sore sama Om.”

“Om ikut?”

“Iya.”

Aku mengambil uang itu.

“Kalau begitu boleh.”

Sore harinya kami berjalan ke toko alat tulis yang letaknya tidak jauh dari warung tempat dua laki-laki pernah menungguku.

Aku sempat berhenti ketika melihat warung Bu Aminah.

Om Hendra ikut berhenti.

“Mau balik?”

Aku melihat jalan.

Tidak ada mobil hitam.

Tidak ada orang menungguku.

Bu Aminah sedang menyusun botol minuman dan melambaikan tangan.

“Nisa! Pulang sekolah?”

Aku mengangguk.

Om Hendra tidak menarik tanganku.

Ia membiarkanku memutuskan.

Aku maju satu langkah.

Lalu satu lagi.

Kami melewati warung itu.

Di toko alat tulis, aku memilih buku gambar dengan sampul bunga matahari.

Saat pulang, Om Hendra hendak berjalan ke rumah Bu Lastri untuk mengambil paket.

Aku masuk lebih dulu.

Kunci rumah tergantung di leherku dengan tali kecil.

Aku membuka pintu sendiri.

Setelah masuk, aku menoleh kepada Om Hendra.

“Aku bisa.”

Ia mengangguk.

“Tahu.”

Aku menutup pintu.

Kemudian, seperti yang selalu kulakukan setiap malam, aku memutar kunci dari sisi dalam.

Bunyi kecil itu terdengar biasa.

Klik.

Namun bagiku, itulah bunyi kehidupan yang akhirnya berbeda.

Menurutmu, apakah Nisa benar menolak hubungan dengan ayahnya meski ia tetap keluarga kandungnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.