Tunangan Saya Membiarkan Mahasiswinya Tinggal di Rumah Dinasnya, Lalu Saya Menemukan Dana Pernikahan Kami Hilang

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 114 tayangan
Tunangan Saya Membiarkan Mahasiswinya Tinggal di Rumah Dinasnya, Lalu Saya Menemukan Dana Pernikahan Kami Hilang
Indeks

Tunangan Saya Membiarkan Mahasiswinya Tinggal di Rumah Dinasnya, Lalu Saya Menemukan Dana Pernikahan Kami Hilang

Bagian 1

Ketika seorang kenalan lama berkata bahwa Profesor Arga mencariku selama lima tahun sampai “makan pun tidak tenang”, aku hanya tersenyum tipis. Beberapa detik kemudian, pria yang dulu menjadi tunanganku itu masuk ke ruang seminar, dan kursi kosong di sebelahku mendadak terasa seperti jebakan yang sengaja disiapkan semua orang.

Namaku Nadia Pramesti. Lima tahun terakhir aku bekerja di Singapura dan kini menangani investasi untuk beberapa laboratorium riset di Asia Tenggara. Aku kembali ke Bandung untuk sebuah seminar teknologi medis karena salah satu pusat riset yang sedang kami pertimbangkan bekerja sama kebetulan menjadi peserta.

Aku tidak tahu Arga akan datang.

Atau mungkin aku hanya tidak pernah repot mencari tahu.

Tunangan Saya Membiarkan Mahasiswinya Tinggal di Rumah Dinasnya, Lalu Saya Menemukan Dana Pernikahan Kami Hilang

Begitu aku masuk ke ruang pertemuan hotel, beberapa wajah lama langsung mengenaliku.

“Nadia?”

“Ya ampun, benar Nadia!”

Seorang dosen senior yang dulu sering bertemu denganku ketika aku masih menunggu Arga selesai mengajar menepuk lenganku sambil tertawa.

“Kamu benar-benar menghilang. Profesor Arga mencari kamu ke mana-mana. Lima tahun, lho. Orang-orang sampai kasihan melihatnya.”

Aku belum sempat menjawab ketika pintu ruangan terbuka.

Arga masuk bersama beberapa peneliti.

Lima tahun lalu dia masih dosen muda yang lebih sering membawa tas laptop lusuh daripada koper kerja. Sekarang orang-orang memanggilnya profesor, dua orang berjalan di sampingnya sambil membicarakan jadwal presentasi, dan panitia langsung menghampiri.

Wajahnya berubah.

Bukan menjadi asing, justru terlalu kukenal.

Rahangnya masih sama. Cara berjalan dengan bahu sedikit condong ke depan saat sedang berpikir juga sama. Hanya rambut di pelipisnya mulai terselip beberapa helai putih dan ada garis tipis di antara alis yang dulu tidak ada.

Saat melihatku, langkahnya berhenti.

Orang-orang di sekeliling kami rupanya masih mengingat hubungan kami. Bahkan sebelum aku sempat memilih tempat duduk lain, seseorang sudah dengan riang memindahkan kartu nama dan berkata, “Nadia duduk di sini saja. Biar teman lama bisa mengobrol.”

Kursi itu tepat di sebelah Arga.

Aku tidak protes.

Aku duduk, membuka tablet, lalu memeriksa materi seminar.

Arga tidak langsung bicara.

Aku bisa merasakan pandangannya beberapa kali beralih kepadaku sebelum akhirnya dia memanggil dengan suara rendah.

“Nadia.”

Aku menoleh.

“Ya?”

Bibirnya bergerak, tetapi beberapa detik berlalu sebelum keluar pertanyaan sederhana.

“Selama ini kamu baik-baik saja?”

“Baik.”

Hanya itu.

Jawabanku terdengar seperti jawaban kepada orang yang baru kukenal pagi itu.

Padahal telapak tanganku di bawah meja sudah dingin.

Aku dan Arga bukan pasangan yang bertemu saat dewasa lalu jatuh cinta dalam waktu singkat. Kami tumbuh di kompleks perumahan yang sama. Orang tua kami saling mengenal. Kami pernah berangkat sekolah dengan angkot yang sama, belajar menghadapi ujian masuk universitas di meja makan rumahku, lalu saling menyaksikan kehidupan berubah sedikit demi sedikit.

Ketika akhirnya kami berpacaran setelah lulus kuliah, hampir tidak ada seorang pun yang terkejut.

Beberapa tahun kemudian, kami mempertemukan keluarga secara resmi dan bertunangan.

Aku bekerja di perusahaan investasi yang mulai fokus pada bidang teknologi dan kesehatan. Arga memilih jalur akademik. Ketika karier kami mulai berkembang, waktu bersama justru makin sedikit.

Aku sering keluar kota.

Arga sibuk mengajar, meneliti, dan mengejar publikasi.

Saat itu aku tidak menganggapnya masalah besar. Kami sudah mengenal satu sama lain hampir seumur hidup. Aku merasa hubungan kami tidak perlu dibuktikan dengan makan malam setiap minggu atau foto bersama di media sosial.

Lalu nama Mira mulai muncul.

Mira Kurnia adalah salah satu mahasiswi Arga.

Awalnya aku hanya mendengarnya sambil lalu.

“Mira belum bayar biaya semester.”

“Mira tidak punya keluarga dekat.”

“Mira sedang cari pekerjaan tambahan.”

“Mira hampir berhenti kuliah.”

Arga bercerita bahwa Mira dibesarkan oleh kerabat jauh setelah kedua orang tuanya meninggal. Prestasinya bagus, tetapi kondisi ekonominya tidak stabil.

Aku ikut kasihan.

Bahkan ketika Arga mengusulkan agar kami membantu biaya kuliahnya, aku setuju.

Beberapa kali justru aku yang mentransfer uang karena Arga lupa.

Yang mulai menggangguku bukan bantuan itu.

Arga tidak pernah mau membicarakan hubungan kami di kampus.

Pernah sekali aku datang membawakan dokumen yang tertinggal dan tanpa sengaja menyebut rencana pernikahan kami di depan dua asistennya.

Setelah mereka pergi, Arga langsung menegurku.

“Nad, kalau bisa jangan bahas urusan pribadi di kampus.”

“Kenapa?”

“Aku dosen. Aku tidak suka kehidupan pribadi jadi bahan pembicaraan mahasiswa.”

Saat itu alasannya terdengar masuk akal.

Masalahnya, aturan itu hanya berlaku untukku.

Beberapa bulan kemudian aku melihat Mira menggandeng lengannya di depan gedung fakultas sambil meminta dibelikan makan karena katanya belum sempat sarapan.

Arga tidak menepis tangannya.

Dia bahkan tertawa.

Ketika kutanyakan, jawabannya sederhana.

“Dia memang begitu. Masih seperti anak kecil.”

Aku mencoba menerima penjelasan itu.

Sampai pada hari peringatan hubungan kami.

Aku sudah memesan tempat makan sejak dua minggu sebelumnya. Arga datang terlambat hampir empat puluh menit. Kami bahkan belum selesai memesan makanan ketika ponselnya berbunyi.

Mira menelepon.

Katanya demam dan sendirian di kos.

Arga berdiri.

“Aku ke sana sebentar.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

“Nad, dia sendirian.”

“Bawa dia ke klinik atau pesan kendaraan. Kita sudah merencanakan malam ini.”

“Dia sedang sakit.”

Aku tidak tahu berapa banyak kekecewaan yang sudah menumpuk sampai akhirnya malam itu aku mengatakan sesuatu yang selama ini selalu kutahan.

“Kalau begitu kita putus saja.”

Arga membeku.

Aku berdiri mengambil tas.

Dia mengejarku sampai area parkir.

Pria yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi itu tiba-tiba berlutut di dekat mobilku.

Aku bahkan masih ingat ekspresi petugas parkir yang buru-buru membuang pandangan.

“Nadia, jangan.”

Matanya merah.

“Aku tidak punya perasaan apa pun kepada Mira.”

“Bangun, Ga.”

“Aku cuma kasihan. Dia tidak punya orang tua. Kalau bukan dosennya yang memperhatikan, siapa lagi?”

Aku memintanya berdiri berkali-kali.

Dia tidak mau.

“Aku sayang kamu. Dari dulu cuma kamu. Jangan selesaikan semuanya karena ini.”

Kenangan kami sejak kecil seperti menumpuk di kepalaku sekaligus.

Akhirnya aku mengalah.

Itulah kesalahanku.

Bukan karena aku memaafkan satu kejadian, tetapi karena setelah itu aku terus menggunakan permintaan maaf pertamanya untuk menjelaskan semua kejadian berikutnya.

Ulang tahunku pernah dia tinggalkan karena Mira meminta ditemani mengurus berkas beasiswa.

Akhir pekan yang sudah kami rencanakan batal karena Mira bermasalah dengan pemilik kos.

Pernah pula Arga meninggalkan makan malam keluarga lebih dulu karena Mira mengatakan laptopnya rusak sementara ada tugas yang harus dikumpulkan.

Setiap kali aku marah, Arga meminta maaf.

Setiap kali aku curiga, dia mengatakan hal yang sama.

“Aku dosennya.”

“Dia tidak punya siapa-siapa.”

“Kamu tahu aku sayang kamu.”

Dan aku selalu berhenti berdebat.

Sampai suatu hari perjalanan dinasku selesai dua hari lebih cepat.

Aku sengaja tidak memberi tahu Arga.

Pesawatku mendarat menjelang siang. Aku bahkan belum pulang ke apartemen. Dengan koper kecil masih di mobil sewaan, aku langsung menuju kampus karena ingin mengejutkannya.

Arga mendapat fasilitas rumah dinas kecil di area dekat kampus untuk dosen dan peneliti yang sering bekerja sampai malam.

Aku pernah beberapa kali datang ke sana.

Tempat itu nyaris tanpa dekorasi.

Dinding putih, rak hitam, meja kerja, satu sofa abu-abu.

Arga bahkan pernah memindahkan vas kecil yang kubelikan karena katanya mengganggu susunan meja.

Hari itu, ketika pintunya terbuka, aku sempat mengira salah rumah.

Ada bantalan berwarna krem di sofa.

Tirai baru.

Beberapa foto kecil ditempel dekat meja.

Di rak yang dulu hanya berisi jurnal sekarang ada boneka kain dan kotak penyimpanan berwarna pastel.

Mira berdiri di dekat kamar sambil memegang gantungan pakaian.

Dan Arga berada di tengah ruang tamu, memegang boneka kecil berbentuk kelinci.

“Yang ini mau ditaruh mana?” tanyanya kepada Mira.

Nada suaranya begitu ringan.

Begitu akrab.

Mira yang pertama melihatku.

Wajahnya berubah.

Arga berbalik.

“Nadia?”

Aku tidak masuk.

Aku berdiri tepat di luar ambang pintu.

“Muridmu kenapa ada di sini?”

Arga meletakkan boneka itu seolah pertanyaanku sama sekali tidak sulit dijawab.

“Mira keluar dari kos lamanya.”

“Lalu?”

“Dia belum dapat tempat baru.”

Aku menunggu penjelasan berikutnya.

Tidak ada.

“Jadi dia tinggal di rumah dinasmu?”

Arga mengembuskan napas.

“Mira tidak punya orang tua. Kondisi keuangannya juga lagi sulit. Aku juga jarang pakai tempat ini. Daripada kosong, apa masalahnya dia tinggal sementara?”

Kondisi keuangannya sulit?

Aku dan Arga sudah membayar sebagian besar biaya kuliahnya lebih dari setahun.

Dan kalimat bahwa Arga jarang tinggal di rumah dinas itu hampir membuatku tertawa.

Dia jarang tinggal di sana ketika aku sedang berada di Bandung.

Setiap kali aku keluar kota, dia justru sering mengatakan akan menginap di kampus karena pekerjaan menumpuk.

Aku menatap ruang yang sekarang terasa lebih hangat daripada tempat mana pun yang pernah diizinkan Arga kusentuh.

Aku ingin bertanya apakah dia sadar bagaimana seorang dosen yang tinggal satu atap dengan mahasiswinya akan terlihat di mata orang.

Aku ingin bertanya kenapa perempuan yang akan dinikahinya bahkan tidak boleh memindahkan sebuah buku di meja, sedangkan Mira bebas mengganti tirai.

Tapi ketika membuka mulut, aku mendapati diriku terlalu lelah untuk bertengkar.

“Tidak apa-apa.”

Arga mengernyit.

“Nad?”

“Aku bilang tidak apa-apa.”

Aku berbalik sebelum wajahku berubah di depan mereka.

Di pintu keluar area kampus, petugas keamanan menghentikanku.

“Maaf, Mbak. Tadi masuk sebagai tamu, ya? Bisa isi buku kunjungan dulu?”

Aku memegang pulpen yang diberikan kepadaku.

Nama.

Nomor telepon.

Orang yang dikunjungi.

Tiga tahun kami bertunangan.

Aku adalah perempuan yang rencananya akan menjadi istrinya.

Tapi di tempat Arga bekerja, aku tetap tamu yang harus menuliskan nama setiap kali datang.

Sementara mahasiswinya tinggal di rumah dinasnya dan memindahkan barang-barangnya tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun.

Aku menulis namaku sampai selesai.

Setelah kembali ke kantor, aku membuka laptop.

Di kotak draf masih ada email panjang kepada direkturku.

Aku sudah menulis alasan kenapa tidak bisa menerima penempatan ke Singapura. Tentang rencana pernikahan. Tentang orang tua. Tentang kehidupan yang sedang kubangun di Bandung.

Aku membaca semuanya sekali.

Lalu memblok seluruh isi email dan menghapusnya.

Balasan yang kukirim hanya satu kalimat.

“Saya menerima penugasan tersebut.”

Keputusan itu hanya membutuhkan beberapa detik.

Urusan setelahnya ternyata jauh lebih banyak.

Perusahaan membantu visa kerja, apartemen, dan dokumen keberangkatan. Tetapi beberapa hal yang terhubung dengan Arga tetap harus kuurus sendiri.

Salah satunya rekening bersama.

Kami membuka rekening itu setelah bertunangan. Setiap bulan kami menyetor sejumlah uang untuk rencana pernikahan, tempat tinggal, dan kebutuhan setelah menikah.

Keesokan harinya aku mengambil cuti.

Aku berniat menarik bagian uangku, menghentikan setoran rutin, lalu menyelesaikan hubungan keuangan itu sebelum pergi.

Petugas bank memeriksa datanya beberapa kali.

Kemudian dia menatapku.

“Maaf, Bu Nadia. Saldo rekening ini sekarang nol.”

Aku mengira salah dengar.

“Nol?”

“Iya.”

Aku menyebut perkiraan saldo terakhir.

Selama hampir tiga tahun, jumlah yang terkumpul seharusnya lebih dari Rp600 juta.

Petugas itu kembali memeriksa layar.

“Bulan lalu ada pemindahan seluruh saldo.”

Aku merasakan jemariku menegang di atas meja.

“Ke mana?”

Dia menjelaskan sebatas informasi yang memang dapat kulihat sebagai pemilik rekening.

Dana dipindahkan sekaligus ke sebuah rekening lain yang juga mencantumkan Arga sebagai salah satu pemilik.

Ada satu nama lain pada rekening tujuan, tetapi petugas tersebut tidak dapat memberikan detail identitas orang itu kepadaku.

Aku meminta cetakan mutasi yang menjadi hakku, memasukkannya ke dalam tas, lalu keluar.

Di parkiran aku menghubungi Dimas, teman lama yang selama beberapa tahun membantu administrasi pendanaan pendidikan dan pernah mengenal skema bantuan yang dibuat Arga untuk Mira.

Aku mengirimkan nomor referensi serta potongan informasi rekening tujuan yang tercantum pada mutasiku.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian dia menelepon.

“Nad.”

Nada suaranya langsung membuatku tahu aku tidak akan menyukai jawabannya.

“Rekening itu sudah dipakai Arga sejak sekitar dua tahun lalu untuk mengelola dana bersama Mira Kurnia. Nama mereka berdua tercantum dalam dokumen pendukung yang pernah dipakai untuk urusan biaya pendidikan Mira.”

Aku tidak menjawab.

Dimas melanjutkan pelan.

“Nomor rekeningnya cocok dengan yang kamu kirim.”

Jadi dua tahun sebelum aku berdiri di bank itu, Arga sudah memiliki rekening yang terhubung dengan Mira.

Dan bulan lalu, seluruh uang yang kukumpulkan bersama tunanganku untuk kehidupan kami setelah menikah telah dipindahkan ke sana.

Aku masih memegang ponsel ketika suara kendaraan di jalan, klakson dari arah gerbang parkir, bahkan suara Dimas memanggil namaku perlahan terasa menghilang.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku tidak menelepon Arga.

Aku kembali masuk ke bank.

Kali ini aku meminta salinan mutasi lengkap yang bisa kubawa, menghentikan setoran otomatis dari rekening gajiku, dan menanyakan prosedur agar tidak ada lagi instruksi baru yang menggunakan persetujuanku sebagai pemilik rekening bersama.

Petugas bank menjelaskan satu per satu.

Aku mendengarkan sambil mencatat.

Aneh rasanya.

Sehari sebelumnya aku masih perempuan yang memilih diam karena takut pertengkaran kami berulang. Pagi itu aku bahkan tidak tahu apakah hubungan kami benar-benar sudah selesai.

Tetapi tanganku tidak gemetar ketika menandatangani formulir penghentian setoran.

Sesampainya di apartemen, aku membuka mutasi tiga tahun terakhir.

Aku tidak mencari drama.

Aku hanya menghitung.

Sebagian uang masuk dari Arga. Sebagian dariku. Ada bonus tahunan, beberapa transfer tambahan setelah kami membatalkan liburan, juga uang yang dulu kusisihkan karena kupikir akan digunakan untuk uang muka rumah.

Total sebelum dikosongkan: Rp648.700.000.

Bagian yang berasal langsung dari rekening pribadiku sedikit lebih besar karena penghasilanku memang lebih tinggi.

Aku mengambil foto seluruh dokumen lalu menyimpannya di penyimpanan digital pribadiku.

Setelah itu barulah aku menelepon Arga.

Dia mengangkat pada dering kedua.

“Nad? Kamu kemarin kenapa langsung pergi?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

“Uang rekening kita kamu pindahkan?”

Hening sebentar.

Kemudian terdengar kursi bergeser.

“Kamu ke bank?”

“Jawab saja.”

“Iya.”

Aku menatap angka Rp648.700.000 yang tertera di kertas.

“Ke rekeningmu dengan Mira?”

Dia kembali diam.

Kali ini lebih lama.

“Nadia, dengarkan dulu.”

Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar.

“Aku sedang dengar.”

“Mira sedang kesulitan. Aku pikir daripada uang itu cuma diam…”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Cuma diam?”

“Kita belum jadi beli rumah. Pernikahan juga belum menentukan tanggal pasti. Mira butuh biaya hidup dan beberapa kebutuhan pendidikan.”

“Jadi kamu memindahkan semuanya?”

“Aku tidak menghabiskannya.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

“Nanti aku ganti.”

Aku memejamkan mata.

Ada banyak jawaban yang mungkin membuatku marah.

Entah bagaimana, “nanti aku ganti” justru membuat semuanya terasa selesai.

Dia benar-benar menganggap masalahnya hanya uang.

“Kenapa harus ke rekening bersama kamu dan dia?”

“Aku yang mengurus kebutuhannya. Lebih mudah begitu.”

“Sejak kapan?”

“Nad…”

“Sejak kapan rekening itu ada?”

Dia tidak segera menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya dari Dimas, tapi aku ingin mendengarnya sendiri.

“Sekitar dua tahun.”

Dua tahun.

Selama dua tahun itu Arga berkali-kali duduk bersamaku membicarakan masa depan kami.

Kami pernah menghitung biaya pesta.

Pernah melihat rumah.

Pernah berdebat apakah lebih baik tinggal dekat orang tuaku atau dekat kampus.

Pada saat yang sama, dia memiliki rekening bersama perempuan lain yang tidak pernah sekalipun dia sebutkan kepadaku.

“Kamu mau bilang apa?” tanyaku.

“Aku tahu aku salah karena tidak cerita. Tapi kamu selalu mendukung pendidikan Mira. Aku pikir kamu akan mengerti.”

“Kalau kamu yakin aku akan mengerti, kenapa kamu tidak bertanya?”

Tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya aku tidak berteriak.

Aku juga tidak menangis.

Aku hanya bertanya, “Waktu kamu memindahkan uang itu, kamu sempat berpikir itu juga uangku?”

“Tentu.”

“Lalu?”

“Aku mau jelaskan setelah semuanya tenang.”

Kalimat itu terdengar sangat sederhana.

Seolah uang ratusan juta bisa dipindahkan lebih dulu dan persetujuanku diminta belakangan.

Aku menutup dokumen di meja.

“Aku mengerti.”

“Nadia, jangan begitu. Kita ketemu malam ini.”

“Tidak perlu.”

“Aku ke apartemenmu.”

“Aku tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.”

Aku menutup telepon.

Hari itu aku mengganti kata sandi beberapa akun, menghapus Arga sebagai kontak darurat perusahaan, memindahkan dokumen pribadi yang masih kusimpan di tempat yang pernah dia akses, dan memberi tahu pihak apartemen bahwa kartu akses cadangan atas namanya tidak boleh diperpanjang.

Aku tidak merasa kuat.

Aku justru beberapa kali berhenti karena tanganku mendadak tidak bisa bekerja.

Sore hari aku menemukan foto lama kami di dalam sebuah folder.

Arga berusia dua puluh tiga tahun, berdiri di sampingku setelah wisuda, memegang dua gelas minuman dan tersenyum ke kamera.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Lalu menutup folder tanpa menghapusnya.

Malamnya dia datang.

Petugas lobi menelepon.

“Bu Nadia, ada Pak Arga. Katanya tunangan Ibu.”

Aku terdiam beberapa detik.

“Jangan beri akses naik.”

Kurang dari satu menit kemudian ponselku dipenuhi panggilan.

Aku mematikannya.

Dua hari setelah itu, aku mengembalikan cincin pertunangan melalui ibunya.

Aku tidak mengirim surat panjang.

Hanya sebuah catatan pendek.

“Aku tidak akan melanjutkan pernikahan ini. Uang yang menjadi bagianku akan diurus terpisah. Tolong jangan mencari alasan untuk keputusan yang kamu buat sendiri.”

Aku juga menyertakan alamat kantor pengacara yang membantuku mengurus penyelesaian keuangan.

Arga datang ke kantorku keesokan harinya.

Aku sedang berada di kantor imigrasi mengurus dokumen.

Dia datang lagi ke apartemen.

Aku sedang bertemu pemilik unit untuk menyelesaikan sewa.

Dia mengirim email dari alamat lain.

Tidak kubalas.

Hari keberangkatanku tiba sebelas hari setelah aku menemukan saldo rekening itu kosong.

Di Bandara Soekarno-Hatta, ketika petugas meminta paspor dan boarding pass, aku baru menyadari bahwa selama hampir dua minggu aku tidak pernah menanyakan satu pun pertanyaan yang dulu selalu membuatku kehilangan tidur.

Apakah Arga mencintai Mira?

Apakah mereka pernah melakukan sesuatu di belakangku?

Apakah dia akan memilihku kalau aku memberinya satu kesempatan lagi?

Aku tidak membutuhkan jawabannya untuk pergi.

Pesawatku berangkat malam itu.

Dan baru setelah mendarat di Singapura aku tahu, dari pesan ibuku, bahwa Arga datang ke rumah orang tuaku beberapa jam setelah pesawatku lepas landas.

Dia baru saja mengetahui bahwa aku benar-benar telah meninggalkan Indonesia.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Lima tahun kemudian, pria itu duduk kembali di sebelahku seolah jarak antara kami hanya selebar sebuah meja seminar.

Presentasi pertama dimulai.

Aku memusatkan perhatian pada layar.

Arga beberapa kali bergerak seperti ingin bicara, tetapi akhirnya menahan diri.

Ketika sesi pertama selesai, aku langsung berdiri.

“Nadia.”

Aku berhenti karena dia memanggil namaku tepat sebelum aku bergabung dengan kolega dari Singapura.

“Aku cuma minta waktu sebentar.”

“Ada kaitannya dengan proposal laboratoriummu?”

Ekspresinya berubah.

Arga sekarang memimpin salah satu kelompok riset yang sedang dipertimbangkan untuk program investasi. Itu alasan dia berada di seminar yang sama denganku.

“Bukan.”

“Kalau begitu nanti saja.”

Aku berjalan pergi.

Dulu, setiap kali Arga mengatakan dia perlu bicara, seluruh jadwalku bisa berubah. Aku membatalkan makan siang, menunda pekerjaan, atau menunggu berjam-jam sampai dia selesai mengurus mahasiswa.

Sekarang aku memiliki agenda sendiri.

Dan ternyata dunia tidak runtuh hanya karena Arga harus menunggu.

Menjelang siang aku menemui dua anggota tim investasi.

Aku menjelaskan bahwa salah satu kepala laboratorium yang mengikuti proses penilaian adalah mantan tunanganku dan hubungan kami berakhir buruk lima tahun lalu.

Aku tidak menceritakan detail pribadi.

Aku hanya meminta agar keputusan akhir atas proposal kelompok Arga tidak bergantung pada penilaianku sendiri.

Kolegaku, Mei, mengangguk.

“Masuk akal. Kamu tetap bisa menilai aspek yang lain, tapi keputusan komite kita dokumentasikan bersama.”

Itu saja.

Tidak ada adegan besar.

Tidak ada kesempatan bagiku untuk membalas masa lalu dengan kariernya, dan memang bukan itu yang kuinginkan.

Sore harinya, setelah sesi terakhir selesai, Arga kembali mendekat.

“Kapan kamu pulang?”

“Lusa.”

“Bisa bicara sebelum itu?”

Aku menatapnya.

Lima tahun ternyata cukup untuk mengubah banyak hal.

Dulu aku selalu bisa melihat Arga dan langsung mengingat anak laki-laki yang pernah memanjat pagar rumahku hanya untuk mengantarkan buku pelajaran yang tertinggal.

Sekarang ingatan itu masih ada, tetapi tidak lagi terasa seperti kewajiban.

“Dua puluh menit,” kataku.

Kami duduk di sebuah kedai kopi di lantai bawah hotel.

Arga tidak langsung meminta maaf.

Dia menatap meja cukup lama lalu berkata, “Aku sudah membayangkan percakapan ini berkali-kali. Sekarang kamu benar-benar duduk di depan, aku malah tidak tahu mulai dari mana.”

“Mulai dari yang ingin kamu katakan.”

Dia mengangguk.

“Uang itu sudah kukembalikan semuanya.”

Aku tahu.

Setelah aku pergi, pengacaraku mengurus perhitungan kontribusi. Karena rekening memang atas nama kami berdua dan ada persoalan mengenai bagian masing-masing, penyelesaiannya tidak terjadi dalam sehari.

Dokumen transfer, catatan setoran, dan beberapa korespondensi akhirnya cukup untuk menghitung bagian yang menjadi hakku.

Arga mengembalikannya bertahap.

Pembayaran terakhir masuk sekitar satu setengah tahun setelah aku pindah.

Aku tidak pernah membalas pesan apa pun tentang itu.

“Aku tahu,” jawabku.

“Aku bukan mengatakan itu supaya kamu memaafkan.”

“Bagus.”

Dia mengusap kedua tangannya.

“Aku waktu itu… benar-benar menganggap apa yang kulakukan bisa dibenarkan.”

Aku tidak menyela.

“Mira butuh banyak hal. Tempat tinggal. Biaya pendidikan. Biaya penelitian. Aku sudah terbiasa menjadi orang yang dia hubungi setiap ada masalah.”

“Itu aku tahu.”

“Yang tidak kusadari, aku mulai menyukai perasaan dibutuhkan.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu lagi, penjelasannya terdengar seperti sesuatu yang tidak pernah dikatakannya lima tahun lalu.

Dia melanjutkan.

“Kamu berbeda. Kamu selalu bisa mengurus semuanya. Kalau aku terlambat, kamu bisa pulang sendiri. Kalau aku batal datang, kamu marah, tapi besok tetap kerja. Kalau ada masalah, kamu biasanya sudah punya solusi sebelum cerita kepadaku.”

“Apa itu alasan?”

“Bukan.”

Arga menggeleng.

“Itu cara pikirku saat itu. Bukan alasan yang benar.”

Dia berhenti sejenak.

“Dengan Mira, aku merasa kalau aku tidak datang, hidupnya bisa berantakan. Lama-lama aku menjadikan perasaan itu lebih penting daripada batas yang seharusnya kujaga.”

Aku teringat malam ulang tahun ketika kursi di depanku kosong.

Hari ketika aku menunggu di restoran.

Semua akhir pekan yang dibatalkan.

Dan rumah dinas dengan tirai baru.

“Kenapa dia tinggal bersamamu?”

Arga menarik napas pelan.

“Dia kehilangan kamar kos karena menunggak. Aku awalnya ingin membayar tempat baru. Dia menolak karena merasa terlalu banyak dibantu. Rumah dinasku kosong sebagian besar waktu, jadi aku menawarkan dia tinggal sementara.”

“Kamu tinggal di sana juga.”

“Iya.”

Setidaknya kali ini dia tidak berbohong.

“Ada hubungan antara kalian?”

Dia menatapku langsung.

“Tidak pernah ada hubungan fisik atau pacaran.”

Aku tidak merasakan kelegaan.

Lima tahun lalu, mungkin jawaban itu akan mengubah semuanya.

Sekarang tidak.

Arga seolah mengerti dari ekspresiku.

“Tapi aku baru paham setelah kamu pergi bahwa mengatakan ‘tidak selingkuh’ tidak membuat semua hal lain menjadi benar.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku membiarkan seorang mahasiswi bergantung kepadaku secara pribadi. Aku merahasiakan pertunangan kita di kampus. Aku membiarkan dia berperilaku terlalu dekat karena kupikir aku bisa menentukan sendiri batasnya. Aku membuat kamu selalu menjadi orang yang harus mengerti.”

Tangannya mengepal pelan.

“Yang paling buruk, aku memakai uang kita tanpa bertanya.”

“Kenapa kamu pindahkan semuanya?”

Pertanyaan itu masih tersisa, bukan karena aku belum bisa menebak jawabannya, tetapi karena selama lima tahun dia tidak pernah mendapat kesempatan menjelaskannya langsung.

Arga menunduk.

“Aku berencana membantu Mira menyelesaikan tahun terakhir kuliahnya dan mempersiapkan studi lanjut. Waktu itu ada beberapa biaya yang menurutku akan muncul dalam beberapa bulan. Aku sudah punya rekening bersama dia karena aku membantu mengatur dana pendidikannya.”

“Kenapa rekening bersama?”

“Awalnya supaya pembayaran biaya kuliah dan kebutuhan terkait bisa dilacak. Aku pikir itu lebih rapi daripada transfer berkali-kali.”

“Dan kamu tidak pernah merasa perlu memberitahuku?”

“Tidak.”

Jawabannya pendek.

Itu lebih jujur daripada semua permintaan maafnya dahulu.

“Aku menganggap karena aku ikut memasukkan uang ke rekening kita, aku punya hak menentukan penggunaannya. Aku berniat mengganti kalau ada bonus penelitian berikutnya.”

“Padahal sebagian uang itu milikku.”

“Iya.”

“Aku bahkan menambah setoran karena kita berencana membeli rumah.”

“Aku tahu.”

Aku menyandarkan punggung.

“Mira tahu kamu bertunangan?”

Wajah Arga menjadi kaku.

“Tidak pada awalnya.”

Aku menunggu.

“Aku bilang kehidupan pribadi tidak perlu dibawa ke kampus.”

Aku tertawa pelan.

Ternyata kalimat yang dulu ditujukan kepadaku memang benar-benar menjadi prinsip yang nyaman untuknya.

“Kapan dia tahu?”

“Setelah kamu pergi.”

“Dari kamu?”

“Dari salah satu dosen lain. Dia datang menanyakan apakah benar kamu tunanganku.”

Aku memandangi cangkir di depanku.

“Lalu?”

“Dia marah.”

Aku sedikit terkejut.

Arga mengangguk.

“Bukan karena ingin menjadi pacarku. Dia merasa dibohongi. Menurut dia, kalau dia tahu dari awal aku punya tunangan, dia tidak akan tinggal di rumah dinas itu.”

Aku tidak tahu apakah Mira benar-benar akan mengambil keputusan berbeda.

Tetapi setidaknya satu hal menjadi jelas.

Arga tidak hanya membuatku menjadi orang luar di kampusnya.

Dia juga membiarkan Mira menjalani hubungan ketergantungan tanpa memahami posisi sebenarnya.

“Apa yang terjadi setelah itu?”

“Dia pindah.”

“Ke mana?”

“Teman kampusnya membantu mencarikan kos.”

“Dan uang?”

“Sebagian yang sudah digunakan untuk kebutuhan kuliah tetap dihitung sebagai bantuan yang sudah kuberikan. Sisanya dia tidak mau pegang. Kami menutup rekening itu setelah semuanya dibereskan.”

Aku mengangguk kecil.

Aku tidak meminta detail lain.

Mira tidak pernah menjadi pusat masalah kami.

Selama bertahun-tahun aku marah kepadanya karena lebih mudah menyalahkan perempuan yang berdiri di rumah dinas Arga daripada menerima kenyataan bahwa orang yang berjanji menikah denganku adalah orang yang berkali-kali membuat keputusan itu.

Arga memandangku.

“Aku cari kamu ke Singapura.”

“Aku tahu.”

Ibuku pernah mengatakan Arga dua kali datang ke rumah.

Teman-temanku juga beberapa kali menyampaikan bahwa dia bertanya apakah ada yang memiliki alamatku.

Aku meminta semua orang tidak memberikan informasi.

“Aku bahkan menghubungi kantor lamamu,” katanya.

“Itulah sebabnya aku meminta mereka tidak memberikan nomor pribadi.”

Dia tersenyum pahit.

“Aku tahu.”

Aku melihat jam.

Waktu dua puluh menit kami hampir habis.

Arga tampak menyadarinya juga.

“Nadia.”

“Ya?”

“Aku tidak datang ke sini karena tahu kamu akan hadir.”

“Aku tidak mengira begitu.”

“Tapi setelah melihat kamu…”

Dia berhenti.

“Aku ingin bertanya sesuatu meski mungkin aku tidak berhak.”

Aku menunggu.

“Apakah selama lima tahun ini kamu pernah berpikir untuk kembali?”

Pertanyaan itu seharusnya membuat dadaku sakit.

Ternyata tidak.

“Tahun pertama, sering.”

Arga menatapku.

Aku tersenyum kecil karena akhirnya bisa mengatakan kebenaran tanpa takut kehilangan sesuatu.

“Bulan-bulan pertama di Singapura buruk. Aku pulang kerja lalu duduk sendirian di apartemen dan bertanya apakah aku pergi terlalu cepat.”

Dia menunduk.

“Aku hampir menghubungimu beberapa kali.”

“Kenapa tidak?”

“Karena setiap kali ingin melakukannya, aku membuka salinan mutasi rekening.”

Arga diam.

“Aku bukan menggunakannya supaya terus marah. Aku cuma perlu mengingat bahwa masalah kita bukan satu mahasiswi tinggal di rumahmu.”

Aku mengambil ponsel dari meja tetapi belum berdiri.

“Masalahnya adalah kamu selalu membuat keputusan dulu, lalu meminta aku memahami setelahnya.”

“Nadia…”

“Waktu aku marah karena ulang tahunku kamu tinggalkan, kamu meminta aku memahami bahwa dia sendirian. Waktu aku protes karena dia terlalu dekat, aku diminta memahami bahwa dia tidak punya orang tua. Waktu dia tinggal di rumah dinasmu, aku juga seharusnya memahami.”

Aku menatapnya.

“Dan ketika uang kita hilang, lagi-lagi aku seharusnya memahami.”

Arga tidak membantah.

Itu mungkin perubahan terbesar darinya.

Lima tahun lalu dia pasti sudah mengatakan aku salah paham.

“Aku tidak sedang mencoba mengatakan Mira tidak perlu dibantu,” lanjutku. “Aku dulu ikut membayar kuliahnya. Kamu tahu itu.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma tidak mau menikah dengan orang yang menganggap persetujuanku bisa menyusul.”

Dia menelan ludah.

“Aku sudah berubah.”

“Mungkin.”

“Kamu tidak percaya?”

“Bukan tugasku membuktikan apakah kamu berubah.”

Aku tidak mengatakan itu dengan marah.

Justru karena aku tidak marah, wajah Arga tampak semakin berat.

“Aku sudah berhenti menangani kebutuhan mahasiswa secara pribadi,” katanya. “Sekarang semua bantuan lewat program resmi fakultas. Ada bagian kemahasiswaan. Ada aturan konflik kepentingan. Mahasiswa juga tidak lagi boleh memakai fasilitas rumah dosen.”

Aku mendengarkan.

Bagian diriku yang dulu mencintainya merasa lega mengetahui dia akhirnya memahami sesuatu.

Tetapi lega tidak sama dengan ingin kembali.

“Bagus,” kataku.

“Cuma bagus?”

“Apa yang kamu ingin aku katakan?”

Arga tersenyum kecil, tetapi matanya merah.

“Aku juga tidak tahu.”

Kami terdiam.

Orang-orang berlalu membawa cangkir kopi dan tas seminar. Seseorang tertawa di dekat pintu. Mesin pembuat kopi mendesis.

Dulu aku membayangkan kalau kami bertemu lagi, pasti akan ada adegan besar.

Mungkin aku menangis.

Mungkin Arga memohon.

Mungkin aku akan mengatakan semua kalimat yang kusimpan selama bertahun-tahun.

Ternyata percakapan terpenting dalam hubungan kami justru berlangsung dengan suara rendah di sudut kedai kopi.

“Aku minta maaf,” katanya akhirnya.

Aku menatapnya.

“Bukan cuma karena uangnya.”

Dia menarik napas.

“Aku minta maaf karena membuatmu terus mempertanyakan apakah kamu berlebihan setiap kali terluka. Aku tahu sekarang, itu yang paling lama merusak semuanya.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih sudah mengatakannya.”

Harapan muncul sebentar di wajahnya.

Kemudian aku berdiri.

“Nadia.”

“Aku harus kembali.”

Dia ikut berdiri.

“Kalau bukan sekarang… apakah suatu hari kita bisa mencoba lagi?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku pernah mengenal pria ini hampir sepanjang hidupku.

Aku tahu cara dia tertawa saat benar-benar senang.

Aku tahu dia selalu lupa membawa payung.

Aku tahu makanan apa yang tidak akan pernah disentuhnya.

Aku juga tahu bagaimana rasanya duduk menunggu seseorang yang selalu punya alasan kenapa kebutuhan orang lain lebih mendesak daripada perasaanku.

Lima tahun tidak menghapus bagian yang baik.

Tapi bagian yang baik juga tidak menghapus apa yang terjadi.

“Aku memaafkan kamu, Ga.”

Matanya berubah.

“Tapi aku tidak ingin kembali.”

Dia membeku.

Aku melanjutkan sebelum dia salah memahami.

“Aku tidak membenci kamu. Aku juga tidak berharap hidupmu buruk.”

“Nadia…”

“Aku cuma sudah punya kehidupan yang tidak dibangun di sekitar kemungkinan kamu berubah.”

Beberapa detik dia tidak berkata apa-apa.

Lalu dia mengangguk.

Sangat kecil.

“Baik.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga menerima batas dariku tanpa mencoba membuatku merasa bersalah.

Kami berpisah di depan lift.

Hari berikutnya seminar berlanjut.

Arga mempresentasikan proyek kelompok risetnya secara profesional. Aku mengajukan dua pertanyaan teknis seperti yang kulakukan kepada peserta lain.

Tidak ada yang tahu bahwa malam sebelumnya kami akhirnya menutup percakapan yang tertunda lima tahun.

Dalam rapat internal, aku sekali lagi menyatakan hubungan pribadi kami kepada komite dan tidak ikut menentukan keputusan akhir proposalnya.

Dua bulan kemudian aku mendengar kelompok Arga lolos tahap awal pendanaan bersama beberapa laboratorium lain.

Aku merasa senang untuk timnya.

Tidak lebih.

Aku juga tidak lagi tinggal di Singapura sepanjang waktu.

Pekerjaanku membuatku bolak-balik antara Singapura, Jakarta, Bandung, dan beberapa kota lain. Setelah bertahun-tahun merasa Bandung adalah tempat yang harus kuhindari karena terlalu banyak kenangan, aku akhirnya membeli apartemen kecil di sana.

Bukan untuk membuktikan apa pun.

Aku hanya lelah memilih rute hidup berdasarkan kota mana yang mungkin mempertemukanku dengan seseorang.

Ibuku pernah bertanya apakah aku menyesal tidak memberi Arga kesempatan kedua.

Aku memikirkan jawabannya cukup lama.

“Tidak.”

“Masih marah?”

“Sudah tidak.”

Ibu hanya mengangguk.

Mungkin itu jawaban yang selama ini sulit kupahami.

Dulu aku mengira hubungan hanya bisa berakhir dengan dua cara: tetap bersama atau saling membenci.

Ternyata ada kemungkinan ketiga.

Kita bisa mengakui bahwa seseorang pernah sangat berarti, menerima bahwa dia benar-benar menyesal, dan tetap memilih tidak membangun hidup bersamanya lagi.

Beberapa bulan setelah seminar, Arga mengirim satu email.

Tidak panjang.

Dia berterima kasih karena aku bersedia mendengarkan penjelasannya. Dia juga mengatakan tidak akan menghubungiku lagi kecuali urusan pekerjaan memang mempertemukan kami.

Aku tidak membalas.

Aku juga tidak memblokir alamat itu.

Tidak perlu.

Suatu malam setelah kembali dari perjalanan kerja, aku duduk di meja makan apartemen Bandung sambil memeriksa keuangan bulanan.

Ada rekening operasional untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, dan satu rekening investasi yang kubuka setelah pindah ke Singapura.

Semuanya atas namaku.

Tidak ada lagi rekening yang kubuka demi rencana hidup yang hanya boleh dibicarakan setelah keputusan dibuat.

Setelah memastikan pembayaran bulan itu selesai, aku menutup aplikasi bank dan meletakkan ponsel.

Di dekat pintu hanya tergantung satu set kunci apartemen.

Kunci cadangannya tersimpan di laci yang kupilih sendiri.

Malam itu aku mematikan lampu, mengunci pintu dari dalam, lalu berjalan ke kamar tanpa perlu bertanya kepada siapa pun apakah aku berhak merasa nyaman di rumahku sendiri.

Menurutmu, apakah Nadia benar menolak kesempatan kedua meski Arga akhirnya mengakui kesalahannya dan benar-benar mengubah perilakunya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.