SETIAP SORE MEREKA MENGAMBIL LPG WARUNGKU UNTUK MASAK DI RUMAH—SAMPAI AKU BERHENTI MENARUH TABUNG CADANGAN DI DAPUR

Avatar penulis
Cerita 06
5 menit baca 666 tayangan
Indeks

SETIAP SORE MEREKA MENGAMBIL LPG WARUNGKU UNTUK MASAK DI RUMAH—SAMPAI AKU BERHENTI MENARUH TABUNG CADANGAN DI DAPUR

BAGIAN 1 — Tabung Hijau yang Selalu Berpindah

Aku tahu tabung LPG warung dipindahkan lagi karena kompor mati saat tiga pesanan mie goreng sedang menunggu.

Aku menunduk ke bawah meja kompor. Selang masih terpasang, tapi tabungnya kosong.

Tabung cadangan yang seharusnya ada di sudut belakang juga tidak ada.

Aku berlari ke dapur rumah dan menemukannya terpasang di kompor besar. Ibu Mertua sedang memasak rendang untuk acara keluarga.

“Bu, ini tabung cadangan warung.”

“Nanti ganti. Tadi gas rumah habis.”

“Warung juga sekarang habis.”

Ia menatapku dengan wajah tidak sabar. “Pelanggan bisa tunggu sebentar. Ini masak untuk banyak orang.”

Itu bukan pertama kali. Karena warungku menyatu dengan bagian depan rumah, tabung gas usaha dianggap stok keluarga. Kalau gas dapur habis, orang tinggal mengambil dari warung. Kadang dikembalikan. Kadang baru dibeli dua hari kemudian.

Selama ini aku diam karena tidak mau memperbesar hal kecil.

Tapi hal kecil itu sore itu membuat enam pelanggan pergi. Dua pesanan dibatalkan. Aku harus lari ke pangkalan gas, antre, lalu kembali hampir empat puluh menit kemudian.

Malamnya aku menghitung ulang. Dalam dua bulan, aku membeli tabung lebih banyak daripada biasanya, sementara omzet warung tidak naik sebanyak itu.

Aku mengatakan kepada suami bahwa mulai besok tabung cadangan warung akan disimpan di kios tetangga yang juga menjual LPG.

“Kenapa harus begitu?” tanyanya.

“Karena kalau tetap di dapur rumah, semua orang menganggap boleh diambil.”

Ia berkata aku terlalu sensitif.

Aku hanya menunjuk catatan enam pelanggan yang pergi sore itu.

“Mereka tidak membayar karena aku sedang menjaga perasaan keluarga.”

BAGIAN 2 — Warung yang Kehabisan Api di Jam Ramai

Keesokan pagi aku membeli satu tabung cadangan baru dan menitipkannya di pangkalan dekat ujung gang. Pemilik pangkalan sepakat menyimpannya karena aku memang pelanggan tetap.

Tabung yang sedang dipakai tetap di warung. Tidak ada cadangan di rumah.

Perubahan itu terasa tiga hari kemudian ketika gas dapur rumah habis tepat sebelum makan malam.

Ibu Mertua datang ke warung dan bertanya, “Cadangan di mana?”

“Di pangkalan. Untuk warung.”

“Ambil dulu satu. Besok Ibu ganti.”

Aku melihat api kompor warung yang sedang dipakai menggoreng ayam.

“Kalau saya ambil, warung tidak punya cadangan kalau ini habis.”

Ia kesal. “Masa makan keluarga harus nunggu?”

Aku tidak berdebat. Aku membuka aplikasi pesan antar LPG di ponsel dan menunjukkan nomor agen yang bisa dihubungi.

“Bisa pesan sekarang.”

Suamiku berdiri di samping kami. Untuk sesaat aku kira ia akan memintaku mengalah.

Sebaliknya, ia mengambil ponselnya dan menelepon agen.

Malam itu keluarga menunggu dua puluh lima menit sampai tabung baru datang.

Aku kembali ke warung.

Untuk pertama kalinya, konsekuensi kehabisan gas di dapur rumah tidak dipindahkan ke usahaku.

BAGIAN 3 — Ketika Dapur Rumah Harus Membeli Sendiri

Setelah malam itu, perubahan terjadi tanpa rapat keluarga.

Ibu Mertua membeli satu tabung khusus dapur rumah dan satu cadangan. Ia menuliskan tanggal pembelian dengan spidol kecil di leher tabung. Mungkin karena baru sekarang ia memperhatikan seberapa cepat gas habis ketika dipakai memasak untuk acara keluarga.

Aku juga mengubah cara mengelola warung. Setiap tabung masuk dicatat. Setiap penggantian ada tanggalnya. Bukan karena aku curiga kepada semua orang, tapi karena selama ini kebocoran biaya terjadi justru di hal-hal yang dianggap terlalu kecil untuk dicatat.

Seminggu kemudian, kakak iparku datang membawa tabung kosong dari rumahnya sendiri.

“Boleh tukar dulu sama cadangan warung? Nanti sore aku balikin.”

Aku menggeleng. “Maaf. Cadangan warung tetap di pangkalan.”

Ia mendengus. “Sekarang semuanya harus aturan.”

Aku menjawab, “Karena waktu tidak ada aturan, yang rugi selalu usaha saya.”

Ia akhirnya membeli di tempat lain.

Mungkin terdengar sepele, tapi sejak hari itu tidak ada lagi orang yang masuk ke area warung dan memindahkan tabung tanpa bertanya.

Yang paling membuatku lega adalah suamiku. Ia mulai memahami hubungan antara barang usaha dan pemasukan. Dulu ia melihat warung hanya sebagai tempat aku berdiri menjual makanan. Sekarang ia melihat stok, bahan baku, listrik, gas, dan waktu sebagai satu sistem.

Suatu sore api kompor mengecil saat warung penuh. Aku mematikan satu tungku, menelepon pangkalan, dan lima menit kemudian anak pemilik pangkalan mengantar tabung cadangan yang sudah kusimpan di sana.

Warung tidak berhenti lebih dari beberapa menit.

Suamiku melihat proses itu dan berkata, “Kalau tabung cadangan tadi dipakai rumah, kita pasti panik lagi.”

Aku mengangguk.

Tidak perlu pidato panjang. Sistem yang bekerja lebih meyakinkan daripada penjelasan.

BAGIAN 4 — Satu Tabung, Dua Tanggung Jawab

Dua bulan kemudian, warungku mulai buka lebih pagi karena sarapan ternyata lebih ramai daripada yang kukira. Aku menambah satu kompor kecil khusus menggoreng dan satu rak bahan kering.

Dengan catatan LPG yang lebih rapi, aku bisa menghitung biaya menu lebih akurat. Beberapa harga naik seribu rupiah, tetapi pelanggan tetap datang karena porsi dan rasa tidak berubah.

Di rumah, tabung dapur punya tempat sendiri. Jika keluarga mengadakan acara besar, mereka membeli gas tambahan dari awal.

Yang menarik, Ibu Mertua tidak pernah lagi berkata, “Pelanggan bisa tunggu.” Ia justru kadang mengingatkan orang lain, “Jangan ambil punya warung. Itu buat jualan.”

Suatu sore aku mendengarnya mengatakan itu kepada tetangga yang ingin meminjam tabung sebentar. Aku tidak keluar dari dapur warung, tapi aku tersenyum.

Batas yang dulu dianggap dingin akhirnya menjadi kebiasaan yang membuat semua orang lebih jelas soal tanggung jawab.

Tidak ada hubungan keluarga yang putus. Tidak ada adegan siapa pun diusir. Hanya ada dua dapur yang akhirnya punya tabung masing-masing.

Bagi orang luar, itu mungkin tidak berarti apa-apa.

Bagiku, itu berarti usahaku tidak lagi menjadi sumber daya cadangan setiap kali rumah mengalami masalah.

Dan sejak itu, ketika sesuatu habis di dapur keluarga, orang pertama yang mereka cari bukan lagi aku.

END