MEREKA MENYEBUTKU “CUMA IBU KANTIN”—PAGI AKU BERHENTI DATANG DUA JAM LEBIH AWAL, BARU MEREKA TAHU SIAPA YANG MENYIAPKAN SEMUANYA

Avatar penulis
Cerita 06
7 menit baca 84 tayangan
Auto Draft
Indeks

MEREKA MENYEBUTKU “CUMA IBU KANTIN”—PAGI AKU BERHENTI DATANG DUA JAM LEBIH AWAL, BARU MEREKA TAHU SIAPA YANG MENYIAPKAN SEMUANYA

BAGIAN 1 — Dua Jam yang Tak Pernah Dihitung

“Bu Sari kan cuma jaga kantin. Kenapa minta tambahan uang pagi?” kata bendahara koperasi sekolah sambil menutup buku kas.

Aku masih memegang pisau kecil yang kupakai mengupas bawang. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 06.10, padahal jam kerjaku di kertas dimulai pukul 08.00. Seperti biasa, aku sudah datang sebelum matahari benar-benar naik: menyalakan kompor, merebus air, memotong sayur, menerima roti dari pemasok, menghitung telur, mengecek tabung gas, lalu menata 240 gelas plastik untuk jam istirahat pertama.

Selama tiga tahun, dua jam itu tidak pernah dianggap kerja. Mereka menyebutnya “inisiatif Bu Sari”. Aku melakukannya karena kalau aku datang pukul delapan, kantin belum siap saat ratusan murid turun bersamaan. Tetapi minggu itu, setelah harga kebutuhan naik, aku meminta tambahan kecil untuk waktu persiapan. Bukan kenaikan besar. Hanya agar dua jam yang selama ini tidak terlihat akhirnya dicatat.

Pak Dimas, bendahara baru koperasi, tersenyum tipis. “Kalau semua orang minta dibayar untuk datang lebih cepat, habis anggaran kita. Lagipula Ibu cuma kantin, bukan manajer operasional.”

Kalimat “cuma kantin” itu lebih menyakitkan daripada penolakan uangnya. Di belakangku ada dua pegawai muda yang baru tiga bulan bekerja. Mereka menunduk. Mereka tahu siapa yang menulis daftar belanja, siapa yang menelpon pemasok ketika susu datang terlambat, dan siapa yang mengatur urutan masak supaya nasi tidak lembek ketika jam istirahat dimulai.

Aku tidak berdebat. Aku hanya bertanya satu hal: “Berarti saya cukup datang sesuai jam kerja yang tertulis?”

Pak Dimas mengangkat bahu. “Ya. Itu malah lebih rapi.”

Aku mengangguk. Malam itu aku menaruh alarm bukan pukul 04.45, tetapi pukul 06.30. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku memutuskan mengikuti aturan mereka secara persis.

BAGIAN 2 — Aku Datang Tepat Sesuai Jadwal

Keesokan paginya aku tiba pukul 07.55. Gerbang sekolah sudah ramai. Di depan kantin, pemasok roti berdiri dengan dua keranjang karena tak ada orang yang tahu jumlah pesanan. Tabung gas cadangan masih kosong. Sayur belum dipotong. Dua pegawai muda berusaha menyalakan tiga kompor sekaligus sambil menerima uang kembalian dari guru yang ingin sarapan.

“Aduh, Bu Sari, cepat bantu. Semuanya belum siap,” kata salah satu dari mereka.

Aku menggantung tas, memakai celemek, lalu mengerjakan apa yang masuk jam kerjaku. Aku tidak marah dan tidak sengaja memperlambat. Aku hanya tidak menambal dua jam yang selama ini mereka anggap bukan pekerjaan.

Pukul 09.25, antrean pertama datang. Biasanya nasi kuning sudah terbagi dalam baki, es teh sudah siap, dan gorengan tinggal diangkat. Hari itu setengah menu belum matang. Murid-murid mengular sampai lorong. Guru piket datang karena suara gaduh. Beberapa anak kembali ke kelas tanpa sempat membeli apa pun.

Pak Dimas muncul dengan wajah tegang. “Kenapa persiapannya begini?”

Aku menunjuk jadwal kerja yang ditempel di lemari. “Saya datang sebelum pukul delapan. Tepat seperti yang kemarin Bapak bilang.”

Ia hendak menjawab, tetapi Bu Ratna, kepala sekolah, datang sambil membawa catatan keluhan dari tiga wali kelas. Ia tidak menyalahkanku. Ia justru bertanya, “Biasanya siapa yang menyiapkan semua sebelum jam delapan?”

Dua pegawai muda menjawab hampir bersamaan, “Bu Sari.”

Bu Ratna menoleh kepadaku. Aku menjelaskan daftar pekerjaan pagi satu per satu. Tidak dramatis. Tidak ada teriakan. Justru karena daftar itu begitu biasa—menerima roti, merebus air, mengecek gas, membagi saus, menghitung uang kecil—semua orang mulai melihat betapa banyak sistem bergantung pada pekerjaan yang tak pernah dicatat.

Saat itu Pak Dimas meminta agar besok aku datang seperti dulu “sementara”. Aku menolak dengan tenang. “Saya bisa datang dua jam lebih awal lagi, Pak. Tapi kali ini jam kerjanya harus tertulis dan ada orang cadangan yang belajar prosesnya.”

Bu Ratna meminta kami duduk setelah sekolah. Untuk pertama kalinya, pembicaraan bukan lagi tentang apakah aku pantas dibayar. Pembicaraannya berubah menjadi: apa saja sebenarnya pekerjaan yang selama ini membuat kantin bisa berjalan.

BAGIAN 3 — Ketika Sistem Dipetakan

Sore itu Bu Ratna meminta aku menulis seluruh alur kerja kantin dari pemasok datang sampai kantin tutup. Aku sempat tertawa kecil karena selama ini semuanya hanya tersimpan di kepalaku. Tidak ada SOP resmi. Tidak ada daftar siapa menghubungi siapa jika telur kurang, jika kompor bermasalah, atau jika satu kelas tiba-tiba memesan konsumsi untuk rapat orang tua.

Aku menulis di papan tulis. Pukul 05.50: menerima roti dan cek jumlah. Pukul 06.10: siapkan kuah, nasi, dan air panas. Pukul 06.30: hitung stok susu dan minuman. Pukul 06.45: siapkan uang pecahan. Pukul 07.00: cek tabung gas dan kebersihan meja. Pukul 07.20: bagi tugas dua pegawai. Pukul 07.40: menu sarapan harus siap setidaknya tujuh puluh persen.

Pak Dimas diam lebih lama dari biasanya. Ternyata banyak bagian yang ia kira “muncul sendiri” setiap pagi. Ia baru tahu aku punya daftar nomor pemasok, jadwal kedatangan barang, dan catatan murid yang punya alergi tertentu. Aku tidak pernah menyebutnya pekerjaan khusus karena dulu kepala kantin lama mengajariku sambil berkata, “Kalau tidak ada yang pegang detail kecil, tempat ini kacau.”

Hari berikutnya sekolah mencoba sistem baru tanpa memintaku datang lebih awal. Seorang pegawai dijadwalkan pukul enam, tetapi pemasok tahu nomor teleponku, bukan nomornya. Roti datang terlambat karena gerbang samping belum dibuka. Tidak separah hari pertama, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar sepasang tangan. Ada koordinasi yang selama ini melekat pada satu orang.

Aku tidak menikmati kekacauan itu. Justru aku ikut membantu setelah jam kerjaku dimulai dan menjelaskan apa yang terlewat. Namun aku berhenti mengambil semua beban kembali ke pundakku. Setiap kali seseorang berkata, “Bu Sari saja yang urus, kan sudah biasa,” aku menjawab, “Bisa, asal kita masukkan ke pembagian kerja.”

Seminggu kemudian koperasi membuat tiga perubahan. Pertama, jam persiapan resmi dimajukan dan dibayar. Kedua, dua pegawai lain dilatih bergantian menerima pemasok dan mengecek stok. Ketiga, semua nomor dan jadwal tidak lagi hanya tersimpan di ponselku, tetapi dicatat di buku operasional.

Yang paling sulit ternyata bukan mengubah jadwal. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan orang menganggap pekerjaan yang dilakukan perempuan berusia lima puluh delapan tahun sebagai bantuan alamiah. Ketika aku mengiris bawang, mengatur pemasok, atau mengingat jumlah gelas, semuanya terlihat kecil. Tetapi saat semua hal kecil itu berhenti dilakukan bersamaan, barulah mereka tampak sebagai sebuah sistem.

Pak Dimas datang kepadaku setelah seminggu. Ia tidak memberi pidato. Ia hanya menyerahkan lembar revisi honor dan berkata, “Saya salah karena menilai dari jabatan, bukan dari pekerjaan.”

Aku membaca angkanya. Tambahannya tidak membuatku kaya. Tetapi untuk pertama kali, dua jam itu punya nama dan nilai.

BAGIAN 4 — Bukan Lagi “Cuma Kantin”

Perubahan berikutnya terasa justru beberapa minggu kemudian. Aku sakit satu hari karena demam. Dulu, jika aku tidak masuk, kantin hampir pasti kacau. Kali ini pegawai bernama Rina membuka buku operasional, menghubungi pemasok, lalu membagi tugas. Ketika aku kembali, mereka tidak menyambutku dengan keluhan panik. Rina malah berkata, “Bu, ternyata kalau sistemnya dibagi, kita semua lebih aman.”

Kalimat itu membuatku lega. Aku tidak ingin dianggap penting karena semua orang tak bisa hidup tanpaku. Aku ingin pekerjaan yang kulakukan dihargai tanpa harus membuat diriku tidak tergantikan.

Pak Dimas juga berubah pelan-pelan. Setiap kali koperasi membahas efisiensi, ia mulai bertanya siapa yang sebenarnya melakukan pekerjaan tambahan. Satpam yang membuka gerbang untuk pemasok, petugas kebersihan yang memindahkan meja setelah acara, dan pegawai gudang yang menghitung stok di luar jam kerja mulai dicatat. Tidak semua mendapatkan kenaikan besar, tetapi setidaknya pekerjaan mereka berhenti dianggap udara.

Pada akhir bulan, Bu Ratna menempel bagan tugas baru di dinding kantin. Namaku tertulis sebagai koordinator persiapan pagi. Aku masih menggoreng tempe. Masih menghitung receh. Masih menyapu remah roti dari meja. Tidak ada perubahan mewah dalam hidupku.

Namun ketika seorang guru baru bertanya, “Bu Sari bagian apa?” Rina menjawab sebelum aku sempat membuka mulut, “Beliau yang mengatur persiapan operasional pagi. Kalau ada beliau, semua tahu harus mulai dari mana.”

Aku tersenyum, lalu kembali membungkus nasi.

Dulu mereka baru melihatku ketika antrean kacau. Sekarang mereka belajar melihat pekerjaanku bahkan ketika semuanya berjalan lancar. Bagiku, itulah bentuk keadilan yang paling masuk akal: bukan membuat orang lain kesusahan agar kita terlihat, tetapi memastikan pekerjaan yang membuat hidup orang lain mudah tidak lagi dianggap tidak ada.

END

Kadang nilai seseorang baru terlihat ketika pekerjaan yang selama ini dianggap kecil berhenti dilakukan. Tetapi penghargaan yang sehat bukan membuat satu orang memikul semuanya—melainkan memberi nama, waktu, dan nilai pada kerja yang nyata.