Aku Menemukan Buku Bertuliskan “Utang Anak Tengah” di Lemari Ibu—Malam Itu Aku Menyembunyikan Kabar Rp2,3 Miliar dan Menguji Seberapa Mahal Harga Kasih Sayang Mereka di Rumah yang Kusebut Keluarga
Bagian 1 — Saat Ibu Menghitung Setiap Rupiah yang Pernah Dikeluarkan untukku, Aku Baru Sadar Mengapa Semua Keinginanku Selalu Dianggap Beban di Rumah Sendiri
Aku menemukan buku itu secara tidak sengaja.
Sampulnya sudah kusam, sudutnya mengelupas, dan terselip di belakang tumpukan map pajak di lemari kamar orang tuaku.
Di bagian depan, dengan tulisan tangan Ibu yang sangat kukenal, tertulis:
“Catatan Utang Rani.”
Aku sempat mengira itu buku pinjaman biasa.
Sampai kubuka halaman pertama.
“Biaya persalinan Rani — Rp1.850.000.”
“Seragam SD — Rp275.000.”
“Sepatu SMP — Rp340.000.”
“Les matematika — Rp600.000.”
“Biaya daftar kuliah — Rp2.750.000.”
Bahkan obat demam ketika aku berumur sembilan tahun pun masih dicatat.
Aku membalik halaman demi halaman dengan tangan dingin.
Tidak ada nama Mbak Siska.
Tidak ada nama adikku, Arga.
Tidak ada biaya keluarga.
Hanya aku.
Anak kedua.

Seolah-olah sejak lahir aku bukan anak mereka, melainkan seseorang yang sedang mencicil keberadaannya di rumah ini.
Di tangan kiriku masih ada amplop dari kantor.
Tiga hari sebelumnya, perusahaan teknologi tempatku bekerja di Jakarta diakuisisi perusahaan regional. Saham karyawan yang kukumpulkan selama tujuh tahun akhirnya dicairkan.
Setelah pajak, bagianku sekitar Rp2,3 miliar.
Sepanjang perjalanan pulang ke Solo, aku sudah membayangkan wajah Ibu ketika kuberi tahu.
Aku bahkan berniat menyisihkan Rp500 juta untuk merenovasi rumah mereka dan melunasi sisa pinjaman kios percetakan Ayah.
Tapi setelah melihat buku itu, semua kegembiraanku hilang.
Aku memasukkan amplop kembali ke tas.
Lalu berjalan ke dapur.
Ibu sedang membuat rendang untuk acara keluarga akhir pekan.
“Ada apa?” tanyanya tanpa menoleh.
Aku berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Bu, kalau suatu hari aku menikah… kira-kira Ibu dan Ayah akan membantu apa?”
Pisau di tangan Ibu berhenti.
Ia menoleh perlahan.
“Kamu mau menikah?”
“Aku sedang serius dengan seseorang.”
Sebenarnya Dimas dan aku memang sudah membicarakan pernikahan. Belum ada tanggal, tapi hubungannya nyata.
Aku sengaja tidak pernah bercerita banyak karena setiap kali aku membawa sesuatu yang penting ke rumah, Ibu selalu punya cara membuatnya terasa tidak penting.
Ibu mengernyit.
“Kenapa baru bilang?”
“Aku cuma ingin tahu, Bu.”
“Kalau soal uang, tanya Ayah.”
Aku tersenyum tipis.
“Tahun lalu waktu Mbak Siska menikah, Ibu dan Ayah membantu hampir Rp180 juta. Arga juga sudah dibelikan uang muka rumah sebelum umur tiga puluh.”
Wajah Ibu langsung berubah.
“Apa maksudmu membanding-bandingkan?”
“Aku tidak membandingkan. Aku bertanya.”
Pisau itu diletakkan keras di meja.
“Kalau tidak membandingkan, buat apa sebut kakakmu dan adikmu?”
Aku diam.
Ibu mulai meninggikan suara.
“Kamu baru pulang dua hari sudah bicara soal harta.”
“Ibu lagi capek mengurus acara keluarga. Bukannya membantu, malah menghitung apa yang akan kamu dapat.”
Kalimatnya semakin cepat.
“Kamu memang dari kecil paling sulit puas.”
Aku memandangi panci besar di depannya.
Ironis.
Karena sebenarnya aku selalu menjadi orang yang paling mudah mengalah.
Mbak Siska tidak suka makanan bersantan terlalu pekat. Sejak kami kecil, Ibu selalu memisahkan satu porsi untuknya.
Arga tidak mau makan bawang goreng. Ibu akan menaruh bawang dalam mangkuk terpisah.
Aku?
Sejak tiga tahun lalu lambungku tidak kuat makanan terlalu pedas.
Ibu tahu.
Masalah itu muncul ketika usaha percetakan Ayah hampir bangkrut dan aku mengambil pekerjaan tambahan malam hari selama delapan bulan.
Makan tidak teratur, kopi terlalu banyak, tidur empat jam sehari.
Aku yang mengirim uang setiap bulan supaya cicilan kios tidak menunggak.
Tapi setiap kali pulang, sambal tetap memenuhi meja.
Kalau aku tidak makan, Ibu akan berkata,
“Sekarang tinggal di Jakarta jadi terlalu pilih-pilih.”
Akhirnya aku selalu mengambil nasi, sedikit lauk, lalu makan pelan-pelan sambil menahan perih.
Malam itu aku tidak membantah.
Aku hanya membantu membungkus rendang, membersihkan dapur, lalu masuk kamar.
Sekitar pukul sebelas, aku keluar untuk mengambil air.
Lampu ruang tengah masih menyala.
Suara Ibu terdengar.
“Aku sudah bilang dari dulu, anak itu suatu hari pasti mulai menghitung.”
Ayah menjawab pelan,
“Dia cuma tanya bantuan nikah.”
“Cuma tanya?”
Ibu tertawa sinis.
“Anak yang ‘cuma tanya’ tidak akan menyebut uang kakaknya dan rumah adiknya.”
Aku berhenti di balik dinding.
Lalu terdengar suara kertas dibuka.
Jantungku langsung berdebar.
Ibu berkata,
“Untung aku simpan semua catatannya.”
Ayah terdiam.
“Kalau nanti dia menuntut macam-macam, tunjukkan saja buku ini.”
Aku menggenggam gelas begitu kuat sampai jari-jariku sakit.
Ibu melanjutkan,
“Totalnya sudah lebih dari dua ratus juta.”
“Sekolah, makan, kuliah, semuanya.”
“Kalau dia masih punya malu, sebelum minta bagian keluarga seharusnya dia sadar dulu berapa banyak uang yang sudah kita keluarkan untuk membesarkan dia.”
Aku menunggu Ayah membela.
Setidaknya mengatakan bahwa orang tua memang berkewajiban membesarkan anak.
Tapi yang kudengar justru suara Ayah menarik napas.
Kemudian ia berkata,
“Kalau begitu hitung yang rapi.”
“Jangan sampai nanti dia bilang kita mengada-ada.”
Tubuhku seperti dipukul sesuatu.
Namun Ibu belum selesai.
Ia tertawa kecil.
“Tenang saja.”
“Yang dia kirim ke rumah selama ini tidak perlu dimasukkan.”
“Itu balas budi.”
“Utang anak kepada orang tua memang tidak pernah lunas.”
Aku berdiri dalam gelap sambil memikirkan transfer yang kulakukan hampir setiap bulan selama enam tahun.
Dan untuk pertama kalinya, muncul satu pertanyaan yang membuat dadaku terasa jauh lebih dingin daripada buku itu sendiri:
Kalau semua uang yang mereka keluarkan untukku disebut utang…
lalu uang ratusan juta yang selama ini mereka ambil dariku sebenarnya disebut apa?
Bagian 2 — Rekening yang Kubiayai Bertahun-tahun Ternyata Bukan Milikku, dan Satu Kalimat Ayah Membuka Kebohongan yang Mereka Simpan Sejak Aku Kuliah di Bandung
Pagi berikutnya aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku memotret seluruh isi buku itu.
Lalu membuka mutasi rekening lama.
Aku mulai menghitung.
Tahun pertama bekerja: Rp4 juta per bulan untuk rumah.
Setelah naik jabatan: Rp7 juta.
Dua tahun terakhir: Rp10 juta.
Belum termasuk Rp96 juta ketika mesin percetakan Ayah rusak.
Rp75 juta untuk tambahan biaya resepsi Mbak Siska.
Rp160 juta yang Ayah pinjam ketika Arga membutuhkan uang muka rumah.
Aku baru sadar angka yang selama ini tidak pernah kuhitung sudah menembus Rp700 juta.
Dan semuanya selalu disebut dengan kalimat yang sama:
“Bantu keluarga dulu.”
Menjelang siang, Arga datang bersama istrinya.
Mbak Siska juga datang untuk persiapan acara keluarga.
Saat makan, Ibu tiba-tiba berkata,
“Rani katanya mau menikah.”
Mbak Siska langsung tersenyum.
“Wah, akhirnya.”
Arga malah tertawa.
“Calonnya tahu nggak kalau Mbak paling perhitungan soal uang?”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Lho, kata Ibu kemarin kamu tanya dapat berapa kalau nikah.”
Ibu langsung menyela.
“Aku cuma cerita.”
Lalu ia memandangku.
“Sekalian saja kita bicara terbuka.”
Ibu masuk kamar.
Beberapa detik kemudian ia kembali membawa buku kusam itu.
Buku yang tadi malam kukira akan tetap menjadi rahasia.
Ia meletakkannya tepat di tengah meja makan.
“Kalau kamu ingin menghitung apa yang kakakmu dapat dan apa yang adikmu dapat, kita hitung semuanya.”
Mbak Siska terdiam.
Arga membuka halaman pertama.
Matanya melebar.
“Serius dicatat dari kecil?”
“Biar jelas,” jawab Ibu.
Aku bertanya,
“Kenapa hanya milikku?”
Ruangan mendadak sunyi.
Ibu menjawab tanpa ragu.
“Karena kamu yang paling banyak membuat kami keluar uang.”
Aku hampir tertawa.
Mbak Siska kuliah empat tahun di kampus swasta tanpa beasiswa.
Arga dua kali pindah jurusan.
Sementara aku mendapat beasiswa mulai semester tiga dan bekerja paruh waktu.
Tapi aku tidak membantah.
Aku hanya bertanya,
“Berapa menurut Ibu total utangku?”
Ibu sudah menyiapkan jawabannya.
“Rp218.430.000.”
Ia bahkan mengucapkan angka sampai puluhan ribu terakhir.
“Kalau mau bicara soal hak, ya selesaikan kewajiban dulu.”
Arga mengangguk.
“Masuk akal sih, Mbak.”
Aku menatapnya cukup lama.
Kemudian bertanya,
“Uang muka rumahmu dulu dari siapa?”
Wajahnya berubah.
“Dari Ayah.”
Aku menoleh kepada Ayah.
“Benar?”
Ayah tidak menjawab.
Aku membuka ponsel.
Transfer Rp160 juta enam tahun lalu masih tersimpan.
Tujuan transfer: rekening Ayah.
Keterangan yang kutulis sendiri:
Pinjaman DP Arga.
Arga langsung menoleh kepada Ayah.
“Ayah bilang itu tabungan keluarga.”
Ayah berdeham.
“Waktu itu memang lewat uangmu dulu.”
“Lewat?”
Aku tersenyum.
“Enam tahun belum kembali disebut lewat?”
Mbak Siska mulai gelisah.
Aku membuka bukti berikutnya.
“Tambahan vendor resepsi Mbak Siska, Rp75 juta.”
Mbak Siska menunduk.
“Ayah bilang uang tabungan.”
“Tabungan siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengeluarkan beberapa lembar cetakan mutasi rekening yang sudah kusiapkan pagi tadi.
Ibu mulai marah.
“Jadi sekarang kamu benar-benar datang ke rumah untuk menagih keluarga?”
Aku menatap buku di depan kami.
“Bukankah Ibu yang pertama kali membuka pembukuan?”
Ibu membanting telapak tangan ke meja.
“Uang yang kamu berikan kepada orang tua tidak bisa dihitung seperti itu!”
“Kenapa?”
“Karena itu kewajiban anak!”
“Sedangkan uang yang orang tua keluarkan untuk membesarkan anak?”
“Itu berbeda!”
“Berbeda bagaimana?”
Ibu menunjukku.
“Jangan kurang ajar!”
Saat itulah Ayah akhirnya bicara.
Dan satu kalimatnya membuatku memahami semuanya.
“Rani, kakakmu perempuan pertama di keluarga. Arga satu-satunya anak laki-laki.”
“Kamu sejak kecil paling mandiri.”
“Jadi wajar kalau kebutuhan mereka lebih diprioritaskan.”
Aku menatap Ayah.
Bukan karena kaget.
Tapi karena akhirnya, setelah tiga puluh satu tahun, seseorang cukup jujur untuk mengucapkannya.
Aku bukan anak yang paling merepotkan.
Aku hanya anak yang dianggap paling aman untuk dikorbankan.
Kemudian Ibu mengambil buku itu lagi.
“Kalau kamu tetap mau bantuan nikah, lunasi dulu Rp218 juta ini.”
Arga terkekeh.
“Kalau sudah lunas baru mulai dari nol.”
Aku berdiri.
Memasukkan semua bukti transfer ke map.
Lalu berkata pelan,
“Baik.”
Wajah Ibu langsung terlihat puas.
Sampai aku melanjutkan,
“Besok malam kita mulai dari nol.”
“Semua orang datang.”
“Bawa bukti apa pun yang kalian punya.”
“Karena kalau biaya membesarkanku adalah utang…”
Aku mengetuk map di tanganku.
“…maka besok aku juga akan menagih seluruh utang keluarga kepadaku.”
Untuk pertama kalinya, tidak seorang pun di meja itu tertawa.
Bagian 3 — Aku Berhenti Membayar, Membuka Buku Itu di Depan Keluarga, dan Untuk Pertama Kalinya Mereka Harus Membayar Harga Pilihan Sendiri Tanpa Bisa Menyalahkanku Lagi
Malam berikutnya kami kembali duduk di meja yang sama.
Aku membawa laptop, rekening koran, bukti transfer, dan satu lembar perhitungan.
Ibu membawa buku “utangku”.
Aku tidak berteriak.
Tidak menangis.
Aku hanya mulai membaca angka.
“Menurut catatan Ibu, sejak aku lahir sampai lulus kuliah keluarga mengeluarkan Rp218.430.000.”
Ibu mengangguk.
“Betul.”
Aku menggeser satu lembar kertas.
“Sekarang catatanku.”
Transfer bulanan kepada orang tua selama enam tahun: Rp487 juta.
Perbaikan mesin percetakan: Rp96 juta.
Uang muka rumah Arga: Rp160 juta.
Tambahan resepsi Mbak Siska: Rp75 juta.
Biaya renovasi dapur tahun lalu: Rp48 juta.
Totalnya Rp866 juta.
Belum termasuk berbagai belanja kecil yang tidak pernah kusimpan buktinya.
Arga pucat.
Mbak Siska tidak lagi berani menatapku.
Aku berkata,
“Aku tidak pernah menganggap Rp866 juta ini sebagai utang.”
“Karena ketika kuberikan, kupikir aku sedang membantu keluarga.”
Aku menunjuk buku Ibu.
“Tapi kalau keluarga memilih menjadikan kasih sayang sebagai transaksi, mari gunakan aturan yang sama.”
“Kurangi Rp218.430.000.”
“Berarti secara hitungan, keluarga masih menerima sekitar Rp647 juta lebih banyak dariku.”
Ibu langsung berdiri.
“Jangan diputarbalikkan!”
Aku menggeleng.
“Aku tidak memutar apa pun.”
“Aku cuma memakai cara menghitung Ibu.”
Ayah menunduk.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
“Sudah, Bu.”
Untuk pertama kalinya Ayah menarik buku itu dari tangan Ibu.
“Dia benar.”
Ibu menatap Ayah seperti tidak percaya.
Ayah melanjutkan,
“Kita memang terlalu terbiasa minta kepadanya karena dia tidak pernah menolak.”
Kalimat itu membuat ruangan benar-benar sunyi.
Aku kemudian membuka aplikasi bank.
“Mulai bulan depan, transfer bulanan Rp10 juta aku hentikan.”
Ibu langsung memotong,
“Kamu mau menelantarkan orang tua?”
“Tidak.”
“BPJS Ayah dan Ibu tetap kubayar langsung.”
“Listrik rumah juga akan kubantu sesuai kebutuhan.”
“Tapi tidak ada lagi uang tunai tanpa tujuan.”
Aku menoleh kepada Arga.
“Cicilan rumahmu tanggung sendiri.”
“Kalau tidak mampu, jual mobil kedua.”
Arga membuka mulut, tetapi istrinya justru menundukkan kepala.
Aku menoleh kepada Mbak Siska.
“Uang resepsi tidak perlu dikembalikan.”
“Tapi jangan pernah lagi bilang aku tidak berkontribusi untuk keluarga.”
Mbak Siska menangis pelan.
“Aku benar-benar tidak tahu uang itu dari kamu.”
“Aku tahu.”
Aku tidak menyalahkannya.
Yang paling melukaiku bukan uangnya.
Melainkan cara orang tuaku menyembunyikan semua pemberianku, lalu membuatku merasa seperti anak yang seumur hidup hanya mengambil.
Ibu masih diam dengan wajah keras.
Kemudian ia bertanya,
“Jadi kamu sekarang merasa menang?”
Aku mengambil amplop yang sejak hari pertama kusimpan di tas.
“Aku sebenarnya pulang membawa kabar baik.”
Kuceritakan tentang akuisisi perusahaan dan pencairan saham senilai sekitar Rp2,3 miliar.
Semua orang membeku.
Aku melanjutkan,
“Aku sempat menyiapkan Rp500 juta untuk renovasi rumah ini dan membantu Ayah menutup sisa pinjaman kios.”
Wajah Ibu perlahan kehilangan warna.
“Tapi setelah membaca buku itu, aku batal.”
“Bukan karena dendam.”
“Aku hanya akhirnya mengerti bahwa semakin banyak yang kuberikan tanpa batas, semakin mudah kalian menganggapnya kewajiban.”
Ibu duduk perlahan.
Tidak ada yang membelanya.
Tiga bulan kemudian, aku menggunakan sebagian uang itu untuk uang muka apartemen sederhana di Jakarta dan dana darurat.
Dimas melamarku secara resmi beberapa bulan setelahnya.
Kami mengadakan pernikahan kecil.
Aku membayar bagianku sendiri.
Tidak ada pertengkaran soal bantuan keluarga.
Ayah datang lebih awal dan diam-diam meminta maaf.
Mbak Siska mulai mengembalikan sebagian uang resepsinya meski aku berkali-kali bilang tidak perlu.
Arga akhirnya menjual mobil keduanya setelah menyadari cicilan rumah memang harus ia tanggung sendiri.
Sedangkan Ibu?
Hubungan kami tidak langsung menjadi hangat.
Butuh waktu.
Suatu hari, hampir setahun setelah kejadian itu, ia datang ke apartemenku membawa buku lama tersebut.
Sampul bertuliskan “Catatan Utang Rani” sudah dicoret.
Ibu meletakkannya di meja.
“Aku tidak minta kamu melupakan semuanya.”
“Aku cuma mau bilang… buku ini seharusnya tidak pernah ada.”
Aku menatapnya lama.
Lalu menutup buku itu.
“Aku juga tidak mau menghitung lagi, Bu.”
“Tapi mulai sekarang, jangan pernah minta aku membuktikan bahwa aku pantas disebut anak hanya dengan uang.”
Ibu mengangguk.
Tidak dramatis.
Tidak ada pelukan sambil menangis.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, ia meminta maaf tanpa menambahkan kata “tapi”.
Dan bagiku, itu sudah cukup untuk memulai hubungan baru—bukan sebagai anak yang berutang karena dilahirkan, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya tahu bahwa kasih sayang tidak boleh memiliki buku kas.
