Dua Gelang Bayi Membuka Rahasia Enam Tahun, Tetapi Pengakuan Raka Justru Mengubah Seluruh Kebenaran Tentang Keluarganya

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 238 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Dua Gelang Bayi Membuka Rahasia Enam Tahun, Tetapi Pengakuan Raka Justru Mengubah Seluruh Kebenaran Tentang Keluarganya

Aku menonton video tujuh detik itu berulang kali sampai tanganku gemetar.

Anak perempuan di belakang Nara benar-benar mirip denganku.

Bukan sekadar bentuk mata atau rambutnya. Cara dia mengerutkan dahi ketika menatap kamera membuat dadaku sesak karena aku seperti sedang melihat foto masa kecilku sendiri.

—Siapa anak itu? —tanyaku kepada mantan perawat di hadapanku.

Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Bu Sari.

Dia menarik napas panjang.

—Namanya Kirana. Dan sebelum kamu mengambil kesimpulan, dengarkan semuanya terlebih dahulu.

Raka berdiri di sampingku.

—Apa hubungannya dengan kelahiranku?

Bu Sari menatapnya.

—Tiga puluh dua tahun lalu, ibumu juga melahirkan di rumah sakit tempat aku bekerja. Malam itu terjadi kekacauan administrasi. Dua bayi laki-laki memiliki nama keluarga yang hampir sama. Gelang identitas salah satu bayi sempat tertukar.

Wajah Raka memucat.

—Maksud Anda aku…

—Tidak. Kamu tidak tertukar.

Bu Sari menggeleng.

—Ayahmu mengetahuinya sebelum kesalahan menjadi permanen. Dia memaksa rumah sakit melakukan pemeriksaan dan semuanya diperbaiki. Tetapi ibumu mengetahui betapa mudahnya catatan administrasi bisa dimanipulasi.

Aku mulai memahami arah ceritanya.

—Dan enam tahun lalu dia menggunakan pengetahuan itu?

Bu Sari mengangguk.

Ternyata setelah aku melahirkan, seorang perempuan lain bernama Maya melahirkan bayi perempuan sebelas menit kemudian.

Maya adalah kerabat jauh ibu mertuaku.

Suaminya meninggal beberapa bulan sebelum persalinan, sementara kondisi ekonominya sangat buruk.

Malam itu, bayinya mengalami komplikasi pernapasan dan harus dibawa ke ruang observasi.

Di saat bersamaan, aku kehilangan banyak darah setelah persalinan dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam.

Dua ibu.

Dua bayi perempuan.

Dua keluarga yang sedang panik.

Dan seorang perempuan yang memiliki akses terhadap administrasi rumah sakit.

—Tapi kenapa? —tanyaku.—Kenapa ibu mertua saya menukar mereka?

—Awalnya dia tidak berniat menukar bayi.

Bu Sari membuka dokumen lainnya.

—Dia mengubah satu catatan agar Maya bisa memperoleh bantuan biaya perawatan melalui program yang sebenarnya tidak memenuhi syarat untuknya. Tetapi manipulasi itu menyebabkan nomor identitas kedua bayi tertukar dalam sistem. Ketika kesalahan diketahui keesokan paginya, ibumu panik.

Raka mengepalkan tangan.

—Jadi Ibu menyembunyikannya?

—Ya.

—Selama enam tahun?

Bu Sari menunduk.

—Dan keadaan menjadi lebih rumit karena Maya membawa pulang bayi yang menggunakan gelang 071, sementara kalian membawa pulang bayi dengan gelang 017.

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

—Jadi Nara…

—Aku belum bisa memastikan tanpa tes DNA.

Kalimat itu menjadi satu-satunya hal yang masih membuatku mampu berdiri.

Aku mengambil ponsel.

—Aku akan menemui mereka sekarang.

Raka memegang lenganku.

—Aku ikut.

Aku menatapnya.

—Tidak. Mereka meminta aku sendiri.

—Dia anakku juga.

Aku terdiam.

Apa pun hasil DNA nanti, kalimat itu terasa penting.

Bu Sari memberikan sebuah alamat yang ternyata juga tercantum pada dokumen lama milik Maya.

Pagi berikutnya aku pergi.

Raka tidak ikut masuk, tetapi dia menunggu di sebuah warung kecil beberapa ratus meter dari sana setelah aku memaksanya berjanji tidak mendekat kecuali aku menelepon.

Rumah itu sederhana.

Begitu pintu terbuka, Nara berlari keluar.

—Ibu!

Aku langsung berlutut dan memeluknya.

Aku mencium rambut, dahi, pipi, tangannya.

—Nara baik-baik saja?

—Nenek bilang Ibu sedang bekerja.

Aku menahan amarah.

—Kita pulang sebentar lagi.

Ketika aku berdiri, ibu mertuaku berada di ruang tengah.

Di sampingnya duduk ayah Raka.

Dan di sudut ruangan ada anak perempuan dari video.

Kirana.

Aku menatapnya.

Dia juga menatapku.

Kemudian seorang perempuan kurus keluar dari kamar belakang.

Wajahnya pucat.

—Saya Maya.

Aku memahami semuanya tanpa perlu diperkenalkan.

—Kirana anak Anda?

Maya mengangguk.

—Saya membesarkannya sejak lahir.

Aku memeluk Nara semakin erat.

—Dan Anda tahu kemungkinan dia anak saya?

Air mata Maya jatuh.

—Saya baru tahu tiga bulan lalu.

Ibu mertuaku akhirnya berbicara.

—Aku yang mengatakan kepadanya.

Aku menatapnya tajam.

—Lalu Ibu menculik anak saya?

—Aku panik.

—Ibu memalsukan dokumen sekolah!

—Aku takut kamu membawa masalah ini ke polisi sebelum kami mengetahui kebenaran.

—Karena memang seharusnya saya melakukannya!

Ayah Raka berdiri.

—Cukup. Kesalahan terbesar selama ini adalah semua orang mencoba menentukan apa yang boleh diketahui seorang ibu tentang anaknya.

Dia menatap mantan istrinya.

—Tiga puluh tahun lalu kamu menyuruhku diam. Enam tahun lalu kamu melakukannya lagi. Tidak lagi.

Dia mengeluarkan tiga amplop.

Tes DNA.

Maya menutup wajahnya.

Aku tidak berani mengambilnya.

—Kapan tes itu dilakukan?

—Kirana menjalani pemeriksaan dua minggu lalu. Untuk Nara, sampel diambil dari sikat gigi yang tertinggal di rumah neneknya. Cara itu tidak seharusnya dilakukan tanpa izin kalian, dan aku tidak membenarkannya. Karena itu hasil ini harus dikonfirmasi kembali melalui pemeriksaan resmi.

Aku menatap ibu mertuaku dengan marah.

Tetapi satu pertanyaan mengalahkan semuanya.

—Apa hasil awalnya?

Ayah Raka memberikan amplop kepadaku.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Aku membaca baris pertama.

Lalu kedua.

Dunia terasa berhenti.

Probabilitas hubungan biologis antara aku dan Nara: tidak mendukung hubungan ibu-anak.

Aku tidak menangis.

Aku hanya memeluk Nara.

Dia menatapku bingung.

—Ibu kenapa?

—Tidak apa-apa, Sayang.

Aku mencium kepalanya.

—Ibu di sini.

Kemudian aku membuka hasil Kirana.

Probabilitas hubungan biologis: konsisten dengan hubungan ibu-anak.

Maya mulai terisak.

Kirana ketakutan dan langsung memegang tangannya.

Aku melihat itu.

Dan pada detik tersebut aku memahami sesuatu yang tidak tercantum dalam hasil laboratorium mana pun.

Kirana mungkin lahir dari tubuhku.

Tetapi Maya adalah perempuan yang menggendongnya ketika demam, mengajarinya berjalan, menyisir rambutnya setiap pagi dan memeluknya ketika takut.

Sama seperti aku terhadap Nara.

Aku berjalan mendekati Maya.

—Saya tidak akan mengambil Kirana dari Anda.

Dia mendongak cepat.

—Apa?

—Dan tidak ada yang akan mengambil Nara dari saya.

Ibu mertuaku hendak berbicara.

Aku mengangkat tangan.

—Bukan Ibu yang memutuskan.

Aku memandang Maya.

—Kita akan melakukan tes resmi. Setelah itu kita bicara dengan psikolog anak dan pengacara. Tidak ada anak yang akan diperebutkan seperti barang.

Maya menangis semakin keras.

Untuk pertama kalinya, Kirana mendekat kepadaku.

Dia tidak memanggilku Ibu.

Dia hanya bertanya pelan:

—Apakah Nara saudara saya?

Aku berlutut agar sejajar dengannya.

—Kalau kalian berdua mau, mungkin kalian bisa menjadi sesuatu yang lebih baik daripada sekadar saudara.

—Apa?

Aku tersenyum meski mataku basah.

—Kalian bisa menjadi keluarga.

Saat itulah pintu rumah terbuka.

Raka masuk.

Begitu Nara melihatnya, dia berlari.

—Ayah!

Raka berlutut dan memeluknya erat.

Aku melihat bahunya bergetar.

Nara bukan anak biologisnya.

Namun Raka sama sekali tidak melepaskan pelukannya.

Kemudian dia menatap ibunya.

—Mulai hari ini, Ibu tidak boleh mendekati Nara tanpa izin kami.

Ibunya menangis.

—Raka…

—Aku mencintai Ibu. Tapi mencintai bukan berarti membiarkan Ibu terus menentukan hidup orang lain dengan kebohongan.

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama ini mengendalikan semua orang itu tidak mempunyai jawaban.

Aku mengira rahasia terbesar akhirnya terbuka.

Ternyata belum.

Sebelum kami pergi, Maya memanggilku.

—Tunggu.

Dia menyerahkan satu dokumen terakhir.

—Ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang malam kelahiran mereka.

Aku membukanya.

Itu bukan catatan bayi.

Melainkan laporan kamera koridor rumah sakit yang selama ini dinyatakan hilang.

Pada pukul 03.17 dini hari, tercatat seseorang memasuki ruang bayi.

Bukan ibu mertuaku.

Melainkan seorang petugas administrasi lain.

Dan di samping namanya terdapat catatan yang membuat darahku seolah berhenti mengalir:

“Pemindahan bayi dilakukan atas permintaan keluarga pasien.”

Aku menatap Maya.

—Keluarga pasien yang mana?

Maya menggeleng.

—Itulah yang baru kami temukan kemarin.

Dia menunjuk satu nama di bagian bawah halaman.

Aku membacanya.

Lalu perlahan menoleh kepada Raka.

Karena nama orang yang memberikan persetujuan malam itu adalah seseorang yang seharusnya tidak berada di rumah sakit.

Ayah Raka.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)