BAGIAN 2 — RAHASIA DI BALIK TANDA TANGAN PALSU
Ucapan bocah lima tahun itu membuat ruang tamu mendadak begitu sunyi hingga aku bisa mendengar napas Kirana yang tersengal di pelukanku. Aku menatap Ibu, lalu Siska, tetapi aku tidak punya waktu untuk menuntut jawaban. Kirana kembali mengerang dan mencengkeram kemejaku.
—Mas… sakit…
Amarahku langsung berubah menjadi ketakutan.
Aku mengangkat tubuh Kirana dan membawanya keluar. Sebelum masuk ke mobil, aku menoleh kepada pria yang membawa dokumen tadi.
—Jangan lakukan apa pun terhadap rumah ini sebelum saya kembali. Tanda tangan dalam dokumen itu bukan tanda tangan saya. Saya akan melaporkannya secara resmi.
Wajah pria itu berubah serius.
—Kalau memang ada dugaan pemalsuan, sebaiknya Bapak segera membuat laporan dan menghubungi pengacara.
Aku tidak menjawab lagi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tanganku gemetar di atas kemudi. Kirana duduk di sampingku sambil mengatur napas. Sesekali dia memejamkan mata menahan sakit.
Aku terus meminta maaf.
—Aku seharusnya melindungimu.
Kirana menggenggam tanganku.
—Sekarang pikirkan bayi kita dulu.
Di rumah sakit, dokter segera membawa Kirana ke ruang pemeriksaan.
Untungnya, setelah hampir satu jam yang terasa seperti satu tahun, dokter keluar dan mengatakan bahwa bayi kami masih aman. Kirana mengalami kontraksi akibat tekanan emosional yang sangat berat. Dia harus dirawat dan beristirahat total setidaknya beberapa hari.
Aku masuk ke kamarnya.
Kirana sedang berbaring dengan wajah pucat.
Aku duduk di sampingnya.
—Kenapa kamu menanggung semuanya sendirian?
Air matanya akhirnya jatuh.
—Karena aku tahu betapa sayangnya kamu kepada keluargamu. Aku takut kalau aku bicara, kamu akan mengira aku ingin memisahkanmu dari mereka.
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Selama ini aku selalu menganggap diriku suami yang bertanggung jawab karena bekerja keras dan menyediakan rumah yang nyaman.
Ternyata menyediakan rumah tidak sama dengan menciptakan tempat yang aman.
Aku mencium tangannya.
—Mulai sekarang, tidak ada lagi yang kamu sembunyikan hanya untuk melindungi perasaanku.
Malam itu aku menelepon seorang pengacara bernama Bima, teman lama yang pernah membantuku mengurus dokumen pembelian rumah.
Aku mengirim foto seluruh dokumen yang sempat kuambil.
Dua puluh menit kemudian dia menelepon kembali.
—Ardi, jangan bayar satu rupiah pun dulu.
—Kenapa?
—Kalau tanda tanganmu dipalsukan, dan dokumen tanah Kirana juga digunakan tanpa izin, masalahnya bukan sekadar utang keluarga. Ada dugaan pemalsuan dokumen dan penggunaan aset tanpa persetujuan pemilik.
Harapan kecil muncul dalam dadaku.
—Berarti rumah kami bisa diselamatkan?
—Bisa. Tapi kita harus membuktikan semuanya. Dan jangan menandatangani dokumen apa pun yang diberikan keluargamu.
Keesokan paginya, Bima datang ke rumah sakit.
Kirana memberinya izin untuk memeriksa dokumen tanah miliknya.
Saat itulah kami menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Tanda tangan Kirana dalam berkas ternyata juga dipalsukan.
Bahkan nomor kontak yang dicantumkan sebagai milik Kirana bukan nomor istriku.
Nomor itu milik seseorang bernama Raka.
Bima menatapku.
—Kamu kenal nama ini?
Aku menggeleng.
Kirana tiba-tiba teringat sesuatu.
—Aku pernah dengar Siska menyebut nama Raka saat menelepon.
Kami segera memeriksa pesan yang sempat muncul di ponsel Siska. Untungnya, sebelum meninggalkan rumah kemarin, aku telah memotret layar ponselnya.
Bima memperbesar foto tersebut.
Nomor pengirim pesan cocok.
Raka.
Hari itu juga, melalui proses resmi, kami membuat laporan terkait dugaan pemalsuan dokumen. Pihak pemberi pinjaman juga diberitahu bahwa kepemilikan aset sedang disengketakan karena dokumen diduga diperoleh melalui penipuan.
Proses penyitaan dihentikan sementara.
Untuk pertama kalinya sejak kemarin, aku bisa bernapas sedikit lega.
Namun sore harinya, Ibu datang ke rumah sakit bersama Siska.
Begitu melihat mereka, Kirana langsung menegang.
Aku berdiri di depan pintu.
—Kirana tidak boleh stres. Kalau kalian datang untuk memaksanya mencabut laporan, pulang.
Siska menangis.
—Mas, aku adikmu.
—Justru karena kamu adikku, aku memberimu tempat tinggal. Lalu kamu membalasnya dengan mengambil rumahku.
Ibu memandangku dengan mata merah.
—Kalau masalah ini diteruskan, adikmu bisa dipenjara.
Aku terdiam beberapa detik.
Dulu, satu kalimat seperti itu mungkin cukup untuk membuatku menyerah.
Tidak sekarang.
—Dan kalau Kirana kehilangan bayinya kemarin karena stres, siapa yang bertanggung jawab?
Ibu langsung diam.
Siska menutupi wajahnya.
Kemudian Kirana berbicara dari tempat tidur.
—Aku tidak ingin membalas dendam kepada siapa pun. Aku hanya ingin tanah peninggalan orang tuaku dan rumah kami kembali aman.
Siska menangis semakin keras.
—Aku tidak berniat sejauh ini, Mbak.
Aku menatapnya.
—Kalau begitu ceritakan semuanya.
Siska akhirnya mengaku.
Raka adalah teman suaminya. Dia menawarkan skema investasi yang katanya bisa memberikan keuntungan besar dalam beberapa bulan. Siska membutuhkan modal, tetapi tidak memiliki aset.
Lalu Raka menyarankan menggunakan rumahku.
Awalnya hanya rumah.
Namun ketika nilai pinjaman yang mereka inginkan terlalu besar, Raka meminta jaminan tambahan.
Saat itulah Ibu memberi tahu Siska tentang tanah milik Kirana.
Aku menatap Ibu dengan tidak percaya.
—Bagaimana Ibu tahu tempat Kirana menyimpan dokumennya?
Ibu menangis.
—Suatu hari Ibu melihat dia memasukkan berkas ke dalam kotak di lemari.
—Lalu Ibu mengambilnya?
Ibu menunduk.
Itu sudah menjadi jawaban.
Tetapi Siska tiba-tiba berkata:
—Mas, ada sesuatu lagi yang harus kamu tahu.
Aku menatapnya.
—Apa?
Siska menggigit bibirnya.
—Uangnya tidak semuanya hilang.
Aku membeku.
—Apa maksudmu?
—Sebagian besar masih ada.
—Di mana?
Siska menoleh kepada suaminya.
Pria itu pucat.
—Raka yang memegangnya.
Bima yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung bertanya:
—Berapa yang sudah kalian serahkan kepada Raka?
Siska menyebutkan jumlahnya.
Aku merasa darahku mendidih.
Hampir seluruh pinjaman.
—Jadi kalian menjaminkan rumah dan tanah kami, lalu memberikan uangnya kepada orang yang hampir tidak kalian kenal?
Siska menangis.
Namun Bima justru terlihat semakin serius.
—Ardi, ini mungkin kabar baik.
Aku menatapnya bingung.
—Bagaimana mungkin?
—Kalau dana itu masih bisa dilacak, ada kemungkinan sebagian besar kerugian dapat dipulihkan.
Tiba-tiba ponsel Siska berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Raka.
“Kita harus bertemu malam ini. Jangan bawa kakakmu. Ada masalah dengan rekening.”
Bima membaca pesan itu.
Lalu dia menatapku.
—Jangan balas dulu.
—Kenapa?
Dia mengambil ponselnya sendiri.
—Karena mungkin orang yang paling kita butuhkan untuk membuktikan semuanya baru saja menghubungi kita sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak mimpi buruk ini dimulai, aku merasa keadaan mulai berbalik.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
