RUMAH YANG KEMBALI MENJADI TEMPAT PULANG

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 147 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — RUMAH YANG KEMBALI MENJADI TEMPAT PULANG

Pertemuan dengan Raka tidak berlangsung seperti yang dia rencanakan.

Siska membalas pesannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia setuju bertemu di sebuah kedai kopi di pusat kota. Namun kali ini dia tidak datang sendirian.

Semua dilakukan melalui prosedur yang disarankan Bima dan pihak berwenang.

Aku tidak ikut mendekati meja.

Aku menunggu dari kejauhan.

Raka datang hampir tiga puluh menit terlambat.

Dia mengenakan kemeja rapi dan membawa tas laptop. Dari penampilannya, tidak ada yang menunjukkan bahwa pria itu telah membuat keluargaku hampir kehilangan dua aset sekaligus.

Siska bertanya tentang uangnya.

Awalnya Raka mencoba menenangkan.

Lalu dia mengatakan rekening sementara dibekukan.

Setelah didesak, ceritanya mulai berubah.

Katanya uang sedang dipindahkan.

Kemudian katanya ada masalah dengan mitra bisnis.

Akhirnya dia menyuruh Siska mencari jaminan lain agar mereka bisa mendapatkan pinjaman tambahan.

Saat itulah semuanya menjadi jelas.

Tidak pernah ada proyek bisnis seperti yang dijanjikan.

Skema itu hanya dirancang untuk terus menarik uang.

Proses hukum bergerak setelah pertemuan tersebut.

Aku tidak ingin mengetahui setiap detailnya. Yang paling penting bagiku adalah Kirana dan bayi kami.

Namun selama beberapa minggu berikutnya, Bima terus memberi kabar.

Rekening yang berkaitan dengan transaksi berhasil dilacak.

Sebagian dana masih berada dalam beberapa rekening dan belum sempat dipindahkan lebih jauh.

Pihak pemberi pinjaman juga melakukan pemeriksaan internal setelah mengetahui bahwa identitas serta tanda tangan pemilik aset bermasalah.

Dokumen jaminan rumahku akhirnya dinyatakan tidak dapat diproses seperti semula karena persetujuan pemilik dipalsukan.

Tanah Kirana juga dilepaskan dari sengketa setelah pemeriksaan membuktikan bahwa dia tidak pernah memberikan izin.

Ketika Bima membawa kabar itu ke rumah sakit, aku membaca surat tersebut tiga kali.

—Jadi tanah Kirana aman?

—Aman.

—Rumah?

Bima tersenyum.

—Tidak akan disita berdasarkan dokumen palsu itu.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku menangis.

Bukan karena takut.

Karena lega.

Kirana mengulurkan tangannya.

Aku memeluknya hati-hati.

—Rumah kita aman.

Dia tersenyum sambil menangis.

—Bukan rumahnya yang paling penting, Mas.

Aku mengangguk.

Aku tahu maksudnya.

Beberapa hari kemudian, Kirana diperbolehkan pulang.

Namun aku mengambil keputusan sebelum dia kembali.

Siska, suaminya, dan Ibu tidak akan tinggal bersama kami lagi.

Aku membantu Ibu mendapatkan tempat tinggal sederhana yang masih bisa kujangkau. Tetapi aku tidak lagi memberikan akses bebas ke rumah kami.

Siska harus mencari tempat tinggal sendiri.

Ketika aku meminta kunci cadangan dikembalikan, Ibu menangis.

—Kamu benar-benar berubah sejak menikah.

Aku menatapnya.

—Tidak, Bu. Aku hanya terlambat belajar bahwa menjadi anak yang baik tidak berarti membiarkan orang menyakiti istriku.

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan dengan tenang.

—Aku tetap anak Ibu. Aku akan membantu kalau Ibu benar-benar membutuhkan sesuatu. Tapi rumahku, uangku, dan kehidupan rumah tanggaku bukan milik seluruh keluarga.

Siska berdiri beberapa langkah dari kami sambil memegang kunci.

Kemudian dia menyerahkannya kepadaku.

—Maaf, Mas.

Aku menerimanya.

—Aku belum bisa mengatakan semuanya baik-baik saja.

Wajahnya jatuh.

—Tapi aku berharap suatu hari nanti kita bisa menjadi saudara lagi. Bukan karena aku melupakan apa yang kamu lakukan, melainkan karena kamu benar-benar berubah.

Siska mengangguk sambil menangis.

Proses hukum tetap berjalan.

Aku tidak mencabut laporan hanya karena kami memiliki hubungan darah.

Namun aku juga tidak meminta hukuman apa pun di luar proses yang semestinya.

Siska dan suaminya akhirnya bersedia bekerja sama sepenuhnya untuk mengungkap keterlibatan Raka. Mereka menyerahkan percakapan, bukti transfer, dokumen, serta semua informasi yang mereka miliki.

Beberapa bulan kemudian, sebagian besar dana yang belum sempat dipindahkan berhasil diamankan melalui proses hukum.

Tidak semuanya kembali.

Tetapi cukup untuk membuat masalah keuangan itu tidak lagi menjadi lubang yang menghancurkan seluruh hidup kami.

Siska harus menanggung bagian kerugiannya sendiri.

Dia menjual beberapa barang berharga, mulai bekerja kembali, dan bersama suaminya menyusun rencana pembayaran untuk kewajiban yang memang menjadi tanggung jawab mereka.

Aku tidak membayarnya.

Itu mungkin keputusan paling sulit bagiku.

Selama bertahun-tahun, setiap kali keluarga mengalami masalah, aku selalu mengeluarkan dompet.

Kali ini tidak.

Suatu malam Ibu menelepon.

—Ardi, Siska sedang kesulitan membayar kontrakan.

Aku terdiam.

Dulu aku pasti langsung mengirim uang.

—Kalau dia kekurangan makanan, bilang padaku. Aku bisa mengirim bahan makanan. Tapi aku tidak akan melunasi utangnya.

Ibu tidak marah.

Dia hanya berkata pelan:

—Ibu mengerti.

Dua kata sederhana itu terasa seperti sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kudengar.

Batas.

Enam minggu kemudian, dini hari, Kirana membangunkanku.

—Mas.

Aku langsung duduk.

—Kenapa? Sakit?

Dia mengangguk.

Kali ini kami tidak panik.

Tas persalinan sudah berada di dekat pintu.

Aku membawanya ke rumah sakit.

Beberapa jam kemudian, aku berdiri di samping tempat tidurnya sambil memegang tangannya.

Lalu terdengar tangisan kecil.

Tangisan yang membuat seluruh dunia seolah berhenti.

Putri kami lahir dengan selamat.

Sehat.

Kecil.

Sempurna.

Ketika perawat meletakkannya di dada Kirana, istriku menangis.

Aku juga.

—Cantik sekali, Mas.

Aku mencium keningnya.

—Seperti ibunya.

Kami memberi putri kami nama Laras.

Bukan karena nama itu memiliki makna besar bagi keluarga.

Justru karena kami ingin dia memulai hidupnya tanpa memikul beban siapa pun.

Hari ketika kami membawa Laras pulang, rumah terasa berbeda.

Aku sudah mengganti semua kunci.

Dokumen penting kami dipindahkan ke tempat yang aman.

Aku juga mengurangi perjalanan kerja dan meminta pengaturan jadwal yang membuatku lebih sering berada di rumah.

Saat membuka pintu, Kirana berhenti.

Ruang tamu sederhana itu dipenuhi cahaya sore.

Tidak ada dokumen pinjaman.

Tidak ada orang asing.

Tidak ada pertengkaran.

Hanya rumah kami.

Aku melihat mata Kirana berkaca-kaca.

—Kenapa?

Dia tersenyum.

—Aku baru merasa benar-benar pulang.

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Aku memeluknya dan Laras sekaligus.

Beberapa bulan kemudian, hubungan kami dengan keluargaku perlahan berubah.

Bukan kembali seperti dulu.

Lebih sehat daripada dulu.

Ibu mulai datang sesekali, tetapi selalu menelepon lebih dulu.

Dia tidak lagi membuka lemari Kirana, tidak mengatur keuangan kami, dan tidak pernah lagi mengatakan bahwa rumah kami adalah rumah seluruh keluarga.

Suatu sore, saat menggendong Laras, Ibu tiba-tiba berkata kepada Kirana:

—Maafkan Ibu.

Kirana terdiam.

Ibu melanjutkan:

—Ibu terlalu takut melihat Siska gagal sampai Ibu membenarkan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Ibu hampir menghancurkan rumah tangga kalian.

Kirana tidak langsung berkata bahwa dia memaafkan.

Aku menghargai itu.

Pengampunan bukan kewajiban yang harus diberikan saat seseorang memintanya.

Namun Kirana akhirnya berkata:

—Saya tidak ingin Laras tumbuh dengan kebencian. Kita bisa memulai lagi, Bu. Tapi perlahan.

Ibu mengangguk.

—Perlahan saja.

Siska membutuhkan waktu lebih lama.

Hampir setahun kemudian, dia datang membawa sebuah amplop.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sejumlah uang.

Tidak banyak.

—Apa ini?

—Cicilan pertama untuk mengganti kerugian yang menjadi tanggung jawabku.

Aku hendak mengatakan dia tidak perlu memberikannya hari itu.

Namun aku menghentikan diriku.

Menerima tanggung jawab adalah bagian dari perubahan.

Aku mengambil amplop tersebut.

—Terima kasih.

Siska menatap Laras yang sedang bermain di karpet.

—Mas… apakah suatu hari nanti kamu bisa benar-benar memaafkanku?

Aku memandang adikku.

—Aku sudah berhenti membencimu. Tapi kepercayaan dibangun sedikit demi sedikit.

Dia mengangguk.

—Aku akan menunggu.

Aku tersenyum tipis.

—Jangan menunggu. Buktikan.

Siska tertawa kecil sambil mengusap air matanya.

Malam itu, setelah semua orang pulang, aku berdiri di balkon bersama Kirana.

Laras sudah tertidur.

Kirana menyandarkan kepala di bahuku.

Aku memandang rumah-rumah yang diterangi lampu malam.

Dulu aku berpikir menjadi kepala keluarga berarti bekerja sebanyak mungkin, menghasilkan uang sebanyak mungkin, lalu memberikan sebanyak mungkin kepada orang yang membutuhkan.

Aku salah.

Menjadi kepala keluarga bukan berarti menjadi dompet bagi semua orang.

Bukan pula berarti selalu mengatakan iya agar dianggap sebagai anak atau kakak yang baik.

Terkadang, cinta justru berarti berani berkata tidak.

Berani membuat batas.

Berani melindungi orang yang telah memilih membangun kehidupan bersamamu.

Aku menggenggam tangan Kirana.

—Aku pernah hampir kehilangan semuanya karena terlalu takut mengecewakan keluargaku.

Kirana menatapku.

—Tapi kamu tidak kehilangan kami.

Aku tersenyum.

Dari kamar terdengar suara Laras mulai merengek.

Kirana hendak berdiri, tetapi aku lebih dulu bangkit.

—Aku saja.

Dia tertawa.

Aku berjalan menuju kamar putri kami.

Saat mengangkat Laras ke dalam pelukanku, tangan kecilnya menggenggam jariku.

Aku memandang wajahnya yang mengantuk dan akhirnya memahami sesuatu.

Rumah ini bukan sekadar dinding, sertifikat tanah, atau angka yang tertulis dalam dokumen.

Rumah adalah tempat di mana orang yang kita cintai tidak perlu merasa takut.

Tempat di mana kepercayaan tidak dicuri.

Tempat di mana kebaikan tidak dianggap sebagai kelemahan.

Dan setelah semua yang terjadi, rumah kami akhirnya menjadi seperti itu.

Bukan rumah yang sempurna.

Tetapi rumah yang aman.

Rumah yang memiliki batas.

Rumah yang dibangun kembali dengan kejujuran.

Aku menatap Kirana yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kepada kami.

Lalu aku memeluk putriku sedikit lebih erat.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak merasa sedang berusaha menyelamatkan semua orang.

Aku hanya sedang menjaga keluargaku.

Dan akhirnya, aku tahu persis siapa yang kumaksud ketika mengucapkan kata itu:

Keluargaku.