Di Malam Idulfitri, Pacar Kakakku Menuduh Kedekatan Kami Tak Wajar—Ibuku Tersenyum Lembut, Lalu Satu Daftar Aturan Membuat Wajahnya Pucat di Depan Keluarga dan Kakakku Akhirnya Melihat Siapa Dirinya Sebenarnya

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 1,836 tayangan
Auto Draft
Indeks

Di Malam Idulfitri, Pacar Kakakku Menuduh Kedekatan Kami Tak Wajar—Ibuku Tersenyum Lembut, Lalu Satu Daftar Aturan Membuat Wajahnya Pucat di Depan Keluarga dan Kakakku Akhirnya Melihat Siapa Dirinya Sebenarnya

Bagian 1 — Pacar Pertama Kakakku Datang Membawa Senyum Sopan, Tetapi Satu Piring Udang Mengubah Makan Malam Lebaran Menjadi Sidang tentang Kedekatanku dengannya

Malam Idulfitri itu seharusnya menjadi malam paling menyenangkan dalam hidupku.

Selain seluruh keluarga berkumpul di rumah kami di Bandung, tepat pukul dua belas malam nanti usiaku genap sembilan belas tahun.

Ayah bahkan membatalkan perjalanan bisnis ke Surabaya agar bisa pulang lebih cepat.

Ibu sudah sejak pagi sibuk memilih bunga untuk meja makan.

Dan kakakku, Arga, pulang dari Singapura dua hari lebih awal hanya karena satu alasan.

Ia ingin memperkenalkan pacarnya secara resmi kepada keluarga.

Namanya Nadira Prameswari.

Perempuan berusia dua puluh enam tahun yang bekerja sebagai konsultan komunikasi di Jakarta, berasal dari keluarga berada, selalu berpakaian rapi, berbicara pelan, dan tersenyum seperti tak pernah marah seumur hidupnya.

Sebelum Nadira datang, Arga berkali-kali mengingatkanku.

“Jangan terlalu jahil.”

Aku memutar mata.

“Memangnya aku umur lima tahun?”

“Kamu kalau sudah lihat aku gampang lupa umur.”

“Karena Kak Arga gampang dikerjain.”

Ia tertawa sambil mengacak rambutku.

Hubunganku dengan Arga memang dekat.

Selisih usia kami tujuh tahun.

Ketika aku masih SD, Ayah dan Ibu sedang sibuk membesarkan perusahaan distribusi alat kesehatan mereka. Arga yang mengantarku les, mengajariku naik sepeda, menjemputku ketika aku demam di sekolah, bahkan pernah duduk semalaman di depan kamar saat aku takut tidur sendirian setelah rumah tetangga kemalingan.

Bagiku dia bukan sekadar kakak.

Dia seperti separuh masa kecilku.

Karena itu aku benar-benar ingin menyukai perempuan yang ia cintai.

Pada satu jam pertama, semuanya berjalan baik.

Nadira membawa kue untuk Ibu, kopi favorit Ayah, dan bahkan memberiku parfum kecil sebagai hadiah ulang tahun.

“Kata Arga kamu suka aroma citrus,” katanya manis.

Aku langsung tersenyum.

“Terima kasih, Kak.”

Kupikir malam itu akan berjalan sempurna.

Sampai hidangan utama keluar.

Mbak Yuni meletakkan sepiring besar udang bakar madu di tengah meja.

Arga otomatis mengambil satu.

Ia mengupasnya, lalu menaruhnya di piring Nadira.

“Nih, coba. Bumbunya enak.”

Nadira tersenyum.

“Terima kasih.”

Arga mengambil satu lagi.

Jari-jarinya bergerak cepat mengupas kulit udang.

Tanpa mengatakan apa pun, ia meletakkannya di piringku.

“Makan. Tadi katanya lapar.”

Aku bahkan tidak mengangkat kepala karena sedang membalas ucapan ulang tahun teman.

“Hmm. Makasih, Kak.”

Lalu terdengar tawa kecil.

Bukan tawa keras.

Justru terlalu lembut.

Aku mengangkat kepala.

Nadira sedang memandang udang di piringku.

“Rania masih harus dikupaskan juga?”

Nada suaranya terdengar bercanda.

Aku ikut tersenyum.

“Sudah kebiasaan dari kecil.”

Arga tertawa.

“Dia malas kena kulit udang.”

Tetapi Nadira tidak tertawa.

Ia menatapku beberapa detik.

“Sudah sembilan belas tahun, kan?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Berarti sebenarnya sudah cukup dewasa untuk belajar melakukan hal-hal kecil sendiri.”

Meja makan mendadak terasa lebih sepi.

Aku masih berusaha berpikir positif.

Mungkin dia cuma bercanda.

Arga rupanya juga merasakan perubahan suasana.

“Nad, cuma kupasin udang.”

“Aku tahu.”

Nadira tersenyum lebih manis.

“Aku bukan mempermasalahkan udangnya.”

Ia memandangku.

“Aku cuma merasa hubungan saudara juga perlu berubah ketika sudah sama-sama dewasa.”

Sendok Ibu berhenti di udara.

Ayah perlahan meletakkan gelas.

Aku belum mengatakan apa pun ketika Nadira melanjutkan.

“Apalagi kalau salah satunya sudah punya pasangan.”

Aku benar-benar tidak mengerti.

“Hubungannya apa?”

Nadira tertawa kecil.

“Jangan salah paham, Rania. Aku bilang begini karena aku ingin kita dekat.”

Kalimat seperti itu selalu aneh.

Orang yang benar-benar ingin dekat biasanya tidak memulai dengan membuatmu merasa sedang diadili.

Nadira menggenggam lengan Arga.

“Aku cuma berpikir Kak Arga selama ini terlalu memanjakanmu.”

Arga menghela napas.

“Nadira…”

Tetapi ia terus bicara.

“Aku dengar dulu kamu sering duduk di kursi depan mobilnya.”

Aku mengerutkan kening.

“Ya, kalau dia menjemputku.”

“Di mobilnya juga masih ada charger, lip balm, bahkan biskuit favoritmu.”

Aku menoleh ke Arga.

Dia tampak mulai tidak nyaman.

Nadira kembali tersenyum.

“Aku tahu kalian saudara. Tapi ada hal-hal yang sebaiknya berubah setelah seorang laki-laki punya pasangan.”

Panas mulai naik ke wajahku.

Aku akhirnya bertanya.

“Contohnya?”

“Kursi depan mobil.”

“Kenapa?”

“Itu biasanya tempat pasangan.”

Aku hampir tertawa karena mengira ia bercanda.

Ternyata tidak.

Nadira bahkan menambahkan,

“Lalu soal pesan tengah malam.”

Aku terdiam.

Ia ternyata sudah tahu banyak.

Terlalu banyak.

“Aku pernah lihat kamu mengirim pesan jam satu pagi.”

Aku mengingatnya.

“Oh. Itu waktu formulir pertukaran mahasiswa aku error. Deadline-nya pagi.”

“Bisa dibicarakan besok.”

“Deadline-nya jam tujuh.”

“Kalau sudah dewasa, kita belajar mengatur waktu.”

Aku menatapnya lama.

Malam ulang tahunku mendadak berubah menjadi seminar etika.

Arga akhirnya menepuk tanganku pelan dari bawah meja.

“Sudah.”

Kupikir dia sedang menghentikan Nadira.

Ternyata ia menoleh kepadaku.

“Ran, Nadira memang agak sensitif soal batas. Kamu jangan ambil hati.”

Aku membeku.

Ia lalu berkata pelan,

“Ini pertama kali dia datang ke rumah. Tolong jangan bikin suasana makin susah.”

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding semua ucapan Nadira.

Karena aku bahkan belum melakukan apa-apa.

Aku yang sedang dipermalukan.

Tapi aku pula yang diminta mengalah.

Aku menunduk.

Udang di piringku tiba-tiba terasa menjijikkan.

Di seberang meja, Ibu masih diam.

Namanya Maya Lestari.

Jika orang hanya mengenal Ibu sekarang, mereka mungkin mengira hidupnya selalu nyaman.

Setiap pagi pilates.

Siang memilih bunga.

Sore membaca sambil minum teh.

Ia bisa menghabiskan tiga puluh menit hanya untuk memilih warna syal.

Tapi aku tahu masa lalunya.

Ibu dibesarkan oleh nenekku, seorang penjahit rumahan di kawasan padat Semarang.

Ia kuliah menggunakan beasiswa.

Pernah bekerja sebagai tenaga penjualan alat laboratorium dengan motor bekas.

Pernah berdiri berjam-jam di depan rumah sakit hanya demi menunggu kepala pengadaan keluar.

Pernah membawa koper berisi katalog dari kota ke kota dengan bus malam.

Ketika Ayah membangun perusahaan pertamanya, separuh jaringan pelanggan justru dibawa masuk oleh Ibu.

Ayah pernah bilang kepadaku,

“Kalau Ibumu mau menghancurkan orang, dia tidak perlu berteriak. Dia cukup membuat orang itu terus bicara.”

Aku baru memahami maksudnya malam itu.

Ibu mengambil tisu.

Mengusap ujung bibir.

Lalu menghela napas panjang.

“Nadira benar.”

Semua orang menoleh.

Arga kelihatan lega.

Nadira tersenyum.

Aku menatap Ibu tak percaya.

Tetapi kemudian Ibu memandangku dengan wajah penuh rasa bersalah.

“Rania, mungkin selama ini Ibu memang gagal mendidikmu.”

Aku nyaris menjatuhkan garpu.

“Hah?”

Ibu memegang dadanya.

“Bayangkan. Kamu punya kakak kandung, dibesarkan bersama sejak bayi, lalu masih berani meminta pertolongannya setelah umur delapan belas.”

Tante Dina langsung menunduk menahan tawa.

Wajah Nadira berubah sedikit.

“Bu Maya, maksud saya bukan begitu.”

Ibu langsung mengangguk.

“Oh, tentu. Ibu paham.”

Lalu ia menoleh kepada Arga.

“Mulai besok kalau Rania sakit di kampus, jangan jemput.”

“Bu…”

“Kalau ban motornya bocor malam-malam, suruh cari bengkel sendiri.”

“Ibu…”

“Kalau dia dapat masalah di luar kota, sebelum membantu telepon Nadira dulu.”

Ayah batuk keras ke dalam serbet.

Aku tahu dia sedang tertawa.

Nadira mulai duduk lebih tegak.

“Bu Maya, ini terlalu dibesar-besarkan.”

Ibu tampak terkejut.

“Lho?”

“Aku tidak melarang Arga menyayangi keluarganya.”

“Syukurlah.”

Ibu tersenyum lembut.

“Kupikir aturan batas ini berlaku untuk seluruh keluarga.”

Nadira menarik napas.

“Tentu tidak.”

Ibu mengangguk berkali-kali.

“Bagus sekali.”

Lalu senyumnya hilang.

“Hanya untuk anak perempuan saya?”

Suasana langsung membeku.

Nadira menatap Arga.

Arga terlihat terjepit.

“Bu, Nadira cuma belum terbiasa.”

Ibu memandang putranya.

“Belum terbiasa dengan apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Nadira akhirnya berkata,

“Saya hanya ingin beberapa hal jelas sebelum hubungan kami menjadi lebih serius.”

Mata Ibu langsung berubah.

Bukan marah.

Justru tertarik.

“Oh.”

Ia menyandarkan punggung.

“Jadi ada beberapa hal?”

Nadira mengangguk.

“Menurut saya lebih baik dibicarakan sejak awal.”

Ibu tersenyum lagi.

“Bagus.”

Kemudian ia mendorong mangkuk supnya sedikit ke depan.

“Kalau begitu, malam ini kita bicarakan semuanya.”

Entah kenapa wajah Ayah langsung berubah seperti orang yang tahu badai baru saja dimulai.

Sementara Ibu menatap Nadira dan berkata sangat pelan,

“Coba sebutkan satu per satu aturan yang menurutmu perlu diterapkan kepada Rania.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum Nadira benar-benar menghilang.

#DramaKeluarga #CeritaKeluarga #KisahViral #KonflikKeluarga #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Ibuku yang Selama Ini Terlihat Lembut Mulai Menanyakan Batas, dan Setiap Jawaban Nadira Justru Membuka Niatnya untuk Mengatur Seluruh Keluarga

Nadira mungkin mengira Ibu sedang memberinya kesempatan menjelaskan.

Ia tidak tahu Ibu sedang memberinya tali.

Dan membiarkannya sendiri menentukan seberapa panjang tali itu.

Nadira merapikan rambut.

“Kalau memang boleh bicara jujur, saya cuma punya beberapa hal sederhana.”

Ibu mengangguk.

“Kami mendengarkan.”

“Pertama, Rania sebaiknya tidak terlalu sering datang ke apartemen Arga.”

Aku langsung menjawab.

“Aku cuma datang empat kali tahun ini.”

Nadira menoleh.

“Empat kali tetap cukup sering.”

“Dua kali mengambil buku.”

“Bisa dikirim kurir.”

“Satu kali mengantar makanan waktu Kak Arga demam.”

“Bisa memakai aplikasi.”

Aku sampai kehilangan kata-kata.

Ibu justru tersenyum.

“Baik. Apartemen.”

Ia mengambil ponselnya seperti sedang mencatat.

“Berikutnya?”

Nadira mulai terlihat lebih percaya diri.

“Kursi depan mobil.”

Ayah akhirnya bertanya,

“Kenapa kursi depan?”

Nadira menjawab sopan.

“Bagi sebagian perempuan, itu punya makna khusus.”

Ayah mengangguk.

“Berarti kalau Rania ikut mobil Arga, duduk belakang?”

“Menurut saya lebih pantas.”

Ibu mengetik sesuatu.

“Baik.”

“Lalu pesan setelah jam sepuluh malam, kecuali darurat.”

Ibu mengetik lagi.

“Bagus.”

“Dan sebaiknya Arga tidak selalu membayar keperluan Rania.”

Aku langsung menatap Arga.

Selama aku kuliah, uang sakuku sepenuhnya dari Ayah.

Arga paling cuma sesekali membelikanku buku atau makanan.

Tetapi sebelum aku menjawab, Ibu berkata,

“Berapa banyak uang Arga yang digunakan untuk Rania bulan ini?”

Nadira diam.

“Saya tidak tahu jumlah tepatnya.”

“Kalau begitu bagaimana kamu tahu terlalu banyak?”

Sunyi.

Nadira tersenyum kaku.

“Maksud saya pola.”

Ibu mengangguk.

“Pola berdasarkan apa?”

Arga mulai gelisah.

“Bu, jangan seperti interogasi.”

Ibu menoleh.

“Ibu sedang belajar.”

Lalu kembali kepada Nadira.

“Ada lagi?”

Nadira rupanya sudah terlanjur masuk terlalu jauh untuk mundur.

“Aku juga merasa Rania terlalu bergantung secara emosional kepada Arga.”

Aku tertawa kecil karena tidak percaya.

“Bergantung?”

“Kamu sering menelepon kalau punya masalah.”

“Dia kakakku.”

“Itulah maksudku.”

Untuk pertama kalinya nada suara Nadira berubah sedikit tajam.

“Arga bukan satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan masalahmu.”

Aku menatap kakakku.

Ia menghindari tatapanku.

Saat itu sesuatu di dalam diriku ikut dingin.

Mungkin Nadira memang keterlaluan.

Tetapi Arga membiarkannya.

Ibu tiba-tiba bertanya,

“Nadira, kamu punya adik?”

Nadira mengangguk.

“Adik laki-laki.”

“Umur?”

“Dua puluh dua.”

“Masih kuliah?”

“Iya.”

“Siapa yang membayar apartemennya di Jakarta?”

Wajah Nadira berubah.

“Apa hubungannya?”

“Arga.”

Semua kepala menoleh.

Aku menatap kakakku.

“Kak?”

Arga tampak pucat.

Ibu meletakkan ponselnya.

“Nadira meminta Arga membantu biaya sewa apartemen adiknya selama enam bulan karena ayahnya sedang menyelesaikan masalah bisnis.”

Nadira langsung membela diri.

“Itu pinjaman.”

“Tidak masalah.”

Ibu tersenyum.

“Bahkan menurut Ibu bagus kalau Arga membantu.”

Lalu ia menatap Nadira lurus-lurus.

“Yang Ibu ingin pahami, kenapa bantuan kepada adikmu disebut kepedulian, tetapi ketika Arga membelikan buku untuk adik kandungnya sendiri disebut ketergantungan?”

Tidak ada jawaban.

Ibu belum selesai.

“Adikmu juga menggunakan mobil Arga dua kali saat datang ke Bandung, benar?”

Nadira menelan ludah.

“Karena keadaan mendesak.”

“Duduk depan?”

Tante Dina langsung menutup mulutnya.

Nadira memerah.

“Itu berbeda.”

“Kenapa?”

“Dia laki-laki.”

Ibu tersenyum.

“Nah.”

Hanya satu kata.

Tetapi cukup membuat seluruh meja memahami semuanya.

Ini ternyata bukan soal kedewasaan.

Bukan soal batas.

Bukan pula soal sopan santun.

Nadira hanya tidak suka perempuan lain memiliki tempat penting dalam kehidupan Arga.

Bahkan jika perempuan itu adik kandungnya sendiri.

Arga akhirnya berkata,

“Sudah, Bu.”

Ibu memandangnya lama.

“Belum.”

Nada suaranya tetap lembut.

Tetapi tidak ada seorang pun berani menyela lagi.

Ibu membuka ponselnya.

“Karena sebelum datang malam ini, rupanya Nadira sudah membuat aturan lebih lengkap.”

Wajah Arga mendadak pucat.

Nadira membeku.

Aku melihat tangan Nadira berhenti di atas meja.

Ibu melanjutkan,

“Tiga hari lalu Arga mengirim sesuatu kepada Ibu.”

“Kak?”

Aku menatapnya.

Arga mengusap wajah.

Ia jelas ingin menghilang.

Ibu menunjukkan layar ponselnya.

“Sebuah daftar.”

Nadira langsung berdiri sedikit dari kursinya.

“Arga!”

Arga tidak menjawab.

Ibu membaca.

“Nomor satu: Rania tidak boleh mempunyai kunci cadangan apartemen.”

Aku tercengang.

Aku memang punya satu.

Diberikan Arga sendiri setelah ia pernah pingsan karena demam dan tidak bisa membuka pintu untuk petugas medis.

Ibu melanjutkan.

“Nomor dua: foto Rania di meja kerja Arga dipindahkan.”

Aku menatap kakakku.

Foto itu foto kami ketika masih anak-anak.

Aku sedang menangis karena es krimku jatuh, sementara Arga tertawa sambil memeluk kepalaku.

“Nomor tiga: Arga tidak perlu menghadiri wisuda Rania apabila tanggalnya bertabrakan dengan acara keluarga Nadira.”

Aku benar-benar tidak mampu bicara.

Tetapi baris berikutnyalah yang membuat Ibu akhirnya kehilangan senyum.

“Nomor tujuh: setelah menikah, keputusan mengenai seberapa sering Arga menemui keluarganya harus disepakati bersama Nadira terlebih dahulu.”

Sunyi.

Nadira berdiri.

“Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”

Ibu mengangkat mata.

“Lalu seperti apa?”

“Itu cuma diskusi pribadi pasangan.”

“Benar.”

Ibu mengangguk.

“Dan Arga mengirimnya kepada Ibu karena dia sendiri mulai merasa ada sesuatu yang tidak sehat.”

Aku langsung menoleh kepada kakakku.

Wajah Arga pucat.

Nadira terlihat seperti baru ditampar oleh kenyataan.

Tetapi yang membuat suasana berubah total adalah ketika Ibu menggulir layar ke bawah.

“Ada satu bagian lagi.”

Nadira berkata cepat,

“Bu Maya, saya rasa cukup.”

Ibu mengangkat alis.

“Kenapa?”

Lalu ia membaca kalimat terakhir.

“‘Kalau Rania sulit menerima perubahan, Arga harus membuatnya terbiasa kehilangan akses sedikit demi sedikit sampai dia mengerti bahwa keluarga inti Arga nanti adalah istrinya, bukan keluarganya sekarang.’”

Aku merasakan sesuatu seperti jatuh di dalam dada.

Ibu mematikan layar.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu ia memandang Arga, bukan Nadira.

“Sekarang Ibu hanya punya satu pertanyaan.”

Arga menelan ludah.

Ibu berkata,

“Kalau malam ini Ibu tidak membuka mulut, berapa banyak dari aturan itu yang sebenarnya sudah kamu setujui?”

Dan wajah kakakku langsung kehilangan warna.

Bagian 3 — Satu Daftar Aturan dan Dua Pesan Lama Membuat Arga Berhenti Membela Nadira, Lalu Keputusan Ibu Menutup Semua Pintu dengan Tenang

Tidak ada suara hampir sepuluh detik.

Aku tidak melihat Nadira.

Aku hanya melihat Arga.

Orang yang sejak kecil selalu berdiri di depanku ketika aku takut.

Orang yang pernah memukul anak laki-laki SMP karena mengejek gigiku.

Orang yang menelepon setiap malam ketika aku pertama kali tinggal sendiri di asrama.

Sekarang bahkan tidak bisa menatapku.

“Aku belum setuju semuanya,” katanya akhirnya.

Kalimat itu justru terasa lebih buruk.

Karena berarti ada beberapa yang sudah ia setujui.

Aku tersenyum kecil.

“Yang mana?”

“Ran…”

“Yang mana, Kak?”

Ia menarik napas panjang.

“Soal kunci apartemen.”

Aku mengangguk.

“Yang lain?”

“Pesan malam.”

“Yang lain?”

Ia diam.

Aku sudah mengerti.

Ibu memandangku sebentar.

Tatapan yang seolah berkata, jangan menangis di depan orang yang tidak pantas melihat air matamu.

Aku mengangkat dagu.

Nadira tiba-tiba bicara.

“Semua orang membuat saya terlihat seperti penjahat, padahal saya cuma sedang menjaga hubungan saya.”

Ibu berbalik kepadanya.

“Tidak.”

Nada Ibu datar.

“Kamu sedang mengurangi dunia pasanganmu sedikit demi sedikit supaya nantinya hanya kamu yang tersisa.”

Nadira tertawa pahit.

“Itu tuduhan serius.”

“Benarkah?”

Ibu mengambil ponselnya lagi.

“Kemarin Arga menceritakan kepada Ibu bahwa kalian bertengkar karena ia ingin membawa Rania ke rumah sakit saat alerginya kambuh.”

Aku terkejut.

Aku bahkan tidak tahu mereka bertengkar soal itu.

Ibu melanjutkan.

“Dan bulan lalu kalian bertengkar karena Arga pulang ke Bandung saat Ayah operasi kecil.”

Nadira mengatupkan rahang.

“Itu karena kami sudah punya rencana.”

“Kamu meminta dia memilih.”

“Saya meminta prioritas.”

“Persis.”

Ibu mengangguk.

“Kamu selalu mengganti kata ‘memilih’ menjadi ‘prioritas’, kata ‘mengontrol’ menjadi ‘batas’, dan kata ‘memisahkan’ menjadi ‘kedewasaan’.”

Tidak seorang pun menyela.

Bahkan Ayah hanya duduk diam.

Nadira memandang Arga.

“Kamu membiarkan ibumu bicara seperti ini kepadaku?”

Arga akhirnya mengangkat kepala.

Dan entah kenapa, tatapannya sudah berubah.

Mungkin karena untuk pertama kalinya seluruh pola itu dibentangkan di depan matanya.

Bukan sebagai pertengkaran kecil.

Bukan sebagai kecemburuan sesaat.

Tetapi sebagai sesuatu yang terus berulang.

Ia berkata,

“Kenapa kamu menyuruhku memindahkan foto Rania?”

Nadira terdiam.

“Karena aneh.”

“Itu foto waktu kami umur sebelas dan empat tahun.”

“Bukan fotonya yang menjadi masalah. Simbolnya.”

“Simbol apa?”

“Bahwa dia selalu jadi nomor satu.”

Aku memejamkan mata sebentar.

Akhirnya.

Kalimat sebenarnya keluar juga.

Arga tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Rania bukan nomor satu.”

Nadira menatapnya.

“Dia adikku.”

“Dan kalau kita menikah?”

“Dia tetap adikku.”

“Aku bertanya siapa yang lebih penting.”

Arga menatap Nadira lama.

Lalu menggeleng.

“Orang yang mencintaiku tidak akan meminta pertanyaan seperti itu dijawab.”

Nadira berdiri.

“Jadi sekarang kamu memilih mereka?”

Arga ikut berdiri.

“Aku memilih untuk tidak menjalani hubungan yang setiap bulan membuatku harus membuang satu orang dari hidupku supaya kamu merasa aman.”

Wajah Nadira langsung pucat.

Aku tidak pernah melihat kakakku setenang itu.

Ia mengambil napas.

“Enam bulan lalu kamu keberatan aku masih berteman dengan Fikri karena dia pernah memperkenalkanku pada mantan.”

Nadira diam.

“Tiga bulan lalu kamu menyuruhku berhenti dekat dengan Dimas karena kamu merasa dia tidak menghormati hubungan kita.”

Tangannya mulai gemetar.

“Lalu Ayah.”

“Ibumu.”

“Sekarang Rania.”

Arga menggeleng pelan.

“Kalau aku mengikuti semuanya, enam bulan lagi siapa?”

Tidak ada jawaban.

Nadira mengambil tasnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Baik. Berarti selama ini semua yang kulakukan tidak pernah cukup.”

Ibu menjawab sebelum Arga sempat bicara.

“Jangan lakukan itu.”

Nadira menatapnya.

“Melakukan apa?”

“Mengubah akibat menjadi pengorbanan.”

Ibu berdiri.

“Tidak ada yang menghukummu karena kamu mencintai Arga.”

Ia menunjuk meja.

“Kami bereaksi karena kamu datang pertama kali ke rumah ini, duduk di meja makan kami, lalu menyiratkan hubungan dua saudara kandung sebagai sesuatu yang tidak pantas hanya karena kamu merasa terancam.”

Nadira membuang muka.

Ibu melanjutkan dengan tenang.

“Kalau malam ini kamu hanya berkata, ‘Aku kadang merasa tidak aman ketika Arga terlalu sibuk dengan keluarga,’ kita bisa bicara seperti orang dewasa.”

“Tetapi kamu memilih mempermalukan Rania.”

“Di hari ulang tahunnya.”

“Di rumahnya sendiri.”

Kalimat terakhir membuat tenggorokanku panas.

Nadira tidak membalas lagi.

Ia menatap Arga.

“Antar aku pulang.”

Arga menggeleng.

“Aku pesankan mobil.”

Nadira tertawa getir.

“Sekarang bahkan mengantarku pun tidak?”

“Kalau aku mengantarmu, kita akan bertengkar di mobil.”

Ia mengambil ponsel.

“Aku tidak mau.”

Sepuluh menit kemudian kendaraan yang dipesan datang.

Sebelum pergi, Nadira berhenti di depan Ibu.

“Saya kira Ibu akan lebih mengerti bahwa setelah menikah seorang laki-laki harus mendahulukan istrinya.”

Ibu tersenyum kecil.

“Saya mengerti.”

Nadira terdiam.

Ibu melanjutkan,

“Saya sudah menikah dua puluh delapan tahun.”

Ia menoleh ke Ayah.

“Saya tidak pernah meminta suami saya berhenti menjadi anak bagi ibunya, kakak bagi adiknya, ayah bagi anak-anaknya, atau sahabat bagi teman-temannya.”

Ayah tersenyum.

Ibu kembali memandang Nadira.

“Karena saya menikahi seorang manusia.”

“Bukan merekrut pegawai eksklusif.”

Pintu tertutup beberapa detik kemudian.

Tidak ada yang bersorak.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya keheningan panjang.

Arga duduk lagi.

Ia menatapku.

“Ran.”

Aku tidak menjawab.

“Maaf.”

Aku tetap diam.

Ia mengusap wajah.

“Aku pikir kalau aku mengikuti sedikit permintaannya, dia akan merasa aman.”

Aku akhirnya melihatnya.

“Tapi yang kamu korbankan supaya dia aman selalu orang lain.”

Arga menunduk.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Dan Ibu tidak menyuruhku.

Itulah hal yang paling kusyukuri.

Ia hanya berkata,

“Kepercayaan yang retak tidak diperbaiki dengan satu kata maaf.”

Arga mengangguk.

Sejak malam itu, hubungannya dengan Nadira benar-benar berakhir.

Bukan karena Ibu menyuruh.

Bukan karena aku meminta.

Arga sendiri yang mengakhiri semuanya dua hari kemudian setelah mereka bertemu untuk terakhir kali di Jakarta.

Adik Nadira mengembalikan uang sewa apartemen yang pernah dipinjam secara bertahap.

Semua barang Nadira di apartemen Arga dikirim melalui kurir.

Dan kunci cadanganku?

Aku menyerahkannya sendiri.

Bukan karena Nadira menang.

Tetapi karena aku sadar aku juga sudah dewasa.

Bedanya, keputusan itu akhirnya menjadi pilihanku sendiri.

Tiga bulan kemudian, aku berangkat untuk program pertukaran mahasiswa di Yogyakarta.

Hari keberangkatan, Arga mengantarku ke stasiun.

Ketika aku membuka pintu belakang mobil, ia menatapku aneh.

“Mau ngapain?”

“Duduk belakang.”

“Kenapa?”

Aku menahan tawa.

“Katanya kursi depan khusus pasangan.”

Arga memejamkan mata.

“Rania.”

Aku tertawa dan akhirnya duduk di depan.

Di dashboard masih ada biskuit favoritku.

Aku menunjuknya.

“Ini belum dibuang?”

“Kenapa harus dibuang?”

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak malam Idulfitri itu, semuanya terasa normal lagi.

Bukan normal karena tidak ada batas.

Tetapi karena akhirnya kami memahami satu hal sederhana.

Batas yang sehat tidak dibuat untuk menghapus seseorang dari kehidupan kita.

Batas yang sehat justru membuat semua orang tahu tempatnya tanpa harus merebut tempat milik orang lain.

Dan Ibu?

Sejak malam itu, Ayah tidak pernah lagi mengejek hobi bunga dan parfumnya sebagai tanda bahwa Ibu sudah “pensiun total”.

Setiap kali Ibu tersenyum terlalu manis kepada seseorang, Ayah hanya berbisik kepadaku,

“Kasihan.”

Aku biasanya bertanya,

“Siapa?”

Ayah akan menunjuk orang yang sedang berbicara dengan Ibu.

“Yang belum tahu dia sedang menggali lubangnya sendiri.”

Dan aku selalu tertawa.

Karena sekarang aku tahu.

Ibu memang tidak pernah kehilangan kemampuannya.

Ia hanya terlalu lama hidup di keluarga yang memperlakukannya dengan baik sampai tidak pernah perlu menggunakannya.