BAGIAN 2 — SAAT BRANKAS TERSEMBUNYI ITU TERBUKA, AKU MENEMUKAN IDENTITAS IBU KANDUNGKU DAN ALASAN ORANG TUAKU MENGAMBIL SEMUA YANG NENEK TINGGALKAN UNTUKKU
Aku menatap bingkai foto nenek cukup lama sampai suara-suara di sekelilingku terasa menghilang.
Ayah adalah orang pertama yang bergerak.
Dia melangkah cepat ke arah dinding.
—Sudah cukup. Acara pertunangan sedang berlangsung. Kita tidak perlu membongkar urusan lama hari ini.
Aku berdiri tepat di depannya.
—Jangan sentuh foto itu.
Ayah berhenti.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupku, dia melihat sesuatu dalam tatapanku yang membuatnya tidak berani memaksaku.
Aku melepaskan bingkai foto nenek dari dinding.
Di belakangnya memang ada sebuah panel kecil.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Di dalam dinding tersembunyi sebuah brankas.
—Kodenya tanggal lahirmu.
Suara adik nenek terdengar dari belakangku.
Aku memasukkan enam angka.
Klik.
Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya terdapat beberapa map dokumen, sebuah kotak kecil, dan dua amplop yang masing-masing bertuliskan namaku.
Aku mengambil amplop pertama.
Di dalamnya ada surat lain dari nenek.
“Nenek berharap kamu tidak pernah perlu membaca surat ini. Jika kamu membacanya, berarti kebenaran yang selama ini kami lindungi akhirnya harus kamu ketahui.”
Aku menarik napas panjang dan melanjutkan.
Ibu kandungku ternyata adalah kakak perempuan dari perempuan yang selama ini kupanggil Ibu.
Namanya tidak pernah disebut dalam keluarga.
Dia meninggal ketika aku masih sangat kecil.
Sebelum meninggal, dia menitipkanku kepada nenek.
Aku menatap perempuan yang selama ini kupanggil Ibu.
—Jadi… Ibu sebenarnya bibiku?
Wajahnya pucat.
Dia tidak menjawab.
Adik nenek akhirnya mengangguk.
—Benar.
Kakiku terasa lemas.
Namun ternyata itu belum menjadi bagian yang paling menyakitkan.
Ibuku meninggalkan sejumlah aset untukku.
Sebagian saham perusahaan keluarga berasal dari modal yang dahulu dia tanam bersama nenek.
Ada pula sebidang tanah dan tabungan yang dimaksudkan untuk membiayai pendidikanku.
Setelah ibu kandungku meninggal, nenek menjadi wali atas seluruh aset tersebut.
Ketika nenek mulai sakit, dia meminta adiknya menjadi saksi dan menyerahkan pengasuhanku kepada pasangan yang selama ini kupanggil Ayah dan Ibu.
Syaratnya hanya satu.
Mereka harus membesarkanku seperti anak sendiri dan tidak boleh menggunakan warisanku untuk kepentingan pribadi.
Aku tertawa kecil.
Entah kenapa, air mataku justru berhenti.
—Jadi mereka tidak pernah mengeluarkan ratusan juta untuk membesarkanku?
Adik nenek menggeleng.
—Sebagian besar biaya sekolahmu dibayar dari dana yang ditinggalkan ibu kandungmu.
Aku memandang kedua orang tuaku.
—Lalu daftar utang yang ditempel di kulkas itu?
Tidak ada jawaban.
—Biaya sekolahku?
Diam.
—Biaya rumah sakitku?
Masih diam.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih kejam daripada kehilangan uang.
Selama bertahun-tahun, mereka membuatku merasa keberadaanku sendiri adalah utang.
Setiap kali aku sakit, aku merasa bersalah.
Setiap kali membutuhkan sesuatu, aku merasa menjadi beban.
Aku belajar hidup sekecil mungkin agar tidak merepotkan siapa pun.
Padahal uang untuk membesarkanku telah tersedia sejak awal.
—Kenapa?
Suaraku hampir berbisik.
Perempuan yang selama ini kupanggil Ibu akhirnya menangis.
—Awalnya kami tidak berniat seperti ini.
Aku menatapnya.
Dia mulai menjelaskan.
Setelah nenek meninggal, bisnis keluarga mengalami masalah keuangan.
Mereka menggunakan sebagian dana yang seharusnya menjadi milikku untuk menyelamatkan perusahaan.
Katanya hanya pinjaman sementara.
Namun perusahaan kemudian berkembang.
Uang itu tidak pernah dikembalikan.
Ketika Ayu datang, keadaan semakin rumit.
Mereka merasa bersalah karena Ayu kehilangan orang tuanya, sehingga ingin memberinya kehidupan terbaik.
Mobil.
Kuliah.
Butik.
Perjalanan.
Semuanya membutuhkan uang.
—Jadi kalian mengambil uangku?
Ayah akhirnya berkata:
—Kami berniat menggantinya nanti.
Aku hampir tertawa.
—Enam tahun aku mengirim 30% gajiku kepada kalian.
—Itu juga akan diganti?
Ayah menunduk.
Ayu tiba-tiba maju.
—Kak, aku benar-benar tidak tahu semuanya sejak awal.
Aku menatapnya.
—Sejak awal?
Dua kata itu membuat wajahnya berubah.
—Kapan kamu mulai tahu?
Ayu menangis semakin keras.
—Dua tahun lalu.
Ruangan mendadak sunyi.
—Dua tahun?
Dia mengangguk.
Suatu hari Ayu mendengar pertengkaran orang tuaku mengenai dana untuk butiknya.
Saat itulah dia mengetahui sebagian uang yang kukirim digunakan untuk dirinya.
—Kenapa kamu tidak memberitahuku?
—Aku takut.
—Takut kehilangan butik?
Dia tidak mampu menjawab.
Aku mengangguk perlahan.
Jawabannya sudah cukup.
Calon suaminya melepas napas panjang.
Kemudian dia mencopot cincin pertunangan dari jarinya sendiri dan meletakkannya di atas meja.
Ayu langsung menatapnya.
—Apa maksudmu?
—Aku tidak bisa menikah sementara semuanya berdiri di atas kebohongan.
—Tapi aku tidak mencuri!
—Mungkin bukan kamu yang memalsukan tanda tangan. Tapi kamu tahu dua tahun lalu dan memilih diam.
Ayu menangis.
Namun kali ini tidak ada seorang pun yang segera menghiburnya.
Aku kembali membuka brankas.
Di dalam map terakhir terdapat laporan kepemilikan saham, sertifikat tanah, dan catatan transaksi.
Kemudian aku menemukan sebuah flash drive.
Adik nenek berkata:
—Nenek meminta seseorang menyimpan salinan semua dokumen. Dia takut suatu hari ada yang mengubahnya.
Aku memasang flash drive itu ke laptop di ruang kerja.
Beberapa file muncul.
Salah satunya adalah rekaman video.
Wajah nenek muncul di layar.
Dia terlihat jauh lebih kurus daripada yang kuingat.
Namun senyumnya sama.
—Sayang, kalau kamu melihat ini, mungkin Nenek sudah tidak ada.
Aku menutup mulut.
Untuk pertama kalinya hari itu, pertahananku runtuh.
—Nenek tidak tahu seperti apa kamu ketika dewasa. Tapi Nenek ingin kamu tahu satu hal. Kamu bukan beban siapa pun.
Air mataku jatuh.
—Ibumu sangat mencintaimu. Semua yang dia tinggalkan bukan harga untuk membesarkanmu. Itu adalah bekal agar kamu bisa memilih hidupmu sendiri.
Aku menangis tanpa suara.
Video terus berjalan.
Kemudian nenek mengatakan sesuatu yang membuat Ayah mendadak berdiri.
—Saham yang Nenek tinggalkan untukmu tidak boleh dialihkan tanpa persetujuanmu setelah kamu dewasa. Jika ada dokumen yang memakai tanda tanganmu tanpa sepengetahuanmu, temui pengacara yang namanya tercantum dalam amplop kedua.
Aku langsung mengambil amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat kartu nama lama dan sebuah surat.
Adik nenek berkata pelan:
—Orangnya masih hidup. Dan dia sudah menunggu hari ini.
Aku mengambil ponsel.
Ayah langsung mendekat.
—Jangan lakukan sesuatu karena emosi.
Aku menatapnya.
—Enam tahun aku membayar utang yang tidak pernah ada.
—Bertahun-tahun kalian menggunakan warisanku.
—Dan seseorang memalsukan tanda tanganku.
Aku menekan nomor yang tertulis di kartu.
Panggilan tersambung.
Seorang pria tua menjawab.
Aku baru menyebutkan namaku ketika dia langsung berkata:
—Akhirnya kamu menelepon.
Aku terdiam.
Kemudian dia melanjutkan:
—Jangan tanda tangani apa pun dan jangan serahkan dokumen asli kepada siapa pun. Besok pagi datanglah ke kantor saya.
Aku memandang semua orang di ruangan.
—Baik.
Sebelum menutup telepon, dia menambahkan satu kalimat.
—Dan ada sesuatu yang perlu kamu ketahui. Saham yang dipalsukan itu bukan satu-satunya aset milikmu yang mereka coba pindahkan.
Dadaku menegang.
—Masih ada lagi?
Pria itu diam beberapa detik.
—Ada. Dan kalau perhitungan saya benar, nilai aset yang sebenarnya menjadi hakmu sekarang jauh lebih besar daripada yang tertulis dalam dokumen di tanganmu.
Aku menatap Ayah.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
Saat itulah aku tahu…
Kebenaran yang baru saja kubuka ternyata baru pintu pertama.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
