Bagian 3 — Rekaman CCTV Membuka Kebohongan, Suamiku Mengaku Tahu Pelakunya, dan Aku Akhirnya Memilih Hidup yang Tidak Lagi Menghinakanku di Depan Semua Orang

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 1,664 tayangan
Bagian 3 — Rekaman CCTV Membuka Kebohongan, Suamiku Mengaku Tahu Pelakunya, dan Aku Akhirnya Memilih Hidup yang Tidak Lagi Menghinakanku di Depan Semua Orang
Indeks

Bagian 3 — Rekaman CCTV Membuka Kebohongan, Suamiku Mengaku Tahu Pelakunya, dan Aku Akhirnya Memilih Hidup yang Tidak Lagi Menghinakanku di Depan Semua Orang

Aku tidak langsung menelepon siapa pun.

Aku juga tidak menangis.

Aku duduk di depan laptop hampir satu jam dengan secangkir kopi yang sudah dingin, memeriksa transaksi satu per satu.

Semakin lama kulihat, semakin jelas polanya.

Selama tiga bulan terakhir, uang dari beberapa pesanan katering masuk seperti biasa.

Namun setelah itu muncul transfer-transfer kecil.

Rp3 juta.

Rp4,5 juta.

Rp7 juta.

Nominalnya tidak cukup besar untuk langsung menarik perhatian.

Tapi jika dijumlahkan, mencapai lebih dari Rp46 juta.

Sebagian dikirim ke rekening Rani.

Sebagian lagi masuk ke dompet digital milik Bagas.

Aku membuka spreadsheet pembukuan.

Ada pembayaran bahan makanan yang ternyata tidak pernah terjadi.

Ada tagihan pemasok yang dicatat dua kali.

Ada biaya “perbaikan freezer” sebesar Rp9 juta, padahal freezer kami tidak pernah rusak.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Tiga bulan lalu, Bagas pernah meminta kode OTP dari ponselku.

Katanya aplikasi perbankan usaha perlu diperbarui karena sistem baru.

Aku sedang membuat seratus dua puluh kotak nasi waktu itu.

Tanganku penuh tepung.

Aku membacakan kode tersebut tanpa curiga.

Rupanya dari situlah perangkatnya mendapat akses.

Aku menutup laptop.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak bertanya dalam hati, “Bagaimana caranya memperbaiki rumah tangga ini?”

Pertanyaanku berubah.

“Seberapa jauh mereka sudah memanfaatkanku?”

Aku menghubungi bank.

Akses perangkat lain dicabut.

Kata sandi diganti.

Limit transaksi diubah.

Kemudian aku mengunduh semua rekening koran enam bulan terakhir dan menyimpannya.

Setelah itu aku menelepon Bu Maya, pelanggan katering yang disebut Bagas tadi.

Dia bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan distributor alat kesehatan dan memesan hampers Lebaran dari kami.

“Bu Maya, saya mau memastikan satu hal,” kataku.

“Pembayaran pesanan kemarin ditransfer ke rekening atas nama siapa?”

Dia menyebut nama badan usaha kecil yang memang kudirikan dua tahun lalu.

Dapur Ratih Bersama.

Usaha itu secara hukum terdaftar atas namaku.

Dulu Bu Endang tidak mau repot mengurus izin dan administrasi.

Bagas pun berkata,

“Pakai namamu saja. Sama saja, kan? Kita keluarga.”

Sekarang baru kusadari betapa ironis kalimat itu.

Aku menjelaskan kepada Bu Maya bahwa pesanan tetap akan dipenuhi.

Tidak ada satu pun pelanggan yang boleh dirugikan karena masalah rumah tanggaku.

Aku menghubungi dua pegawai lepas yang biasa membantu ketika pesanan besar.

Aku juga menelepon seorang teman lama bernama Nisa yang memiliki dapur produksi kecil di Sidoarjo.

Semua hampers yang sudah dibayar diselesaikan dari stok yang memang sudah tersedia.

Kurir mengambil barang dari gudang samping rumah mertua setelah Pak Harun memberinya akses.

Aku tidak kembali.

Aku mengatur semuanya dari Lombok.

Bukan untuk membuktikan bahwa mereka membutuhkanku.

Melainkan karena namaku ada di kontrak.

Dan aku tidak akan membiarkan profesionalitasku hancur bersama rumah tanggaku.

Sekitar pukul satu siang, Bagas menelepon lagi.

Kali ini kuangkat.

“Kenapa akses rekening diganti?”

Tidak ada salam.

Tidak ada permintaan maaf.

Pertanyaan pertamanya tentang uang.

Aku tersenyum pahit.

“Karena rekening itu rekening usahaku.”

“Itu usaha keluarga!”

“Kalau begitu jelaskan kenapa ada Rp46 juta lebih yang ditransfer ke kamu dan Rani tanpa catatan.”

Dia diam.

“Mas?”

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Kalimat klasik.

Aku hampir bisa menebaknya.

“Silakan jelaskan.”

Bagas menghela napas panjang.

“Rani punya masalah.”

“Masalah apa?”

“Paylater. Pinjaman online. Beberapa cicilan.”

“Jadi kamu mengambil uang usaha tanpa memberitahuku?”

“Aku berniat mengganti.”

“Dengan uang dari mana?”

Diam lagi.

Aku melanjutkan.

“Dan dua belas juta dari amplop Mama?”

“Rani panik.”

“Kenapa kamu melindunginya?”

“Dia adikku!”

Aku tertawa kecil.

“Dan aku siapa?”

“Ratih…”

“Aku tanya, aku siapa?”

Dia tidak menjawab.

Jawaban itu justru paling jelas.

Aku hanya orang yang memasak.

Mengurus pesanan.

Membayar tagihan.

Menutup kekurangan.

Menjaga nama baik keluarga.

Tetapi ketika harus memilih siapa yang dilindungi, aku selalu berada paling akhir.

“Aku akan tinggal beberapa hari di Lombok,” kataku.

“Setelah pulang, kita bicara dengan kepala dingin.”

Bagas langsung menyela.

“Tidak perlu dibesar-besarkan sampai urusan cerai.”

Aku tidak pernah menyebut kata cerai.

Fakta bahwa kata itu justru keluar dari mulutnya membuatku sadar dia pun tahu seberapa jauh masalah ini.

“Siapa yang bilang aku mau cerai?”

Dia gugup.

“Aku cuma… maksudku jangan ambil keputusan emosional.”

“Yang mengambil keputusan emosional bukan aku.”

“Lalu?”

“Orang yang membiarkan istrinya dituduh pencuri demi menutupi adiknya.”

Aku menutup telepon.

Dua hari berikutnya adalah dua hari paling tenang yang kurasakan dalam tiga tahun.

Aku berjalan pagi di tepi pantai.

Makan nasi balap puyung tanpa harus memikirkan siapa yang akan protes sambalnya terlalu pedas.

Tidur tanpa suara Bu Endang memanggil dari lantai bawah.

Bangun tanpa daftar belanja yang ditempel di kulkas.

Anehnya, aku tidak merasa sedang berlibur.

Aku merasa sedang mengingat kembali siapa diriku sebelum menjadi menantu keluarga itu.

Pada hari ketiga, Nisa menelepon.

“Kamu ingat dulu pernah bilang ingin buka dapur sendiri?”

Aku tertawa.

“Itu mimpi lama.”

“Kenapa harus tetap jadi mimpi?”

Dia bercerita bahwa bangunan di sebelah dapurnya akan kosong bulan depan.

Pemiliknya menyewakan dengan harga masuk akal.

Lokasinya dekat perkantoran dan sekolah.

“Aku serius, Ratih. Pelangganmu sudah ada. Resepmu ada. Sistem pemesanan juga kamu yang bikin. Selama ini yang bekerja memang kamu.”

Kalimat itu terus terngiang sampai malam.

Selama ini yang bekerja memang kamu.

Keesokan harinya aku kembali ke Surabaya.

Aku tidak memberi tahu Bagas jam berapa pesawatku tiba.

Aku naik taksi langsung menuju rumah mertua.

Begitu pintu dibuka, suasananya berbeda total dari malam Lebaran.

Tidak ada keluarga besar.

Tidak ada musik.

Tidak ada suara tertawa.

Hanya empat orang duduk di ruang tengah.

Pak Harun.

Bu Endang.

Rani.

Bagas.

Di meja terdapat amplop cokelat yang dulu hilang.

Bu Endang membuka percakapan.

“Duduk.”

Aku tetap berdiri.

“Saya cuma ambil barang-barang.”

Wajahnya menegang.

“Masalah keluarga jangan dibawa ke mana-mana.”

Aku menatapnya.

“Siapa yang membawa ke mana-mana?”

“Kamu kirim CCTV ke grup!”

“Ibu yang lebih dulu menulis di grup bahwa saya mengambil uang.”

“Itu karena kamu pergi!”

“Jadi kalau saya pergi, otomatis saya pencuri?”

Bu Endang tidak menjawab.

Pak Harun menunduk.

Rani tiba-tiba berkata,

“Aku sudah balikin uangnya.”

Aku menoleh.

“Yang dua belas juta?”

“Iya.”

“Bagaimana dengan Rp46 juta lebih dari rekening usaha?”

Wajahnya langsung pucat.

Bu Endang menatap Rani.

“Empat puluh enam juta apa?”

Rani membelalakkan mata kepada Bagas.

Bagas segera berdiri.

“Ratih, jangan bahas itu di sini.”

“Kenapa?”

“Ini urusan kita.”

Aku mengangguk pelan.

“Bagus.”

Aku mengeluarkan map dari tas.

“Kalau begitu mari kita bahas semuanya.”

Aku menaruh rekening koran di meja.

Satu.

Dua.

Tiga lembar.

Aku sudah menandai transaksi dengan stabilo.

Bu Endang mengambil salah satunya.

Wajahnya berubah ketika melihat nama putrinya.

“Rani?”

Rani mulai menangis.

“Ma, aku bisa jelaskan.”

“Uang apa ini?”

“Aku cuma pinjam.”

“Empat puluh enam juta kamu bilang pinjam?”

“Aku kena masalah, Ma!”

Ternyata kehidupan Rani yang selama ini terlihat mewah sebagian besar dibangun dari utang.

Ponsel baru.

Tas bermerek.

Liburan ke Bali.

Makan di kafe mahal.

Semua dipamerkan di media sosial.

Sebagian besar dibayar melalui paylater dan pinjaman digital.

Ketika tagihan menumpuk, dia meminta bantuan Bagas.

Bagas kemudian mengambil uang katering sedikit demi sedikit.

Awalnya lima juta.

Lalu enam juta.

Lalu semakin besar.

Kenapa tidak memberitahuku?

Karena, menurut Bagas, aku pasti akan menolak.

“Berarti kamu tahu itu salah.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu yakin aku akan menolak, berarti kamu tahu uang itu bukan hakmu untuk diambil.”

Bagas mengusap wajah.

“Aku cuma bantu adikku.”

“Dengan mencuri dari usaha istrimu?”

“Jangan pakai kata mencuri!”

“Lalu apa?”

Dia terdiam.

Bu Endang mulai menyalahkan Rani.

Namun aku memotong.

“Saya tidak datang untuk melihat kalian saling menyalahkan.”

Aku membuka map kedua.

Ada daftar aset.

Freezer besar dibeli menggunakan tabunganku.

Mixer industri kubeli dari bonus terakhir sebelum berhenti bekerja.

Dua kompor tekanan tinggi kubeli menggunakan keuntungan pesanan pertamaku.

Laptop administrasi milikku.

Kamera milikku.

Akun pelanggan kubangun sendiri.

Nama usaha terdaftar atas namaku.

“Apa maksud semua ini?” tanya Bagas.

“Aku keluar dari usaha keluarga.”

Bu Endang langsung berdiri.

“Tidak bisa!”

Aku menatapnya.

“Kenapa tidak?”

“Pelanggan sudah kenal kita!”

“Pelanggan mengenal nomor saya.”

“Kamu mau mengambil usaha keluarga?”

Aku hampir tertawa.

“Bu, selama dua tahun terakhir saya bekerja lebih dari dua belas jam sehari tanpa gaji tetap. Sebagian keuntungan digunakan untuk rumah. Saya tidak pernah mempermasalahkan itu.”

Aku menunjuk rekening koran.

“Yang saya permasalahkan adalah uang usaha saya diambil diam-diam lalu saya justru dituduh pencuri.”

Bu Endang tampak hendak bicara.

Aku mengangkat tangan.

“Belum selesai.”

Aku menghadap Bagas.

“Aku juga sudah menghubungi pengacara.”

Wajah Bagas berubah.

“Untuk apa?”

“Untuk konsultasi perceraian.”

Ruangan benar-benar sunyi.

Bu Endang menjadi orang pertama yang bereaksi.

“Kamu mau cerai cuma gara-gara begini?”

Aku menatap perempuan yang tiga hari lalu mengobrak-abrik tasku di depan keluarga.

“Bukan karena sambal.”

“Bukan karena dua belas juta.”

“Bukan juga karena saya diusir.”

Aku menunjuk Bagas.

“Saya ingin berpisah karena suami saya tahu saya tidak bersalah tetapi tetap membiarkan saya dihina.”

Bagas mendekat.

“Aku sudah bilang aku salah.”

“Kapan?”

“Sekarang aku bilang.”

“Aku sudah menunggu tiga hari.”

“Ratih, kita sudah menikah tiga tahun.”

“Justru karena sudah tiga tahun.”

Suaraku tetap tenang.

“Aku tahu ini bukan satu kesalahan.”

Aku mulai menyebutkannya satu per satu.

Ketika ibunya memarahiku karena pulang dari rumah orang tuaku terlambat dua jam, Bagas meminta aku mengalah.

Ketika Rani mengambil bajuku tanpa izin lalu merusaknya, aku diminta tidak pelit.

Ketika tabunganku dipakai untuk membeli freezer, semua orang berjanji mengembalikan.

Tidak pernah dilakukan.

Ketika aku sakit demam dan tetap diminta mengemas delapan puluh nasi kotak, Bagas berkata,

“Mama sedang banyak pikiran.”

Semua kejadian itu dulu kuanggap kecil.

Sekarang aku mengerti.

Satu per satu memang kecil.

Tetapi jika seseorang terus menerus diminta mengecil agar orang lain merasa nyaman, suatu hari dia akan menghilang sama sekali.

“Aku tidak mau menghilang di rumah ini.”

Bagas mulai menangis.

Itulah pertama kalinya aku melihatnya menangis sejak ayahnya pernah masuk rumah sakit.

Dia memegang tanganku.

“Aku akan berubah.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Mungkin.”

“Aku serius.”

“Mungkin kamu memang bisa berubah.”

Aku menatap matanya.

“Tapi aku tidak wajib tinggal untuk mengujinya.”

Bu Endang tiba-tiba berkata,

“Kalau kamu pergi, jangan harap membawa apa pun dari rumah ini.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Aku mengeluarkan daftar barang pribadiku.

“Kita cocokkan sekarang.”

Aku hanya membawa barang yang memang kubeli atau milikku sebelum menikah.

Pakaian.

Buku.

Laptop.

Mixer.

Dokumen.

Beberapa peralatan memasak profesional.

Aku bahkan meninggalkan set piring mahal yang dulu kubeli untuk katering karena tidak ingin berdebat.

Pak Harun akhirnya membantu mengangkat freezer ke mobil sewaan.

Sebelum aku pergi, dia berdiri di dekat gerbang.

“Ratih.”

Aku menoleh.

Dia terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu.

“Bapak minta maaf.”

Hanya itu.

Dari seluruh keluarga, justru orang yang selama ini paling jarang berbicara yang pertama meminta maaf tanpa alasan tambahan.

Aku mengangguk.

“Terima kasih, Pak.”

Bu Endang tidak keluar.

Rani juga tidak.

Bagas mengikuti mobilku hampir tiga kilometer sebelum akhirnya berhenti.

Aku pindah sementara ke kamar kos dekat tempat Nisa.

Sebulan kemudian, aku menyewa tempat kecil yang dulu dia ceritakan.

Tidak besar.

Hanya satu ruang produksi, satu gudang, dan satu bagian depan yang bisa digunakan untuk menerima pesanan.

Aku mengecatnya putih.

Memasang rak.

Membeli meja stainless bekas.

Di depan pintu kutempel papan sederhana:

DAPUR RATIH

Tidak ada nama keluarga suamiku.

Tidak ada nama Bagas.

Namaku sendiri.

Pada bulan pertama, pesanan belum banyak.

Aku sempat takut.

Ada malam ketika aku menghitung saldo tiga kali karena khawatir tidak cukup membayar sewa dan gaji dua pegawai.

Tetapi pelanggan lama mulai kembali.

Bu Maya memesan seratus lima puluh kotak makan siang.

Sebuah sekolah memesan konsumsi rapat.

Kemudian sebuah kantor meminta katering rutin setiap Jumat.

Nisa membantuku mengenalkan ke komunitas UMKM.

Pelan-pelan, dapur itu hidup.

Aku juga kembali menggaji diriku sendiri.

Hal sederhana yang selama bertahun-tahun tidak pernah kulakukan.

Sementara itu, kabar tentang keluarga Bagas sampai kepadaku tanpa perlu kucari.

Setelah aku pergi, usaha katering Bu Endang tetap berjalan.

Namun pesanan turun.

Bukan karena aku menyabotase mereka.

Nomor pelanggan lama tidak pernah kuhapus dari ponsel siapa pun.

Resep-resep dasar juga tetap ada di rumah.

Masalahnya sederhana.

Selama ini tidak ada yang benar-benar memahami berapa banyak pekerjaan yang kulakukan.

Bu Endang pandai memasak beberapa menu.

Tetapi dia tidak terbiasa membuat perhitungan biaya.

Rani tidak tahan bekerja di dapur lebih dari dua jam.

Bagas sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Dua kali mereka menerima pesanan terlalu banyak dan terlambat mengantar.

Sekali mereka salah menghitung harga hingga hampir tidak mendapat keuntungan.

Akhirnya usaha itu kembali menjadi katering kecil untuk tetangga, bukan puluhan pesanan per minggu seperti sebelumnya.

Rani menjual ponsel dan beberapa tasnya untuk mengembalikan sebagian uang.

Pak Harun memaksanya membuat kesepakatan tertulis untuk mencicil sisanya.

Bagas mengembalikan bagian uang yang masuk ke dompet digitalnya.

Aku tidak memaafkan utangnya begitu saja.

Tetapi aku juga tidak membuat keributan publik.

Semua diselesaikan secara tertulis.

Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.

Hari terakhir setelah keluar dari gedung pengadilan, Bagas mengejarku sampai area parkir.

“Ratih.”

Aku berhenti.

Dia tampak lebih kurus.

“Kamu bahagia sekarang?”

Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.

Aku memikirkan dapur kecilku.

Dua pegawai yang setiap pagi memanggilku “Bu Ratih”.

Nisa yang sering membawa kopi.

Ibuku yang mulai berkunjung setiap akhir pekan.

Penghasilan yang belum besar, tetapi benar-benar milikku.

Rumah kontrakan kecil yang kadang sepi, tetapi tidak pernah membuatku takut salah menaruh sendok.

“Aku tenang,” jawabku.

“Bukankah itu sama saja?”

Aku tersenyum.

“Lebih baik.”

Bagas menunduk.

“Aku baru sadar semuanya setelah kamu benar-benar pergi.”

Aku menatapnya sebentar.

“Mungkin memang begitu.”

“Kalau waktu itu aku membelamu—”

Aku memotong pelan.

“Jangan hidup dari kata ‘kalau’, Mas.”

Dia menelan ludah.

“Aku masih sayang kamu.”

Aku tidak marah mendengarnya.

Anehnya, aku juga tidak terharu.

Perasaan itu seperti melihat foto rumah lama yang pernah kutinggali.

Ada kenangan di sana.

Tetapi aku tidak ingin kembali menetap.

“Aku percaya kamu pernah sayang.”

Kataku.

“Tapi sayang yang tidak berani berdiri ketika pasangannya dihina akhirnya cuma jadi kata.”

Aku masuk mobil.

Kali ini dia tidak mengejar.

Lebaran berikutnya datang hampir setahun kemudian.

Pagi itu, dapurku menerima pesanan terbesar sejak dibuka.

Tiga ratus lima puluh paket makan untuk sebuah perusahaan.

Dua puluh hampers.

Empat puluh loyang kue.

Aku datang sebelum subuh.

Namun bedanya dengan tahun lalu, aku tidak sendirian.

Ada enam orang bekerja bersamaku.

Masing-masing mendapat gaji.

Masing-masing mendapat waktu istirahat.

Dan sebelum pekerjaan dimulai, kami semua makan sahur bersama di meja stainless panjang.

Sekitar pukul sepuluh pagi, ketika pesanan terakhir sudah dikirim, aku membuka ponsel.

Ada sebuah pesan dari nomor Bu Endang.

Kami hampir tidak pernah berkomunikasi lagi.

Pesannya singkat.

“Ratih, selamat Lebaran. Saya minta maaf untuk kejadian tahun lalu. Waktu itu saya terlalu cepat menuduh.”

Aku membacanya.

Tidak ada kalimat meminta aku kembali.

Tidak ada alasan.

Tidak ada kata-kata menyalahkan orang lain.

Hanya permintaan maaf.

Aku membalas:

“Selamat Lebaran juga, Bu. Saya sudah memaafkan. Semoga Ibu sehat.”

Lalu aku menyimpan ponsel.

Memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang pernah membuat kita terluka.

Kadang memaafkan hanya berarti kita tidak lagi membawa kemarahan itu ke rumah baru.

Siang harinya, aku, Nisa, kedua orang tuaku, dan seluruh pegawai makan bersama.

Di tengah meja ada opor.

Rendang.

Perkedel.

Ayam kecap.

Dan satu mangkuk besar sambal goreng ati.

Nisa mencicipinya lalu langsung mengambil air.

“Ratih! Ini pedas banget!”

Semua orang tertawa.

Aku ikut tertawa paling keras.

“Kalau terlalu pedas, ambil yang tidak pedas. Ada di sebelah.”

Sesederhana itu.

Tidak ada piring dibanting.

Tidak ada tas diperiksa.

Tidak ada orang diusir.

Tidak ada yang harus merendahkan orang lain hanya karena satu hidangan tidak sesuai selera.

Aku melihat meja itu.

Melihat orang-orang makan sambil bercanda.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memahami sesuatu.

Keluarga bukan tempat di mana seseorang dipaksa bertahan berapa pun harga dirinya.

Keluarga adalah tempat di mana kesalahan kecil tidak dijadikan alasan untuk menghancurkan martabat seseorang.

Setahun lalu, aku meninggalkan rumah mertuaku dengan satu koper dan perasaan seolah hidupku runtuh.

Aku mengira aku kehilangan keluarga.

Ternyata aku hanya keluar dari sebuah tempat yang terlalu lama kusebut rumah.

Dan ketika aku berani berjalan pergi, aku justru menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Diriku sendiri.

Kali ini, aku tidak perlu meminta izin siapa pun untuk menjaganya.