Bagian 3 — Ia Baru Berlutut Saat Audit Perusahaan Membuktikan Jam Itu Bukan Hadiah Pribadi, Melainkan Awal dari Kehancurannya Sendiri yang Tak Bisa Ditutupinya Lagi

Avatar penulis
Cerita 02
15 menit baca 1,068 tayangan
Bagian 3 — Ia Baru Berlutut Saat Audit Perusahaan Membuktikan Jam Itu Bukan Hadiah Pribadi, Melainkan Awal dari Kehancurannya Sendiri yang Tak Bisa Ditutupinya Lagi
Indeks

Bagian 3 — Ia Baru Berlutut Saat Audit Perusahaan Membuktikan Jam Itu Bukan Hadiah Pribadi, Melainkan Awal dari Kehancurannya Sendiri yang Tak Bisa Ditutupinya Lagi

Ruangan rapat mendadak terlalu sunyi.

Aku bisa mendengar suara pendingin udara.

Bahkan bunyi kecil saat Sari membalik halaman terdengar jelas.

Raka berdiri di sisi meja dengan satu tangan masih memegang sandaran kursi.

“Enam transaksi apa?”

Tidak ada yang menjawabnya segera.

Pak Bimo mengambil kacamata.

“Duduk dulu, Rak.”

“Aku tanya enam transaksi apa?”

Kali ini nadanya lebih tinggi.

Sari tidak terpancing.

Dia mendorong lembar ringkasan ke tengah meja.

Aku melihat enam baris.

Pembelian jam tangan.

Rp1.147.000.000.

Pembayaran uang muka apartemen servis di kawasan Senopati.

Rp420.000.000.

Dua tiket kelas bisnis Jakarta–Bali.

Rp96.800.000.

Pembayaran sebuah vila selama empat malam.

Rp118.500.000.

Transfer kepada agensi milik Nadine dengan keterangan konsultasi komunikasi.

Rp650.000.000.

Serta satu transaksi lain senilai Rp370 juta untuk sesuatu yang disebut “biaya representasi strategis”.

Totalnya lebih dari Rp2,8 miliar.

Aku tidak langsung melihat Raka.

Aku justru melihat Sari.

“Semua pakai uang perusahaan?”

“Tidak semuanya lewat kartu.”

Sari menunjuk dokumen.

“Tapi semuanya akhirnya dibebankan ke perusahaan.”

Raka langsung menyela.

“Karena memang ada kepentingan perusahaan.”

Pak Bimo mengangkat wajah.

“Jelaskan.”

“Nadine membantu kita.”

“Membantu apa?”

“Komunikasi.”

“Kontraknya?”

Raka terdiam.

Pak Bimo mengulang,

“Mana kontraknya?”

Nadine yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

“Aku juga ingin tahu.”

Raka menoleh tajam.

“Nadine.”

“Jangan panggil aku seperti itu seolah semuanya baik-baik saja.”

Aku menatap perempuan itu.

Untuk pertama kalinya sejak namanya muncul dalam pernikahanku, aku melihat Nadine bukan sebagai bayangan yang selalu berada di antara aku dan suamiku.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru sadar dirinya juga sedang berdiri di atas lantai yang retak.

Pak Bimo menunjuk kotak hitam di hadapannya.

“Jamnya?”

Nadine mendorong kotak itu.

“Masih lengkap.”

Raka mendengus.

“Kenapa kamu bawa balik?”

Nadine menatapnya.

“Karena kemarin kamu bilang kepadaku jam itu kamu beli pakai bonus pribadi.”

Aku menoleh kepada Raka.

Kalimat yang sama.

Persis seperti yang dia katakan kepadaku.

Nadine melanjutkan,

“Kamu juga bilang apartemen Senopati itu fasilitas sementara karena aku sering bantu meeting klien.”

“Memang.”

“Meeting klien yang mana?”

Raka kehilangan kata-kata.

Nadine membuka mapnya sendiri.

“Aku simpan chat kita.”

Raka langsung berdiri.

“Nadine, cukup.”

Pak Bimo membentak,

“Duduk!”

Semua orang membeku.

Aku belum pernah mendengar Pak Bimo bicara sekeras itu.

Dia adalah tipe pengusaha yang biasanya tidak perlu menaikkan suara agar orang lain diam.

Raka akhirnya duduk.

Nadine mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak.

Aku tidak membaca semuanya.

Aku bahkan tidak ingin.

Tetapi beberapa kalimat besar yang diberi tanda stabilo terlihat dari tempat dudukku.

Salah satunya berbunyi:

“Tenang saja, ini aku masukkan dulu ke biaya perusahaan. Nanti kalau putaran pendanaan masuk aku bereskan.”

Ada lagi.

“Alya nggak pernah cek urusan kantor sedetail itu.”

Tanganku yang berada di bawah meja mengepal.

Bukan karena aku terkejut.

Melainkan karena ternyata kepercayaanku sendiri pernah digunakan sebagai celah.

Selama bertahun-tahun, Raka selalu berkata aku harus percaya kepadanya.

Ketika akhirnya aku percaya…

kepercayaan itu justru menjadi alasan dia merasa aman berbuat apa saja.

Sari menjelaskan hasil pemeriksaan sementara.

Beberapa transaksi dibuat sebagai biaya pemasaran.

Sebagian dimasukkan ke uang muka direktur.

Ada pula pembayaran yang awalnya dicatat sebagai entertainment calon klien tetapi tidak memiliki daftar peserta, proposal kegiatan, atau laporan bisnis yang memadai.

Lebih buruk lagi, setelah aku mengirim permintaan pemeriksaan, Raka mentransfer uang ke rekening perusahaan lalu memerintahkan staf keuangan mengubah narasi pembukuan seolah-olah transaksi sejak awal merupakan pinjaman pribadi direktur.

“Kenapa kamu menolak?” tanya Pak Bimo kepada Sari.

Sari menatap Raka sebentar.

“Karena tanggal dokumennya diminta dibuat mundur.”

Wajah Raka berubah merah.

“Aku cuma memperbaiki administrasi!”

“Administrasi tidak diperbaiki dengan memundurkan tanggal.”

Komisaris independen yang sejak tadi muncul melalui layar akhirnya berbicara.

“Kita hentikan dulu semua akses kartu korporat Saudara Raka.”

Raka menoleh cepat.

“Apa?”

“Dan sampai pemeriksaan selesai, kewenangan pembayaran di atas Rp50 juta memerlukan persetujuan komisaris.”

“Kalian memperlakukanku seperti maling!”

Pak Bimo membalas dingin,

“Kalau kamu tidak mau diperlakukan seperti orang yang menyalahgunakan uang perusahaan, seharusnya jangan buat transaksi yang terlihat seperti penyalahgunaan.”

Aku duduk tanpa berkata apa-apa.

Raka akhirnya menatapku.

Tatapan itu penuh amarah.

“Kamu puas?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Semua orang menoleh.

Aku mengeluarkan satu berkas dari tas.

Perjanjian pinjaman Rp780 juta.

“Aku juga ingin pinjaman pemegang saham ini dimasukkan dalam pemeriksaan.”

Raka memucat.

Dua minggu sebelumnya, dia mendatangiku sambil membawa proyeksi arus kas.

Katanya supplier utama dari Surabaya menahan pengiriman.

Katanya perusahaan bisa kehilangan proyek hotel besar kalau tagihan tidak dibayar.

Aku mencairkan deposito.

Rp780 juta.

Untungnya Dini waktu itu memaksaku membuat dokumen pinjaman, bukan sekadar transfer antar suami istri.

Aku sempat mengeluh.

“Kenapa harus formal? Ini perusahaan Raka juga.”

Dini menjawab,

“Justru karena suamimu, semuanya harus lebih jelas.”

Saat itu aku menganggap dia terlalu kaku.

Sekarang aku ingin memeluknya.

Pak Bimo memeriksa perjanjian.

“Ini jatuh tempo tiga bulan lagi.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak meminta dibayar sekarang. Aku hanya ingin kewajiban itu dicatat benar. Jangan sampai nanti ada yang bilang itu hadiah dari istri kepada suami.”

Raka menatapku seolah aku baru saja menjadi orang asing.

Padahal mungkin bukan aku yang berubah.

Mungkin untuk pertama kalinya aku hanya berhenti membiarkannya menentukan siapa diriku.

Rapat berlangsung hampir empat jam.

Keputusan sementara dibuat.

Raka dinonaktifkan dari kewenangan finansial sampai audit selesai.

Kartu korporatnya ditarik.

Perusahaan menunjuk auditor eksternal.

Seluruh transaksi dengan pihak terafiliasi dan pihak yang memiliki hubungan pribadi dengan direksi akan diperiksa.

Jam tangan dikembalikan oleh Nadine kepada perusahaan melalui berita acara.

Aku tidak menyentuhnya.

Tidak sekali pun.

Ketika rapat selesai, aku berjalan menuju lift.

Raka mengejarku.

“Alya!”

Aku terus berjalan.

Dia menarik lenganku.

Aku langsung melepaskan tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Beberapa karyawan menoleh.

Raka menurunkan suara.

“Kita bicara di mobil.”

“Nggak ada yang perlu dibicarakan.”

“Kamu benar-benar masukkan gugatan?”

“Iya.”

Wajahnya berubah.

Mungkin sampai detik itu dia masih percaya aku akan berhenti.

“Tapi kita bisa tarik.”

“Aku tidak mau.”

“Aku akan selesaikan masalah Nadine.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu masih belum mengerti.”

“Apa?”

“Masalah kita bukan Nadine.”

Dia terdiam.

“Kalau Nadine menghilang besok, tujuh tahun kita tetap sama.”

“Aku salah. Oke? Aku salah.”

“Bukan sekali.”

“Aku bilang aku salah!”

Beberapa orang kembali melihat.

Aku menekan tombol lift.

Raka berdiri begitu dekat hingga aku bisa mencium parfum yang dulu kubelikan untuk ulang tahunnya.

“Aku bisa balikin semua uang.”

Aku memandangnya.

“Bagus.”

“Kita mulai lagi.”

“Tidak.”

Pintu lift terbuka.

Sebelum masuk aku berkata,

“Yang ingin aku dapatkan kembali bukan uang satu miliar itu.”

Raka menatapku.

“Aku ingin hidupku kembali.”

Pintu tertutup.

Untuk pertama kalinya, aku meninggalkannya tanpa menunggu apakah dia marah atau tidak.

Dua minggu kemudian, panggilan dari Pengadilan Agama datang.

Raka menghadiri mediasi dengan ekspresi yang sangat berbeda dibanding malam dia menandatangani kesepakatan.

Tidak ada lagi senyum mengejek.

Tidak ada lagi kalimat bahwa aku akan pulang setelah dua hari.

Dia datang membawa tas kerja, duduk di seberangku, lalu selama hampir satu jam mencoba meyakinkanku bahwa pernikahan kami masih bisa diselamatkan.

Mediator bertanya apakah ada kemungkinan berdamai.

Aku menjawab,

“Tidak.”

Raka langsung menoleh.

“Alya, jangan jawab secepat itu.”

Aku menatap mediator.

“Saya sudah memikirkannya bertahun-tahun. Saya hanya baru berani mengambil keputusan sekarang.”

Raka menggeleng.

“Kita bahkan belum konseling.”

Aku hampir tertawa.

Dulu ketika aku meminta konseling setelah dia menemani Nadine mencari apartemen tanpa memberitahuku, Raka menolak.

Katanya konseling pernikahan hanya untuk pasangan yang sudah tidak waras.

Sekarang, ketika aku benar-benar pergi, mendadak semua cara ingin dicoba.

Aku berkata,

“Dulu aku minta kita konseling.”

Raka diam.

Mediator melihat kami bergantian.

Aku melanjutkan,

“Kamu bilang tidak perlu.”

“Itu dulu.”

“Benar. Itu dulu. Dan keputusan ini sekarang.”

Mediasi gagal.

Proses persidangan berlanjut.

Di luar ruang mediasi, Raka mencoba menahan Dini.

“Kesepakatan malam itu tidak sah. Aku tanda tangan saat emosi.”

Dini menjawab tenang,

“Silakan sampaikan melalui pengacara Anda.”

“Aku bisa batalkan.”

“Silakan ajukan argumentasinya.”

Raka semakin kesal.

“Alya yang paksa aku.”

Aku berdiri beberapa langkah darinya.

Dini membuka ponsel.

“Ini pesan Anda sendiri pukul 23.18.”

Dia membacanya.

“Kirim versi final. Aku tanda tangan semuanya malam ini supaya besok dia berhenti drama.”

Wajah Raka langsung berubah.

Dini melanjutkan,

“Dan ini foto dokumen yang Anda kirim sendiri setelah menandatangani setiap halaman.”

Aku tidak pernah melihat seseorang kehilangan begitu banyak keberanian hanya karena mendengar kata-katanya sendiri dibacakan kembali.

Kesepakatan itu memang bukan surat yang otomatis membuat kami bercerai.

Keputusan tetap berada di pengadilan.

Tetapi fakta bahwa Raka menandatangani secara sadar, menerima salinan, mendokumentasikan sendiri, dan tidak langsung membantah isinya menjadi sangat penting dalam penyelesaian harta kami.

Dua bulan kemudian, audit perusahaan selesai.

Hasilnya lebih buruk dari perkiraanku.

Tidak semua Rp2,8 miliar dianggap kerugian.

Ada beberapa perjalanan yang memang berkaitan dengan pekerjaan.

Ada dua pembayaran kepada agensi Nadine yang memiliki hasil kerja meski dokumentasinya buruk.

Namun auditor menemukan pengeluaran pribadi dan transaksi tanpa dasar bisnis memadai senilai lebih dari Rp1,9 miliar.

Raka diwajibkan mengembalikan jumlah tersebut kepada perusahaan.

Rapat pemegang saham kemudian memutuskan mencopotnya dari posisi direktur utama.

Dia masih memiliki saham.

Tidak ada adegan polisi datang dengan borgol.

Tidak ada perusahaan tiba-tiba bangkrut dalam satu malam.

Hidup nyata jarang bekerja seperti sinetron.

Tetapi justru karena itu hukumannya terasa lebih nyata.

Raka harus melihat perusahaan yang dia bangun berjalan tanpa dirinya.

Dia menjual SUV mewahnya.

Kemudian sebagian sahamnya dialihkan untuk mendapatkan dana tunai.

Apartemen servis yang selama ini digunakan Nadine tidak diperpanjang.

Kartu korporat dicabut permanen.

Setiap keputusan besar yang dulu cukup dia lakukan dengan satu tanda tangan sekarang tidak lagi berada di tangannya.

Jam tangan Rp1,147 miliar itu?

Nadine mengembalikannya.

Karena pembelian tersebut telah dibebankan ke perusahaan, auditor meminta aset itu dipulihkan.

Butik tidak menerima pengembalian penuh karena barang sudah didaftarkan dan pernah dipakai.

Akhirnya jam tersebut dijual kembali melalui dealer resmi barang mewah.

Nilainya turun cukup besar.

Uang hasil penjualan masuk ke rekening perusahaan.

Aku pernah melihat foto transaksi itu dalam laporan audit.

Aku menatapnya mungkin selama lima detik.

Jam yang dulu membuat dadaku sesak kini hanya terlihat seperti barang mati.

Tidak ada lagi kuasa apa pun atas diriku.

Nadine menghubungiku satu kali setelah semuanya selesai.

Dia mengajak bertemu.

Awalnya aku ingin menolak.

Tetapi akhirnya kami bertemu di sebuah kafe di Kemang.

Dia datang tanpa jam itu.

Tanpa tas mewah.

Tanpa riasan berlebihan.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Nadine mengaduk kopinya.

“Aku tahu kalian masih menikah.”

Setidaknya dia tidak mencoba berbohong.

“Tapi Raka bilang hubungan kalian sudah selesai lama.”

Aku tersenyum tipis.

“Laki-laki yang masih makan sup buatan istrinya setiap malam kadang suka bilang rumah tangganya sudah selesai.”

Wajah Nadine memerah.

Dia menunduk.

“Dia bilang cuma menunggu waktu.”

“Aku yakin.”

“Aku kirim foto jam itu karena…”

Dia berhenti.

Aku menunggunya.

“Karena aku ingin kamu tahu.”

“Kenapa?”

Nadine mengusap telapak tangannya.

“Karena aku capek dijanjikan.”

Akhirnya semuanya masuk akal.

Nadine ternyata tidak pernah mengirim invoice kepadaku.

Surel butiklah yang membongkar semuanya.

Tetapi seminggu sebelum transaksi itu, Nadine memang sengaja meminta staf butik memasukkan nama lengkapnya sebagai penerima dan mendaftarkan garansi atas namanya.

Dia ingin barang itu meninggalkan jejak.

Dia berharap suatu hari aku mengetahuinya.

Bukan karena rasa bersalah.

Melainkan karena dia ingin Raka dipaksa memilih.

Aku memandangnya.

“Apa kamu berharap setelah aku pergi, dia akan menikahimu?”

Nadine tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku tidak marah.

Anehnya, aku juga tidak puas melihatnya malu.

Aku hanya merasa lelah.

“Nadine.”

Dia mengangkat kepala.

“Aku tidak akan menyalahkanmu atas semua yang dilakukan Raka.”

Matanya sedikit membesar.

“Tapi jangan salah mengerti. Itu bukan berarti kamu tidak punya tanggung jawab.”

Dia terdiam.

“Kamu tahu dia menikah. Kamu menerima fasilitas. Kamu menerima hadiah. Kamu ikut menikmati kebohongan selama kebohongan itu menguntungkanmu.”

Air matanya turun.

Aku tetap melanjutkan.

“Aku tidak membencimu. Tetapi aku juga tidak perlu memaafkanmu supaya bisa melanjutkan hidup.”

Kami berpisah setelah itu.

Aku tidak pernah bertemu Nadine lagi.

Belakangan kudengar agensinya kehilangan satu klien besar setelah masalah dokumentasi kontrak dengan perusahaan Raka tersebar di lingkungan bisnis.

Bukan karena aku menyebarkannya.

Aku tidak pernah membuat postingan.

Tidak pernah mengirim cerita ke akun gosip.

Dunia profesional ternyata cukup kecil untuk membuat reputasi mengikuti seseorang tanpa perlu dibantu.

Empat bulan setelah gugatan diajukan, perceraian kami dikabulkan.

Aku menerima salinan putusan pada hari Selasa sore.

Tidak ada musik.

Tidak ada hujan deras.

Tidak ada adegan aku menangis di tangga pengadilan.

Aku hanya berdiri di parkiran sambil memegang map.

Dini bertanya,

“Mau makan?”

Aku menatapnya.

“Makan apa?”

“Yang mahal. Hari ini aku traktir.”

Kami akhirnya makan soto Betawi.

Sangat tidak sinematik.

Tetapi mungkin justru itu yang kubutuhkan.

Pembagian aset diselesaikan sesuai kesepakatan yang kemudian kami pertegas melalui proses hukum.

Apartemen Lebak Bulus menjadi milikku setelah kompensasi hak Raka dihitung.

Kontribusi Rp1,6 miliar dari orang tuaku dapat dibuktikan dengan riwayat transfer dan dokumen transaksi.

Sedanku tetap milikku.

Dua belas persen saham perusahaan tetap di tanganku.

Yang paling penting, pinjaman Rp780 juta yang dulu kuberikan kepada perusahaan diakui resmi.

Beberapa bulan kemudian, setelah arus kas membaik dan kepemimpinan baru masuk, perusahaan mulai membayarnya kembali secara bertahap.

Pak Bimo pernah meneleponku.

“Kamu mau jual saham?”

Aku memikirkan pertanyaannya.

Dulu aku membeli saham itu karena percaya kepada Raka.

Sekarang aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku ingin tetap terhubung dengan perusahaan yang mengingatkanku kepadanya.

Akhirnya aku menjual sebagian.

Tidak semuanya.

Aku mempertahankan lima persen karena perusahaan itu tidak hanya dibangun oleh Raka.

Ada puluhan orang yang bekerja keras di sana.

Aku sendiri pernah membuat proposal pertama perusahaan, mendesain kantor pertamanya, bahkan mengantar makanan ketika mereka lembur sampai dini hari.

Aku tidak mau membuang bagian dari sejarah hidupku hanya karena satu orang merusaknya.

Sisanya kugunakan untuk sesuatu yang lama kutunda.

Aku membuka kembali studio desain interior kecil yang sudah kutinggalkan bertahun-tahun.

Namanya Ruang Kembali.

Dini menertawakan nama itu.

“Kenapa bukan Ruang Baru?”

Aku menjawab,

“Karena aku bukan orang baru.”

Aku tetap Alya.

Aku hanya kembali kepada diriku sendiri.

Klien pertamaku adalah sebuah klinik gigi di Bintaro.

Proyeknya tidak besar.

Lalu datang sebuah kafe.

Setelah itu dua unit apartemen.

Delapan bulan kemudian aku mendapatkan proyek renovasi hotel butik di Yogyakarta.

Malam ketika kontraknya kutandatangani, aku pulang ke apartemen sekitar pukul sembilan.

Kebiasaan lama membuatku hampir membuka aplikasi pesan untuk memberi tahu Raka.

Tanganku berhenti.

Kemudian aku tertawa sendiri.

Aku membuka kulkas.

Menghangatkan sup.

Duduk di meja makan yang sama tempat setahun sebelumnya aku menemukan kebohongan senilai lebih dari satu miliar rupiah.

Bedanya, sekarang tidak ada seorang pun yang membuatku takut mengajukan pertanyaan.

Raka mencoba kembali tiga kali.

Pertama, saat proses perceraian masih berjalan.

Dia membawa bunga.

Aku tidak membukakan pintu.

Kedua, seminggu setelah dia dicopot sebagai direktur.

Dia menungguku di lobi apartemen.

Wajahnya jauh lebih kurus.

“Alya, lima menit.”

Aku hampir masuk lift.

Lalu aku berpikir mungkin memang sudah waktunya mendengar kalimat terakhirnya.

Kami duduk di sofa lobi.

Raka menundukkan kepala.

“Aku sudah selesai sama Nadine.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Aku sudah balikin uang.”

“Bagus.”

“Aku pergi ke konselor.”

“Bagus.”

Dia menatapku frustrasi.

“Kenapa semua jawabanmu cuma bagus?”

“Karena semua itu memang bagus.”

“Apa nggak ada artinya buat kita?”

Aku menatap wajah laki-laki yang pernah kucintai begitu dalam sampai aku berkali-kali meragukan diriku sendiri demi mempertahankannya.

“Ada.”

Matanya langsung berubah.

Aku melanjutkan,

“Artinya kamu akhirnya melakukan hal-hal yang seharusnya sudah kamu lakukan sejak lama.”

Harapan di matanya padam lagi.

“Aku berubah.”

“Mungkin.”

“Kamu nggak percaya?”

“Aku berharap kamu benar-benar berubah.”

Raka menatapku.

“Terus kenapa kita nggak bisa mulai lagi?”

Aku menghela napas.

“Karena perubahanmu bukan tiket untuk kembali kepadaku.”

Dia terdiam.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, Raka berkata,

“Kalau malam itu aku nggak tanda tangan, apa kamu tetap pergi?”

Aku menoleh.

“Iya.”

“Kalau aku nggak belikan jam?”

Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.

Lalu aku menjawab jujur.

“Mungkin aku butuh waktu lebih lama.”

Wajahnya menegang.

“Tapi aku tetap akan pergi pada akhirnya.”

“Kenapa?”

“Karena jam itu cuma benda terakhir.”

Aku menunjuk dadaku.

“Yang hancur sudah jauh sebelum itu.”

Itulah terakhir kalinya kami berbicara panjang.

Percobaan ketiga terjadi melalui pesan.

Setahun setelah perceraian.

Raka menulis:

Selamat ulang tahun. Semoga kamu baik-baik saja. Aku minta maaf untuk semua yang pernah aku lakukan. Tidak perlu balas.

Aku membaca pesan itu.

Lalu menutup ponsel.

Aku memang tidak membalas.

Bukan karena marah.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Hanya karena tidak semua pintu yang sudah ditutup perlu dibuka lagi untuk memastikan kita benar-benar sudah pergi.

Pada ulang tahunku yang ke-36, orang tuaku datang ke Jakarta.

Ibu membawa rendang terlalu banyak.

Ayah mengeluh apartemenku sekarang penuh sampel kayu, kain, dan katalog warna.

Dini datang membawa kue kecil.

Sari, yang sekarang menjadi kepala keuangan di perusahaan setelah restrukturisasi, ikut makan malam bersama kami.

Kami duduk di meja yang sama.

Meja yang dulu terasa seperti ruang sidang kecil tempat aku selalu menjadi terdakwa.

Malam itu meja tersebut penuh makanan.

Penuh tawa.

Tidak ada siapa pun yang menyembunyikan layar ponselnya ketika notifikasi masuk.

Tidak ada yang membuatku merasa pertanyaanku terlalu berlebihan.

Menjelang malam, Ibu bertanya,

“Kamu bahagia?”

Aku melihat sekeliling.

Apartemen ini tidak sempurna.

Hidupku juga tidak.

Aku masih bekerja terlalu malam.

Masih kadang cemas melihat laporan keuangan.

Masih sesekali teringat tujuh tahun yang tidak bisa dikembalikan.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, aku tidak perlu mengecilkan diriku supaya seseorang merasa nyaman.

Aku menjawab,

“Iya.”

Dan kali ini aku tidak sedang meyakinkan siapa pun.

Aku benar-benar bahagia.

Jam tangan Rp1,147 miliar itu akhirnya hanya menjadi satu baris dalam laporan audit perusahaan.

Raka kehilangan jabatan, sebagian saham, uang, dan pernikahan yang dulu dia anggap tidak akan pernah berani kutinggalkan.

Nadine kehilangan hadiah yang dia kira akan membuktikan dirinya dipilih.

Sedangkan aku?

Aku memang kehilangan tujuh tahun.

Tetapi aku berhenti kehilangan tahun kedelapan.

Ternyata keputusan terbesar dalam hidupku tidak terjadi ketika pengadilan mengabulkan perceraian.

Bukan pula ketika Raka dicopot dari jabatan.

Keputusan terbesarku terjadi pada malam sederhana itu, di depan semangkuk sup iga yang mulai dingin.

Saat seorang laki-laki yang begitu yakin aku akan kembali menandatangani dokumen sambil tersenyum.

Dan aku akhirnya berhenti berharap dia akan berubah.

Aku memilih menyelamatkan satu-satunya orang yang selama tujuh tahun selalu kutinggalkan paling akhir.

Diriku sendiri.