Bagian 3 — Saat Semua Rahasia Terbuka, Aku Memilih Berdiri di Samping Istriku dan Membiarkan Orang yang Memanfaatkannya Menanggung Akibatnya Sendiri Untuk Pertama Kalinya

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 913 tayangan
Bagian 3 — Saat Semua Rahasia Terbuka, Aku Memilih Berdiri di Samping Istriku dan Membiarkan Orang yang Memanfaatkannya Menanggung Akibatnya Sendiri Untuk Pertama Kalinya
Indeks

Bagian 3 — Saat Semua Rahasia Terbuka, Aku Memilih Berdiri di Samping Istriku dan Membiarkan Orang yang Memanfaatkannya Menanggung Akibatnya Sendiri Untuk Pertama Kalinya

Aku merasa darahku berhenti mengalir.

“Apa lagi yang belum aku tahu?”

Maya tidak langsung menjawab.

Dia memandang Bu Ratna yang berdiri di ambang pintu.

Seolah meminta izin untuk meminjam keberanian dari perempuan itu.

Lalu dia menatapku kembali.

“Rumah peninggalan Bapakmu sebenarnya sudah hampir masuk proses lelang dua tahun lalu.”

Aku mengerutkan kening.

“Itu tidak mungkin. Aku masih menerima uang sewanya.”

“Karena aku yang menyelesaikan tunggakannya.”

“Yang dari pinjaman Bu Ratna?”

Maya menggeleng.

“Bukan cuma itu.”

Dia menarik napas.

“Setelah utang penjaminanmu direstrukturisasi, masih ada tunggakan pajak, cicilan lama, dan biaya penyelesaian hampir tiga puluh juta. Aku tidak punya uang lagi.”

“Lalu?”

“Aku jual hak sewa kios peninggalan Bapak di Malang.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Kios apa?”

“Kios kecil di Pasar Oro-Oro Dowo.”

Aku terdiam.

Aku pernah mendengar tentang tempat itu.

Ayah Maya meninggal ketika kami baru setahun menikah.

Kupikir keluarganya tidak meninggalkan apa-apa selain gelang emas dan lemari kayu.

Ternyata ada satu aset kecil.

“Ayahku menyewakan kios itu. Tidak besar. Tapi setiap bulan aku dapat sekitar satu setengah juta.”

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena itu uang yang aku sisihkan untuk Rara.”

Dadaku sesak.

“Dan kamu menjual hak sewanya?”

Maya mengangguk.

“Dua puluh delapan juta.”

Aku tidak berani bertanya untuk apa.

Aku sudah tahu jawabannya.

Untuk rumah keluargaku.

Untuk utangku.

Lagi.

Ibuku, yang sejak tadi berdiri di lorong, tiba-tiba berkata,

“Sudahlah. Masa masalah lama dibesar-besarkan begini? Maya juga tinggal di rumah keluarga kita.”

Maya menoleh.

Untuk pertama kalinya selama sembilan tahun aku mengenalnya, tatapan istriku kepada ibuku benar-benar berubah.

Tidak marah.

Tidak membenci.

Lebih buruk.

Kosong.

“Bu,” katanya pelan, “rumah itu bahkan tidak pernah saya tempati.”

Ibuku terdiam.

Benar.

Rumah warisan ayah kami berada di Sidoarjo.

Sejak menikah, rumah itu selalu disewakan.

Kami sendiri tinggal di kontrakan.

Maya melanjutkan.

“Hasil sewanya masuk ke rekening Arman. Jadi kalau dihitung, saya justru mengeluarkan uang untuk mempertahankan aset yang manfaatnya tidak pernah saya nikmati.”

Aku menunduk.

Tidak ada kalimat yang bisa membelaku.

Selama bertahun-tahun aku merasa telah menjadi laki-laki yang memberi tempat tinggal untuk istrinya.

Padahal kontrakan dibayar dari gabungan penghasilan kami.

Makanan kami dibeli Maya.

Sekolah anak kami dibayar Maya.

Obat ibu dibayar Maya.

Utangku dibayar Maya.

Asetku diselamatkan Maya.

Dan aku?

Aku membeli ponsel baru dua tahun sekali.

Aku punya perlengkapan memancing hampir delapan juta rupiah.

Aku beberapa kali mentraktir teman kantor karena ingin dianggap berhasil.

Aku bahkan pernah mengomel ketika Maya meminta Rp300.000 untuk membeli sepatu kerja.

Aku berkata,

“Gajimu ke mana saja?”

Malam itu, ingatan tentang kalimat tersebut membuatku ingin menampar diriku sendiri.

Rio menyela.

“Mas, ini masalah keluarga. Jangan jadi besar gara-gara KTP.”

Aku menoleh.

“Berikan map itu.”

“Mas…”

“Sekarang.”

Rio menyerahkannya.

Aku membuka lembar pengajuan kredit.

Nilai pembiayaan: Rp187 juta.

Mobil pikap bekas.

Nama pemohon: Rio Pradana.

Penjamin: Maya Lestari.

Ada fotokopi KTP istriku.

Ada slip penghasilan.

Lalu aku melihat tanda tangan.

Aku mengenal tanda tangan Maya.

Yang di dokumen itu mirip.

Tapi bukan miliknya.

Aku menatap Rio.

“Siapa yang tanda tangan?”

Wajahnya menegang.

“Belum final, Mas.”

“Siapa?”

Ibu buru-buru menyela.

“Cuma contoh. Nanti Maya tinggal tanda tangan asli.”

Maya tertawa kecil dari ranjang.

Tawanya pendek.

Kering.

“Contoh?”

Dia menunjuk lembar terakhir.

“Kalau cuma contoh, kenapa sudah ada stempel penerimaan berkas?”

Aku melihatnya.

Benar.

Berkas sudah diterima dua hari lalu.

Rio berkata cepat,

“Aku cuma mau mempercepat proses.”

Bu Ratna yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Pak Rio, menggunakan identitas orang tanpa izin bukan cara mempercepat proses.”

Ibu langsung tersinggung.

“Ibu jangan ikut campur. Ini urusan keluarga kami.”

Bu Ratna menatapnya.

“Justru karena selama ini semua orang menganggap Maya harus menelan semuanya demi keluarga, keadaannya sampai seperti ini.”

Ibu hendak membalas.

Aku mengangkat tangan.

“Cukup.”

Semua menoleh kepadaku.

Aku meletakkan map di meja.

“Besok pagi aku ikut Maya ke perusahaan pembiayaan.”

Rio langsung panik.

“Mas!”

“Kalau berkasnya belum diproses, kita batalkan.”

“Terus uang mukaku bagaimana?”

“Itu urusanmu.”

“Aku sudah bayar dua belas juta!”

Aku memandang adikku.

“Uang pesta pernikahanmu empat puluh enam juta dibayar istriku.”

Rio terdiam.

“Operasi Ibu dibayar istriku.”

Tak ada jawaban.

“Selama bertahun-tahun kalian makan dari uang yang dia hasilkan. Sekarang kamu bertanya siapa yang mengganti dua belas jutamu?”

Wajah Rio merah.

Ibu menatapku seolah aku baru mengkhianatinya.

“Kamu sekarang lebih percaya istri daripada ibu sendiri?”

Biasanya kalimat itu selalu berhasil.

Aku akan diam.

Aku akan mengalah.

Aku akan pulang dan meminta Maya memahami keadaan.

Malam itu tidak.

“Aku percaya bukti.”

Ibuku membeku.

Aku menunjuk map.

“Dan bukti yang kulihat adalah Ibu membiarkan Maya menanggung biaya keluarga ini, sementara di belakangku Ibu menghinanya.”

“Itu tidak begitu.”

“Rara dengar.”

Ibu kehilangan kata-kata.

Aku melanjutkan.

“Mulai sekarang tidak ada lagi uang tanpa catatan. Tidak ada lagi meminjam KTP. Tidak ada lagi meminta Maya membayar kebutuhan Rio.”

Ibu menatap Maya.

“Kamu puas sekarang? Suamimu jadi melawan ibunya gara-gara kamu.”

Maya tidak menjawab.

Aku yang menjawab.

“Bukan Maya yang membuatku melawan Ibu.”

Aku menarik napas.

“Perbuatan kita sendiri yang membuat semuanya sampai di sini.”

Malam itu aku tidak pulang bersama Ibu dan Rio.

Aku duduk di kursi plastik rumah sakit sampai pagi.

Maya hampir tidak bicara.

Sekitar pukul empat subuh, saat lorong sudah sepi, aku berkata,

“Maaf.”

Maya menatap langit-langit.

“Aku bahkan tidak tahu harus minta maaf mulai dari mana.”

Dia akhirnya menoleh.

“Jangan minta maaf karena baru tahu.”

Aku mengerutkan kening.

“Minta maaflah karena selama ini kamu memilih tidak tahu.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat paling sakit.

“Aku pikir aku sudah bekerja keras.”

“Kamu memang bekerja keras.”

“Lalu kenapa…”

“Masalahnya bukan kamu tidak bekerja.”

Maya menarik selimut lebih tinggi.

“Masalahnya kamu menganggap hanya pekerjaanmu yang penting.”

Aku tidak bisa membantah.

Dia melanjutkan.

“Setiap kali aku pulang capek, kamu bertanya sudah masak atau belum.”

Aku menunduk.

“Setiap kali ibumu sakit, aku yang mengantar.”

Dia menatapku.

“Setiap kali Rio butuh uang, ibumu bicara ke aku karena katanya kamu mudah emosi kalau masalah uang.”

Aku mengepalkan tangan.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Maya tersenyum sedih.

“Aku pernah.”

Aku mengangkat kepala.

“Kapan?”

“Waktu Rara umur dua tahun.”

Aku berusaha mengingat.

“Aku bilang ke kamu, Ibu sering meminta uang tambahan.”

Dadaku dingin.

Samar-samar aku ingat.

Aku sedang memainkan ponsel saat itu.

Aku berkata,

“Ibu sudah tua. Kasih saja kalau kamu punya.”

Maya melanjutkan.

“Waktu gelangku hilang, aku juga hampir bilang.”

Aku ingat.

Malam itu aku malah marah karena mengira Maya ceroboh.

“Aku pikir kalau aku bisa menyelesaikannya sendiri, rumah kita akan lebih tenang.”

“Dan ternyata?”

“Orang yang selalu mengalah akhirnya dianggap tidak punya batas.”

Aku tidak tidur sampai matahari terbit.

Pukul sembilan, dokter mengizinkan Maya pulang keesokan harinya jika kondisinya stabil.

Namun dia menepati ucapannya.

Dia tidak kembali ke kontrakan.

Maya membawa Rara tinggal sementara di rumah sepupunya di Sidoarjo.

Aku tidak mencegah.

Dulu mungkin aku akan berkata,

“Kamu istri. Pulang.”

Sekarang aku akhirnya paham.

Dia bukan meninggalkan rumah.

Dia sedang menyelamatkan dirinya dari rumah yang membuatnya hancur.

Hari berikutnya kami pergi ke kantor perusahaan pembiayaan.

Rio ikut dengan wajah kusut.

Petugas memeriksa dokumen.

Ternyata pembiayaan belum dicairkan.

Berkas masih tahap verifikasi.

Ketika Maya menyatakan tanda tangan bukan miliknya dan fotokopi KTP digunakan tanpa izin, permohonan langsung dihentikan.

Petugas meminta Rio membuat pernyataan tertulis.

Uang tanda jadi yang sudah dibayarkan ke penjual kendaraan menjadi urusannya sendiri.

Rio marah besar ketika keluar.

“Gara-gara kalian aku rugi dua belas juta!”

Aku berhenti di parkiran.

“Tidak.”

Dia menatapku.

“Kamu rugi karena memutuskan memakai nama orang lain tanpa izin.”

“Aku adikmu!”

“Justru karena kamu adikku, selama ini semua orang terus menyelamatkanmu.”

Wajahnya memerah.

“Sekarang berhenti.”

Rio memaki lalu pergi.

Aku tidak mengejarnya.

Dua hari kemudian aku memindahkan barang-barang Ibu dari kontrakan kami ke rumah warisan ayah di Sidoarjo.

Rumah itu baru kosong karena penyewanya pindah.

Ibu marah.

“Kamu mengusir ibu kandungmu?”

“Tidak.”

Aku meletakkan dua koper di ruang tengah.

“Rumah ini milik keluarga kita. Ibu bisa tinggal di sini tanpa bayar sewa.”

“Kenapa tidak tinggal bareng kalian?”

“Karena Maya berhak punya rumah tempat dia tidak dihina.”

Ibu menangis.

Aku hampir goyah.

Lalu aku teringat Rara berkata ibunya makan nasi dan kuah di dapur sementara semua orang makan ayam.

Aku bertahan.

“Aku tetap akan kirim uang kebutuhan Ibu.”

Ibu menatapku penuh harap.

“Berapa?”

“Rp1,5 juta per bulan, ditambah obat yang aku beli langsung.”

Wajahnya berubah.

“Cuma segitu?”

“Selama ini Maya mengeluarkan hampir dua sampai tiga juta.”

“Ya sudah teruskan saja!”

“Tidak.”

Aku mengeluarkan buku catatan baru.

“Mulai sekarang aku sendiri yang bertanggung jawab untuk Ibu. Maya bukan ATM keluarga.”

Ibu melempar buku itu ke meja.

“Setelah menikah kamu berubah!”

Aku menatapnya.

“Mungkin aku memang terlambat berubah.”

Minggu berikutnya aku melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan bertahun-tahun sebelumnya.

Aku menjual barang-barang yang sebenarnya tidak kubutuhkan.

Dua set pancing.

Kamera aksi.

Speaker besar.

Jam tangan.

Dan motor tua yang hanya kupakai sesekali karena aku sudah mendapat fasilitas kendaraan dari kantor.

Totalnya hampir Rp23 juta.

Uang itu langsung kutransfer untuk mengurangi sisa pinjaman Maya kepada Bu Ratna.

Bu Ratna menelepon setelah menerima transfer.

“Pak Arman, Anda tidak harus membayar sekaligus.”

“Saya tahu.”

“Yang penting sekarang Maya pulih.”

Aku diam sebentar.

“Bu, boleh saya tanya?”

“Silakan.”

“Kenapa Ibu mau meminjamkan uang sebanyak itu kepadanya?”

Bu Ratna menjawab tanpa ragu.

“Karena selama bekerja dengan saya, istri Anda tidak pernah mengambil seribu rupiah pun yang bukan miliknya.”

Aku menutup mata.

Beliau melanjutkan.

“Pernah suatu hari saya salah memasukkan uang belanja lima ratus ribu lebih banyak ke amplop.”

“Apa yang dia lakukan?”

“Besoknya dikembalikan.”

Aku tersenyum pahit.

“Itu memang Maya.”

“Tidak, Pak.”

Bu Ratna berhenti sejenak.

“Itu bukan ‘memang Maya’ seolah hal seperti itu biasa. Orang seperti Maya langka. Jangan membuat kesalahan dengan menganggap kebaikannya sesuatu yang otomatis akan selalu tersedia.”

Aku menyimpan kalimat itu.

Tiga minggu berlalu.

Aku masih tinggal sendiri di kontrakan.

Setiap pagi aku menjemput Rara untuk sekolah jika jadwal memungkinkan.

Aku mulai mengerti betapa banyak hal kecil yang dulu kulihat sebagai sesuatu yang “beres sendiri”.

Seragam tidak otomatis bersih.

Bekal tidak muncul sendiri.

Jadwal imunisasi sekolah tidak terisi sendiri.

Tagihan listrik tidak membayar dirinya sendiri.

Beras tidak tahu kapan harus dibeli.

Obat Ibu tidak otomatis tersedia.

Selama bertahun-tahun semua itu punya satu nama.

Maya.

Suatu sore aku bertemu dengannya di warung kopi dekat sekolah Rara.

Dia terlihat lebih sehat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kukunya tidak pecah karena terlalu sering terkena sabun.

Aku mengeluarkan sebuah map.

Maya menatapnya.

“Apa ini?”

“Laporan.”

Dia hampir tersenyum.

“Laporan apa?”

“Utang kita.”

Aku sengaja mengatakan “kita”.

Bukan utangmu.

Bukan uangmu.

Aku menunjukkan seluruh catatan.

Sisa pinjaman Bu Ratna.

Dana sekolah Rara.

Biaya rumah tangga.

Bantuan untuk Ibu.

Bahkan uang makan siangku.

“Aku buat rekening bersama khusus kebutuhan rumah.”

Maya membaca tanpa komentar.

“Gajiku masuk sebagian ke sana setiap tanggal satu.”

Aku melanjutkan.

“Tidak ada lagi uang untuk Rio.”

Dia mengangkat alis.

“Kalau Ibu sakit?”

“Aku yang bayar.”

“Kalau Rio pinjam?”

“Dia bekerja.”

Maya menatapku cukup lama.

“Lalu kamu ingin apa dari aku?”

Pertanyaan itu sulit.

Aku menarik napas.

“Aku ingin kamu pulang.”

Ekspresinya langsung menutup.

Aku cepat-cepat melanjutkan.

“Tapi bukan sekarang.”

Maya terkejut.

“Aku ingin kamu pulang kalau suatu hari kamu merasa rumah itu aman lagi.”

Aku menatapnya.

“Kalau tidak, aku yang pindah.”

Dia diam.

“Aku tidak akan pakai Rara untuk membuatmu merasa bersalah.”

Matanya mulai merah.

“Aku juga tidak akan pakai status suami untuk memaksamu.”

Untuk pertama kalinya sejak malam di rumah sakit, Maya menangis di depanku.

Bukan tangisan keras.

Air matanya jatuh begitu saja.

“Aku capek, Man.”

“Aku tahu.”

“Tidak.”

Dia menggeleng.

“Kamu baru mulai tahu.”

Aku mengangguk.

“Kamu benar.”

Kami tidak langsung kembali seperti dulu.

Dan ternyata itu hal yang baik.

Beberapa kerusakan tidak diperbaiki dengan satu pelukan.

Dua bulan kemudian, Bu Ratna menghubungi Maya.

Usaha katering miliknya berkembang.

Dia membutuhkan staf administrasi yang bisa mengelola pemasukan, tagihan pemasok, dan penggajian.

Jam kerja pukul delapan sampai tiga sore.

Hari Sabtu hanya setengah hari.

Bu Ratna menawarkan Maya posisi itu.

Gajinya Rp9,8 juta.

Ada BPJS.

Ada bonus tahunan.

Yang terpenting, Rara masih bisa dijemput tepat waktu.

Maya menerima.

Hari pertamanya bekerja sebagai staf administrasi, aku mengantar.

Dia mengenakan blus biru tua dan celana kain hitam.

Rara berdiri di depan pintu kontrakan sambil bertepuk tangan.

“Mama sekarang kerja kantor!”

Maya tersenyum.

Lalu dia jongkok.

“Dulu Mama juga bekerja sungguhan, Sayang.”

Aku yang berdiri di belakangnya merasa wajahku panas.

Maya menoleh kepadaku.

Aku mengangguk.

“Benar.”

Aku berjongkok di samping Rara.

“Mama dari dulu kerja keras. Papa saja yang terlambat mengerti.”

Tiga bulan setelah kejadian itu, Rio datang ke rumahku.

Penampilannya berbeda.

Tidak ada jam besar.

Tidak ada sepatu mahal.

Dia sekarang bekerja shift malam di gudang ekspedisi.

“Aku mau cicil uang Mbak Maya.”

Dia meletakkan Rp2 juta di meja.

Aku tidak menyentuhnya.

“Berikan sendiri.”

Rio terlihat gugup.

Maya keluar dari dapur.

Dia memandang amplop itu.

“Aku belum bisa bayar semuanya,” kata Rio.

Maya tidak menjawab.

“Aku jual HP. Motor juga sudah aku downgrade.”

Maya masih diam.

“Aku tahu aku salah.”

Untuk beberapa detik suasana kaku.

Lalu Maya berkata,

“Uang empat puluh enam juta itu bukan cuma uang.”

Rio menunduk.

“Itu waktu.”

“Waktu saya bersama anak saya.”

“Tenaga saya.”

“Jam kerja tambahan saya.”

“Jadi kalau kamu mau membayar, jangan cuma mengembalikan angka.”

Rio menatapnya.

“Belajar bertanggung jawab.”

Dia mengangguk.

Maya menerima amplop tersebut.

Bukan karena dua juta bisa menghapus semuanya.

Tetapi karena untuk pertama kalinya Rio datang bukan untuk meminta.

Dia datang untuk mengembalikan.

Ibuku lebih lama.

Hampir lima bulan dia tidak mau bertemu Maya.

Katanya harga dirinya diinjak.

Aku tidak memaksa.

Setiap bulan aku tetap datang membawa obat dan uang kebutuhan.

Namun tidak pernah lagi memberinya uang tambahan hanya karena Rio meminta.

Beberapa kali Ibu menelepon.

“Rio butuh servis motor.”

“Suruh Rio bayar.”

“Tagihan listrik besar.”

“Matikan AC kalau tidak dipakai.”

“Sepupumu mau datang, Ibu mau masak besar.”

“Sesuaikan dengan uang yang ada.”

Awalnya Ibu marah.

Lama-lama dia berhenti meminta.

Dia bahkan mulai menerima pesanan lontong sayur dari tetangga setiap akhir pekan.

Suatu pagi Ibu menelepon Maya sendiri.

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Maya baru menceritakannya malam hari.

“Ibu minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Kamu bilang apa?”

“Aku bilang aku dengar.”

“Hanya itu?”

“Hanya itu.”

Aku tidak menyuruhnya segera memaafkan.

Permintaan maaf adalah kewajiban orang yang bersalah.

Memaafkan adalah hak orang yang terluka.

Dua bulan kemudian, kami makan bersama untuk ulang tahun Rara.

Ibu datang membawa puding buatan sendiri.

Tidak ada pesta besar.

Hanya kami berlima.

Aku.

Maya.

Rara.

Ibu.

Rio.

Ketika makanan hampir habis, Ibu tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“Maya.”

Maya menoleh.

Ibu mendorong kotak itu.

Di dalamnya ada sepasang sandal kerja baru.

Sederhana.

Bukan emas.

Bukan uang.

Ibu berkata pelan,

“Dulu Ibu dengar sandalmu rusak, tapi Ibu pura-pura tidak tahu.”

Maya terdiam.

“Ibu pikir karena kamu selalu bisa menyelesaikan semuanya, berarti kamu tidak pernah membutuhkan siapa-siapa.”

Matanya berkaca-kaca.

“Ternyata Ibu cuma terlalu nyaman menerima.”

Ruangan sunyi.

“Ibu tidak minta kamu melupakan semuanya.”

Dia mengusap ujung meja.

“Kalau suatu hari kamu bisa memaafkan Ibu, Ibu bersyukur.”

Maya menutup kotak sandal.

“Bu.”

Ibuku mengangkat kepala.

“Saya tidak mau kembali ke pola lama.”

Ibu mengangguk.

“Kita tinggal terpisah.”

“Iya.”

“Uang harus jelas.”

“Iya.”

“Dokumen saya tidak boleh dipakai siapa pun.”

“Iya.”

“Kalau ada masalah dengan Rio, jangan datang ke saya untuk menyelamatkannya.”

Rio batuk kecil.

Ibu mengangguk lagi.

“Iya.”

Baru saat itu Maya tersenyum tipis.

“Kalau begitu kita bisa mulai dari situ.”

Setahun berlalu.

Pinjaman Bu Ratna akhirnya lunas.

Hari ketika transfer terakhir dilakukan, Maya menunjukkan notifikasi bank kepadaku.

“Sudah.”

Aku melihat layar itu.

Jumlah terakhir tidak besar.

Hanya Rp1.870.000.

Tetapi bagiku angka itu terasa seperti pintu penjara yang akhirnya terbuka.

Aku mengambil tangan Maya.

Tidak ada pidato.

Tidak ada janji besar.

Aku hanya berkata,

“Terima kasih sudah bertahan.”

Maya menatapku.

“Aku tidak mau dipuji karena bertahan.”

Aku terdiam.

Dia tersenyum.

“Aku lebih suka kamu belajar supaya aku tidak perlu bertahan sendirian lagi.”

Aku tertawa kecil.

“Baik.”

Beberapa bulan kemudian kami mengambil kembali rumah peninggalan ayah dari penyewa dan merenovasi bagian belakang.

Bukan untuk Ibu.

Bukan untuk Rio.

Untuk kami bertiga.

Ibu tetap tinggal di rumah kecil yang dia tempati sekarang dan berkata dia lebih nyaman punya dapur sendiri.

Rio mencicil utangnya kepada Maya setiap bulan.

Kadang Rp1 juta.

Kadang Rp2 juta.

Tidak cepat.

Tetapi tidak pernah putus.

Maya kini mengelola keuangan usaha katering Bu Ratna dan beberapa bulan lalu dipercaya memegang pembukuan cabang kedua.

Gajinya bahkan sedikit lebih besar dariku.

Dulu mungkin harga diriku akan terganggu.

Sekarang ketika dia menerima bonus, aku justru berkata,

“Jangan dipakai bayar utang siapa-siapa.”

Dia tertawa.

“Termasuk utangmu?”

“Terutama utangku.”

Suatu malam, saat kami membereskan barang untuk pindah ke rumah baru, aku menemukan tas kanvas cokelat yang dulu diberikan Bu Ratna kepadaku.

Jahitannya semakin pudar.

Aku mengangkatnya.

“Buang saja?”

Maya langsung mengambil.

“Jangan.”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

Dia mengusap bagian yang pernah sobek.

“Ini masih bisa dipakai.”

Aku tertawa.

“Masih kebiasaan.”

Maya ikut tertawa.

Namun kali ini aku tahu bedanya.

Dulu dia menggunakan barang sampai rusak karena setiap rupiah miliknya sudah lebih dulu dibutuhkan orang lain.

Sekarang dia memilih hidup sederhana karena memang itu pilihannya.

Bukan karena seluruh keluarga menggantungkan beban di pundaknya.

Aku pernah mengira istriku hanya seorang pembantu rumah tangga.

Aku bahkan pernah merasa dia seharusnya bersyukur memiliki suami dengan pekerjaan “lebih baik”.

Padahal selama enam tahun, ketika aku sibuk menjaga harga diriku di depan orang lain, Maya diam-diam menjaga agar keluargaku tidak kehilangan rumah.

Menjaga ibuku tetap mendapat obat.

Menjaga anak kami tetap sekolah.

Menjaga utangku tidak menghancurkan masa depan kami.

Dan yang paling memalukan…

dia melakukan semua itu tanpa pernah menjadikannya alasan untuk merendahkanku.

Aku baru memahami satu hal setelah hampir kehilangan dirinya.

Pekerjaan seseorang tidak pernah membuatnya rendah.

Yang membuat manusia rendah adalah ketika dia menikmati pengorbanan orang lain, lalu masih merasa dirinya lebih tinggi.

Sekarang setiap kali seseorang bertanya apa pekerjaan istriku dulu, aku tidak lagi berkata,

“Dia cuma kerja di rumah orang.”

Aku berkata,

“Dia bekerja keras ketika keluarga kami hampir runtuh.”

Karena itulah kebenarannya.

Maya tidak pernah menjadi perempuan paling lemah di rumah kami.

Dia justru tiang terakhir yang masih berdiri ketika kami semua hampir merobohkan rumah itu dengan tangan kami sendiri.

Dan ketika akhirnya dia memilih melepaskan seluruh beban yang bukan miliknya, barulah kami belajar berdiri dengan kaki kami masing-masing.

Bukan Maya yang membutuhkan keluarga kami untuk punya harga diri.

Kamilah yang selama ini membutuhkan Maya agar keluarga itu masih bisa disebut rumah.