Bagian 3 — Di Depan Notaris, Polisi, dan Keluarganya, Aku Membuka Bukti Satu per Satu sampai Rumah, Uang, dan Putriku Kembali Kepadaku Sepenuhnya

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 1,072 tayangan
Bagian 3 — Di Depan Notaris, Polisi, dan Keluarganya, Aku Membuka Bukti Satu per Satu sampai Rumah, Uang, dan Putriku Kembali Kepadaku Sepenuhnya
Indeks

Bagian 3 — Di Depan Notaris, Polisi, dan Keluarganya, Aku Membuka Bukti Satu per Satu sampai Rumah, Uang, dan Putriku Kembali Kepadaku Sepenuhnya

Tanggal delapan belas datang seperti hari biasa.

Pukul tujuh pagi Dimas sudah berpakaian rapi.

Kemeja biru muda.

Celana bahan.

Parfum yang biasanya hanya dipakai saat bertemu klien.

Aku sedang menyiapkan roti panggang untuk Nara ketika dia masuk ke dapur.

“Jam sepuluh kita berangkat.”

“Ke mana?”

Dia mendecakkan lidah.

“Kan sudah kubilang. Notaris. Dokumen renovasi.”

Aku mengoleskan selai stroberi ke roti Nara.

“Dokumennya banyak?”

“Lumayan.”

“Aku perlu baca?”

Dia tersenyum.

“Ya boleh, tapi jangan lama-lama. Orang notaris pasti sudah menjelaskan.”

Aku menatapnya.

Beberapa tahun lalu, senyum itu membuatku merasa aman.

Pagi itu aku hanya melihat seseorang yang yakin istrinya terlalu sibuk, terlalu percaya, dan terlalu jauh dari rumah untuk memahami apa yang sedang dia lakukan.

Aku mengangguk.

“Oke.”

Nara tidak ikut.

Sejak aku pulang, dia tinggal sementara bersama kakak sepupuku, Laras, saat aku harus keluar rumah.

Aku tidak lagi meninggalkannya bersama satu pun anggota keluarga Dimas.

Bahkan untuk satu jam.

Sebelum berangkat, aku berlutut di depan Nara.

“Mama pergi sebentar.”

Tangannya langsung mencengkeram lenganku.

“Balik?”

“Iya.”

“Beneran?”

Pertanyaan itu kembali menusuk dadaku.

Aku mencium keningnya.

“Mama selalu bilang kalau Mama pulang, Mama akan pulang.”

Dia menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.

Aku berjanji dalam hati bahwa aku tidak akan pernah lagi membuat anakku bertanya apakah ibunya akan kembali.

Kantor notaris berada di kawasan Margonda.

Dimas menyetir sepanjang perjalanan sambil menelepon beberapa orang.

Dia kelihatan sangat santai.

Bahkan sempat bertanya apakah aku ingin makan soto setelah urusan selesai.

Aku menjawab, “Lihat nanti.”

Ketika kami masuk, aku langsung melihat Bu Ratna.

Rika juga ada.

Aku berpura-pura terkejut.

“Kok Mama sama Rika di sini?”

Bu Ratna tersenyum lebar.

“Sekalian urusan usaha.”

Rika bahkan tidak sanggup menatap mataku lebih dari dua detik.

Di meja panjang sudah tersedia setumpuk map.

Seorang pria paruh baya memperkenalkan dirinya sebagai staf kantor notaris yang menangani pemberkasan awal. Notarisnya sendiri belum masuk ruangan.

Dimas duduk di sebelahku.

“Ini cuma soal pengembangan bangunan depan rumah,” katanya.

Aku membuka map pertama.

Surat persetujuan renovasi.

Map kedua.

Rencana usaha.

Map ketiga.

Perjanjian pinjaman.

Aku berhenti.

“Apa ini?”

Dimas langsung menjawab.

“Itu paket pembiayaan usaha.”

“Katanya renovasi.”

“Ya renovasi butuh dana.”

“Rp2,6 miliar?”

Bu Ratna menyela.

“Maya, jangan langsung emosi. Ini untuk masa depan keluarga.”

Aku membalik halaman.

Agunan: sebidang tanah dan bangunan atas nama Maya Pradipta.

Aku menarik napas.

“Rumah ayahku?”

Dimas mendekat.

“Kita cuma pakai sebagai jaminan sementara.”

“Kita?”

Aku mengangkat dokumen itu.

“Namaku yang ada di sertifikat.”

Rika mulai gelisah.

“Mbak, salon juga berkembang. Kalau cabang baru jadi, semua untung.”

Aku menatapnya.

“Berapa rupiah sewa yang pernah kamu bayar selama memakai tempatku hampir dua tahun?”

Dia diam.

Bu Ratna langsung membela.

“Jangan hitung-hitungan sama keluarga.”

Aku tersenyum tipis.

“Menarik.”

Dimas mendorong sebuah halaman ke depanku.

“Sudah. Tanda tangan saja dulu. Nanti di rumah aku jelaskan.”

Aku membaca judulnya.

Surat Kuasa Menjaminkan.

Persis seperti draf yang kutemukan.

Hanya kali ini sudah dicetak rapi.

Namaku.

Nomor KTP-ku.

Nomor sertifikat rumah.

Dan kalimat yang memberi Dimas kewenangan luas untuk menggunakan properti itu sebagai agunan.

Aku meletakkan pena.

“Kenapa aku harus memberi kamu kuasa?”

Dimas mulai kehilangan kesabaran.

“Karena aku suamimu.”

Aku menatapnya lurus.

“Itu bukan jawaban.”

“Maya.”

Nada suaranya turun.

Nada yang biasanya dia gunakan ketika ingin membuatku merasa aku sedang bersikap tidak masuk akal.

“Kamu jarang di rumah. Aku yang mengurus semuanya di sini. Jangan bikin urusan sederhana menjadi drama.”

Kalimat itu membuatku hampir tertawa.

Aku mengambil ponsel.

“Kalau begitu kita dengarkan sesuatu.”

Wajahnya berubah.

Aku menekan tombol putar.

Suara Dimas memenuhi ruangan.

“Yang penting dokumen kuasa diselipkan di antara berkas lain. Begitu dia tanda tangan, kita bisa lanjut.”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Rekaman berlanjut.

“Kalau Maya marah belakangan, biar saja. Setelah agunan masuk dan dana cair, dia mau pergi ke mana?”

Aku menghentikannya.

Rika berdiri.

“Itu bisa dipotong!”

“Duduk.”

Aku tidak berteriak.

Namun untuk pertama kali, dia menurut.

Dimas menatap ponselku.

“Kamu merekam aku?”

“Di rumahku sendiri.”

Bu Ratna ikut berdiri.

“Kamu mau mempermalukan suami di depan orang?”

Aku memandangnya.

“Belum.”

“Ini bahkan belum bagian yang memalukan.”

Pintu ruangan terbuka.

Sinta masuk.

Di belakangnya ada dua orang dari bagian kepatuhan perusahaan pembiayaan dan seorang petugas yang memperkenalkan diri sebagai pendamping dalam proses klarifikasi laporan yang sudah kubuat.

Wajah Dimas benar-benar berubah.

“Apa ini?”

Aku membuka tas.

Mengeluarkan map cokelat.

Lalu menaruhnya di meja.

“Ini laporan pemeriksaan Nara setelah ditemukan sendirian hampir dua hari.”

Map kedua.

“Ini bukti transaksi rekening rumah tangga.”

Map ketiga.

“Ini dokumen pengajuan kredit memakai tanda tanganku yang bukan tanda tanganku.”

Map keempat.

“Ini pernyataan resmi bahwa aku tidak pernah memberikan kuasa menjaminkan rumah.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Dan ini cadangan rekaman percakapan kalian.”

Bu Ratna mulai bicara cepat.

“Kamu salah paham.”

Aku menoleh kepadanya.

“Bagian mana?”

“Bagian ketika cucu Mama demam sendirian?”

“Atau bagian ketika Mama menulis supaya Nara dibiasakan mengatakan ibunya jarang pulang?”

Wajahnya pucat.

Dimas bangkit.

“Maya, kita bicara di luar.”

“Tidak.”

“Ini urusan rumah tangga.”

“Ketika kamu membawa sertifikatku ke pihak ketiga dan menggunakan tanda tanganku tanpa izin, ini bukan lagi sekadar urusan suami istri.”

Dimas memukul meja dengan telapak tangan.

“Semua ini kulakukan untuk keluarga!”

Aku akhirnya menaikkan suara.

“Keluarga yang mana?”

Ruangan membeku.

“Anakmu kelaparan di rumah sementara transaksi kartumu tercatat di Bali.”

Dimas membuka mulut.

Aku tidak memberinya kesempatan.

“Kamu membayar hotel.”

“Restoran.”

“Sewa mobil.”

“Dan transfer ke perusahaanmu bersama Alya.”

Rika memandang kakaknya.

Bu Ratna juga.

Sepertinya mereka mengetahui utang bisnis.

Tetapi nama Alya adalah informasi baru.

Dimas langsung berkata, “Alya partner bisnis.”

Aku membuka satu lembar lagi.

“Bagus.”

“Kalau begitu jelaskan kenapa reservasi hotel memuat dua tamu dewasa, sementara kamu mengatakan kepadaku sedang mengecek vendor di Bogor.”

Dia diam.

Aku sebenarnya tidak peduli lagi apakah hubungan mereka sudah menjadi perselingkuhan fisik atau belum.

Aku tidak membutuhkan pengakuannya untuk mengambil keputusan.

Yang kuhitung bukan perempuan lain.

Yang kuhitung adalah dua malam ketika putriku memanggil orang dewasa dari rumah kosong dan tidak seorang pun datang.

Pihak pembiayaan menjelaskan bahwa pengajuan dihentikan.

Tidak ada pencairan.

Tidak ada hak tanggungan yang diproses.

Tidak ada satu rupiah pun yang akan keluar menggunakan rumahku sebagai jaminan tanpa verifikasi dan persetujuanku.

Aku meminta semuanya dicatat tertulis.

Dimas terus berusaha memotong pembicaraan.

“Ini bisa diselesaikan.”

Aku menatapnya.

“Memang.”

“Aku sedang menyelesaikannya.”

Ketika kami keluar dari kantor, dia mengejarku sampai trotoar.

“Maya!”

Aku terus berjalan.

Dia meraih lenganku.

Aku melepaskannya.

“Jangan sentuh aku.”

“Mau apa kamu sekarang?”

“Aku akan pulang ke Nara.”

“Aku juga ayahnya!”

Aku berhenti.

“Seorang ayah tidak pergi dua hari meninggalkan anak lima tahun tanpa orang dewasa.”

“Sudah kubilang Mama seharusnya datang!”

Bu Ratna yang berdiri beberapa meter dari kami langsung memotong.

“Jangan bawa-bawa Mama!”

Aku hampir tidak percaya.

Dimas menoleh tajam.

“Mama sendiri yang bilang bisa!”

“Aku bilang siang!”

“Tidak pernah bilang menginap dua hari!”

Mereka mulai saling menyalahkan di trotoar.

Aku tidak menyela.

Aku hanya menatap tiga orang yang selama berminggu-minggu bekerja sama ketika ada uang yang bisa diperoleh, lalu pecah hanya dalam beberapa menit ketika risiko mulai mendekat.

Akhirnya aku mengerti sesuatu.

Mereka bukan keluarga yang kompak.

Mereka hanya kompak selama ada aku yang membayar harga kekompakan mereka.

Minggu-minggu berikutnya tidak mudah.

Aku tidak ingin membuat ceritaku terdengar seperti satu rekaman langsung menyelesaikan semuanya.

Tidak begitu kehidupan bekerja.

Ada pemeriksaan.

Ada dokumen.

Ada telepon dari penyidik.

Ada konsultasi hukum.

Ada jadwal kerja.

Ada malam ketika Nara terbangun pukul dua karena bermimpi sendirian di rumah.

Ada pagi ketika dia menolak masuk kamar mandi kecuali pintunya dibiarkan terbuka.

Ada hari ketika aku sedang memakai seragam dan dia tiba-tiba menangis karena mengira aku akan pergi berbulan-bulan lagi.

Hal-hal itulah yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan uang.

Aku membawa Nara ke psikolog anak.

Dalam sesi pertama, dia diminta menggambar rumah.

Dia menggambar rumah kami.

Pintu besar.

Dua jendela.

Satu matahari.

Satu anak kecil berdiri di dalam.

Tidak ada orang dewasa.

Psikolog bertanya, “Mama di mana?”

Nara menjawab, “Mama jauh.”

“Papa?”

“Pergi.”

Aku duduk di sudut ruangan dan menggigit bibir sampai terasa sakit.

Setelah sesi selesai, psikolog mengatakan satu hal yang terus kuingat.

Rasa aman anak tidak kembali hanya karena orang dewasa mengatakan semuanya sudah selesai.

Rasa aman kembali melalui rutinitas yang konsisten.

Orang yang datang ketika berjanji akan datang.

Makanan yang tersedia ketika dia lapar.

Lampu yang menyala ketika malam.

Pintu yang terbuka ketika dia memanggil.

Sejak hari itu, aku berhenti berfokus pada bagaimana menghukum Dimas.

Aku fokus membangun kembali dunia Nara.

Aku mengajukan proses perceraian.

Dimas marah ketika menerima pemberitahuan.

Dia datang ke rumah malam itu.

Aku tidak membukakan pintu.

Kami berbicara melalui pagar.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Karena satu kesalahan?”

Aku menatapnya dari balik pagar.

“Satu?”

Dia terdiam.

Aku mulai menghitung.

“Kamu meninggalkan anak kita.”

“Kamu memalsukan persetujuanku.”

“Kamu mencoba memakai rumah warisanku sebagai jaminan utang.”

“Kamu menggunakan rekening kebutuhan anak untuk usaha.”

“Kamu menyuruh keluargamu membentuk cerita bahwa aku ibu yang tidak peduli.”

“Kamu berbohong tentang perjalananmu.”

“Kamu mau aku sebut yang kedelapan?”

“Maya, aku tertekan.”

“Utang usaha menumpuk.”

“Aku malu bilang kepadamu.”

Aku mengangguk.

“Itu penjelasan.”

“Bukan pembenaran.”

Dia mendekati pagar.

“Kasih aku satu kesempatan.”

Aku melihat wajahnya.

Orang yang sama yang bertahun-tahun tidur di sebelahku.

Orang yang hadir saat Nara lahir.

Orang yang pernah memegang tanganku ketika ayahku meninggal.

Mungkin versi dirinya yang pernah kucintai memang nyata.

Tetapi orang di depanku sekarang juga nyata.

Dan aku tidak berkewajiban mempertaruhkan keselamatan anakku demi nostalgia terhadap siapa dia dahulu.

“Kesempatanmu habis ketika Nara harus memutuskan apakah dia akan makan mi mentah atau tidur dalam keadaan lapar.”

Aku masuk.

Tidak membuka pagar.

Rika menerima surat resmi mengenai pemakaian ruang usahanya.

Aku tidak mengusirnya hari itu juga.

Aku memberinya waktu sesuai pemberitahuan yang disusun secara tertib untuk memindahkan barang-barangnya.

Dia datang dua hari kemudian sambil menangis.

“Mbak, kalau aku pindah sekarang usahaku habis.”

Aku duduk di teras.

“Sudah hampir dua tahun kamu pakai tempat itu gratis.”

“Tapi aku keluarga.”

“Aku juga menganggapmu keluarga.”

Dia menunduk.

Aku melanjutkan.

“Makanya waktu kamu butuh tempat usaha, aku bantu.”

“Lalu kamu membantu kakakmu menyiapkan dokumen untuk menjaminkan rumah ini tanpa sepengetahuanku.”

Rika mulai menangis lebih keras.

“Aku cuma ikut.”

Aku menatapnya lama.

“Itu masalahnya.”

“Kalian semua merasa ‘cuma ikut’ ketika yang dirugikan selalu aku.”

Dia tidak punya jawaban.

Sebulan kemudian, Rika memindahkan salonnya ke kios kecil di Cimanggis.

Tanpa tempat gratis, tanpa dana pinjaman Rp2,6 miliar, rencana membuka dua cabang baru batal.

Aku tidak merasa menang melihat usahanya mengecil.

Aku hanya berhenti menjadi orang yang membiayai orang lain untuk mengkhianatiku.

Itu berbeda.

Masalah bisnis Dimas jauh lebih buruk daripada yang dia ceritakan.

Perusahaannya memiliki utang kepada beberapa vendor.

Proyek vila yang dia kerjakan bersama Alya gagal mendapatkan investor tambahan.

Dia berharap pinjaman dengan rumahku sebagai jaminan bisa menjadi suntikan dana.

Sebagian untuk menutup tagihan lama.

Sebagian untuk proyek baru.

Sebagian untuk ekspansi salon Rika yang direncanakan menjadi bisnis keluarga.

Dia membuat satu kesalahan fatal.

Dia menganggap asetku adalah cadangan darurat miliknya.

Ketika akses itu hilang, semua kewajiban yang sebelumnya dia sembunyikan mulai muncul.

Vendor menagih.

Mobil usaha ditarik karena cicilan menunggak.

Kantor kecilnya ditutup.

Alya mengundurkan diri dari perusahaan tidak sampai dua bulan kemudian.

Aku mengetahuinya bukan karena mencari tahu.

Dimas sendiri yang memberitahuku.

Dia datang setelah salah satu agenda proses perceraian.

Wajahnya jauh berbeda.

Lebih kurus.

Tidak ada lagi jam tangan mahal.

Tidak ada parfum tajam.

“Dia pergi.”

Aku sudah tahu siapa yang dimaksud.

“Alya.”

Aku hanya menjawab, “Oh.”

Dimas tampak hampir tersinggung karena aku tidak bereaksi.

“Kamu nggak mau tanya?”

“Tidak.”

“Dia bilang semua masalah perusahaan karena aku.”

Aku memasukkan dokumen ke tas.

“Mungkin kalian bisa membahasnya sebagai sesama partner bisnis.”

“Maya.”

Aku berhenti.

Dia menatapku dengan mata merah.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku memandangnya.

“Tidak.”

“Kamu kehilangan hal-hal yang kamu bangun di atas sesuatu yang bukan milikmu.”

Dia diam.

“Rumah itu bukan milikmu.”

“Tabunganku bukan milikmu.”

“Karierku bukan alasan untuk merendahkanku.”

“Dan Nara bukan alat untuk membuatmu terlihat seperti ayah pengorbanan.”

Aku berjalan pergi.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa marah.

Aku hanya merasa selesai.

Proses mengenai dugaan pemalsuan dokumen berjalan terpisah dari perceraian.

Aku tidak mencoba mengatur hasilnya.

Aku menyerahkan bukti.

Dokumen.

Rekaman.

Riwayat komunikasi.

Salinan pengajuan.

Dan keterangan dari pihak terkait.

Aku membiarkan proses hukum menentukan bagian yang bisa dibuktikan.

Yang paling penting bagiku sederhana:

Pinjaman tidak pernah cair.

Rumah tetap aman.

Sertifikat tetap atas namaku.

Aku juga mengganti tempat penyimpanan dokumen penting dan memperbarui seluruh akses keamanan rekening.

Tidak ada lagi kartu tambahan.

Tidak ada lagi kata sandi yang diketahui orang lain.

Tidak ada lagi dokumen identitas tersimpan sembarangan di lemari keluarga.

Dulu aku mengira kepercayaan berarti tidak perlu memasang batas.

Sekarang aku tahu batas justru melindungi kepercayaan dari orang yang ingin menyalahgunakannya.

Dalam proses pengasuhan Nara, catatan medis dan bukti bahwa dia ditemukan tanpa pengawasan menjadi bagian penting yang disampaikan melalui jalur hukum.

Dimas membantah bahwa dia berniat menelantarkan anak.

Dia mengatakan terjadi “kesalahpahaman koordinasi”.

Aku tidak berdebat di luar ruang yang seharusnya.

Aku hanya menyerahkan bukti.

Pesan.

Tanggal.

Rekaman.

Transaksi perjalanan.

Keterangan Mbak Sumi bahwa Dimas sendiri yang menghentikan jasanya.

Keterangan tetangga yang dua malam tidak melihat satu pun mobil keluarga masuk.

Rekaman kamera rumah seberang yang menunjukkan Dimas pergi membawa koper kecil dan tidak kembali sampai setelah aku pulang.

Fakta tidak perlu berteriak.

Fakta hanya perlu disusun dengan benar.

Pada akhirnya, Nara tinggal bersamaku.

Pertemuannya dengan Dimas dilakukan secara teratur sesuai kesepakatan dan perkembangan proses yang berlaku, dengan pengaturan yang lebih ketat di awal demi rasa aman Nara.

Aku tidak pernah mengatakan kepada Nara bahwa ayahnya monster.

Aku juga tidak memaksanya membenci nenek atau tantenya.

Anak lima tahun tidak seharusnya memikul perang orang dewasa.

Ketika Nara bertanya, “Papa jahat?”

Aku menjawab,

“Papa membuat keputusan yang sangat salah dan membuat Nara tidak aman.”

“Orang dewasa harus bertanggung jawab kalau membuat keputusan seperti itu.”

Dia berpikir sebentar.

“Papa masih sayang Nara?”

Pertanyaan itu lebih sulit.

Aku tidak bisa membaca hati Dimas.

Jadi aku tidak berbohong.

“Mama tidak tahu semua yang ada di hati Papa.”

“Tapi sayang harus ditunjukkan lewat tindakan.”

Nara mengangguk.

Aku berharap suatu hari dia mengingat kalimat itu.

Enam bulan setelah aku pulang dari Kupang, kehidupan kami akhirnya memiliki ritme lagi.

Aku kembali bekerja dengan jadwal yang lebih stabil setelah rotasi penugasanku selesai.

Aku tidak berhenti menjadi dokter.

Aku juga tidak meminta maaf karena mencintai pekerjaanku.

Tetapi aku mengatur ulang banyak hal.

Nara memiliki dua orang dewasa cadangan yang benar-benar kupercaya untuk keadaan darurat.

Sekolah menyimpan daftar baru siapa yang boleh menjemput.

Kamera rumah diperbaiki dengan akun yang hanya bisa kuakses.

Nomor tetangga terdekat ditempel di dekat telepon.

Makanan darurat yang aman untuk anak selalu tersedia.

Bukan karena aku ingin hidup dalam ketakutan.

Aku hanya tidak ingin lagi menganggap keselamatan sebagai sesuatu yang otomatis.

Ruang bekas salon Rika kosong hampir dua bulan.

Suatu sore aku berdiri di depannya.

Cat dinding masih merah muda.

Di kaca masih ada bekas huruf nama salon yang sudah dilepas.

Nara berdiri di sampingku.

“Mau disewakan lagi, Ma?”

“Mungkin.”

Dia melihat ruangan itu.

“Kalau jadi tempat baca?”

Aku menoleh.

“Tempat baca?”

“Iya.”

“Biar anak yang nunggu mamanya bisa baca.”

Aku tidak tahu dari mana dia mendapat ide itu.

Tetapi seminggu kemudian aku menghubungi seorang teman yang mengelola bimbingan belajar kecil.

Kami membuat kesepakatan sewa yang wajar.

Ruangan itu direnovasi menjadi tempat belajar sore untuk anak-anak sekitar.

Ada rak buku.

Meja rendah.

Kotak pensil.

Dispenser air.

Dan satu sofa dekat jendela.

Pada hari pembukaan, Nara memilih sebuah buku bergambar dan duduk di sofa itu.

Aku memperhatikannya dari pintu.

Enam bulan sebelumnya, ruangan yang sama menjadi salah satu alasan keluargaku berusaha mengambil rumahku.

Sekarang suara anak-anak membaca terdengar sampai ke halaman.

Ada kepuasan yang tidak bisa kubeli dengan uang.

Bukan karena aku membalas dendam.

Tetapi karena aku mengambil kembali ruang yang pernah dipakai untuk merugikanku dan mengisinya dengan sesuatu yang baik.

Aku bertemu Bu Ratna lagi hampir setahun setelah kejadian itu.

Bukan di pengadilan.

Bukan di rumah.

Di acara sekolah Nara.

Dia tampak lebih tua.

Dia berdiri beberapa meter dariku sambil membawa tas hadiah kecil.

“May.”

Aku menoleh.

Dia menatap Nara yang sedang tampil bersama teman-temannya.

“Aku salah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir Dimas cuma pinjam rumah itu sebentar.”

Aku tetap diam.

“Aku nggak pernah menyangka Nara benar-benar sendirian.”

Kali ini aku menjawab.

“Tapi Mama tahu Dimas pergi.”

Dia menunduk.

“Aku pikir Rika datang.”

“Rika pikir Mama datang.”

“Mama pikir Dimas sudah mengatur.”

“Semua orang berpikir orang lain akan datang.”

Aku melihat panggung.

“Nara cuma butuh satu orang yang benar-benar datang.”

Bu Ratna mulai menangis.

Dulu mungkin aku akan memeluknya.

Menjadi orang yang menenangkan.

Mengurangi rasa bersalahnya.

Hari itu tidak.

Rasa bersalahnya adalah miliknya.

Bukan tugasku untuk membuatnya lebih ringan.

“Aku tidak melarang Mama membangun hubungan yang sehat dengan Nara,” kataku.

“Tapi semuanya mengikuti batas yang sudah dibuat.”

“Tidak ada lagi mengambil keputusan diam-diam.”

“Tidak ada lagi mengajari dia menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Sekali saja itu terulang, semuanya selesai.”

Bu Ratna mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak mencoba menawar.

Setahun setelah kejadian di rumah itu, Nara membawa pulang tugas sekolah.

Judulnya:

“Keluargaku.”

Aku sempat takut membuka gambarnya.

Dia menggambar rumah berwarna kuning.

Ada pohon mangga.

Seekor kucing milik tetangga.

Dirinya sendiri.

Dan aku.

Kami berdiri berdampingan di depan pintu.

Di atas kepalaku ada bentuk aneh berwarna hijau.

Aku bertanya, “Ini apa?”

“Baju Mama.”

“Kenapa hijau?”

“Karena Mama dokter tentara.”

Aku tertawa.

Lalu melihat ada satu gambar kecil berbentuk tas di tanganku.

“Kalau ini?”

“Koper.”

Dadaku langsung sesak.

Nara buru-buru menunjuk gambar berikutnya.

Di sebelah koper, dia menggambar garis panjang dari pintu rumah menuju aku.

“Apa itu?”

“Jalan pulang.”

Aku menatapnya.

Nara tersenyum.

“Sekarang aku tahu Mama kalau pergi selalu pulang.”

Aku tidak bisa menjawab beberapa detik.

Aku menariknya ke pelukanku.

Mungkin itulah akhir sebenarnya dari semuanya.

Bukan ketika pengajuan kredit dibatalkan.

Bukan ketika Rika keluar dari ruang usaha.

Bukan ketika bisnis Dimas runtuh karena utang yang dia sembunyikan.

Bukan ketika dokumen perceraian selesai.

Bukan ketika rumah sepenuhnya kembali menjadi tempat yang aman.

Melainkan ketika anakku tidak lagi menatapku seperti melihat hantu.

Ketika dia berhenti bertanya apakah aku nyata.

Ketika suara pintu dibuka tidak lagi membuatnya panik.

Ketika dia percaya bahwa ada orang dewasa yang akan benar-benar kembali untuknya.

Aku pernah mengira mempertahankan keluarga berarti bertahan selama mungkin.

Sekarang aku tahu:

Kadang-kadang menyelamatkan keluarga berarti berani mengeluarkan orang yang membuat rumah tidak lagi aman.

Rumah warisan ayahku masih berdiri.

Tabunganku masih milikku.

Pekerjaanku tetap berjalan.

Dan setiap malam sebelum tidur, aku memeriksa kamar Nara.

Bukan karena takut dia akan hilang.

Hanya karena aku suka melihatnya tidur dengan tenang.

Suatu malam dia membuka mata ketika aku hendak keluar.

“Mama?”

“Iya?”

“Besok Mama kerja?”

“Iya.”

“Pulang?”

Aku tersenyum.

“Pulang.”

Nara menarik selimut sampai ke dagu.

Tidak bertanya lagi.

Tidak memastikan lagi.

Dia hanya menutup mata.

Karena akhirnya, dia percaya.

Dan setelah semua yang hampir direnggut dari kami, kepercayaan kecil itulah yang paling mahal—dan yang tidak akan pernah lagi kubiarkan siapa pun mengambilnya.