SAAT PUTRIKU TERBARING DI RUMAH SAKIT, SUAMIKU JUSTRU MEMILIH APARTEMEN RAHASIANYA—DIA TAK TAHU, SATU BUKTI DI TANGANKU AKAN MENGHANCURKAN RENCANANYA BESOK PAGI

Avatar penulis
Cerita 06
27 menit baca 339 tayangan
SAAT PUTRIKU TERBARING DI RUMAH SAKIT, SUAMIKU JUSTRU MEMILIH APARTEMEN RAHASIANYA—DIA TAK TAHU, SATU BUKTI DI TANGANKU AKAN MENGHANCURKAN RENCANANYA BESOK PAGI
Indeks

SAAT PUTRIKU TERBARING DI RUMAH SAKIT, SUAMIKU JUSTRU MEMILIH APARTEMEN RAHASIANYA—DIA TAK TAHU, SATU BUKTI DI TANGANKU AKAN MENGHANCURKAN RENCANANYA BESOK PAGI

BAGIAN 1 — Malam Saat Seharusnya Dia Menyelamatkan Putri Kami, Satu Telepon Membuktikan Apa yang Sebenarnya Paling Penting Baginya

“Bu, Alya harus segera dioperasi malam ini.”

Semua suara di ruang IGD seperti tiba-tiba menghilang.

Aku tak lagi mendengar bunyi roda brankar yang lewat.

Tak lagi mendengar suara keluarga pasien dari balik tirai.

Bahkan penjelasan dokter setelah kalimat itu terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Yang kulihat hanya putriku, Alya, empat belas tahun, terbaring pucat di atas ranjang.

Tangannya mencengkeram ujung selimut.

Keringat dingin membasahi dahinya.

“Dok… separah apa kondisinya?”

Dokter Arief menarik napas perlahan.

“Terjadi torsi ovarium. Salah satu ovariumnya terpelintir sehingga aliran darah terganggu. Kita harus segera melakukan tindakan. Kalau terlalu lama, jaringan bisa rusak.”

Tanganku langsung dingin.

Tiga jam sebelumnya kami masih berada di rumah kecil kami di Bekasi.

Alya sedang mengerjakan tugas sekolah di meja makan.

Aku sendiri sedang menyiapkan pesanan kue kering untuk dikirim ke beberapa pelanggan keesokan paginya.

Tiba-tiba Alya memegang perut bagian bawah.

Awalnya kukira hanya nyeri menstruasi biasa.

Sepuluh menit kemudian dia tak sanggup berdiri.

Dia muntah.

Wajahnya semakin pucat.

Saat tubuhnya mulai gemetar, aku berhenti berpikir dan langsung membawanya ke rumah sakit.

Suamiku, Arman?

Lima kali aku menelepon.

Tidak diangkat.

Telepon keenam malah ditolak.

Baru beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk.

Lagi meeting. Ada apa?

Aku menatap layar cukup lama.

Meeting.

Ada apa?

Hanya itu.

Saat anaknya sendiri hampir pingsan menahan sakit.

Aku menelepon lagi.

Kali ini dia menjawab.

“Apa lagi, Nad?”

“Arman, aku di rumah sakit sama Alya. Dia harus dioperasi.”

Hening beberapa detik.

“Operasi apa?”

Aku menjelaskan secepat mungkin.

“Datang ke sini. Aku butuh kamu.”

Yang kudengar justru helaan napas.

Bukan suara panik.

Bukan ketakutan.

Seperti orang yang merasa terganggu.

“Nadia, aku lagi di Kuningan. Ada urusan penting.”

Aku memejamkan mata.

“Lebih penting daripada Alya?”

“Jangan dramatis. Aku akan ke sana. Tapi urusan administrasinya kamu bereskan dulu.”

Telepon ditutup.

Dua puluh menit kemudian seorang petugas administrasi menghampiriku.

“Bu Nadia, untuk tindakan awal kami membutuhkan deposit dua puluh lima juta rupiah.”

Leherku mendadak terasa dingin.

Kami punya uang.

Aku tahu kami punya.

Aku dan Arman sudah bertahun-tahun menyisihkan dana darurat.

Terakhir kali aku mengeceknya, saldo kami masih lebih dari lima puluh juta.

Dana itu memang sengaja kami pisahkan.

Untuk sakit.

Kecelakaan.

Keadaan darurat.

Untuk Alya kalau sesuatu terjadi.

Aku menelepon Arman lagi.

Dia baru menjawab pada panggilan kedua.

“Apa?”

“Rumah sakit minta deposit dua puluh lima juta. Tolong transfer dari dana darurat.”

Dia diam.

Diam terlalu lama.

“Man?”

“Uangnya sudah nggak ada.”

Aku bahkan tak langsung mengerti.

“Maksudmu?”

“Sudah kupakai.”

“Dipakai apa?”

“Investasi.”

Aku perlahan duduk di kursi plastik di depan loket.

“Itu dana darurat kita.”

“Aku tahu.”

“Dana itu buat Alya kalau terjadi sesuatu!”

“Memangnya aku tahu dia bakal masuk rumah sakit malam ini?”

Dadaku terasa seperti terbakar.

“Uangnya di mana?”

“Nadia, jangan mulai bertengkar sekarang.”

“Uangnya di mana?”

Kali ini suaranya lebih rendah.

“Aku sudah bayar booking.”

“Booking apa?”

Dia kembali diam.

“Unit apartemen.”

Aku membeku.

“Apartemen apa?”

“Investasi properti. Nanti juga bisa dijual lagi.”

“Kamu pakai dana darurat kita buat booking apartemen?”

“Nanti uangnya balik.”

“Anakmu butuh uangnya sekarang!”

“Aku nggak punya dua puluh lima juta lagi malam ini.”

Aku menatap dinding rumah sakit tanpa berkedip.

“Arman…”

“Kamu kan punya uang usaha.”

Tanganku mengepal.

Aku memang punya uang.

Tapi uang itu modal.

Tabungan usaha kueku tinggal sekitar tiga belas juta rupiah.

Uang untuk bahan baku.

Kemasan.

Ongkir.

Dan kebutuhan rumah untuk dua minggu berikutnya.

“Aku cuma punya tiga belas juta.”

“Ya cari dulu sisanya. Besok kita bicarakan.”

Sesuatu dalam diriku seperti pecah.

“Anakmu harus masuk ruang operasi!”

“Dia belum masuk ruang operasi, kan?”

“Karena depositnya belum dibayar!”

Dua orang yang duduk tak jauh dariku menoleh.

Aku tak peduli.

“Kalau memang harus ada yang ditunda, apartemen itu yang ditunda! Bukan operasi Alya!”

Nada suara Arman langsung berubah dingin.

“Booking fee-nya sudah masuk. Besok ada pembayaran tahap berikutnya. Nggak bisa seenaknya dibatalkan.”

“Besok?”

“Iya.”

Saat itu aku baru benar-benar memahami.

Putri kami sedang meringkuk menahan sakit.

Tapi yang ada di pikirannya adalah cicilan apartemen yang harus dibayar besok.

Aku menutup telepon.

Lalu menghubungi sepupuku, Rina.

Belum lima menit, dia menjawab.

“Mbak Nadia?”

“Rin…”

Suaraku pecah.

Aku tak mampu menahannya lagi.

“Bisa pinjam sebelas juta? Alya di rumah sakit. Harus operasi.”

Rina bahkan tidak bertanya kapan aku akan membayar.

“Kirim nomor rekening rumah sakit atau rekeningmu.”

“Rina…”

“Kirim saja. Jangan nangis dulu. Urus Alya.”

Sepuluh menit kemudian uangnya masuk.

Sebelas juta.

Kutambahkan tiga belas juta dari modal usahaku.

Sisanya kuambil dari uang tabungan pribadi.

Deposit lunas.

Operasi bisa diproses.

Saat aku menandatangani formulir persetujuan tindakan, Arman akhirnya datang.

Kemejanya rapi.

Rambutnya tertata.

Bahkan aroma parfumnya masih kuat.

Dia terlihat seperti orang yang baru pulang dari pertemuan bisnis.

Bukan ayah yang putrinya sedang dipersiapkan untuk operasi darurat.

“Alya di mana?”

“Sedang dipersiapkan.”

“Oh.”

Cuma itu.

Dia tidak bertanya dari mana aku mendapatkan uang.

Tidak bertanya berapa yang kupinjam.

Tidak bertanya siapa yang menolong.

Dia duduk lalu membuka ponselnya.

Beberapa menit kemudian dia berdiri dan menjauh sedikit.

Mungkin dia pikir aku tak akan mendengar.

Lorong rumah sakit malam itu sangat tenang.

Dan suaranya terdengar jelas.

“Iya, besok tetap jadi.”

Napasku tertahan.

“Jam sepuluh saja. Pastikan dokumennya sudah siap.”

Seseorang menjawab dari seberang.

Arman kembali berkata,

“Nggak boleh mundur lagi. Booking sudah kubayar. Untuk sisanya nanti aku cari jalan.”

Aku mencengkeram ujung kursi.

Aku tahu pembicaraan itu tentang apartemen.

Anak kami sedang dipersiapkan untuk operasi.

Aku baru saja berutang agar tindakan bisa dilakukan.

Dan suamiku masih sibuk mengurus pembelian properti.

Lalu beberapa detik kemudian, dia mengucapkan satu kalimat yang mengubah ketakutanku menjadi kemarahan.

“Bilang ke Dinda jangan khawatir. Besok kalau lancar, semuanya bisa ditandatangani atas nama dia.”

Dinda?

Aku tak bergerak.

Tak menoleh.

Tapi jantungku berdetak begitu keras.

Aku tidak mengenal perempuan bernama Dinda.

Dan kalau apartemen itu benar-benar investasi untuk keluarga kami…

Kenapa apartemen itu akan dibeli atas nama perempuan lain?

BAGIAN 2 — Setelah Operasi Berakhir, Satu Pertanyaan Tentang Utang Membekukan Sisa Perasaanku Kepadanya Malam Itu

Hampir dua jam aku menatap lampu di atas pintu ruang operasi.

Ketika lampu itu akhirnya padam dan pintu terbuka, aku langsung berdiri.

Dokter Arief keluar.

“Operasinya berhasil, Bu. Kita berhasil menangani kondisinya sebelum terlambat. Aliran darah kembali baik dan ovariumnya tidak perlu diangkat.”

Tanganku langsung menutup mulut.

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

“Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak.”

Dari sudut mata, aku melihat Arman ikut berdiri.

Tapi sebelum mendekati dokter, dia sempat mengecek ponselnya.

“Berapa lama harus dirawat?”

“Kalau pemulihannya baik, sekitar dua sampai tiga hari.”

Arman mengangguk.

Nada wajahnya hampir seperti sedang bertanya berapa lama perjalanan dinas.

Sekitar satu jam kemudian Alya dipindahkan ke kamar rawat inap.

Wajahnya masih pucat.

Matanya berat karena pengaruh anestesi.

Begitu melihatku, tangannya langsung mencari tanganku.

“Bu…”

“Ibu di sini.”

“Ayah?”

Aku menoleh ke Arman.

Dia berdiri di ujung ranjang.

“Ayah di sini.”

Alya tersenyum tipis.

Dan untuk sementara aku memilih diam.

Sebesar apa pun amarahku pada Arman, aku tak ingin mencampurkannya ke dalam hubungan Alya dengan ayahnya saat anak kami baru selesai operasi.

Alya kembali tertidur.

Arman duduk di sofa.

Beberapa menit kami tidak berbicara.

Lalu dia bertanya,

“Kamu pinjam berapa dari Rina?”

Aku menatapnya.

Bukan:

“Kamu baik-baik saja?”

Bukan:

“Gimana kita mengembalikannya?”

Bukan juga:

“Terima kasih sudah cari jalan.”

“Sebelas juta.”

Dia mengangguk.

“Dan sisanya pakai uangmu?”

“Iya.”

“Oke.”

Aku menatap wajahnya lama.

“Oke?”

“Apa?”

“Aku mengeluarkan hampir semua modal usahaku malam ini buat operasi anak kita.”

“Nanti kan bisa diputar lagi.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalau tidak, mungkin aku akan berteriak.

“Itu modal usaha, Man.”

“Ya tinggal disesuaikan dulu.”

“Sedangkan dana darurat kita kamu pakai buat apartemen?”

Dia langsung menegakkan tubuh.

“Jangan di sini.”

“Kenapa? Takut Alya dengar bahwa ayahnya lebih memilih apartemen daripada operasi anaknya?”

“Nadia.”

Nada rendah itu dulu selalu membuatku mundur.

Malam itu tidak lagi.

“Aku akan mengembalikan uang Rina sendiri,” kataku. “Modal usaha juga akan kubangun lagi sendiri.”

“Bagus.”

Satu kata.

Bagus.

Dan sesuatu di dadaku menjadi sangat dingin.

Bukan sakit seperti biasanya.

Rasanya seperti ada bagian dari cintaku yang mati.

Yang tersisa hanya pikiranku.

Arman melihat jam.

“Besok pagi aku harus pergi sebentar.”

“Untuk apartemen?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Ada urusan yang harus kuselesaikan.”

“Siapa Dinda?”

Wajahnya membeku.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

“Dinda siapa?”

“Kamu tahu siapa.”

Dia berdiri.

“Kamu capek. Jangan bikin cerita sendiri.”

Lalu dia berjalan ke pintu.

“Besok aku balik.”

Aku tidak menahannya.

Saat pintu tertutup, aku kembali melihat Alya yang sedang tidur.

Lalu mataku jatuh ke lantai dekat sofa tempat Arman tadi duduk.

Ada sebuah amplop putih.

Mungkin jatuh dari tasnya.

Aku mengambilnya.

Logo sebuah pengembang apartemen tercetak di pojok atas.

Di bagian bawah ada nama calon pembeli.

Bukan Arman.

Bukan aku.

Dinda Prameswari.

Di bawahnya ada satu bagian yang membuat tanganku bergetar.

Rencana sumber pembayaran: pembiayaan dengan agunan rumah tinggal.

Aku membaca alamat rumah yang tercantum.

Rumah kami.

Rumah tempat aku dan Alya tinggal.

Rumah yang sertifikatnya mencantumkan namaku dan nama Arman.

Saat itulah aku akhirnya mengerti.

Arman bukan sekadar memakai dana darurat kami untuk apartemen perempuan lain.

Dia juga berencana menggunakan rumah keluarga kami untuk membiayainya.

BAGIAN 3 — Dia Mengira Aku Hanya Menjaga Alya di Rumah Sakit, Padahal Diam-Diam Aku Mengikuti Jejak Uang Kami Sampai ke Ujungnya

Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena kondisi Alya.

Keadaannya mulai stabil.

Perawat beberapa kali datang memeriksa.

Yang membuat mataku tak bisa terpejam adalah amplop putih di dalam tasku.

Aku membacanya lagi.

Dan lagi.

Reservasi apartemen.

Unit di lantai delapan belas.

Satu kamar tidur.

Jakarta Selatan.

Nama calon pembeli:

Dinda Prameswari.

Booking fee sudah dibayar.

Ada pembayaran besar berikutnya yang dijadwalkan pagi itu.

Dan ada fotokopi dokumen rumah kami di dalam berkasnya.

Proses pinjamannya memang belum selesai.

Tapi niatnya jelas.

Arman ingin menggunakan rumah kami sebagai bagian dari pengajuan pembiayaan.

Masalahnya?

Rumah itu bukan milik Arman seorang.

Kami membelinya beberapa tahun setelah menikah.

Namaku ada di dokumennya.

Pukul enam pagi aku menghubungi teman kuliahku, Siska, yang sekarang bekerja sebagai pengacara.

“Sis, aku butuh bantuan. Mendesak.”

Lima menit kemudian dia menelepon.

Aku menjelaskan semuanya.

Dia diam sebentar.

“Kamu pernah tanda tangan formulir pinjaman?”

“Nggak.”

“Surat kuasa?”

“Nggak.”

“Persetujuan pemakaian rumah untuk jaminan?”

“Nggak pernah.”

“Pernah tanda tangan kertas kosong?”

Aku berpikir.

“Nggak.”

“Nadia, jangan tanda tangan apa pun. Jangan kasih dokumen asli rumah atau identitasmu ke Arman.”

“Dia sepertinya punya fotokopi.”

“Fotokopi dan persetujuan itu dua hal berbeda. Tapi kita juga jangan berasumsi. Kita perlu memastikan dokumen yang sebenarnya.”

Aku memotret seluruh isi amplop dan mengirimkannya.

Beberapa menit kemudian Siska menelepon lagi.

“Di sini ada nama pihak pembiayaan. Hubungi kanal resmi mereka. Jangan hanya nomor yang ada di kertas. Jelaskan bahwa kamu adalah salah satu pemilik rumah dan tidak pernah memberikan persetujuan.”

Aku melakukannya.

Setelah beberapa kali dialihkan, aku akhirnya bicara dengan bagian terkait.

Mereka tidak mau memberikan detail pengajuan karena aku bukan pemohon utama.

Tapi ketika kusebutkan data rumah dan status kepemilikanku, nada mereka langsung berubah lebih serius.

“Baik, Bu. Kami akan mencatat adanya keberatan dari pemilik bersama dan meminta proses verifikasi tambahan.”

“Ada tanda tangan atas nama saya?”

“Untuk detail dokumen kami belum bisa menjelaskan lewat telepon.”

“Saya tidak pernah memberikan persetujuan.”

“Sudah kami catat, Bu.”

Setelah telepon ditutup, jariku masih gemetar.

Entah karena takut.

Entah karena marah.

Sekitar pukul tujuh Alya bangun.

“Bu?”

Aku langsung mendekat.

“Masih sakit?”

“Sedikit.”

Kubantu dia minum.

Setelah itu matanya melihat ke sekeliling.

“Ayah nggak balik?”

Aku memaksakan senyum.

“Ada urusan.”

Alya menghela napas kecil.

“Selalu begitu.”

Tiga kata.

Tapi rasanya seperti pisau.

Selalu begitu.

Berarti Alya memperhatikannya.

Selama ini kupikir aku berhasil menyembunyikan semua malam saat Arman pulang terlambat.

Semua “meeting”.

Semua “makan sama klien”.

Semua “cek proyek”.

Semua akhir pekan ketika dia lebih memilih keluar daripada bersama kami.

Ternyata anakku tahu.

Aku mengusap rambut Alya.

“Tidur lagi saja.”

Sekitar pukul delapan, Rina datang membawa bubur, pakaian ganti, charger, dan beberapa keperluan.

Begitu melihat wajahku, dia langsung tahu ada masalah lain.

“Apa lagi yang terjadi?”

Aku menunjukkan berkas itu.

Dia membacanya.

“Nama perempuan?”

“Aku juga belum tahu semuanya.”

“Nadia, apartemennya atas nama dia.”

“Aku tahu.”

“Rumah kalian dipakai?”

Aku mengangguk.

Rina duduk perlahan.

“Ini sudah bukan cuma soal selingkuh. Kalau benar, dia mempertaruhkan rumah kalian.”

Itulah alasan aku tidak boleh meledak.

Aku ingin menelepon Arman.

Maki dia.

Memberitahunya bahwa aku sudah tahu.

Tapi ada hal yang lebih penting.

Melindungi Alya.

Melindungi rumah kami.

Dan mencari tahu seberapa jauh dia sudah bermain dengan uang.

Lalu aku teringat sesuatu.

Usaha bahan bangunan milik ibu Arman.

Selama ini Arman membantu mengelola pembayaran dari beberapa pelanggan besar.

Sudah berbulan-bulan Bu Ratna mengeluh bahwa arus kas usahanya terasa aneh.

Penjualan bagus.

Tapi uang masuk selalu terlambat.

Dulu aku tidak ikut campur.

Itu bisnis keluarga mereka.

Sekarang perutku terasa berat.

Aku menelepon Bu Ratna.

“Bu, saya mau tanya sesuatu.”

“Alya bagaimana?”

“Sudah stabil. Tapi… beberapa minggu terakhir Arman pegang uang besar dari usaha nggak?”

Bu Ratna diam.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Ada sesuatu yang harus saya tunjukkan.”

Aku belum menyebut Dinda.

Aku hanya mengatakan Arman punya transaksi apartemen dengan pembayaran besar pagi itu.

Nada Bu Ratna berubah.

“Berapa?”

Kubacakan jumlah yang tertulis.

Sekitar seratus enam puluh juta rupiah harus dibayar sebagai tahap berikutnya.

Bu Ratna tidak bicara beberapa detik.

Lalu kudengar dia memanggil seseorang.

“Yuni, tolong ambil catatan pembayaran proyek hari Jumat.”

Beberapa saat kemudian dia kembali.

“Nadia.”

“Iya, Bu?”

“Jangan telepon Arman dulu.”

Dadaku langsung berdebar.

“Ada uang usaha yang belum masuk.”

“Berapa?”

“Belum selesai dicek. Tapi kemungkinan lebih dari seratus juta.”

Aku duduk.

Semuanya mulai tersambung.

Dana darurat.

Uang usaha keluarga yang belum disetor.

Apartemen.

Dinda.

Pembayaran besar pagi itu.

Dan rumahku.

“Bu…”

Suaraku pelan.

“Ibu harus lihat dokumen ini.”

“Saya ke rumah sakit.”

Sekitar pukul sembilan tiga puluh, Bu Ratna tiba bersama Yuni, staf pembukuannya.

Aku belum pernah melihat ibu mertuaku setenang itu.

Dia tidak berteriak.

Tidak menangis.

Dia membaca setiap lembar.

Lalu menelepon Arman.

Speaker dinyalakan.

“Kamu di mana?”

“Lagi meeting, Bu.”

“Di mana?”

“Jakarta.”

“Meeting apa?”

“Urusan kerja.”

Bu Ratna memejamkan mata.

“Kapan kamu mau mengembalikan seratus lima puluh lima juta uang pelanggan yang belum kamu setorkan?”

Hening panjang.

“Bu, aku bisa jelasin.”

“Berarti uangnya memang kamu pegang?”

“Cuma sementara.”

“Dipakai untuk apa?”

Tidak ada jawaban.

Bu Ratna menatap dokumen atas nama Dinda.

“Mulai hari ini kamu jangan datang ke toko untuk pegang keuangan. Kamu tidak boleh menerima pembayaran, cek, transfer pelanggan, atau akses rekening usaha sampai audit selesai.”

“Bu!”

“Jangan coba mengambil uang apa pun.”

“Bu, pagi ini aku harus bayar sesuatu!”

Bu Ratna menatapku.

Kami sama-sama mendengarnya.

Yang masih dia pikirkan adalah pembayaran.

Bukan:

“Aku akan jelaskan.”

Bukan:

“Bagaimana Alya?”

Tapi:

“Aku harus bayar.”

“Itu urusanmu,” jawab Bu Ratna.

Telepon ditutup.

Lalu dia melihatku.

“Nadia…”

Matanya memerah.

“Maaf.”

Entah kenapa, hampir di situlah aku menangis.

Bukan karena permintaan maafnya.

Tapi karena untuk pertama kalinya seseorang dari keluarga Arman melihat dengan jelas apa yang terjadi.

Aku bukan terlalu sensitif.

Bukan istri pencemburu.

Bukan perempuan yang suka mencari masalah.

Uangnya benar-benar hilang.

Apartemennya benar-benar ada.

Nama perempuan itu benar-benar ada.

Dan rumahku benar-benar sedang dimasukkan ke dalam rencana mereka.

Ponselku berdering.

Nomor tak dikenal.

“Bu Nadia?”

“Iya?”

“Kami dari pihak pengelola apartemen. Hari ini ada jadwal penandatanganan pukul sepuluh tiga puluh. Karena nama Ibu tercatat sebagai pemilik bersama salah satu aset yang digunakan dalam berkas pembiayaan, kami perlu mengonfirmasi persetujuan Ibu.”

Aku menatap Siska yang saat itu sedang tersambung lewat video call.

Dia menggeleng.

Aku menjawab tegas.

“Saya tidak pernah memberikan persetujuan.”

Hening.

“Baik, Bu.”

“Dan saya akan datang.”

Rina mengangkat alis.

Bu Ratna juga menoleh.

Setelah telepon kututup, Rina langsung berkata,

“Jangan pergi sendirian.”

“Aku nggak sendirian.”

Aku melihat Bu Ratna.

Lalu layar ponsel tempat Siska berbicara.

“Aku nggak datang untuk bikin keributan.”

Aku menutup folder.

“Aku datang untuk memastikan tidak ada satu pun orang yang memakai rumah anakku tanpa izin.”

Pukul 10.21 kami tiba di kantor pemasaran apartemen.

Saat mendekati ruang meeting berdinding kaca, aku melihat Arman.

Kemeja panjang.

Map di tangan.

Dan seorang perempuan berdiri di sebelahnya.

Mungkin awal tiga puluhan.

Rapi.

Cantik.

Dia tersenyum sambil menunjukkan sesuatu kepada Arman.

Lalu tangannya memegang lengan suamiku.

Aku berhenti.

Bukan karena sentuhannya.

Tapi karena cincin tipis berwarna emas di jarinya.

Cincin yang tampak sama seperti foto di sebuah struk perhiasan yang tadi kutemukan terselip dalam berkas.

Rp18.500.000.

Dibeli dua bulan lalu.

Pada hari ulang tahun pernikahan kami.

Hari ketika Arman mengatakan kepadaku bahwa dia bahkan tak punya uang untuk makan malam sederhana.

Aku berjalan menuju pintu kaca.

Arman menoleh.

Begitu melihatku…

Wajahnya langsung kehilangan warna.

BAGIAN 4 — Dia Datang untuk Menandatangani Apartemen Itu, Tapi yang Menunggunya Bukan Kunci Melainkan Bukti yang Menghancurkan Seluruh Rencananya

“Nadia?”

Itu satu-satunya kata yang berhasil keluar dari mulut Arman.

Dia tidak langsung berdiri.

Tangannya juga tidak langsung menjauh dari perempuan di sebelahnya.

Aku melihat tangan mereka.

Lalu wajahnya.

Barulah Arman mundur.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku tidak menjawab.

Aku justru melihat perempuan itu.

“Kamu Dinda Prameswari?”

Dia melihat Arman lebih dulu.

“Iya.”

“Aku Nadia.”

Ekspresinya berubah.

Aku bahkan tak perlu mengatakan apa pun lagi.

Dia sendiri yang bertanya.

“Istrinya?”

“Iya.”

Dinda langsung menoleh kepada Arman.

“Kamu bilang kalian sudah pisah.”

Aku tersenyum tipis.

Bukan karena terkejut.

Karena rupanya kalimatnya sangat mudah ditebak.

Katanya kami sudah berpisah.

Katanya pernikahan kami tinggal formalitas.

Mungkin dia juga mengatakan bahwa kami sudah lama tidak punya hubungan.

Mungkin dalam cerita Arman, justru aku istri yang membuat hidupnya menderita.

“Arman,” kata Dinda, “kamu bilang Nadia tahu soal apartemen ini.”

“Din, aku bisa jelasin.”

“Kamu bilang ini investasi kita.”

“Memang buat kita.”

Aku menatapnya.

“Kita?”

Baru saat itu Arman benar-benar melihat mataku.

“Nadia, jangan di sini.”

“Kenapa? Bukannya di sini kamu mau tanda tangan semuanya?”

Seorang sales manager datang.

“Pak, Bu, mungkin kita bisa duduk dulu.”

Kami masuk ke ruang meeting.

Bu Ratna duduk bersamaku.

Siska juga datang langsung setelah kami meminta bantuannya.

Begitu Arman melihat ibunya, wajahnya semakin pucat.

“Bu?”

Bu Ratna duduk di ujung meja.

“Duduk.”

“Bu, Ibu nggak ngerti—”

“Duduk.”

Tidak ada teriakan.

Tapi Arman menurut.

Dinda ikut duduk.

Namun kali ini dia tidak duduk di sebelah Arman.

Ada satu kursi kosong di antara mereka.

Perwakilan pembiayaan membuka folder.

“Pak Arman, sebelum proses dilanjutkan, ada masalah terkait dokumen pendukung.”

“Masalah apa?”

“Bu Nadia sudah menghubungi kami dan menyatakan bahwa beliau tidak memberikan persetujuan atas penggunaan properti yang tercantum.”

Rahang Arman mengeras.

“Itu kan baru dokumen awal.”

Siska langsung melihatnya.

“Justru karena baru tahap awal, proses ini berhenti sebelum dilanjutkan tanpa izin pemilik bersama.”

“Belum final.”

“Bagus. Berarti masih bisa dihentikan.”

“Aku nggak bicara sama kamu.”

“Saya kuasa hukum Nadia.”

Arman langsung diam.

Pihak pembiayaan melanjutkan.

“Karena status properti melibatkan kepemilikan bersama dan persetujuan salah satu pihak belum terverifikasi, pengajuan dengan menggunakan aset tersebut tidak dapat kami lanjutkan.”

“Aku bisa pakai aset lain.”

“Silakan ajukan ulang dengan dokumen berbeda dan akan dinilai kembali dari awal.”

Arman langsung bertanya,

“Booking fee bagaimana?”

Sales manager menjawab dengan hati-hati.

“Menyesuaikan ketentuan reservasi yang sudah Bapak tanda tangani.”

Aku menatapnya.

Itulah hal pertama yang dia khawatirkan.

Bukan pernikahan kami.

Bukan Alya.

Bukan kepercayaan yang sudah dia hancurkan.

Booking fee.

Dinda akhirnya bicara.

“Arman, uang cash yang sudah masuk itu dari mana?”

Dia tidak menjawab.

“Kamu bilang itu bonus kerja.”

Tetap diam.

Bu Ratna menggeser tubuhnya.

“Biar saya jawab.”

Dinda menatapnya.

“Saya ibunya. Dan kami sedang memeriksa dugaan bahwa sebagian uang yang digunakan berasal dari pembayaran pelanggan usaha keluarga yang seharusnya disetorkan.”

Mata Dinda membesar.

“Apa?”

“Bu!” Arman meninggikan suara.

“Audit sedang berjalan.”

“Jangan bicara seolah aku mencuri! Aku akan mengembalikannya!”

Bu Ratna menatap putranya.

“Kalau itu uangmu sendiri, kenapa harus dikembalikan?”

Arman terdiam.

Sederhana.

Tidak perlu makian.

Tidak perlu teriakan.

Satu pertanyaan cukup untuk menghabiskan seluruh pembelaannya.

Dinda perlahan meletakkan pulpen.

“Arman…”

“Din, jangan langsung percaya semuanya. Uangnya cuma kupakai sementara. Aku sedang menunggu komisi masuk.”

“Masih ada apa lagi yang kamu bohongi?”

“Nggak ada.”

“Kamu bahkan nggak bilang anakmu di rumah sakit.”

Aku membeku.

Arman menatapku.

Aku yang menjawab.

“Alya dioperasi tadi malam.”

Dinda menelan ludah.

“Tadi malam?”

“Iya.”

“Dan pagi ini kamu datang ke sini?”

Tak perlu jawaban.

Kesunyian sudah menjelaskan semuanya.

Dinda melihat cincin emas di jarinya.

Perlahan dia melepasnya.

Meletakkannya di atas meja.

“Kamu bilang kalian sudah lebih dari setahun nggak benar-benar bersama.”

“Secara emosional memang—”

“Cukup.”

Suara Dinda keras.

“Kamu bilang istrimu tahu soal hubungan kita.”

“Dengar dulu.”

“Kamu bilang uang yang kamu pakai uangmu sendiri.”

“Din—”

“Kamu bilang apartemen ini buat masa depan kita.”

Dia berdiri.

Aku tak tahu sejak awal seberapa banyak Dinda mengetahui kebenaran.

Aku juga tidak tahu apakah dia sepenuhnya tidak bersalah.

Tapi satu hal jelas.

Arman juga berbohong kepadanya.

Dan aku tidak akan menghabiskan tenaga untuk berkelahi dengan seorang perempuan yang tidak pernah mengucapkan janji pernikahan kepadaku.

Arman yang berjanji.

Arman ayah Alya.

Arman mengambil uang.

Arman membuat keputusan.

Maka Arman yang harus menjawab semuanya.

Dinda mengambil tasnya.

“Jangan hubungi aku lagi.”

“Din, tunggu.”

“Nggak.”

“Dengar dulu.”

Dinda berhenti.

Dia menatap Arman.

“Anakmu dioperasi tadi malam.”

Arman diam.

“Dan kamu masih bicara denganku soal pembayaran apartemen?”

Tak ada jawaban.

Dinda menggeleng.

“Aku nggak mau punya apa pun yang dibeli dari uang yang seharusnya dipakai untuk anakmu.”

Dia pergi.

Anehnya, aku tidak merasa menang.

Aku tidak bahagia.

Yang kurasakan hanya lelah.

Sangat lelah.

Karena akhirnya aku memahami bahwa kalaupun Dinda menghilang dari hidup kami, masalah terbesarnya tetap ada.

Dinda bukan orang yang membuat Arman menjadi seperti ini.

Itu pilihan Arman.

Keputusan demi keputusan.

Kebohongan demi kebohongan.

Setiap kali diberi pilihan, dia memilih dirinya sendiri.

Aku berdiri.

“Nadia.”

Aku berjalan.

“Nadia, please.”

Baru kali itu kata “please” keluar dari mulutnya.

Saat Alya butuh operasi, dia tidak pernah memintaku tenang.

Tidak pernah mengatakan dia akan mencari jalan.

Sekarang apartemennya terancam gagal, dia tahu cara memohon.

Aku berbalik.

“Apa?”

“Kita bicara berdua.”

“Nggak.”

“Kita suami istri.”

“Sekarang kamu ingat?”

“Kamu cuma lagi marah.”

“Nggak.”

Itu jawaban paling tenang yang pernah kuberikan.

Dan mungkin juga yang paling jujur.

“Aku bukan cuma marah.”

Aku menatapnya.

“Aku akhirnya melihat semuanya dengan jelas.”

“Melihat apa?”

“Ketika kamu harus memilih antara kebutuhan anakmu dan uang untuk apartemen ini, yang kamu pilih bukan Alya.”

“Nggak sesederhana itu.”

“Sederhana.”

“Aku sudah punya komitmen dengan properti ini.”

“Kamu juga punya komitmen dengan anakmu.”

“Aku tahu!”

“Tapi kamu nggak bertindak seperti ayahnya.”

“Aku datang ke rumah sakit!”

Aku tertawa.

“Setelah aku yang membayar operasinya.”

Dia tak menjawab.

“Kamu tahu bagian paling menyakitkan?”

Arman diam.

“Bukan Dinda.”

Dia menatapku.

“Bukan juga apartemen.”

Aku melangkah lebih dekat.

“Tadi pagi Alya tanya kenapa ayahnya nggak balik. Lalu dia sendiri bilang, ‘Ayah memang selalu begitu.’”

Tatapan Arman jatuh ke meja.

“Dia tahu, Man.”

Tak ada suara.

“Anak kita sudah sadar bahwa ayahnya selalu nggak ada.”

Rahang Arman bergetar.

Tapi kali ini aku tidak membutuhkan penyesalannya untuk mengambil keputusan.

Ada kesalahan yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf.

Ada kebohongan yang mungkin masih bisa diperbaiki.

Tapi ketika seseorang mempertaruhkan rumah anaknya, menggunakan dana darurat keluarga untuk perempuan lain, lalu membiarkan istrinya berutang agar anak mereka bisa dioperasi…

“Maaf” sudah tidak cukup.

Kami meninggalkan gedung itu.

Sebelum masuk mobil, Bu Ratna berkata,

“Untuk sementara Arman tinggal di rumah saya.”

Aku menatapnya.

“Bu…”

“Saya bukan membela dia.”

Dia menarik napas.

“Maksud saya, dia tidak akan kembali ke rumah kalian sampai kamu sendiri yang mengizinkan.”

Air mataku jatuh.

“Terima kasih.”

“Nadia…”

Bu Ratna menggenggam tanganku.

“Kamu tidak harus tetap bersama anak saya hanya supaya Alya bisa disebut punya keluarga utuh.”

Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhirku.

Bertahun-tahun aku berpikir sebaliknya.

Aku harus sabar.

Harus mengerti.

Harus menyesuaikan diri.

Karena kami punya anak.

Karena orang akan membicarakan keluarga yang berpisah.

Karena mungkin aku akan dianggap tidak cukup berjuang.

Tapi keluarga macam apa yang disebut utuh jika seorang anak sudah terbiasa tidak bisa mengandalkan ayahnya?

Kami kembali ke rumah sakit.

Alya sedang bangun.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

“Bu, dari mana?”

“Ada yang Ibu urus.”

“Nenek datang?”

Bu Ratna masuk.

“Tentu.”

Alya tersenyum.

“Ayah mana?”

Aku dan Bu Ratna saling memandang.

Aku tidak berbohong.

“Ayah juga sedang menyelesaikan sesuatu.”

Hari itu bukan waktunya untuk menjelaskan semuanya.

Bukan saat selang infus masih menempel di tangan Alya.

Bukan ketika tubuhnya masih dalam masa pemulihan.

Ada waktu yang tepat untuk mengatakan kebenaran.

Tapi mulai saat itu, aku juga berhenti melindungi Arman dengan kebohongan.

Sore harinya hasil audit awal usaha keluar.

Sekitar Rp155 juta pembayaran pelanggan belum disetorkan dengan benar.

Sebagian jejak transaksi berkaitan dengan pembayaran apartemen.

Sebagian lain masih harus diperiksa.

Bu Ratna tidak langsung membawa masalah itu ke ranah hukum.

Tapi dia melakukan hal yang paling cepat sebagai pemilik usaha.

Arman kehilangan seluruh kewenangan keuangan.

Tidak lagi memiliki akses ke rekening perusahaan.

Tidak boleh menerima pembayaran pelanggan.

Tidak boleh menandatangani cek.

Tidak boleh menyetujui pembelian.

Sampai audit selesai, dia hanya diperbolehkan bekerja sebagai staf biasa dan harus menjelaskan setiap transaksi yang pernah dia lakukan.

Malamnya Arman menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Pesan masuk.

Nad, please. Kita harus menyelesaikan ini.

Kubaca.

Tidak kubalas.

Beberapa menit kemudian pesan kedua masuk.

Booking fee-nya bisa hangus.

Aku memejamkan mata.

Bahkan sekarang.

Masih booking fee.

Aku tidak perlu mendengar apa pun lagi.

Keesokan harinya Alya diperbolehkan pulang.

Dia masih lemas, tapi sudah bisa berjalan perlahan.

Ketika kami tiba di rumah, ada tiga missed call dari Arman.

Barang-barangnya sudah tidak ada.

Adiknya mengambil barang-barang itu berdasarkan kesepakatan dengan Bu Ratna.

Aku tidak membuang pakaiannya ke jalan.

Tidak membuat keributan di depan tetangga.

Semua dilakukan dengan tertib.

Ada daftar barang.

Ada saksi.

Ada dokumentasi.

Dan ada Siska yang mendampingi setiap langkah.

Satu minggu kemudian aku bertemu Arman di kantor Siska.

Alya tidak ikut.

Aku tidak ingin dia mendengar pembicaraan itu.

Arman terlihat seperti sudah beberapa hari tidak tidur.

“Nadia…”

Aku duduk.

Nada suaraku tenang.

“Ada tiga hal.”

Dia menatapku.

“Pertama, sebelas juta yang kupinjam dari Rina untuk operasi Alya harus kamu ganti.”

Dia mengangguk.

“Kedua, setengah dari sisa biaya rumah sakit, obat, dan kontrol Alya menjadi tanggung jawabmu.”

“Oke.”

“Ketiga, mulai sekarang biaya untuk Alya harus jelas, rutin, dan tercatat. Bukan diberikan hanya kalau kamu sedang punya uang atau sedang ingat.”

“Aku nggak akan menelantarkan Alya.”

Aku menatapnya.

“Kamu sudah pernah melakukannya.”

Dia diam.

“Aku tidak mengatakan kamu tidak boleh menjadi ayah.”

Arman mengangkat kepala.

“Tapi mulai sekarang kamu harus belajar menjadi ayah meskipun kita tidak lagi hidup sebagai suami istri.”

Matanya memerah.

“Jadi ini sudah final?”

Aku menarik napas.

Kami bersama enam belas tahun.

Menikah dua belas tahun.

Tidak mudah mengatakan bahwa semuanya selesai.

Tapi terkadang jauh lebih menyakitkan mempertahankan sesuatu yang perlahan-lahan menghancurkan harga dirimu.

“Aku nggak akan kembali ke kehidupan yang dulu.”

Air mata jatuh dari matanya.

Pertama kalinya aku melihat Arman menangis sejak semua terjadi.

Dulu aku mungkin akan kasihan.

Memegang tangannya.

Mengatakan kita bisa mencoba sekali lagi.

Tapi aku teringat loket pembayaran.

Dua puluh lima juta.

Kalimat:

“Cari dulu sisanya.”

Alya yang masuk ruang operasi.

Dan Arman yang masih membicarakan apartemen.

“Maaf.”

Aku mengangguk.

“Aku dengar.”

“Nad…”

“Tapi maaf bukan tombol reset.”

Dia tidak menjawab.

Bulan-bulan setelah itu tidak mudah.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada satu pagi ketika semua luka tiba-tiba sembuh.

Aku dan Alya belajar menyesuaikan diri.

Ada malam ketika Alya menangis karena merindukan ayahnya.

Aku tidak melarangnya bertemu Arman.

Ketika jadwalnya jelas dan Alya nyaman, mereka tetap bertemu.

Aku tidak menggunakan amarahku untuk menghancurkan hubungan anak dan ayahnya.

Tapi ada batas.

Ada tanggung jawab.

Dan untuk pertama kalinya Arman belajar bahwa menjadi ayah tidak cukup dengan janji.

Harus ada tindakan.

Beberapa minggu kemudian dia menjual mobil SUV yang jarang digunakannya.

Dari uang itu, utang kepada Rina dikembalikan.

Biaya medis Alya dibayar.

Arman juga mulai mengembalikan uang usaha keluarga berdasarkan kesepakatan setelah audit.

Apartemen itu tidak pernah menjadi miliknya.

Sebagian besar booking fee hangus sesuai ketentuan.

Dan untuk pertama kalinya aku sama sekali tidak kasihan.

Karena uang itulah yang dia coba lindungi ketika anak kami membutuhkan operasi.

Dinda?

Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya.

Dia hanya pernah mengirim satu pesan.

Maaf. Aku benar-benar nggak tahu semuanya.

Aku tidak bertengkar.

Tidak menghinanya.

Aku hanya menjawab,

Semoga setelah ini kamu juga memilih sesuatu yang lebih baik untuk hidupmu.

Selesai.

Hidupku bukan lagi tentang Dinda.

Bukan juga tentang Arman.

Yang paling penting adalah kehidupan yang harus kubangun kembali bersama Alya.

Karena sebagian modal usahaku habis untuk rumah sakit, aku memulai lagi dari kecil.

Sepuluh kotak kue.

Lalu dua puluh.

Tiga puluh.

Rina membantu mencarikan pemasok bahan yang lebih murah.

Bu Ratna mengenalkanku kepada dua kantor yang kemudian rutin memesan snack box.

Tiga bulan kemudian pendapatan bulananku justru lebih besar dibanding sebelum Alya masuk rumah sakit.

Suatu Sabtu, saat aku menempelkan label pada kotak-kotak pesanan, Alya duduk di sebelahku.

Bekas operasinya tinggal kecil.

Wajahnya kembali segar.

Dia juga sudah kembali sekolah.

“Bu?”

“Hmm?”

“Ibu baik-baik saja?”

Aku tersenyum.

“Harusnya Ibu yang tanya begitu.”

“Aku sudah baik.”

Dia melihat tumpukan kotak.

“Pesanannya banyak.”

“Iya.”

“Kita sekarang kaya?”

Aku tertawa.

“Belum.”

“Yah…”

Kami tertawa bersama.

Lalu tiba-tiba Alya serius.

“Bu…”

“Apa?”

“Ibu nggak harus kembali sama Ayah karena aku.”

Tanganku berhenti.

“Alya…”

“Nggak apa-apa.”

Aku menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokan.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Nggak ada.”

Dia mengangkat bahu.

“Aku cuma tahu.”

Tangannya menyentuh tanganku.

“Rumah lebih tenang sekarang.”

Aku tak tahu harus bahagia atau sedih.

Mungkin keduanya.

“Alya, Ayah sayang sama kamu.”

“Aku tahu.”

“Dan apa pun yang terjadi antara Ibu dan Ayah, kamu nggak perlu memilih.”

Dia mengangguk.

“Tapi Ibu?”

“Ibu kenapa?”

“Ibu akan memilih Ibu sendiri nggak?”

Air mataku langsung jatuh.

Anakku masih muda.

Tapi dia menanyakan satu hal yang bertahun-tahun bahkan tak berani kutanyakan pada diriku sendiri.

Apakah aku akan memilih diriku sendiri?

Aku mengusap pipinya.

“Iya.”

Alya tersenyum.

“Bagus.”

Aku ikut tertawa.

Kata yang sama yang pernah dikatakan Arman ketika kubilang aku akan mencari sendiri uang untuk membayar utang operasi.

Tapi kali ini bunyinya berbeda.

Tidak dingin.

Tidak acuh.

Seperti izin.

Enam bulan kemudian hidup kami memiliki ritme baru.

Alya menerima biaya rutin dari ayahnya.

Jadwal pertemuan mereka jelas.

Semua masalah keuangan dicatat.

Tidak ada lagi:

“Nanti.”

Tidak ada:

“Kita lihat saja.”

Dan tidak ada lagi aku yang harus terus mengejar.

Proses hukum dan pengaturan keuangan kami juga tetap berjalan dengan pendampingan.

Aku tidak akan berbohong dan mengatakan semuanya mudah.

Aku juga tidak bangun suatu pagi lalu mendapati semua perasaanku kepada Arman hilang.

Ada kenangan.

Ada hari ketika aku masih berpikir:

Bagaimana kalau dulu dia memilih berbeda?

Tapi sekarang aku tidak membiarkan pertanyaan itu tinggal lama.

Karena ada pertanyaan yang lebih penting.

Apa yang akan kulakukan dengan hidup yang masih kumiliki hari ini?

Suatu malam aku berdiri di depan kamar Alya.

Dia sudah tidur.

Di samping bantalnya masih ada boneka kecil yang diberikan salah satu perawat saat dia dirawat.

Aku berhenti di pintu.

Malam itu kembali terlintas di kepalaku.

Loket administrasi.

Deposit dua puluh lima juta.

Tanganku yang gemetar.

Telepon kepada Rina.

Ruang operasi.

Dan suara Arman di lorong rumah sakit.

“Besok tetap jadi.”

Dulu setiap mengingatnya aku marah.

Sekarang rasanya berbeda.

Aku mengingatnya sebagai malam ketika aku hampir kehilangan terlalu banyak hal.

Tapi juga malam ketika aku akhirnya berhenti kehilangan diriku sendiri.

Aku tidak menyelamatkan pernikahan kami.

Dan itu bukan akhir bahagia yang kucari.

Akhir bahagiaku jauh lebih sederhana.

Alya selamat.

Rumah kami masih menjadi tempat kami pulang.

Tidak ada lagi orang yang bisa menyentuh uangku tanpa sepengetahuanku.

Aku punya penghasilan sendiri.

Alya punya dukungan yang jelas.

Aku punya batas.

Dan di rumah yang pernah hampir dipertaruhkan demi apartemen rahasia seorang perempuan…

Aku dan putriku masih pulang setiap malam.

Tenang.

Aman.

Tanpa harus meminjam harga diri dari siapa pun.

Sebelum menutup pintu kamar Alya, aku tersenyum tipis.

Malam ketika Alya dioperasi, Arman mungkin berpikir hal terbesar yang bisa hilang darinya hanyalah booking fee apartemen.

Dia salah.

Yang hilang adalah haknya untuk terus berharap bahwa aku akan bertahan setiap kali dia menjadikan kami pilihan kedua.

Dan apa yang kudapatkan?

Bukan apartemen.

Bukan mobil baru.

Bukan balas dendam.

Tapi sesuatu yang jauh lebih lama kulupakan.

Hak untuk menentukan kehidupan seperti apa yang pantas untukku dan putriku.

Dan kali ini…

Aku tidak ragu.

Aku memilih kami.

TAMAT