Suamiku Membawa Cinta Pertamanya yang Hamil ke Rumah Kami dan Memberinya Kamar Utama—Aku Menandatangani Cerai, Lalu Tiga Hari Kemudian Ia Datang Memohon di Depan Kantorku Sambil Membawa Surat
Bagian 1 — Saat Arga Membawa Nadine yang Hamil ke Rumah dan Meminta Kamar Utama, Aku Justru Mengeluarkan Surat yang Sudah Kusiapkan Dua Tahun
Bunyi pintu digital terdengar tepat pukul tujuh lewat dua belas malam.
Mira tidak menoleh.
Ia sedang berjongkok di depan lemari dapur, memasukkan beberapa buku resep, dua cangkir kesukaannya, dan sebuah kotak kecil berisi foto-foto lama ke dalam kardus.
Lalu terdengar suara roda koper melewati lantai ruang tamu.
Bukan satu koper.
Dua.
“Mira.”
Suara Arga terdengar dari belakang.
“Aku sudah membawa Nadine.”
Barulah Mira berdiri.
Suaminya masih mengenakan kemeja putih dan celana kantor. Di sampingnya berdiri seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun dengan kardigan krem longgar dan rambut panjang yang diikat rendah.
Satu tangannya memegang gagang koper.
Tangan lainnya melindungi perutnya yang baru mulai terlihat.
Nadine.
Nama yang sudah terlalu sering hadir dalam lima tahun pernikahan Mira, meski pemilik nama itu hampir tak pernah benar-benar berada di depan matanya.
Teman SMA Arga.
Cinta pertama yang katanya “tidak pernah sempat terjadi”.
Perempuan yang selalu muncul dalam cerita ketika Arga sedang bernostalgia.
“Nadine dulu paling pintar di kelas.”
“Nadine dulu hampir masuk kedokteran.”
“Kalau dulu aku sedikit lebih berani, mungkin hidupku berbeda.”
Kalimat terakhir itu pernah diucapkan Arga sambil tertawa pada sebuah reuni.
Mira masih mengingatnya sampai sekarang.
Arga berdeham.
“Apartemen Nadine sedang direnovasi. Bau bahan kimianya kuat sekali. Dokter menyarankan dia jangan tinggal di sana karena usia kehamilannya baru dua belas minggu.”
Mira memandang dua koper besar di dekat pintu.
“Jadi?”
“Aku sudah bilang kemarin.”
Arga menarik napas seolah sedang berusaha menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.
“Dia akan tinggal di sini sementara.”
“Berapa lama?”
“Mungkin dua atau tiga bulan.”
Mira tersenyum tipis.
Dua atau tiga bulan.
Kemarin Arga mengatakan “beberapa hari”.
Perkembangan yang menarik.
Arga melanjutkan, “Kamar utama punya kamar mandi dalam dan ventilasinya lebih baik. Nadine sering mual malam-malam, jadi akan lebih nyaman kalau dia memakai kamar kita.”
Untuk beberapa detik, Mira hanya menatapnya.
“Lalu aku tidur di mana?”
“Kita pindah ke kamar tamu.”
Kata kita itu hampir membuat Mira tertawa.
Nadine buru-buru menyela.
“Mbak Mira, kalau memang membuat tidak nyaman, sebenarnya aku bisa mencari hotel…”
“Jangan.”
Arga langsung menoleh kepadanya.
“Kamu butuh tempat yang stabil. Dokter sudah bilang jangan terlalu sering berpindah.”
Kemudian ia kembali menatap istrinya.
“Mira, tolong jangan membuat masalah dari sesuatu yang sebenarnya sederhana.”
Mira merasa lucu.
Lima tahun menikah, akhirnya ia mengerti satu kebiasaan Arga.
Setiap kali Arga mengambil keputusan sepihak, siapa pun yang keberatan akan disebut sedang “membuat masalah”.
Mira berjalan menuju meja makan.
Di sana sudah ada sebuah map cokelat.
Ia membukanya.
Arga mengerutkan kening.
“Apa itu?”
Mira mengeluarkan dua berkas.
“Kesepakatan pemisahan harta yang sudah diperiksa pengacaraku, dan salinan gugatan cerai yang akan didaftarkan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan Nadine berhenti mengusap perutnya.
Arga menatap Mira seperti baru mendengar lelucon yang tidak lucu.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Mira, cuma karena Nadine tinggal sementara di sini?”
“Bukan.”
Mira meletakkan pena di atas meja.
“Karena dua tahun terakhir aku akhirnya belajar membedakan antara cinta dan kebiasaan bertahan.”
Wajah Arga berubah.
“Apa maksudmu?”
Mira menarik kursi lalu duduk.
“Empat tahun lalu, saat PT Rute Kencana Nusantara cuma punya tujuh karyawan, siapa yang membuat laporan arus kas setiap malam setelah pulang dari kantor?”
Arga tidak menjawab.
“Siapa yang menjual deposito pribadinya senilai Rp380 juta supaya perusahaanmu bisa membayar gaji ketika tiga klien terlambat membayar?”
“Mira…”
“Siapa yang membantu menyusun proposal tender sampai jam empat pagi ketika kamu bahkan belum punya staf keuangan?”
Arga mengembuskan napas kasar.
“Kita suami istri. Kenapa sekarang semuanya dihitung?”
“Karena selama aku memberi, kamu menyebutnya kewajiban istri.”
Mira menatapnya lurus.
“Tapi begitu perusahaanmu berhasil, kamu mulai menyebutnya perusahaanmu.”
Dua tahun lalu, setelah perusahaan mendapat investor baru, Arga meminta Mira berhenti ikut campur dalam operasional.
Katanya investor akan merasa aneh jika istri direktur terlalu banyak terlibat.
Mira menurut.
Bukan karena setuju.
Saat itulah ia mulai mempersiapkan hidupnya sendiri.
Ia mengambil sertifikasi manajemen risiko.
Menerima proyek konsultasi kecil tanpa sepengetahuan Arga.
Membangun kembali jaringan profesional yang selama bertahun-tahun ia abaikan.
Dan ketika sebuah perusahaan energi di Surabaya menawarkan posisi kepala keuangan enam bulan lalu, Mira menerimanya.
Arga tidak tahu.
Arga bahkan tidak pernah bertanya bagaimana Mira menghabiskan waktu setelah berhenti membantunya.
“Mira.”
Nada Arga melembut sedikit.
“Aku tidak pernah melarangmu bekerja.”
“Tidak.”
Mira mengangguk.
“Kamu cuma terlalu yakin aku tidak akan mampu hidup tanpa kamu.”
Ia mendorong map itu.
“Aku tidak meminta rumah ini. Mobil juga tidak. Soal harta bersama, biar pengacara yang mengurus.”
Arga memandang berkas beberapa saat.
Kemudian rahangnya mengeras.
Ia mengambil pena.
“Baik.”
Nadine buru-buru berkata, “Arga, mungkin kalian sebaiknya bicara dulu…”
Namun Arga sudah menandatangani lembar pengakuan penerimaan dokumen.
Setelah selesai, ia meletakkan pena cukup keras.
“Mau pergi? Pergilah.”
Mira berdiri.
Dari kamar kerja, ia mengambil satu koper sedang yang ternyata sudah siap sejak siang.
Arga melihatnya dan tertawa pendek.
“Jadi semuanya sudah kamu rencanakan?”
“Sudah lama.”
“Ke mana?”
“Apartemen sewaan di Darmo.”
“Kamu kira hidup sendirian semudah itu?”
Mira memasang sepatu.
Arga bersandar di dekat pintu.
Kepercayaan dirinya mulai kembali.
“Mira, aku mengenalmu lima tahun. Kamu selalu bilang paling tidak suka makan sendirian. Kamu takut menyetir malam. Bahkan kalau AC rusak saja biasanya kamu meneleponku.”
Ia tersenyum kecil.
“Tiga hari.”
Mira mengangkat wajah.
“Apa?”
“Tiga hari.”
Arga memasukkan kedua tangan ke saku.
“Dalam tiga hari kamu akan kembali. Mungkin kamu marah sekarang, tapi begitu sadar hidup di luar tidak senyaman di sini, kamu akan menghubungiku.”
Mira tidak membalas.
Arga menambahkan dengan nada lebih rendah, “Saat itu aku harap kamu datang baik-baik dan minta maaf. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku sudah berubah pikiran.”
Mira hampir merasa kasihan.
Bukan kepada dirinya.
Kepada seorang lelaki yang begitu lama hidup di tengah orang-orang yang selalu membereskan kesalahannya sampai ia mulai mengira dirinya tidak pernah bisa jatuh.
Mira menarik koper keluar.
Sebelum pintu tertutup, ia menoleh.
“Nanti kita lihat siapa yang menelepon siapa lebih dulu, Ga.”
Malam itu, Mira tidur di apartemen dua kamar yang sudah disewanya sejak enam minggu sebelumnya.
Tidak mewah.
Tidak ada meja marmer.
Tidak ada lemari pakaian sebesar kamar kos.
Tetapi ketika Mira menutup pintunya dari dalam, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia merasakan sesuatu yang sudah hampir dilupakannya.
Tenang.
Pukul 22.48, laptopnya berbunyi.
Sebuah email masuk dari Bank Satria Nasional.
Subjeknya membuat Mira duduk tegak.
Perpanjangan Fasilitas Modal Kerja PT Rute Kencana Nusantara.
Fasilitas kredit perusahaan Arga senilai Rp18,5 miliar akan berakhir tiga hari lagi.
Empat tahun sebelumnya, ketika perusahaan masih kecil, Mira pernah menyetujui ruko warisan ayahnya di Sidoarjo sebagai jaminan tambahan.
Tetapi enam bulan lalu, ketika bank meminta pembaruan persetujuan untuk periode berikutnya, Mira sudah menjawab secara tertulis.
Ia tidak akan memperpanjang jaminan.
Email malam itu kembali meminta konfirmasi.
Mira menjawab hanya tiga kalimat.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan persetujuan baru.
Ia meminta seluruh dokumen yang mencantumkan namanya setelah tanggal pemberitahuan sebelumnya diperiksa kembali.
Dan ia menyalin email tersebut kepada bagian legal perusahaan.
Pagi berikutnya, ketika Mira keluar dari lift kantor barunya, ponselnya sudah menunjukkan tujuh belas panggilan tak terjawab dari Arga.
Sebuah pesan suara masuk.
“Mira, angkat telepon. Kamu kirim apa ke bank?”
Belum sempat Mira menjawab, pesan lain muncul dari nomor Reza, kepala keuangan PT Rute Kencana Nusantara.
Bu Mira, saya perlu memastikan sesuatu. Pak Arga mengatakan Ibu sudah menyetujui perpanjangan. Apakah benar beliau meminta kami menggunakan scan tanda tangan Ibu yang lama?
Jari Mira membeku di atas layar.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar Arga mungkin tidak sekadar menganggap persetujuannya tidak penting.
Ia mungkin sudah menggantikannya dengan tanda tangan yang tidak pernah ia berikan.
#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #KisahPerempuan #PengkhianatanSuami #CeritaViralIndonesia
Bagian 2 — Tiga Hari Setelah Aku Pergi, Satu Email dari Bank Membuka Kebohongan Arga dan Membuat Seluruh Direksi Mencari Namaku Sebelum Rapat Darurat Dimulai
Mira tidak langsung menelepon Arga.
Ia menelepon pengacaranya.
Setelah itu ia membalas Reza.
“Tolong jangan hapus apa pun. Kirimkan dokumen yang memuat tanda tangan saya melalui email perusahaan dan salin bagian legal.”
Lima belas menit kemudian, sebuah PDF tiba.
Mira membukanya di ruang rapat kecil kantornya.
Halaman kedelapan membuat darahnya terasa turun ke kaki.
Di bawah kalimat Persetujuan Pemberi Jaminan, terdapat tanda tangannya.
Bentuknya sempurna.
Terlalu sempurna.
Itu tanda tangan dari dokumen empat tahun lalu.
Bahkan titik tinta kecil di ujung huruf terakhir masih sama.
Bedanya, tanggal di atasnya menunjukkan dua hari sebelumnya.
Hari ketika Mira sedang mengikuti rapat orientasi di kantor barunya sejak pukul delapan pagi sampai sore.
Pukul sembilan, Arga akhirnya berhasil menghubunginya.
“Kamu sengaja menghancurkan perusahaan?”
Itulah kalimat pertamanya.
Bukan maaf.
Bukan aku bisa menjelaskan.
Mira menutup mata sebentar.
“Aku tidak menandatangani dokumen itu.”
“Cuma formalitas.”
“Memakai tanda tanganku tanpa izin bukan formalitas.”
“Fasilitas itu harus diperpanjang! Kalau tidak, arus kas perusahaan bisa kacau.”
“Lalu kenapa tidak menggunakan asetmu sendiri sebagai jaminan?”
Arga terdiam.
Mira tahu jawabannya.
Rumah liburan Arga di Batu sudah diagunkan untuk kredit lain.
Dua mobil perusahaan masih dalam pembiayaan.
Dan sebagian besar kekayaan Arga berada dalam bentuk saham perusahaan yang nilainya tidak mudah dicairkan.
“Dengar.”
Suara Arga turun.
“Kita selesaikan ini di rumah. Kamu pulang malam ini, bilang ke bank ada salah paham, lalu semuanya selesai.”
Mira tertawa kecil.
“Jadi hari kedua, dan kamu sudah menelepon lebih dulu.”
“Mira!”
“Sampai jumpa di Pengadilan Agama, Ga.”
Ia memutus sambungan.
Siang itu dewan komisaris mengadakan rapat darurat.
Bank belum menarik fasilitas yang sedang berjalan, tetapi menolak perpanjangan sampai status dokumen Mira jelas.
Perusahaan masih punya waktu mencari jaminan pengganti.
Masalahnya, pemeriksaan bank membuka sesuatu yang jauh lebih besar.
Bagian legal mulai menelusuri dokumen yang ditandatangani Arga selama dua tahun terakhir.
Mira diminta hadir sebagai pihak terkait.
Ia datang bersama pengacaranya.
Ketika pintu ruang rapat dibuka, Arga sudah berada di sana.
Untuk pertama kalinya selama Mira mengenalnya, dasinya terlihat miring.
Matanya merah karena kurang tidur.
“Bisa bicara sebentar?”
“Bicara di sini.”
“Mira, jangan seperti ini.”
Ia merendahkan suara.
“Ada hampir seratus karyawan yang bergantung pada perusahaan.”
Mira menatapnya.
“Jangan gunakan karyawanmu untuk membuatku merasa bersalah karena kamu menggunakan tanda tanganku.”
Arga mengepalkan tangan.
Saat itulah Nadine menelepon.
Mira hampir mengabaikannya, tetapi akhirnya menjawab.
Suara Nadine terdengar gugup.
“Mbak Mira, saya minta maaf. Saya baru tahu Arga bilang kepada keluarganya kalau kalian memang sudah sepakat berpisah sebelum saya pindah.”
Mira diam.
“Apa?”
“Dia bilang kamar utama memang sudah tidak kalian pakai bersama.”
Nadine menarik napas.
“Dan ada satu hal lagi. Deposit apartemen sementara saya dan beberapa biaya pemeriksaan kehamilan dibayar oleh kantornya. Saya pikir itu uang pribadi Arga karena dia bilang saya bisa mengembalikannya nanti.”
Mira menatap pintu ruang rapat.
“Berapa?”
“Kurang lebih seratus delapan puluh juta.”
Setelah panggilan berakhir, Mira meneruskan informasi itu kepada bagian audit.
Dua jam kemudian mereka menemukannya.
Bukan satu transfer.
Ada enam.
Total Rp427 juta kepada rekening perusahaan konsultasi milik Nadine, meski kontrak jasa perusahaan itu sudah selesai delapan bulan sebelumnya.
Sebagian pembayaran ternyata dicatat sebagai biaya kampanye pemasaran dan uang muka acara.
Arga berdiri.
“Itu bisa dijelaskan.”
Komisaris utama menatapnya dingin.
“Silakan jelaskan setelah audit independen selesai.”
Arga langsung diskors dari seluruh kewenangan pembayaran selama pemeriksaan.
Namun kejutan terburuk belum muncul.
Menjelang sore, pengacara Mira masuk sambil membawa salinan dokumen dari notaris perusahaan.
“Mira,” katanya pelan, “kita punya masalah kedua.”
Ia meletakkan satu lembar keputusan pemegang saham di meja.
Dua tahun sebelumnya, kepemilikan Mira di PT Rute Kencana Nusantara tercatat sebesar delapan belas persen.
Tiga bulan setelah Arga memintanya berhenti ikut operasional, saham itu terdilusi menjadi empat persen karena penerbitan saham baru.
Arga pernah mengatakan proses tersebut sudah mendapat persetujuan seluruh pemegang saham.
Mira tidak pernah mempertanyakannya saat itu.
Sekarang ia melihat dokumennya.
Di halaman terakhir kembali terdapat tanda tangannya.
Tanggal rapatnya jatuh pada hari ketika Mira sedang berada di Makassar untuk menghadiri pelatihan selama empat hari.
Pengacara Mira menunjuk sebuah pesan yang berhasil disimpan staf legal lama.
Pesan itu berasal dari nomor Arga.
Pakai saja scan tanda tangan Mira dari berkas lama. Nanti saya yang bicara dengannya kalau perlu.
Ruangan mendadak senyap.
Dan saat Mira mengangkat kepala, wajah Arga sudah kehilangan seluruh warnanya.
Bagian 3 — Ketika Arga Datang Memohon di Depan Kantorku, Aku Menunjukkan Bukti Terakhir yang Mengakhiri Pernikahan dan Menyelamatkan Hidupku Sendiri untuk Selamanya
Hari ketiga tepat pukul 08.20, resepsionis kantor Mira menelepon.
“Bu Mira, ada Pak Arga menunggu di lobi.”
Mira hampir mengatakan tidak.
Namun ketika ia turun, Arga berdiri sendirian dengan sebuah map hitam di tangan.
Tidak ada mobil dengan sopir.
Tidak ada jas mahal.
Hanya kemeja biru yang kusut dan wajah seseorang yang akhirnya mengerti bahwa beberapa masalah tidak bisa diselesaikan dengan menyuruh orang lain diam.
“Aku butuh bantuanmu.”
Tiga hari sebelumnya, Arga mengatakan kalimat sebaliknya.
Mira tidak mengingatkannya.
Ia hanya berkata, “Bantuan apa?”
Arga membuka map.
Di dalamnya terdapat surat dari bank.
Perusahaan diberi kesempatan mendapatkan fasilitas baru apabila menyediakan jaminan pengganti, menunjuk manajemen sementara, dan menyelesaikan pemeriksaan legal terhadap dokumen bermasalah.
“Aku tidak meminta kamu kembali jadi istriku dulu.”
Kata dulu membuat Mira hampir tersenyum.
“Aku cuma perlu kamu mengatakan kepada bank bahwa masalah tanda tangan itu kesalahan administrasi.”
“Padahal bukan?”
“Mira…”
“Apakah kamu memakai scan tanda tanganku?”
Arga menunduk.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk.
“Apakah kamu juga melakukannya ketika sahamku terdilusi?”
Arga tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Mira mengeluarkan ponselnya.
“Aku punya rekaman jawabanmu barusan. Pengacaraku sudah menyarankan agar semua komunikasi kita setelah ini dilakukan tertulis.”
Arga mendongak cepat.
“Mira, kamu mau menyeret suamimu sendiri ke polisi?”
“Sebentar lagi mantan suami.”
Wajah Arga mengeras.
Kemudian sesuatu dalam dirinya seperti runtuh.
“Aku salah.”
Untuk pertama kalinya, tidak ada kata tapi setelahnya.
“Aku pikir nanti semuanya bisa kubereskan. Aku pikir karena kita menikah, kamu pada akhirnya pasti setuju.”
“Itulah masalahnya.”
Mira memandangnya tenang.
“Kamu selalu mengira kalau aku mencintaimu, maka persetujuanku bisa menyusul belakangan.”
Arga menelan ludah.
“Nadine sudah pergi dari rumah.”
“Ini tidak pernah hanya tentang Nadine.”
Kalimat itu membuat Arga diam.
Mira tidak membenci Nadine.
Perempuan itu memang datang ke rumahnya membawa dua koper, tetapi Arga-lah yang membuka pintu.
Arga-lah yang menawarkan kamar utama.
Arga-lah yang mengatakan istrinya sudah setuju.
Dan Arga-lah yang selama bertahun-tahun menganggap batas Mira bisa digeser sedikit demi sedikit selama dirinya cukup percaya diri.
Pemeriksaan perusahaan berlangsung hampir dua bulan.
Hasilnya tidak membuat PT Rute Kencana Nusantara bangkrut.
Justru itu hal yang paling melegakan bagi Mira.
Para karyawan tidak perlu kehilangan pekerjaan karena kesalahan satu orang.
Investor menunjuk direktur sementara.
Arga diwajibkan melepaskan sebagian sahamnya kepada investor baru untuk memperkuat modal perusahaan dan menyediakan jaminan pengganti.
Villa kecilnya di Batu dijual.
Ia juga mengembalikan dana perusahaan yang digunakan untuk pengeluaran pribadi dan biaya Nadine yang tidak memiliki dasar kontrak.
Setelah audit selesai, Arga mengundurkan diri dari jabatan direktur utama.
Kasus dokumen Mira ditangani terpisah melalui jalur hukum.
Atas saran pengacara, Mira tidak pernah mengumbar rinciannya di media sosial atau membuat keributan di depan kantor.
Ia tidak membutuhkannya.
Dokumen sudah berbicara cukup keras.
Persoalan saham akhirnya diselesaikan setelah pemeriksaan korporasi mengakui adanya cacat dalam proses persetujuan terdahulu.
Hak Mira dipulihkan melalui kesepakatan resmi.
Beberapa bulan kemudian, Mira menjual kepemilikannya kepada investor dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada angka yang dulu pernah Arga tawarkan kepadanya untuk “keluar saja dari perusahaan”.
Uang itu bukan hadiah.
Bukan uang belas kasihan.
Itu bagian dari sesuatu yang ikut ia bangun sejak kantor perusahaan masih berupa ruko sempit dengan tujuh kursi plastik dan satu printer yang sering macet.
Nadine tidak pernah kembali tinggal bersama Arga.
Sebelum pindah ke rumah kakaknya di Malang, ia mengirim satu pesan kepada Mira.
Saya minta maaf karena masuk ke rumah yang saya kira sudah bukan lagi rumah tangga kalian. Saya seharusnya memastikan sendiri. Semoga setelah ini kita sama-sama hidup tanpa kebohongan orang lain.
Mira tidak membalas panjang.
Ia hanya menulis, Semoga persalinanmu nanti lancar.
Lima bulan setelah malam ketika dua koper itu masuk ke rumahnya, perceraian Mira dan Arga resmi diputus.
Rumah mereka dijual sesuai penyelesaian harta bersama.
Pada hari mediasi terakhir, Arga menunggu Mira di lorong pengadilan.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
“Aku masih sering berpikir,” katanya, “kalau malam itu aku tidak membawa Nadine pulang, mungkin semuanya tidak akan terjadi.”
Mira memasukkan dokumen ke tas.
“Kamu salah.”
Arga menatapnya.
“Kalau bukan Nadine malam itu, akan ada kejadian lain tahun depan atau dua tahun lagi.”
Mira tersenyum kecil.
“Aku tidak pergi karena ada perempuan hamil masuk ke kamar kita. Aku pergi karena suamiku menganggap dirinya berhak mengambil keputusan tentang rumah, uang, saham, bahkan tanda tanganku tanpa bertanya kepadaku.”
Arga tidak punya jawaban.
Sebelum Mira berbalik, ia akhirnya berkata pelan, “Bisa tidak kita mulai lagi?”
Mira teringat malam terakhir mereka.
Tiga hari kamu akan kembali dan memohon.
Lucunya, Mira tidak merasakan kemenangan ketika melihat keadaan Arga sekarang.
Yang ia rasakan hanya lega.
“Tidak, Ga.”
Jawabannya sederhana.
“Aku sudah mulai lagi. Hanya saja bukan bersamamu.”
Setahun kemudian, Mira pindah dari apartemen sewanya ke unit kecil yang dibelinya sendiri di Surabaya Barat.
Tidak sebesar rumah lamanya.
Tetapi semua kunci hanya berada di tangannya.
Kariernya berkembang. Ia kemudian mendirikan firma konsultasi keuangan bersama dua mantan rekan kerjanya dan mempekerjakan sembilan orang.
Pada Jumat sore pertama setelah kantornya resmi dibuka, Mira duduk sendirian di ruangannya sambil memandang hujan di balik kaca.
Dulu Arga pernah berkata ia tidak bisa makan sendirian, tidak berani pulang malam, dan tidak akan mampu hidup tanpa seseorang yang mengurus semuanya untuknya.
Ternyata Arga hanya salah memahami satu hal.
Selama bertahun-tahun, Mira bukan perempuan yang bergantung kepadanya.
Mira adalah perempuan yang terlalu sibuk menopang orang lain sampai lupa betapa kuat kakinya sendiri.
Dan ketika akhirnya ia berhenti menopang lelaki yang terus menganggapnya tidak akan pernah pergi, bukan Mira yang jatuh.
Ia justru berdiri lebih tegak dari sebelumnya—di kehidupan yang pintunya tidak lagi bisa dibuka siapa pun tanpa izinnya.

