Nama Ibu di Akta Itu Membuatku Membeku, Namun Pengakuan Rani Malah Membuka Kebohongan Dimas yang Jauh Lebih Besar

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 173 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Nama Ibu di Akta Itu Membuatku Membeku, Namun Pengakuan Rani Malah Membuka Kebohongan Dimas yang Jauh Lebih Besar

Nama yang tertulis pada kolom ibu bukan Rani.

Melainkan Maya Prameswari.

Aku membaca nama itu berulang kali, berharap mataku salah melihat.

Namun huruf-huruf itu tetap sama.

Aku mengangkat kepala.

—Siapa Maya?

Tak seorang pun menjawab.

Rani menunduk. Ibunya memalingkan wajah. Sedangkan Dimas berdiri beberapa langkah dariku dengan wajah pucat.

Aku menggenggam akta itu lebih erat.

—Aku bertanya sekali lagi. Siapa Maya?

Dimas akhirnya membuka mulut.

—Kita bicara di rumah saja.

Aku hampir tertawa.

—Rumah yang mana, Dimas? Apartemen yang kamu bilang kita beli bersama? Atau rumah ini yang ternyata dibeli menggunakan uangku dan didaftarkan atas namaku tanpa sepengetahuanku?

Dimas terdiam.

Aku mengangkat dokumen itu.

—Dan sebelum menjawab, jangan mencoba berbohong lagi. Aku sudah punya riwayat transfer bank.

Wajahnya langsung berubah.

Saat itulah Rani tiba-tiba berkata:

—Maya adalah kakakku.

Aku menoleh kepadanya.

Rani menarik napas panjang.

—Dia kakak kandungku.

Aku menatap anak kecil yang masih berdiri di dekatnya.

—Jadi anak ini…

—Putra Kak Maya dan Dimas.

Dadaku terasa sesak.

Anehnya, aku tidak menangis.

Mungkin karena terlalu banyak kejutan datang sekaligus hingga air mata pun tidak tahu mana yang harus ditangisi terlebih dahulu.

Aku menatap Dimas.

—Berapa lama?

—Dengarkan aku dulu.

—Berapa lama kamu mengenal Maya?

Dia tidak menjawab.

Justru ibu Rani yang menjawab dengan suara lirih.

—Hampir lima tahun.

Lima tahun.

Sedangkan aku dan Dimas bersama selama tiga tahun.

Artinya Maya sudah ada jauh sebelum aku.

—Lalu di mana dia sekarang?

Rani menatap anak kecil itu sebelum menjawab.

—Kak Maya meninggal hampir tiga tahun lalu karena komplikasi setelah sakit cukup lama.

Aku membeku.

Semua dugaan yang semula memenuhi kepalaku mendadak berubah bentuk.

Dimas ternyata bukan sedang menjalani hubungan diam-diam dengan Rani.

Namun itu tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Justru muncul pertanyaan yang lebih buruk.

—Kalau Maya sudah meninggal, kenapa kalian menyembunyikan anak ini dariku?

Dimas maju satu langkah.

—Awalnya aku ingin memberitahumu.

—Kapan? Setelah pernikahan? Setelah aku melahirkan anakmu? Atau setelah aku menemukan semuanya sendiri?

—Keadaannya tidak sesederhana itu.

Aku menatapnya.

—Kalimat itu selalu digunakan orang yang sudah terlalu lama berbohong.

Rani akhirnya menangis.

—Kak, aku minta maaf. Aku juga salah karena diam. Tapi aku tidak pernah punya hubungan apa pun dengan Dimas.

Dia menunjuk anak kecil itu.

—Setelah Kak Maya meninggal, anak ini tinggal bersama kami. Dimas datang beberapa kali dalam sebulan. Dia membantu biaya hidup dan sekolahnya. Kami setuju merahasiakan identitasnya karena keluarga Dimas tidak pernah menerima Kak Maya.

Aku mengernyit.

—Kenapa?

Ibu Rani menjawab:

—Keluarganya menganggap putri saya tidak sepadan dengan mereka.

Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, Dimas dan Maya pernah berencana menikah. Namun keluarganya menolak keras. Hubungan mereka akhirnya disembunyikan.

Ketika Maya hamil, Dimas berjanji akan bertanggung jawab.

Tetapi pernikahan itu tidak pernah terjadi.

Setelah Maya meninggal, keluarga Dimas meminta agar keberadaan anak tersebut tetap dirahasiakan.

Kemudian Dimas bertemu denganku.

Dan dia memilih memulai hubungan baru tanpa pernah mengatakan bahwa dia sudah memiliki seorang anak.

Aku menatapnya lama.

—Kalau hanya soal masa lalumu, mungkin aku masih bisa memahami kenapa kamu takut bercerita. Tapi uangku? Rumah ini? Tanda tanganku? Pekerjaanku? Apa hubungannya semua itu dengan Maya?

Untuk pertama kalinya, Dimas benar-benar kehilangan kata-kata.

Rani tiba-tiba masuk ke rumah.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah map tebal.

Dia menyerahkannya kepadaku.

—Kak harus melihat ini.

Dimas langsung bergerak.

—Rani, jangan!

Rani mundur.

—Sudah cukup, Mas. Kakak mengambil pekerjaannya, menggunakan uangnya, bahkan memalsukan tanda tangannya. Aku tidak mau ikut menutupinya lagi.

Aku membuka map itu.

Di dalamnya terdapat bukti transfer, salinan kontrak, kuitansi, dan beberapa email yang dicetak.

Sedikit demi sedikit, aku memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Rumah ini awalnya hampir disita karena utang keluarga Maya.

Dimas membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk melunasinya.

Pada saat bersamaan, aku menyerahkan tabunganku kepadanya untuk uang muka apartemen kami.

Dia mengambil sebagian besar uang tersebut dan menggunakannya untuk menyelamatkan rumah ini.

Tetapi ada masalah.

Untuk alasan administrasi tertentu, rumah itu tidak bisa langsung dipindahkan kepada anak yang masih kecil.

Dimas kemudian menggunakan data pribadiku yang pernah kuberikan saat kami mengurus rencana pembelian apartemen.

Tanda tanganku dipalsukan.

Rumah itu sementara didaftarkan atas namaku tanpa sepengetahuanku.

Aku menatap dokumen-dokumen tersebut dengan tangan gemetar.

—Kamu menggunakan identitasku?

Dimas menjawab cepat:

—Aku berniat mengembalikan semuanya.

—Dengan mengambil pekerjaanku juga?

Dia kembali diam.

Rani menatapku.

—Itu bagian yang baru kuketahui minggu lalu.

Ternyata proyek yang kukerjakan memiliki bonus besar jika berhasil ditandatangani klien utama.

Dimas berencana menempatkan Rani sebagai penanggung jawab baru agar bonus tersebut masuk melalui posisinya.

Sebagian uang itu akan digunakan untuk mengganti uangku sebelum aku menyadari tabunganku telah hilang.

Aku menatap Rani.

—Dan kamu setuju?

Air mukanya dipenuhi rasa malu.

—Awalnya Dimas bilang Kakak memang akan pindah divisi setelah menikah. Dia bilang Kakak sudah setuju.

Aku tertawa pahit.

Jadi semuanya tersusun rapi.

Aku kehilangan proyek.

Rani mendapatkan posisi.

Bonus proyek dipakai untuk menutup uang yang dicuri dariku.

Kemudian kami menikah.

Setelah menjadi suami istri, Dimas mungkin berharap aku tidak lagi mempertanyakan ke mana uang itu pergi.

Aku menutup map.

—Aku akan membawa semua dokumen ini.

Dimas langsung menggeleng.

—Jangan bawa masalah keluarga ke kantor.

Aku menatapnya.

—Kamulah yang membawa masalah keluarga ke kantor saat kamu mengambil proyekku.

Aku memasukkan dokumen ke tas.

Sebelum pergi, anak kecil itu tiba-tiba menarik ujung bajuku.

Aku menunduk.

Dia memandangku polos.

—Tante marah sama Papa?

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya aku berjongkok.

—Tante tidak marah padamu.

Aku mengusap kepalanya.

—Apa pun yang terjadi setelah ini, bukan salahmu.

Aku berdiri dan berjalan keluar.

Dimas mengejarku sampai ke gerbang.

—Kalau kamu membawa dokumen itu ke perusahaan, karierku selesai.

Aku berhenti.

Menoleh kepadanya.

—Saat kamu mengambil pekerjaanku, apakah kamu pernah memikirkan karierku?

Dia terdiam.

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Keesokan paginya, pukul delapan tepat, aku masuk ke kantor.

Bukan menuju meja kerjaku.

Aku langsung menuju ruang direktur utama.

Di tanganku ada map milik Rani, riwayat transfer bank, salinan perubahan laporan proyek, dan bukti akses sistem milik Dimas.

Direktur utama membaca semuanya hampir empat puluh menit.

Wajahnya semakin serius.

Akhirnya dia menekan tombol telepon.

—Minta bagian audit internal dan HR datang sekarang.

Lalu dia menatapku.

—Apakah Dimas tahu kamu membawa semua ini?

Aku menggeleng.

Direktur itu menghela napas.

—Kalau begitu, jangan meninggalkan ruangan ini.

Lima belas menit kemudian, pintu terbuka.

Dimas masuk bersama dua orang dari audit internal.

Begitu melihatku duduk di sana, langkahnya langsung berhenti.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Salah seorang auditor meletakkan laptop di meja.

—Kami baru memeriksa akun internal Pak Dimas.

Dia membuka sebuah folder.

—Kami menemukan bukan hanya tiga laporan yang diubah.

Aku menatap layar.

Auditor itu melanjutkan:

—Ada dua belas dokumen proyek lain, beberapa transaksi anggaran, dan satu surat persetujuan atas nama Anda.

Dia memutar layar laptop ke arahku.

Aku membaca surat tersebut.

Dan darahku seperti berhenti mengalir.

Itu adalah surat pengunduran diri.

Atas namaku.

Tanggal efektifnya…

hari Senin depan.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)