BAGIAN 3 — Surat Pengunduran Diri Palsu Menjadi Kesalahan Terakhir Dimas, Sementara Aku Merebut Kembali Karier, Hidup, dan Masa Depanku Sendiri
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku membaca surat tersebut sampai selesai.
Nama lengkapku benar.
Nomor pegawaiku benar.
Bahkan format tanda tangannya dibuat menyerupai milikku.
Hanya satu hal yang salah.
Aku tidak pernah membuat surat itu.
Direktur utama menatap Dimas.
—Jelaskan.
Dimas mencoba mempertahankan ketenangan.
—Mungkin ada kesalahan sistem.
Auditor langsung menyela.
—Dokumen ini diunggah dari akun Anda tiga hari lalu.
Dimas terdiam.
Aku justru merasa sangat tenang.
Ternyata rencananya jauh lebih lengkap daripada yang kubayangkan.
Aku bukan hanya akan kehilangan proyek.
Aku akan dibuat seolah-olah mengundurkan diri secara sukarela.
Setelah aku keluar, semua laporan dan pekerjaanku dapat dialihkan kepada Rani tanpa banyak pertanyaan.
Dan mungkin setelah itu Dimas akan mengatakan kepadaku bahwa semuanya terjadi karena “keputusan perusahaan”.
Aku mengeluarkan cincin pertunangan dari jariku.
Meletakkannya di meja.
Dimas menatap cincin itu.
—Jangan lakukan ini.
—Sudah terlambat.
—Aku melakukan semuanya demi anakku.
Aku menatapnya lurus.
—Jangan gunakan anakmu untuk membenarkan apa yang kamu lakukan.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, Dimas tidak bisa membalas.
Aku melanjutkan:
—Menyayangi anakmu bukan kesalahan. Menanggung hidupnya bukan kesalahan. Bahkan jika sejak awal kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu punya anak, mungkin aku masih bisa menerima itu.
Aku menunjuk dokumen-dokumen di meja.
—Tapi mencuri uangku, menggunakan identitasku, mengambil hasil kerjaku dan memalsukan surat pengunduran diriku adalah pilihanmu sendiri.
Direktur utama kemudian meminta Dimas menyerahkan kartu akses dan laptop perusahaan.
Mulai hari itu, dia dinonaktifkan sementara selama proses pemeriksaan internal.
Aku juga menyerahkan seluruh bukti yang berkaitan dengan uang dan dokumen rumah kepada penasihat hukum.
Proses berikutnya tidak selesai dalam sehari.
Butuh waktu berminggu-minggu.
Aku memberikan keterangan berkali-kali.
Perusahaan memeriksa seluruh riwayat akses dokumen.
Bank membantu menelusuri transaksi.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku berhenti memikirkan bagaimana caranya mempertahankan hubunganku dengan Dimas.
Aku hanya memikirkan bagaimana mengambil kembali hidupku.
Rani juga diperiksa.
Namun bukti menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui sebagian besar manipulasi yang dilakukan Dimas.
Dia memang menerima posisi yang seharusnya menjadi milikku, tetapi dia mengaku percaya pada cerita Dimas bahwa aku akan meninggalkan divisi setelah menikah.
Rani kemudian menyerahkan seluruh komunikasi mereka kepada perusahaan.
Itu membantu memperjelas banyak hal.
Dua minggu kemudian, perusahaan memanggilku.
Direktur utama menyerahkan keputusan resmi.
Seluruh perubahan pada proyek dibatalkan.
Namaku dikembalikan sebagai penanggung jawab utama.
Laporan-laporan yang sebelumnya diganti kembali mencantumkan namaku sebagai penyusun.
Dan surat pengunduran diri palsu dinyatakan tidak berlaku.
Aku menatap dokumen itu cukup lama.
Dulu aku berpikir hal paling menyakitkan adalah kehilangan Dimas.
Ternyata bukan.
Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa selama ini aku perlahan-lahan mengecilkan diriku sendiri demi hubungan tersebut.
Aku menunda beberapa kesempatan kerja karena Dimas mengatakan kami akan segera menikah.
Aku menyerahkan tabunganku karena percaya kami sedang membangun masa depan bersama.
Aku bahkan hampir percaya ketika dia berkata jabatan tidak penting karena setelah menikah uangnya juga akan menjadi uangku.
Sekarang aku memahami sesuatu.
Cinta yang sehat tidak meminta seseorang menyerahkan masa depannya agar orang lain bisa merasa aman.
Sebulan kemudian, masalah rumah akhirnya mendapat penyelesaian.
Karena rumah tersebut didaftarkan atas namaku menggunakan tanda tangan palsu, penasihat hukum mengatakan aku memiliki dasar kuat untuk mempermasalahkan seluruh transaksi.
Namun aku tidak menginginkan rumah itu.
Aku juga tidak ingin seorang anak kecil kehilangan tempat tinggal karena kesalahan orang dewasa.
Setelah melalui proses resmi, dibuat kesepakatan bahwa rumah akan dialihkan ke sebuah pengaturan hukum untuk kepentingan anak Dimas setelah dana milikku dikembalikan sepenuhnya.
Dimas harus menjual sebagian aset pribadinya untuk membayar kembali uang tersebut.
Aku tidak merasa menang melihatnya kehilangan sesuatu.
Aku hanya merasa akhirnya sesuatu yang bukan miliknya kembali kepadaku.
Suatu sore, Rani datang menemuiku di sebuah kedai kopi.
Dia tampak jauh lebih sederhana dibandingkan ketika pertama kali masuk perusahaan.
—Aku datang untuk meminta maaf.
Aku tidak langsung menjawab.
Rani melanjutkan:
—Aku tahu permintaan maaf tidak menghapus apa yang terjadi. Aku seharusnya bertanya langsung kepadamu sebelum menerima posisi itu.
—Kenapa sekarang?
Dia tersenyum tipis.
—Aku mengundurkan diri.
Aku terkejut.
—Perusahaan tidak memecatmu.
—Aku tahu. Tapi aku ingin memulai lagi di tempat lain tanpa terus membawa cerita ini.
Sebelum pergi, dia mengatakan satu hal yang tidak pernah kuduga.
—Anak itu sering bertanya tentang Tante yang datang hari itu.
Aku tersenyum kecil.
—Bilang padanya aku tidak marah kepadanya.
Rani mengangguk.
Setelah hari itu, kami tidak menjadi sahabat.
Namun kami juga tidak menjadi musuh.
Kadang-kadang akhir yang baik bukan berarti semua orang harus saling menyukai.
Kadang-kadang cukup dengan berhenti saling menyakiti.
Tiga bulan berlalu.
Proyek akhirnya memasuki tahap terakhir.
Pada hari kontrak utama ditandatangani, seluruh tim berkumpul di ruang rapat.
Ketika klien menandatangani halaman terakhir, semua orang bertepuk tangan.
Aku berdiri di depan layar presentasi dan tiba-tiba teringat hari ketika namaku dicoret dari proyek ini.
Dulu aku mengira email itu menghancurkan hidupku.
Sekarang aku sadar email tersebut justru membuka pintu yang selama ini terlalu takut kubuka.
Seminggu kemudian, aku dipanggil kembali oleh direktur utama.
Kali ini tidak ada masalah.
Dia menawarkan kepadaku posisi kepala divisi.
Posisi yang tiga bulan sebelumnya hampir hilang dariku.
Aku menerimanya.
Dengan satu syarat.
—Promosi ini harus berdasarkan hasil kerjaku, bukan sebagai kompensasi atas apa yang terjadi.
Direktur itu tersenyum.
—Justru karena hasil kerjamu.
Aku keluar dari ruangan sambil membawa surat pengangkatan.
Tidak ada Dimas yang menungguku.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada cincin.
Namun anehnya, aku merasa jauh lebih utuh dibandingkan ketika masih memiliki semua itu.
Enam bulan kemudian, aku pindah dari apartemen lama.
Aku membeli sebuah apartemen kecil dengan uang yang berhasil kukumpulkan kembali.
Tidak terlalu besar.
Hanya dua kamar.
Namun untuk pertama kalinya, namaku tercantum jelas pada dokumen kepemilikan.
Hari pertama pindah, aku membeli tirai sendiri.
Meja makan sendiri.
Bahkan sebuah tanaman kecil yang kutaruh di dekat jendela.
Sahabatku datang membantu membawa barang.
Ketika semuanya selesai, dia berdiri di ruang tamu sambil memandang sekeliling.
—Sepi juga.
Aku tersenyum.
—Aku suka.
—Tidak takut tinggal sendiri?
Aku membuka jendela.
Angin sore masuk membawa suara kendaraan dari jalan.
—Dulu aku lebih takut sendirian daripada kehilangan diriku sendiri.
Aku menatap ruangan kecil itu.
—Sekarang tidak lagi.
Hampir setahun setelah kejadian tersebut, aku menerima sebuah amplop di kantor.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat sebuah gambar anak-anak.
Gambar sebuah rumah dengan matahari besar di atasnya.
Ada seorang anak kecil berdiri di depan rumah bersama dua perempuan.
Di bagian bawah terdapat tulisan dengan huruf yang masih berantakan:
“Terima kasih, Tante.”
Aku langsung tahu siapa yang mengirimnya.
Aku menyimpan gambar itu di laci meja.
Bukan karena masih ingin memiliki hubungan dengan masa lalu.
Namun karena anak tersebut mengingatkanku pada satu hal penting.
Kita tidak harus menghancurkan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Kita hanya perlu berhenti membiarkan orang lain menghancurkan kita.
Dimas tidak pernah kembali ke hidupku.
Aku mendengar dari orang lain bahwa setelah menyelesaikan kewajibannya, dia pindah ke kota lain dan mulai bekerja dari awal.
Aku tidak mencari tahu lebih jauh.
Kisah kami sudah selesai.
Dua tahun kemudian, pada suatu Senin pagi, aku menerima sebuah email.
Untuk sesaat aku tertawa karena teringat bagaimana semuanya bermula.
Namun kali ini isi emailnya berbeda.
Perusahaan memintaku memimpin proyek baru dengan tim yang jauh lebih besar.
Aku menutup laptop dan melihat pantulan diriku di jendela kantor.
Dulu aku pernah berpikir masa depanku adalah sebuah pernikahan, sebuah apartemen bersama, dan kehidupan yang sudah direncanakan bersama Dimas.
Ternyata masa depan bisa berubah hanya dalam beberapa hari.
Dan perubahan tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang-kadang kita kehilangan seseorang agar bisa menemukan kembali diri sendiri.
Sore itu aku pulang ke apartemenku.
Di meja makan ada beberapa dokumen proyek yang harus kubaca.
Di dekat jendela, tanaman kecil yang kubeli saat pertama pindah kini sudah tumbuh memenuhi pot.
Aku membuat secangkir teh lalu berdiri di balkon.
Di bawah sana, lampu kota mulai menyala satu per satu.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari sahabatku:
“Besok makan malam? Jangan bilang sibuk lagi.”
Aku tersenyum dan membalas:
“Boleh. Kali ini aku yang traktir.”
Aku meletakkan ponsel.
Tidak ada lagi seseorang yang menentukan pekerjaan apa yang boleh kupertahankan.
Tidak ada lagi seseorang yang menggunakan uangku tanpa izin.
Tidak ada lagi cincin yang membuatku percaya bahwa aku harus memaafkan kebohongan demi mempertahankan sebuah masa depan.
Karena akhirnya aku memahami bahwa masa depan bukan sesuatu yang diberikan seseorang kepadaku.
Aku bisa membangunnya sendiri.
Dan mungkin itulah akhir paling baik dari seluruh cerita ini.
Aku tidak mendapatkan kembali pria yang pernah kucintai.
Aku mendapatkan kembali uangku.
Namaku.
Karierku.
Kepercayaan diriku.
Dan yang paling penting—
aku mendapatkan kembali diriku sendiri.
