BAGIAN 2 — PEREMPUAN DALAM REKAMAN ITU AKHIRNYA MELANGKAH MAJU, NAMUN PENGAKUANNYA JUSTRU MEMBUKA RAHASIA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN BU RATIH
Sari menatap satu per satu wajah orang yang berdiri di dalam gudang tua itu.
Tak ada seorang pun berbicara.
Suara dari ponsel telah berhenti, tetapi kalimat terakhir perempuan dalam rekaman masih terasa menggantung di udara.
—Lalu bagaimana dengan Sari? Pembantu itu terlalu sering berada di dekatnya. Bagaimana kalau dia mengetahui semuanya?
Sari tahu suara itu.
Perlahan pandangannya berhenti pada seorang perempuan yang sejak tadi berdiri paling belakang.
Namanya Maya.
Dia adalah istri Arman.
Sejak awal acara, ketika anggota keluarga lain membicarakan toko, rumah, perhiasan, dan saham, Maya tidak meminta apa pun.
Sari sebelumnya mengira perempuan itu memang tidak serakah.
Sekarang dia memahami alasannya.
Maya tidak perlu meminta.
Karena jika rencana Arman berhasil, dia akan mendapatkan jauh lebih banyak daripada semua orang di ruangan itu.
—Itu suara Anda, bukan?
Maya langsung menggeleng.
—Tidak.
—Aku juga mengenal suara istriku sendiri.
Arman tiba-tiba menyela.
Semua orang menoleh kepadanya.
Maya memandang suaminya dengan tidak percaya.
—Arman!
—Sudah cukup.
Suara Arman terdengar berat.
—Tidak ada gunanya menyangkal lagi.
Maya berjalan mendekatinya.
—Kau mau menyalahkan aku sekarang?
—Aku tidak menyalahkan siapa pun.
—Kau yang memulai semuanya!
Bu Ratih memejamkan mata.
Sari segera mendekatinya dan memegang lengannya.
—Bu, sebaiknya kita kembali ke dalam.
Namun Bu Ratih menggeleng.
—Tidak. Aku sudah terlalu lama membiarkan mereka menganggap aku tidak tahu apa-apa. Malam ini semuanya harus selesai.
Putra kedua Bu Ratih mengambil salah satu dokumen.
—Kak, benar kau yang melakukan semua ini?
Arman tidak menjawab.
—Jawab!
—Ya.
Satu kata itu membuat suasana semakin dingin.
Arman menarik napas panjang.
Dia kemudian mengakui bahwa dua tahun sebelumnya bisnis keluarga mengalami masalah arus kas. Salah satu proyek ekspansi gagal, sementara beberapa pinjaman perusahaan jatuh tempo hampir bersamaan.
Dia takut mengaku kepada ibunya.
Bu Ratih selalu mengajarinya bahwa bisnis boleh mengalami kerugian, tetapi keluarga tidak boleh menyembunyikan kesalahan.
Namun Arman memilih jalan lain.
Awalnya dia hanya memindahkan sementara satu aset untuk mendapatkan pinjaman.
Setelah itu, dia membuat dokumen kedua.
Lalu ketiga.
Kebohongan yang awalnya kecil berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat dia kendalikan.
Maya mengetahui semuanya beberapa bulan kemudian.
Bukannya menghentikan suaminya, dia justru menyarankan agar seluruh kepemilikan perusahaan dipindahkan sekaligus.
Setelah itu, mereka berencana mengatakan bahwa kesehatan Bu Ratih sudah menurun sehingga keputusan bisnis harus sepenuhnya berada di tangan Arman.
—Dan panti jompo?
Suara Bu Ratih terdengar sangat pelan.
Arman menunduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak berani menatap ibunya.
—Aku marah ketika mengatakannya.
—Tetapi kau mengatakannya.
Arman tidak menjawab.
Mata Bu Ratih berkaca-kaca.
—Rumah ini dibangun ayahmu sedikit demi sedikit. Ketika kalian masih kecil, kami bahkan pernah menjual perhiasanku untuk membayar gaji pegawai. Aku tidak pernah takut kehilangan uang. Tapi aku tidak pernah menyangka anakku sendiri takut kepadaku hanya karena harus mengakui sebuah kegagalan.
Arman akhirnya menatap ibunya.
—Aku malu.
—Karena perusahaan rugi?
—Karena aku selalu merasa harus menjadi anak yang paling berhasil.
Bu Ratih menggeleng.
—Aku tidak pernah meminta itu.
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Kemudian Maya berkata:
—Jangan bertindak seolah hanya Arman yang salah. Selama bertahun-tahun semua orang datang kepada Ibu meminta sesuatu. Rumah, modal usaha, uang sekolah anak. Kenapa ketika Arman mengambil sesuatu untuk menyelamatkan bisnis, dia tiba-tiba menjadi penjahat?
Bu Ratih menatap menantunya.
—Karena meminta dan mencuri adalah dua hal berbeda.
Maya terdiam.
—Dan menyelamatkan perusahaan tidak membutuhkan tanda tanganku untuk memindahkan rumah pribadi, tanah, dan rekening investasi ke perusahaan yang kau dan Arman dirikan diam-diam.
Wajah Maya berubah.
Sari terkejut.
Ternyata Bu Ratih mengetahui lebih banyak daripada yang mereka kira.
Putri bungsunya bertanya:
—Bu, sejak kapan Ibu tahu?
Bu Ratih memandang Sari.
—Hampir empat bulan.
Semua orang terkejut.
Empat bulan sebelumnya, Bu Ratih menemukan satu laporan bank yang tidak dia kenali.
Dia tidak langsung menghadapi Arman.
Sebaliknya, dia meminta bantuan seorang akuntan lama keluarga untuk memeriksa semuanya secara diam-diam.
Sedikit demi sedikit, bukti dikumpulkan.
Salinan dokumen disimpan di gudang.
Rekaman percakapan itu berasal dari ponsel lama yang tanpa sengaja tertinggal menyala di ruang kerja saat Arman dan Maya berbicara.
—Lalu kenapa Ibu tidak langsung melaporkannya?
Putra keduanya bertanya.
Bu Ratih tersenyum pahit.
—Karena sebelum menjadi pemilik perusahaan, aku seorang ibu.
Dia masih berharap Arman akan mengaku sendiri.
Itulah alasan dia mengadakan acara malam ini.
Dia ingin melihat apa yang dipilih setiap anak ketika diberi kesempatan mengambil sesuatu tanpa harus memperebutkannya.
Namun ternyata justru Sari yang memilih satu-satunya benda yang dapat membuka kebenaran.
Sari menunduk.
—Saya tidak tahu semua ini, Bu.
—Aku tahu.
Bu Ratih menggenggam tangannya.
—Itulah sebabnya pilihanmu berarti.
Mendadak terdengar suara keras.
Maya mengambil beberapa dokumen dan mencoba merobeknya.
Sari refleks maju, tetapi Bu Ratih menahannya.
Pengurus rumah segera mengambil kembali dokumen tersebut.
Bu Ratih tetap tenang.
—Tidak perlu. Itu hanya salinan.
Maya membeku.
—Dokumen asli sudah berada di tempat aman.
Arman menatap ibunya.
—Jadi sejak awal Ibu sudah menyiapkan semuanya?
—Aku menyiapkan perlindungan. Bukan balas dendam.
Bu Ratih kemudian mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya.
Di dalamnya terdapat surat dari penasihat hukum keluarga.
Seluruh pemindahan aset yang menggunakan tanda tangan palsu sedang dalam proses dibatalkan. Rekening terkait telah diperiksa dan akses terhadap aset tertentu sudah dibatasi sampai audit selesai.
Namun Bu Ratih belum selesai.
Dia memandang Arman.
—Besok pagi kau akan menyerahkan seluruh akses perusahaan kepada tim audit independen. Kau tidak boleh menyentuh rekening atau dokumen apa pun sampai pemeriksaan selesai.
Maya langsung berseru:
—Tidak! Kalau dia kehilangan perusahaan, kami kehilangan semuanya!
Bu Ratih menatapnya.
—Itulah yang kau takutkan sejak awal, bukan? Bukan kehilangan keluarga. Kehilangan uang.
Maya tidak mampu menjawab.
Lalu sesuatu yang tidak disangka terjadi.
Arman melepaskan jam tangan mahal dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di atas meja.
Kemudian dia mengeluarkan kunci mobil.
—Aku setuju.
Maya menatapnya seolah tidak mengenal pria itu.
—Apa?
—Aku akan menyerahkan semuanya.
—Kau gila?
Arman menggeleng.
—Tidak. Aku hanya terlambat sadar bahwa selama dua tahun aku terus menutupi satu kesalahan dengan kesalahan berikutnya.
Dia menatap ibunya.
—Aku akan bertanggung jawab.
Bu Ratih tidak tersenyum.
Dia juga tidak memeluk putranya.
—Tanggung jawab bukan kata-kata, Arman. Buktikan.
Arman mengangguk.
Saat semua orang mulai meninggalkan gudang, Bu Ratih meminta Sari tetap tinggal.
Perempuan tua itu berjalan menuju salah satu kardus tua dan membukanya.
Di dalamnya terdapat foto-foto keluarga dari puluhan tahun lalu.
Bu Ratih mengambil sebuah foto.
Di sana terlihat dirinya ketika masih muda berdiri bersama seorang perempuan sederhana yang menggendong bayi.
Sari menatap foto itu cukup lama.
Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Perempuan dalam foto tersebut terasa sangat dikenalnya.
—Bu… siapa perempuan ini?
Bu Ratih tidak langsung menjawab.
Dia justru bertanya:
—Sari, kau pernah bilang ibumu meninggal ketika kau masih kecil, bukan?
—Ya.
—Dan sebelum meninggal, dia bekerja sebagai apa?
Sari menelan ludah.
—Pembantu rumah tangga.
Bu Ratih menyerahkan foto itu kepadanya.
—Namanya Dewi?
Tangan Sari gemetar.
—Bagaimana Ibu tahu nama ibu saya?
Bu Ratih menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
—Karena tiga puluh tahun lalu, ibumu pernah menyelamatkan keluarga ini.
Dan untuk kedua kalinya malam itu, Sari merasa sebuah pintu yang jauh lebih besar daripada pintu gudang baru saja terbuka di hadapannya.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
