Dua Pinjaman Rahasia Membuka Kebohongan Bertahun-Tahun, dan Malam Itu Aku Menyadari Pernikahanku Tak Bisa Lagi Diselamatkan dengan Diam

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 290 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Dua Pinjaman Rahasia Membuka Kebohongan Bertahun-Tahun, dan Malam Itu Aku Menyadari Pernikahanku Tak Bisa Lagi Diselamatkan dengan Diam

Ruangan itu begitu sunyi hingga suara napas kami terdengar jelas. Aku masih memegang ponsel dengan pengeras suara menyala, sementara ibu mertuaku berdiri kaku di dekat pecahan gelas.

Suamiku menatap ibunya.

—Bu, apa maksud Ibu dengan “ketiga kalinya”?

Tidak ada jawaban.

Adik iparku menunduk.

Petugas bank masih menunggu di ujung telepon.

Aku memaksa diriku tetap tenang.

—Bu, tolong jelaskan dua perjanjian kredit lainnya.

Petugas itu menjawab bahwa detail lengkap tidak bisa disampaikan melalui telepon sebelum identitasku diverifikasi. Namun ia memastikan kedua dokumen menggunakan data pribadiku dan salah satunya sudah memiliki kewajiban pembayaran berjalan.

Dadaku terasa sesak.

—Tolong blokir semua proses baru yang menggunakan identitas saya. Besok pagi saya datang membawa dokumen asli.

Setelah mendapat penjelasan tentang prosedur yang harus kulakukan, aku mengakhiri panggilan.

Barulah aku menatap ketiga orang di depanku.

—Sekarang bicara.

Ibu mertua akhirnya duduk.

—Tidak separah yang kamu pikirkan.

Aku hampir tertawa.

Namaku dipakai tanpa izin.

Tanda tanganku diduga dipalsukan.

Ada utang yang bahkan tidak kuketahui.

Namun menurutnya, itu “tidak separah yang kupikirkan”.

—Kalau begitu jelaskan.

Adik iparku tiba-tiba menangis.

—Kak, aku bisa menjelaskan.

—Aku sedang mendengarkan.

Dia menggigit bibir.

Tiga tahun lalu, ketika usaha kosmetiknya gagal, kerugiannya ternyata jauh lebih besar daripada yang kami ketahui.

Dia meminjam uang dari beberapa pihak untuk menutup modal.

Ibu mertua mengetahuinya.

Alih-alih memberitahu suamiku, mereka memilih menutupinya.

Saat itulah mereka menemukan salinan dokumen identitasku yang pernah kuserahkan untuk mengurus administrasi keluarga setelah menikah.

Aku menatap ibu mertua.

—Jadi sejak saat itu kalian menggunakan dataku?

—Awalnya cuma sekali.

—Sekali?

Aku menunjuk ponsel.

—Bank baru saja mengatakan ada tiga urusan berbeda!

Ibu mertua membalas dengan suara meninggi.

—Kami berniat membayarnya!

—Dengan uang siapa?

Dia terdiam.

Pertanyaan sederhana itu menghancurkan seluruh pembelaannya.

Aku membuka perekam suara di ponsel dan meletakkannya di atas meja.

—Lanjutkan.

Adik iparku menatap perangkat itu dengan takut.

—Kak merekam?

—Ya.

Ibu mertua langsung berdiri.

—Matikan!

—Tidak.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak merasa takut ketika berhadapan dengannya.

Aku hanya merasa lelah.

Suamiku tiba-tiba berkata,

—Biarkan dia merekam.

Ibunya menoleh tajam.

—Kamu membela istrimu sekarang?

Dia menjawab,

—Kalau benar Ibu menggunakan identitasnya tanpa izin, Ibu memang salah.

Aku menatap suamiku.

Ada sedikit kelegaan di hatiku, tetapi perasaan itu tidak bertahan lama.

Aku bertanya,

—Kamu benar-benar tidak tahu?

Dia menatap mataku.

—Aku bersumpah tidak tahu tentang tanah dan pinjaman ini.

—Tentang pinjaman mungkin tidak. Tapi tentang dokumen pribadiku?

Wajahnya berubah.

Aku langsung memahami jawabannya.

—Kamu pernah memberikan dokumenku kepada mereka?

Dia diam cukup lama.

Kemudian berkata pelan,

—Dua tahun lalu Ibu bilang membutuhkan salinan identitasmu untuk mengurus administrasi keluarga.

Jantungku seperti jatuh.

—Dan kamu memberikannya tanpa bertanya kepadaku?

—Aku pikir tidak ada masalah.

Aku mengangguk perlahan.

Itulah masalah terbesar dalam pernikahan kami.

Dia selalu berpikir semuanya “tidak ada masalah” selama yang meminta adalah keluarganya.

Tabunganku boleh dibicarakan.

Dokumenku boleh diberikan.

Waktuku boleh digunakan.

Batas pribadiku boleh dilewati.

Karena menurutnya, keluarga tidak perlu meminta izin.

Aku mengambil tas.

—Besok aku akan pergi ke bank, lalu mencari bantuan hukum untuk menyelesaikan semua dokumen ini.

Adik iparku langsung menangis semakin keras.

—Kak, jangan! Kalau masalah ini diperbesar, aku bisa kehilangan semuanya!

Aku menatapnya.

—Kamu takut kehilangan semuanya?

Aku menunjuk diriku sendiri.

—Pernahkah kamu berpikir aku bisa kehilangan apa karena perbuatan kalian?

Tidak ada jawaban.

Aku masuk kamar dan mengemas beberapa pakaian.

Suamiku mengikuti.

—Kamu mau ke mana?

—Pergi.

—Kita bisa menyelesaikannya bersama.

Aku menutup koper.

—Masalahnya bukan hanya dua pinjaman itu.

Dia terdiam.

—Empat tahun aku hidup dengan aturan keluargamu. Ketika ibumu membutuhkan sesuatu, aku harus mengerti. Ketika adikmu membutuhkan uang, aku harus membantu. Ketika aku keberatan, aku disebut egois.

Aku memandangnya.

—Kemarin kamu bahkan menyuruhku memberikan dua ratus lima puluh juta rupiah tanpa pernah bertanya apakah aku rela.

Dia menunduk.

—Aku salah.

—Ya.

Kali ini aku tidak menenangkan dirinya.

Aku menarik koper keluar.

Ibu mertua berdiri di ruang tamu.

—Kalau kamu keluar malam ini, jangan berharap bisa kembali sesukamu!

Aku berhenti.

Dulu kalimat seperti itu mungkin membuatku menangis.

Sekarang aku hanya menjawab,

—Tenang saja. Saya tidak berencana kembali sebelum semuanya jelas.

Aku pergi ke rumah seorang teman.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Keesokan paginya, aku datang ke bank bersama seorang konsultan hukum.

Setelah pemeriksaan berlangsung hampir dua jam, gambaran sebenarnya mulai terlihat.

Tanah tersebut memang dibeli menggunakan kombinasi uang ibu mertua dan pinjaman.

Namaku dicantumkan dalam salah satu dokumen tanpa persetujuanku.

Dua fasilitas kredit lainnya terkait usaha adik iparku.

Salah satunya sudah dilunasi sebagian.

Satu lagi masih memiliki kewajiban cukup besar.

Aku menyerahkan contoh tanda tangan asli, bukti aktivitas rekening, dan riwayat keberadaanku pada tanggal dokumen dibuat.

Pihak bank membuka pemeriksaan internal dan membekukan proses pinjaman terbaru.

Aku juga membuat laporan resmi agar jelas bahwa aku menyangkal transaksi yang tidak pernah kusetujui.

Tiga hari kemudian, suamiku datang menemuiku.

Wajahnya terlihat jauh lebih lelah.

Dia meletakkan sebuah map di depanku.

—Aku sudah memeriksa semuanya.

Aku tidak menyentuh map itu.

—Lalu?

—Ibu dan adikku mengaku.

Dia menjelaskan bahwa keluarganya sedang berusaha menjual mobil adiknya dan beberapa aset lain untuk menutup kewajiban yang memang menjadi tanggung jawab mereka.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu bank.

—Ini rekening tabunganku sendiri. Aku akan menanggung bagian yang memang pernah kubantu atau kusetujui. Tapi uangmu tidak akan disentuh lagi.

Aku menatapnya.

—Kamu datang untuk meminta aku pulang?

Dia terdiam.

—Awalnya iya.

—Sekarang?

Dia menarik napas panjang.

—Sekarang aku sadar aku tidak berhak meminta itu sebelum aku memperbaiki kesalahanku sendiri.

Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan sesuatu yang tidak menyalahkan keadaan, ibunya, atau aku.

Namun satu kalimat tidak bisa menghapus empat tahun.

Aku berkata,

—Aku ingin berpisah sementara.

Matanya memerah.

Tetapi dia mengangguk.

—Baik.

Sebelum pergi, dia berkata,

—Apa pun keputusanmu nanti, aku akan menghormatinya.

Dua minggu berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.

Namun perlahan, semua mulai terurai.

Proses pinjaman baru dibatalkan.

Dokumen-dokumen yang menggunakan identitasku masuk pemeriksaan.

Kewajiban yang terbukti bukan milikku mulai dipisahkan dari namaku melalui prosedur resmi.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, gajiku masuk ke rekening tanpa harus langsung memikirkan kebutuhan keluarga suamiku.

Suatu sore, aku membuka aplikasi bank.

Saldo tabunganku masih ada.

Aku menatap angka itu lama sekali.

Dulu aku mengira uang itu adalah jalan menuju sebuah rumah.

Sekarang aku menyadari sesuatu.

Rumah bukan sekadar bangunan yang bisa kubeli.

Rumah adalah tempat di mana aku tidak perlu takut mengatakan “tidak”.

Saat itulah sebuah pesan masuk dari suamiku.

“Besok hasil pemeriksaan dokumen terakhir keluar. Ada sesuatu tentang tanah itu yang menurut petugas harus kamu lihat sendiri.”

Aku membaca pesan tersebut dua kali.

Keesokan paginya aku datang ke bank.

Suamiku sudah menunggu.

Petugas membawa sebuah map tebal dan meletakkannya di hadapan kami.

—Kami menemukan sumber dana awal pembelian tanah tersebut.

Aku mengerutkan kening.

Petugas membuka halaman terakhir.

Kemudian menunjuk sebuah transaksi lama.

Begitu melihat nama pengirimnya, aku langsung berdiri.

Karena uang muka untuk membeli tanah yang selama ini diklaim sebagai milik keluarga suamiku…

Ternyata berasal dari rekening yang sangat kukenal.

Rekening milik almarhum ayahku.

Dan di kolom keterangan transaksi terdapat namaku sendiri.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)