BAGIAN 2 — Kunci Tua Membuka Ruangan yang Disembunyikan Bertahun-Tahun, Namun Rahasia di Dalamnya Membuatku Mempertanyakan Seluruh Pernikahanku
Aku menatap kunci tua di telapak tanganku.
—Apa maksud Ibu dengan rahasia yang berkaitan dengan pernikahanku?
Perempuan lanjut usia itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada ibu mertuaku.
—Kurasa dia yang seharusnya menjelaskan.
Ibu mertuaku menggeleng cepat.
—Jangan dengarkan dia. Perempuan itu hanya ingin mengambil milik keluarga kita.
—Milik keluarga?
Perempuan itu tersenyum pahit.
—Setelah lebih dari dua puluh tahun, kau masih berani mengatakan itu?
Suasana di lorong rumah sakit berubah mencekam.
Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi dokter keluar dari ruang perawatan intensif dan mengatakan kondisi suamiku sudah stabil. Dia belum sadar, namun untuk sementara nyawanya tidak lagi berada dalam bahaya.
Aku akhirnya mengambil keputusan.
—Kita pergi ke pabrik.
Adik iparku langsung menyela.
—Tidak ada yang boleh pergi ke sana!
Aku menatapnya.
—Kenapa?
—Karena… tempat itu sedang ditutup sementara.
—Kalau begitu, tidak ada yang akan mengganggu kita.
Aku meminta mantan kepala gudang ikut bersamaku. Perempuan lanjut usia itu juga ikut.
Sebelum pergi, aku menyerahkan ponsel lama kepada seseorang yang kupercaya dan memintanya membuat salinan seluruh rekaman.
Aku tidak ingin bukti satu-satunya menghilang.
Satu jam kemudian, kami tiba di pabrik.
Hari sudah menjelang sore.
Tanpa suara mesin dan pekerja, bangunan yang biasanya sibuk terasa asing.
Kami berjalan menuju gudang pendingin.
Di belakangnya terdapat lorong sempit yang selama bertahun-tahun kukira hanya menuju ruang penyimpanan peralatan.
Di ujung lorong ada sebuah pintu besi kecil.
Aku memasukkan kunci tua itu.
Klik.
Pintu terbuka.
Ruangan di baliknya ternyata tidak besar.
Ada meja kayu, lemari tua, rak penuh kotak, sebuah mesin jahit rusak, dan foto-foto lama yang menempel di dinding.
Aku mengambil salah satunya.
Foto itu memperlihatkan sebuah bangunan sederhana.
Di depannya berdiri perempuan yang sekarang berada di sampingku, tetapi jauh lebih muda.
Di sebelahnya ada seorang pria.
Aku tidak mengenalinya.
Di belakang foto tertulis sebuah tanggal lebih dari dua puluh tahun lalu.
—Tempat ini dulunya milik Ibu?
Aku bertanya.
Perempuan itu mengangguk.
Namanya Bu Ratih.
Dulu, dia dan suaminya memulai usaha makanan rumahan di tanah ini.
Mereka tidak kaya, tetapi usaha mereka berkembang.
Kemudian suaminya meninggal mendadak.
Saat Bu Ratih sedang berduka dan kesulitan mengurus usaha, seseorang menawarkan bantuan.
Orang itu adalah ayah mertuaku.
—Dia mengatakan akan mengelola usaha sampai aku pulih, kata Bu Ratih. —Aku percaya kepadanya karena keluarga kami sudah saling mengenal.
Namun beberapa bulan kemudian, Bu Ratih mengetahui usaha tersebut perlahan dialihkan.
Dia berusaha melawan.
Saat itulah ibu mertuaku ikut campur.
Bu Ratih akhirnya pergi dari kota setelah menerima tekanan dari berbagai pihak.
—Kenapa Ibu tidak kembali?
Aku bertanya.
Dia menunduk.
—Karena saat itu aku punya seorang anak kecil. Aku takut kehilangan lebih banyak daripada sebuah usaha.
Aku terdiam.
—Lalu apa hubungannya dengan pernikahanku?
Bu Ratih menatapku lama.
—Karena suamimu mengetahui semua ini sebelum menikahimu.
Jantungku seperti berhenti sesaat.
—Apa?
Dia menunjuk sebuah kotak kayu kecil.
Aku membukanya.
Tidak ada dokumen rahasia di dalamnya.
Hanya beberapa kaset rekaman lama, foto, buku catatan produksi, dan sebuah kamera digital generasi lama.
Mantan kepala gudang memasang kartu memori kamera itu ke laptop.
Puluhan foto muncul.
Beberapa di antaranya diambil sebelas tahun lalu.
Aku melihat suamiku.
Lebih muda.
Berdiri di ruangan yang sama.
Kemudian sebuah video pendek muncul.
Suamiku sedang berbicara dengan ayahnya.
—Kalau suatu hari pemilik lama kembali, bagaimana?
Ayahnya menjawab:
—Dia tidak akan kembali.
—Tapi tanah ini bukan milik kita.
—Mulai sekarang, jangan pernah mengatakan kalimat itu lagi.
Aku menutup mulut.
Sebelas tahun lalu.
Tepat beberapa bulan sebelum aku menikah dengannya.
Berarti dia tahu.
Selama ini aku mengira kami membangun usaha dari nol.
Padahal tempat pertama yang menjadi fondasi bisnis kami berdiri di atas masalah yang sudah ada jauh sebelum aku masuk ke keluarga itu.
Aku merasa marah.
Namun juga kecewa.
Bukan karena nilai tanah.
Melainkan karena suamiku membiarkanku menghabiskan sebelas tahun hidupku untuk sesuatu yang kebenarannya sengaja disembunyikan.
Bu Ratih kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
—Tapi suamimu mencoba memperbaikinya.
Aku menoleh.
—Apa?
—Tiga tahun lalu, dia mencariku.
Ternyata perubahan suamiku selama tiga tahun terakhir bukan semata-mata karena dia ingin menyembunyikan penggelapan uang.
Setelah ayahnya meninggal, dia menemukan catatan lama tentang asal-usul tanah.
Dia kemudian mencari Bu Ratih.
Suamiku menawarkan pengembalian tanah atau kompensasi.
Namun masalah menjadi rumit karena pabrik telah berkembang dan mempekerjakan puluhan orang.
Bu Ratih tidak ingin para pekerja kehilangan pekerjaan.
Mereka akhirnya sepakat mencari jalan tengah.
Lalu mengapa uang perusahaan menghilang?
Jawabannya membuatku semakin terkejut.
Sebagian memang digunakan suamiku untuk menyiapkan kompensasi kepada Bu Ratih.
Tetapi adik iparku mengetahui rencana itu.
Dia memanfaatkan rekening pemasok untuk mengalihkan uang jauh lebih besar daripada yang seharusnya.
Ketika suamiku menyadarinya, kerugian sudah mencapai miliaran rupiah.
—Jadi dia menyembunyikan semuanya dariku untuk melindungi keluarganya?
Aku bertanya.
Bu Ratih menggeleng.
—Aku tidak membenarkan caranya. Dia seharusnya jujur kepadamu.
Kalimat itu justru membuatku merasa sedikit lebih tenang.
Aku tidak membutuhkan alasan untuk membenarkan kebohongan.
Aku membutuhkan kebenaran.
Malam itu kami kembali ke rumah sakit.
Namun begitu lift terbuka, aku melihat beberapa orang berdiri di depan ruang perawatan suamiku.
Seorang petugas keamanan sedang berbicara dengan ibu mertua.
Adik iparku tidak terlihat.
Aku segera menghampiri mereka.
—Ada apa?
Petugas keamanan menjawab:
—Adik suami Ibu baru saja mencoba masuk ke ruang pasien dan membawa pasien keluar tanpa izin dokter.
Aku membeku.
—Dia sekarang di mana?
—Pergi sebelum kami bisa menghentikannya.
Pada saat yang sama, ponselku berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor adik iparku.
“Kalau Kakak ingin semuanya tetap baik-baik saja, jangan serahkan rekaman itu kepada siapa pun.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kemudian pintu ICU terbuka.
Seorang perawat berlari keluar.
—Bu, suami Anda sudah sadar.
Aku langsung masuk.
Suamiku membuka mata perlahan.
Begitu melihatku, bibirnya bergerak.
Aku mendekat.
Dia berbisik:
—Kamu sudah membuka ruangan itu?
Aku mengangguk.
Matanya langsung berkaca-kaca.
—Maafkan aku.
Aku menatapnya.
—Aku belum datang untuk memaafkanmu.
Wajahnya menegang.
Aku menggenggam tangannya.
—Aku datang karena kali ini aku ingin mendengar semuanya. Tidak ada lagi rahasia.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
Namun sebelum dia sempat berbicara, seorang polisi masuk ke ruangan.
Dia menunjukkan sesuatu di layar ponselnya.
—Kami baru menerima laporan. Adik suami Anda mencoba meninggalkan kota.
Aku menatap suamiku.
Dia memejamkan mata sejenak.
Lalu berkata pelan:
—Biarkan dia dihentikan.
Aku terkejut.
Suamiku kembali membuka mata.
—Aku sudah terlalu lama melindungi orang yang salah.
Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun pernikahan kami, aku merasa lelaki di depanku akhirnya siap mengatakan seluruh kebenaran.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
