Rekaman Tiga Minggu Sebelum Pernikahan Membuka Rencana Keluarga Ardi, Namun Satu Kalimat Terakhir Membuat Maya Mengubah Seluruh Keputusannya

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 181 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Rekaman Tiga Minggu Sebelum Pernikahan Membuka Rencana Keluarga Ardi, Namun Satu Kalimat Terakhir Membuat Maya Mengubah Seluruh Keputusannya

Aku menekan tombol putar.

Beberapa detik pertama hanya terdengar suara kursi bergeser dan dengungan kipas angin. Kemudian suara ibu mertua terdengar jelas.

—Kita tidak punya banyak waktu. Kalau utang itu jatuh tempo sebelum Ardi menikah, toko ini bisa habis.

Lalu suara Ardi menjawab.

—Apa hubungannya dengan Maya?

—Dia punya penghasilan tetap. Riwayat keuangannya bersih. Dan rumah peninggalan ayahnya nilainya cukup besar.

Tanganku langsung mencengkeram tepi meja.

Ardi yang duduk di depanku menunduk.

Rekaman terus berjalan.

—Aku tidak mau menyeret rumah ibunya.

—Siapa bilang kita langsung mengambil rumah itu? Kita hanya butuh namanya untuk memperkuat pengajuan. Setelah toko kembali menghasilkan, semuanya bisa dibereskan.

—Kalau Maya tahu?

Ibu mertua tertawa kecil.

—Kalau kalian sudah menikah, dia akan memikirkan keluarga sebelum membuat keributan.

Aku merasa dadaku sesak.

Jadi itulah alasan semua pertanyaan sebelum pernikahan.

Gajiku.

Pekerjaanku.

Surat keterangan penghasilan.

Rumah peninggalan ayah.

Mereka tidak sedang mengenalku sebagai calon menantu.

Mereka sedang menghitung nilai yang bisa mereka dapatkan dariku.

Namun kemudian suara Ardi terdengar lagi.

—Aku memang mencintai Maya.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

—Kalau begitu menikahlah dengannya lebih cepat. Kamu dapat perempuan yang kamu cintai, keluarga kita mendapat waktu untuk menyelamatkan toko. Semua orang untung.

Ardi menjawab sesuatu, tetapi suaranya terlalu kecil.

Lalu rekaman berhenti.

Aku menatapnya.

—Jadi kamu memang tahu semuanya.

—Aku tahu rencana awalnya.

—Dan kamu tetap menikahiku.

—Maya, dengarkan aku…

—Aku sudah terlalu banyak mendengarkan.

Aku berdiri.

Ibu mertua mencoba berbicara.

—Maya, keluarga kami memang salah, tetapi kami tidak berniat membuatmu kehilangan rumah.

Aku menatapnya.

—Memakai tanda tanganku tanpa izin sudah cukup.

Aku mengambil tablet dan ponsel lama itu.

Ardi berdiri menghadang.

—Kamu mau pergi ke mana?

—Pulang ke rumah ibuku.

—Sekarang?

—Sekarang.

Dia memegang lenganku.

Aku langsung menatap tangannya.

—Lepaskan.

Entah karena melihat ekspresiku atau akhirnya menyadari bahwa semuanya sudah terlalu jauh, Ardi perlahan melepaskan tangannya.

Aku mengambil tas.

Namun sebelum keluar, adik iparku memanggil.

—Kak Maya.

Aku menoleh.

Dia memberikan sebuah flashdisk kecil kepadaku.

—Semua salinan dokumen ada di sini. Termasuk pesan antara Kak Ardi, Ibu, Paman, dan orang yang membantu mengurus berkas.

Ibu mertua membentak namanya.

Namun gadis itu menangis sambil berkata:

—Cukup, Bu. Kalau kita terus menutupinya, kita bukan sedang menyelamatkan keluarga. Kita sedang menghancurkan hidup orang lain.

Aku menerima flashdisk itu.

—Terima kasih.

Malam itu aku tidak kembali ke kamar pengantin.

Aku pulang menemui ibuku.

Begitu pintu terbuka, ibu langsung melihat wajahku.

—Maya? Kenapa malam-malam begini?

Aku ingin berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Tetapi begitu melihat wajah ibu, pertahananku runtuh.

Aku memeluknya.

—Bu, besok kita harus mengurus sesuatu.

Aku menceritakan semuanya.

Ibu tidak menangis.

Dia hanya memegang tanganku dan berkata:

—Rumah bisa dipertahankan atau bahkan hilang. Uang bisa dicari lagi. Tapi Ibu tidak akan membiarkan anak Ibu tinggal di rumah orang yang menganggap hidupnya sebagai jaminan utang.

Keesokan paginya kami bergerak cepat.

Aku menghubungi pihak yang menangani dokumen kredit dan menyatakan bahwa tanda tangan tersebut bukan milikku.

Aku juga meminta seluruh proses yang menggunakan identitasku dihentikan sampai dilakukan pemeriksaan.

Bukti digital, foto dokumen, rekaman, serta data dari ponsel lama kusimpan dalam beberapa salinan.

Menjelang siang, kabar pertama datang.

Proses pengajuan pinjaman dihentikan sementara.

Sore harinya, proses pengalihan rumah ibuku juga ditahan untuk verifikasi.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, aku bisa bernapas sedikit lega.

Tetapi Ardi tidak berhenti menghubungiku.

Belasan panggilan.

Puluhan pesan.

Aku tidak menjawab.

Pada malam ketiga, dia datang ke rumah ibu.

Aku tidak membukakan pintu.

Ardi berdiri di luar hampir satu jam.

—Maya, aku tahu aku salah.

Aku berdiri di balik pintu.

—Pulanglah.

—Aku mencintaimu.

Kalimat itu justru membuatku semakin sedih.

—Mungkin kamu mencintaiku. Tapi kamu tetap membiarkan keluargamu memakai namaku.

Dia terdiam.

—Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sebelum kamu tahu.

—Itulah masalahnya, Ardi. Kamu bukan ingin melindungiku. Kamu hanya ingin aku tidak tahu.

Tidak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian, suara langkahnya menjauh.

Seminggu berlalu.

Pemeriksaan terhadap dokumen semakin luas.

Aku akhirnya mengetahui akar masalah sebenarnya.

Toko keluarga Ardi sudah mengalami kesulitan keuangan selama hampir dua tahun. Mereka mengambil beberapa pinjaman untuk menutup pinjaman sebelumnya.

Ketika kemampuan kredit keluarga menurun, mereka membutuhkan nama baru.

Namaku.

Yang lebih mengejutkan, ide memalsukan dokumen ternyata bukan berasal dari Ardi.

Paman yang mengurus pembukuanlah yang pertama mengusulkannya.

Ibu mertua menyetujuinya.

Ardi mengetahui rencana itu sebelum pernikahan.

Dia sempat menolak penggunaan rumah ibuku, tetapi tetap memberikan salinan dokumen pribadiku.

Bagiku, itu sudah cukup.

Cinta tidak menghapus pengkhianatan.

Dua minggu kemudian, Ardi meminta bertemu di sebuah kedai kopi.

Aku setuju.

Dia datang sendirian.

Wajahnya tampak jauh lebih kurus.

Dia meletakkan satu map di meja.

—Aku tidak datang untuk memintamu pulang.

Aku diam.

—Aku sudah membuat pernyataan lengkap tentang apa yang terjadi. Aku juga mengakui bahwa kamu tidak pernah memberikan izin.

Aku membuka map itu.

Di dalamnya terdapat salinan pernyataan dan dokumen pendukung.

—Kenapa?

Ardi tersenyum pahit.

—Karena untuk pertama kalinya aku mencoba melakukan hal yang seharusnya kulakukan sejak awal.

Aku menutup map.

—Aku tetap tidak bisa kembali.

—Aku tahu.

Matanya memerah.

—Aku cuma ingin memastikan kamu tidak menanggung utang keluarga kami.

Aku berdiri.

—Terima kasih karena akhirnya mengatakan yang sebenarnya.

Aku berjalan meninggalkannya.

Aku mengira itulah akhir dari semuanya.

Ternyata belum.

Satu bulan kemudian, ketika proses pemisahan kami sedang berjalan, adik iparku menelepon.

Suaranya gemetar.

—Kak Maya, ada sesuatu yang harus Kakak lihat.

—Apa?

—Tentang rumah ibu Kakak.

Jantungku kembali berdebar.

—Bukankah prosesnya sudah dihentikan?

—Bukan itu.

Dia menarik napas.

—Aku menemukan dokumen asli yang selama ini disembunyikan Paman.

—Dokumen apa?

Beberapa detik dia diam.

Kemudian dia berkata:

—Dokumen yang membuktikan keluarga kami sebenarnya tidak pernah punya hak menggunakan rumah itu sebagai jaminan. Dan kalau dokumen ini benar, justru ada sejumlah uang yang selama bertahun-tahun seharusnya menjadi hak Kak Maya.

Aku berdiri dari kursi.

—Uang apa?

Jawabannya membuatku terdiam.

—Uang investasi almarhum ayah Kakak yang dulu masuk ke toko keluarga kami.

Dan untuk pertama kalinya aku menyadari hubungan antara keluargaku dan keluarga Ardi ternyata sudah dimulai jauh sebelum aku mengenalnya.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)