Tiga Tahun Menjadi Istri Rahasia, Aku Mengedit Video Mesra Suamiku dengan Asistennya, Sampai Sebuah Kartu Akses Rumah Jatuh dari Tas Perempuan Itu Tepat di Depanku Saat Semua Orang Bersorak

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 383 tayangan
Tiga Tahun Menjadi Istri Rahasia, Aku Mengedit Video Mesra Suamiku dengan Asistennya, Sampai Sebuah Kartu Akses Rumah Jatuh dari Tas Perempuan Itu Tepat di Depanku Saat Semua Orang Bersorak
Indeks

Tiga Tahun Menjadi Istri Rahasia, Aku Mengedit Video Mesra Suamiku dengan Asistennya, Sampai Sebuah Kartu Akses Rumah Jatuh dari Tas Perempuan Itu Tepat di Depanku Saat Semua Orang Bersorak

Bagian 1 — Saat Seluruh Kantor Menjodohkan Suamiku dengan Asistennya, Aku Justru Mengedit Video Mereka Sambil Diam-Diam Mengosongkan Rumah yang Kami Bangun Bersama

Memasuki tahun ketiga pernikahan rahasia kami, aku akhirnya menyadari satu hal yang dulu paling kutakuti.

Aku sudah tidak mencintai Arga Pradana seperti sebelumnya.

Kesadaran itu datang bukan setelah pertengkaran besar, bukan setelah aku memergokinya berciuman dengan perempuan lain, bahkan bukan karena ada satu pengkhianatan dramatis yang bisa kutunjuk sebagai penyebab.

Perasaanku mati sedikit demi sedikit.

Sampai suatu siang, seorang rekan menarikku ke grup Telegram berisi hampir tujuh ratus karyawan Nawasena Group.

Nama grupnya membuatku hampir tertawa.

“Tim Kapal Pak Arga × Keisya.”

Pesan paling atas berbunyi:

【Kapan Pak Arga resmi sama Mbak Keisya? Kalau mereka nikah, satu gedung wajib libur!】

Di bawahnya, ratusan orang mengirim emoji hati.

Ada foto Arga memayungi Keisya saat hujan di lobi kantor.

Ada video Keisya membetulkan kerah jasnya sebelum konferensi pers.

Ada foto mereka tertawa berdua di bandara Soekarno-Hatta setelah perjalanan bisnis dari Surabaya.

Seseorang menandai akunku.

【Nadira anak baru di tim konten, ayo ikut dukung! Aslinya mereka jauh lebih serasi daripada di foto, kan?】

Aku memang bukan anak baru.

Aku sudah bekerja di perusahaan itu hampir empat tahun.

Hanya saja orang-orang tidak tahu bahwa lelaki yang mereka jodoh-jodohkan itu adalah suamiku sendiri.

Aku membalas satu emoji tertawa.

Lalu mematikan notifikasi grup.

Malam berikutnya, perusahaan mengadakan acara apresiasi karyawan di sebuah hotel di Jakarta Selatan.

Di tengah acara, pembawa acara mengadakan permainan spontan.

“Pasangan kerja paling kompak!”

Entah siapa yang memulai, seluruh ruangan langsung meneriakkan dua nama.

“PAK ARGA! KEISYA!”

Aku duduk dua meja dari panggung.

Keisya terlihat malu-malu ketika didorong naik.

Arga hanya tersenyum tipis.

Permainannya sederhana. Mereka harus berdiri membelakangi satu sama lain dan menjawab pertanyaan tentang kebiasaan pasangan kerja.

Makanan favorit.

Jam datang ke kantor.

Merek kopi.

Kebiasaan ketika marah.

Keisya menjawab hampir semuanya dengan benar.

Sorakan semakin keras.

Di pertanyaan terakhir, pembawa acara memberikan satu potong kue dan meminta mereka saling menyuapi sebagai hukuman karena jawaban Arga salah.

Arga tidak menolak.

Keisya tertawa.

Kamera ponsel terangkat di mana-mana.

Sementara itu, aku membuka laptop dan memperbaiki proposal kampanye yang harus dikirim sebelum pukul sembilan malam.

Dulu, melihat pemandangan seperti itu mungkin akan membuat tanganku gemetar.

Aku akan menunggu Arga pulang.

Menangis.

Bertanya mengapa ia membiarkan semua orang salah paham.

Lalu kami bertengkar sampai subuh sebelum akhirnya aku sendiri yang meminta maaf karena dianggap “terlalu sensitif”.

Malam itu aku hanya berkata kepada Rani yang duduk di sebelahku,

“Kalau videonya masuk TikTok perusahaan, opening-nya pakai ekspresi Keisya yang tadi. Lebih menarik.”

Rani menatapku kagum.

“Gila, kamu memang anak konten sejati.”

Aku tersenyum.

Dari atas panggung, aku sempat merasakan tatapan Arga.

Dingin.

Panjang.

Seolah justru sikap tenangku yang membuatnya terganggu.

Benar saja.

Selepas acara, ia menghadangku di parkiran basement.

“Kamu mau langsung pulang?”

Aku melihat jam.

“Iya. KRL terakhir sebentar lagi.”

Arga tidak bergeser.

“Kamu tidak mau mengatakan sesuatu?”

“Tentang apa?”

Wajahnya mengeras.

“Tadi.”

Aku memasukkan laptop ke tote bag.

“Permainan kantor?”

“Nadira.”

Nada suaranya mulai rendah.

Aku menghela napas.

“Besok pagi aku harus mengantar Mama kontrol mata ke RSCM. Kalau kamu tidak mengantarku pulang, minggir. Aku mau pesan ojek ke stasiun.”

Untuk beberapa detik, dia hanya memandangku.

“Jadi kamu benar-benar tidak peduli?”

Aku menatap wajah lelaki yang tiga tahun lalu membuatku rela menyembunyikan cincin pernikahan bahkan dari sebagian besar teman kantor.

Aneh.

Pertanyaan itu tidak lagi menyakitkan.

Aku malah merasa lelah.

“Aku capek, Ga.”

Itu saja.

Aku melewatinya.

Keesokan paginya, setelah mengantar Mama kontrol, aku tiba di kantor sebelum pukul sembilan.

Belum lima menit duduk, manajer konten mengirim video acara semalam.

Potongan Arga dan Keisya sudah tembus dua juta tayangan di akun hiburan.

Direksi pemasaran memutuskan memanfaatkan momentum.

Kami diminta membuat seri konten berjudul, “Seberapa Kompak CEO dan Tangan Kanannya?”

Dan entah lucunya takdir atau kejamnya pekerjaan, proyek editing jatuh kepadaku.

Rani menyerahkan hard disk berisi dokumentasi dua tahun terakhir.

Aku membukanya satu per satu.

Arga dan Keisya menunggu penerbangan bersama.

Keisya tertidur di mobil setelah kunjungan pabrik.

Arga menaruh bantal kecil di samping kepalanya.

Arga memegang pintu lift.

Keisya membawa obat saat dia sakit.

Lalu aku menemukan satu rekaman dari bulan Februari.

Hujan deras mengguyur Jakarta.

Di depan gedung klien, Arga melepas jasnya dan menutupi kepala Keisya agar perempuan itu bisa berlari menuju mobil.

Tanggal pada rekaman membuat jariku berhenti.

14 Februari.

Hari ketika aku menunggu di sebuah restoran kecil di Senopati dengan dua tiket konser di dalam tas.

Arga mengirim pesan pukul 20.17.

【Meeting mendadak. Jangan tunggu.】

Aku menunggunya juga.

Sampai pelayan bertanya tiga kali apakah makanan boleh disajikan.

Ternyata “meeting mendadak” itu berakhir setidaknya satu jam sebelum hujan turun.

Dia hanya tidak pulang kepadaku.

“Adegan ini bagus banget,” kata Rani dari belakang. “Tatapan Pak Arga pas nutupin Keisya pakai jas… romantis parah.”

Aku menggeser timeline dua detik ke belakang.

“Mulai dari sini. Jadi kelihatan dia langsung refleks melepas jas.”

“Setuju!”

Aku menambahkan musik ringan, slow motion sepersekian detik, lalu transisi lembut.

Pukul sembilan malam aku masih mengerjakan subtitle di rumah ketika Arga pulang.

Entah sudah berapa lama dia berdiri di belakang kursiku.

“Bagus.”

Aku menoleh sebentar.

“Apa?”

“Videonya.”

Aku kembali bekerja.

Arga menarik kursi di sampingku.

“Dulu aku mengantar Keisya ke lobi saja kamu bisa ngambek dua hari.”

Aku diam.

“Sekarang kamu malah bikin orang melihat kami seperti pasangan.”

“Aku sedang bekerja.”

Tangannya menutup tanganku yang memegang mouse.

“Nadira.”

Aku menatapnya.

Ada sesuatu di matanya yang hampir seperti kegelisahan.

“Kamu sudah tidak cemburu?”

Aku perlahan menarik tangan.

“Deadline setengah sepuluh. Jangan ganggu.”

Arga terdiam.

Kalimat itu pernah menjadi miliknya.

Selama tiga tahun, setiap kali aku ingin bicara, dia berkata, “Jangan ganggu, aku kerja.”

Malam itu aku mengembalikannya.

Beberapa menit kemudian dia melihat wajahku.

“Kamu pucat.”

Dia mengambil kopi dinginku.

“Kamu belum makan lagi?”

Tanpa menunggu jawaban, dia masuk dapur, memanaskan bubur dan mengambil obat lambung dari lemari.

Ia bahkan ingat obat mana yang harus diminum sebelum makan.

Dulu perhatian seperti itu membuatku yakin aku istimewa.

Sampai telepon Arga berbunyi.

Keisya.

Arga mengangkatnya.

“Alergimu kambuh?”

Dia langsung berdiri.

“Jangan minum obat yang kemasan merah. Kamu pernah sesak setelah minum itu.”

Hening sebentar.

“Iya, aku ingat.”

“Pesan cetirizine yang biasa. Kalau bibir mulai bengkak, langsung ke IGD dan telepon aku.”

Aku memandang mangkuk bubur di depanku.

Tiba-tiba aku ingin tertawa.

Ternyata kemampuan Arga mengingat detail bukan bukti bahwa aku istimewa.

Dia memang bisa mengingat kebutuhan orang yang dianggap penting olehnya.

Aku hanya pernah salah mengira bahwa daftar itu berisi satu nama.

Namaku.

Besoknya syuting seri baru dimulai.

Pertanyaan pertama:

“Kalau Pak Arga sedang stres berat, dia biasanya makan apa?”

Keisya menjawab tanpa berpikir.

“Tidak makan. Tapi kalau dipaksa, bubur ayam tanpa daun bawang.”

Benar.

“Hal yang paling dia benci saat rapat?”

“Orang terlambat dan notifikasi ponsel berbunyi.”

Benar lagi.

“Kalau tidak bisa tidur?”

“Dia jalan sebentar di balkon, lalu minum air hangat.”

Aku menatap monitor.

Dulu hanya aku yang tahu kebiasaan terakhir itu.

Atau setidaknya begitu yang kukira.

Saat jeda, Keisya mengambil sesuatu dari tasnya.

Sebuah kartu jatuh ke lantai.

Aku refleks memungutnya.

Kartu akses apartemen berwarna abu-abu.

Di sudutnya ada stiker kecil berbentuk alpukat yang sudah mulai terkelupas.

Aku yang menempelkan stiker itu.

Dua tahun lalu.

Pada kartu akses cadangan rumahku.

Keisya mengambilnya dari tanganku.

“Oh, makasih.”

Dia memasukkannya kembali dengan santai.

“Pak Arga sering ketinggalan dokumen di apartemen. Jadi aku diminta pegang satu supaya lebih praktis kalau harus mengambil berkas.”

Aku tidak menjawab.

Keisya sudah berjalan pergi ketika satu ingatan muncul begitu jelas.

Pada tahun pertama pernikahan, aku pernah ingin memberikan kartu cadangan kepada Mama karena beliau sering datang ketika aku sakit.

Arga mengambil kartu itu dari tanganku.

“Rumah kita bukan tempat orang keluar masuk sembarangan.”

Katanya waktu itu sambil tersenyum.

“Ini ruang pribadi kita berdua.”

Aku memandang punggung Keisya yang semakin jauh.

Lalu membuka ponsel.

Ada chat dari jasa pindahan.

【Mbak Nadira, besok kami ambil kardus sisanya?】

Aku mengetik satu kalimat.

【Iya. Ambil semuanya. Setelah besok, tidak akan ada barangku lagi di rumah itu.】

Karena ternyata ruang yang dulu disebut Arga “milik kita berdua” sudah lama hanya menyisakan satu orang yang masih menganggapnya rumah.

#KisahRumahTangga #DramaPernikahan #IstriRahasia #PengkhianatanPerasaan #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Kartu Akses Cadangan, Ulang Tahun Ibu Mertua, dan Rencana Pertunangan Palsu di Meja Makan Akhirnya Membuat Kesabaranku Malam Itu Benar-Benar Habis

Malam itu aku membuka laci dekat pintu apartemen.

Tempat kartu cadangan biasanya disimpan kosong.

Arga baru selesai mandi ketika melihatku.

“Kamu cari apa?”

“Kartu akses cadangan.”

Langkahnya berhenti.

Beberapa detik kemudian dia menjawab,

“Ada di Keisya.”

“Aku tahu.”

Aku menutup laci.

Mungkin karena reaksiku terlalu tenang, dia justru tampak kesal.

“Nadira, itu cuma untuk kerja.”

Aku mengangguk.

“Oke.”

“Jangan pakai nada begitu.”

“Aku tidak pakai nada apa-apa.”

Dia mengusap wajah.

“Bulan lalu aku meninggalkan kontrak tender di rumah. Kamu sedang mengantar ibumu dan tidak mengangkat telepon. Keisya kebetulan di daerah sini, jadi aku suruh ambil.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kartunya masih dia pegang sebulan kemudian?”

Arga diam setengah detik.

Lalu berkata,

“Supaya tidak repot kalau kejadian lagi.”

Sederhana sekali.

Dulu ibuku dianggap “orang lain”.

Sekarang asistennya memiliki akses permanen.

Anehnya aku tidak ingin bertengkar.

Aku hanya berkata,

“Mengerti.”

Justru itu membuatnya semakin marah.

“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu bukan Nadira yang biasanya.”

Aku hampir tertawa.

Benar.

Nadira yang biasanya sudah menghabiskan seluruh tenaganya.

Akhir pekan itu adalah ulang tahun Bu Ratih, ibu Arga.

Seperti tiga tahun sebelumnya, aku melepaskan cincin sebelum masuk ke rumah keluarga Pradana di Kebayoran Baru.

Pernikahan kami sah.

Keluarga inti tahu.

Tetapi karena Arga sedang dipersiapkan mengambil alih perusahaan ketika kami menikah, Bu Ratih meminta pernikahan itu dirahasiakan dari keluarga besar dan publik.

Alasannya selalu sama.

“Jangan sampai kehidupan pribadi mengganggu bisnis.”

Aku percaya.

Lalu satu tahun menjadi dua.

Dua menjadi tiga.

Yang diminta bersabar selalu aku.

Ketika masuk ke ruang keluarga, Keisya sudah duduk di samping Bu Ratih.

Dia membawa kue favorit beliau.

Dia tahu obat tekanan darah diminum setelah sarapan.

Dia bahkan menyiapkan sandal datar karena kaki Bu Ratih sedang sakit.

“Keisya memang paling perhatian,” puji salah satu tante.

Bu Ratih tersenyum lebar.

“Makanya saya tenang kalau Arga bekerja sama dia.”

Saat melihatku, senyumnya berubah menjadi ramah tetapi datar.

“Nadira sudah datang? Tolong cek makanan di belakang, ya.”

Tidak ada seorang pun yang merasa aneh.

Di mata keluarga besar, aku hanyalah anak dari sahabat lama Bu Ratih yang kebetulan dekat dengan keluarga mereka.

Saat makan, Arga tiba-tiba menarik piring rendang dari depanku.

“Jangan makan pedas. Lambungmu belum benar.”

Dia menggantinya dengan sup.

Beberapa detik kemudian seorang pelayan meletakkan udang dekat Keisya.

Arga langsung berkata,

“Jangan taruh situ. Keisya alergi.”

Meja makan kembali dipenuhi candaan.

“Arga hafal sekali.”

“Aduh, cocok banget memang mereka.”

Aku menyeruput sup tanpa mengatakan apa-apa.

Lalu Bu Ratih meletakkan sendoknya.

“Ada satu hal yang sekalian ingin saya sampaikan.”

Ruangan perlahan tenang.

“Bulan depan Nawasena ulang tahun ke-30. Banyak investor dan media datang.”

Beliau memandang Keisya.

“Akhir-akhir ini respons publik terhadap Arga dan Keisya juga bagus.”

Jari Arga berhenti di atas gelas.

“Ma.”

Bu Ratih mengabaikannya.

“Keluarga Keisya juga sudah kami kenal lama. Jadi setelah acara perusahaan, saya ingin kedua keluarga makan malam bersama.”

Beberapa tante langsung tersenyum.

“Akhirnya!”

“Ini mau serius, dong?”

Keisya menunduk.

Pipinya memerah.

Aku memandang suamiku.

Inilah saat yang kutunggu.

Satu kalimat saja.

“Aku sudah menikah.”

Hanya itu yang perlu dia katakan.

Arga menatap ibunya.

Kemudian menatapku.

Mulutnya terbuka.

Namun kalimat yang keluar adalah,

“Ma, jangan bahas itu sekarang.”

Bukan penolakan.

Bukan pengakuan.

Sekali lagi, dia memilih membuatku tidak terlihat.

Bu Ratih malah menoleh kepadaku.

“Nadira juga jangan terlalu memikirkan hal seperti ini. Kamu tahu posisi Arga. Kadang kehidupan pribadi harus mengalah untuk sesuatu yang lebih besar.”

Sesuatu dalam diriku akhirnya benar-benar tenang.

Aku merogoh tas.

Mengambil kotak kecil.

Lalu meletakkan cincin pernikahanku tepat di tengah meja makan.

Suara logam menyentuh piring terdengar kecil.

Tetapi cukup membuat seluruh ruangan diam.

Aku melihat Bu Ratih.

“Baik, Tante.”

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku memanggilnya seperti orang asing.

“Kalau keluarga Keisya benar-benar mau datang membicarakan masa depan mereka…”

Aku menggeser cincin itu ke arah Arga.

“…sebaiknya kalian selesaikan dulu satu masalah kecil.”

Wajah Arga langsung pucat.

Aku tersenyum tipis.

“Status Arga yang sampai malam ini masih tercatat sebagai suami sah saya.”

Gelas seseorang jatuh ke lantai.

Dan sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, aku mengeluarkan satu amplop dari tas.

Di bagian depannya tertulis nama Arga Pradana.

Dokumen permohonan perceraian yang sudah ditandatangani olehku.

Bagian 3 — Ketika Mereka Mengira Aku Akan Tetap Diam, Aku Membuka Semua Bukti, Mengakhiri Pernikahan Itu, dan Membiarkan Arga Menanggung Pilihannya Sendiri

Ruangan meledak.

“Apa maksudnya sudah menikah?”

“Sejak kapan?”

“Ratih, kamu tahu?”

Bu Ratih berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Nadira!”

Namun Arga lebih cepat meraih amplop itu.

Tangannya gemetar ketika membaca halaman pertama.

“Kamu mau cerai?”

Aku menatapnya.

“Tiga minggu lalu aku sudah konsultasi dengan pengacara.”

“Tiga minggu?”

Wajahnya seperti baru memahami sesuatu.

“Kardus-kardus itu…”

“Barangku.”

“Alamat Bintaro yang sering didatangi jasa pindahan itu?”

“Apartemen sewaanku.”

Arga berdiri.

“Kenapa kamu tidak bicara kepadaku?”

Pertanyaan itu membuatku tertawa untuk pertama kalinya malam itu.

“Aku bicara selama tiga tahun, Ga.”

Senyumku menghilang.

“Aku bicara ketika namaku tidak boleh disebut sebagai istrimu.”

“Aku bicara ketika orang kantor menjodohkanmu dengan Keisya dan kamu bilang itu cuma bercanda.”

“Aku bicara ketika kamu membatalkan ulang tahun pernikahan kita demi acara yang sebenarnya sudah selesai.”

“Aku bicara ketika ibuku bahkan tidak boleh punya akses rumah kita, sementara asistennmu boleh.”

“Aku sudah bicara sampai akhirnya aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan.”

Arga kehilangan kata-kata.

Bu Ratih mencoba memotong.

“Semua ini dilakukan demi perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Perusahaan tidak pernah meminta Ibu menyembunyikan saya dari keluarga sendiri.”

Beliau terdiam.

“Dan perusahaan juga tidak pernah meminta siapa pun menjadikan kedekatan Arga dengan perempuan lain sebagai hiburan publik.”

Keisya yang sejak tadi pucat akhirnya berdiri.

“Saya tidak pernah meminta keluarga membicarakan pertunangan.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

Dia terlihat terkejut.

Aku tidak membutuhkan perempuan lain untuk menjadi penjahat agar keputusanku terasa benar.

Masalah terbesar dalam pernikahanku selalu Arga.

Dia yang membuat janji kepadaku.

Dia juga yang berkali-kali memilih diam ketika orang lain menghapus keberadaanku.

Aku mengambil tas.

Arga langsung mengejarku sampai halaman.

“Nadira!”

Aku berhenti di dekat mobil pesananku.

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

“Bagaimana?”

“Aku umumkan pernikahan kita besok.”

Aku memandangnya cukup lama.

Dulu aku akan memberikan apa pun untuk mendengar kalimat itu.

Sekarang sudah terlambat.

“Aku tidak pergi karena orang tidak tahu aku istrimu.”

Suaraku pelan.

“Aku pergi karena selama tiga tahun, setiap kali kamu harus memilih antara melindungi pernikahan kita atau menjaga kenyamananmu, yang dikorbankan selalu aku.”

Malam itu aku tidak kembali ke apartemen kami.

Dua hari kemudian, video “CEO dan tangan kanannya” yang sedang dipersiapkan perusahaan dibatalkan.

Bukan atas permintaanku.

Salah satu anggota direksi mengetahui pernikahan kami setelah keributan keluarga menyebar ke internal perusahaan.

Tim kepatuhan kemudian mempertanyakan mengapa akun resmi perusahaan sengaja membangun narasi romantis mengenai CEO yang ternyata sudah menikah.

Seluruh kampanye dihentikan.

Arga diwajibkan mundur dari posisi wajah utama kampanye ulang tahun perusahaan dan menyerahkan komunikasi publik kepada direktur lain sampai evaluasi selesai.

Tidak ada kehancuran dramatis.

Nawasena tetap berdiri.

Arga tetap punya pekerjaan.

Tetapi untuk pertama kalinya, keputusan yang selama bertahun-tahun dia sebut “demi perusahaan” memiliki harga yang harus dia bayar sendiri.

Keisya mengembalikan kartu akses lewat HR.

Sebulan kemudian dia meminta pindah ke divisi regional Bandung.

Sebelum pergi, dia mengirimiku satu pesan.

【Aku seharusnya mengembalikan kartu itu sejak awal. Maaf.】

Aku hanya menjawab:

【Semoga sukses di tempat baru.】

Aku tidak membenci Keisya.

Aku juga tidak ingin menghabiskan kehidupan baruku dengan terus memikirkan mereka.

Yang lebih sulit justru Arga.

Selama dua bulan, dia datang berkali-kali.

Kadang membawa makanan untuk Mama.

Kadang menunggu di bawah apartemen.

Suatu malam dia menyerahkan kartu akses lama kami kepadaku.

Stiker alpukat itu masih menempel.

“Aku mengganti seluruh akses apartemen,” katanya.

Aku tidak mengambilnya.

“Nadira, pulanglah.”

Aku menatap kartu itu.

Kemudian menatap lelaki yang dulu pernah berlari menuruni tangga sambil memakai sandal terbalik ketika lambungku kambuh.

Aku tidak pernah meragukan bahwa pernah ada masa ketika Arga mencintaiku.

Masalahnya, cinta tidak hanya diukur dari seberapa panik seseorang ketika kita sakit.

Cinta juga terlihat dari apakah dia berani berdiri di samping kita ketika keberadaan kita membuat hidupnya sedikit lebih rumit.

“Kita sudah tidak punya rumah yang sama, Ga.”

Matanya memerah.

“Aku masih sayang kamu.”

“Aku percaya.”

Jawabanku membuatnya terpaku.

“Tapi rasa sayangmu tidak lagi cukup untuk membuatku kembali.”

Enam bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.

Hari aku menerima dokumen akhirnya, aku tidak menangis.

Aku mengajak Mama makan soto Betawi, membeli dua tanaman kecil untuk balkon, lalu pulang ke apartemenku.

Aku juga sudah meninggalkan Nawasena.

Sebuah agensi kreatif di Jakarta menawariku posisi kepala tim konten dengan gaji lebih baik dan—yang jauh lebih penting—hidup yang tidak mengharuskanku berpura-pura tidak mengenal suamiku sendiri di dalam lift.

Beberapa bulan kemudian aku bertemu Rani.

Katanya Arga berubah menjadi jauh lebih pendiam.

Dia tidak pernah lagi membiarkan candaan soal kehidupan pribadinya berkembang di kantor.

Bu Ratih pernah mencoba menghubungiku dua kali.

Aku tidak membalas.

Bukan karena ingin menghukum siapa pun.

Aku hanya akhirnya belajar bahwa memaafkan seseorang tidak berarti harus kembali memberikan akses kepada mereka.

Suatu sore, saat sedang menyiram tanaman di balkon, ponselku menampilkan kenangan foto tiga tahun lalu.

Aku dan Arga.

Hari pernikahan kami.

Aku memandangnya beberapa detik sebelum menghapus notifikasi tanpa membuka foto.

Dulu aku mengira akhir yang bahagia berarti lelaki itu akhirnya memilihku di depan semua orang.

Ternyata aku salah.

Akhir bahagiaku dimulai ketika aku berhenti menunggu seseorang memilihku…

dan untuk pertama kalinya, memilih diriku sendiri.