BAGIAN 2
Aku melipat rekening koran itu perlahan dan memasukkannya kembali ke amplop.
“Rekening ini rekening siapa?”
Arman menutup pintu kantor kecil di belakangnya.
“Kembalikan.”
“Namaku ada di sini.”
“Makanya kubilang kembalikan.”
Aku tidak bergerak.
“Mas membuat rekening pakai namaku?”

Ia mengembuskan napas panjang, seperti justru aku yang membuat pagi itu sulit.
“Dulu kamu pernah tanda tangan formulir bank.”
“Formulir untuk rekening gaji.”
“Ya, sekalian dibuat rekening operasional.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah dikasih tahu.”
“Karena kamu tidak perlu pusing urusan itu.”
Ada sesuatu dalam cara ia menjawab yang membuat rasa takutku berubah menjadi marah.
“Uang hampir Rp41 juta masuk ke rekening atas namaku dalam tiga bulan. Aku perlu tahu.”
Arman mengambil amplop dari tanganku.
“Itu cuma rekening transit.”
“Transit ke mana?”
“Pembayaran pemasok.”
“Pemasok mana?”
“Kamu mau mengaudit saya sekarang?”
Aku tidak menjawab.
Arman membuka pintu.
“Pulang kerja nanti kita bicara di rumah Ibu.”
Itu terdengar seperti perintah.
Siang itu aku tidak ikut mengantar pesanan.
Aku meminta izin keluar satu jam dengan alasan mengambil obat untuk Dimas.
Aku pergi ke cabang bank yang tertera pada rekening koran.
Aku tidak berharap mendapat banyak informasi.
Namun karena rekening itu memang atas namaku, setelah petugas memeriksa KTP dan data pribadi, aku mendapat jawaban yang membuat tengkukku dingin.
Rekening tersebut dibuka hampir setahun lalu.
Nomor ponsel yang terdaftar bukan nomorku.
Alamat surat-menyurat menggunakan alamat dapur katering.
Lebih buruk lagi, rekening itu bukan rekening biasa yang pasif.
Ada aktivitas transfer masuk dan keluar hampir setiap minggu.
Aku meminta rekening koran enam bulan terakhir.
Petugas mencetaknya setelah proses verifikasi.
Aku duduk di kursi tunggu dan membaca satu per satu.
Uang masuk dari rekening usaha keluarga.
Lalu keluar ke tiga tempat.
Sebagian ke pemasok bahan pangan.
Sebagian ke pembayaran cicilan kendaraan.
Dan sebagian lagi ke rekening pribadi seseorang bernama Sari Wulandari.
Adikku.
Jumlahnya tidak kecil.
Rp7 juta.
Rp10 juta.
Rp15 juta.
Total selama enam bulan mencapai Rp63 juta.
Aku pulang dari bank dengan kepala penuh pertanyaan.
Selama ini kupikir Arman mungkin memakai namaku untuk menyembunyikan selisih tagihan.
Sekarang aku curiga ia dan Sari mengambil uang usaha.
Malamnya kami berkumpul di rumah Ibu.
Arman sudah duduk di ruang tamu.
Sari ada di sebelah Ibu, wajahnya pucat.
Aku langsung meletakkan print rekening koran di meja.
“Kenapa uang dari rekening atas namaku masuk ke rekening Sari?”
Ibu memejamkan mata.
Arman menatapku tajam.
“Kamu ke bank?”
“Iya.”
“Kamu benar-benar bikin masalah besar.”
“Masalahnya sudah ada sebelum aku datang ke bank.”
Sari tiba-tiba berkata, “Mbak, dengar dulu.”
Aku menoleh.
“Enam puluh tiga juta, Sar.”
Bibirnya bergetar.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Ia menatap Arman.
Arman berkata cepat, “Uang itu pinjaman.”
“Pinjaman untuk apa?”
“Keperluan Sari.”
“Keperluan apa sampai puluhan juta?”
Ibu memegang ujung kerudungnya.
“Lina, jangan bicara keras.”
Aku menahan napas.
“Sari?”
Adikku akhirnya menjawab.
“Untuk nutup cicilan.”
“Cicilan apa?”
Ia menunduk.
“Pinjaman online.”
Aku terduduk.
Jadi itukah semuanya?
Arman memakai rekening atas namaku untuk menolong Sari yang terlilit utang?
Marahku tidak hilang, tetapi bentuknya berubah.
Aku menatap adikku.
“Berapa utangmu?”
Sari mengusap matanya.
“Awalnya Rp28 juta.”
“Sekarang?”
Tidak ada jawaban.
“Sar?”
“Lebih dari seratus.”
Ibu menangis pelan.
Arman menyela, “Makanya saya atur dari usaha supaya tidak meledak.”
Aku menatapnya.
“Mengatur? Dengan nama orang lain?”
“Kalau pakai rekening saya sendiri, auditor perusahaan bisa lihat aliran tidak wajar.”
Kalimat itu membuatku menegakkan punggung.
“Auditor perusahaan?”
Arman terdiam.
Sari mendongak cepat ke arahnya.
Itu cuma satu detik.
Tapi aku melihatnya.
Sari juga tidak tahu.
Aku menatap kakakku.
“Mas, kenapa auditor pelanggan kita peduli rekening pribadimu?”
Ia berdiri.
“Sudah. Cukup.”
“Kenapa?”
“Karena saya bilang cukup.”
Malam itu aku pulang tanpa jawaban.
Kupikir Sari adalah alasan utama semua ini.
Keesokan paginya, ia datang ke rumahku sendirian sebelum aku berangkat kerja.
Matanya bengkak.
Ia membawa map cokelat.
“Aku bohong semalam,” katanya.
Aku tidak mengundangnya duduk.
“Bagian yang mana?”
“Uang itu memang masuk ke rekeningku.”
Ia menyerahkan map.
“Tapi aku tidak pernah minta sebanyak itu.”
Di dalamnya ada bukti transfer yang ia cetak sendiri.
Dari Rp63 juta yang masuk ke rekeningnya, Rp38 juta ternyata ia transfer kembali dua atau tiga hari kemudian.
Semua ke rekening lain.
Atas nama CV Anugerah Boga Sentosa.
Aku mengenal nama itu.
Dua bulan sebelumnya Arman pernah bilang CV tersebut pemasok baru untuk daging dan ayam.
Sari menatapku.
“CV itu punya siapa, Mbak?”
Aku menggeleng.
“Semalam aku cari.”
Ia membuka layar ponselnya dan menunjukkan foto sebuah dokumen pendaftaran usaha yang pernah dikirim Arman ke grup internal.
Nama pemilik tercantum di bagian bawah.
Rafi Pratama.
Anak laki-laki Arman.
Keponakanku sendiri.
Saat itu aku akhirnya memahami bahwa utang Sari mungkin hanya dipakai sebagai tirai.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang memakai uang usaha.
Pertanyaannya adalah berapa banyak transaksi fiktif yang sudah dibangun Arman memakai nama kami satu per satu.
Dan siang itu, sebelum aku sempat memutuskan apa yang akan kulakukan, bagian keuangan PT Karya Lintas Nusantara menelepon.
“Bu Lina?”
“Iya.”
“Kami ingin mengonfirmasi tanda tangan Ibu pada sebelas bukti penerimaan barang selama empat bulan terakhir.”
Aku berdiri kaku di samping motor.
“Sebelas?”
“Iya, Bu. Karena ada beberapa jumlah yang tidak cocok dengan catatan gudang kami.”
Aku melihat ke pintu dapur katering.
Arman sedang berdiri di sana.
Memperhatikanku.
Saat itu aku tahu diam bukan lagi cara menjaga keluarga. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan memperingatkan Arman dulu, atau langsung membuka semua catatan sebelum namamu tenggelam bersama usahanya?
BAGIAN 3
Aku tidak menjawab pertanyaan petugas keuangan itu dengan tergesa-gesa.
Aku berjalan menjauh dari pintu dapur sampai suara mesin penggorengan tidak lagi terdengar jelas.
“Pak,” kataku, “boleh saya tahu nama Bapak?”
“Fahri, Bu. Dari bagian finance.”
“Pak Fahri, saya ingin memastikan satu hal. Sebelas tanda tangan itu katanya tanda tangan saya?”
“Iya.”
“Bisa kirim salinannya ke email saya?”
Ia berhenti sebentar.
“Bisa, Bu. Tapi kami perlu konfirmasi resmi setelahnya.”
“Silakan.”
“Apakah ada masalah?”
Aku melihat Arman masih berdiri di pintu.
Sekarang tangannya masuk ke saku celana.
“Ada kemungkinan tanda tangan itu bukan saya yang buat.”
Di ujung telepon, suara Fahri berubah lebih hati-hati.
“Baik, Bu. Saya kirimkan dokumennya.”
Aku menutup telepon.
Arman langsung menghampiri.
“Siapa?”
“Pelanggan.”
“Pelanggan mana?”
“Karya Lintas.”
Wajahnya tidak berubah, tetapi langkahnya melambat.
“Mau apa?”
“Mereka tanya tanda tanganku.”
“Terus?”
“Ada sebelas.”
Ia mendekat.
“Jangan jawab macam-macam dulu.”
Kalimat itu seharusnya membuatku takut.
Aneh, justru membuat semuanya lebih terang.
Kalau tidak ada yang salah, ia akan bertanya tanda tangan yang mana.
Ia tidak bertanya.
Ia hanya menyuruhku diam.
“Aku sudah jawab,” kataku.
Arman memandangku beberapa detik.
“Apa yang kamu bilang?”
“Bahwa aku perlu lihat dokumennya.”
“Lina.”
“Kenapa?”
Ia merendahkan suaranya.
“Jangan rusak sesuatu yang kamu sendiri makan dari situ.”
Aku hampir membalas.
Lalu kuingat Dimas.
Kuingat uang kontrakan.
Kuingat seragam sekolah yang mulai sempit tapi belum kuganti.
Kuingat gajiku.
Itulah yang selama ini selalu dipakai untuk menahanku.
Bukan ancaman besar.
Hanya kebutuhan sehari-hari.
Orang sepertiku jarang takut kehilangan kekayaan.
Kami takut kehilangan penghasilan bulan depan.
Aku masuk ke dapur, menggantung tas pengiriman, lalu bekerja seperti biasa.
Tidak ada adegan dramatis.
Aku tidak membanting apa pun.
Justru karena aku tahu, kali ini aku tidak boleh bertindak hanya berdasarkan marah.
Sekitar pukul sebelas, email dari Fahri masuk.
Aku membukanya di toilet.
Sebelas lembar bukti penerimaan.
Namaku tercetak di bawah.
Tanda tangannya mirip.
Sangat mirip.
Tetapi orang yang membuatnya melakukan kesalahan kecil yang mungkin tidak disadarinya.
Aku selalu menulis huruf L di tanda tanganku dengan garis pertama pendek.
Di semua dokumen itu, garis pertamanya panjang.
Persis seperti cara Arman meniru tanda tanganku ketika dulu menerima paket atas namaku di rumah Ibu.
Aku belum bisa membuktikan siapa yang menulisnya.
Tapi aku tahu bukan aku.
Jumlah selisihnya membuat perutku mual.
Beberapa pengiriman hanya kurang 20 kotak.
Beberapa kurang 40.
Dua pengiriman tercatat 450 kotak padahal menurut catatan gudang pelanggan hanya 300 yang diterima.
Aku mengambil buku catatan pengiriman yang selama ini kusimpan di laci motor.
Aku memang punya kebiasaan mencatat.
Bukan karena curiga.
Karena umurku tidak lagi dua puluh dan aku sering lupa nomor pesanan.
Tanggal.
Jumlah.
Nama petugas penerima.
Kadang bahkan berapa liter bensin yang kupakai.
Kebiasaan kecil yang sering ditertawakan Arman itu tiba-tiba menjadi satu-satunya pegangan yang kupunya.
Aku memotret semua halaman empat bulan terakhir.
Lalu kukirim ke email pribadi.
Siangnya, aku mencari Nisa, staf administrasi kami.
Umurnya tiga puluh satu tahun, sudah bekerja sejak Ayah masih hidup.
“Nis,” kataku, “aku mau tanya sesuatu.”
Ia langsung menutup spreadsheet di komputer.
Gerakannya terlalu cepat.
“Apa, Mbak?”
“Nota pengiriman ke Karya Lintas siapa yang bikin?”
“Biasanya saya.”
“Jumlahnya berdasarkan apa?”
Nisa menatap pintu.
“Daftar dari Pak Arman.”
“Bukan dari catatan dapur?”
“Kadang dari dapur.”
“Kadang?”
Ia mengusap telapak tangan ke rok.
Aku tahu tanda orang gugup.
Aku juga sering melakukannya.
“Nisa.”
Matanya turun.
“Aku bukan mau menyeret kamu.”
Ia mengangkat kepala.
“Kalau aku kehilangan kerja, Mbak, anakku dua.”
“Aku tahu.”
“Suamiku cuma narik ojek.”
“Aku tahu.”
“Jadi tolong jangan tanya aku.”
Aku menarik kursi dan duduk.
“Aku juga punya anak.”
Ia diam.
“Aku juga takut kehilangan kerja.”
Nisa menggigit bibir.
Aku melanjutkan.
“Tapi namaku ada di sebelas dokumen yang tidak kutandatangani.”
Wajahnya berubah.
“Mbak sudah tahu?”
“Berarti memang ada yang perlu kutahu.”
Ia menatap meja cukup lama.
Kemudian berkata nyaris berbisik, “Awalnya cuma beberapa kotak.”
“Berapa lama?”
“Sejak akhir tahun lalu.”
Aku merasakan jari-jariku dingin.
“Caranya?”
“Pak Arman bilang ada toleransi jumlah. Kadang dapur bikin 250, invoice 270. Katanya buat nutup biaya bahan yang naik.”
“Lalu?”
“Lama-lama selisihnya makin banyak.”
“Uangnya ke mana?”
“Enggak semua saya tahu.”
“Tapi kamu tahu CV Anugerah Boga?”
Ia langsung menatapku.
Cukup.
Aku sudah mendapat jawaban dari wajahnya.
“Nisa.”
“CV itu pemasok, Mbak.”
“Pemasok apa?”
Ia tidak menjawab.
Aku bertanya lagi.
“Pernah antar barang?”
“Kadang.”
“Berapa kali?”
“Mungkin dua.”
“Dalam berapa bulan?”
“Enam.”
Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu.
“Enam bulan, dua kali kirim, tapi dibayar terus?”
“Mbak…”
“Siapa yang bikin invoice mereka?”
“Biasanya dikirim langsung ke Pak Arman.”
“Barangnya?”
Nisa menggeleng.
“Kadang beliau bilang dibeli tunai dari pasar, lalu invoice CV dipakai untuk pencatatan.”
Di situlah pola itu menjadi jelas.
Jumlah makanan dinaikkan.
Pelanggan ditagih lebih banyak.
Uang selisih masuk ke rekening atas namaku.
Dari situ uang dipindahkan ke beberapa rekening agar terlihat seperti biaya operasional.
Sebagian masuk ke Sari, lalu kembali ke CV milik Rafi.
Dengan begitu jejaknya menjadi kusut.
Tidak ada satu orang menerima semuanya.
Nama keluarga dipakai bergantian.
Dan siapa yang akan terlihat paling mencurigakan bila nanti diperiksa?
Aku.
Rekening atas namaku.
Tanda tangan atas namaku.
Aku berdiri.
Nisa memegang lenganku.
“Mbak, jangan bilang saya cerita.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak akan sebut namamu kalau tidak perlu.”
“Mbak mau apa?”
Itulah pertanyaan yang bahkan aku sendiri belum punya jawabannya.
Aku hanya tahu satu hal.
Aku tidak akan menunggu sampai Arman menentukan jawabannya untukku.
Sore itu aku pulang lebih cepat.
Aku mengeluarkan semua dokumen yang kusimpan sejak mulai bekerja setelah Ayah meninggal.
Slip gaji.
Fotokopi KTP lama.
Surat penempatan kerja yang dibuat seadanya.
Formulir rekening gaji.
Aku mencari hampir satu jam sebelum menemukan sesuatu yang membuatku berhenti.
Di bagian belakang fotokopi formulir bank lama, ada tanda tanganku pada halaman kosong.
Aku ingat hari itu.
Sekitar setahun sebelumnya Arman membawa setumpuk berkas.
“Ini pembaruan data bank,” katanya.
Aku menandatangani tiga tempat.
Salah satunya ternyata bukan formulir lengkap.
Hanya lembar tanda tangan yang kemudian bisa ditempelkan ke dokumen lain.
Aku duduk di lantai kamar.
Dimas keluar dari kamar membawa buku sekolah.
“Bu?”
Aku cepat-cepat menyusun kertas.
Ia melihat wajahku.
“Ada apa?”
“Masalah kerja.”
“Om lagi?”
Aku tidak menjawab.
Dimas duduk di sampingku.
Anak itu sudah tujuh belas tahun, lebih tinggi dariku, tetapi kalau duduk sambil memeluk lutut masih kelihatan seperti anak kecil yang dulu menungguku pulang dari rumah sakit.
“Kalau Ibu dipecat, kita gimana?” tanyanya.
Pertanyaan itu jujur.
Aku tidak bisa memberinya kalimat motivasi kosong.
“Mungkin susah.”
Ia mengangguk.
Aku menunggu.
Kemudian ia berkata, “Ya sudah.”
“Ya sudah gimana?”
“Kita pernah susah.”
Aku menatapnya.
“Ini bisa lebih susah.”
“Berarti aku cari kerja tambahan habis sekolah.”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena tugasmu sekolah.”
“Terus tugas Ibu apa?”
Aku hampir menjawab mencari uang.
Tapi kalimat itu terasa terlalu kecil.
“Tugas Ibu memastikan kita enggak hidup dari sesuatu yang bikin kita terus takut ketahuan.”
Dimas tidak sepenuhnya mengerti.
Aku tahu.
Tetapi ia mengangguk.
Malam itu aku menelepon Sari.
“Besok datang ke rumahku jam tujuh.”
“Kenapa?”
“Aku mau lihat semua transfer yang Mas Arman suruh kamu lakukan.”
Ia diam.
“Mbak…”
“Kalau kamu benar-benar tidak tahu semuanya, sekarang waktunya membuktikan.”
“Aku takut.”
“Aku juga.”
“Mas Arman bisa marah.”
“Aku tahu.”
“Kalau Ibu tahu aku bantu Mbak…”
Aku memotong.
“Ibu sudah tahu cukup banyak untuk memilih diam.”
Hening.
Itu kalimat keras.
Aku menyesal sesaat setelah mengucapkannya.
Namun tidak kutarik.
Besok paginya Sari datang membawa laptop.
Selama dua jam kami membuka mutasi rekeningnya.
Baru di situlah aku mendapat emotional reveal yang paling menyakitkan.
Sari memang punya utang pinjaman online.
Tetapi jumlahnya bukan lebih dari seratus juta.
Utangnya pernah mencapai Rp43 juta.
Arman membayar sebagian dengan syarat rekening Sari dipakai untuk menerima transfer.
“Dia bilang cuma sementara,” kata Sari.
“Kenapa kamu mau?”
“Karena aku malu.”
Ia menangis.
“Aku takut Ibu tahu utangku.”
“Ibu tahu sekarang.”
“Baru dua bulan terakhir.”
Aku menarik napas.
“Jadi enam bulan lalu?”
“Mas Arman bilang kalau aku bantu, dia enggak akan cerita.”
Aku menatap adikku.
Tiba-tiba aku tidak melihat orang yang ikut mencuri.
Aku melihat orang yang ketakutannya dipakai.
Persis seperti aku.
Bedanya, ketakutanku adalah kehilangan gaji.
Ketakutan Sari adalah rasa malu.
Arman tahu kunci kami masing-masing.
Dan ia memakai keduanya.
“Kenapa uangnya ditransfer lagi ke CV Rafi?”
“Mas yang kasih nomor rekening.”
“Kamu tahu itu punya Rafi?”
“Enggak.”
Ia menutup wajah.
“Aku baru tahu tadi malam.”
“Rafi tahu?”
“Aku enggak tahu.”
Kami memutuskan mencari jawaban dari keponakanku.
Rafi berusia dua puluh enam tahun. Ia pernah kuliah dua tahun sebelum berhenti dan mencoba beberapa usaha.
Kopi literan.
Frozen food.
Jual sepatu daring.
Tidak ada yang bertahan lama.
Arman selalu membelanya.
“Namanya juga anak muda belajar usaha.”
Aku pernah menganggap itu kasih sayang seorang ayah.
Sekarang aku bertanya-tanya apakah CV itu memang dibuat Rafi, atau hanya dipakai namanya.
Kami tidak meneleponnya.
Aku mengirim pesan singkat.
Fi, Tante mau beli ayam dari CV kamu. Bisa kirim daftar harga?
Ia membalas lima menit kemudian.
CV apa, Tante?
Aku dan Sari saling pandang.
Aku mengetik.
Anugerah Boga Sentosa.
Lama tidak ada jawaban.
Kemudian telepon masuk.
“Tante, itu dari mana?”
“CV kamu, kan?”
“Siapa bilang?”
“Namamu ada sebagai pemilik.”
Rafi mengumpat pelan.
Kemudian cepat-cepat meminta maaf.
“Tante, aku enggak punya usaha itu.”
“Pernah tanda tangan surat pendirian?”
Ia diam.
“Fi?”
“Papa pernah suruh aku tanda tangan berkas tahun lalu. Katanya buat usaha katering cabang kalau nanti dibutuhkan.”
Sari menutup mulut.
Aku bertanya, “Kamu pernah pegang rekening CV?”
“Enggak.”
“ATM?”
“Enggak.”
“Mobile banking?”
“Enggak.”
“Siapa yang pegang?”
“Papa.”
Aku memejamkan mata.
Di titik itu, gambarnya hampir lengkap.
Arman tidak sekadar mengambil uang usaha.
Ia membangun lapisan perlindungan.
Kalau rekening transit bermasalah, namaku yang muncul.
Kalau CV pemasok bermasalah, nama anaknya.
Kalau transfer dipertanyakan, ada rekening Sari.
Semua orang di sekelilingnya dibuat punya sedikit jejak.
Cukup untuk ikut terlihat bersalah.
Tidak cukup untuk tahu keseluruhan.
Siang itu aku mengambil keputusan yang membuat tanganku gemetar saat melakukannya.
Aku menghubungi bank dan meminta rekening atas namaku diblokir sementara karena akses dan nomor ponselnya tidak berada dalam kendaliku.
Prosesnya tidak selesai hanya lewat telepon.
Aku harus datang.
Menandatangani formulir.
Membuat pernyataan.
Mengganti nomor terdaftar.
Mengatur ulang akses.
Butuh waktu hampir dua jam.
Ketika keluar dari bank, ada tujuh belas panggilan tak terjawab dari Arman.
Pesan terakhirnya:
KAMU BLOKIR REKENING ITU?
Aku tidak membalas.
Lima menit kemudian Ibu menelepon.
“Lina, kamu di mana?”
“Di jalan.”
“Arman marah besar.”
“Kenapa Ibu tahu?”
“Dia ke rumah.”
Aku berhenti di bawah pohon pinggir jalan.
“Ibu dengar baik-baik. Rekening itu atas namaku. Aku enggak pernah pegang. Aku blokir karena aku enggak mau dipakai lagi.”
“Kenapa enggak bicara dulu?”
“Aku sudah tanya.”
“Kamu bikin usaha kacau.”
“Bukan aku yang bikin.”
“Kalau sampai katering tutup, kamu mau tanggung jawab?”
Kalimat itu tepat mengenai titik yang selama ini paling membuatku mudah menyerah.
Dua belas pekerja.
Keluarga mereka.
Usaha Ayah.
Aku menggenggam ponsel.
“Bu, kalau usaha cuma bisa hidup karena nota palsu dan rekening orang dipakai diam-diam, berarti masalahnya bukan dimulai hari ini.”
Ibu mulai menangis.
“Kamu sama kakak kok sekarang begini.”
Aku juga hampir menangis.
Tetapi kali ini aku tidak minta maaf hanya untuk menghentikan air matanya.
“Aku tetap anak Ibu.”
“Kalau begitu jangan hancurkan peninggalan Ayah.”
Aku menatap lalu lintas.
“Aku justru enggak mau nama Ayah dipakai buat membenarkan semua ini.”
Telepon ditutup tanpa salam.
Sore harinya, Arman menungguku di depan rumah.
Motornya terparkir melintang dekat pagar.
Aku belum pernah melihatnya semarah itu.
“Kamu pikir kamu siapa?”
Aku memasukkan kunci pagar.
“Geser dulu motornya.”
“Jawab.”
“Mas mau teriak di luar atau bicara di dalam?”
Ia menatap tetangga yang mulai memperhatikan.
Akhirnya motornya digeser.
Kami masuk ke ruang tamu.
Dimas sedang di kamar.
Aku sengaja membiarkan pintu kamar terbuka sedikit.
Bukan supaya ia mendengar semuanya.
Supaya aku ingat bahwa keputusan hari itu tidak hanya menyangkut diriku.
Arman berdiri.
Aku duduk.
“Buka blokir rekeningnya.”
“Enggak.”
“Itu rekening operasional.”
“Itu rekening atas namaku.”
“Saya yang urus pembukaannya.”
“Itulah masalahnya.”
Ia memukul telapak tangannya ke meja.
“Jangan sok suci, Lina.”
Aku menatapnya.
“Mas mau bilang aku juga menikmati uangnya?”
“Kamu dapat gaji dari usaha.”
“Aku bekerja.”
“Usaha ini enggak akan jalan kalau saya enggak putar otak.”
“Putar otak bukan berarti pakai tanda tangan orang.”
Ia terdiam.
Hanya sebentar.
Tapi cukup.
“Sebelas nota,” kataku.
Arman memalingkan muka.
“Pelanggan sudah kirim.”
“Terus?”
“Bukan tanda tanganku.”
“Itu admin.”
“Jadi Nisa?”
Ia cepat-cepat berkata, “Saya enggak bilang Nisa.”
Aku menahan diri agar tidak tersenyum pahit.
Bahkan saat terdesak, ia masih ingin melempar bayangan ke orang lain.
“CV Rafi juga admin?”
Wajah Arman berubah.
Untuk pertama kalinya, marahnya retak menjadi cemas.
“Rafi ngomong apa?”
“Cukup untuk tahu dia bahkan enggak pegang rekening.”
“Kamu seret anak saya?”
“Mas yang pakai namanya duluan.”
Ia duduk.
Tangannya kini saling menggenggam.
“Apa yang kamu mau?”
Pertanyaan itu lebih jujur daripada semua yang ia katakan sejak masalah ini dimulai.
“Aku mau semua transaksi dibuka.”
“Enggak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena kamu enggak ngerti.”
“Jelaskan.”
Ia menatapku lama.
Kemudian tertawa pendek.
“Kalau saya ikuti cara Ayah dulu, usaha ini sudah tutup dua tahun lalu.”
Aku diam.
Arman melanjutkan.
“Harga ayam naik. Minyak naik. Gas naik. Pelanggan minta harga tetap. Pegawai minta THR. Mobil rusak. Pajak jalan terus.”
“Terus Mas mulai menaikkan jumlah pesanan.”
“Awalnya untuk nutup biaya.”
Aku mengangguk.
“Lalu?”
Ia menekan kedua telapak tangan ke wajah.
“Ada pinjaman.”
“Pinjaman apa?”
“Modal.”
“Berapa?”
“Rp280 juta.”
Aku sampai tidak langsung memahami angkanya.
“Dari siapa?”
“Bank dan satu koperasi.”
“Jaminannya?”
Ia diam.
“Mas.”
“Rumah Ibu.”
Aku berdiri.
“Kapan?”
“Dua tahun lalu.”
“Ibu tahu?”
“Tahu.”
Aku menatapnya.
“Jangan bohong.”
“Dia tanda tangan.”
“Tahu untuk apa?”
Arman tidak menjawab.
Itulah emotional reveal kedua.
Bukan karena Ibu sepenuhnya tidak tahu.
Tetapi karena kemungkinan besar Ibu hanya tahu sebagian.
Aku mengambil ponsel.
“Mau telepon Ibu?”
Arman cepat berdiri.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Dia punya darah tinggi.”
Aku hampir tertawa.
“Setiap kali kita butuh jawaban, kesehatan Ibu jadi tameng.”
“Lina!”
“Rumah itu rumah Ibu.”
“Saya menyelamatkan usaha Ayah!”
“Dengan menjaminkan rumah Ibu dan membuat nota palsu?”
“Kalau usaha mati, rumah itu juga enggak ada gunanya!”
Kalimat itu keluar begitu cepat sampai ia sendiri tampak kaget.
Aku menatap kakakku.
Di situlah aku memahami sesuatu yang lebih besar daripada uang.
Arman tidak merasa dirinya pencuri.
Ia merasa dirinya satu-satunya orang yang cukup berani melakukan apa pun demi usaha.
Dan karena merasa sebagai penyelamat, ia mulai percaya semua orang lain hanyalah alat.
Rekeningku.
Nama Rafi.
Rasa malu Sari.
Rumah Ibu.
Semua boleh dipakai.
Karena di kepalanya tujuan akhir selalu benar.
“Aku mau keluar dari usaha,” kataku.
Arman menatapku seperti salah dengar.
“Apa?”
“Aku berhenti.”
“Kamu mau makan dari mana?”
Pertanyaan itu menyakitkan karena memang nyata.
“Aku cari cara.”
“Dengan umur hampir lima puluh?”
Aku menelan ludah.
“Iya.”
Ia mencibir.
“Jangan bodoh.”
“Mungkin.”
“Dimas sekolah pakai apa?”
Aku berdiri.
“Jangan bawa anakku.”
“Saya cuma ngomong kenyataan. Selama ini siapa yang kasih kamu kerja?”
Aku merasakan sesuatu yang selama bertahun-tahun menempel di bahuku akhirnya jatuh.
“Mas tidak memberi aku hidup.”
Ia diam.
“Aku bekerja untuk gajiku. Aku datang jam empat pagi. Aku masak. Aku antar. Aku nagih. Aku lembur kalau ada pesanan hajatan. Jangan ubah pekerjaanku jadi sedekah supaya setiap kali aku menolak, Mas bisa bilang aku tidak tahu terima kasih.”
Wajah Arman memerah.
“Keluar kalau begitu.”
“Aku memang keluar.”
Ia menunjuk pintu.
“Besok jangan datang.”
“Baik.”
“Kamu enggak dapat pesangon.”
“Aku enggak minta malam ini.”
“Dan jangan harap saya bayar biaya sekolah Dimas.”
“Aku juga enggak minta.”
Ia mengambil helm.
Di pintu ia berhenti.
“Kalau kontrak Karya Lintas putus gara-gara kamu, dua belas orang itu kehilangan kerja.”
Aku menjawab pelan.
“Mas yang harus menjelaskan kenapa kontraknya terancam.”
Pintu ditutup keras.
Dimas keluar dari kamar beberapa detik kemudian.
Ia tidak bertanya banyak.
Hanya satu.
“Besok Ibu enggak kerja?”
“Enggak di sana.”
“Terus?”
Aku menatap meja makan plastik kami.
“Besok kita mulai cari tahu.”
Hari berikutnya menjadi salah satu hari terpanjang dalam hidupku.
Jam empat pagi aku terbangun otomatis.
Tubuhku mengira aku harus ke dapur.
Aku duduk di tepi kasur dan baru ingat aku tidak punya pekerjaan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, suara azan Subuh terdengar sampai selesai tanpa tertutup suara mesin motor.
Aku membuat teh.
Lalu membuka kontak ponsel.
Aku punya sekitar dua puluh nomor pelanggan lama yang pernah memesan katering kecil langsung kepadaku untuk arisan, rapat RT, syukuran, atau acara sekolah.
Selama bekerja pada Arman, aku selalu mengarahkan mereka ke usaha keluarga.
Pagi itu aku menulis satu pesan sederhana.
Mulai minggu ini saya sudah tidak bekerja di katering keluarga. Kalau ada yang butuh bantuan masak atau pesanan kecil, saya menerima secara pribadi. Untuk sementara kapasitas saya terbatas.
Aku tidak menjelekkan Arman.
Tidak menceritakan masalah.
Tidak meminta belas kasihan.
Aku hanya memberi tahu aku tersedia.
Dari dua puluh pesan, enam orang membalas.
Dua hanya mendoakan.
Tiga berkata akan menyimpan nomor.
Satu orang, Bu Ratih dari sekolah swasta kecil dekat rumah, menelepon.
“Mbak Lina masih bisa bikin nasi kotak?”
“Bisa.”
“Jumat saya perlu 65.”
Aku hampir langsung bilang bisa.
Lalu teringat aku tidak punya dapur besar.
“Menu apa, Bu?”
Ia menyebut ayam kecap, tumis buncis, sambal, buah.
“Bisa.”
Setelah telepon ditutup, aku menghitung modal.
Tidak cukup.
Aku hampir menelepon Arman.
Jempolku sudah mencari namanya.
Kemudian kuhapus.
Aku menelepon Sari.
“Bisa pinjam Rp1,5 juta?”
Ia diam sebentar.
“Kapan balik?”
“Jumat sore kalau pembayaran masuk.”
“Buat apa?”
“Pesanan nasi kotak.”
Setengah jam kemudian uang masuk.
Bukan sebagai bantuan keluarga tanpa bentuk.
Kami membuat catatan sederhana di WhatsApp.
Pinjaman Rp1,5 juta. Dikembalikan maksimal Sabtu.
Kedengarannya kaku untuk saudara.
Justru itu yang membuatku lega.
Jelas.
Jumat pagi aku memasak di dapur rumah.
Dimas membantu menempelkan stiker kecil berisi nomor ponsel, bukan merek mewah.
Tetanggaku, Bu Eni, membantu memotong sayur dengan upah harian Rp100 ribu.
Enam puluh lima kotak selesai terlambat tujuh menit.
Aku panik sepanjang jalan.
Tapi semuanya sampai.
Bu Ratih membayar sore itu.
Setelah modal dan upah, untung bersihku tidak sampai Rp400 ribu.
Kecil.
Namun malam itu aku menatap angka Rp400 ribu tersebut dengan perasaan yang berbeda.
Tidak ada nota palsu.
Tidak ada rekening orang lain.
Tidak ada rasa takut seseorang akan menelepon menanyakan tanda tanganku.
Keesokan harinya aku membayar utang Sari.
Ia mengirim emoji jempol.
Kemudian menulis:
Mbak, Ibu mau ketemu.
Aku pergi ke rumah Ibu sore itu.
Arman tidak ada.
Rumah terasa lebih tua daripada biasanya.
Ibu duduk di ruang tengah memegang map merah.
Begitu melihatku, ia langsung berkata, “Kenapa kamu harus keluar?”
Aku duduk.
“Karena aku enggak mau namaku dipakai lagi.”
Ibu mendorong map ke arahku.
Di dalamnya ada fotokopi dokumen pinjaman.
Aku membaca perlahan.
Rumah Ibu memang dijadikan jaminan.
Nilai pinjaman awal Rp220 juta.
Sisanya berasal dari fasilitas lain.
“Ibu tahu ini?” tanyaku.
“Tahu pinjam.”
“Tahu rumah dijaminkan?”
Ia mengangguk pelan.
“Tahu Mas Arman menaikkan invoice?”
Ibu tidak menjawab.
“Bu?”
“Baru belakangan.”
“Kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Kenapa Ibu diam?”
Matanya berkaca-kaca.
“Karena Ibu takut.”
Jawaban itu membuat kemarahanku turun sedikit.
Takut adalah bahasa yang sangat kukenal.
“Takut apa?”
“Kalau usaha tutup.”
“Kenapa?”
“Itu peninggalan bapakmu.”
Aku melihat foto Ayah di atas lemari.
“Ayah meninggalkan usaha atau meninggalkan kewajiban supaya kita mempertahankannya dengan cara apa pun?”
Ibu mengusap ujung map.
“Arman bilang cuma sebentar.”
“Sari juga bilang begitu.”
Ibu menunduk.
Aku melanjutkan.
“Mas bilang dia sedang menyelamatkan semua.”
“Dia anak sulung.”
“Bu, jadi anak sulung bukan berarti semua tindakannya otomatis benar.”
Ibu menangis.
“Dari kecil dia paling keras kepala. Bapakmu juga selalu berharap dia yang lanjut usaha.”
“Aku enggak minta Ibu membenci Mas Arman.”
“Terus kamu mau apa?”
“Aku mau rumah Ibu aman.”
“Caranya?”
“Besok kita hitung sisa pinjaman. Benar-benar hitung. Bukan dengar kata Mas Arman saja.”
Ibu tampak ragu.
Aku tahu kebiasaan kami.
Dalam keluarga, meminta laporan sering dianggap tidak percaya.
Padahal kepercayaan tanpa angka sudah membawa kami sampai sini.
“Bu,” kataku, “kalau semua baik-baik saja, angka tidak akan menyakiti siapa pun.”
Besoknya kami bertiga, aku, Ibu, dan Sari, mendatangi bank sesuai data di dokumen.
Tidak ada penyelesaian ajaib.
Tidak ada pegawai bank yang langsung membatalkan pinjaman.
Kami hanya mendapatkan informasi yang memang berhak diketahui Ibu sebagai pihak yang namanya ada dalam perjanjian.
Sisa kewajiban masih sekitar Rp176 juta.
Pembayaran beberapa bulan terakhir sering terlambat.
Belum sampai proses penyitaan, tetapi kondisinya tidak boleh dibiarkan.
Ibu keluar dari bank dengan wajah pucat.
Di parkiran ia berkata, “Arman bilang tinggal seratus dua puluh.”
Sari menggeleng.
Aku tidak mengatakan “kan sudah kubilang”.
Ada kemenangan yang rasanya terlalu kejam kalau dirayakan.
Malam itu kami mengadakan pertemuan keluarga.
Bukan karena aku ingin mempermalukan Arman.
Karena semua nama yang dipakai harus ada di ruangan yang sama.
Aku.
Sari.
Rafi.
Ibu.
Arman.
Kami duduk mengelilingi meja makan tempat dulu Ayah sering menghitung uang pesanan sambil minum kopi.
Arman datang paling akhir.
Begitu melihat Rafi, ia langsung tahu pertemuan itu berbeda.
“Ngapain kamu di sini?”
Rafi menjawab, “Papa tahu kenapa.”
Arman meletakkan kunci mobil.
“Jadi sekarang kalian bikin sidang?”
Aku berkata, “Enggak. Kita cuma berhenti bicara setengah-setengah.”
Aku meletakkan tiga map di meja.
“Ini rekening atas namaku.”
Map kedua.
“Ini transfer lewat rekening Sari.”
Map ketiga.
“Ini CV atas nama Rafi.”
Arman tidak duduk.
“Apa maumu?”
“Ibu juga sudah cek pinjaman rumah.”
Wajahnya menegang.
Ia menoleh kepada Ibu.
“Bu pergi ke bank?”
Ibu menjawab pelan, “Iya.”
“Kenapa enggak bilang?”
Untuk pertama kalinya, Ibu menjawab dengan kalimat yang dulu selalu ia gunakan kepadaku.
“Kalau memang semuanya benar, kenapa Ibu harus takut mengecek?”
Arman tidak punya jawaban.
Rafi mendorong satu berkas.
“Papa pakai namaku bikin CV tanpa jelasin sebenarnya buat apa.”
“Saya sudah bilang itu untuk usaha.”
“Tapi aku enggak pernah pegang usahanya.”
“Nanti juga buat kamu!”
“Aku enggak mau ‘nanti’. Aku mau tahu sekarang.”
Nada Rafi bergetar.
Aku baru sadar anak muda itu juga takut kepada ayahnya.
Bukan takut dipukul.
Takut mengecewakan.
Takut dianggap anak gagal.
Takut uang kuliah yang dulu tidak selesai akan terus dipakai sebagai bukti bahwa ia berutang kepada orang tua.
Arman menunjuk kami satu per satu.
“Kalian enak ngomong. Siapa yang selama ini mikirin usaha?”
“Aku juga kerja di sana,” kataku.
“Kerja saja. Saya yang mikir tagihan.”
Sari berkata pelan, “Mas, tapi Mas pakai kita semua.”
Arman menoleh tajam.
“Kamu paling jangan bicara. Utangmu siapa yang bayar?”
Sari langsung pucat.
Aku melihat tangannya mengepal.
Dulu mungkin ia akan diam.
Kali ini tidak.
“Iya,” katanya. “Mas bantu aku.”
Arman tertawa sinis.
“Nah.”
“Tapi bantuan bukan izin buat pakai rekeningku tanpa penjelasan.”
Arman terdiam.
Sari melanjutkan.
“Aku salah karena utang. Aku malu. Aku takut Ibu tahu. Mas tahu itu. Mas pakai rasa takutku supaya aku nurut.”
Ibu mulai menangis.
Arman memukul meja.
“Semua ini buat keluarga!”
Aku menjawab, “Kalau benar buat keluarga, kenapa keluarga tidak boleh tahu?”
Ruangan hening.
Bukan hening dramatis.
Hanya tidak ada orang yang punya jawaban cepat.
Aku membuka satu catatan.
“Selisih invoice ke Karya Lintas selama empat bulan berdasarkan dokumen yang mereka kirim sekitar Rp96 juta.”
Arman mengusap wajah.
“Ada biaya yang tidak tercatat.”
“Berapa?”
“Banyak.”
“Catat.”
“Apa?”
“Sekarang.”
Ia menatapku.
“Kita bikin daftar. Utang usaha. Biaya pemasok. Cicilan. Semua.”
“Kamu pikir gampang?”
“Enggak. Makanya jangan lagi pakai nama orang supaya kelihatan gampang.”
Rafi berkata, “CV itu ditutup saja.”
Arman langsung membalas, “Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Masih ada transaksi.”
“Berarti selesaikan.”
“Kamu ngerti perusahaan?”
“Enggak. Karena Papa memang tidak pernah ngajarin. Papa cuma suruh tanda tangan.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Arman duduk akhirnya.
Untuk pertama kalinya malam itu ia tampak tua.
Bukan penjahat.
Bukan kepala keluarga kuat.
Hanya laki-laki lima puluh dua tahun yang sudah terlalu lama mempertahankan sesuatu sampai tidak bisa membedakan menyelamatkan dengan menguasai.
“Aku enggak pernah niat mengambil semua uang itu,” katanya.
Aku percaya sebagian.
Itulah yang paling sulit.
Tidak semua uang masuk kantongnya.
Sebagian memang membayar bahan.
Sebagian membayar pegawai.
Sebagian menutup cicilan.
Sebagian digunakan menjaga usaha tetap berjalan.
Tetapi ketika satu kebohongan dipakai menutup masalah pertama, kebohongan kedua menjadi lebih mudah.
Kemudian ketiga.
Sampai akhirnya orang yang melakukan semuanya tidak lagi merasa sedang berbohong.
Ia merasa sedang mengelola keadaan.
“Aku percaya Mas ingin usaha tetap hidup,” kataku.
Ia menatapku.
“Tapi cara Mas membuat semua orang lain menanggung risiko tanpa tahu.”
Arman menunduk.
“Apa Karya Lintas sudah tahu?”
“Iya.”
Ia mengusap rambut.
“Kontrak habis.”
“Belum tentu.”
“Kalau audit masuk, habis.”
“Aku tidak akan bohong kalau mereka tanya.”
Ia menatapku tajam lagi.
“Jadi kamu tetap pilih orang luar.”
“Bukan soal mereka.”
“Terus?”
“Aku pilih tidak memakai namaku untuk menutup sesuatu yang tidak kulakukan.”
Beberapa hari kemudian, PT Karya Lintas melakukan pemeriksaan internal atas pengiriman katering.
Kontrak kami tidak langsung dibatalkan.
Tetapi pembayaran dua invoice ditahan.
Mereka meminta penjelasan tertulis mengenai selisih jumlah.
Aku memberikan pernyataan sebatas yang kutahu.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Aku tidak mengatakan Arman mencuri karena aku tidak punya bukti untuk semua uang.
Aku hanya menyatakan bahwa tanda tangan pada sebelas dokumen bukan tanda tanganku dan jumlah pengiriman tertentu tidak sesuai catatanku.
Arman marah ketika tahu.
Namun kali ini kemarahannya tidak lagi menentukan keputusanku.
Dua minggu kemudian, kontrak besar itu dihentikan.
Usaha keluarga kehilangan hampir empat puluh persen omzet.
Empat pegawai terpaksa dirumahkan sementara.
Itu bagian yang paling membuatku sulit tidur.
Nisa termasuk yang masih dipertahankan.
Dua pegawai lain mendapat pekerjaan di katering pesaing melalui kenalan.
Tidak semua akibat terasa adil.
Kadang orang yang tidak membuat kesalahan tetap terkena cipratannya.
Aku menemui dua pekerja yang dirumahkan dan meminta maaf.
Salah satu dari mereka, Pak Darto, justru berkata, “Mbak Lina, dari dulu kami juga tahu jumlah kadang aneh. Cuma orang kecil ya takut ngomong.”
Kalimat itu tinggal lama di kepalaku.
Orang kecil takut bicara.
Aku selama ini menganggap diriku berbeda dari Arman karena aku tidak memalsukan angka.
Tetapi aku juga pernah melihat hal-hal kecil yang janggal dan memilih tidak bertanya terlalu jauh.
Karena gaji.
Karena sungkan.
Karena keluarga.
Diam memang tidak sama dengan melakukan.
Tapi diam terlalu lama bisa memberi tempat bagi sesuatu untuk tumbuh.
Sebulan berikutnya, hidupku tidak berubah menjadi dongeng.
Tidak ada perusahaan besar datang menawariku jabatan.
Tidak ada orang kaya menyerahkan amplop.
Aku masih memasak dari dapur rumah.
Pesananku naik dari 65 kotak menjadi sekitar 40 sampai 120 kotak per hari, tapi tidak setiap hari.
Aku mulai menawarkan menu makan siang ke kantor kecil, klinik, bengkel, dan tempat les.
Bu Eni membantuku tiga hari seminggu.
Dimas membuat logo sederhana di laptop sekolah.
Namanya Dapur Lina.
Aku menertawakannya karena terlalu polos.
Dimas berkata, “Biar orang tahu siapa yang masak.”
Aneh.
Dulu aku takut namaku muncul di dokumen.
Sekarang aku justru menaruh namaku di tutup kotak makan.
Perbedaannya sederhana.
Kali ini aku tahu persis apa yang ada di dalamnya.
Tiga bulan kemudian, omzet bulananku belum besar.
Setelah modal dan biaya, penghasilanku rata-rata sedikit lebih tinggi dari gajiku dulu.
Tetapi penghasilan itu naik turun.
Ada minggu ramai.
Ada minggu hanya dua pesanan.
Aku belajar membuat pembukuan sederhana.
Sari membantuku malam hari.
Sebagai gantinya aku membayar jasanya per bulan.
Bukan “bantu keluarga”.
Bukan “nanti dihitung”.
Ada angka.
Ada pekerjaan.
Ada batas.
Utang pinjaman online Sari belum lunas sepenuhnya.
Ia membuat kesepakatan pembayaran dan berhenti mengambil pinjaman baru.
Ibu awalnya masih sering menyuruhku membantu.
Kadang aku membantu membeli obat.
Kadang membayar listrik rumah.
Tetapi aku tidak lagi mentransfer uang besar ke rekening keluarga tanpa tahu untuk apa.
Kalau Ibu berkata, “Kakakmu sedang sulit,” aku menjawab, “Aku tahu, Bu. Tapi itu bukan berarti semua kesulitannya otomatis jadi tanggung jawabku.”
Awalnya beliau tersinggung.
Kemudian terbiasa.
Rumah Ibu menjadi masalah paling berat.
Setelah pendapatan katering turun, Arman kesulitan membayar pinjaman.
Kami akhirnya duduk bersama lagi.
Kali ini dengan semua angka terbuka.
Tidak ada mukjizat.
Tidak ada jalan tanpa biaya.
Arman menjual satu mobil operasional yang sebenarnya jarang dipakai.
Rafi menjual motor besar yang cicilannya selama ini sebagian dibayar dari usaha.
Sebagian tabungan Ibu digunakan untuk mengurangi pokok utang.
Aku tidak menyumbang uang besar.
Bukan karena tidak peduli.
Karena aku tidak punya.
Dan untuk pertama kalinya, ketidakmampuanku tidak ditutupi rasa bersalah.
Kami menyusun pembayaran ulang sebatas yang bisa dilakukan melalui jalur resmi dengan pihak pemberi pinjaman.
Butuh waktu.
Rumah belum langsung bebas.
Tetapi posisi Ibu menjadi jauh lebih jelas daripada sebelumnya.
Rafi mengurus penutupan dan penyelesaian kewajiban CV yang memakai namanya setelah semua transaksi dicatat.
Hubungannya dengan Arman memburuk beberapa bulan.
Kemudian perlahan mereka bicara lagi.
Tidak seperti dulu.
Lebih hati-hati.
Sari tetap tinggal bersama Ibu.
Aku dan Arman hampir tidak bicara selama lima bulan.
Kalau bertemu di rumah Ibu, kami hanya menyapa.
Tidak ada permintaan maaf besar.
Aku bahkan sempat berpikir hubungan kami akan berhenti sampai di sana.
Sampai suatu pagi, ia datang ke rumahku.
Jam enam kurang seperempat.
Aku sedang memasukkan tiga puluh kotak nasi ke dalam tas besar.
Motor bututku sudah hidup di depan.
Arman berdiri di pagar membawa dua kantong plastik.
“Apa?”
“Cabai.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Pasar induk murah tadi.”
Aku hampir berkata tidak perlu.
Tetapi ia sudah meletakkan kantong di lantai teras.
“Berapa?”
Ia mengerutkan kening.
“Apa?”
“Berapa harganya?”
“Enggak usah.”
Aku langsung mengambil dompet.
Wajahnya berubah.
“Lina.”
“Berapa?”
“Seratus delapan puluh.”
Aku memberinya Rp180 ribu.
Ia memegang uang itu beberapa detik.
Dulu mungkin ia akan marah.
Kali ini ia memasukkannya ke saku.
Kami berdiri canggung.
Akhirnya ia berkata, “Karya Lintas dulu bayar invoice terakhir yang benar.”
Aku mengangguk.
“Syukurlah.”
“Usaha sekarang tinggal pesanan kecil.”
“Pegawai?”
“Enam tetap.”
Aku mengangguk lagi.
Ia melihat kotak makan di belakangku.
“Kamu lumayan ramai.”
“Kadang.”
Hening.
Kemudian Arman berkata, “Dulu saya pikir kalau saya cerita semuanya, kalian malah panik.”
Aku menatapnya.
“Mungkin.”
“Makanya saya selesaikan sendiri.”
“Itu yang Mas pikir.”
Ia mengangguk.
“Akhirnya malah begini.”
Aku tidak memberinya pengampunan yang indah.
Aku juga tidak ingin menghukumnya selamanya.
Aku hanya berkata, “Kalau nanti ada masalah lagi, jangan pakai nama orang sebelum tanya.”
Ia menatapku.
Kemudian mengangguk pelan.
“Ya.”
Itu saja.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada musik.
Ia pulang.
Tapi sejak hari itu, sesekali kami kembali bertukar pesan.
Bukan seperti dulu.
Lebih sedikit.
Lebih jelas.
Aneh, justru hubungan yang punya batas terasa lebih jujur daripada hubungan dekat yang dibangun dari rasa wajib.
Enam bulan setelah aku keluar dari katering keluarga, aku mendapat pesanan terbesar untuk Dapur Lina.
Dua ratus dua puluh kotak untuk seminar sebuah lembaga pendidikan.
Dimas membantu mengangkat dus ke motor dan mobil sewaan.
Sebelum berangkat, ia menyerahkan lembar penerimaan.
“Bu, tanda tangan penerima nanti jangan lupa.”
Aku mengambil pulpen.
Lalu tertawa kecil.
“Apa?”
“Enggak apa-apa.”
Aku memasukkan kertas itu ke map plastik.
Saat sampai di lokasi, aku menghitung sendiri jumlah kotak bersama petugas penerima.
Dua ratus dua puluh.
Tidak kurang.
Tidak lebih.
Petugas menandatangani lembar penerimaan.
Aku juga membubuhkan paraf di kolom pengantar.
Nama sendiri.
Tanda tangan sendiri.
Jumlah yang benar-benar kukirim.
Saat pulang, aku mampir ke rumah Ibu membawa dua kotak makanan sisa.
Beliau sedang menyiram tanaman di teras.
“Banyak pesanan hari ini?” tanyanya.
“Lumayan.”
“Capek?”
“Capek.”
Ibu tersenyum.
“Masuk dulu. Minum teh.”
Aku memarkir motor.
Di dalam rumah, map merah berisi dokumen pinjaman sudah tidak lagi diletakkan sembarangan di lemari.
Ibu sekarang menyimpannya di laci terkunci dan mencatat setiap pembayaran sendiri.
Perubahan kecil.
Tetapi mungkin keluarga memang tidak selalu berubah karena satu pidato besar.
Kadang perubahan dimulai ketika orang yang selama ini selalu bilang “iya” akhirnya belajar mengatakan:
“Tunjukkan dulu.”
“Jelaskan dulu.”
“Atas nama siapa?”
“Berapa jumlahnya?”
Dan, kalau perlu:
“Tidak.”
Aku menuangkan teh ke dua gelas.
Ponselku berbunyi.
Grup WhatsApp keluarga.
Dulu setiap bunyi dari grup itu membuat perutku menegang, takut ada permintaan uang, masalah baru, atau kalimat yang akan membuatku merasa menjadi anak buruk.
Sekarang kubuka dengan biasa.
Arman mengirim foto enam pegawainya sedang menyiapkan pesanan.
Di bawahnya ia menulis:
Besok ada 140 kotak. Semoga lancar.
Aku membalas:
Semoga lancar. Hitung yang benar.
Beberapa detik kemudian muncul balasan.
Iya, Bu Auditor.
Aku tertawa.
Ibu bertanya, “Kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
Lalu duduk di teras bersama Ibu.
Aku masih bukan orang kaya.
Motorku masih kadang susah distarter.
Dapurku masih sempit.
Ada bulan ketika aku tetap harus menghitung uang sampai receh terakhir.
Tapi sekarang, kalau aku menulis namaku di selembar kertas, aku tahu untuk apa nama itu dipakai.
Dan setelah hampir lima puluh tahun hidup, ternyata rasa lega bisa sesederhana itu.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, rezeki yang baik, serta keberanian untuk saling membantu tanpa kehilangan batas dan kejujuran. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan tetap membuka semuanya meski tahu usaha keluarga bisa terkena akibatnya? Aku ingin membaca pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan seseorang yang kamu kenal, kamu boleh membagikannya dan mengikuti halaman ini untuk cerita berikutnya.
