Bagian 3
Saat Ia Menyuruhku Berhenti Membesar-besarkan Masalah, Aku Justru Membuka Semua Catatan dan Membiarkan Pilihannya Menghancurkan Kenyamanannya Sendiri di Depan Semua Orang
Arga tidak langsung menjawab.
Matanya tertahan pada layar tablet.
Nama hotel itu jelas.
Tanggalnya jelas.
Jumlah pembayaran juga jelas.
Aku sudah mengenal suamiku hampir sembilan tahun. Aku tahu wajahnya ketika marah, malu, lelah, dan berbohong.
Malam itu aku melihat sesuatu yang berbeda.
Takut.
“Rani, dengar dulu.”
Aku tertawa pendek.
Anehnya, aku tidak menangis.
“Silakan.”
“Itu acara kantor.”
“Dua tamu, satu kamar?”
“Booking-nya digabung.”
“Kenapa dibayar pakai kartu keluarga?”
Arga mulai mondar-mandir.
“Karena kartu kantor bermasalah waktu itu.”
Aku menunjuk layar.
“Nama tamu kedua Selvi Andriani.”
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban cepat.
Aku menatapnya.
“Apakah kamu tidur dengannya?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Apakah kamu selingkuh?”
“Tidak!”
“Kalau begitu jelaskan.”
Arga mengusap wajah.
Ia mengatakan bahwa enam bulan lalu kantornya memang mengadakan kegiatan di Lembang.
Sebagian staf menginap.
Selvi takut tidur sendirian karena kamarnya berada di ujung koridor.
Menurut Arga, perempuan itu hanya “beristirahat sebentar” di kamarnya sampai tengah malam.
Aku mendengarkan semuanya sampai selesai.
Lalu bertanya,
“Menurutmu penjelasan itu membuat keadaan lebih baik?”
“Tidak terjadi apa-apa.”
“Masalahnya bukan cuma apakah kalian tidur bersama.”
Arga menatapku.
Aku melanjutkan.
“Kamu berbohong soal rapat. Kamu membayar pengeluaran pribadi dia. Kamu mengantar dia ketika anakmu menunggu. Kamu memberikan tabungan sekolah anak kita tanpa bertanya. Kamu membiarkan dia merasa berhak menentukan siapa yang boleh masuk mobilmu.”
“Dia tidak menentukan—”
“Aku baca pesannya.”
Arga membeku.
“Pesan apa?”
Aku mengulang kalimat Selvi.
“Dia tidak nyaman kalau mobilmu penuh. Apalagi ada anak kecil. Jok kulitmu sayang kalau kena susu.”
Wajah Arga pucat.
Aku bertanya,
“Kamu jawab apa waktu dia bilang begitu?”
Diam.
“Arga.”
“Aku enggak ingat.”
Aku tertawa lagi.
Kali ini terasa lebih menyakitkan.
“Orang selalu bilang tidak ingat ketika jawaban sebenarnya terlalu memalukan untuk diucapkan.”
Ia duduk di kursi.
“Rani, aku mengaku aku terlalu dekat dengannya.”
Aku menunggu.
“Tapi aku enggak pernah berniat meninggalkan keluarga.”
Di situlah aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama ini Arga mengira ukuran kesetiaan hanyalah tidak meninggalkan rumah.
Asalkan ia masih pulang.
Asalkan ia masih membayar listrik.
Asalkan nama kami masih tercetak dalam satu kartu keluarga.
Maka menurutnya ia masih suami yang baik.
Ia tidak mengerti bahwa seseorang bisa meninggalkan keluarganya setiap hari tanpa pernah memindahkan koper.
Ketika tidak hadir di acara anaknya.
Ketika membuat istrinya merasa meminta bantuan adalah beban.
Ketika memberikan perhatian terbaik kepada orang luar dan hanya menyisakan kewajiban untuk rumah.
Aku mengumpulkan semua kertas.
“Besok aku akan menemui konsultan hukum.”
Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.
“Untuk apa?”
“Aku ingin tahu pilihanku.”
“Kamu mau cerai cuma karena begini?”
Kalimat itu membuatku akhirnya benar-benar marah.
“Cuma?”
Suaraku tetap rendah.
“Anakmu berdiri kehujanan ketika kamu membawa perempuan lain di kursi depan.”
“Rani—”
“Kamu mengambil uang sekolahnya.”
“Aku ganti!”
“Empat puluh satu juta pengeluaran selama enam bulan.”
“Itu enggak semuanya buat Selvi.”
“Bagus. Besok tunjukkan yang mana.”
Aku membawa tablet dan dokumen ke kamar.
Arga mengikuti.
“Kita punya anak.”
Aku berhenti di depan pintu.
“Justru karena kita punya anak.”
Malam itu aku tidur bersama Keisha.
Arga tidur di kamar utama sendirian.
Pagi berikutnya, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tidak menyiapkan sarapan untuknya.
Aku membuat nasi goreng untuk diriku dan Keisha.
Kami makan.
Arga keluar kamar dengan kemeja belum disetrika.
Ia melihat meja.
“Kopi?”
Aku menatap teko.
“Ada air panas.”
Ia seperti tidak percaya.
Biasanya kopinya sudah tersedia sebelum ia bangun.
Kemeja kerja sudah tergantung.
Bekal makan siang sudah ada di meja.
Bensin mobilnya bahkan sering kuingatkan.
Bukan karena ia meminta.
Aku melakukan semuanya karena dulu aku percaya cinta berarti membuat hidup pasangan lebih mudah.
Ternyata jika dilakukan terlalu lama kepada orang yang salah, perhatian bisa berubah menjadi fasilitas yang dianggap otomatis tersedia.
Arga membuat kopi sendiri.
Ia membanting sendok sedikit terlalu keras.
Aku tidak bereaksi.
Hari itu aku menemui seorang konsultan hukum keluarga yang direkomendasikan kakakku.
Aku membawa rekening, bukti pembayaran, dokumen kepemilikan aset, catatan cicilan, serta bukti penghasilanku.
Aku tidak datang untuk langsung menggugat.
Aku datang agar tidak mengambil keputusan besar dalam keadaan buta.
Aku ingin tahu posisi keuanganku.
Hak Keisha.
Bagaimana memisahkan pengeluaran rumah tangga.
Dokumen apa yang perlu diamankan.
Apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan terhadap rekening bersama.
Dua jam kemudian aku keluar dengan kepala jauh lebih jernih.
Aku tidak mengosongkan rekening.
Aku tidak menyembunyikan uang.
Aku hanya memindahkan seluruh pemasukan usahaku berikutnya ke rekening pribadiku dan memberi tahu Arga bahwa mulai bulan depan kami akan membagi biaya rumah tangga secara tercatat.
Setiap rupiah.
Aku juga meminta secara tertulis agar Rp27,5 juta yang ditransfer kepada Selvi dikembalikan maksimal tujuh hari.
Pesanku kepada Arga hanya dua kalimat.
Itu uang pendidikan Keisha. Aku tidak sedang meminta izin untuk mendapatkannya kembali.
Aku meminta tanggal pengembalian yang pasti.
Arga tidak menjawab selama dua jam.
Kemudian ia mengirim,
Jangan bawa Selvi ke masalah rumah tangga kita.
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu menjawab,
Dia sudah berada di dalam masalah rumah tangga kita sejak uang anak kita masuk rekeningnya.
Hari ketiga, Selvi menghubungiku.
Nomor yang tidak kusimpan muncul ketika aku sedang mengemas pesanan makan siang.
“Halo, Mbak Rani?”
Aku sudah mengenali suaranya.
“Iya.”
“Aku Selvi.”
“Aku tahu.”
Ia terdengar gugup.
“Aku mau menjelaskan soal uang kemarin.”
“Silakan.”
“Itu benar-benar pinjaman.”
“Baik.”
“Aku akan kembalikan.”
“Kapan?”
Hening.
“Mas Arga bilang aku bisa mencicil.”
Aku menutup mata sebentar.
Tentu saja.
Bahkan setelah semuanya terbongkar, suamiku masih membuat kesepakatan dengan perempuan itu tanpa melibatkanku.
“Kamu menerima uang Rp27,5 juta sekaligus dari tabungan pendidikan anak kami.”
Suaraku tenang.
“Aku ingin uang itu kembali sekaligus.”
Selvi mulai defensif.
“Mbak, jangan salah paham. Aku enggak pernah minta Mas Arga mengambil uang anak.”
“Lalu kamu kira uang itu tumbuh di laci kantornya?”
“Aku enggak tahu sumbernya.”
“Sekarang kamu tahu.”
Ia menarik napas.
“Aku benar-benar enggak ada hubungan apa-apa dengan Mas Arga.”
Aku tidak menjawab.
Selvi melanjutkan.
“Dia cuma baik sama aku.”
“Kalau begitu bagus.”
“Maksudnya?”
“Kalau memang cuma pinjaman antara rekan kerja, mengembalikannya seharusnya sederhana.”
Aku menutup telepon.
Malamnya Arga pulang marah.
“Kamu telepon Selvi?”
“Dia yang menelepon aku.”
“Kamu menekannya buat mengembalikan uang?”
“Ya.”
“Aku sudah bilang dia bisa cicil.”
Aku berdiri dari meja makan.
“Uang siapa?”
Arga diam.
“Coba jawab. Uang siapa?”
“Uang kita.”
“Benar. Jadi kenapa kamu seorang diri boleh memutuskan dia mencicil?”
“Dia lagi kesulitan!”
Aku menatapnya.
“Enam bulan lalu ibuku operasi mata dan butuh tambahan delapan juta. Kamu bilang kita harus hati-hati karena sedang menabung sekolah Keisha.”
Arga terdiam.
Aku belum selesai.
“Bulan lalu aku mau mengganti kulkas yang bocor, kamu bilang tunggu akhir tahun.”
Aku menunjuk kamar Keisha.
“Anakmu minta ikut kursus renang. Kamu bilang lihat keuangan dulu.”
Lalu aku menunjuk ponselnya.
“Tapi perempuan itu butuh deposit apartemen, dua puluh tujuh setengah juta keluar dalam waktu sepuluh menit.”
“Aku akan ganti.”
“Aku bukan bicara tentang angka.”
Aku mendekatinya.
“Aku bicara tentang urutan prioritas.”
Arga tidak menjawab.
Dan ternyata, setelah aku berhenti melakukan semua hal kecil untuknya, rumah menjadi cermin yang jauh lebih jujur daripada pertengkaran.
Ia mulai kehabisan kemeja bersih.
Bukan karena aku sengaja menyembunyikannya.
Aku hanya mencuci pakaian milikku dan Keisha.
Ia terlambat dua kali karena aku tidak lagi membangunkannya.
Ia lupa ulang tahun ibunya karena biasanya aku yang membeli kue dan mengingatkan.
Ia kehilangan satu dokumen kendaraan karena selama ini aku yang menyimpan seluruh berkas rumah.
Tiga hari kemudian Bu Ratna meneleponku.
“Rani, kamu kenapa sekarang seperti orang lain?”
“Saya masih orang yang sama, Bu.”
“Arga sampai beli makan terus.”
“Dia punya gaji.”
“Kamu istrinya.”
“Benar.”
“Memasakkan suami itu hal biasa.”
Aku menjawab,
“Meminjamkan uang sekolah anak kepada rekan kerja perempuan tanpa bicara dengan istri juga hal biasa?”
Bu Ratna diam.
Aku tidak menunggu ceramah berikutnya.
“Kalau Ibu ingin bicara tentang rumah tangga kami, silakan bicara tentang seluruh masalahnya. Jangan hanya tentang makan malam Arga.”
Aku menutup telepon.
Seminggu berlalu.
Uang dari Selvi belum kembali.
Sebaliknya, sesuatu yang tidak kuduga terjadi di kantor Arga.
Seorang pegawai dari divisi yang sama menghubungiku melalui Instagram.
Namanya Dimas.
Aku tidak mengenalnya dekat.
Pesannya singkat.
Mbak Rani, maaf kalau lancang. Saya dengar masalah Mas Arga dan Selvi sudah sampai rumah. Saya cuma mau bilang, beberapa orang di kantor sudah lama melihat perlakuan khusus ke Selvi.
Aku tidak langsung percaya.
Aku bertanya apa maksudnya.
Dimas menjelaskan bahwa Selvi berkali-kali mendapat perubahan jadwal mendadak.
Ia mendapatkan klien yang seharusnya dibagi bergiliran.
Beberapa kali Arga meninggalkan kantor di jam kerja dengan alasan bertemu nasabah, tetapi pegawai lain melihat Selvi ikut dengannya.
Dua orang pernah mengeluh kepada supervisor regional.
Aku tidak meminta bukti.
Aku juga tidak menyuruh Dimas melapor.
Masalah kantor bukan wilayahku.
Aku hanya menjawab,
Terima kasih sudah memberi tahu. Saya sedang menyelesaikan urusan keluarga saya sendiri.
Dua hari kemudian Arga pulang lebih awal.
Wajahnya kusut.
Ia melempar tas ke sofa.
“Ada orang kantor yang lapor soal aku sama Selvi.”
Aku sedang membantu Keisha mengerjakan buku latihan.
Aku tidak menoleh.
“Lalu?”
“Kamu yang lakukan?”
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
Aku menutup pensil Keisha.
“Keisha, lanjut gambar di kamar dulu, ya.”
Setelah anakku masuk kamar, aku menghadap Arga.
“Aku tidak pernah menghubungi kantormu.”
Ia memandangku curiga.
“HR memeriksa perjalanan dinas.”
“Itu urusanmu.”
“Mereka tahu soal hotel.”
Aku terdiam.
Arga mengusap rambut kasar-kasar.
“Ternyata ada pegawai yang komplain soal pembagian klien juga.”
Sekarang aku mengerti.
Arga selama ini mengira masalah terbesar dalam hidupnya adalah istrinya mulai curiga.
Padahal masalah sebenarnya adalah kebiasaannya sendiri telah terlihat oleh banyak orang.
“Apa kata kantor?”
“Mereka tarik aku sementara dari posisi koordinator tim sampai pemeriksaan selesai.”
Aku tidak merasa senang.
Tapi aku juga tidak merasa kasihan.
“Aku tidak melakukan itu kepadamu.”
Arga duduk.
“Aku tahu.”
Suaranya kecil.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia berkata jujur.
Tiga hari kemudian Selvi mengembalikan Rp27,5 juta.
Penuh.
Aku tahu alasannya ketika Arga bercerita.
Begitu pemeriksaan internal dimulai, Selvi panik.
Ia tidak ingin transaksi pribadi mereka ikut dipertanyakan.
Ia meminjam uang dari kakaknya untuk mengembalikan dana tersebut.
Yang lebih mengejutkan, perempuan yang berkali-kali mengatakan hanya Arga yang bisa diandalkan itu mendadak menjaga jarak.
Pesan pribadi berhenti.
Telepon malam berhenti.
Ia meminta dipindahkan ke tim lain.
Ketika Arga mencoba menanyakan kenapa, Selvi menjawab melalui pesan kantor.
Saya rasa lebih baik komunikasi kita sekarang hanya tentang pekerjaan.
Arga membaca pesan itu di meja makan.
Lalu menatapku.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa jenis hukuman memang tidak membutuhkan bantuan siapa pun.
Orang hanya perlu dibiarkan menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Namun Arga belum menyerah pada pernikahan kami.
Ia membeli bunga.
Aku tidak menerima.
Ia pulang membawa makanan favoritku.
Aku mengucapkan terima kasih, lalu menyimpannya di kulkas.
Ia mengajak kami liburan.
Aku menolak.
Suatu malam ia duduk di ruang keluarga setelah Keisha tidur.
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku masih sayang kamu.”
“Sejak kapan?”
Ia tampak terpukul.
“Aku selalu sayang.”
Aku tersenyum tipis.
“Mas, aku pernah percaya begitu.”
Aku duduk berhadapan dengannya.
“Ketika aku melahirkan Keisha, aku mengalami pendarahan dan harus tinggal dua hari lebih lama di rumah sakit. Kamu tahu hal pertama yang kamu tanyakan waktu masuk kamar?”
Arga diam.
“Kamu tanya di mana charger laptopmu.”
Ia menunduk.
“Ketika ayahku meninggal, kamu datang ke rumah duka malam hari karena bilang ada presentasi penting.”
Aku menarik napas.
“Ketika Keisha demam empat puluh derajat, aku ke IGD sendirian karena kamu sedang makan malam dengan klien.”
“Itu benar-benar klien.”
“Aku tahu.”
Aku mengangguk.
“Masalahnya bukan selalu perempuan lain.”
Arga menatapku.
“Masalahnya, selama bertahun-tahun aku selalu berada di urutan setelah pekerjaanmu, keluargamu, temanmu, kenyamananmu, dan sekarang Selvi.”
Aku menahan air mata.
“Aku terus mengira kalau aku lebih sabar, lebih perhatian, lebih berguna, suatu hari aku akan naik ke urutan pertama.”
Suaraku mulai bergetar.
“Ternyata aku sedang ikut perlombaan yang bahkan kamu tidak tahu sedang berlangsung.”
Arga menangis malam itu.
Itulah pertama kalinya aku melihatnya benar-benar menangis sejak ayahnya meninggal.
Dulu mungkin aku akan langsung luluh.
Malam itu aku hanya memberinya tisu.
Maaf tidak otomatis menghapus pola yang berlangsung bertahun-tahun.
Air mata juga bukan kontrak perubahan.
Aku meminta kami mengikuti konseling pernikahan sebelum mengambil keputusan terakhir.
Bukan karena aku yakin ingin bertahan.
Aku ingin memastikan bahwa jika pernikahan ini berakhir, aku tidak pergi hanya karena kemarahan sesaat.
Kami datang empat kali.
Pada pertemuan kedua, konselor bertanya kepada Arga,
“Apa hal yang paling Anda rindukan dari istri Anda sekarang?”
Arga menjawab,
“Rumah terasa kosong. Dulu semuanya teratur.”
Aku menatap lantai.
Konselor bertanya lagi,
“Yang Anda rindukan istrinya atau fungsi yang selama ini ia jalankan?”
Arga tidak bisa menjawab.
Pertanyaan itu akhirnya menjawab banyak hal untukku.
Pada pertemuan keempat, aku menyampaikan keputusanku.
“Aku ingin berpisah.”
Arga langsung pucat.
“Ran…”
Aku menggeleng.
“Aku sudah berpikir.”
“Kita bisa terus konseling.”
“Bisa.”
“Berarti masih ada kesempatan.”
“Konseling membantu aku memahami sesuatu.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak membencimu.”
Arga menahan napas.
“Tapi aku juga tidak ingin kembali menjadi perempuan yang harus terluka dulu supaya diperhatikan.”
Kami pulang dengan mobil berbeda.
Dua bulan berikutnya tidak mudah.
Ada dokumen.
Ada pembicaraan keluarga.
Ada perdebatan tentang rumah.
Ada jadwal Keisha.
Ada hari ketika aku menangis di kamar mandi supaya anakku tidak melihat.
Ada malam ketika aku hampir menelepon Arga hanya karena terbiasa mendengar suaranya sebelum tidur.
Namun setiap kali ragu, aku mengingat Keisha berdiri di bawah hujan sambil memegang sertifikat kelulusannya.
Bukan karena kejadian itu satu-satunya alasan aku pergi.
Tetapi karena hari itulah aku akhirnya melihat seluruh pernikahanku dengan jelas.
Kami menyelesaikan perpisahan secara resmi beberapa bulan kemudian.
Arga tetap menjadi ayah Keisha.
Aku tidak pernah menggunakan anak kami untuk menghukumnya.
Kami membuat jadwal yang jelas.
Biaya pendidikan dibagi sesuai kesepakatan tertulis.
Tidak ada lagi uang sekolah yang bisa dipinjamkan kepada siapa pun tanpa persetujuan.
Mobil putih yang kubeli tetap menjadi milikku.
Rumah lama akhirnya dijual setelah semua kewajiban diselesaikan.
Aku menggunakan bagianku untuk menyewa rumah kecil yang hanya berjarak sepuluh menit dari sekolah baru Keisha.
Tidak besar.
Dua kamar.
Dapur sempit.
Garasinya hanya muat satu mobil.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, setiap sudut rumah itu terasa milikku.
Usaha kateringku juga berkembang.
Awalnya aku hanya menyiapkan tiga puluh sampai empat puluh kotak bekal sekolah per hari.
Setelah salah satu orang tua murid merekomendasikanku ke sekolah lain, pesanan naik hampir dua kali lipat.
Aku menyewa dua ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar untuk membantu.
Beberapa bulan kemudian, aku tidak lagi mengerjakan semuanya sendirian.
Keisha bahkan punya kebiasaan baru.
Setiap pagi ia masuk ke mobil sambil membawa botol susu.
Suatu hari tanpa sengaja susu cokelatnya tumpah di jok belakang.
Ia langsung panik.
“Mama! Maaf! Mobil Mama kotor!”
Aku melihat wajahnya dari kaca spion.
Lalu tertawa.
“Jok bisa dibersihkan.”
Ia masih tampak bersalah.
Aku berkata,
“Mobil itu dibeli supaya kamu aman, bukan supaya selalu bersih.”
Keisha tersenyum.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa ringan.
Setahun setelah kelulusannya dari TK, sekolah dasar Keisha mengadakan pentas seni.
Ia mendapat bagian membaca puisi.
Acara dimulai pukul tiga.
Pukul dua lewat empat puluh lima, aku sudah duduk di baris kedua.
Satu kursi di sebelahku kosong.
Lima menit kemudian Arga datang.
Tidak memakai jas.
Tidak membawa laptop.
Ponselnya dimatikan.
Ia duduk tanpa banyak bicara.
Keisha muncul di panggung.
Begitu melihat kami berdua, matanya langsung berbinar.
Ia membaca puisinya dengan suara keras.
Setelah selesai, ia membungkuk dan tersenyum.
Arga bertepuk tangan paling keras.
Ketika acara selesai, Keisha berlari ke arah kami.
“Papa datang!”
Arga berjongkok dan memeluknya.
“Iya.”
“Papa enggak kerja?”
“Hari ini Papa pilih datang ke sini.”
Aku mendengar kalimat itu.
Dulu mungkin aku akan menganggapnya sebagai bukti bahwa Arga akhirnya berubah dan kami seharusnya kembali bersama.
Sekarang aku melihatnya secara berbeda.
Ia sedang belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Dan itu bagus.
Tetapi perubahan seseorang tidak menciptakan kewajiban bagi orang yang pernah terluka untuk kembali.
Di area parkir, Arga berjalan bersamaku menuju mobil.
Keisha lebih dulu masuk.
Sebelum aku membuka pintu, Arga berkata,
“Ran.”
Aku menoleh.
“Aku baru benar-benar mengerti kenapa kamu pergi setelah semuanya selesai.”
Aku diam.
Ia tersenyum pahit.
“Dulu aku pikir selama aku enggak meninggalkan rumah, berarti aku enggak meninggalkan keluarga.”
Kalimat itu hampir sama dengan kesimpulan yang pernah kubuat sendiri.
“Aku salah.”
Aku mengangguk.
“Semoga kamu tidak mengulanginya lagi.”
Arga menatap Keisha di dalam mobil.
“Enggak.”
Kami tidak berpelukan.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada permintaan untuk memulai kembali.
Kami hanya berdiri beberapa detik sebagai dua orang yang pernah membangun rumah bersama, lalu gagal menjaganya dengan cara yang sama.
Aku masuk ke mobil.
Keisha sudah memasang sabuk pengaman.
“Mama, kita makan bakso?”
Aku tertawa.
“Ayo.”
Aku menyalakan mesin.
Di kaca spion, kulihat Arga berjalan menuju mobilnya sendiri.
Dulu pemandangan seperti itu mungkin akan menghancurkanku.
Hari itu tidak.
Aku justru merasa damai.
Selvi akhirnya keluar dari perusahaan beberapa bulan setelah pemeriksaan internal selesai.
Arga tidak dipecat, tetapi ia kehilangan posisi koordinator dan baru mendapat kesempatan memimpin tim lagi hampir setahun kemudian.
Menurut Bu Ratna, itu adalah masa ketika putranya “mendapat pelajaran paling mahal dalam hidupnya”.
Aku tidak pernah menanyakan kabar Selvi.
Aku juga tidak perlu.
Pembalasan terbaik ternyata bukan melihat perempuan lain hancur.
Bukan melihat mantan suami kehilangan pekerjaan.
Bukan membuat keluarga mantan mertua meminta maaf.
Pembalasan terbaik adalah ketika hidupku tidak lagi berputar mengelilingi kesalahan mereka.
Bu Ratna akhirnya datang ke rumah baruku saat ulang tahun Keisha.
Sebelum pulang, ia menghampiriku di dapur.
“Rani.”
“Iya, Bu?”
Ia tampak canggung.
“Ibu dulu terlalu membela Arga.”
Aku tidak menjawab.
“Waktu itu Ibu pikir kamu cuma cemburu karena perempuan lain.”
Ia menarik napas.
“Ibu tidak melihat bagaimana Arga sudah lama membuatmu mengurus semuanya sendirian.”
Aku menatapnya.
“Saya juga terlambat melihatnya, Bu.”
Ia mengangguk.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan itu meminta maaf tanpa menyisipkan alasan.
“Maaf.”
Aku menerima permintaan maafnya.
Bukan berarti melupakan.
Bukan berarti kembali menjadi menantu yang selalu tersedia.
Kami hanya membangun hubungan baru dengan batas yang jauh lebih jelas.
Malam setelah pesta ulang tahun, Keisha tertidur di sofa karena kelelahan.
Aku menggendongnya ke kamar.
Di meja kecil dekat tempat tidurnya terdapat sertifikat kelulusan TK yang sudah kubingkai.
Sertifikat yang dulu hampir basah terkena hujan.
Aku berdiri di sana cukup lama.
Hari itu pernah terasa seperti salah satu hari terburuk dalam hidupku.
Sekarang aku mengerti, justru hari itulah hidupku mulai berubah.
Aku tidak membeli mobil untuk membalas Arga.
Aku tidak meminta berpisah supaya ia menyesal.
Aku juga tidak membangun usaha agar bisa menunjukkan bahwa aku lebih sukses tanpanya.
Aku hanya berhenti menunggu seseorang memilihku.
Aku memilih diriku sendiri.
Aku memilih keselamatan anakku.
Aku memilih rumah yang tidak membuatku terus bertanya apakah aku cukup penting.
Dan ternyata setelah berhenti mengejar orang yang selalu berjalan menjauh, hidup menjadi jauh lebih tenang.
Besok paginya hujan turun lagi.
Deras sekali.
Keisha berdiri di teras mengenakan seragam SD dan membawa payung kecil warna kuning.
“Mama!”
“Iya?”
“Hujannya gede!”
Aku mengambil kunci mobil dari meja.
“Terus?”
Ia menyeringai.
“Kita tetap berangkat.”
Aku membuka pintu garasi.
Mobil putih kecil itu terparkir di sana.
Tidak mewah.
Jok belakangnya bahkan masih memiliki noda tipis susu cokelat yang belum berhasil hilang seluruhnya.
Namun ketika Keisha berlari masuk dan duduk aman di kursinya, aku tersenyum.
Setahun lalu, di tengah hujan, aku pernah menunggu seseorang datang menjemput kami.
Sekarang aku tahu aku tidak perlu menunggu lagi.
Aku punya kunci di tanganku.
Anakku ada di belakangku.
Jalan ada di depan.
Dan kali ini, aku sendiri yang menentukan ke mana kami akan pergi.

