Bagian 3 — Tiga Bulan Itu Berakhir Dengan Rekaman, Uang Perawatan, dan Satu Permintaan Maaf yang Akhirnya Membongkar Siapa Sebenarnya Paling Tidak Berbakti

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 86 tayangan
Bagian 3 — Tiga Bulan Itu Berakhir Dengan Rekaman, Uang Perawatan, dan Satu Permintaan Maaf yang Akhirnya Membongkar Siapa Sebenarnya Paling Tidak Berbakti
Indeks

Bagian 3 — Tiga Bulan Itu Berakhir Dengan Rekaman, Uang Perawatan, dan Satu Permintaan Maaf yang Akhirnya Membongkar Siapa Sebenarnya Paling Tidak Berbakti

Aku tidak ikut masuk.

Aku duduk di ruang makan.

Dari balik pintu kamar terdengar suara Bu Ratna meninggi.

“Itu cerita lama!”

Kemudian suara Ardi.

“Cerita lama bukan berarti tidak pernah terjadi.”

“Istrimu sengaja mengungkit!”

“Aku tanya Ibu, benar atau tidak?”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Bu Ratna berkata,

“Waktu itu Ibu cuma mau mendidik dia supaya tidak manja.”

Tanganku yang berada di atas meja mengepal.

Delapan tahun.

Setelah delapan tahun, akhirnya aku mendengar pengakuan itu.

Bukan salah paham.

Bukan lupa.

Bukan karena sibuk.

Dia memang sengaja melakukannya.

Ardi bertanya lagi,

“Waktu Nadzira demam setelah operasi, Ibu tahu?”

“Tahu.”

“Dia minta ditemani ke klinik?”

“Iya.”

“Kenapa Ibu tidak datang?”

Suara Bu Ratna melemah.

“Dinda ada urusan.”

“Apa urusannya?”

Tidak ada jawaban.

Ardi membuka pintu kamar.

“Mbak Dinda sedang aku telepon.”

Dia keluar, menyalakan speaker ponsel, lalu menaruhnya di meja.

Beberapa detik kemudian suara Dinda terdengar.

“Apa sih, Di? Sudah malam.”

Ardi tidak berbasa-basi.

“Delapan tahun lalu, waktu Nadzira demam setelah melahirkan Alya, kamu ke mana sama Ibu?”

Dinda terdiam.

“Kenapa tanya itu?”

“Jawab.”

“Aku nggak ingat.”

Ardi menatapku.

Aku tidak berkata apa-apa.

Lalu dia membuka tangkapan layar lain.

“Malam itu Ibu bilang harus antar kamu ke pusat perbelanjaan.”

“Oh…”

“Jadi?”

Dinda tertawa kecil, gugup.

“Mungkin cari perlengkapan bayi Kevin.”

“Kamu belum punya Kevin waktu itu.”

Sunyi.

Aku bahkan tidak menyadari Ardi masih mengingat urutan tahun kelahiran keponakannya.

Akhirnya Dinda berkata,

“Ya mungkin belanja biasa. Masa hal delapan tahun lalu dibesar-besarkan?”

Kalimat berikutnya keluar dari mulut Ardi dengan suara sangat dingin.

“Karena saat kalian belanja, istriku dibawa ke IGD oleh Bu Sari dari rumah sebelah.”

Dinda tidak menjawab.

Ardi menoleh kepadaku.

“Siapa yang bayar?”

“Aku.”

“Dari mana uangnya?”

“Tabungan pribadi.”

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

“Sudah.”

“Kapan?”

“Waktu kamu pulang malam itu.”

Wajah Ardi berubah.

Aku masih ingat persis percakapan kami.

Aku baru pulang dari IGD.

Tubuh menggigil.

Alya menangis hampir satu jam.

Ketika Ardi akhirnya tiba, aku mengatakan kepadanya bahwa aku demam dan harus ke rumah sakit sendirian bersama tetangga.

Dia menatapku sebentar.

Lalu berkata,

“Kalau sudah ditangani dokter ya sudah. Aku besok ada presentasi, jangan bahas panjang-panjang malam ini.”

Aku tidak perlu mengingatkannya.

Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia juga sudah ingat.

Aku berkata,

“Aku pernah mencoba cerita berkali-kali.”

Ardi menunduk.

“Dan aku selalu bilang kamu terlalu sensitif?”

“Iya.”

Dia tidak membantah.

Telepon masih tersambung.

Tiba-tiba Dinda berkata,

“Nad, kalau memang dulu aku salah ngomong, ya aku minta maaf. Tapi sekarang Ibu lagi sakit. Jangan jadikan ini kesempatan buat balas dendam.”

Aku menatap ponsel.

“Siapa yang bilang aku balas dendam?”

“Kamu bongkar semua sekarang.”

“Karena sekarang aku akhirnya punya kesempatan bicara tanpa langsung disuruh diam.”

Dinda hendak menjawab, tetapi Ardi memotong.

“Mbak.”

“Apa?”

“Mulai besok datang ke sini.”

“Buat apa?”

“Rawat Ibu.”

“Aku sudah bilang aku nggak bisa.”

“Aku juga kerja.”

“Itu kan tanggung jawab istrimu sekarang.”

Aku menoleh ke Ardi.

Ekspresinya langsung berubah.

“Mbak Dinda.”

Nada suaranya membuat Dinda diam.

“Nadzira bukan pembantu keluarga kita.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu justru terasa lebih berat daripada permintaan maaf.

Mungkin karena selama bertahun-tahun, itulah posisi yang diam-diam diberikan kepadaku.

Bukan lewat kata-kata.

Lewat kebiasaan.

Kalau Bu Ratna sakit, aku yang datang.

Kalau ada acara keluarga, aku yang membantu.

Kalau Dinda butuh menjaga anak, dia meneleponku.

Kalau Ardi sibuk, aku yang mengerti.

Tetapi setiap kali aku yang kewalahan, jawaban mereka selalu:

“Kan kamu di rumah.”

Ardi mengambil kertas kosong.

“Besok kita bikin jadwal.”

Dinda langsung protes.

“Di!”

“Mbak dua hari. Aku dua malam. Sisanya kita bayar caregiver.”

“Kenapa aku harus—”

“Karena dia juga ibu Mbak.”

Telepon mendadak diputus.

Ardi menatap layar beberapa detik.

Lalu kembali masuk ke kamar Bu Ratna.

Aku mengikuti sampai ambang pintu.

Bu Ratna sedang menangis.

Saat melihatku, tatapannya masih keras.

“Nadzira puas?”

Aku menggeleng.

“Belum ada yang membuatku puas malam ini, Bu.”

“Keluarga jadi ribut karena kamu.”

Aku menatapnya lama.

Kemudian aku berkata,

“Bukan karena aku.”

“Kalau kamu tidak mengirim pesan lama itu—”

“Kalau dulu Ibu tidak melakukan semua itu, tidak ada pesan yang bisa kukirim.”

Dia terdiam.

Aku mendekat.

“Aku akan tetap merawat Ibu dengan benar. Obat tetap aku berikan. Makanan tetap aku siapkan. Kontrol tetap aku antar.”

Aku menunjuk kakinya.

“Aku tidak akan menyentuh satu pun kebutuhan medis Ibu untuk balas dendam.”

Napasnya terdengar berat.

“Tapi mulai malam ini, aku juga tidak akan berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi.”

Bu Ratna membuang muka.

Ardi berdiri di samping ranjang.

Lalu untuk pertama kalinya sejak kami menikah, dia berkata,

“Ibu harus minta maaf ke Nadzira.”

Bu Ratna langsung menoleh.

“Apa?”

“Bukan malam ini kalau Ibu belum siap. Tapi Ibu harus lakukan.”

“Dia menantumu!”

Aku hampir tersenyum.

Seolah status menantu membuat seseorang tidak layak menerima permintaan maaf.

Ardi menjawab,

“Justru karena dia istriku.”

Malam itu berakhir tanpa permintaan maaf.

Tetapi sesuatu sudah berubah.

Besok paginya, Dinda datang pukul sepuluh.

Dia membawa dua kantong buah dan wajah kesal.

“Aku cuma bisa sampai jam tiga.”

Aku menyerahkan buku perawatan.

“Obat berikutnya jam sebelas tiga puluh. Makan siang jam dua belas. Kalau mau ke toilet, pakai kursi roda dulu, jangan biarkan Ibu berdiri sendiri.”

Dinda melihat buku tebal itu.

“Kamu nulis beginian setiap hari?”

“Iya.”

“Ribet amat.”

Aku tersenyum.

“Biar jelas.”

Bu Ratna memanggil dari kamar.

“Dinda!”

Dinda langsung masuk.

Lima menit kemudian terdengar,

“Din, air putih Ibu habis.”

Kemudian,

“Din, tolong ambilkan sisir.”

Lalu,

“Din, buahnya potong kecil.”

“Din, televisinya ganti.”

“Din, kaki Ibu gatal.”

Satu jam kemudian Dinda keluar dengan rambut mulai berantakan.

Dia menatapku.

“Ibu memang dari tadi begini?”

Aku sedang membungkus pesanan di meja makan.

“Hampir setiap dua puluh menit.”

Dia menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sedikit kesadaran muncul di wajahnya.

Sore sebelum pulang, dia berkata,

“Besok caregiver saja deh.”

Aku menggeleng.

“Besok jadwal Ardi malam. Lusa kamu lagi.”

“Serius?”

“Jadwalnya dibuat adikmu.”

Dinda menatapku seperti ingin protes.

Tetapi kali ini, dia tidak punya alasan yang bisa dipakai.

Minggu pertama berjalan seperti itu.

Bu Ratna masih berkali-kali mencoba membuatku terlihat jahat.

Suatu sore dia menelepon seorang kerabat dan berkata aku hanya memberinya sayur rebus.

Padahal satu jam sebelumnya dia makan sup ayam, tahu kukus, nasi, pepaya, dan susu.

Aku tidak membantah.

Aku hanya mengunggah foto makanannya ke grup.

Hari lain dia mengeluh kepada Ardi bahwa aku terlambat memberikan obat.

Aku mengirim foto lembar pencatatan lengkap dengan waktu.

Lambat laun Ardi mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah dia lihat.

Merawat orang bukan sekadar uang.

Ada waktu.

Tenaga.

Kesabaran.

Gangguan tidur.

Jadwal kerja yang berubah.

Pekerjaan kecil yang tidak pernah selesai.

Dan semua itu, selama bertahun-tahun, dia anggap akan otomatis kulakukan hanya karena aku istrinya.

Pada malam kedua dia mendapat giliran, Ardi meneleponku pukul 01.20.

“Nad.”

“Hm?”

“Ibu sudah panggil enam kali.”

Aku menahan tawa.

“Kenapa?”

“Pertama minta air. Kedua AC terlalu dingin. Ketiga bantal. Keempat mau ke toilet. Kelima katanya kaki kesemutan. Keenam minta TV dinyalakan.”

“Semangat.”

Dia terdiam.

“Nad.”

“Apa?”

“Waktu kamu habis melahirkan Alya… kamu juga begini?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Aku jauh lebih sulit.”

“Kenapa?”

“Karena ada bayi yang bangun dua jam sekali.”

Dia diam.

“Dan waktu itu kamu tetap bangun sendiri?”

“Hampir selalu.”

Aku mendengar napasnya.

“Aku benar-benar nggak tahu.”

“Kamu tidak pernah mencoba tahu.”

Telepon sunyi.

Lalu Ardi berkata,

“Iya.”

Tidak ada pembelaan.

Itu baru.

Dua minggu kemudian, peristiwa lain terjadi.

Saat aku membereskan lemari dokumen Bu Ratna untuk mencari kartu kontrol rumah sakit, sebuah amplop cokelat jatuh.

Namaku tertulis di sana.

Aku membukanya.

Isinya fotokopi buku tabungan lama dan selembar catatan.

Aku langsung mengenali rekening itu.

Rekening hadiah kelahiran Alya.

Dulu keluarga dan beberapa teman Ardi memberi uang untuk kebutuhan bayi.

Totalnya sekitar Rp11.600.000.

Dua bulan setelah melahirkan, saldo rekening itu hampir habis.

Ketika kutanya Ardi, dia bilang mungkin aku sendiri yang memakai untuk kebutuhan rumah.

Aku sedang sangat lelah saat itu.

Aku tidak pernah mengeceknya lagi.

Sekarang, di dalam amplop, ada slip transfer.

Rp8.500.000.

Dikirim dari rekening tersebut ke Dinda.

Tanggalnya empat belas hari setelah aku melahirkan.

Tanganku menjadi dingin.

Aku memanggil Ardi.

Dia datang malam itu.

Aku meletakkan slip tersebut di meja.

“Ini apa?”

Dia mengambilnya.

Wajahnya langsung berubah.

“Aku nggak tahu.”

“Rekening ini dulu kamu kasih kartu ATM-nya ke siapa?”

Ardi berpikir.

“Ibu.”

Bu Ratna sedang duduk di kursi roda di ruang tengah.

Kami menoleh bersamaan.

Dia tahu.

Dari cara wajahnya berubah, kami tahu.

Ardi berjalan mendekat.

“Bu.”

Bu Ratna tidak menjawab.

“Uang ini apa?”

“Itu sudah lama.”

Aku hampir tertawa.

Kembali lagi.

Sudah lama.

Seolah waktu bisa menghapus transaksi bank.

Ardi berjongkok di depan ibunya.

“Uang kelahiran Alya Ibu transfer ke Mbak Dinda?”

Bu Ratna menghindari tatapannya.

“Dinda waktu itu butuh modal.”

Aku menelan ludah.

“Modal apa?”

Bu Ratna akhirnya menatapku.

“Jualan kue.”

“Uang hadiah anakku?”

“Kamu kan tidak kekurangan.”

Untuk sesaat aku benar-benar tidak bisa bicara.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena pada periode yang sama aku pernah menghitung uang receh untuk membeli salep luka setelah operasi.

Dan perempuan di depanku mengambil uang anakku karena menurutnya aku “tidak kekurangan”.

Ardi berdiri.

“Ibu izin ke siapa?”

“Ibu pikir—”

“Aku tanya izin ke siapa?”

Bu Ratna mulai menangis.

“Kalian sekarang menghitung-hitung uang ke Ibu?”

Aku menjawab pelan,

“Tidak, Bu.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku cuma akhirnya tahu ke mana uangnya pergi.”

Dinda dipanggil malam itu.

Kali ini dia datang bersama suaminya.

Begitu slip transfer diletakkan di meja, Dinda awalnya mengatakan dia tidak ingat.

Lalu berubah menjadi:

“Memang Ibu kasih.”

Kemudian:

“Aku nggak tahu itu uang Alya.”

Suaminya, Rama, yang sejak tadi diam, akhirnya bertanya,

“Jadi modal pertama kateringmu dari uang itu?”

Dinda langsung membela diri.

“Aku kira uang Ibu.”

Bu Ratna berkata,

“Ibu yang bilang begitu.”

Ruangan menjadi sunyi.

Rama menatap istrinya.

“Balikin.”

Dinda terkejut.

“Mas?”

“Balikin.”

“Uangnya sudah delapan tahun!”

“Justru delapan tahun.”

Dinda mulai menangis.

“Aku nggak punya uang sebanyak itu sekarang.”

Ardi berkata,

“Nggak harus malam ini. Cicil.”

Aku mengangkat tangan.

“Tidak.”

Mereka semua menatapku.

Aku memandang Dinda.

“Aku tidak mau Rp8,5 juta.”

Dinda terlihat lega terlalu cepat.

Aku melanjutkan,

“Aku mau jumlahnya diganti untuk Alya. Masukkan ke rekening pendidikan dia. Tidak perlu ke rekeningku.”

Rama langsung mengangguk.

“Setuju.”

Bu Ratna ingin bicara, tetapi aku menatapnya.

“Dan jangan pernah lagi bilang aku mengungkit masa lalu demi uang.”

Dia menutup mulut.

Dinda mulai mencicil bulan berikutnya.

Ternyata konsekuensi paling menyakitkan bagi mereka bukan uangnya.

Melainkan hilangnya sistem keluarga lama.

Sebelumnya Bu Ratna bisa menelepon Ardi kapan saja untuk minta transfer.

Dinda bisa meminta pertolongan, lalu berkata “kan saudara”.

Aku bisa diminta datang, memasak, menjaga anak, mengantar, dan semua dianggap kewajiban.

Setelah semuanya terbuka, Ardi mengubah itu.

Uang bulanan untuk ibunya tidak dihentikan.

Tetapi dia membayar listrik, BPJS, obat, dan kebutuhan rumah secara langsung.

Tidak ada lagi transfer besar tanpa tujuan.

Sebulan kemudian dia menemukan bahwa dari uang yang selama ini dikirim kepada Bu Ratna, beberapa kali ada transfer rutin ke Dinda.

Dinda marah.

“Jadi sekarang kamu periksa semua?”

Ardi menjawab,

“Aku bukan berhenti membantu. Aku cuma berhenti pura-pura uang menyelesaikan semua masalah.”

Ada perubahan lain.

Dia mulai pulang lebih cepat dua kali seminggu.

Awalnya karena jadwal merawat ibunya.

Kemudian kebiasaan itu terbawa ke rumah kami.

Dia mulai menjemput Alya.

Membantunya mengerjakan tugas sekolah.

Mencuci piring setelah makan malam.

Suatu malam aku melihatnya sedang mengepang rambut Alya dengan hasil sangat buruk.

Alya tertawa.

“Papa, miring!”

Ardi membuka lagi kepangannya.

“Ya sudah, ulang.”

Aku berdiri di pintu kamar.

Delapan tahun lalu mungkin aku akan menangis melihat pemandangan itu.

Sekarang rasanya berbeda.

Aku tidak ingin satu minggu perhatian menghapus bertahun-tahun ketidakhadiran.

Perubahan harus dibuktikan dengan waktu.

Dan aku mengatakannya kepadanya.

“Aku belum melupakan semuanya.”

Ardi mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku juga belum tentu bisa memaafkan semuanya cepat.”

“Aku tahu.”

“Jangan berubah dua minggu lalu kembali lagi.”

Dia menatapku.

“Aku akan coba supaya nggak begitu.”

Itu jawaban yang lebih bisa kupercaya daripada janji besar.

Karena dia tidak bilang akan menjadi suami sempurna.

Dia bilang akan mencoba.

Hari demi hari berlalu.

Kaki Bu Ratna membaik.

Dari kursi roda, ia mulai beralih ke alat bantu jalan.

Fisioterapis datang dua kali seminggu.

Aku tetap membantu, tetapi aku berhenti menjadi penanggung jawab tunggal.

Ada caregiver empat jam sehari.

Dinda punya jadwal tetap setiap Selasa dan Jumat.

Ardi datang setiap Rabu malam dan Sabtu.

Aku menangani kontrol dokter karena jadwalku paling fleksibel.

Untuk pertama kali, beban itu benar-benar dibagi.

Dan ternyata setelah tanggung jawab terbagi, semua orang berhenti menyebutnya “hal kecil”.

Memasuki minggu kesembilan, Bu Ratna berubah lebih pendiam.

Dia tidak lagi berteriak memanggilku dari kamar untuk hal-hal yang bisa dia lakukan sendiri.

Suatu sore ketika aku hendak pulang, dia memanggil.

“Nadzira.”

Aku berhenti.

“Iya, Bu?”

“Duduk sebentar.”

Aku duduk di sofa seberangnya.

Dia memegang tongkat.

Lama sekali tidak bicara.

Kemudian berkata,

“Waktu kamu melahirkan Alya…”

Aku menunggu.

“Ibu memang jahat sama kamu.”

Aku tidak menjawab.

Dia menarik napas.

“Ibu dulu kesal karena Ardi menikah cepat. Ibu juga bodoh… berharap cucu pertama laki-laki.”

Aku menatapnya.

Ia melanjutkan,

“Waktu Alya lahir perempuan, Ibu merasa kecewa. Padahal anak itu tidak salah apa-apa.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ibu lampiaskan ke kamu.”

Aku bertanya,

“Kenapa baru sekarang bilang?”

Dia tersenyum pahit.

“Karena waktu kaki Ibu nggak bisa dipakai, baru Ibu mengerti rasanya bergantung pada orang.”

Aku tetap diam.

Dia berkata,

“Setiap kali mau ambil air sendiri tapi nggak bisa, Ibu ingat kamu waktu habis operasi.”

“Setiap kali harus menunggu orang datang bantu ke kamar mandi, Ibu ingat kamu dulu jalan membungkuk sambil gendong Alya.”

Suaranya pecah.

“Dan setiap kali Dinda bilang sibuk…”

Dia berhenti.

“…Ibu baru sadar dulu kamu juga pasti merasa ditinggalkan.”

Aku tidak merasa menang.

Aneh.

Selama bertahun-tahun aku membayangkan kalau suatu hari Bu Ratna mengaku salah, aku akan merasa lega luar biasa.

Tetapi ketika hari itu datang, perasaanku justru tenang.

Mungkin karena aku sudah tidak membutuhkan pengakuannya untuk membuktikan bahwa lukaku nyata.

Aku tahu.

Itu cukup.

Bu Ratna mengusap matanya.

“Ibu minta maaf.”

Aku berkata,

“Aku dengar.”

Dia menatapku.

“Kamu maafkan?”

Aku tidak berbohong.

“Belum sepenuhnya.”

Wajahnya sedikit jatuh.

“Tapi aku tidak ingin terus membenci Ibu.”

Dia mengangguk pelan.

“Itu sudah lebih dari yang Ibu pantas dapat.”

Sebelas minggu setelah kecelakaan, dokter mengizinkan Bu Ratna berjalan dengan tongkat untuk jarak pendek.

Hari kontrol terakhir, kami pergi bersama.

Dinda datang.

Ardi juga mengambil cuti setengah hari.

Saat keluar dari rumah sakit, Bu Ratna berjalan perlahan di antara kedua anaknya.

Aku mengikuti dari belakang bersama Alya.

Tiba-tiba Alya berlari kecil mendekati neneknya.

“Hati-hati, Nek.”

Bu Ratna tersenyum.

“Iya.”

Alya menggenggam tangan bebasnya.

Aku melihat Bu Ratna terdiam.

Mungkin dia sedang memikirkan bayi perempuan yang dulu dianggapnya tidak penting.

Bayi itu sekarang sudah sepuluh tahun.

Dan justru tangan kecil itulah yang menggandengnya.

Sore itu kami makan bersama di rumah Bu Ratna.

Tidak ada pesta.

Tidak ada pidato.

Tetapi sebelum semua pulang, Bu Ratna tiba-tiba memanggil Dinda dan Ardi.

“Nadzira juga duduk.”

Kami duduk mengelilingi meja.

Bu Ratna mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada buku tabungan baru atas nama Alya.

“Apa ini?” tanyaku.

“Tabungan sekolah.”

Aku menatap saldo awalnya.

Rp15.000.000.

Aku langsung menutup buku itu.

“Bu, aku tidak minta—”

“Ibu tahu.”

Dia mendorongnya kembali.

“Yang delapan setengah juta Dinda tetap cicil.”

Dinda melotot.

Bu Ratna berkata tegas,

“Ini dari Ibu sendiri.”

“Untuk apa?”

Dia melihat Alya.

“Bukan buat membeli maaf.”

Lalu menatapku.

“Anggap Ibu sedang mulai belajar jadi nenek yang benar.”

Aku menerima buku itu.

Bukan karena uangnya.

Tetapi karena kali ini dia memberikan sesuatu tanpa mengambil milik orang lain.

Tiga bulan setelah kecelakaan itu, aku kembali tidur penuh di rumahku sendiri.

Tidak ada lagi tas pakaian di rumah Bu Ratna.

Tidak ada buku obat di meja makanku.

Tidak ada telepon pukul lima pagi meminta teh.

Hidup kembali normal.

Tetapi keluarga kami tidak pernah kembali menjadi seperti sebelumnya.

Dan itu justru hal terbaik yang terjadi.

Sekarang kalau Dinda meminta bantu menjaga anak, aku boleh berkata,

“Maaf, aku tidak bisa.”

Tanpa disebut tidak peduli keluarga.

Kalau Bu Ratna butuh sesuatu, dia bertanya dulu apakah aku punya waktu.

Kalau Ardi sibuk, dia tidak lagi otomatis menganggap waktuku lebih murah daripada waktunya.

Suatu malam, beberapa minggu kemudian, kami duduk di teras.

Alya sudah tidur.

Ardi membawa dua gelas teh.

Dia memberikan satu kepadaku.

“Nad.”

“Hm?”

“Aku dulu suami yang buruk ya?”

Aku menatapnya.

“Aku nggak mau jawab pertanyaan jebakan.”

Dia tertawa kecil.

“Serius.”

Aku berpikir sejenak.

“Kamu dulu menganggap selama kebutuhan rumah dibayar, berarti tugasmu sudah selesai.”

Dia mengangguk.

“Aku baru sadar waktu rawat Ibu.”

Aku memandang halaman depan.

“Makanya ada pekerjaan yang nggak kelihatan.”

“Dan selama ini kamu yang kerjakan.”

“Sebagian besar.”

Dia terdiam.

Kemudian berkata,

“Terima kasih karena kamu nggak memperlakukan Ibu seperti dia memperlakukan kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku melakukan itu bukan buat Ibumu.”

“Terus?”

“Buat diriku sendiri.”

Dia tidak langsung mengerti.

Aku menjelaskan.

“Kalau aku sengaja bikin dia lapar, sengaja menahan obatnya, atau membuatnya menderita hanya karena dulu dia melakukan itu kepadaku, berarti aku membiarkan dia mengubahku menjadi orang seperti dia.”

Aku mengangkat gelas teh.

“Aku tidak mau.”

Ardi mengangguk pelan.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Balas dendam yang paling memuaskan ternyata bukan melihat orang yang pernah menyakitimu kesakitan.

Bukan membiarkannya kelaparan.

Bukan mengabaikannya ketika ia memanggil.

Bukan mengembalikan kalimat kasar yang sama.

Yang jauh lebih memuaskan adalah membuat mereka kehilangan hak untuk menyangkal apa yang pernah mereka lakukan.

Membuat orang yang selama ini bersembunyi di balik kata “keluarga” akhirnya ikut memikul tanggung jawab keluarga.

Membuat uang yang pernah diambil dikembalikan.

Membuat suami yang selama ini hanya mentransfer uang akhirnya belajar hadir.

Membuat kakak ipar yang selalu punya alasan akhirnya merasakan sendiri beratnya menjaga orang tua.

Dan membuat seorang ibu mertua yang pernah menganggap cucu perempuan sebagai kekecewaan, akhirnya menabung untuk masa depan cucu itu dengan tangannya sendiri.

Aku tidak memenangkan perang.

Aku menghentikan pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Enam bulan kemudian, Bu Ratna sudah bisa berjalan normal.

Ia masih memakai tongkat kalau bepergian jauh.

Dinda sudah melunasi lebih dari separuh uang Alya.

Ardi masih punya hari-hari ketika pekerjaannya membuat dia pulang terlambat.

Aku masih kesal kepadanya sesekali.

Kami bukan keluarga yang tiba-tiba sempurna.

Tetapi sekarang ada batas.

Ada tanggung jawab.

Dan yang paling penting, ada satu aturan baru yang tidak pernah kami tulis, tetapi semua orang mengerti:

Tidak ada lagi seorang perempuan yang harus menderita diam-diam hanya supaya keluarga terlihat harmonis.

Suatu Minggu pagi Bu Ratna datang ke rumah membawa soto ayam.

Dia mengetuk pintu sebelum masuk.

Itu saja sudah terasa seperti perubahan besar.

Ketika kami makan, dia melihat Alya mengambil paha ayam terakhir.

Dulu Bu Ratna pasti akan berkata,

“Simpan untuk Papa.”

Kali ini dia justru mengambil mangkuk dan menambahkan kuah ke nasi cucunya.

“Makan yang banyak. Besok sekolah.”

Alya tersenyum.

Aku melihat mereka.

Bu Ratna kemudian menatapku sebentar.

Tidak ada kata-kata.

Hanya sebuah anggukan kecil.

Aku membalasnya.

Aku tidak pernah melupakan dua minggu setelah kelahiran Alya.

Mungkin aku juga tidak akan pernah lupa.

Tetapi sekarang kenangan itu tidak lagi mengendalikan hidupku.

Bu Ratna pernah membuatku merasa tidak berharga ketika aku berada dalam keadaan paling lemah.

Bertahun-tahun kemudian, ketika keadaan berbalik dan dialah yang tidak bisa berdiri tanpa bantuan, aku punya kesempatan untuk melakukan hal yang sama.

Aku memilih tidak melakukannya.

Sebagai gantinya, aku membuka semua yang selama ini ditutup.

Dan ternyata bagi orang yang terbiasa tidak pernah dimintai pertanggungjawaban, melihat kebenaran diletakkan terang-terangan di atas meja jauh lebih menakutkan daripada rasa sakit apa pun.

Kaki Bu Ratna sembuh dalam tiga bulan.

Keluarga kami membutuhkan lebih lama.

Tetapi kali ini, kami sembuh dengan cara yang benar.