Ibu Mertuaku Mengusirku Saat Suamiku Membawa Selingkuhannya Naik ke Kamar Kami, Tapi Satu Telepon Membuat Mereka Membeku Ketika Notaris Datang Membawa Nama Pemilik Rumah Sebenarnya Malam Itu di Jakarta Selatan

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 127 tayangan
Auto Draft
Indeks

Ibu Mertuaku Mengusirku Saat Suamiku Membawa Selingkuhannya Naik ke Kamar Kami, Tapi Satu Telepon Membuat Mereka Membeku Ketika Notaris Datang Membawa Nama Pemilik Rumah Sebenarnya Malam Itu di Jakarta Selatan

Bagian 1 — Malam Aku Diusir dengan Satu Koper, Mereka Malah Menertawakanku Sampai Orang dari Kantor Notaris Mengetuk Pintu Rumah dan Meminta Mereka Berkumpul

“Bereskan barangmu malam ini juga. Besok pagi aku tidak mau melihat wajahmu lagi di rumah ini.”

Suara Bu Ratih terdengar tenang.

Justru karena terlalu tenang, kalimat itu terasa lebih kejam.

Aku berdiri di tengah ruang keluarga rumah dua lantai di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan sebuah koper terbuka di dekat kakiku.

Beberapa helai bajuku tergeletak di lantai.

Bukan karena aku yang melemparkannya.

Bu Ratih baru saja menarik pakaian itu dari koper lalu menjatuhkannya sambil berkata bahwa aku tidak berhak membawa barang apa pun yang “dibeli dengan uang keluarga mereka”.

Di sofa, suamiku, Arga Pradana, duduk tanpa sedikit pun mencoba menghentikan ibunya.

Dan di samping Arga ada seorang perempuan bernama Selma.

Perempuan yang selama enam bulan terakhir selalu disebut Arga sebagai “klien penting”.

Malam itu Selma mengenakan blus krem, celana panjang putih, dan sebuah gelang emas tipis di tangan kirinya.

Aku mengenali gelang itu.

Aku membelinya di Plaza Indonesia dua tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun untuk Arga.

Tentu saja bukan untuk dipakai olehnya.

Aku pernah bercanda bahwa kelak gelang itu bisa diberikan kepada anak perempuan kami kalau kami punya anak.

Sekarang gelang tersebut melingkar di pergelangan tangan perempuan lain.

“Jadi semuanya benar?” tanyaku.

Arga menghela napas seolah-olah akulah orang yang membuat keadaan menjadi rumit.

“Nadira, jangan mulai.”

Aku hampir tertawa.

“Jangan mulai?”

Aku menunjuk Selma.

“Dia duduk di rumah kita memakai barang yang kubeli, lalu ibumu mengeluarkan pakaianku dari lemari. Tapi menurutmu aku yang mulai?”

Selma segera menundukkan kepala.

“Aku sebenarnya sudah bilang kepada Mas Arga jangan seperti ini. Aku tidak mau Kak Nadira merasa aku merebut—”

“Tidak usah memanggil dia kakak.”

Bu Ratih memotongnya.

Kemudian ibu mertuaku menggenggam tangan Selma dengan hangat.

“Sebentar lagi kamu yang akan mendampingi Arga. Tidak perlu merendahkan diri di depan perempuan yang bahkan tidak bisa menjaga rumah tangganya sendiri.”

Aku menatap Arga.

Tiga tahun.

Tiga tahun aku menikah dengannya.

Saat ayahnya terkena stroke ringan, aku yang mengantar kontrol karena Arga selalu punya rapat.

Saat perusahaan distribusi material milik keluarganya hampir kehilangan dua klien besar, aku meninggalkan pekerjaanku sebagai analis keuangan untuk membantu membereskan pembukuan.

Aku bahkan memakai sebagian uang peninggalan almarhum ayahku untuk membantu arus kas perusahaan ketika pembayaran proyek mereka macet.

Waktu itu Arga menggenggam tanganku sambil berkata, “Begitu keadaan membaik, aku akan mengembalikan semuanya.”

Tidak pernah dikembalikan.

Aku pun tidak pernah menagih.

Kupikir pernikahan bukan tempat menghitung siapa memberi lebih banyak.

Ternyata hanya aku yang berpikir begitu.

“Aku cuma ingin mendengar satu jawaban,” kataku kepada Arga. “Kamu memang mau aku pergi?”

Untuk pertama kalinya malam itu, dia benar-benar menatapku.

Namun tidak ada rasa bersalah di matanya.

“Hidup kita sudah tidak cocok.”

“Sejak kapan?”

Arga diam.

Selma menggigit bibir.

Aku mengangguk pelan.

“Sejak enam bulan lalu?”

Wajah Arga berubah.

Bu Ratih langsung menyela.

“Untuk apa membahasnya? Arga sudah memilih. Kamu harus punya harga diri.”

Aku menatap perempuan yang selama tiga tahun memanggilku anak ketika membutuhkan bantuan, tetapi malam itu bahkan tidak mengizinkanku membawa seperangkat piring yang kubeli sendiri.

“Baik,” jawabku.

Aku jongkok, mengambil pakaian dari lantai, lalu memasukkannya ke koper.

Tidak ada gunanya berteriak.

Tidak ada gunanya memohon kepada orang yang sudah merencanakan penghinaan ini jauh sebelum aku mengetahuinya.

Saat aku menarik koper menuju tangga, kudengar suara Bu Ratih dari belakang.

“Kunci mobil taruh di meja.”

Aku berhenti.

“Itu mobil atas namaku.”

“Tapi uang cicilannya dari Arga.”

Aku menoleh.

“Itu dibeli tunai dari rekeningku dua tahun lalu.”

Bu Ratih terdiam sesaat.

Arga berdiri.

“Sudahlah, Bu. Biarkan dia membawa mobil itu.”

Nada suaranya begitu murah hati hingga membuat dadaku panas.

Kemudian dia berjalan mendekat.

“Nadira, besok pengacaraku akan mengirim rancangan perceraian. Kalau kamu tidak memperpanjang masalah, aku kasih Rp600 juta.”

Aku menatapnya.

“Rp600 juta?”

“Lumayan untuk memulai hidup.”

Selma tersenyum kecil.

Sangat kecil.

Tapi aku melihatnya.

Arga melanjutkan, “Apartemen kecil di pinggir Jakarta saja masih bisa kamu dapat. Jangan keras kepala.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku benar-benar selesai.

Bukan hancur.

Selesai.

Aku menarik gagang koper.

“Tidak perlu.”

Arga mengernyit.

“Jangan sok kuat.”

“Aku bilang tidak perlu.”

Bu Ratih terkekeh dari sofa.

“Nanti kalau uang tabunganmu habis, jangan datang menangis ke sini.”

Aku menatap dinding rumah itu.

Lampu gantung yang kupilih.

Rak kayu yang kurancang.

Taman belakang tempat aku sendiri membayar tukang untuk menanam pohon tabebuya.

Lalu pandanganku naik ke lantai dua.

Selma mengikuti arah mataku.

Dia berdiri dan dengan santai meraih tangan Arga.

“Mas, barangku masih di mobil. Bisa tolong ambil?”

Bu Ratih malah tersenyum.

“Bawa saja langsung ke kamar atas. Sudah malam.”

Aku menoleh cepat.

“Kamar atas?”

Selma terlihat pura-pura canggung.

Arga tidak menjawab.

Aku bertanya lagi, lebih pelan.

“Kamu mau membawa dia masuk ke kamar kita sebelum aku bahkan keluar dari rumah ini?”

Arga akhirnya kehilangan kesabaran.

“Memangnya kenapa? Hubungan kita sudah selesai!”

“Belum ada gugatan. Belum ada putusan. Bahkan satu jam lalu aku masih istrimu di rumah ini.”

“Jangan dramatis, Nadira!”

Aku tertawa kecil.

Aneh.

Ternyata ketika penghinaan sudah melewati batas tertentu, air mata malah berhenti sendiri.

Aku menarik koper turun satu anak tangga.

Arga berkata dari belakang, “Percayalah, beberapa bulan lagi kamu akan sadar keputusan menolak uang dariku malam ini adalah keputusan paling bodoh dalam hidupmu.”

Aku berhenti.

“Kenapa?”

“Karena setelah keluar dari rumah ini, kamu praktis tidak punya apa-apa.”

Bu Ratih menambahkan, “Selama tiga tahun kamu hidup enak karena keluarga Pradana. Jangan lupa diri.”

Aku memejamkan mata selama dua detik.

Kemudian mengeluarkan ponsel.

Ada satu nomor yang sebenarnya tidak ingin kuhubungi malam itu.

Aku ingin menunggu sampai semuanya selesai secara resmi.

Tetapi mereka memilih malam ini.

Maka aku juga memilih malam ini.

Telepon tersambung pada dering kedua.

“Pak Haris?”

“Iya, Bu Nadira.”

“Dokumen yang Bapak bilang sudah selesai kemarin, semuanya sudah lengkap?”

“Sudah. Sertifikat elektronik dan berita acara serah terimanya sudah kami terima.”

Aku menatap Arga.

Dia masih tersenyum mengejek.

“Kalau begitu tolong datang ke rumah Cilandak sekarang. Bawa salinannya.”

Pak Haris terdiam.

“Sekarang, Bu?”

“Sekarang.”

Aku menutup telepon.

Arga bertepuk tangan dua kali.

“Hebat. Sekarang panggil siapa? Temanmu supaya ada penonton?”

Aku tidak menjawab.

Selma berbisik sesuatu kepada Arga, lalu mereka berdua tertawa.

Dua puluh menit kemudian bel rumah berbunyi.

Satpam membuka pintu.

Pak Haris masuk bersama seorang staf kantor notaris membawa map cokelat tebal dan tablet.

Bu Ratih berdiri dengan wajah tidak senang.

“Siapa kalian?”

Pak Haris memperkenalkan diri.

Arga langsung mengenal namanya.

Ekspresinya berubah sedikit.

“Pak Haris? Bukankah kantor Anda yang menangani restrukturisasi aset ayah saya dulu?”

“Betul, Pak.”

“Kenapa Anda datang malam-malam?”

Pak Haris menatapku terlebih dahulu.

Aku mengangguk.

Dia membuka map.

“Saya datang atas permintaan pemegang hak atas properti ini untuk menyerahkan beberapa dokumen yang sudah selesai diproses.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga mengerutkan kening.

“Pemegang hak?”

“Iya.”

“Rumah ini milik keluarga saya.”

Pak Haris tidak langsung menjawab.

Dia mengeluarkan salinan dokumen.

“Tanah dan bangunan ini sebelumnya memang digunakan keluarga Pradana. Namun berdasarkan dokumen transaksi, pembayaran, serta proses balik nama yang sudah diselesaikan, nama pemegang hak yang tercatat saat ini bukan Bapak.”

Senyum Arga hilang.

Bu Ratih maju satu langkah.

“Jangan bicara sembarangan. Suami saya membeli rumah ini lebih dari sepuluh tahun lalu!”

Pak Haris menatap dokumen di tangannya.

“Mohon maaf, Bu. Yang dibeli almarhum Pak Surya saat itu adalah hak penggunaan berdasarkan kesepakatan dengan pemilik sebelumnya. Pembelian penuh tidak pernah dilunasi karena perusahaan mengalami masalah likuiditas. Pelunasan akhirnya dilakukan beberapa tahun kemudian oleh pihak lain.”

Arga menelan ludah.

“Siapa?”

Pak Haris menoleh kepadaku.

Kemudian membalik halaman paling depan dan meletakkannya di atas meja.

“Pihak yang melunasi kewajiban tersebut sekaligus menyelesaikan pengalihan hak adalah Ibu Nadira Maheswari.”

Tidak ada yang bergerak.

Selma perlahan melepaskan tangan Arga.

Wajah Bu Ratih memucat.

Arga mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar.

Lalu dia menatapku seolah baru pertama kali mengenalku.

Aku menaikkan koper satu anak tangga kembali ke atas.

“Sekarang,” kataku pelan, “kita ulangi percakapan tadi.”

Aku menunjuk pintu depan.

“Siapa sebenarnya yang harus keluar dari rumah ini?”

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #PerempuanTegar #CeritaViral

Bagian 2 — Mereka Baru Tahu Rumah Itu Milikku, Lalu Rahasia Utang Suamiku Membuka Pengkhianatan yang Jauh Lebih Kotor dari Perselingkuhan Selama Ini

“Ini tidak mungkin.”

Arga membaca halaman pertama, lalu halaman kedua, kemudian kembali lagi ke halaman pertama.

“Tidak mungkin.”

Aku berdiri tanpa menjawab.

Bu Ratih merebut dokumen itu.

Matanya berlari cepat mengikuti tulisan.

“Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Karena setelah tiga tahun, akhirnya keluar juga pertanyaan yang seharusnya pernah mereka tanyakan.

“Dari warisan ayahku.”

Bu Ratih menatapku.

Aku melanjutkan.

“Waktu perusahaan keluarga kalian hampir gagal membayar pemasok tiga tahun lalu, Arga datang kepadaku. Katanya kalau utang properti lama tidak dibereskan, rumah ini bisa ikut bermasalah.”

Arga langsung memotong.

“Aku tidak pernah menyuruhmu mengambil rumah ini!”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Kamu menyuruhku menyelamatkannya.”

Pak Haris membuka satu berkas lagi.

Aku menjelaskan bahwa pembayaran waktu itu bukan hadiah kepada keluarga Arga.

Ayahku, sebelum meninggal, selalu mengajariku agar uang dalam jumlah besar harus memiliki dasar hukum yang jelas.

Karena itulah pembayaran dicatat secara resmi.

Keluarga Pradana diberi waktu untuk mengembalikan dana.

Mereka tidak pernah melakukannya.

Setelah ayah mertua meninggal, proses penyelesaian aset tertunda hampir satu tahun karena dokumennya berantakan.

Bulan lalu semuanya akhirnya selesai.

Arga menatapku tajam.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku hampir tidak percaya mendengar pertanyaan itu.

“Aku pernah bilang.”

“Kapan?”

“Dua tahun lalu. Di meja makan. Kamu sedang melihat ponsel dan menjawab, ‘urus saja, aku percaya kamu.’”

Arga membisu.

Selma mulai mundur menuju sofa.

Aku memandangnya.

“Jangan pergi dulu.”

Dia berhenti.

“Aku?”

“Iya. Karena ada bagian yang berhubungan denganmu.”

Wajahnya langsung berubah.

Arga berdiri di depannya.

“Jangan seret Selma.”

Aku membuka ponsel dan menunjukkan beberapa tangkapan layar.

“Nomor rekening ini milik siapa?”

Arga melihat sebentar.

Wajahnya menjadi kaku.

Selma menjawab cepat, “Aku tidak tahu.”

“Menarik.”

Aku menekan layar.

“Karena dalam empat bulan terakhir ada sembilan transfer dari rekening operasional perusahaan Pradana Konstruksi ke rekening itu. Totalnya Rp1,18 miliar.”

Bu Ratih hampir berteriak.

“Apa?”

Arga langsung merampas ponselku, tetapi aku menariknya kembali.

“Itu urusan perusahaan!”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Dan aku masih tercatat sebagai pihak yang memberikan pinjaman pemegang kepentingan sebesar Rp2,4 miliar kepada perusahaan itu.”

Arga kini benar-benar kehilangan warna wajahnya.

Selama beberapa minggu terakhir aku sebenarnya sudah mencurigai sesuatu.

Bukan perselingkuhannya.

Perselingkuhan itu justru bagian yang paling mudah ditemukan.

Yang membuatku khawatir adalah laporan keuangan perusahaan yang mulai aneh.

Pembayaran vendor tercatat sebagai “biaya konsultasi”.

Beberapa uang muka pelanggan berpindah ke rekening perantara.

Ada tagihan renovasi kantor yang nilainya hampir tiga kali harga pasar.

Aku meminta salinan transaksi kepada bagian keuangan yang dulu pernah bekerja langsung denganku.

Nama Selma muncul berulang kali.

Kadang melalui rekening pribadinya.

Kadang melalui sebuah perusahaan event kecil milik kakaknya.

“Arga bilang itu pembayaran proyek,” Selma terburu-buru berkata.

Aku menatapnya.

“Proyek apa?”

Dia diam.

“Proyek membeli tas? Proyek perjalanan ke Bali? Atau proyek uang muka apartemen di Kuningan?”

Bu Ratih menoleh kepada anaknya.

“Apartemen?”

Arga membentak, “Cukup!”

Aku mengambil satu amplop lain dari dalam tas kecilku.

“Belum.”

Kulemparkan fotokopi dokumen pemesanan apartemen ke meja.

Nama pemesan: Selma Azzahra.

Sumber pembayaran uang muka: transfer dari rekening perusahaan yang dilakukan Arga.

Bu Ratih langsung mencengkeram lengan anaknya.

“Kamu pakai uang perusahaan?”

“Bu, aku bisa jelaskan.”

“Untuk perempuan ini?”

Selma tersinggung.

“Bu Ratih, Mas Arga bilang uang itu bagian keuntungan pribadinya!”

“Kamu diam!”

Perempuan yang dua puluh menit lalu ingin menjadikan Selma menantu tiba-tiba menunjuknya seperti musuh.

Ironis.

Namun aku belum selesai.

“Besok pagi auditor independen akan masuk ke perusahaan.”

Arga menatapku.

“Kamu tidak punya hak.”

“Aku punya hak meminta pemeriksaan atas penggunaan dana yang berkaitan dengan pinjaman yang belum diselesaikan. Detail hukumnya biar pengacara kita yang berdebat.”

“Kita?”

“Bukan kita sebagai suami istri.”

Aku menatapnya lurus.

“Maksudku pengacaramu dan pengacaraku.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Arga terdengar takut.

“Nadira, jangan gegabah. Kalau masalah perusahaan dibuka, banyak pegawai bisa kena dampaknya.”

Aku tersenyum pahit.

Begitu cepat.

Tadi aku perempuan miskin yang tidak punya apa-apa.

Sekarang tiba-tiba aku harus memikirkan nasib seluruh pegawai.

“Aku justru memikirkan mereka. Karena itu aku memilih audit, bukan membuat keributan di media.”

Selma mengambil tasnya.

“Aku mau pulang.”

Aku tidak menahannya kali ini.

Namun sebelum dia mencapai pintu, Pak Haris berkata, “Mohon tunggu sebentar, Bu Selma.”

Dia berhenti.

Pak Haris mengeluarkan sebuah amplop terakhir.

“Ini dititipkan tim hukum Bu Nadira. Bukan tuntutan, hanya pemberitahuan agar dokumen dan komunikasi terkait transaksi dengan PT Pradana Konstruksi tidak dihapus karena mungkin diperlukan dalam pemeriksaan.”

Tangan Selma mulai gemetar.

Arga memandangnya.

“Selma?”

Perempuan itu tidak berani menatapnya.

Dan tepat pada saat itulah ponsel Arga berbunyi.

Satu pesan masuk.

Lalu satu lagi.

Lalu beberapa pesan sekaligus.

Arga membuka grup direksi perusahaan.

Wajahnya semakin pucat.

Pamannya, yang memegang saham terbesar setelah kematian ayahnya, baru mengirim satu kalimat:

Besok pukul delapan pagi rapat direksi darurat. Jangan melakukan transaksi apa pun dari rekening perusahaan mulai malam ini.

Arga menatapku.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Aku belum sempat menjawab ketika Selma tiba-tiba berkata dengan suara bergetar,

“Mas… sebenarnya ada satu hal yang belum aku ceritakan kepadamu.”

Arga menoleh.

Selma mundur satu langkah.

“Uang yang kamu kirim bulan lalu…”

Dia menelan ludah.

“…sebagian sudah aku pindahkan lagi.”

“Ke mana?”

Selma tidak menjawab.

Arga membentak.

“SELMA, KE MANA?”

Air mata perempuan itu mulai jatuh.

Dan jawaban berikutnya membuat bahkan Bu Ratih harus berpegangan pada sandaran sofa.

“Ke rekening seseorang yang selama ini membantuku menyiapkan semua dokumen supaya setelah kamu bercerai… perusahaan itu bisa kita tinggalkan.”

Bagian 3 — Saat Mereka Memohon Agar Kubatalkan Semuanya, Bukti Transfer dan Rekaman Pertemuan Membuat Kesombongan Keluarga Itu Runtuh di Depan Semua Orang

Arga menatap Selma seperti baru saja ditampar.

“Apa maksudmu meninggalkan perusahaan?”

Selma menangis.

“Aku cuma mengikuti rencana yang kita bicarakan.”

“Rencana kita tidak seperti itu!”

“Mas, kamu sendiri bilang perusahaan keluargamu penuh utang!”

Bu Ratih menoleh cepat.

“Utang apa lagi?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku justru mendapat potongan terakhir dari teka-teki.

Selama berbulan-bulan Arga rupanya bukan hanya berselingkuh.

Dia juga sedang berusaha memindahkan uang sebanyak mungkin sebelum kondisi perusahaan diketahui keluarga besarnya.

Selma mengira setelah perceraian selesai, Arga akan menjual beberapa aset, meninggalkan perusahaan, lalu membuka bisnis baru bersamanya.

Masalahnya, Selma rupanya punya rencana cadangan sendiri.

Sebagian uang yang diterimanya telah dipindahkan kepada seorang kenalan yang menjanjikan investasi properti.

Bukan investasi ilegal misterius.

Sebuah transaksi biasa yang ternyata dilakukan tanpa sepengetahuan Arga.

Saling menipu.

Saling memanfaatkan.

Pasangan yang sangat serasi.

Malam itu aku tidak mengusir siapa pun secara kasar.

Aku meminta Pak Haris menjelaskan bahwa penghuni rumah akan menerima pemberitahuan resmi dan waktu wajar untuk mengosongkan properti.

Aku bahkan tidak ingin memberi mereka kesempatan mengatakan bahwa aku bertindak sewenang-wenang.

“Aku akan tinggal di hotel,” kataku sambil menutup koper.

Bu Ratih terkejut.

“Kamu mau pergi?”

Aku menatapnya.

“Malam ini iya. Karena aku tidak mau tidur satu atap dengan orang-orang yang baru saja memperlakukanku seperti sampah.”

Arga mengejarku sampai teras.

“Nadira.”

Aku terus berjalan.

“Nadira, tunggu.”

Dia berdiri di depan mobilku.

“Aku salah.”

Tiga kata itu akhirnya keluar.

Terlambat tiga tahun.

“Besok kita bicara berdua,” katanya. “Tidak perlu perceraian. Aku bisa putus dengan Selma malam ini.”

Aku melihat ke arah pintu rumah.

Selma berdiri di sana dengan mata merah.

Aku kembali menatap suamiku.

“Jadi kalau Selma tidak memindahkan uangmu, kamu masih ingin menceraikanku?”

Arga diam.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Aku masuk mobil.

“Tolong minggir.”

“Nadira—”

“Arga.”

Aku menatapnya untuk terakhir kalinya malam itu.

“Kamu bukan kehilangan istri karena Selma. Kamu kehilangan istri ketika kamu duduk diam melihat ibumu melempar pakaianku ke lantai.”

Dia akhirnya mundur.

Aku pergi.

Tiga minggu kemudian gugatan perceraian resmi berjalan.

Audit perusahaan juga selesai lebih cepat dari perkiraan karena sebagian besar transaksi memiliki jejak digital yang jelas.

Beberapa pengeluaran Arga terbukti tidak memiliki dasar bisnis yang memadai.

Pamannya dan dua pemegang saham lain mencopotnya dari posisi direktur operasional sambil menunggu penyelesaian kewajiban finansial internal.

Tidak ada adegan dramatis polisi menyeret siapa pun.

Tidak perlu.

Bagi Arga, kehilangan jabatan yang selama ini menjadi sumber kesombongannya sudah cukup menghancurkan.

Ia diwajibkan mempertanggungjawabkan sejumlah transaksi dan mengembalikan dana yang tidak dapat dibuktikan penggunaannya untuk kepentingan perusahaan.

Selma?

Hubungan mereka hanya bertahan sebelas hari setelah malam aku diusir.

Arga menuduhnya mengambil uang.

Selma balik menuduh Arga berbohong tentang kondisi keuangannya.

Apartemen yang katanya akan menjadi “rumah baru” mereka akhirnya batal dibeli karena pembayaran berikutnya tidak pernah dilakukan.

Gelang emasku?

Selma mengirimkannya melalui kurir bersama sebuah pesan pendek.

Aku tidak tahu gelang ini milikmu. Maaf.

Aku tidak menjawab.

Gelang itu kujual.

Uangnya kusumbangkan ke program pelatihan kerja perempuan yang dikelola seorang teman.

Aku tidak ingin menyimpan benda yang setiap kali kulihat hanya mengingatkanku pada kebohongan.

Dua bulan kemudian Bu Ratih datang ke kantor pengacaraku.

Bukan ke rumah.

Rumah Cilandak sedang direnovasi.

Aku memutuskan tidak tinggal di sana lagi.

Terlalu banyak suara lama di setiap sudutnya.

Bu Ratih terlihat jauh lebih tua dibanding malam ketika mengusirku.

“Nadira,” katanya, “Ibu minta maaf.”

Aku duduk diam.

“Ibu terlalu membela Arga.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Dia sepertinya berharap aku akan mengatakan sesuatu yang lebih lembut.

Aku tidak melakukannya.

“Kalau rumah itu mau kamu jual, Ibu mengerti,” katanya. “Tapi kalau bisa… beri Ibu sedikit waktu untuk memindahkan barang-barang almarhum bapaknya Arga.”

“Tentu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih.”

Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.

“Ibu salah menilaimu.”

Aku menjawab pelan.

“Masalahnya bukan Ibu mengira saya tidak punya uang.”

Dia menoleh.

“Masalahnya Ibu merasa boleh merendahkan seseorang hanya karena mengira orang itu tidak punya uang.”

Bu Ratih tidak mampu menjawab.

Setelah perceraian selesai, aku menjual rumah Cilandak.

Bukan karena membutuhkan uang.

Aku hanya tidak ingin kemenangan hidupku berupa kemampuan mempertahankan rumah tempat aku pernah dipermalukan.

Dengan sebagian hasil penjualan, aku membuka firma konsultasi keuangan kecil bersama dua mantan rekan kerjaku.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, namaku kembali tercetak di kartu nama bukan sebagai “istri Arga Pradana”, tetapi sebagai Nadira Maheswari.

Enam bulan kemudian perusahaan kami mendapat proyek pertama dengan nilai yang cukup besar.

Sore setelah kontrak ditandatangani, aku duduk di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan ketika sebuah nomor lama menelepon.

Arga.

Aku membiarkannya berbunyi sampai berhenti.

Lalu sebuah pesan masuk.

Aku baru sadar semua yang kamu lakukan untukku setelah aku kehilangan semuanya. Kalau waktu bisa diulang, aku akan memilih berbeda.

Aku membaca sekali.

Kemudian menghapusnya.

Aku tidak membalas.

Karena hidupku tidak membutuhkan waktu untuk diulang.

Aku hanya membutuhkan keberanian untuk tidak kembali.

Malam itu, saat aku pulang ke apartemen baruku, hujan baru saja reda.

Aku membuka jendela.

Udara Jakarta masuk bersama suara kendaraan dari kejauhan.

Tidak ada Bu Ratih.

Tidak ada Selma.

Tidak ada Arga yang membuatku mempertanyakan nilai diriku sendiri.

Di meja tergeletak kontrak perusahaan yang baru kutandatangani.

Aku mengambilnya dan tersenyum.

Malam ketika mereka mengusirku, Arga berkata aku akan keluar dari rumah itu tanpa memiliki apa-apa.

Dia benar tentang satu hal.

Aku memang keluar tanpa membawa banyak barang.

Hanya sebuah koper, mobil, dan harga diriku yang tersisa.

Tetapi ternyata, setelah meninggalkan mereka, aku justru mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih mahal daripada rumah mana pun.

Diriku sendiri.

Dan kali ini, tidak akan kubiarkan siapa pun mengambilnya lagi.