Karena Terlambat Berangkat Kerja, Aku Salah Mengambil Ponsel Suamiku—Kalimat Pertama Ibunya Membuatku Mengajukan Cerai

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 266 tayangan
Karena Terlambat Berangkat Kerja, Aku Salah Mengambil Ponsel Suamiku—Kalimat Pertama Ibunya Membuatku Mengajukan Cerai
Indeks

BAGIAN 2

“Ponselku tertukar dengan punyamu,” kata Raka begitu Nadia mengangkat telepon. Napasnya terdengar berat, seolah ia baru saja berlari dari satu ruangan ke ruangan lain. “Kamu sekarang di mana?”

Nadia berdiri di samping mobilnya sambil menatap dinding beton area parkir. Ia menjaga suaranya tetap tenang.

“Masih di kantor.”

“Kamu sudah membuka ponselku?”

Pertanyaan itu datang terlalu cepat.

Karena Terlambat Berangkat Kerja, Aku Salah Mengambil Ponsel Suamiku—Kalimat Pertama Ibunya Membuatku Mengajukan Cerai

Bukan, “Kamu baik-baik saja?” Bukan pula, “Tadi Ibu menelepon, ya?”

Yang ingin diketahui Raka hanyalah seberapa banyak yang sudah dilihat Nadia.

“Aku menerima telepon dari ibumu,” jawab Nadia.

Di ujung sana tidak terdengar apa-apa selama beberapa detik.

Kemudian Raka tertawa kecil. Tawa yang dipaksakan.

“Ibu pasti salah bicara. Dia akhir-akhir ini sedang stres mengurus renovasi rumah Laras.”

“Ibumu menyebut transfer Rp5,12 miliar ke PT Laras Ruang Kreasi. Ia juga mengatakan uang itu dimasukkan sebagai biaya renovasi agar tidak ditandai saat rekonsiliasi.”

“Nadia, dengarkan aku dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Kalimat itu hampir membuat Nadia tertawa.

Selama sebelas tahun menikah, Raka selalu menggunakan kalimat yang sama setiap kali tertangkap berbohong tentang hal kecil. Ketika ia mengatakan sedang lembur, tetapi ternyata makan malam bersama ibunya. Ketika ia menggunakan tabungan liburan mereka untuk melunasi utang kartu kredit Laras. Ketika ia menjanjikan bahwa Ratih hanya tinggal bersama mereka selama dua minggu setelah operasi lutut, tetapi dua minggu berubah menjadi delapan bulan.

Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.

Seolah-olah kesalahan selalu berada di kepala Nadia, bukan pada tindakan Raka.

“Kalau begitu,” ujar Nadia, “jelaskan.”

“Itu transaksi perusahaan.”

“Perusahaan siapa?”

“Perusahaan keluarga.”

“Kita tidak memiliki perusahaan keluarga.”

Raka mengembuskan napas dengan kasar.

“Kamu sedang emosional. Aku tidak mau membicarakan angka sebesar itu lewat telepon.”

“Aku tidak emosional. Aku bertanya uang itu berasal dari mana.”

“Kembalikan ponselku. Kita bicara di rumah.”

“Apakah uang itu berasal dari proyek Cempaka Residence?”

Keheningan Raka menjadi jawabannya.

Nadia mengenal proyek itu lebih baik daripada siapa pun. Ia yang menemukan lahan bermasalah di Bekasi tersebut enam tahun lalu. Ia yang menyusun konsep hunian menengah, melakukan negosiasi awal dengan pemilik tanah, dan mempertemukan Raka dengan dua investor pertama.

Saat itu Raka baru keluar dari pekerjaannya sebagai kepala pemasaran di sebuah perusahaan bahan bangunan. Nadia mendukungnya mendirikan Mahendra Karya Utama karena percaya suaminya mampu membangun sesuatu sendiri.

Ia bahkan menyetujui penggunaan deposito pribadinya sebesar Rp850 juta sebagai modal awal.

Sebagai gantinya, nama Nadia tercantum sebagai pemegang 35 persen saham.

Namun setelah Cakrawala Properti Nusantara—tempat Nadia bekerja—menunjuk tim lain untuk mengambil alih kerja sama teknis proyek, Nadia sengaja menjauh dari kegiatan operasional perusahaan Raka demi menghindari konflik kepentingan.

Ia tetap menerima laporan tahunan dan pembagian laba, tetapi tidak pernah mencampuri transaksi sehari-hari.

Raka selalu mengatakan semuanya berjalan baik.

Kini Nadia mulai mengerti mengapa suaminya begitu sering meminta dirinya menandatangani dokumen tanpa sempat membaca.

“Jawab aku,” kata Nadia. “Uang itu berasal dari proyek Cempaka Residence atau bukan?”

“Nadia, jangan membuat kesimpulan hanya karena mendengar setengah percakapan.”

“Kalau uang itu bukan milik proyek, katakan bukan.”

Raka tidak menjawab.

Sebaliknya, ia berkata, “Ibu hanya berusaha membantu Laras.”

“Kamu tahu?”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Nanti di rumah.”

“Sejak kapan, Raka?”

Suara Raka merendah.

“Hampir dua bulan.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada angka Rp5,12 miliar.

Dua bulan berarti puluhan kali sarapan bersama. Dua bulan berarti makan malam, percakapan sebelum tidur, dan perjalanan singkat ke Bandung ketika Raka menggenggam tangannya sepanjang jalan.

Dua bulan berarti kebohongan itu bukan keputusan panik yang dibuat dalam satu malam.

Itu adalah pilihan yang diperbarui setiap hari.

“Aku tidak akan pulang malam ini,” kata Nadia.

“Apa?”

“Aku akan menginap di rumah Sari.”

“Kamu tidak perlu menyeret orang lain ke urusan rumah tangga kita.”

“Aku tidak menyeret siapa pun. Aku sedang mencari tempat aman untuk berpikir.”

“Aman?” suara Raka meninggi. “Aku tidak pernah menyakitimu.”

“Kamu baru saja mengakui bahwa selama dua bulan kamu mengetahui rencana memindahkan lebih dari lima miliar rupiah dan menyamarkannya dalam pembukuan.”

“Uangnya belum berpindah.”

“Notifikasinya mengatakan transfer tertunda.”

“Itu bisa dibatalkan.”

“Karena aku mengetahuinya?”

“Karena aku bilang itu bisa dibatalkan!”

Dua orang yang baru turun dari mobil menoleh ke arah Nadia. Ia mengecilkan volume ponselnya.

“Jangan datang ke kantor atau ke rumah Sari,” katanya. “Kita berkomunikasi tertulis untuk sementara.”

“Kamu tidak bisa memutuskan semuanya sendiri.”

“Aku tidak memutuskan semuanya. Aku menetapkan batas.”

“Nadia—”

Nadia mengakhiri panggilan.

Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru semakin jernih.

Ia mengirim pesan singkat kepada Raka.

Aku akan mengembalikan ponselmu melalui kurir kantor. Jangan menghapus atau mengubah dokumen perusahaan yang menjadi hakku sebagai pemegang saham. Mulai sekarang, semua komunikasi mengenai uang, aset, dan perusahaan dilakukan secara tertulis atau melalui kuasa hukum.

Setelah pesan terkirim, Nadia mematikan ponsel Raka dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia mencatat waktu, memotret kondisi ponsel, lalu menyerahkannya kepada petugas kurir internal dengan tanda terima.

Menjelang siang, Nadia tiba di rumahnya di Bintaro ketika ia tahu Raka sedang berada di kantor.

Ia tidak datang untuk mengambil perabot, televisi, atau barang berharga.

Ia mengambil pakaian secukupnya, laptop pribadinya, paspor, ijazah, dokumen pekerjaan, obat-obatan, serta kotak kecil berisi surat-surat penting.

Di lemari kerja, Nadia menemukan salinan akta pendirian Mahendra Karya Utama, laporan pembagian laba tiga tahun terakhir, bukti setoran modalnya, dan dokumen kepemilikan rumah mereka.

Rumah itu dibeli enam tahun setelah pernikahan dengan uang muka dari tabungan Nadia dan angsuran yang dibayar dari pendapatan keduanya. Sertifikat hak miliknya atas nama Raka, tetapi pengacaranya sudah menjelaskan bahwa nama pada sertifikat tidak otomatis menghapus statusnya sebagai harta bersama.

Nadia memotret setiap dokumen sebelum memasukkannya ke tas.

Ia juga mengunduh mutasi rekening bersama yang memang dapat diakses secara sah melalui aplikasi bank di ponselnya sendiri.

Di sana ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.

Selama sembilan bulan terakhir, ada enam transfer ke rekening PT Laras Ruang Kreasi.

Jumlahnya bervariasi.

Rp185 juta.

Rp240 juta.

Rp320 juta.

Rp475 juta.

Rp210 juta.

Dan Rp680 juta.

Totalnya Rp2,11 miliar.

Semua transaksi diberi keterangan berbeda: jasa desain, konsultan interior, pengadaan furnitur, biaya pemasaran, dan pembayaran vendor.

Namun Nadia tahu PT Laras Ruang Kreasi baru didirikan sekitar setahun lalu. Laras, adik Raka, sebelumnya mengelola toko dekorasi rumah kecil di Kemang yang tutup setelah delapan bulan.

Ketika Nadia bertanya bagaimana Laras bisa membuka studio desain besar di Pondok Indah tidak lama setelah tokonya tutup, Raka mengatakan seorang investor telah masuk.

Nadia sekarang tahu siapa investornya.

Bukan seseorang.

Melainkan proyek yang sebagian sahamnya dimiliki Nadia.

Ia menyimpan mutasi itu ke penyimpanan aman, mencetaknya, lalu mengirim salinan kepada pengacaranya.

Nadia hampir selesai ketika pintu depan terbuka.

Ratih berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah. Rupanya ia menggunakan kunci cadangan yang sejak dulu disimpannya tanpa persetujuan Nadia.

“Kamu mau membawa apa?” tanya Ratih.

Nadia menutup tas dokumennya.

“Barang pribadi saya.”

“Raka bilang kamu sedang tidak berpikir jernih.”

“Saya berpikir sangat jernih, Bu.”

Ratih melangkah masuk dan menutup pintu.

Pada usia 63 tahun, perempuan itu selalu tampil rapi. Bahkan pagi itu, ketika wajahnya tegang, rambutnya tetap tersisir sempurna dan blus kremnya tidak memiliki satu pun lipatan.

“Kamu salah paham soal telepon tadi,” katanya.

“Kalau begitu jelaskan bagian mana yang salah.”

Ratih menatap tas di tangan Nadia.

“Laras mendapatkan proyek renovasi yang sah.”

“Enam kali?”

“Apa maksudmu?”

“Enam transfer dalam sembilan bulan. Lebih dari Rp2,1 miliar. Sekarang akan ada Rp5,12 miliar lagi.”

Untuk pertama kalinya, keyakinan di wajah Ratih goyah.

“Kamu memeriksa rekening Raka?”

“Saya memeriksa rekening bersama yang bisa saya akses.”

“Seorang istri seharusnya percaya kepada suaminya.”

“Seorang suami juga seharusnya tidak menyembunyikan miliaran rupiah dari istrinya.”

Ratih mengatupkan bibir.

“Laras sedang berusaha bangkit. Setelah usahanya gagal, dia punya utang. Kalau tidak dibantu, rumahnya bisa disita.”

“Apakah itu uang Ibu?”

“Keluarga tidak menghitung seperti pedagang.”

“Apakah uang itu milik Ibu?”

Ratih tidak menjawab.

Nadia melanjutkan, “Apakah Raka memegang seratus persen saham perusahaan?”

“Dia anak laki-laki saya. Perusahaan itu dibangun dari kerja kerasnya.”

“Dengan modal awal dari deposito saya dan jaringan yang saya bangun.”

“Kamu selalu merasa paling berjasa.”

“Nama saya tercantum sebagai pemegang 35 persen saham.”

Ratih mendekat satu langkah.

“Kalau kamu mengangkat masalah ini, Raka bisa kehilangan perusahaan. Semua karyawan bisa kehilangan pekerjaan. Keluarga ini akan dipermalukan. Apa itu yang kamu mau?”

Nadia memandang perempuan yang selama bertahun-tahun dipanggilnya Ibu.

Akhirnya ia memahami pola yang selama ini selalu membuatnya menyerah.

Ketika Laras membutuhkan uang, Nadia diminta memahami.

Ketika Ratih ingin tinggal lebih lama, Nadia diminta bersabar.

Ketika Raka mengambil keputusan sepihak, Nadia diminta menjaga rumah tangga.

Namun ketika Nadia terluka, ia diminta diam agar orang yang melukainya tidak menanggung akibat.

“Saya tidak mengambil uang itu,” jawab Nadia. “Saya juga tidak menyamarkannya dalam pembukuan. Kalau perusahaan terancam, ancaman itu tidak berasal dari saya.”

“Kamu akan menceraikan Raka hanya karena uang?”

Nadia menatapnya lama.

“Bukan hanya karena uang. Saya akan meninggalkannya karena dia membangun kehidupan kedua di balik pernikahan kami, lalu berharap saya tetap tinggal setelah pintunya terbuka.”

Wajah Ratih memerah.

“Jangan berlebihan. Raka tidak berselingkuh.”

“Pengkhianatan tidak selalu membutuhkan perempuan lain.”

Nadia mengangkat tasnya.

“Dan sebelum Ibu bertanya, saya tidak akan menandatangani dokumen apa pun.”

Ratih berdiri di depan pintu.

“Kamu pikir perceraian akan membuatmu bahagia?”

“Saya belum tahu.”

Nadia mengambil napas perlahan.

“Tapi tinggal di rumah yang membuat saya meragukan kenyataan sendiri jelas tidak akan membuat saya bahagia.”

Ratih tidak bergerak.

“Silakan minggir, Bu.”

Beberapa detik berlalu sebelum Ratih akhirnya menepi.

Malam itu, di rumah Sari, Nadia tidur di kamar kecil yang dahulu digunakan sebagai ruang penyimpanan. Di atas meja ada segelas air, dua potong roti, pengisi daya ponsel, dan secarik kertas bertuliskan, Kamu tidak harus kuat malam ini.

Nadia duduk di tepi ranjang dan menangis untuk pertama kalinya.

Sari tidak masuk untuk memeluknya.

Ia hanya duduk di balik pintu sambil bersandar pada dinding, cukup dekat agar Nadia tidak merasa sendirian dan cukup jauh agar ia tetap memiliki ruang.

Keesokan paginya, pengacara Nadia datang ke kedai katering sebelum jam operasional dimulai.

Namanya Maya Kurniasih. Usianya sekitar 45 tahun, bicaranya tenang, dan tidak pernah menjanjikan hasil yang tidak dapat ia pastikan.

Maya memeriksa salinan dokumen yang dibawa Nadia.

“Yang kita hadapi ada dua jalur berbeda,” katanya. “Pertama, persoalan perkawinan dan harta bersama. Kedua, dugaan penyalahgunaan dana perusahaan. Jangan mencampurkan keduanya dalam percakapan pribadi.”

Nadia mengangguk.

“Apakah foto notifikasi itu cukup?”

“Cukup untuk menunjukkan apa yang kamu lihat, tetapi bukan bukti final bahwa dana benar-benar ditransfer. Untuk itu kita membutuhkan catatan bank dan pembukuan resmi. Sebagai pemegang saham, kamu punya hak meminta penjelasan dan dokumen tertentu melalui mekanisme perusahaan.”

“Kalau mereka menghapusnya?”

“Kita kirim permintaan tertulis hari ini. Kita juga minta perusahaan menjaga seluruh catatan transaksi, kontrak vendor, faktur, persetujuan pembayaran, dan komunikasi yang berkaitan dengan PT Laras Ruang Kreasi.”

Maya menunjuk enam transaksi dalam mutasi rekening bersama.

“Apakah rekening ini digunakan untuk bisnis?”

“Awalnya untuk menyimpan pembagian laba dan membayar angsuran rumah. Tetapi beberapa bulan terakhir Raka menggunakannya untuk menerima dan memindahkan dana. Dia bilang agar arus kas lebih fleksibel.”

“Itu alasan yang buruk.”

“Saya tahu sekarang.”

“Jangan menyalahkan dirimu karena kamu percaya kepada suamimu. Kepercayaan dalam perkawinan bukan kelalaian. Yang salah adalah orang yang memanfaatkannya.”

Kalimat itu membuat Nadia menunduk.

Selama beberapa hari berikutnya, hidupnya berubah menjadi rangkaian dokumen, panggilan resmi, dan pesan singkat.

Raka memulai dengan permintaan maaf.

Aku salah karena tidak memberitahumu.

Kemudian pembelaan.

Aku hanya membantu Laras melewati masa sulit.

Lalu tuduhan.

Kamu menghancurkan keluarga demi mempertahankan harga dirimu.

Terakhir, ancaman terselubung.

Kalau masalah ini sampai ke investor, jangan salahkan aku jika nilai sahammu ikut hilang.

Nadia tidak menjawab satu pun secara pribadi.

Semua pesan ia simpan dan teruskan kepada Maya.

Tiga hari setelah panggilan telepon di area parkir, bank membatalkan transfer Rp5,12 miliar karena dokumen pendukung yang diajukan Mahendra Karya Utama tidak sesuai dengan tujuan pembayaran dan karena salah satu komisaris telah meminta peninjauan internal.

Nadia baru mengetahui bahwa salah satu investor lama, Hendra Wijaya, mulai curiga setelah melihat biaya renovasi melonjak hampir tiga kali lipat. Hendra tidak memiliki hubungan dekat dengan Nadia, tetapi permintaan pemeriksaan tertulis darinya memperkuat posisi Nadia.

Audit khusus kemudian disetujui dalam rapat pemegang saham.

Raka datang ke rapat dengan wajah pucat.

Ratih tidak memiliki jabatan resmi di perusahaan, tetapi duduk menunggu di lobi. Laras tidak datang.

Nadia memilih mengikuti rapat bersama Maya.

Dokumen awal menunjukkan PT Laras Ruang Kreasi tidak pernah memenangkan proses pengadaan yang layak. Beberapa faktur diterbitkan untuk pekerjaan yang sama. Dua alamat pemasok ternyata terhubung dengan gudang milik kerabat Ratih. Sebagian barang yang ditagihkan tidak pernah sampai ke lokasi proyek.

Lebih buruk lagi, tanda tangan Nadia muncul dalam dua lembar persetujuan vendor.

Tanda tangan itu tampak seperti miliknya, tetapi Nadia tidak pernah menandatangani kedua dokumen tersebut.

Raka menatap meja ketika Nadia menanyakan asalnya.

“Aku pikir kamu sudah menyetujuinya,” katanya.

“Siapa yang menandatanganinya?”

“Aku tidak tahu.”

“Dokumen itu dikirim dari akun kantor milikmu.”

“Ada banyak staf yang bisa mengaksesnya.”

Auditor yang duduk di ujung meja menggeser sebuah lembar cetakan.

“Berkas dikirim pukul 23.14 dari alamat IP rumah Bapak Raka.”

Ruangan menjadi sunyi.

Raka menatap Nadia.

“Waktu itu kamu sedang tidur. Aku tidak mau membangunkanmu hanya untuk tanda tangan rutin.”

Hendra bersandar di kursinya dengan ekspresi tak percaya.

Nadia merasa sedih, tetapi bukan lagi terkejut.

“Jadi kamu yang menandatanganinya?”

“Aku melakukannya atas nama kita.”

“Tanpa izin saya,” kata Nadia.

Raka mengepalkan tangan.

“Aku suamimu.”

“Itu bukan surat izin.”

“Jangan bicara kepadaku seolah aku penjahat.”

“Kalau begitu berhenti mengakui perbuatan yang melanggar hukum.”

Rapat dihentikan selama tiga puluh menit.

Di koridor, Raka mengejar Nadia.

“Kita bisa menyelesaikan ini di rumah.”

“Tidak ada lagi ‘kita’ yang menyelesaikan sesuatu di rumah.”

“Nadia, aku sudah membatalkan transfer itu.”

“Bank yang membatalkannya.”

“Aku akan mengembalikan dana yang sudah diterima Laras.”

“Dari mana?”

Raka terdiam.

“Kamu bahkan tidak tahu berapa yang masih tersisa, bukan?”

“Ibu bilang studio Laras bisa dijual.”

“Ibumu bukan direktur perusahaan. Mengapa dia mengatur pembukuan?”

“Ibu hanya memberi saran.”

“Dia tahu kode rekening proyek, jadwal rekonsiliasi, dan nilai transfer hingga puluhan juta terakhir. Itu bukan sekadar memberi saran.”

Raka menurunkan suara.

“Kalau kamu melanjutkan ini, Ibu bisa terseret.”

“Raka, ibumu sudah terlibat sebelum aku mengetahui apa pun.”

“Aku anaknya. Aku harus melindunginya.”

Nadia mengangguk perlahan.

“Dan selama sebelas tahun, aku menunggu kapan kamu merasa harus melindungi istrimu.”

Wajah Raka berubah.

“Aku selalu melindungimu.”

“Dari siapa? Dari keluargamu? Dari keputusanmu sendiri? Dari tanda tanganku yang kamu tiru?”

“Aku melakukan semua ini untuk masa depan kita.”

“Tidak. Kamu melakukannya untuk menyelamatkan Laras dari konsekuensi pilihannya. Lalu kamu mengambil uang perusahaan, menggunakan namaku, dan meminta aku menyebutnya masa depan kita.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Yang bisa kamu perbaiki adalah kerugian perusahaan. Pernikahan kita bukan angka yang bisa kamu pindahkan kembali sebelum Jumat.”

Nadia masuk lagi ke ruang rapat tanpa menunggu jawaban.

Pada sore yang sama, Maya mengajukan gugatan cerai atas nama Nadia.

Ketika berkas itu didaftarkan, Nadia tidak merasakan kemenangan.

Ia hanya merasakan kesedihan yang tenang, seperti seseorang yang akhirnya menutup pintu rumah setelah memahami bahwa bangunan itu sudah lama terbakar.

Namun di balik kesedihan tersebut, ada sesuatu yang belum ia rasakan selama bertahun-tahun.

Kelegaan.

BAGIAN 3

Dua minggu setelah gugatan diajukan, Raka datang ke Dapur Sari Catering tanpa memberi kabar.

Saat itu Nadia sedang membantu Sari menyusun proposal katering untuk sebuah seminar perusahaan. Ia bukan karyawan di sana, tetapi pekerjaan sederhana seperti memeriksa biaya bahan dan memperbaiki format penawaran membuat pikirannya tidak terus berputar pada perceraian.

Seorang pegawai memanggil Sari dari depan.

“Ada Pak Raka.”

Sari menoleh kepada Nadia.

“Kamu mau aku bilang kamu tidak ada?”

Nadia menatap layar laptop, lalu menggeleng.

“Aku akan menemuinya. Tapi di ruang depan. Pintunya tetap terbuka.”

Raka duduk sendirian di meja dekat jendela. Dalam dua minggu, wajahnya tampak menua beberapa tahun. Kemejanya kusut dan lingkaran gelap terlihat di bawah matanya.

Ia berdiri ketika Nadia mendekat.

“Aku cuma ingin bicara sepuluh menit.”

“Lima belas,” kata Nadia. “Setelah itu aku ada pekerjaan.”

Raka tersenyum hambar.

“Kamu sekarang bekerja di katering?”

“Aku sedang membantu teman.”

“Aku tidak bermaksud merendahkan.”

“Dulu kamu juga selalu mengatakan begitu setelah merendahkan sesuatu.”

Raka duduk kembali.

Ia meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.

“Aku membawa pernyataan tertulis. Aku mengakui tanda tangan itu kubuat tanpa izinmu. Aku juga mengakui bahwa kamu tidak mengetahui transaksi untuk Laras.”

Nadia tidak menyentuh map tersebut.

“Sudah kamu serahkan kepada auditor dan pengacaramu?”

“Belum.”

“Kalau begitu itu belum berarti apa-apa.”

Raka memejamkan mata sebentar.

“Aku sedang mencoba melindungimu.”

“Dengan menyimpan pengakuan di dalam map yang hanya kamu tunjukkan kepadaku?”

“Aku takut.”

“Begitu juga aku ketika ibumu menelepon.”

Raka menunduk.

“Aku tidak pernah berniat mencuri.”

“Apa yang kamu sebut ketika seseorang mengambil uang yang bukan miliknya dan menyembunyikan tujuan penggunaannya?”

“Aku pikir Laras akan mengembalikannya setelah studio mulai menghasilkan.”

“Apakah semua pemegang saham setuju memberikan pinjaman?”

“Tidak.”

“Apakah ada perjanjian utang?”

“Tidak.”

“Jaminan?”

Raka menggeleng.

“Jadwal pembayaran?”

Tidak ada jawaban.

Nadia menarik napas.

“Laras bukan meminjam, Raka. Kamu memberinya uang milik perusahaan dan berharap keberuntungan datang sebelum orang lain mengetahuinya.”

“Aku tahu.”

Itulah pertama kalinya Raka mengatakannya tanpa pembelaan.

Aku tahu.

Bukan aku bisa menjelaskan.

Bukan kamu salah paham.

Bukan keluarga harus saling membantu.

Hanya pengakuan sederhana bahwa ia memahami kesalahannya.

Namun Nadia sudah belajar bahwa pengakuan tidak selalu datang pada waktunya untuk menyelamatkan hubungan.

“Kenapa Rp5,12 miliar?” tanya Nadia. “Untuk apa uang sebanyak itu?”

“Studio Laras terlilit utang. Dia meminjam dari beberapa orang untuk membuka cabang baru. Ibu menjaminkan rumah lamanya tanpa memberitahuku. Ketika cicilan macet, Ibu panik.”

“Lalu kalian mengambil uang proyek.”

“Aku menolak pada awalnya.”

“Tapi akhirnya setuju.”

“Ibu bilang kalau rumah itu disita, Ayah pasti malu seandainya masih hidup. Dia bilang aku satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan keluarga.”

Nadia hampir iba kepadanya.

Hampir.

Namun ia ingat bahwa Raka berusia 41 tahun. Ia bukan anak kecil yang dipaksa menuruti ibunya. Ia adalah direktur sebuah perusahaan dan suami yang secara sadar menggunakan tanda tangan istrinya.

“Ibumu mungkin menekanmu,” ujar Nadia. “Tetapi keputusan terakhir tetap milikmu.”

“Aku tahu.”

“Apakah Laras mengetahui sumber uangnya?”

Raka mengangguk pelan.

“Ibu memberi tahu dia bahwa itu uang perusahaan yang bisa dikembalikan sebelum laporan tahunan.”

“Berarti kalian bertiga tahu.”

“Ya.”

Sari terlihat di balik pintu dapur, pura-pura memeriksa daftar pesanan. Nadia tahu sahabatnya sedang memastikan ia baik-baik saja.

“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Nadia.

“Cabut gugatan.”

“Tidak.”

Jawabannya keluar tanpa ragu.

Raka tampak seperti sudah menduganya, tetapi tetap terpukul.

“Kita bisa konseling.”

“Kita seharusnya konseling ketika kamu pertama kali merasa harus berbohong. Atau ketika kamu menggunakan tabungan kita untuk membayar kartu kredit Laras. Atau ketika ibumu mulai mengambil keputusan di rumah kita.”

“Aku akan membatasi hubunganku dengan mereka.”

“Kamu mengatakan itu karena sekarang ada harga yang harus kamu bayar.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku percaya kamu mencintaiku dengan cara yang kamu pahami.”

Nadia memandang laki-laki yang pernah menunggunya tiga jam di rumah sakit ketika ayahnya meninggal, yang membuatkan sup ketika ia sakit, yang tertawa bersamanya di balkon apartemen pertama mereka saat hujan menggenangi jalan.

Raka bukan monster.

Itulah yang membuat keputusan Nadia jauh lebih berat.

Seseorang tidak perlu menjadi monster untuk menghancurkan kepercayaan.

Ia hanya perlu berkali-kali memilih dirinya sendiri, lalu meminta pasangannya menanggung akibatnya.

“Tapi cinta yang tidak disertai kejujuran tidak cukup untuk membuatku aman,” lanjut Nadia. “Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku memeriksa apakah tanda tanganku dipalsukan lagi.”

Raka mengusap wajah.

“Apakah ada orang lain?”

Nadia tersenyum sedih.

“Kamu masih berpikir seorang perempuan hanya akan meninggalkan suaminya jika ada laki-laki lain?”

“Aku hanya bertanya.”

“Tidak ada siapa-siapa. Aku pergi karena aku akhirnya memilih diriku sendiri.”

Ia mendorong map itu kembali kepada Raka.

“Serahkan pengakuan ini kepada auditor. Kalau kamu sungguh ingin memperbaiki sesuatu, mulai dari kebenaran yang tidak hanya kamu tunjukkan ketika sedang memohon.”

Raka pergi sepuluh menit kemudian.

Kali ini ia tidak meninggikan suara.

Keesokan paginya, pengakuan tertulis itu diserahkan kepada tim audit dan ditembuskan kepada seluruh pemegang saham.

Raka mengundurkan diri sementara dari jabatan direktur utama.

Laras setuju menjual studio, dua kendaraan operasional, dan sebuah apartemen yang dibeli menggunakan sebagian dana perusahaan. Ratih menyerahkan rumah lamanya untuk dijual setelah bank menyelesaikan kewajiban yang melekat pada sertifikat tersebut.

Jumlahnya belum cukup menutup seluruh kerugian.

Namun setidaknya uang itu mulai kembali.

Audit akhir menemukan bahwa Rp2,11 miliar sudah keluar melalui transaksi-transaksi sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,46 miliar dapat dilacak menjadi aset dan perlengkapan studio Laras. Sisanya digunakan untuk melunasi utang, membayar bunga, dan menutup biaya usaha yang tidak berkaitan dengan proyek.

Transfer Rp5,12 miliar tidak pernah terlaksana.

Temuan audit juga menyatakan Nadia tidak terlibat dalam persetujuan atau penerimaan dana.

Nama Nadia dibersihkan secara tertulis.

Namun konsekuensi bagi Raka tidak dapat dihapus hanya karena ia akhirnya berkata jujur.

Para pemegang saham mencopotnya dari jabatan direktur. Ia tetap memiliki saham, tetapi tidak lagi memegang akses operasional maupun kewenangan pembayaran.

Perusahaan menunjuk manajemen profesional dan memperketat sistem persetujuan. Setiap transaksi di atas Rp250 juta harus disetujui minimal dua direksi serta diverifikasi oleh bagian keuangan independen.

Nadia memilih menjual sebagian kepemilikan sahamnya kepada investor lain dengan harga yang ditentukan oleh penilai independen. Ia mempertahankan lima persen sebagai investasi pasif sampai proyek selesai, tetapi melepaskan semua jabatan dan kewenangan yang dapat menimbulkan konflik dengan pekerjaannya.

Hasil penjualan saham itu tidak membuatnya menjadi perempuan yang mendadak sangat kaya.

Namun setelah dikurangi kewajiban pajak dan penyelesaian modal, jumlahnya cukup untuk memberinya keamanan yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Ia melunasi pinjaman pendidikan adiknya yang selama dua tahun diam-diam ia cicil.

Ia menempatkan sebagian dana dalam deposito atas namanya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, gajinya masuk ke rekening pribadi yang hanya dapat diakses olehnya.

Proses perceraian berjalan selama berbulan-bulan.

Raka sempat menolak pembagian rumah. Ia mengatakan cicilan lebih banyak berasal dari penghasilannya, sedangkan Nadia menunjukkan bukti uang muka sebesar Rp620 juta dari rekening pribadinya sebelum dana itu digabungkan.

Maya menyarankan agar mereka tidak mengubah perkara menjadi perang tanpa akhir.

Setelah dua kali mediasi, mereka sepakat menjual rumah di Bintaro.

Sisa hasil penjualan setelah pelunasan KPR dibagi sesuai kesepakatan yang mempertimbangkan kontribusi awal Nadia dan pembayaran bersama selama perkawinan.

Nadia hanya mengambil barang-barang yang benar-benar berarti baginya: meja kerja kayu milik ayahnya, koleksi buku, dua lukisan kecil yang ia beli saat masih tinggal di kos, serta perlengkapan dapur pemberian almarhum ibunya.

Raka menyimpan sofa, televisi, dan hampir semua perabot besar.

Ratih tidak menghadiri mediasi terakhir.

Namun beberapa hari sebelum putusan perceraian, Nadia menerima sebuah surat darinya.

Tulisan tangan Ratih tetap rapi.

Nadia, Ibu tidak meminta kamu memaafkan Ibu. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa Raka tidak merencanakan semuanya sendiri. Ibu yang pertama kali menyarankan pemindahan dana. Ibu yakin uang itu bisa dikembalikan sebelum diketahui siapa pun. Ibu menggunakan rasa bersalah Raka terhadap keluarga dan membuatnya percaya bahwa menolak Ibu berarti meninggalkan adiknya. Ibu salah. Tetapi Ibu juga sadar bahwa kesalahan Raka tetap miliknya. Semoga suatu hari nanti kamu memiliki hidup yang tidak lagi dibebani oleh keputusan kami.

Nadia membaca surat itu dua kali.

Kemudian ia memindainya, mengirim salinan kepada Maya, dan menyimpan surat asli bersama dokumen perkara.

Ia tidak membalas.

Bukan karena marah.

Melainkan karena tidak semua permintaan maaf membutuhkan pintu yang dibuka kembali.

Pada hari putusan perceraian dibacakan, Jakarta diguyur hujan sejak pagi.

Nadia mengenakan blus biru tua dan celana hitam sederhana. Sari menemaninya ke pengadilan, membawa payung besar dan dua bungkus roti karena ia yakin semua krisis hidup menjadi sedikit lebih mudah jika seseorang tidak menghadapinya dengan perut kosong.

Raka duduk bersama pengacaranya di sisi lain.

Ketika semuanya selesai, mereka berdiri di koridor yang dipenuhi suara langkah dan percakapan pelan.

“Jadi, ini benar-benar berakhir,” kata Raka.

Nadia mengangguk.

“Kamu bahagia?”

Nadia memikirkan pertanyaan itu.

“Aku belum bahagia setiap hari.”

Raka menatapnya.

“Tapi aku sudah tidak takut membuka rekening. Aku tidak lagi bertanya-tanya apakah keputusan penting sedang dibuat di belakangku. Aku bisa tidur tanpa menunggu kebohongan berikutnya.”

Ia tersenyum tipis.

“Mungkin bahagia memang dimulai dari sana.”

Raka memasukkan kedua tangan ke saku.

“Aku sedang menjalani terapi.”

“Itu baik.”

“Aku juga pindah ke apartemen kecil di dekat kantor baru. Aku bekerja sebagai konsultan pemasaran sekarang.”

“Semoga berhasil.”

Raka mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah amplop.

“Apa ini?” tanya Nadia.

“Bukan dokumen hukum. Bukan permintaan untuk kembali.”

Nadia menerimanya, tetapi tidak langsung membuka.

“Aku menulis permintaan maaf. Kamu tidak harus membacanya sekarang. Atau kapan pun.”

Nadia menyimpan amplop itu di tas.

“Terima kasih.”

Mereka saling menatap untuk terakhir kalinya sebagai dua orang yang pernah menjadi suami istri.

“Aku sungguh mencintaimu,” kata Raka.

“Aku tahu.”

“Maaf karena aku baru mengerti bahwa mencintai seseorang tidak memberiku hak untuk menentukan apa yang boleh dia ketahui.”

Nadia tidak menjawab dengan kemarahan.

Ia hanya mengangguk, lalu berjalan menghampiri Sari yang menunggunya di dekat tangga.

Di luar gedung, Sari membuka payung.

“Mau langsung pulang?” tanyanya.

Nadia memandang jalanan Jakarta yang berkilau oleh air hujan.

“Tidak.”

“Makan?”

“Boleh.”

“Mau yang murah karena kita baru keluar dari pengadilan atau yang mahal karena kita baru keluar dari pengadilan?”

Nadia tertawa.

Tawa itu kecil, tetapi nyata.

“Yang enak.”

“Itu jawaban paling waras yang kamu berikan tahun ini.”

Mereka makan soto Betawi di tempat sederhana yang sudah mereka datangi sejak masa kos. Sari memesan dua porsi tambahan untuk dibawa pulang. Mereka tidak bersulang atau merayakan perceraian seolah-olah itu kemenangan.

Mereka hanya duduk bersama, mengingat bahwa suatu akhir tidak selalu harus ditandai dengan kehancuran.

Kadang-kadang akhir hanya perlu memberi seseorang cukup ruang untuk bernapas lagi.

Enam bulan kemudian, Nadia pindah ke sebuah apartemen dua kamar di kawasan Cipete.

Apartemen itu tidak besar. Dapurnya sempit dan suara kereta MRT kadang terdengar dari kejauhan. Namun cahaya pagi masuk melalui jendela ruang tamu, dan untuk pertama kalinya semua benda di dalam rumah dipilih oleh Nadia sendiri.

Ia menggunakan kamar kedua sebagai ruang kerja.

Di dinding, ia menempelkan papan gabus berisi rancangan sebuah gagasan yang muncul saat membantu Sari.

Selama bertahun-tahun, Sari kehilangan banyak kesempatan mendapatkan klien korporat karena dapurnya dianggap terlalu kecil dan sistem pencatatannya belum memenuhi standar perusahaan besar. Sementara itu, Nadia melihat banyak usaha katering rumahan menghadapi masalah yang sama.

Mereka memiliki masakan enak dan pelanggan setia, tetapi tidak memiliki akses ke desain dapur produksi, sistem biaya, sertifikasi, kontrak, dan jaringan pengadaan.

Nadia mengusulkan sesuatu yang sederhana.

Bukan mengambil alih usaha Sari.

Bukan pula memberikan uang tanpa aturan.

Mereka akan membentuk badan usaha baru dengan perjanjian tertulis yang jelas.

Sari menjadi pemegang saham mayoritas karena usaha dan merek berasal darinya. Nadia menanamkan modal dalam jumlah terbatas dan membantu merancang dapur produksi, sistem keuangan, serta strategi mendapatkan klien perusahaan.

Setiap rupiah dicatat.

Setiap pinjaman dituangkan dalam perjanjian.

Setiap keputusan penting membutuhkan persetujuan keduanya.

Ketika Nadia menyerahkan rancangan perjanjian pertama, Sari membacanya selama hampir satu jam.

“Kamu tidak tersinggung kalau aku meminta pengacara lain memeriksa ini?” tanyanya.

Nadia justru tersenyum.

“Aku akan tersinggung kalau kamu tidak melakukannya.”

Mereka tertawa.

Dapur Sari Catering kemudian pindah ke sebuah ruko dua lantai di Kebayoran Baru. Lantai bawah digunakan untuk produksi, sedangkan lantai atas menjadi kantor kecil dan ruang pelatihan.

Nadia tidak meninggalkan pekerjaannya di Cakrawala Properti Nusantara. Ia tetap bekerja sebagai pengembang konsep proyek, tetapi mengurangi beberapa kegiatan di luar kantor agar dapat membantu usaha baru itu dua malam setiap minggu.

Dalam setahun, Dapur Sari mendapatkan kontrak makan siang untuk tiga kantor, dua sekolah swasta, dan sebuah klinik.

Mereka mempekerjakan 18 orang, sebagian besar perempuan yang sebelumnya memasak dari rumah tetapi kesulitan mendapatkan penghasilan tetap.

Suatu sore, Sari menemukan Nadia duduk di lantai ruang penyimpanan sambil menghitung kotak makan.

“Direktur strategi kita sedang melakukan pekerjaan staf gudang?” godanya.

“Ada selisih tiga puluh dua kotak.”

“Kamu masih sulit percaya kepada orang?”

Nadia berhenti menghitung.

Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan nada menuduh. Sari hanya mengenalnya terlalu baik.

“Aku percaya kepada orang,” jawab Nadia. “Aku hanya tidak mau kepercayaan dijadikan pengganti sistem.”

Sari duduk di sampingnya.

“Itu terdengar seperti tulisan yang harus dipasang di dinding.”

“Mungkin terlalu panjang.”

“Kalau begitu kita singkat. Percaya, tapi tetap catat.”

Nadia tertawa.

Mereka benar-benar mencetak kalimat itu dan menempelkannya di dekat meja administrasi.

Pada ulang tahun Nadia yang ke-41, Sari mengadakan makan malam kecil di lantai atas ruko. Tidak ada dekorasi mewah. Hanya lampu gantung sederhana, nasi liwet, ayam bakar, sayur asem, dan kue cokelat buatan pegawai dapur.

Setelah semua orang pulang, Sari menyerahkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat casing ponsel berwarna merah terang.

Nadia mengangkat alis.

“Apa ini?”

“Hadiah penyelamat rumah tangga.”

“Aku tidak punya rumah tangga.”

“Justru itu. Kalau suatu hari punya lagi, jangan pernah beli casing yang sama.”

Nadia tertawa begitu keras sampai matanya berair.

Ia memang belum memulai hubungan baru.

Beberapa teman mencoba mengenalkannya kepada laki-laki lain, tetapi Nadia tidak terburu-buru. Ia sedang belajar bahwa kesendirian tidak sama dengan kegagalan.

Ia pergi menonton film sendiri.

Ia mengambil kelas tembikar setiap Sabtu.

Ia mengunjungi Yogyakarta bersama Sari tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun mengapa mereka ingin berangkat atau berapa banyak uang yang boleh mereka gunakan.

Dan setiap kali pulang ke apartemennya, Nadia tidak lagi merasa rumah itu terlalu sunyi.

Ia merasa rumah itu damai.

Hampir dua tahun setelah pagi ketika ponsel mereka tertukar, Nadia menerima email dari Raka.

Subjeknya hanya berbunyi: Pembayaran Terakhir.

Raka memberi tahu bahwa seluruh jumlah yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan hasil audit telah dikembalikan. Ia menjual sisa sahamnya, menggunakan tabungan pribadinya, dan mencicil kekurangan dari penghasilannya sebagai konsultan.

Laras menutup studionya dan bekerja sebagai desainer di perusahaan lain.

Ratih pindah ke rumah yang lebih kecil di Depok.

Tidak ada permintaan untuk bertemu.

Tidak ada kalimat yang mencoba membangkitkan kenangan.

Di bagian terakhir, Raka menulis:

Aku dulu mengira melindungi keluarga berarti memastikan mereka tidak pernah menanggung akibat. Sekarang aku mengerti bahwa itu hanya membuat kesalahan menjadi lebih besar dan menyeret orang yang tidak bersalah ke dalamnya. Kamu tidak menghancurkan keluarga kita ketika kamu pergi. Aku yang merusaknya ketika aku memintamu hidup di dalam kebohongan. Semoga hidupmu baik, Nadia.

Nadia membaca email itu sekali.

Lalu ia memindahkannya ke folder arsip.

Ia tidak menghapusnya.

Ia juga tidak membalas.

Beberapa cerita tidak membutuhkan percakapan terakhir yang sempurna. Kadang-kadang, penutup yang paling jujur adalah ketika kedua orang berhenti mencoba mengubah masa lalu dan mulai bertanggung jawab atas kehidupan masing-masing.

Pagi berikutnya, Nadia datang lebih awal ke ruko.

Sari sudah berada di dapur, memeriksa persiapan 450 kotak makan untuk acara sebuah perusahaan teknologi.

“Ponselmu bunyi terus,” kata Sari sambil menunjuk meja administrasi.

Nadia melihat tiga notifikasi.

Satu dari bank mengenai bunga deposito.

Satu dari atasannya tentang promosi yang baru disetujui.

Dan satu lagi dari Maya, memberi tahu bahwa seluruh kewajiban penyelesaian perusahaan telah dipenuhi dan tidak ada perkara terbuka yang melibatkan nama Nadia.

Dua tahun lalu, notifikasi bank pada sebuah ponsel yang salah telah menghancurkan kehidupan yang dikira Nadia aman.

Kini layar ponselnya sendiri menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Tidak ada uang tersembunyi.

Tidak ada nama yang dipalsukan.

Tidak ada ibu mertua yang mengatur pembukuan dari balik pintu.

Hanya hasil kerja, batas yang jelas, dan kehidupan yang dibangun kembali sedikit demi sedikit.

Sari muncul sambil membawa dua cangkir kopi.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?”

“Semua sudah selesai.”

“Yang mana?”

“Semuanya.”

Sari menyerahkan satu cangkir kepadanya.

“Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Nadia melihat ke dapur di balik dinding kaca.

Para pegawai bekerja sambil bercanda. Panci besar mengepul. Daftar pesanan tersusun rapi. Di dinding dekat meja administrasi, tulisan Percaya, tapi tetap catat masih tergantung sedikit miring.

Ia teringat dirinya di area parkir bawah tanah dua tahun lalu.

Perempuan itu berdiri dengan secangkir kopi di satu tangan dan ponsel suaminya di tangan lain, tidak tahu apakah hidupnya baru saja berakhir.

Sekarang Nadia tahu jawabannya.

Hidupnya tidak berakhir pagi itu.

Yang berakhir hanyalah kebohongan yang selama ini ia sebut rumah.

“Aku akan bekerja,” jawab Nadia.

“Hanya itu?”

Nadia memandang cahaya matahari yang masuk melalui jendela ruko.

Ia tersenyum.

“Setelah itu, aku akan pulang ke rumahku sendiri.”

Kata rumah tidak lagi berarti alamat di Bintaro, sertifikat atas nama Raka, atau meja makan tempat keputusan-keputusan disembunyikan darinya.

Rumah adalah tempat ia tidak perlu meminta izin untuk mengetahui kebenaran.

Rumah adalah rekening yang dapat ia buka tanpa rasa takut.

Rumah adalah kontrak yang dibaca sebelum ditandatangani.

Rumah adalah seorang sahabat yang menyiapkan kamar tanpa menuntut penjelasan.

Rumah adalah dirinya sendiri.

Nadia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Casing merah terang itu tampak mencolok dan sama sekali tidak mungkin tertukar dengan milik siapa pun.

Lalu ia mengikuti Sari menuju dapur, ke dalam suara tawa, aroma makanan hangat, dan kesibukan hidup yang tidak lagi dibangun di atas rahasia.

Untuk pertama kalinya, Nadia tidak membutuhkan orang lain untuk menjanjikan bahwa masa depannya akan aman.

Ia sudah membangunnya sendiri.