Ia Datang ke Sidang Perceraian Bersama Bayi yang Baru Lahir, tetapi Suaminya Sudah Duduk di Samping Selingkuhannya

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 432 tayangan
Ia Datang ke Sidang Perceraian Bersama Bayi yang Baru Lahir, tetapi Suaminya Sudah Duduk di Samping Selingkuhannya
Indeks

Ia Datang ke Sidang Perceraian Bersama Bayi yang Baru Lahir, tetapi Suaminya Sudah Duduk di Samping Selingkuhannya

Larasati Prameswari memasuki ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada suatu Selasa pagi, menggendong putrinya erat di dada, sementara selang drainase pascaoperasi masih direkatkan di balik pakaiannya yang longgar.

Suaminya sudah duduk di seberang.

Dan di sampingnya duduk perempuan yang menjadi selingkuhannya.

Ketika melihat bayi yang dibungkus selimut katun putih lembut itu, Adrian Wibowo tidak berdiri.

Ia bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Ia Datang ke Sidang Perceraian Bersama Bayi yang Baru Lahir, tetapi Suaminya Sudah Duduk di Samping Selingkuhannya

Ia memandang bayi yang baru lahir itu seperti seseorang memandang persoalan hukum yang menurutnya sudah selesai diatur, lalu berkata cukup keras hingga dua wartawan ekonomi yang duduk di barisan belakang bisa mendengar setiap katanya.

“Bayi itu tidak ada hubungannya dengan saya.”

Panitera yang sedang mencatat jalannya sidang mendadak berhenti menulis.

Seorang perempuan lanjut usia yang duduk di belakang langsung menutup mulut dengan tangan.

Bahkan pengacara Adrian sempat menoleh ke arah kliennya.

Laras tidak.

Selama delapan hari terakhir, ia belum pernah tidur lebih dari sembilan puluh menit tanpa terbangun.

Rambut hitamnya diikat rendah ke belakang bukan demi penampilan, melainkan karena ia sudah tidak punya tenaga untuk melakukan lebih dari itu.

Mantel panjang berwarna marun dikancingkan sampai ke leher, menutupi gelang identitas pasien dari sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan yang bahkan belum sempat ia lepaskan dari pergelangan tangannya.

Usianya tiga puluh tujuh tahun.

Tubuhnya terasa seperti baru saja dibongkar, dijahit kembali, lalu disuruh melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun ia tetap berdiri.

Putrinya bergerak pelan di bahunya.

Bukan tangisan.

Hanya suara kecil dari seorang manusia yang baru delapan hari hidup di dunia dan belum tahu bahwa orang dewasa bisa mengubah cinta, pernikahan, bahkan hubungan darah menjadi angka-angka di atas dokumen.

Laras merapikan ujung selimut putrinya.

Hanya ada satu kalimat di kepalanya.

*Delapan hari.*

*Baru delapan hari hidup, dan ayahmu sudah memutuskan bahwa keberadaanmu adalah sebuah kerepotan.*

Nama bayi itu Kirana.

Laras memilih nama itu sendiri hampir pukul dua dini hari, pada malam ketiga setelah operasi caesar darurat.

Malam itu, seorang perawat masuk ke kamar, menatap kursi kosong di samping tempat tidur, lalu mengurungkan niat untuk bertanya,

“Pak Adrian datang hari ini, Bu?”

Sebagai gantinya, ia diam-diam membawakan satu selimut tipis tambahan untuk Laras.

Adrian Wibowo duduk di meja seberang dengan setelan abu-abu arang yang dijahit khusus, mungkin cukup mahal untuk membayar sewa apartemen layak di Jakarta selama beberapa bulan.

Rambutnya masih tertata rapi seperti pada hari pernikahan mereka.

Persis seperti foto-fotonya di majalah bisnis.

Persis seperti foto-foto dari gala amal, ketika Laras dulu berdiri di sampingnya sambil tersenyum dalam kebaya modern dan gaun malam yang tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri.

Setelah pandangan pertama itu, Adrian tidak lagi melihat Kirana.

Ia menoleh kepada perempuan di sampingnya.

Selma Adiningrum mengenakan setelan berwarna krem gading.

Tentu saja ia memilih warna itu.

Sepatu hak tinggi.

Anting berlian kecil yang cukup menangkap cahaya.

Setiap detail dipilih agar tidak terlihat terlalu mencolok, tetapi tetap membuat orang menoleh.

Selma berusia tiga puluh dua tahun.

Cantik dengan cara yang tajam dan terkontrol.

Dulu ia bertanggung jawab atas strategi merek Wibowo Hospitality, grup hotel yang dipimpin Adrian.

Kemudian ia menjadi bagian dari kehidupan rahasia Adrian yang disembunyikan dari istrinya.

Sekarang Selma duduk di samping Adrian di tengah ruang sidang, satu tangannya bertumpu ringan di lengan Adrian, seolah ini bukan perkara perceraian, melainkan krisis hubungan masyarakat yang perlu ia kendalikan.

Mungkin bagi Selma, memang seperti itulah keadaannya.

Pengacara Laras, Ratri Maheswari, adalah perempuan bertubuh kecil berusia awal empat puluhan dengan rambut pendek dan wajah yang hampir tidak pernah menunjukkan apa yang sedang dipikirkannya.

Selama tiga hari terakhir, Ratri menyiapkan berkas perkara sementara Laras menyusui, menelan obat pereda nyeri, dan menandatangani dokumen satu demi satu di meja kecil samping tempat tidur.

Ratri sedikit mencondongkan tubuh ke arah Laras.

“Tidak perlu melihat mereka, Bu Laras.”

Suaranya rendah dan tenang.

Laras mengangguk.

Ia tidak datang untuk melihat Adrian dan Selma.

Ia datang karena tim pengacara Adrian meminta pengadilan mempercepat persidangan ketika Laras bahkan masih dirawat di rumah sakit.

Alasan yang mereka tuliskan dalam permohonan adalah bahwa sengketa aset dan kewajiban keuangan perlu diselesaikan sesegera mungkin sebelum perusahaan menutup laporan kuartal.

*Laporan kuartal.*

Laras masih mengingat istilah itu.

Ketika putrinya masih harus diperiksa kadar kuningnya dan sedang belajar menyusu, Adrian Wibowo justru mengkhawatirkan laporan keuangan kuartal.

Pintu di bagian belakang ruang sidang terbuka.

Majelis hakim masuk.

Semua orang berdiri.

Laras bangkit perlahan, satu tangan menopang tubuh Kirana, sementara tangan lainnya menahan sisi perutnya yang terasa seperti ditarik dari dalam. Ratri segera memegang siku Laras agar ia tidak kehilangan keseimbangan.

Hakim ketua, seorang perempuan bernama Helena Siregar, baru saja membuka berkas ketika pandangannya jatuh pada gelang pasien di pergelangan tangan Laras.

Kemudian ia melihat bayi di dada perempuan itu.

“Berapa usia bayinya?” tanyanya.

“Delapan hari, Yang Mulia,” jawab Ratri.

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Hakim Helena melepas kacamatanya.

“Delapan hari?”

“Klien kami baru menjalani operasi caesar darurat,” lanjut Ratri. “Ia menerima panggilan untuk menghadiri sidang ketika masih dirawat. Permohonan penundaan yang kami ajukan kemarin sore tidak mendapat tanggapan sebelum rumah sakit menyatakan beliau boleh pulang pagi ini.”

Hakim menoleh kepada pengacara Adrian.

“Pihak penggugat mengetahui kondisi tersebut?”

Pengacara Adrian berdiri. “Kami mengetahui adanya persalinan, Yang Mulia. Namun perkara ini menyangkut—”

“Saya bertanya apakah pihak penggugat mengetahui bahwa tergugat baru menjalani operasi delapan hari lalu.”

Pria itu terdiam sesaat.

“Mengetahui.”

Hakim Helena menatap Adrian.

Adrian tidak menunduk. Namun untuk pertama kalinya sejak Laras memasuki ruangan, ketenangan di wajahnya tampak sedikit retak.

Hakim anggota di sebelah kiri membisikkan sesuatu. Hakim Helena mengangguk, lalu berkata, “Pengadilan bukan tempat untuk memaksa seorang ibu yang baru menjalani operasi datang demi memenuhi kepentingan laporan perusahaan.”

Selma menarik tangannya dari lengan Adrian.

Gerakan itu kecil, tetapi Laras melihatnya.

“Sidang pokok perkara akan ditunda,” lanjut hakim. “Namun sebelum menentukan jadwal baru, pengadilan akan mendengarkan permohonan sementara terkait perlindungan tergugat dan anak yang baru dilahirkan.”

Pengacara Adrian segera berdiri lagi.

“Yang Mulia, pihak kami mempertanyakan apakah anak tersebut memang memiliki hubungan hukum dengan klien kami.”

Kirana bergerak di balik selimut.

Laras merasakan sesuatu pecah di dalam dirinya.

Bukan kesedihan.

Kesedihan sudah ia lewati sejak lama.

Yang muncul justru kejernihan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Adrian sebagai suami yang pernah dicintainya, lelaki yang dulu menggenggam tangannya di tangga sebuah hotel kecil di Bandung dan berjanji akan membangun keluarga bersamanya.

Ia melihat Adrian sebagai lawan dalam perkara hukum.

Dan seorang lawan hanya bisa menguasainya jika Laras membiarkannya.

Ratri berdiri.

“Anak lahir dalam perkawinan yang sah dan tercatat. Akta perkawinan para pihak telah kami serahkan. Rekam medis kehamilan, hasil pemeriksaan kandungan, perkiraan usia janin, serta dokumen persalinan juga tersedia. Jika penggugat tetap menyangkal, kami siap mengajukan pemeriksaan DNA melalui lembaga yang ditunjuk pengadilan.”

Hakim Helena menatap Adrian.

“Apakah Saudara ingin menyangkal anak yang lahir dalam perkawinan Saudara?”

Adrian mengencangkan rahangnya.

“Perkawinan kami sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya selama berbulan-bulan.”

“Itu bukan jawaban.”

Adrian melirik pengacaranya, lalu kepada Selma. Perempuan itu kini duduk dengan kedua tangan terlipat di pangkuan.

“Saya meminta pembuktian ilmiah,” katanya akhirnya.

Laras tidak tahu dari mana tenaga itu datang.

Ia melangkah maju setengah langkah.

“Saya setuju.”

Ratri sempat menoleh kepadanya, tetapi Laras terus berbicara.

“Saya setuju dilakukan tes DNA di laboratorium yang ditunjuk pengadilan. Saya juga meminta hasilnya dimasukkan ke dalam berkas perkara dan dapat digunakan untuk menentukan seluruh kewajiban hukum penggugat terhadap anak kami.”

Adrian memandangnya.

Mungkin ia mengira Laras akan menangis.

Mungkin ia berharap perempuan yang baru melahirkan itu akan memohon kepadanya agar mengakui Kirana.

Namun Laras tidak memohon.

Ia sudah terlalu lama meminta cinta dari seseorang yang hanya memahami kepemilikan.

Hakim mengabulkan permintaan pemeriksaan DNA serta memerintahkan Adrian menanggung seluruh biayanya. Pengadilan juga melarang kedua pihak memindahkan, menjual, menjaminkan, atau menyembunyikan aset bersama sampai proses pemeriksaan keuangan selesai.

Ketika hakim membacakan perintah itu, wajah Adrian berubah.

Hanya sesaat.

Namun Ratri melihatnya.

Laras juga.

Dan dari cara Ratri menutup bolpoinnya dengan tenang, Laras tahu pengacaranya baru saja menemukan bagian paling lemah dari pertahanan Adrian.

Setelah sidang ditutup, Ratri tidak membiarkan Laras berjalan sendiri.

Ia memanggil kursi roda dari petugas pengadilan, mengabaikan tatapan orang-orang, lalu membawa Laras keluar melalui pintu samping.

Namun sebelum mereka mencapai lorong, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari belakang.

“Laras.”

Selma.

Ratri menghentikan kursi roda, tetapi berdiri di antara mereka.

Selma tampak berbeda tanpa meja sidang dan lengan Adrian sebagai tempatnya berlindung. Wajahnya masih rapi, tetapi matanya tidak lagi setenang sebelumnya.

“Aku tidak tahu mereka memaksamu datang setelah melahirkan,” katanya.

Laras menatapnya lama.

“Kamu tahu aku sedang hamil.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu Adrian masih menikah denganku.”

Selma menelan ludah. “Dia bilang hubungan kalian sudah selesai.”

“Hubungan kami belum selesai ketika dia membawamu ke kamar hotel di Bali. Belum selesai ketika dia membelikan apartemen atas nama perusahaan. Belum selesai ketika aku menjalani pemeriksaan kehamilan sendirian karena dia bilang sedang bertemu investor di Surabaya.”

Selma memucat.

“Apartemen apa?”

Ratri menoleh sedikit kepada Laras.

Laras memahami arti tatapan itu.

Jangan berikan lebih banyak informasi.

Belum sekarang.

Laras merapatkan selimut Kirana.

“Kalau kamu benar-benar tidak tahu, tanyakan kepada Adrian berapa banyak kebohongan yang harus ia ceritakan agar dua perempuan mau berdiri di sisinya.”

Ia meminta Ratri melanjutkan perjalanan.

Selma tidak mengikuti mereka.

Di dalam mobil, rasa sakit yang sejak tadi ditahan Laras akhirnya menjalar sampai ke punggung. Napasnya terputus. Kirana mulai menangis, seolah merasakan tubuh ibunya menegang.

Ratri meminta sopir membawa mereka kembali ke rumah sakit.

Sambil menunggu di unit gawat darurat, Laras menyusui Kirana di balik tirai tipis. Air matanya jatuh tanpa suara, bukan karena Adrian, melainkan karena rasa bersalah telah membawa bayi sekecil itu ke ruang sidang.

Ratri duduk di kursi plastik di samping ranjang.

“Tidak ada ibu yang seharusnya dipaksa melakukan ini,” katanya.

“Aku seharusnya menolak datang.”

“Tidak. Mereka yang seharusnya tidak memaksamu.”

Laras menatap wajah putrinya.

Kirana sudah berhenti menangis. Jari mungilnya menggenggam kain pakaian Laras.

“Aku tidak punya rumah untuk pulang,” bisik Laras.

Rumah di Kebayoran Baru tempat ia dan Adrian tinggal telah dikunci oleh staf keamanan atas perintah Adrian tiga hari sebelum Kirana lahir. Adrian beralasan renovasi sedang dilakukan, padahal pakaian Laras, dokumen, bahkan perlengkapan bayi masih berada di sana.

Rekening bersama mereka juga dibatasi.

Kartu kredit tambahan atas nama Laras dinonaktifkan ketika ia masih dirawat.

Jika bukan karena tabungan pribadinya dan bantuan Ratri, ia bahkan kesulitan membayar perawat pascapersalinan.

Ratri membuka map cokelat dari tasnya.

“Kamu masih ingat surel yang kamu kirim kepadaku dua bulan lalu?”

Laras mengangguk.

Pada malam ia menemukan percakapan Adrian dan Selma di tablet kantor yang tertinggal di rumah, Laras tidak langsung menghadapi suaminya. Ia menyimpan tangkapan layar, menyalin laporan rekening, dan mengirim dokumen perusahaan yang memuat namanya sebagai penjamin beberapa pinjaman.

“Aku sudah meminta pemeriksaan awal,” kata Ratri. “Ada lebih banyak daripada perselingkuhan.”

Ratri menunjukkan beberapa lembar laporan.

Selama setahun terakhir, dana dari tiga hotel telah dipindahkan ke perusahaan konsultan bernama Asteria Brand Management.

Pemilik Asteria bukan Selma.

Perusahaan itu tercatat atas nama sepupu Selma, tetapi alamat surat-menyuratnya sama dengan apartemen yang selama ini digunakan Selma.

Jumlah pembayaran mencapai hampir Rp19 miliar.

Beberapa invoice dibuat untuk pekerjaan yang tidak pernah dilakukan.

Yang lebih berbahaya, dua fasilitas kredit baru diajukan dengan tanda tangan digital Laras sebagai persetujuan pasangan.

“Aku tidak pernah menandatangani ini,” kata Laras.

“Aku tahu. Tanggal persetujuannya bertepatan dengan hari kamu dirawat karena kontraksi dini.”

Laras membaca tanggalnya dua kali.

Hari itu Adrian datang ke rumah sakit selama sebelas menit. Ia mencium kening Laras, menanyakan kode akses tablet, lalu pergi karena mengaku harus menghadiri rapat mendadak.

“Kode akses,” bisik Laras.

“Ya.”

“Dia meminta kode itu karena katanya staf keuangan membutuhkan dokumen pajak.”

Ratri mengangguk. “Besok kita buat laporan resmi mengenai dugaan penggunaan tanda tangan elektronik tanpa persetujuan. Aku juga akan meminta pemeriksaan forensik digital. Malam ini, ubah seluruh kata sandi rekening, surel, penyimpanan dokumen, dan identitas digitalmu. Jangan gunakan perangkat yang pernah diakses Adrian.”

Tangan Laras gemetar saat meletakkan berkas.

Selama sembilan tahun menikah, ia menganggap dirinya mengenal Adrian.

Ia tahu Adrian suka minum kopi tanpa gula sebelum rapat.

Ia tahu lelaki itu tidak bisa tidur jika pintu lemari sedikit terbuka.

Ia tahu bekas luka kecil di telunjuknya berasal dari pecahan gelas ketika berusia dua belas tahun.

Namun ternyata, mengetahui kebiasaan seseorang tidak berarti memahami siapa dirinya.

Malam itu, setelah dokter memastikan luka operasinya tidak terbuka, Laras pulang ke rumah kakaknya, Mira, di Cipete.

Mira telah mengubah ruang kerja kecil menjadi kamar bayi. Ada ranjang kayu sederhana di dekat jendela, satu kursi menyusui, tumpukan popok, dan lampu tidur berbentuk bulan.

Ketika Laras melihat semuanya, ia menangis lebih keras daripada saat Adrian mengakui perselingkuhannya.

Mira memeluk adiknya dengan hati-hati.

“Kamu tidak perlu kuat di rumah ini,” katanya. “Cukup bernapas. Sisanya kita kerjakan bersama.”

Selama dua minggu berikutnya, hidup Laras menyusut menjadi siklus tiga jam: menyusui, mengganti popok, meminum obat, tidur singkat, lalu mengulang semuanya.

Namun di sela-sela itu, ia melakukan apa yang disarankan Ratri.

Ia mengganti seluruh akses digital.

Ia memisahkan dana pribadinya.

Ia meminta bank mencatat keberatan atas setiap pengajuan kredit yang menggunakan namanya.

Ia menyimpan salinan akta perkawinan, dokumen kelahiran Kirana, laporan medis, laporan keuangan, dan seluruh pesan Adrian di dua tempat berbeda.

Ia mengirim surat melalui pengacara untuk mengambil barang-barangnya dari rumah dengan didampingi saksi.

Adrian mencoba menelepon sebanyak dua puluh tujuh kali.

Laras tidak menjawab.

Ketika akhirnya ia mengirim pesan, isinya bukan permintaan maaf.

Cabut permintaan audit.

Kita bisa menyelesaikan perceraian ini dengan tenang.

Laras menyerahkan pesan itu kepada Ratri.

Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan DNA keluar.

Kemungkinan Adrian merupakan ayah biologis Kirana dinyatakan lebih dari 99,99 persen.

Tidak ada kejutan.

Tidak ada kelegaan.

Hanya selembar kertas yang membuktikan sesuatu yang tidak pernah diragukan Laras.

Namun bagi Adrian, dokumen itu menjadi awal runtuhnya cerita yang ia bangun.

Dalam sidang berikutnya, Ratri menyerahkan hasil DNA, catatan pemeriksaan kandungan, bukti komunikasi selama kehamilan, serta rekaman pesan Adrian yang berjanji akan hadir saat persalinan.

Pesan terakhir dikirim dua hari sebelum Laras menjalani operasi.

Maaf, ada urusan penting di Singapura. Aku kembali sebelum bayi lahir.

Adrian sebenarnya tidak berada di Singapura.

Data transaksi kartu perusahaan menunjukkan ia menginap di sebuah vila di Uluwatu bersama Selma.

Hakim tidak mengomentari moralitasnya.

Ia hanya mencatat fakta.

Namun ketika perintah nafkah sementara untuk Kirana dibacakan, Adrian tidak lagi bisa berkata bahwa bayi itu bukan urusannya.

Pemeriksaan keuangan bergerak lebih cepat daripada yang diperkirakan Adrian.

Dewan komisaris Wibowo Hospitality menerima pemberitahuan resmi tentang larangan pemindahan aset. Dua anggota dewan meminta audit independen. Bank menangguhkan fasilitas kredit yang menggunakan persetujuan Laras. Firma audit menemukan invoice ganda, pembayaran konsultasi tanpa laporan kerja, dan pengeluaran pribadi yang dimasukkan sebagai biaya pemasaran.

Adrian menuduh Laras hendak menghancurkan perusahaan.

Laras menjawab melalui Ratri.

“Saya tidak menghancurkan apa pun. Saya hanya menyalakan lampu.”

Selma mengundurkan diri dari perusahaan satu minggu kemudian.

Sebelum pergi, ia mengirimkan satu surel kepada Ratri.

Isinya dua puluh tiga lampiran.

Percakapan dengan Adrian.

Instruksi pembayaran.

Salinan dokumen pendirian Asteria.

Dan bukti bahwa Adrian berencana menjual salah satu vila milik bersama setelah perceraian diajukan, lalu memindahkan hasil penjualan ke rekening luar negeri.

Selma meminta perlindungan hukum dan menyatakan bersedia memberikan keterangan.

Ia bukan perempuan yang tiba-tiba berubah menjadi baik.

Ia hanya akhirnya menyadari bahwa Adrian telah menyiapkan dirinya sebagai satu-satunya orang yang akan dipersalahkan jika transaksi itu terbongkar.

Dalam salah satu pesan, Adrian menulis kepada direktur keuangan:

Kalau audit menemukan Asteria, katakan semua keputusan berasal dari Selma. Dia akan sulit membantah karena seluruh dokumen memakai aksesnya.

Selma membaca pesan itu dari laptop Adrian ketika mereka bertengkar.

Cinta rahasia mereka berakhir persis seperti awalnya: dengan kebohongan.

Tiga bulan setelah sidang pertama, Adrian diberhentikan sementara dari jabatan direktur utama.

Keluarganya tidak kehilangan seluruh perusahaan. Ribuan karyawan tidak harus menanggung akibat dari kesalahan seorang pemimpin. Dewan menunjuk direktur profesional, menghentikan pembayaran bermasalah, dan menyerahkan temuan transaksi kepada pihak berwenang.

Laras tidak merayakan kabar itu.

Ia sedang duduk di lantai bersama Kirana ketika Ratri menelepon.

Kirana sudah bisa mengangkat kepalanya beberapa detik. Rambutnya tumbuh tipis seperti bayangan lembut di atas kulit kepalanya.

“Adrian ingin berdamai,” kata Ratri.

“Apa maksudnya?”

“Ia bersedia menyetujui perceraian, pembagian aset, nafkah anak, dan pencabutan klaim bahwa kamu menyetujui pinjaman perusahaan. Sebagai gantinya, ia ingin kamu tidak menuntut kepemilikan atas saham tertentu.”

Laras memandang jendela.

Hujan turun ringan di halaman rumah Mira.

“Apakah saham itu memang hakku?”

“Sebagian. Kamu ikut menanam modal dari warisan ibumu ketika hotel kedua dibeli. Ada jejak transfernya. Namamu memang tidak tercantum sebagai pemegang saham langsung karena saat itu Adrian meminta dana dimasukkan sebagai pinjaman keluarga. Namun surat pengakuan utangnya ada.”

Laras mengingat hari itu.

Ia menjual rumah kecil peninggalan ibunya di Semarang dan memberikan hampir seluruh hasilnya kepada Adrian. Saat itu Wibowo Hospitality hanya memiliki satu hotel yang hampir gagal membayar cicilan.

Adrian memegang kedua tangannya dan berkata, “Suatu hari nanti semua ini akan menjadi milik anak-anak kita.”

Mereka belum punya anak ketika itu.

Kini, setelah anak mereka lahir, Adrian mencoba menghapus keduanya.

“Aku tidak mau mengambil sesuatu yang bukan hakku,” kata Laras. “Tapi aku juga tidak akan memberikan sesuatu yang memang menjadi milikku.”

Negosiasi berlangsung enam minggu.

Pada akhirnya, Laras menerima kepemilikan sebuah rumah yang tidak dibebani pinjaman, pengembalian dana yang pernah ia tanamkan berikut bagian pertumbuhan yang dinilai oleh ahli independen, serta pembagian aset bersama yang diawasi pengadilan.

Ia tidak meminta hotel terbesar.

Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya terikat pada Adrian melalui rapat pemegang saham dan laporan perusahaan.

Sebagai gantinya, sebagian saham yang menjadi haknya ditempatkan dalam perwalian untuk Kirana. Saham itu tidak dapat dijual atau dijaminkan Adrian. Hasilnya hanya boleh digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan masa depan anak mereka.

Adrian juga diwajibkan membayar nafkah anak melalui rekening khusus dengan pencatatan otomatis.

Mengenai hak bertemu Kirana, Laras tidak melarangnya.

Ia hanya meminta pertemuan dilakukan bertahap, didampingi, dan disesuaikan dengan kondisi bayi.

“Dia ayah biologisnya,” kata Laras kepada Ratri. “Tapi menjadi ayah adalah perilaku, bukan hasil laboratorium. Kalau dia ingin tempat dalam hidup Kirana, dia harus membangunnya.”

Hari putusan perceraian dibacakan, Kirana berusia hampir enam bulan.

Laras tidak lagi mengenakan mantel untuk menyembunyikan luka operasi.

Ia mengenakan blus biru tua sederhana, celana panjang hitam, dan sepatu datar. Rambutnya dipotong sebahu. Wajahnya masih menyimpan kelelahan seorang ibu baru, tetapi tatapannya jauh lebih tenang.

Kirana tidak dibawa ke pengadilan.

Ia tinggal bersama Mira.

Adrian datang tanpa Selma.

Setelannya masih mahal, tetapi wajahnya tampak lebih tua. Penyelidikan terhadap transaksi perusahaan belum selesai. Ia sudah menjual apartemen pribadinya untuk membayar sebagian kewajiban dan biaya hukum.

Ketika majelis menyatakan perkawinan mereka berakhir, Laras menunggu rasa hancur datang.

Namun yang ia rasakan hanya kesunyian.

Bukan kesunyian yang menakutkan.

Kesunyian seperti sebuah kamar setelah jendela dibuka dan udara lama akhirnya keluar.

Di lorong pengadilan, Adrian menghampirinya.

Ratri berdiri tidak jauh, cukup dekat untuk mendengar jika diperlukan.

“Aku ingin bertemu Kirana,” kata Adrian.

“Jadwalnya sudah dikirim kepada pengacaramu.”

“Aku ingin bertemu tanpa petugas pendamping.”

“Belum.”

“Aku ayahnya.”

Laras menatapnya.

“Pada hari kedelapan hidupnya, kamu mengatakan di depan satu ruang sidang bahwa dia tidak ada hubungannya denganmu.”

Wajah Adrian menegang. “Aku sedang marah.”

“Tidak. Kamu sedang berhitung. Kamu mengira menyangkal Kirana akan mengurangi tanggung jawabmu dan mempercepat pembagian aset.”

“Aku melakukan kesalahan.”

“Kamu melakukan banyak pilihan. Kesalahan terjadi sekali. Pilihan yang sama, dilakukan berulang kali, adalah watak.”

Adrian terdiam.

Untuk sesaat, Laras melihat lelaki yang pernah dicintainya. Bukan pengusaha yang muncul di majalah, bukan suami yang berselingkuh, melainkan pemuda dua puluh sembilan tahun yang dulu makan mi instan bersamanya di lantai hotel pertama mereka karena semua meja belum datang.

Mungkin lelaki itu pernah nyata.

Namun orang yang pernah ada tidak selalu bisa menyelamatkan orang yang kemudian ia pilih untuk menjadi.

“Apa kamu akan menceritakan kepada Kirana bahwa aku menolaknya?” tanya Adrian.

“Suatu hari nanti, kalau dia bertanya, aku akan mengatakan kebenaran sesuai usianya. Tapi aku tidak akan membesarkannya dengan kebencian.”

Adrian menatap lantai.

“Apakah ada cara untuk memperbaiki semuanya?”

“Tidak semuanya.”

Jawaban Laras tidak keras.

Justru itulah yang membuat Adrian tampak paling terpukul.

“Tapi kamu bisa mulai memperbaiki bagian yang masih mungkin,” lanjutnya. “Datang tepat waktu. Patuhi aturan. Jangan memakai hadiah untuk membeli kasih sayang. Jangan berjanji kalau tidak bisa menepati. Dan jangan pernah lagi membuat Kirana merasa keberadaannya adalah beban.”

Adrian mengangguk pelan.

Laras meninggalkannya di lorong itu.

Setahun berikutnya tidak berubah menjadi dongeng yang sempurna.

Ada malam ketika Kirana demam dan Laras duduk di lantai kamar mandi sambil menangis karena terlalu lelah.

Ada hari ketika berita tentang penyelidikan Adrian muncul lagi dan wartawan menunggu di depan rumah.

Ada pertemuan yang dibatalkan Adrian karena pemeriksaan hukum, dan ada satu kali Laras harus mengingatkannya bahwa Kirana bukan janji temu yang bisa dipindahkan sesuka hati.

Namun perlahan, kehidupan baru mulai terbentuk.

Dengan sebagian dana hasil pembagian aset, Laras mendirikan sebuah perusahaan konsultasi kecil yang membantu hotel keluarga memperbaiki tata kelola, sistem keuangan, dan perlindungan bagi mitra yang namanya sering digunakan tanpa memahami risikonya.

Ia menamai perusahaan itu Kirana Advisory.

Bukan karena ia ingin membebani putrinya dengan kisah perceraian, melainkan karena Kirana berarti cahaya.

Dan cahaya adalah hal pertama yang dibutuhkan orang ketika terlalu lama hidup di dalam kebohongan.

Klien pertama Laras adalah sebuah penginapan keluarga di Yogyakarta yang hampir kehilangan bangunan karena salah satu saudara diam-diam menjaminkannya.

Klien kedua datang dari Bandung.

Lalu Surabaya.

Dalam dua tahun, Laras mempekerjakan dua belas orang, sebagian besar perempuan yang kembali bekerja setelah melahirkan atau setelah meninggalkan perkawinan yang membuat mereka kehilangan kemandirian finansial.

Ia menyediakan jam kerja fleksibel, ruang laktasi, dan bantuan hukum dasar bagi karyawan.

Bukan karena ia ingin dianggap sebagai pahlawan.

Ia hanya ingat bagaimana rasanya menandatangani dokumen di samping ranjang rumah sakit sambil menahan sakit dan merasa seluruh sistem dibangun untuk orang yang tidak pernah harus menggendong bayi saat memperjuangkan haknya.

Adrian menjalani proses hukum atas transaksi perusahaan. Ia tidak dipenjara untuk seluruh tuduhan yang pernah diberitakan media, tetapi diwajibkan mengembalikan dana, membayar denda, dan dilarang menduduki posisi direksi selama beberapa tahun.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, nama keluarga tidak mampu menghapus akibat dari tindakannya.

Anehnya, setelah semua yang hilang, barulah Adrian mulai belajar hadir.

Ia datang ke pertemuan dengan Kirana setiap dua minggu.

Awalnya, Kirana menangis setiap kali digendongnya.

Adrian tidak tahu cara memasang popok, tidak mengenali perbedaan tangisan lapar dan mengantuk, dan pernah membawa mainan mahal yang terlalu besar untuk anak seusianya.

Laras tidak menolongnya lebih dari yang diperlukan.

Namun petugas pendamping mengajarinya.

Adrian belajar duduk di lantai.

Belajar menyuapi tanpa terburu-buru.

Belajar bahwa seorang anak tidak peduli berapa banyak hotel yang pernah dipimpin ayahnya.

Anak hanya tahu siapa yang datang ketika ia memanggil.

Ketika Kirana berusia tiga tahun, ia berlari untuk pertama kalinya ke arah Adrian saat pertemuan mereka.

Laras melihat lelaki itu berlutut dan memeluk putrinya.

Adrian menutup mata.

Bahunya bergetar.

Ia tidak meminta Laras kembali.

Laras juga tidak menawarkan pengampunan dalam bentuk yang mudah.

Tetapi pada sore itu, ketika Kirana tertawa di pelukan ayahnya, Laras menyadari bahwa akhir yang bahagia tidak selalu berarti semua luka menghilang.

Kadang-kadang akhir yang bahagia berarti luka itu berhenti diwariskan.

Pada ulang tahun Kirana yang kelima, mereka mengadakan pesta kecil di halaman rumah Laras.

Tidak ada hotel mewah.

Tidak ada lampu kristal.

Hanya meja panjang, nasi kuning, sate, balon berwarna putih dan marun, serta kue dengan gambar bulan dan bintang.

Mira datang bersama keluarganya.

Ratri datang membawa satu kotak buku cerita.

Beberapa karyawan Kirana Advisory membantu anak-anak membuat mahkota dari kertas.

Adrian hadir tepat waktu.

Ia membawa hadiah yang sudah disetujui Laras: sebuah teleskop kecil karena Kirana mulai menyukai langit malam.

Setelah meniup lilin, Kirana berlari ke arah ibunya.

“Bunda, lihat! Ayah bilang malam ini kita bisa lihat bulan.”

Laras berjongkok dan merapikan rambut putrinya.

“Kalau langitnya cerah.”

“Kalau tidak cerah?”

“Kita tunggu malam lain.”

Kirana menerima jawaban itu dengan mudah, lalu berlari kembali.

Adrian berdiri beberapa meter dari Laras.

“Terima kasih,” katanya.

“Untuk apa?”

“Karena kamu tidak mengajarinya membenciku.”

Laras memandang putrinya yang sedang tertawa.

“Aku melakukannya untuk Kirana, bukan untukmu.”

“Aku tahu.”

Dan kali itu, Adrian benar-benar mengerti.

Menjelang malam, setelah semua tamu pulang, Laras menemukan Kirana tertidur di sofa sambil memeluk buku pemberian Ratri.

Ia mengangkat putrinya dan membawanya ke kamar.

Di dinding tergantung foto-foto kehidupan yang mereka bangun: hari pertama Kirana masuk sekolah, liburan sederhana ke Semarang, perayaan pembukaan kantor baru, dan foto Laras bersama timnya.

Tidak ada satu pun foto dari ruang sidang.

Hari itu tidak perlu dipajang untuk membuktikan bahwa mereka telah melewatinya.

Laras membaringkan Kirana, menarik selimut sampai ke bahunya, lalu duduk di tepi ranjang.

Lima tahun sebelumnya, ia pernah memandang bayi berusia delapan hari dan takut dunia akan mengingat anak itu sebagai seseorang yang ditolak ayahnya.

Kini ia tahu ketakutannya salah.

Kirana tidak tumbuh sebagai bayi yang ditolak.

Ia tumbuh sebagai anak yang dipilih ibunya berulang kali.

Dipilih ketika Laras bangkit dari ranjang rumah sakit.

Dipilih ketika ia melindungi dokumen dan rekeningnya.

Dipilih ketika ia menolak menyerahkan hak yang kelak menjadi milik putrinya.

Dipilih ketika Laras tidak membiarkan kebencian menjadi bahasa pertama di rumah mereka.

Kirana membuka mata sedikit.

“Bunda?”

“Ya, Sayang?”

“Bunda bahagia?”

Pertanyaan itu membuat Laras tersenyum.

Dulu ia mengira kebahagiaan adalah rumah besar, suami sukses, foto keluarga yang tampak sempurna, dan keyakinan bahwa tidak ada seorang pun akan meninggalkannya.

Kini ia tahu kebahagiaan jauh lebih sederhana.

Pintu yang bisa ia kunci sendiri.

Uang yang tidak bisa diambil tanpa izinnya.

Pekerjaan yang ia bangun dengan namanya.

Keluarga yang datang bukan karena penampilan, melainkan karena cinta.

Dan seorang anak yang tidur tanpa merasa harus memperoleh hak untuk dicintai.

“Sangat bahagia,” jawab Laras.

Kirana tersenyum mengantuk.

“Karena aku?”

Laras mencium keningnya.

“Karena kita.”

Di luar jendela, langit Jakarta mulai bersih setelah hujan. Di sela-sela awan, bulan muncul perlahan, memantulkan cahaya pucat ke lantai kamar.

Laras berdiri dan mematikan lampu.

Lima tahun lalu, ia memasuki ruang sidang dengan tubuh yang belum pulih, bayi baru lahir di dada, dan seorang suami yang menyangkal bahwa anak mereka memiliki hubungan dengannya.

Malam ini, ia meninggalkan kamar putrinya sebagai perempuan yang tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk mengakui nilainya.

Adrian pernah mengira perceraian akan menjadi akhir kehidupan Laras.

Ternyata, itu hanya akhir dari kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.

Kehidupan Laras yang sebenarnya baru dimulai setelah ia berani keluar darinya.