Suamiku Membawa Calon Istri Kedua ke Rumah Warisanku, Lalu Ibu Mertua Menyuruhku Melayani Mereka—Malam Itu Aku Menemukan Satu Berkas yang Membuat Semua Orang Membeku tanpa Bisa Berkata Apa Pun
Bagian 1 — Saat Mereka Merayakan Kehamilan Perempuan Itu di Ruang Tamuku, Aku Justru Menemukan Rencana yang Diam-Diam Mengincar Rumah dan Usahaku Sekaligus
Aku terbangun hampir pukul sebelas siang karena suara tawa perempuan dari lantai bawah.
Semalam aku baru pulang dari dapur produksi pukul tiga pagi setelah menyelesaikan pesanan 480 kotak nasi untuk acara kantor di Bogor. Badanku masih terasa remuk ketika suara Ibu Mertua terdengar begitu jelas dari ruang tamu.
“Kasih buah lagi ke Laras, Dim. Orang hamil jangan sampai telat makan.”
Aku langsung membuka mata.
Laras.
Nama yang selama dua bulan terakhir menghancurkan ketenangan rumah tanggaku sedikit demi sedikit.
Aku turun dengan kaus panjang dan celana rumah. Begitu sampai di anak tangga terakhir, aku melihat pemandangan yang membuat dadaku seperti ditusuk sesuatu.
Suamiku, Dimas, duduk di samping Laras.
Tangan Dimas berada di sandaran sofa tepat di belakang bahu perempuan itu.
Di meja ada kotak martabak, sate, buah potong, dua bungkus makanan restoran, dan sebuah kue kecil bertuliskan, “Calon Mama Sehat Selalu.”
Sementara Bu Murni, ibu Dimas, duduk tersenyum seperti sedang merayakan kabar paling membahagiakan dalam hidupnya.
Saat melihatku, senyumnya langsung menghilang.
“Jam segini baru turun?”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan menuju dispenser dan menuangkan air putih.
Bu Murni mendecakkan lidah.
“Ratih, Ibu sedang bicara.”
Aku menatapnya.
“Iya, Bu. Saya dengar.”
“Kalau dengar, jawab. Ada tamu di rumah bukannya bikin minuman atau makanan malah tidur.”
Aku hampir tertawa.
Tamu?
Perempuan yang mengandung anak suamiku sekarang disebut tamu.
Dimas berdeham kecil.
“Sudahlah, Bu.”
Lalu dia menatapku dengan ekspresi sok tenang.
“Ratih, sekalian kita bicara baik-baik.”
Aku menarik kursi makan lalu duduk.
“Silakan.”
Laras menundukkan kepala, tetapi sudut bibirnya terlihat seperti sedang menahan senyum.
Dimas mengusap lututnya sendiri.
“Laras hamil.”
“Aku sudah tahu.”
Seminggu sebelumnya aku melihat pesan masuk di ponselnya.
Foto hasil USG.
Di bawahnya tertulis: Ayah, jangan lupa vitamin dedek.
Dimas sempat mengatakan bahwa aku salah paham.
Dua hari kemudian dia mengaku memiliki hubungan dengan Laras.
Hari ini rupanya keluarga mereka memutuskan bahwa fase menyangkal sudah selesai.
Bu Murni menyela.
“Karena sudah begini, Ibu pikir jalan terbaik adalah Dimas menikahi Laras.”
Aku diam.
“Tujuh tahun kalian menikah,” lanjutnya. “Belum juga ada anak. Dimas anak laki-laki satu-satunya. Masa keluarga kami tidak punya penerus?”
Kalimat itu sebenarnya sudah terlalu sering kudengar.
Setelah aku mengalami keguguran tiga tahun lalu, dokter mengatakan kondisiku baik dan kami masih bisa mencoba lagi.
Namun Dimas selalu menolak melakukan pemeriksaan lanjutan untuk dirinya sendiri.
Menurutnya, laki-laki tidak perlu diperiksa.
Sekarang semua kesalahan kembali diletakkan di pundakku.
Aku menatap suamiku.
“Kamu ingin menikahinya?”
Dimas menarik napas panjang.
“Aku ingin bertanggung jawab.”
“Bagus.”
Semua orang terdiam.
Mungkin mereka mengira aku akan menangis.
Berteriak.
Memecahkan gelas.
Atau memohon kepada Dimas supaya meninggalkan Laras.
Aku justru tersenyum.
“Kalau memang itu keputusanmu, silakan.”
Laras langsung mengangkat wajah.
Dimas tampak lega.
“Serius?”
“Serius.”
Bu Murni bahkan tersenyum lebar.
“Nah, begitu. Dari awal kalau kamu bisa dewasa, semuanya gampang.”
Aku mengangguk.
“Benar, Bu.”
Kemudian aku menunjuk makanan memenuhi meja.
“Tapi mulai hari ini ada sedikit perubahan.”
Wajah mereka berubah.
“Apa?” tanya Dimas.
“Karena kamu sudah punya calon keluarga baru, biaya mereka bukan tanggung jawabku.”
Dimas mengerutkan kening.
Aku melanjutkan.
“Gaji pegawai, listrik dapur produksi, cicilan mobil operasional, dan kebutuhan usaha tetap aku bayar. Tapi uang pribadimu, kebutuhan Laras, kontrol kehamilan Laras, makan Laras, semuanya silakan pakai uangmu sendiri.”
Bu Murni langsung berdiri.
“Kamu perhitungan sekali!”
Aku menatapnya tenang.
“Kalau saya membayar kebutuhan pacar suami saya, bukankah itu lebih aneh, Bu?”
Laras memegang perutnya.
“Mbak Ratih, aku tidak pernah minta uang Mbak.”
Aku tersenyum.
“Syukurlah.”
Aku berdiri.
“Berarti kita sepakat.”
Aku masuk ke dapur.
Namun ketika membuka lemari pendingin, hampir semua bahan makanan premium yang kubeli kemarin sudah habis.
Salmon, susu almond, buah impor, yogurt, bahkan daging yang seharusnya kupakai untuk uji menu katering.
Dari ruang tamu terdengar suara Bu Murni.
“Laras harus makan yang bergizi.”
Aku menutup pintu kulkas perlahan.
Tidak masalah.
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada kepala dapur.
Mulai besok seluruh bahan produksi dikirim langsung ke ruko.
Tidak ada lagi stok usaha di rumah.
Sore harinya aku juga mengganti kata sandi aplikasi pembelian bahan baku.
Dimas baru menyadarinya malam itu.
“Password akun supplier diganti?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena itu akun usaha.”
“Aku kan ikut mengurus usaha.”
“Mulai besok tidak perlu.”
Dia menatapku tajam.
“Jangan kekanak-kanakan, Ratih.”
Aku hampir tertawa.
Usaha katering itu kubangun lima tahun lalu menggunakan uang peninggalan ayahku.
Dimas awalnya hanya membantu mengantar pesanan.
Karena aku percaya kepadanya, dua tahun terakhir kuberi akses ke rekening operasional.
Ternyata kepercayaan adalah pintu yang paling mudah dipakai seseorang untuk masuk sambil membawa pisau.
Malam semakin larut.
Laras dan Bu Murni menginap.
Sekitar pukul sebelas, Laras mengetuk pintu kamarku.
“Mbak?”
Aku sedang membaca laporan penjualan.
“Ada apa?”
“Aku lapar.”
Aku memandangnya.
“Terus?”
Dia terlihat canggung.
“Dimas sudah tidur.”
“Bangunkan.”
“Mbak nggak punya makanan?”
“Ada.”
Wajahnya langsung cerah.
“Nasi merah sama ayam panggang?”
“Ada.”
“Boleh aku minta?”
Aku menunjuk meja kecil di sudut kamar.
Di sana ada satu kotak makan malam yang sengaja kubeli untuk diriku sendiri.
Laras melihatnya penuh harap.
Aku membuka kotak itu, mengambil satu suap, lalu berkata,
“Tidak.”
Matanya membesar.
“Mbak…”
“Laras.”
Aku meletakkan sendok.
“Kamu mengambil suamiku. Aku sudah cukup murah hati karena tidak mengusirmu malam ini. Jangan mulai meminta isi piringku juga.”
Wajahnya memerah.
Dia pergi sambil membanting pintu.
Lima menit kemudian Bu Murni datang.
“Ratih!”
Aku tidak menjawab.
“Perempuan hamil minta makan saja kamu pelit!”
Aku membuka pintu.
“Bu, anak Ibu ada di kamar sebelah. Ayah bayinya juga ada di sana. Kenapa saya yang harus menyiapkan makan?”
“Karena kamu istrinya!”
Aku tersenyum kecil.
“Nah. Justru itu masalahnya.”
Lalu aku menutup pintu.
Kupikir malam itu sudah selesai.
Ternyata belum.
Sekitar pukul satu dini hari printer di ruang kerja tiba-tiba berbunyi.
Dimas sering menggunakan printer itu untuk dokumen usaha.
Aku keluar karena khawatir mesin menyala sendiri.
Satu lembar kertas berada di baki printer.
Bukan invoice katering.
Bukan daftar pemasok.
Judulnya membuatku langsung berhenti bernapas.
Permohonan Kredit dengan Agunan Sertifikat Hak Milik.
Nominal pinjaman: Rp780.000.000.
Alamat jaminan adalah rumah yang sedang kami tempati.
Rumah peninggalan ayahku.
Aku membaca lembar kedua.
Ada fotokopi sertifikat rumah.
Lembar ketiga berisi simulasi kredit.
Lembar keempat membuat ujung jariku dingin.
Sebuah surat kuasa yang mencantumkan namaku.
Di bawah kolom tanda tangan terdapat contoh tanda tanganku yang jelas-jelas bukan buatanku.
Lalu sebuah kertas kecil terjatuh dari sela map cokelat.
Tulisan tangan Bu Murni ada di sana.
“Dimas, usahakan Ratih tanda tangan minggu ini. Bilang uangnya buat ekspansi katering. Setelah cair, selesaikan uang muka rumah Laras.”
Aku belum selesai membaca ketika satu lembar fotokopi lain jatuh ke lantai.
Kartu Keluarga milik Laras.
Mataku langsung berhenti pada satu kolom.
Status perkawinan: Kawin.
Dan di bawah nama Laras tercantum nama seorang laki-laki yang jelas bukan Dimas.
Malam itu aku akhirnya mengerti.
Mereka bukan hanya ingin memasukkan perempuan lain ke dalam pernikahanku.
Mereka juga sedang mencoba menggunakan rumah warisanku untuk membiayai kehidupan baru mereka.
Sayangnya, mulai malam itu mereka tidak lagi berhadapan dengan istri yang ingin mempertahankan suaminya.
Mereka berhadapan dengan pemilik rumah yang sudah tahu semuanya.
#DramaKeluarga #IstriBangkit #PengkhianatanSuami #KisahRumahTangga #CeritaViral
Bagian 2 — Ketika Suamiku Memaksaku Menandatangani Berkas, Aku Mengundang Orang yang Tak Mereka Duga dan Membuka Kebohongan Kehamilan di Depan Semua Keluarga
Aku memotret seluruh dokumen malam itu.
Tidak ada satu lembar pun yang kuambil.
Aku mengembalikannya persis seperti semula.
Pagi harinya aku bahkan membuat sarapan.
Dimas terlihat heran ketika melihat nasi goreng, telur, dan teh hangat di meja.
Bu Murni tersenyum puas.
“Nah, begini baru istri.”
Aku hanya tersenyum.
Selama tiga hari berikutnya aku berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Sementara itu, aku menemui Ratna, sepupuku yang bekerja sebagai konsultan hukum.
Aku juga pergi ke bank tempat rekening usaha berada.
Di sanalah aku menemukan kejutan berikutnya.
Dalam enam bulan terakhir, Dimas telah melakukan transfer dari rekening operasional dengan total hampir Rp326 juta.
Sebagian dicatat sebagai “pembelian perlengkapan.”
Namun penerimanya bukan supplier.
Nama penerimanya adalah Laras Prameswari.
Ada pembayaran sewa apartemen.
Uang muka mobil.
Tagihan klinik.
Perhiasan.
Bahkan biaya liburan ke Yogyakarta yang saat itu Dimas katakan kepadaku sebagai “kunjungan supplier.”
Aku mencetak semuanya.
Kemudian aku mencari nama laki-laki yang tercantum pada Kartu Keluarga Laras.
Arga Mahendra.
Aku mendapatkan nomornya dari dokumen klinik yang terselip bersama berkas Laras, karena namanya masih tertulis sebagai kontak darurat.
Ketika kuhubungi, Arga terdiam cukup lama.
“Kamu istrinya Dimas?”
“Iya.”
“Berarti dia laki-laki yang sekarang bersama Laras?”
“Iya.”
Arga mengembuskan napas panjang.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku duduk perlahan.
Laras belum resmi bercerai darinya.
Mereka memang sudah berpisah rumah sekitar empat bulan.
Tetapi proses perceraian mereka masih berjalan.
Yang lebih mengejutkan, saat Laras meninggalkan rumah Arga, perempuan itu sudah mengetahui dirinya hamil.
“Aku punya hasil pemeriksaan pertamanya,” kata Arga. “Waktu itu kandungannya sudah hampir delapan minggu.”
Aku membuka kalender.
Dimas baru pertama kali mengenal Laras sekitar dua bulan setelah tanggal pemeriksaan tersebut.
Aku tidak langsung percaya.
Aku meminta bukti.
Arga mengirimkan foto hasil USG lama, kwitansi klinik, dan percakapan mereka.
Semuanya mempunyai tanggal.
Aku menyimpan semuanya.
Hari Jumat, Dimas akhirnya menjalankan rencananya.
Sepulang kerja dia membawa sebuah map biru.
“Ratih, kita perlu bicara.”
Aku menutup laptop.
“Soal apa?”
“Aku ingin memperbesar dapur produksi.”
Aku hampir kagum pada keberaniannya berbohong.
Dia meletakkan dokumen di meja.
“Kalau kita ambil pinjaman sekitar tujuh ratus juta, kapasitas usaha bisa naik dua kali lipat.”
“Oh.”
“Kita cuma perlu menjaminkan rumah sementara.”
Aku membalik lembar demi lembar seolah baru pertama kali melihatnya.
Bu Murni duduk di sofa.
Laras juga ada di sana.
Lengkap.
Aku bertanya,
“Kalau aku tanda tangan, uang cair kapan?”
Wajah Dimas langsung berubah cerah.
“Mungkin dua minggu.”
“Bagus.”
Aku mengambil pena.
Dimas mendekat.
Namun sebelum ujung pena menyentuh kertas, aku berkata,
“Tapi sebelum itu aku ingin kita makan malam bersama.”
“Makan malam?”
“Iya. Aku sudah mengundang beberapa orang.”
Bu Murni terlihat curiga.
“Siapa?”
Aku tidak menjawab.
Tepat pukul tujuh bel berbunyi.
Orang pertama yang datang adalah Ratna.
Dimas mengenalnya.
Wajahnya langsung tegang.
Orang kedua adalah akuntan usaha kateringku.
Wajah Dimas semakin pucat.
Lalu bel berbunyi untuk ketiga kalinya.
Aku membukakan pintu.
Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di sana sambil membawa map hitam.
Laras yang melihatnya langsung berdiri.
Wajahnya berubah putih.
“Arga?”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga masuk.
Dimas menatap Laras.
“Kamu kenal dia?”
Aku duduk kembali.
“Kenalkan, Mas. Ini suami sah Laras.”
Dimas menoleh begitu cepat sampai hampir menjatuhkan gelas.
“Apa?”
Laras panik.
“Kami sudah mau cerai!”
Arga menjawab dingin,
“Mau cerai bukan berarti sudah cerai.”
Dimas memandang Laras.
“Kamu bilang kamu sudah sendiri sejak tahun lalu!”
“Aku bisa jelasin.”
Aku meletakkan satu foto hasil pemeriksaan di meja.
“Jelaskan ini juga.”
Dimas mengambilnya.
Tanggal pemeriksaan terlihat jelas.
Usia kandungan Laras saat itu tujuh minggu enam hari.
Aku meletakkan kalender di sampingnya.
“Kamu pertama kali bertemu Laras tanggal 14 April.”
Aku menunjuk tanggal pemeriksaan.
“Pada 2 April, kandungannya sudah hampir delapan minggu.”
Dimas membeku.
Dia menghitung dalam hati.
Kemudian menatap Laras.
“Jadi anak itu…”
“Aku nggak tahu!” Laras berteriak.
Arga tertawa pahit.
“Aku tahu.”
Semua mata mengarah kepadanya.
“Karena sebelum Laras pergi dari rumah, dokter sudah memberi tahu perkiraan usia kandungannya.”
Bu Murni terlihat kehilangan suara.
Dimas mencengkeram hasil pemeriksaan.
“Kamu bilang anak ini anakku.”
Laras mulai menangis.
“Aku takut! Kamu bilang mau tanggung jawab!”
Aku menggeleng.
“Kalian bisa menyelesaikan masalah kehamilan kalian sendiri nanti.”
Aku membuka map lain.
“Tapi sekarang giliran masalahku.”
Kukeluarkan laporan transaksi.
“Rp326 juta.”
Wajah Dimas langsung berubah.
Aku menatapnya.
“Uang usaha yang kamu pindahkan diam-diam kepada Laras.”
“Ratih…”
“Belum selesai.”
Aku mengeluarkan fotokopi permohonan kredit.
Kemudian contoh tanda tangan palsu.
“Seseorang juga mencoba menggunakan rumah warisanku sebagai agunan.”
Bu Murni langsung menyela.
“Itu cuma rencana!”
Ratna akhirnya berbicara.
“Memalsukan atau menggunakan tanda tangan seseorang tanpa izin bukan sekadar ‘rencana keluarga’, Bu.”
Dimas berdiri.
“Ratih, jangan dibesar-besarkan.”
Aku ikut berdiri.
“Masalahnya, Dim…”
Aku mengambil ponsel dan memperlihatkan satu rekaman dari kamera ruang kerja.
“…kamera rumah merekam siapa yang berlatih meniru tanda tanganku di meja kerja tiga malam lalu.”
Wajah Dimas benar-benar kehilangan warna.
Dan ketika rekaman itu mulai diputar, Bu Murni tiba-tiba berdiri lalu berteriak,
“Matikan itu!”
Aku memandangnya.
Di layar terlihat Dimas memegang pulpen.
Namun orang yang duduk di sebelahnya, memberikan contoh tanda tanganku berulang kali, bukan Laras.
Itu adalah ibunya sendiri.
Bagian 3 — Setelah Bukti Transfer, Rekaman, dan Dokumen Palsu Terbuka, Mereka Kehilangan Segalanya Sementara Aku Memulai Hidup Baru Tanpa Menoleh Lagi ke Belakang
Tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik.
Bu Murni terlihat seperti ingin merebut ponselku.
Namun Ratna langsung berdiri di antara kami.
“Jangan sentuh apa pun.”
Dimas memukul meja.
“Cukup!”
Aku menatapnya.
“Kenapa? Malu?”
“Ini masalah keluarga!”
Aku tertawa kecil.
“Waktu uang usahaku dipakai membayar apartemen pacarmu, itu masalah keluarga.”
Aku menunjuk dokumen rumah.
“Waktu rumah peninggalan ayahku mau dijadikan jaminan untuk membeli rumah perempuan lain, itu juga masalah keluarga.”
Kemudian aku menunjuk kamera.
“Tapi sekarang setelah ketahuan, tiba-tiba kita harus diam demi nama baik keluarga?”
Laras menangis.
“Aku nggak tahu soal rumah itu, Mbak.”
“Aku percaya.”
Dimas menatapku terkejut.
Aku melanjutkan,
“Karena dari percakapan yang kusimpan, rencana rumah ini memang dibuat Dimas dan ibunya.”
Bu Murni langsung memaki.
“Kamu mengorek-ngorek ponsel suamimu?”
“Tidak perlu.”
Aku mengeluarkan cetakan pesan dari akun komputer kantor.
“Dimas menggunakan akun WhatsApp Web di laptop operasional milik usahaku dan lupa keluar.”
Aku tidak perlu menambah apa pun.
Semua sudah tertulis di sana.
Bu Murni menyuruh Dimas membuatku merasa bersalah karena belum mempunyai anak.
Dimas mengatakan setelah pinjaman cair, sebagian uang akan digunakan untuk membayar rumah kecil untuk Laras.
Mereka bahkan sudah membicarakan kemungkinan menyuruhku tinggal di ruko sementara jika hubunganku dengan Laras “terlalu tegang.”
Di rumah milikku sendiri.
Arga menatap Laras.
“Aku tidak akan membahas masalah kita di sini. Kita selesaikan di pengadilan.”
Laras memegang tangannya.
“Ga…”
Arga melepaskannya.
“Aku datang karena Ratih berhak tahu kebenaran.”
Lalu dia pergi.
Dimas langsung mengejar Laras yang menangis.
“Kamu bohong sama aku!”
Laras berbalik.
“Kamu juga bohong! Kamu bilang bisnis katering itu punya kamu!”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Laras menunjuk Dimas.
“Kamu bilang rumah ini rumahmu! Kamu bilang setelah menikah aku bisa tinggal di sini!”
Dimas terdiam.
Aku berdiri sambil menyilangkan tangan.
“Oh, jadi itu ceritanya.”
Laras menatapku dengan wajah kacau.
“Dia bilang Mbak cuma mengurus dapur.”
Aku mengangguk perlahan.
Untuk pertama kalinya malam itu aku merasa sedikit kasihan kepadanya.
Sedikit.
Namun rasa kasihan tidak menghapus fakta bahwa dia tetap memilih menjalani hubungan dengan laki-laki beristri.
Aku berkata,
“Sekarang kamu sudah tahu.”
Laras mengambil tasnya.
Dimas mencoba menahan.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Anak itu gimana?”
Laras menangis.
“Itu bukan urusan kamu!”
Dia pergi.
Dan itulah terakhir kali Laras masuk ke rumahku.
Malam itu aku memberikan pilihan kepada Dimas.
Dia bisa meninggalkan rumah dengan tenang sebelum tengah malam.
Atau aku meminta bantuan keamanan kompleks untuk mengeluarkannya.
Bu Murni marah besar.
“Kamu mengusir suamimu sendiri?”
Aku mengangguk.
“Dari rumah saya sendiri.”
“Durhaka!”
Aku tersenyum.
“Bu, saya menantu. Bukan anak Ibu. Jadi istilah itu pun salah alamat.”
Dua koper keluar malam itu.
Satu milik Dimas.
Satu milik ibunya.
Keesokan paginya aku mencabut seluruh akses Dimas dari rekening dan sistem usaha.
Secara administrasi, usaha katering tersebut memang terdaftar atas namaku sejak awal.
Dimas hanyalah orang yang kuberi kewenangan operasional.
Kewenangan itu berakhir hari itu juga.
Bersama Ratna, aku membuat laporan resmi terkait dugaan penyalahgunaan dana dan dokumen yang menggunakan tanda tanganku tanpa izin.
Aku juga mengajukan perceraian.
Dimas berkali-kali datang.
Pertama dengan marah.
Kedua membawa bunga.
Ketiga membawa pamannya.
Keempat membawa seorang ustaz yang bahkan terlihat bingung setelah mendengar cerita sebenarnya.
“Aku khilaf, Ratih.”
Itu kalimat favorit Dimas.
“Kita mulai lagi.”
Aku menatapnya dari balik pagar.
“Mulai lagi dari bagian mana?”
Dia diam.
“Dari saat kamu selingkuh?”
Tidak menjawab.
“Dari saat kamu menggunakan uang usaha?”
Diam lagi.
“Atau dari saat kamu dan ibumu berlatih meniru tanda tanganku?”
Dimas menunduk.
Aku menutup pagar.
“Tidak semua kesalahan membutuhkan kesempatan kedua.”
Beberapa bulan kemudian proses perceraian kami selesai.
Persoalan dana usaha diselesaikan melalui pendampingan hukum. Sebagian uang berhasil dikembalikan setelah Dimas menjual mobil yang sebelumnya dia belikan untuk Laras dan mencairkan beberapa aset pribadinya.
Hubungannya dengan Laras juga berakhir.
Belakangan aku mendengar Laras melanjutkan proses perceraiannya dengan Arga dan memilih tinggal bersama kakaknya sampai melahirkan.
Aku tidak pernah mencari tahu lebih jauh.
Itu bukan lagi hidupku.
Bu Murni beberapa kali mengirim pesan panjang.
Kadang menyalahkanku.
Kadang meminta maaf.
Kadang menyuruhku menarik masalah hukum karena Dimas “sudah cukup menderita.”
Aku hanya membalas satu kali.
“Bu, penderitaan akibat konsekuensi berbeda dengan penderitaan akibat dizalimi.”
Setelah itu nomornya kublokir.
Enam bulan kemudian, Dapur Ratih pindah ke bangunan produksi baru.
Bukan dari pinjaman Rp780 juta.
Aku menggunakan keuntungan usaha dan bantuan kredit bisnis tanpa menjaminkan rumah.
Pegawaiku bertambah dari sebelas menjadi dua puluh tiga orang.
Hari pembukaan dapur baru, ibuku datang dari Sukabumi membawa nasi tumpeng kecil.
Dia memelukku lama.
“Sekarang lega?”
Aku memandang ruangan yang dipenuhi suara pegawai, aroma ayam bakar, bunyi mesin sealer, dan tumpukan pesanan yang siap dikirim.
Aku tersenyum.
“Sekarang baru terasa seperti pulang.”
Malamnya aku kembali ke rumah.
Rumah yang dulu dipenuhi suara pertengkaran itu terasa sangat sunyi.
Namun untuk pertama kalinya, sunyi tidak terasa menakutkan.
Aku duduk di meja makan dan membuka satu kotak makanan.
Ayam panggang.
Sayur.
Sambal.
Dan potongan mangga dingin.
Tidak ada yang menyuruhku membaginya.
Tidak ada yang mengambil uangku diam-diam.
Tidak ada yang membuatku merasa kurang hanya karena aku belum menjadi seorang ibu.
Aku makan perlahan sambil memandang foto ayah yang masih tergantung di dinding.
Rumah peninggalannya tetap menjadi milikku.
Usaha yang kubangun tetap berdiri.
Dan harga diriku, yang hampir mereka injak demi membiayai keluarga baru Dimas, akhirnya kembali ke tempatnya.
Dulu aku mengira kehilangan suami adalah akhir dari rumah tanggaku.
Ternyata aku salah.
Yang benar-benar berakhir malam itu hanyalah masa ketika aku membiarkan orang lain hidup nyaman dengan mengorbankan diriku.
Sedangkan hidupku sendiri?
Baru saja dimulai.

