BAGIAN 2 — Pria yang Datang untuk Mengambil Alih Sanggar Mengenali Gelang Putraku, tetapi Ruangan Nomor Tiga Membongkar Rahasia Kebakaran Empat Belas Tahun Lalu
—Kenapa putra dari orang yang sudah meninggal empat belas tahun lalu bisa berada di sini?
Aku merasa udara di ruangan itu mendadak menghilang.
Pria yang baru masuk tersebut berusia sekitar empat puluh tahun. Kemeja mahalnya rapi, jam tangannya berkilau, dan dua orang berpakaian formal berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Pemilik sanggar menatapnya tajam.
—Apa maksudmu?
Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada gelang putraku.
—Paman, siapa perempuan ini?
Jadi dia keponakan pemilik sanggar.
Aku menarik putraku ke belakang tubuhku.
—Saya datang untuk melamar pekerjaan. Tidak lebih.
Pria itu tersenyum tipis.
—Melamar pekerjaan sambil membawa gelang keluarga kami?
—Gelang ini milik anak saya.
—Dari mana dia mendapatkannya?
—Dari ayahnya.
Senyumnya lenyap.
Pemilik sanggar berdiri di antara kami.
—Cukup. Sebelum kau menanyakan apa pun kepada mereka, jawab pertanyaanku. Kenapa kau mengatakan ayah anak ini meninggal empat belas tahun lalu?
Wajah pria itu berubah.
—Saya hanya…
—Suaminya meninggal dua tahun lalu.
Keheningan jatuh.
Aku menatap pria itu.
—Bagaimana Anda tahu siapa suami saya?
Ia tidak menjawab.
Pemilik sanggar membentak:
—Jawab!
Pria itu akhirnya berkata bahwa ia pernah mendengar cerita tentang seorang pemuda yang hilang setelah kebakaran. Menurut keluarga, pemuda itu dianggap meninggal karena tak pernah kembali.
Namun alasannya terdengar terlalu cepat.
Terlalu siap.
Pengurus rumah tiba-tiba berkata:
—Bapak, ruangan nomor tiga.
Semua mata beralih kepadanya.
Pemilik sanggar menggenggam kertas dari dalam guci.
“Periksa ruangan nomor tiga sebelum menyerahkan sanggar kepada ahli waris.”
Ia segera berjalan menuju lorong belakang.
Pria yang baru datang mencoba menghalangi.
—Tidak perlu membuka ruangan lama hanya karena selembar tulisan yang belum tentu asli.
Kalimat itu justru membuatku semakin curiga.
Pemilik sanggar menatapnya.
—Kau takut pada apa?
—Saya tidak takut.
—Kalau begitu ikut.
Ruangan nomor tiga terletak di belakang ruang desain lama.
Pintunya tertutup lemari besar.
Setelah beberapa pekerja memindahkannya, kami menemukan pintu sempit dengan kunci besi.
Kunci lama dari kotak kayu ternyata cocok.
Begitu pintu dibuka, bau kayu lembap memenuhi udara.
Ruangan itu kecil.
Tidak ada emas.
Tidak ada uang.
Hanya sebuah meja, lemari besi kecil, beberapa gulungan kain, dan kotak logam yang bagian luarnya menghitam seperti pernah terkena asap.
Di atas meja terdapat foto dua anak laki-laki.
Yang pertama adalah suamiku.
Yang kedua adalah remaja dalam foto lama.
Di belakang foto tertulis:
“Untuk dua anak yang dibesarkan sebagai saudara, semoga suatu hari kebenaran tidak membuat mereka saling membenci.”
Tanganku gemetar.
—Apa artinya ini?
Pemilik sanggar tampak seperti kehilangan kekuatan.
—Salah satu dari mereka adalah anak kakak saya. Yang lain adalah anak yang dibawa istri saya pulang setelah keluarganya meninggal. Kami membesarkan keduanya bersama.
—Yang mana suami saya?
Ia menunjuk Daniel.
—Dia anak kakak saya. Secara hukum, dia memiliki bagian terbesar dalam usaha keluarga setelah ayahnya meninggal.
Aku membeku.
Pria di belakang kami tiba-tiba berkata:
—Itu tidak membuktikan apa pun.
Pemilik sanggar membuka lemari besi.
Di dalamnya ada beberapa buku catatan dan sebuah perekam suara lama.
Pengurus rumah menutup mulut.
—Itu milik almarhumah Ibu.
Baterainya sudah rusak, tetapi salah satu pekerja menemukan kabel yang sesuai.
Setelah beberapa menit, suara berdesis terdengar.
Lalu suara seorang perempuan memenuhi ruangan.
“Kalau rekaman ini ditemukan, berarti aku tidak sempat memperbaiki semuanya.”
Pemilik sanggar langsung mengenali suara istrinya.
Rekaman itu menjelaskan bahwa empat belas tahun lalu terjadi pertengkaran mengenai kepemilikan sanggar. Seseorang ingin menjual tanah dan memindahkan produksi ke tempat lain.
Daniel menolak.
Malam sebelum kebakaran, Daniel menemukan dokumen pemindahan saham menggunakan tanda tangan palsu.
Ia berniat melaporkannya.
Namun kebakaran terjadi sebelum ia sempat menyerahkan bukti.
Aku menoleh kepada pria yang datang tadi.
Wajahnya pucat.
Rekaman berlanjut.
“Daniel tidak meninggal. Aku sendiri yang membantunya pergi karena dia takut keselamatannya terancam. Aku memberinya gelang dan salinan bukti. Aku meminta dia tidak kembali sampai keadaan aman.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Jadi suamiku tidak meninggalkan keluarga karena membenci mereka.
Dia melarikan diri.
Pemilik sanggar terduduk.
—Mengapa dia tidak pernah menghubungiku?
Suara dalam rekaman seolah menjawab pertanyaan itu.
“Daniel percaya pamannya ikut menyetujui pemindahan perusahaan. Aku tidak sempat menjelaskan bahwa dia salah.”
Pria tua itu menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai pemilik kaya yang kasar, melainkan sebagai seseorang yang kehilangan empat belas tahun karena kesalahpahaman.
Lalu rekaman menyebut sebuah nama.
Nama pria yang kini berdiri bersama kami.
Ia langsung berbalik.
Namun dua pekerja sudah berada di dekat pintu.
—Jangan ada yang menyentuh saya! —bentaknya.—Rekaman tua bukan bukti hukum.
—Benar —jawabku.—Tapi mungkin dokumen yang disimpan suami saya bisa menjadi bukti.
Semua orang menatapku.
Aku sendiri baru memahami sesuatu.
Beberapa hari sebelum meninggal, suamiku pernah memberiku kunci kecil.
Dia berkata:
“Kalau suatu hari ada masalah dengan masa lalu, buka bagian bawah kotak mesin jahitku.”
Aku mengira dia sedang bercanda.
Kotak mesin jahit itu masih kusimpan.
Pemilik sanggar segera meminta seseorang mengantar kami mengambilnya.
Aku menolak meninggalkan anakku, sehingga kami pergi bersama.
Kurang dari dua jam kemudian, kami kembali.
Di bagian bawah kotak ternyata ada ruang tipis yang selama ini tidak pernah kusadari.
Di dalamnya tersimpan sebuah kartu memori dan surat.
Surat itu ditujukan kepadaku.
Aku membacanya dengan tangan gemetar.
“Kalau kamu membaca ini, mungkin aku sudah tidak sempat menceritakan semuanya. Aku tidak berasal dari keluarga miskin seperti yang kukatakan. Aku hanya ingin hidup tanpa nama keluarga yang membuat orang saling berebut harta.”
Air mataku jatuh.
Suamiku menulis bahwa ia tidak pernah berniat kembali menuntut perusahaan.
Namun setelah putra kami lahir, ia mulai berpikir untuk mengungkap kebenaran agar suatu hari anak kami tidak mewarisi kebohongan.
Di kartu memori terdapat salinan dokumen, foto arsip, serta rekaman percakapan lama mengenai pemalsuan tanda tangan.
Pemilik sanggar segera menelepon pengacaranya.
Kali ini bukan untuk membicarakan warisan.
Ia meminta semua proses pengalihan perusahaan dihentikan.
Pria yang seharusnya mengambil alih sanggar berteriak bahwa semuanya adalah jebakan.
Tetapi beberapa jam kemudian, pengacara datang bersama petugas berwenang.
Semua dokumen diserahkan untuk diperiksa.
Tidak ada penangkapan dramatis saat itu.
Tidak ada yang langsung dinyatakan bersalah.
Namun satu hal pasti: proses pengambilalihan perusahaan dihentikan sampai penyelidikan selesai.
Menjelang malam, aku membawa putraku menuju pintu.
Pemilik sanggar menghampiri kami.
—Tunggu.
Aku menoleh.
Ia memandang cucu keponakannya lama sekali.
—Saya minta maaf atas cara saya memperlakukan kalian tadi pagi.
Aku tidak menjawab.
—Dan saya ingin memperbaiki kesalahan terhadap ayahnya.
—Kami tidak datang untuk meminta warisan.
—Saya tahu.
Ia mengeluarkan kunci gerbang yang tadi diperintahkan untuk ditutup, kemudian meletakkannya di telapak tanganku.
—Karena itu kali ini keputusan ada pada Anda. Gerbang terbuka. Anda boleh pergi.
Ia menatap putraku.
—Tapi kalau kalian bersedia kembali besok, saya ingin menunjukkan sesuatu yang seharusnya menjadi milik ayahnya sejak dulu.
Aku hampir menolak.
Namun putraku tiba-tiba bertanya:
—Apakah ada foto Ayah waktu kecil?
Mata pria tua itu memerah.
—Ada banyak sekali.
Putraku menatapku penuh harap.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki tempat itu, aku tidak melihat sebuah rumah orang asing.
Aku melihat bagian kehidupan suamiku yang selama ini tidak pernah kukenal.
Aku akhirnya mengangguk.
—Besok kami kembali.
Namun keesokan paginya, ketika kami tiba di sanggar, puluhan pekerja sudah berdiri di halaman.
Pemilik sanggar menunggu di depan pintu utama.
Di tangannya ada sebuah map.
Ia menyerahkannya kepadaku.
Aku membuka halaman pertama.
Lalu langsung menutupnya kembali.
—Tidak. Saya tidak bisa menerima ini.
Ia menggeleng.
—Baca sampai halaman terakhir.
Aku membukanya lagi.
Dan ketika melihat apa yang sebenarnya diwariskan suamiku kepada putra kami, aku akhirnya mengerti mengapa seseorang bersedia menyembunyikan kebenaran selama empat belas tahun.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
