BAGIAN 2 — Dokumen Dua Belas Tahun Lalu Membuka Kebohongan Terbesar, dan Kirana Menemukan Orang yang Diam-Diam Melindungi Masa Depannya Selama Bertahun-tahun
Tanganku gemetar ketika mengeluarkan dokumen pertama dari tas cokelat itu. Tanggalnya memang dua belas tahun lalu, tetapi yang membuat napasku tercekat bukan hanya namaku dan nama Ibu yang tercetak di halaman depan. Di sudut kanan atas terdapat nama sebuah badan usaha yang terasa asing, sementara di bawahnya tertulis bahwa Ibu telah menempatkan sebidang aset komersial ke dalam skema pengelolaan khusus untuk kepentinganku setelah aku mencapai usia tertentu.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
—Apa ini?
Ayah Arga menarik napas panjang.
—Sebaiknya ibumu yang menjelaskannya.
Aku langsung menelepon Ibu.
Belum sempat dering kedua selesai, dia mengangkat.
—Kirana?
—Ibu, datang ke apartemenku sekarang.
Mungkin Ibu mendengar sesuatu dari suaraku karena dia tidak bertanya panjang.
—Tunggu Ibu. Jangan tanda tangani apa pun dan jangan berikan dokumen itu kepada siapa pun.
Aku menatap Arga.
Wajahnya semakin pucat.
Empat puluh menit kemudian, Ibu tiba bersama seorang perempuan paruh baya yang kukenal sebagai penasihat hukum keluarga kami.
Begitu melihat keluarga Arga berada di ruang tamuku, Ibu tidak marah.
Dia hanya menatapku.
—Kau baik-baik saja?
Aku menyerahkan dokumen itu.
—Ibu jelaskan.
Ibu membacanya sekilas lalu memandang ayah Arga.
—Dari mana Anda mendapatkan ini?
Pria itu menunduk.
—Saya menemukannya di lemari Arga tiga hari lalu.
Arga langsung menyela.
—Ayah menggeledah barangku?
—Kalau aku tidak melakukannya, sampai kapan kau akan terus menghancurkan hidup orang lain?
—Cukup.
Suara Ibu tenang, tetapi membuat semua orang diam.
Dia duduk di sampingku.
—Dua belas tahun lalu, setelah ayahmu meninggal, Ibu menjual sebagian kepemilikan usaha keluarga. Tetapi ada satu bangunan komersial yang tidak Ibu jual. Ibu memasukkannya ke dalam pengelolaan khusus untukmu.
Aku mengernyit.
—Kenapa aku tidak pernah tahu?
—Karena saat itu kau baru delapan belas tahun. Ibu ingin kau membangun karier tanpa merasa punya kekayaan yang bisa selalu kauandalkan.
Ibu menunjuk dokumen tersebut.
—Bangunan itu menghasilkan pendapatan sewa. Selama bertahun-tahun, hasilnya terus disimpan dan dikembangkan. Ketika kau berusia tiga puluh tahun, hak pengelolaannya sepenuhnya menjadi milikmu.
Aku terdiam.
Tiba-tiba aku mengerti.
—Jadi dua miliar yang Ibu transfer…
Ibu menggeleng.
—Tidak ada hubungannya dengan aset ini. Dua miliar itu uang Ibu sendiri untuk membantumu membuka restoran.
Aku menatap dokumen di tanganku.
—Lalu kenapa Arga memilikinya?
Itulah pertanyaan yang mengubah suasana ruangan.
Arga menunduk.
Ibu Arga menangis.
Sari memeluk Raka.
Akhirnya ayah Arga menjawab.
—Karena Arga menemukan salinannya bertahun-tahun lalu.
Aku menoleh tajam.
—Bagaimana?
Ayah Arga menatap putranya dengan kecewa.
—Enam tahun lalu dia pernah membantu memindahkan barang-barang Kirana saat pindah apartemen. Dia menemukan sebuah map milik ibumu. Dia memotretnya.
Aku merasa mual.
Enam tahun lalu.
Tahun yang sama ketika Raka lahir.
Aku menatap Arga.
—Jadi saat kau mengkhianatiku, kau juga mulai mencari tahu tentang aset keluargaku?
—Tidak!
Arga maju selangkah.
—Awalnya tidak seperti itu.
—Lalu seperti apa?
Dia membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang cukup baik.
Penasihat hukum Ibu mengambil beberapa dokumen dan membacanya dengan teliti.
Beberapa menit kemudian dia mengangkat kepala.
—Dokumen asli pengelolaan aset tidak berubah. Tidak ada pengalihan kepemilikan yang sah.
Aku hampir bisa bernapas lagi.
Namun dia melanjutkan.
—Tetapi seseorang menggunakan salinan data lama ini sebagai pendukung untuk membuat seolah-olah Kirana memiliki kemampuan menjamin utang dalam jumlah besar.
Aku menatap Arga.
—Untuk pinjamanmu?
Dia diam.
Itu sudah menjadi jawaban.
Aku mengambil ponsel.
—Aku akan ke bank.
Arga langsung berdiri.
—Kirana, tunggu. Kita bisa menyelesaikannya sebagai keluarga.
Aku tertawa kecil.
—Keluarga?
Aku menunjuk Raka.
—Selama enam tahun kau menyuruh anakmu memanggilmu Om.
Lalu kutunjuk dokumen di meja.
—Kau memalsukan tanda tanganku.
Aku menunjuk pintu.
—Dan hari ini keluargamu datang membawa koper untuk tinggal di rumahku sekaligus membagi uangku.
—Aku terdesak!
Arga akhirnya berteriak.
—Bisnisku gagal! Aku berutang! Aku hanya butuh waktu!
—Lalu kenapa aku yang harus membayar?
Dia terdiam.
Aku berjalan mendekatinya.
—Kalau kau datang tiga bulan lalu dan berkata jujur bahwa kau berutang, mungkin aku masih bisa menghargaimu sebagai seseorang yang pernah kucintai. Tapi kau memilih memalsukan tanda tanganku.
Aku memandang Raka.
—Dan yang lebih buruk, kau menjadikan seorang anak bagian dari kebohonganmu.
Raka menunduk.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi kemarahanku mendadak berubah menjadi kesedihan.
Dia tidak bersalah.
Aku berjongkok beberapa langkah di depannya.
—Raka.
Anak itu menatapku ragu.
—Kau tidak melakukan kesalahan apa pun hari ini.
Matanya mulai berkaca-kaca.
—Ayah akan marah karena aku salah panggil?
Aku menahan napas.
Sari memalingkan wajah sambil menangis.
—Tidak.
Aku tersenyum tipis.
—Orang dewasa yang berbohong harus bertanggung jawab atas kebohongannya sendiri. Anak kecil tidak perlu menanggungnya.
Raka mengangguk.
Aku berdiri dan mengambil tas.
—Bu, kita pergi.
Arga menghadang pintu.
—Kalau kau melaporkan ini, aku bisa kehilangan semuanya.
Aku menatapnya.
—Yang kau takutkan bukan kehilangan aku.
—Kirana…
—Kau takut kehilangan uang dan kebebasanmu.
Dia membeku.
Ayahnya tiba-tiba menarik bahunya menjauh dari pintu.
—Biarkan dia pergi.
Arga menoleh.
—Ayah!
—Cukup. Selama bertahun-tahun kami menutupi kesalahanmu karena mengira kami sedang melindungi keluarga. Ternyata kami hanya membuatmu semakin berani berbuat salah.
Kami pergi ke bank.
Setelah hampir tiga jam memeriksa dokumen, rekaman verifikasi, riwayat transaksi, dan data perjalanan, ditemukan kejanggalan besar.
Pada tanggal pengajuan pinjaman, aku memang berada di luar negeri.
Tanda tangan elektronik yang digunakan juga berasal dari perangkat yang tidak pernah kumiliki.
Yang lebih penting, aset restoran belum pernah secara sah kujadikan jaminan.
Pihak bank menghentikan proses penanganan sementara dan membuka investigasi internal.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku bisa bernapas lega.
Tetapi kejutan berikutnya datang ketika penasihat hukum Ibu selesai memeriksa dokumen dua belas tahun lalu.
Dia meletakkan sebuah laporan di depanku.
—Kirana, ada sesuatu yang harus kauketahui.
—Apa?
—Aset yang ibumu simpan untukmu dua belas tahun lalu sekarang nilainya jauh lebih besar.
Aku menatapnya.
Dia menyebut angka yang membuatku terdiam.
Nilainya hampir delapan kali modal restoran yang sedang kusiapkan.
Namun Ibu justru menggenggam tanganku.
—Jangan senang karena angkanya.
Aku menoleh.
—Lalu?
—Senanglah karena sekarang kau tahu satu hal.
Ibu menatapku tepat di mata.
—Kau tidak perlu bertahan dengan siapa pun hanya karena takut memulai kembali.
Malam itu aku pulang ke apartemen.
Keluarga Arga sudah pergi.
Hanya ayah Arga yang menunggu di lorong.
Dia menyerahkan sebuah kunci USB kepadaku.
—Apa ini?
—Salinan percakapan dan catatan transfer Arga selama beberapa tahun terakhir.
Aku menatapnya curiga.
—Kenapa Anda memberikannya kepada saya?
Dia menunduk.
—Karena saya terlambat melakukan hal yang benar.
Sebelum pergi, dia berhenti.
—Dan satu hal lagi. Sari bukan ibu kandung Raka.
Aku terpaku.
—Apa?
—Dia hanya membesarkan Raka agar orang lain tidak bertanya.
Jantungku kembali berdegup keras.
—Lalu siapa ibu kandungnya?
Pria itu menatapku beberapa detik.
—Itulah alasan sebenarnya Arga sangat takut kau membuka isi kunci USB ini.
Dia berbalik dan pergi.
Aku masuk ke apartemen, mengunci pintu, lalu memasukkan USB itu ke laptop.
Ada puluhan folder.
Transfer bank.
Foto.
Percakapan.
Rekaman suara.
Kemudian aku melihat sebuah folder bernama RAKA — ASLI.
Tanganku berhenti di atas mouse.
Aku membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu rekaman video.
Tanggalnya enam tahun lalu.
Aku menekan tombol putar.
Wajah seorang perempuan muncul di layar.
Aku mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Karena perempuan itu pernah duduk di meja makan keluargaku.
Pernah memelukku.
Bahkan pernah kupanggil…
kakak.
Dan kalimat pertama yang dia ucapkan membuat seluruh darah di tubuhku seakan membeku.
—Kirana tidak boleh tahu bahwa Raka adalah anakku dan Arga.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
