Kotak Kayu Itu Membuka Rahasia Dua Keluarga, Sementara Kebohongan Menantuku Tentang Gudang Senilai Miliaran Akhirnya Terbongkar di Depan Putriku

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 101 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Kotak Kayu Itu Membuka Rahasia Dua Keluarga, Sementara Kebohongan Menantuku Tentang Gudang Senilai Miliaran Akhirnya Terbongkar di Depan Putriku

Tanganku gemetar ketika mengangkat kotak kayu itu dari dalam laci.

Debu menempel di ujung jariku. Selama dua belas tahun sejak suamiku meninggal, aku tidak pernah tahu bahwa benda seperti ini tersimpan hanya beberapa langkah dari tempatku duduk setiap hari.

—Bu, jangan dibuka dulu.

Suara menantuku terdengar lebih keras.

Aku menoleh.

—Kenapa?

Dia terdiam.

—Kalau memang tidak ada hubungannya denganmu, kenapa kamu takut?

Putriku ikut menatap suaminya.

—Jawab Ibu.

—Aku tidak takut. Aku cuma berpikir kita sebaiknya membicarakannya di rumah.

Pria yang membawa kunci itu tertawa hambar.

—Setelah tiga bulan lalu kamu mencoba menjual aset yang bukan milikmu?

Wajah menantuku memerah.

Aku tidak memedulikannya lagi.

Kutarik pengait kecil pada kotak kayu.

Tidak terkunci.

Begitu tutupnya terangkat, aku sempat kecewa.

Tidak ada uang.

Tidak ada perhiasan.

Hanya sebuah buku catatan tipis, beberapa foto lama, satu kunci kecil lain, dan sebuah kaset rekaman suara.

Di bawah semuanya terdapat sebuah amplop bertuliskan namaku.

Tulisan tangan suamiku.

Aku membuka amplop itu.

“Untuk istriku. Kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.”

Dadaku langsung sesak.

Aku melanjutkan membaca.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, suamiku ternyata tidak hanya menjalankan toko.

Dia bersama tiga orang rekannya pernah membangun gudang penyimpanan dan usaha distribusi bahan makanan.

Salah satu rekannya adalah kakak dari pria yang membawa kunci.

Yang lain adalah ayah mertua putriku.

Pada awalnya, usaha itu berjalan baik.

Namun kemudian muncul masalah.

Ayah mertua putriku ingin memperbesar usaha dengan pinjaman besar, sedangkan suamiku menolak karena risikonya terlalu tinggi.

Perselisihan terjadi.

Akhirnya, suamiku menarik diri dari kegiatan operasional, tetapi hak kepemilikannya atas tanah dan sebagian gudang tetap ada.

Dalam surat itu tertulis jelas:

“Bagian gudang dan tanah yang menjadi hak keluarga kita jangan dijual tanpa persetujuanmu. Aku sengaja tidak menceritakan semuanya ketika sakit karena saat itu ada sengketa yang belum selesai. Aku takut meninggalkan masalah kepadamu.”

Aku berhenti membaca.

Mataku mulai panas.

Selama bertahun-tahun aku mengira suamiku meninggalkan sebuah toko tua.

Ternyata dia meninggalkan jauh lebih banyak.

Bukan sekadar aset.

Dia meninggalkan perlindungan.

Aku membaca bagian terakhir.

“Kalau keluarga salah satu rekanku datang membawa alasan bisnis dan meminta toko ini, jangan langsung percaya. Simpan toko. Simpan hakmu. Kalau anak kita membutuhkan bantuan, bantulah sesuai kemampuan, tetapi jangan menyerahkan tempat tinggal dan sumber penghidupanmu.”

Tanganku berhenti.

Kalimat itu terasa seperti suara suamiku kembali terdengar setelah dua belas tahun.

Putriku mendekat.

—Apa yang Ayah tulis?

Aku menyerahkan surat itu kepadanya.

Dia membacanya perlahan.

Semakin lama, wajahnya semakin pucat.

Ketika selesai, dia menatap ibu mertuanya.

—Ibu sudah tahu?

Perempuan itu menggeleng cepat.

—Saya tidak tahu isi surat itu.

—Tapi Ibu tahu soal gudang?

Kali ini dia tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup.

Putriku mundur selangkah.

—Jadi semua pembicaraan tentang perusahaan, investor, dan jaminan… kalian sudah tahu ada aset lain di belakang toko Ibu?

Menantuku akhirnya berkata:

—Aku baru tahu beberapa bulan lalu.

—Dari siapa?

Dia diam.

Ibunya tiba-tiba menyela.

—Sudahlah. Memang kami tahu ada gudang itu. Tapi kami tidak tahu status kepemilikannya masih seperti dulu.

Pria yang membawa kunci menggeleng.

—Itu tidak benar.

Semua mata beralih kepadanya.

Dia membuka ponselnya.

—Tiga bulan lalu, menantu Ibu datang kepada saya. Dia tahu persis siapa saja yang memiliki hak atas gudang. Bahkan dia bertanya bagaimana caranya mempercepat penjualan tanpa harus menunggu persetujuan pemilik lain.

Putriku menatap suaminya seolah melihat orang asing.

—Kenapa?

Menantuku mengusap wajah.

—Karena perusahaan sedang bermasalah.

—Masalah apa?

—Kami punya utang.

—Berapa?

Dia kembali diam.

Aku berkata:

—Jawab.

Akhirnya dia berbisik:

—Sekitar 1,4 miliar rupiah.

Putriku terduduk.

—Kamu bilang perusahaan belum berjalan.

—Perusahaannya memang belum resmi berjalan. Tapi aku sudah memasukkan modal ke proyek lain bersama temanku.

—Uang dari mana?

Menantuku menunduk.

Jawabannya datang dari ibunya.

—Sebagian uang tabungan keluarga.

Putriku menoleh tajam.

—Tabungan keluarga siapa?

Perempuan itu tidak menjawab.

Putriku tiba-tiba berlari mengambil tasnya. Dia membuka aplikasi perbankan di ponselnya.

Beberapa detik kemudian, tangannya mulai gemetar.

—Uang tabungan kita…

Menantuku mendekat.

—Dengarkan dulu.

—Di mana uang tabungan kita?

—Aku bisa mengembalikannya.

—Di mana?

Suara putriku pecah.

Menantuku akhirnya mengaku.

Hampir seluruh tabungan rumah tangga mereka telah digunakan untuk menutup kerugian investasi.

Ketika keadaan memburuk, dia mengetahui keberadaan gudang lama melalui dokumen milik ayahnya.

Lalu dia membuat rencana.

Jika toko dialihkan kepada istrinya, dia bisa menggunakan toko sebagai jaminan sekaligus mengurus penguasaan atas gudang.

Jika berhasil menjual bagian tanah dan gudang senilai miliaran rupiah, semua utangnya akan tertutup.

—Jadi itulah alasanmu terus menyuruhku membujuk Ibu?

Putriku menangis.

—Kamu tahu aku sampai tidak menghubungi Ibu selama enam bulan!

—Aku melakukan ini untuk keluarga kita.

—Jangan gunakan keluarga sebagai alasan!

Untuk pertama kalinya sejak datang, putriku berdiri di sisiku.

Dia menatap suaminya.

—Kamu membuatku mengira Ibuku egois, padahal kamu yang menyembunyikan utang.

Menantuku mencoba mendekat, tetapi putriku mundur.

Pria yang membawa kunci kemudian menunjuk kaset di dalam kotak.

—Masih ada itu.

Aku memandang kaset tua tersebut.

Kami tidak mempunyai pemutar kaset lagi.

Namun pria itu mengatakan kakaknya dulu menyimpan sebuah alat perekam lama di gudang.

Kami pun berjalan ke belakang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebuah pintu besi di ujung gang dibuka.

Di baliknya terbentang deretan bangunan gudang yang jauh lebih luas daripada bayanganku.

Di salah satu ruangan kecil masih terdapat lemari tua, meja, dan pemutar kaset.

Aku memasukkan kaset.

Suara berdesis terdengar.

Kemudian suara suamiku muncul.

Aku langsung menutup mulut.

“Kalau rekaman ini diputar, berarti masalah lama mungkin muncul lagi.”

Aku menangis tanpa suara.

Dalam rekaman itu, suamiku menjelaskan bahwa setelah usaha mereka berhenti, ayah mertua putriku pernah menawarkan membeli seluruh bagian kepemilikannya dengan harga sangat rendah.

Suamiku menolak.

Tetapi hal paling mengejutkan muncul beberapa menit kemudian.

“Ada satu hal yang harus diketahui istriku. Gudang bagian timur sepenuhnya dibangun dengan uang kita. Sertifikat pemisahannya sudah selesai. Dokumennya kusimpan di tempat yang aman.”

Aku memandang pria di sebelahku.

—Di mana?

Dia mengangkat kunci kecil yang tadi ada di kotak.

—Saya rasa saya tahu.

Di sudut ruangan terdapat sebuah lemari besi kecil.

Kunci itu cocok.

Ketika pintunya terbuka, di dalamnya terdapat map plastik tebal berisi dokumen kepemilikan, bukti pembayaran, surat pembagian aset, dan catatan lama.

Pria itu memeriksanya satu per satu.

Kemudian dia menatapku.

—Kalau dokumen ini masih sah, gudang bagian timur bukan milik bersama.

Aku menahan napas.

—Lalu milik siapa?

Dia menunjuk nama pada lembar paling atas.

—Milik Ibu.

Putriku menangis semakin keras.

Sementara itu, ibu mertuanya tiba-tiba duduk lemas.

Namun aku belum sempat berkata apa pun ketika pria tersebut menarik satu dokumen terakhir dari dasar lemari.

Dia membacanya dua kali.

Wajahnya berubah.

—Ada sesuatu yang lebih serius.

—Apa?

Dia menyerahkan dokumen itu kepadaku.

Itu adalah salinan perjanjian lama dengan catatan tambahan yang dibuat beberapa tahun setelah suamiku meninggal.

Dan di sana terdapat nama menantuku.

Tanggalnya tiga tahun lalu.

Jauh sebelum dia pernah meminta toko dariku.

Aku menatapnya.

—Jadi kamu sudah tahu tentang gudang ini sejak tiga tahun lalu?

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Putriku perlahan berbalik kepada suaminya.

—Tiga tahun lalu… bahkan sebelum kita menikah?

Tidak ada seorang pun bergerak.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya apakah pernikahan putriku dengannya benar-benar sebuah kebetulan.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)