Saat Kami Hendak Memindahkan Ayah Setelah Ia Jatuh, Seorang Agen Properti Datang Mengukur Halaman Rumahnya, dan Aku Baru Tahu Uang yang Kukirim untuk Obat Selama Dua Tahun Pergi ke Tempat Lain

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 73 tayangan
Auto Draft
Indeks

BAGIAN 2

Aku tidak menunggu.

Aku membawa tanda terima itu ke kamar Ayah.

Ia sedang duduk di tepi ranjang, mencoba memasukkan kaus kaki ke kaki kiri.

Begitu melihat kertas di tanganku, bahunya turun.

“Ayah mau menjelaskan sendiri,” kataku.

Ia tidak bertanya kertas apa.

Itu sudah cukup menjadi jawaban pertama.

“Rumah ini mau dijual?”

Ayah menatap ujung kaus kakinya.

“Andi cuma bantu.”

“Bantu apa?”

Auto Draft

“Kalau nanti Ayah harus tinggal sama kamu, rumah kosong itu buat apa?”

“Kenapa uang tanda jadinya diterima sebelum Ayah jatuh?”

Ayah diam.

Aku duduk di kursi plastik di dekat lemari.

“Aku tidak sedang marah karena rumah mau dijual. Itu rumah Ayah. Kalau Ayah mau jual, hak Ayah. Aku marah karena semuanya seperti diatur diam-diam.”

“Ayah tidak mau bikin kalian repot.”

“Dengan tidak memberi tahu?”

Ia menggosok lutut.

“Kalau dibicarakan dari awal, kamu pasti banyak tanya.”

Aku tertawa pendek, bukan karena lucu.

“Memangnya aku tidak boleh tanya?”

Ayah tidak menjawab.

Saat itulah ponselku berbunyi.

Notifikasi dari mobile banking.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Beberapa bulan sebelumnya, aku pernah meminta Ayah memotret buku tabungannya karena aku ingin memastikan transfer masuk. Ayah bilang tidak perlu, semua aman.

Saat itu aku tidak memaksa.

Sekarang aku bertanya, “ATM Ayah siapa yang pegang?”

“Ayah.”

“Mobile banking?”

“Andi yang pasang.”

Aku mengangkat kepala.

“Ponselnya?”

“Di meja.”

Aku mengambilnya setelah meminta izin.

Ayah menyebut PIN dengan suara pelan.

Riwayat rekening dua tahun terakhir membuatku duduk lebih tegak.

Setiap awal bulan, Rp3,5 juta dariku masuk.

Dua atau tiga hari kemudian, sebagian besar berpindah.

Kadang Rp2 juta.

Kadang Rp2,5 juta.

Beberapa kali Rp3 juta penuh.

Tujuannya sama.

CV Sumber Jaya.

Toko bahan bangunan milik Andi.

Aku menggulir lebih cepat.

April: Rp2 juta.

Mei: Rp2,5 juta.

Juni: Rp2 juta.

Juli: Rp3 juta.

Bahkan bulan ketika Ayah mengatakan obat jantungnya mahal dan aku menambahkan Rp1,5 juta, ada transfer Rp3,5 juta ke rekening toko Andi.

“Ayah…”

Ia mengangkat tangan.

“Ayah yang kasih.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Jangan salahkan Andi untuk yang itu. Ayah yang suruh.”

Kalimat tersebut lebih menyakitkan daripada kalau uang itu dicuri.

“Kenapa?”

“Toko sedang susah.”

“Uang yang kukirim untuk obat.”

“Ayah masih punya pensiun.”

“Pensiun Ayah cuma cukup buat kebutuhan dasar.”

“Ya masih cukup.”

Aku menunjukkan riwayat rekening.

“Bulan Februari Ayah bilang tidak jadi periksa mata karena mau hemat.”

Ayah menunduk.

“Tidak mendesak.”

“Bulan Mei Ayah berhenti pakai orang bersih-bersih.”

“Ayah masih bisa nyapu.”

“Dan tiga minggu lalu Ayah jatuh saat angkat ember sendiri.”

Wajahnya berubah.

Aku tahu aku sudah menyentuh bagian yang membuatnya malu.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mundur hanya karena takut ia tersinggung.

“Ayah memilih mengurangi kebutuhan sendiri supaya uangku bisa masuk ke toko Andi?”

Ia menghela napas.

“Andi punya dua anak kuliah. Ada tiga karyawan yang bergantung sama toko. Kamu sudah mapan.”

Aku menatapnya lama.

Jadi itulah hitung-hitungan yang selama ini berjalan tanpa pernah dibicarakan.

Aku dianggap lebih kuat.

Karena lebih kuat, kebutuhanku bisa menunggu.

Karena aku jarang mengeluh, uangku bisa dipindahkan.

Karena aku selalu membantu, semua orang terbiasa menganggap aku akan tetap membantu.

Pintu depan terbuka.

Andi pulang membawa nasi bungkus.

Begitu masuk kamar dan melihat ponsel Ayah di tanganku, wajahnya langsung tegang.

“Kak ngapain buka rekening Ayah?”

“Ayah mengizinkan.”

Aku mengangkat tanda terima Rp60 juta.

“Sekarang jelaskan yang ini.”

Andi menaruh kantong makanan di lantai.

“Aku sudah bilang. Buat persiapan.”

“Persiapan apa sampai menerima uang orang?”

“Ayah setuju.”

“Ayah setuju rumahnya dipasarkan. Belum tentu Ayah paham kamu sudah menerima tanda jadi.”

Ayah tiba-tiba berkata, “Ayah tahu.”

Aku menoleh kepadanya.

Andi menyelipkan kedua tangan ke saku celana.

“Kak, kalau rumah ini dijual, uangnya buat Ayah juga.”

“Lalu kenapa uang tanda jadinya masuk ke kamu?”

Tidak ada jawaban.

Aku mendekat satu langkah.

“Andi. Rp60 juta itu sekarang ada di mana?”

Rahangnya mengeras.

“Dipakai dulu.”

“Dipakai apa?”

“Bayar pemasok.”

Aku seperti mendengar sesuatu patah, bukan di ruangan, tetapi di pola yang selama ini kupahami tentang keluarga kami.

“Berapa yang masih ada?”

Andi melihat Ayah.

Ayah menutup mata.

“Berapa?”

“Lima belas.”

Jadi Rp45 juta dari uang calon pembeli rumah Ayah sudah dipakai untuk menutup utang toko Andi.

Rumah itu bahkan belum terjual.

Ayah belum pindah.

Kesepakatan keluarga belum pernah terjadi.

Tetapi uang dari rumah itu sudah mulai habis.

Andi menatapku dan berkata dengan suara rendah, “Kalau transaksi dibatalkan, aku harus mengembalikan semuanya. Minggu depan.”

Aku baru mengerti mengapa ia begitu ingin Ayah segera pindah.

Ini bukan lagi soal mencari tempat aman untuk orang tua kami.

Ada utang yang sedang mengejar mereka.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah orang yang paling harus kuhadapi adalah adikku atau Ayah sendiri.

Saat itu diam sudah bukan pilihan. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan menutup kekurangan uang itu demi menyelamatkan rumah Ayah, atau membiarkan Andi menanggung keputusan yang ia buat sendiri?

BAGIAN 3

Aku tidak menjawab pertanyaan Andi.

Aku keluar kamar, mengambil tas, lalu memasukkan semua dokumen dari map cokelat ke dalamnya.

Andi mengikuti.

“Kak, itu mau dibawa ke mana?”

“Difotokopi.”

“Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Aku berhenti di depan meja makan.

“Rp45 juta uang orang sudah kamu pakai. Rumah Ayah belum terjual. Menurutmu bagian mana yang kecil?”

“Aku bisa ganti.”

“Kapan?”

Ia menggosok wajah.

“Toko lagi ada pembayaran masuk.”

“Kapan?”

“Dua minggu lagi mungkin.”

“Di tanda terima tertulis batas penyelesaian tujuh hari lagi.”

Andi terdiam.

Aku sudah membaca seluruh lembar itu.

Calon pembeli bernama Pak Dimas.

Tidak ada akta jual beli.

Tidak ada penandatanganan di PPAT.

Belum ada perpindahan hak apa pun.

Yang ada hanya surat penawaran dari agen dan tanda terima uang tanda jadi yang ditandatangani Andi sebagai pihak yang menerima dana.

Aku tidak tahu seberapa besar masalah hukumnya.

Dan aku tidak mau sok tahu.

Jadi aku melakukan sesuatu yang seharusnya kami lakukan sejak awal.

Aku menelepon agen properti yang nomornya tertera di dokumen.

Namanya Raka.

Aku menjelaskan bahwa aku adalah anak pemilik rumah dan ingin memastikan status penjualan.

Raka terdengar tidak nyaman.

“Setahu saya, Pak Surono memang bersedia menjual, Bu. Waktu saya datang pertama kali, beliau ada.”

“Ayah saya tanda tangan apa?”

“Surat persetujuan pemasaran, Bu. Bukan jual beli.”

“Uang Rp60 juta?”

“Itu ditransfer calon pembeli ke rekening yang diberikan Pak Andi.”

“Apakah Ayah saya memberi kuasa menerima uang itu?”

Ada jeda.

“Untuk bagian itu saya perlu cek berkas.”

“Besok pagi saya ingin bertemu. Dengan Ayah saya.”

Andi langsung menggeleng dari seberang meja.

Aku tidak peduli.

Raka menyetujui.

Setelah telepon ditutup, Andi berkata, “Kakak bikin orang takut.”

“Bagus. Aku juga takut.”

“Takut apa?”

Aku menatapnya.

“Takut selama ini aku kira kita sedang merawat Ayah, padahal kita sedang membuat keputusan tentang hidupnya berdasarkan siapa yang paling butuh uang.”

Ayah muncul dari kamar sambil berpegangan pada dinding.

“Jangan bicara begitu.”

Aku segera menarik kursi untuknya.

Ia menolak bantuan tanganku dan duduk sendiri.

“Ayah yang setuju rumah dijual,” katanya.

“Aku tahu.”

“Jadi jangan seolah Andi mencuri rumah.”

“Aku tidak bilang dia mencuri rumah.”

Aku meletakkan tanda terima di meja.

“Tapi uang ini bukan uang toko Andi.”

Ayah menatap kertas itu cukup lama.

“Andi akan ganti.”

“Ayah tahu sudah dipakai?”

Ia tidak menjawab.

Aku menunggu.

“Ayah tahu?”

“Dia bilang cuma sebentar.”

Aku menarik kursi dan duduk.

Ada banyak cara untuk bertengkar dengan orang tua.

Dulu aku memilih yang paling mudah: diam, pulang, lalu menangis di mobil.

Hari itu aku terlalu lelah untuk mengulang kebiasaan itu.

“Ayah,” kataku pelan, “berapa lama sebenarnya toko Andi sudah dibantu?”

Ayah menatap jendela.

Andi berkata, “Tidak perlu bahas semuanya.”

Aku langsung menoleh.

“Justru semuanya harus dibahas.”

“Kakak cuma akan bikin Ayah kepikiran.”

“Ayah sudah kepikiran sampai mengurangi obat dan mengerjakan rumah sendirian. Jangan pakai kesehatan Ayah untuk menghentikan pertanyaan.”

Ayah memukul meja pelan dengan telapak tangan.

“Cukup.”

Kami diam.

Ia jarang meninggikan suara.

Mungkin karena itu, satu kata darinya masih bisa membuat kami bertiga kembali menjadi anak-anak.

“Ayah tidak dipaksa,” katanya. “Andi memang sedang susah. Ayah bantu.”

Aku mengangguk.

“Itu uang pensiun Ayah, Ayah boleh memutuskan.”

Wajah Andi sedikit melunak.

Lalu aku menambahkan, “Tapi uang yang kukirim dengan alasan untuk kebutuhan Ayah adalah uangku. Kalau sejak awal Ayah bilang mau membantu Andi, aku berhak memilih apakah aku ikut membantu atau tidak.”

Ayah mengerutkan kening.

“Ujung-ujungnya keluarga juga.”

“Nah.”

Aku menunjuk meja di antara kami.

“Itu masalahnya.”

Andi mendecakkan lidah.

“Kakak mulai hitung-hitungan sama keluarga?”

Aku menatapnya.

“Kalimat itu enak sekali dipakai oleh orang yang menerima.”

Ia langsung memerah.

“Kak…”

“Selama dua tahun aku kirim Rp3,5 juta setiap bulan. Kadang lebih. Aku tidak pernah tanya rinciannya karena percaya sama kalian. Sekarang aku tahu sebagian besar masuk ke toko. Lalu rumah Ayah dipasarkan. Uang tanda jadi dipakai untuk pemasok. Dan aku masih dianggap jahat karena bertanya?”

Andi berdiri.

“Aku yang bolak-balik ngurus Ayah!”

“Benar.”

Aku ikut berdiri.

“Dan aku berterima kasih untuk itu. Tapi merawat Ayah tidak membuatmu berhak memakai uang rumahnya untuk bisnis tanpa memberitahu kami.”

“Aku bukan orang asing!”

“Justru karena kamu adikku, aku tidak pernah menyangka harus mengatakan kalimat seperti ini.”

Ayah memegang dahinya.

Aku berhenti bicara.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Duduk semua.”

Kami duduk lagi.

Sore itu kami tidak berangkat ke Sidoarjo.

Budi datang menjelang magrib setelah kutelepon. Ia membawa pakaian ganti dan, untungnya, tidak ikut campur kecuali saat perlu membantu Ayah berjalan ke kamar mandi.

Mira berangkat dari Blitar malam itu juga.

Ia sampai hampir pukul sepuluh.

Begitu masuk rumah, ia memeluk Ayah, lalu melihatku dan Andi bergantian.

“Aku sudah dengar sedikit,” katanya.

“Sedikit yang mana?” tanyaku.

Ia menggigit bibir.

Aku langsung tahu ada bagian lain.

“Mira.”

“Aku tahu Ayah pernah kasih uang ke Mas Andi.”

“Seberapa banyak?”

“Aku tidak tahu.”

“Sejak kapan kamu tahu?”

Ia meletakkan tas di kursi.

“Mungkin setahun.”

Aku tertawa kecil karena rasanya kalau tidak tertawa aku akan berteriak.

“Hebat.”

“Kak…”

“Kalian semua tahu sesuatu. Cuma aku yang terus transfer.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Mira duduk di ujung sofa.

“Waktu itu Ayah bilang toko Mas Andi sedang sepi. Aku kira cuma sekali dua kali. Ayah minta jangan bilang karena katanya nanti Kakak marah.”

“Dan kamu menurut.”

Mira menunduk.

“Aku sungkan.”

Dua kata.

Sesederhana itu.

Aku sungkan.

Berapa banyak masalah keluarga tumbuh dari dua kata tersebut?

Sungkan bertanya.

Sungkan menolak.

Sungkan bilang tidak punya uang.

Sungkan mengakui usaha sedang gagal.

Sungkan mengatakan orang tua tidak lagi aman tinggal sendirian.

Sungkan sampai akhirnya keputusan besar dibuat diam-diam.

“Aku juga salah,” kata Mira.

Andi menggeleng.

“Sudah, jangan semua dibuat drama.”

Mira menatapnya.

“Mas, uang tanda jadi rumah Ayah kamu pakai.”

“Aku akan ganti.”

“Dengan apa?”

“Urusanku.”

“Kalau itu urusanmu, kenapa rumah Ayah masuk ke dalamnya?”

Kali ini Andi tidak punya jawaban.

Malam itu kami tidur terpencar di rumah lama.

Aku di kamar masa kecilku.

Mira di ruang tengah.

Andi pulang setelah hampir satu jam berdebat pelan dengan Ayah.

Aku tidak menguping.

Tapi dari balik pintu aku mendengar satu kalimat Ayah.

“Kalau rumah ini tidak jadi dijual, kamu bagaimana?”

Dan suara Andi menjawab sangat pelan.

“Aku tidak tahu.”

Itu pertama kalinya aku merasa marahku bercampur dengan sesuatu yang lain.

Kasihan.

Bukan kasihan yang menghapus kesalahan.

Kasihan karena akhirnya aku melihat ketakutan Andi.

Ia bukan sekadar ingin mengambil rumah.

Ia sedang tenggelam dan selama berbulan-bulan berpura-pura masih bisa berenang.

Masalahnya, ia mulai menarik Ayah ikut ke dalam air.


Pagi berikutnya, kami bertemu Raka dan Pak Dimas di rumah.

Pak Dimas datang bersama istrinya.

Ia bukan pengembang besar seperti yang sempat kubayangkan.

Ia seorang pemilik toko alat kesehatan yang ingin membeli rumah itu untuk anak perempuannya yang baru menikah.

Setelah duduk, aku mengatakan apa adanya.

“Bapak saya memang pernah menyetujui rumah ini dipasarkan. Tapi keluarga kami baru tahu uang tanda jadi sudah diterima dan sebagian telah dipakai oleh adik saya.”

Pak Dimas langsung menatap Andi.

“Dipakai?”

Andi duduk kaku.

“Ya. Saya bertanggung jawab.”

Raka membuka map.

Dari dokumen yang ada, Ayah hanya menandatangani persetujuan pemasaran dengan harga minimal tertentu. Tidak ada surat kuasa yang secara jelas memberi Andi hak memakai uang tanda jadi.

Pak Dimas tidak berteriak.

Justru sikap tenangnya membuat suasana lebih berat.

“Saya tidak mau mengambil rumah orang tua kalau keluarganya masih begini,” katanya. “Saya mau uang saya kembali.”

Andi mengangguk.

“Bisa.”

“Kapan?”

Andi terdiam.

Aku melihatnya.

Ia melihatku.

Aku tahu tatapan itu.

Tatapan yang sudah kukenal sejak kami sekolah.

Waktu ia lupa membayar uang study tour.

Waktu motornya rusak.

Waktu anak pertamanya masuk kuliah.

Tatapan yang mengatakan, Kakak pasti menemukan jalan.

Dan aku memang hampir melakukannya.

Di rekening tabunganku ada cukup uang.

Rp45 juta tidak akan menghancurkan hidupku.

Aku bisa transfer pagi itu.

Pak Dimas pulang.

Rumah selamat.

Andi punya waktu memperbaiki usahanya.

Ayah tidak stres.

Mira berhenti menangis.

Semua selesai.

Setidaknya kelihatannya selesai.

Tanganku bahkan sudah meraih ponsel.

Lalu aku teringat dua tahun transfer.

Aku teringat Ayah menunda periksa mata.

Aku teringat ia jatuh saat membawa ember karena tidak mau membayar orang membantu.

Aku teringat kalimat Andi malam sebelumnya.

Kakak kan lebih mapan.

Aku meletakkan ponsel.

“Tidak,” kataku.

Andi mengernyit.

“Apa?”

“Aku tidak akan menutup Rp45 juta itu.”

Wajah Ayah berubah.

“Ika.”

Aku menatap Ayah.

“Aku akan bayar kebutuhan kesehatan Ayah yang perlu. Aku akan bantu pasang pegangan kamar mandi. Aku akan bantu biaya orang yang datang menjaga. Tapi aku tidak akan memakai uang rumah tanggaku untuk menutup uang tanda jadi yang dipakai Andi.”

Andi tertawa pendek.

“Jadi Kakak mau lihat aku dipermalukan?”

“Aku mau kamu bertanggung jawab.”

“Sama saja.”

“Tidak.”

Ia berdiri.

“Enak ngomong begitu kalau punya tabungan.”

Aku juga berdiri, tetapi kali ini suaraku justru lebih pelan.

“Kamu tahu kenapa aku punya tabungan?”

Ia tidak menjawab.

“Karena selama bertahun-tahun aku menunda banyak hal. Aku dan Budi pernah dua tahun tidak ganti mobil walau sering mogok. Anak keduaku kuliah sambil cari beasiswa. Aku jualan kue Sabtu-Minggu. Aku bukan punya uang karena hidupku selalu gampang.”

“Kakak selalu merasa paling berkorban.”

“Tidak. Selama ini justru aku berusaha tidak menghitung.”

Aku menunjuk tanda terima di meja.

“Sekarang aku belajar bahwa kalau tidak pernah menghitung, orang lain bisa mulai menganggap semua yang kita punya memang tersedia untuk mereka.”

Ayah berkata pelan, “Kalau Ayah jual rumah saja bagaimana?”

Semua menoleh.

“Ayah bisa kembalikan uang Dimas. Sisanya buat biaya Ayah. Kalau ada lebih…”

Ia berhenti.

Aku tahu bagian yang tidak diucapkan.

Kalau ada lebih, bisa membantu Andi.

Aku duduk lagi.

“Ayah benar-benar ingin jual rumah?”

“Daripada semua ribut.”

“Itu bukan jawaban.”

“Ayah sudah tua.”

“Itu juga bukan jawaban.”

Ayah menatapku kesal.

“Lalu kamu mau Ayah bilang apa?”

“Ayah ingin jual rumah karena memang tidak mau tinggal di sini lagi? Atau karena merasa harus menyelamatkan Andi?”

Ia tidak menjawab.

Aku menunggu.

Akhirnya Ayah berkata, “Kalau orang tua masih bisa membantu anak, salah?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Yang salah adalah kalau Ayah harus mengorbankan kebutuhan sendiri sampai jatuh, lalu semua orang menyebutnya bantuan.”

Wajahnya mengeras.

“Ayah tidak selemah itu.”

Aku tahu bagian ini akan menyakitinya.

Tetapi kami tidak bisa terus menyusun hidup berdasarkan hal-hal yang tidak boleh dikatakan.

“Ayah jatuh dan tidak bisa bangun empat puluh menit.”

Ia memalingkan wajah.

Aku melanjutkan, “Itu bukan penghinaan. Itu kejadian. Kita tidak bisa mengubah kejadian hanya supaya Ayah tidak merasa tua.”

Tangan Ayah mengepal di atas lutut.

“Ayah tidak mau jadi beban.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Bukan tentang rumah.

Bukan tentang Andi.

Bukan tentang uang.

Tentang ketakutan yang selama ini ada di bawah semuanya.

“Ayah tidak mau tinggal di rumahmu lalu semua orang harus jaga. Tidak mau anak-anak keluar uang terus. Tidak mau makan, tidur, mandi, semua harus ditanya. Kalau rumah dijual, Ayah punya uang sendiri. Tidak perlu bergantung.”

Aku merasakan marahku sedikit berubah bentuk.

Lebih lunak, tapi tidak hilang.

“Kenapa tidak bilang begitu dari awal?”

Ayah tersenyum pahit.

“Mau bilang apa? ‘Ika, Ayah takut nanti kamu capek merawat Ayah’?”

“Ya.”

“Memalukan.”

“Buat siapa?”

Ayah tidak menjawab.

Aku menarik napas.

“Ayah tahu yang paling membuatku marah?”

Ia menatapku.

“Bukan karena Ayah takut jadi beban. Aku mengerti itu. Yang membuatku marah adalah Ayah memutuskan sendiri bahwa cara supaya tidak jadi beban adalah mengurangi kebutuhan Ayah, memberikan uang ke Andi, lalu menjual rumah diam-diam.”

“Itu rumah Ayah.”

“Benar.”

“Jadi Ayah berhak.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Tapi aku juga berhak berhenti mengirim uang kalau ternyata uang itu dipakai untuk hal lain tanpa sepengetahuanku.”

Ayah diam.

Andi tiba-tiba berkata, “Jadi mulai sekarang Kakak lepas tangan?”

Aku menoleh.

“Tidak. Mulai sekarang aku bantu dengan jelas.”

“Bedanya?”

“Besar.”

Aku mengambil buku catatan kosong dari meja.

“Kebutuhan Ayah kita hitung. Pensiun Ayah berapa. Obat berapa. Makan berapa. Orang bantu berapa. Yang kurang kita bagi bertiga sesuai kemampuan. Tidak ada lagi uang masuk lalu dipindah diam-diam.”

Andi menyandarkan tubuh ke kursi.

“Semua harus kayak kantor?”

“Kalau transparansi terasa seperti kantor, mungkin selama ini keluarga kita terlalu nyaman dengan ketidakjelasan.”

Mira yang sejak tadi diam mengangguk.

“Aku setuju.”

Andi menatapnya tajam.

“Kamu gampang bilang setuju. Penghasilanmu juga pas-pasan.”

“Makanya,” kata Mira. “Kalau jelas, aku bisa bilang sanggupnya berapa. Selama ini aku malu karena kontribusiku paling sedikit, jadi aku diam saja.”

Itu pengakuan kecil, tetapi penting.

Aku menatap Mira.

Untuk pertama kalinya, kami tidak sedang menghitung siapa anak paling berbakti.

Kami sedang membicarakan apa yang benar-benar mampu dilakukan masing-masing.

Pak Dimas memberi Andi waktu enam puluh hari untuk mengembalikan Rp60 juta melalui perjanjian tertulis sederhana yang disepakati kedua pihak.

Ia mengambil keputusan itu setelah Andi menawarkan menjual satu mobil pikap milik tokonya dan membayar sisanya dari beberapa tagihan pelanggan yang belum masuk.

“Aku tidak bisa langsung lunas,” kata Andi.

Pak Dimas menjawab, “Saya tidak minta cerita bisnis Bapak. Saya cuma perlu kepastian.”

Aku tidak ikut menjamin.

Tidak menandatangani apa pun.

Tidak mengatakan kalau Andi gagal aku akan membayar.

Rasanya aneh.

Sangat aneh.

Selama bertahun-tahun, menjadi kakak sulung bagiku berarti selalu menyiapkan pintu keluar kalau adik-adikku terjebak.

Hari itu aku membiarkan Andi membuat pintu keluarnya sendiri.


Ayah ikut ke Sidoarjo sore itu.

Bukan karena rumahnya jadi dijual.

Justru kami meminta agen menghentikan pemasaran sementara.

Tidak ada keputusan soal rumah selama tiga bulan.

Kalau setelah kondisi Ayah lebih stabil ia tetap ingin menjual, kami akan menghormatinya.

Tapi keputusannya harus dibuat ketika tidak ada utang Andi yang berdiri di belakang kursinya.

Perjalanan ke Sidoarjo hampir tidak ada percakapan.

Ayah duduk di sebelahku.

Budi menyetir.

Setiap beberapa menit Ayah melihat keluar jendela seolah menghitung berapa jauh kami sudah membawanya dari rumahnya.

Malam pertama ia menolak makan di meja makan.

Katanya tidak lapar.

Pagi pertama ia bangun pukul empat tiga puluh dan berusaha menyapu halaman.

Hari ketiga ia memindahkan semua obat dari kotak yang sudah kususun kembali ke kantong plastiknya sendiri.

Hari kelima kami bertengkar karena ia mau mandi tanpa memanggil siapa pun.

“Ayah tidak lumpuh.”

“Aku tidak bilang lumpuh.”

“Lalu kenapa pintu kamar mandi harus terbuka?”

“Tidak harus terbuka. Cuma jangan dikunci.”

“Tidak ada privasi.”

Aku hampir menjawab keras.

Tapi aku teringat apa yang ia katakan di rumah.

Ia takut setiap bagian hidupnya akan mulai diatur.

Jadi kami membuat kompromi.

Pintu boleh ditutup.

Tidak dikunci.

Ada bel kecil di dinding dekat kamar mandi.

Ia membenci bel itu.

Dua minggu kemudian, ia mulai memakainya kalau perlu.

Tanpa banyak drama.

Begitulah ternyata perubahan terjadi pada orang keras kepala.

Bukan lewat pidato.

Lewat kebiasaan kecil yang tidak lagi terasa seperti kekalahan.

Aku juga berubah.

Aku berhenti mentransfer Rp3,5 juta ke rekening Ayah setiap awal bulan.

Sebagai gantinya, kami membuat satu catatan kebutuhan.

Obat tertentu kubayar langsung.

Mira mengambil bagian membayar jasa pendamping empat jam sehari setelah Ayah kembali ke Malang nanti.

Andi, meski awalnya cemberut, sepakat menanggung tagihan listrik dan air Ayah setiap bulan.

Ayah membayar kebutuhan makan dari pensiunnya sendiri.

“Biar Ayah tetap punya urusan,” katanya.

Aku mengerti maksudnya.

Ia tidak ingin berubah menjadi seseorang yang hanya menerima.

Tiga minggu setelah pindah, matanya diperiksa.

Ternyata kataraknya sudah cukup mengganggu.

Aku kesal karena ia menunda begitu lama.

Tapi kali ini aku tidak mengatakan, “Tuh, kan.”

Aku hanya duduk di sampingnya di ruang tunggu.

Saat petugas memanggil namanya, Ayah berdiri lalu berkata, “Tidak usah pegang tangan.”

“Baik.”

Dua langkah kemudian ia kehilangan keseimbangan sedikit.

Aku mengangkat siku.

Ia memegangnya.

Kami tidak membicarakannya.


Sementara itu, Andi benar-benar menjual mobil pikap keduanya.

Aku tahu bukan dari dirinya.

Mira yang mengirim foto di grup WhatsApp kami.

Mira: Mas Andi jual pikap putih.

Andi menjawab lima menit kemudian.

Andi: Sudah tua juga mobilnya.

Aku hampir tertawa.

Orang di keluarga kami memang punya bakat mengecilkan hal yang menyakitkan.

Sebulan kemudian ia mengembalikan Rp35 juta kepada Pak Dimas.

Toko diperkecil.

Satu gudang sewaan dilepas.

Dua karyawan tetap bertahan, satu memilih pindah bekerja ke tempat lain.

Andi berhenti mengambil stok besar dengan sistem pembayaran tempo panjang.

Ia membenci semua itu.

Setidaknya dari nada suaranya setiap kali kami bicara.

Suatu malam ia meneleponku.

Bukan untuk minta uang.

Hanya berkata, “Kak.”

“Ya?”

“Aku masih utang Rp25 juta ke Pak Dimas.”

“Aku tahu.”

“Bulan depan mungkin bisa selesai.”

“Bagus.”

Diam cukup lama.

Lalu ia berkata, “Kakak benar-benar tidak mau bantu?”

Aku menutup mata sebentar.

Inilah ujian sebenarnya.

Bukan saat semua orang melihat.

Saat hanya ada dua saudara di ujung telepon dan satu dari mereka tahu persis tombol rasa bersalah mana yang harus ditekan.

“Aku bantu kalau anakmu sakit. Aku bantu kalau ada kebutuhan Ayah. Aku bisa bantu kalau kalian sampai tidak punya makan.”

Ia tidak bicara.

“Tapi aku tidak akan bayar utang tanda jadi itu.”

“Ya sudah.”

Nada suaranya dingin.

Telepon ditutup.

Aku menangis setelahnya.

Budi menemukan aku di dapur sambil berdiri di depan rice cooker.

“Kenapa?”

“Andi marah.”

“Karena kamu tidak bayar utangnya?”

Aku mengangguk.

Budi mengambil dua gelas dari rak.

“Batas itu memang jarang disukai orang yang selama ini menikmati tidak adanya batas.”

Aku menatapnya.

“Jangan sok bijak.”

Ia tertawa kecil.

“Baik.”

Itu pertama kalinya malam tersebut aku ikut tertawa.


Enam minggu setelah Ayah tinggal bersama kami, kami mengadakan pertemuan keluarga lagi.

Kali ini di rumahku.

Tidak ada agen.

Tidak ada calon pembeli.

Tidak ada map cokelat.

Cuma kami berempat, Budi, dan sepiring pisang goreng yang Ayah bilang terlalu banyak minyak.

Aku membawa satu kertas.

Bukan kontrak.

Daftar pilihan.

Pilihan pertama, Ayah tetap tinggal bersama kami.

Pilihan kedua, kembali ke Malang dengan pendamping beberapa jam sehari, pegangan kamar mandi, sensor lampu malam, dan Pak Hendra memegang kunci cadangan.

Pilihan ketiga, mencari rumah kecil satu lantai yang lebih dekat dengan salah satu dari kami dan menyewakan rumah lama.

Pilihan keempat, menjual rumah, tetapi setelah penilaian harga yang wajar dan tanpa uangnya dipakai untuk menutup bisnis siapa pun.

Ayah membaca semuanya.

“Kenapa seperti menu rumah makan?”

“Biar Ayah pilih.”

Ia mengangkat alis.

“Bukan kalian yang pilih?”

“Tidak.”

Andi duduk diam.

Hubunganku dengannya belum pulih.

Mungkin memang belum waktunya.

Ayah membaca lagi.

“Ayah mau pulang.”

Aku sudah menduga.

“Tapi ada syarat,” kataku.

Ia langsung mengerutkan dahi.

“Pendamping empat jam sehari.”

“Ayah tidak butuh.”

“Kalau begitu belum pulang.”

“Kamu bilang Ayah yang pilih.”

“Pilihannya tetap punya batas keselamatan.”

Ayah menatap Mira mencari dukungan.

Mira pura-pura sibuk mengambil pisang goreng.

Andi malah berkata, “Menurutku empat jam tidak terlalu lama.”

Ayah langsung menoleh kepadanya.

“Kamu sekarang ikut mereka?”

Andi mengangkat kedua tangan.

“Aku cuma tidak mau dapat telepon jam sebelas malam lagi karena Ayah jatuh.”

Ruangan menjadi tenang.

Ayah memandang meja.

Lalu, pelan sekali, ia berkata, “Ya sudah. Empat jam.”

Aku hampir tersenyum.

Ia menunjukku.

“Jangan senang dulu. Orangnya jangan cerewet.”

“Baik.”

“Jangan beresin barang Ayah tanpa tanya.”

“Baik.”

“Dan Ayah tetap belanja sendiri kalau kuat.”

“Kita lihat kondisinya.”

“Ika.”

“Baik. Kalau aman.”

Begitulah negosiasi kami.

Tidak indah.

Tidak mengharukan.

Tapi nyata.

Dua minggu kemudian Ayah pulang ke Malang.

Kami memasang pegangan di kamar mandi.

Mengganti karpet kecil dengan alas antiselip.

Memindahkan beberapa barang ke rak bawah.

Memasang lampu sensor menuju toilet.

Pak Hendra menerima kunci cadangan.

Seorang pendamping bernama Bu Rini datang pukul delapan sampai dua belas setiap hari kerja.

Hari pertama, Ayah mengeluh karena Bu Rini memotong pepaya terlalu besar.

Hari kedua, ia mengeluh karena sapu diletakkan di tempat berbeda.

Hari ketiga, Bu Rini mengirim pesan kepadaku:

Bu, Pak Surono hari ini ngajari saya cara bikin sambal pecel. Katanya punya saya kurang kencur.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Budi.

“Berarti cocok,” katanya.


Dua bulan setelah pertemuan dengan Pak Dimas, Andi menyelesaikan pengembalian uang tanda jadi.

Aku tahu karena ia sendiri mengirim foto bukti transfer ke grup keluarga.

Tidak ada kata-kata panjang.

Hanya:

Sudah lunas.

Ayah membalas:

Syukur.

Mira mengirim emoji jempol.

Aku mengetik beberapa kali sebelum akhirnya menulis:

Bagus. Semoga setelah ini toko lebih sehat.

Andi tidak membalas.

Tapi seminggu kemudian ia datang ke rumah Ayah sambil membawa pompa air baru.

Bukan hadiah.

Pompa lama memang rusak.

Aku kebetulan sedang di sana.

Ia memasangnya sendiri.

Kami tidak banyak bicara.

Saat selesai, ia mencuci tangan di keran depan.

“Aku jual gudang sewaan yang satunya juga,” katanya.

“Itu kan bukan milikmu.”

“Maksudku kontraknya aku hentikan.”

Aku mengangguk.

“Toko jadi kecil.”

“Yang penting hidup.”

Ia menatapku sebentar.

“Kakak masih marah?”

Aku berpikir sebelum menjawab.

“Masih ada yang belum selesai.”

Ia mengangguk.

“Aku juga.”

Bagus.

Aku lebih suka jawaban itu daripada pelukan palsu yang menyelesaikan semuanya dalam satu sore.

Ia mengeringkan tangan dengan celananya.

“Aku waktu itu panik, Kak.”

“Aku tahu.”

“Pemasok nagih. Anak-anak belum selesai kuliah. Aku malu bilang toko sudah hampir tidak jalan.”

“Jadi kamu bilang ke Ayah.”

“Ayah lihat sendiri.”

Ia menatap halaman.

“Dia datang ke toko. Lihat stok kosong.”

“Lalu dia mulai kasih uang.”

Andi mengangguk.

“Awalnya aku nolak.”

Aku hampir tersenyum pahit.

“Berapa lama nolaknya?”

“Jangan begitu.”

“Serius.”

Ia mengusap tengkuk.

“Dua kali.”

Aku tertawa pendek.

Andi juga tersenyum sedikit, lalu wajahnya kembali serius.

“Waktu uang Kakak mulai ditransfer ke toko, aku tahu.”

“Nah.”

“Aku salah.”

Aku menunggu.

Ia tidak memberi alasan tambahan.

Tidak bilang demi keluarga.

Tidak bilang aku lebih mampu.

Hanya:

“Aku salah.”

Aneh sekali betapa tiga kata sederhana bisa terasa lebih besar daripada satu jam pembelaan.

“Tapi soal jual rumah,” katanya, “itu awalnya ide Ayah.”

“Aku tahu.”

“Aku dorong karena kupikir bisa menolong semuanya.”

“Termasuk toko.”

Ia diam.

“Termasuk toko,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk.

“Terima kasih sudah jujur.”

“Bukan berarti Kakak benar semua.”

Aku tersenyum tipis.

“Tenang. Aku tidak butuh piala.”

Ia mendengus.

Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Mungkin justru itu hal baik.

Dulu hubungan kami terlihat dekat karena banyak hal tidak pernah dibicarakan.

Sekarang kami sedikit lebih jauh, tetapi lebih jujur.


Tiga bulan setelah Ayah jatuh, ia mengatakan tidak ingin menjual rumah.

Setidaknya belum.

“Ayah pikir kalau rumah dijual, semuanya selesai,” katanya suatu sore.

Kami duduk di teras.

Bu Rini sudah pulang.

Andi baru saja pergi setelah mengantar obat.

“Sekarang?”

“Sekarang Ayah pikir kalau rumah dijual, malah Ayah kehilangan tempat untuk marah-marah.”

Aku tertawa.

“Di rumahku juga bisa.”

“Tidak sama.”

Aku tahu.

Rumah itu bukan sekadar bangunan.

Di dinding dekat dapur masih ada garis pensil tinggi badan kami bertiga.

Di gudang kecil ada kursi lipat milik Ibu.

Di teras ada pot bunga yang selalu terlalu banyak disiram Ayah.

Tidak berarti rumah harus dipertahankan selamanya.

Suatu hari mungkin dijual.

Tapi kalau hari itu datang, setidaknya keputusan tersebut benar-benar milik Ayah.

Bukan hasil ketakutannya menjadi beban.

Bukan jalan keluar untuk utang Andi.

Bukan karena aku ingin semuanya mudah.

Suatu sore, saat aku hendak pulang ke Sidoarjo, Ayah memanggil dari ruang makan.

“Ika.”

“Ya?”

Ia menunjuk kaleng biskuit biru di atas lemari.

“Turunkan.”

Aku mengambilnya.

Di dalamnya masih ada struk obat, tagihan listrik, dan nota belanja.

Tapi sekarang di bagian paling atas ada selembar kertas baru.

Daftar pengeluaran bulan itu.

Obat.

Pendamping.

Listrik.

Makan.

Biaya kontrol.

Semuanya ditulis dengan tulisan tangan Ayah yang mulai sedikit goyah.

Di bawah jumlah akhir, ia menulis:

Tidak ada transfer ke Andi.

Aku menatapnya.

“Ayah sengaja tulis begitu?”

“Biar kamu tidak interogasi.”

Aku tertawa.

Lalu Ayah berkata, lebih pelan, “Dulu Ayah pikir anak yang paling kuat harus menanggung lebih banyak.”

Aku tidak menjawab.

“Mungkin Ayah terlalu terbiasa berpikir begitu.”

“Kenapa?”

Ia memutar gelas kopinya.

“Karena dari dulu kalau ada satu anak yang kelihatan baik-baik saja, orang tua gampang lupa dia juga bisa capek.”

Aku menatap wajahnya.

Tidak ada permintaan maaf besar.

Tidak ada air mata.

Hanya seorang ayah tua yang akhirnya mengakui satu kebiasaan yang melukai anaknya.

Itu cukup.

“Aku memang bisa bantu lebih banyak daripada Mira,” kataku. “Kadang juga lebih banyak daripada Andi.”

Ayah mengangguk.

“Tapi bukan berarti semua keputusan bisa dibuat pakai uangku.”

“Iya.”

“Dan kalau Ayah mau bantu Andi lagi?”

Ayah menyipitkan mata.

“Uang Ayah.”

Aku tersenyum.

“Benar.”

“Tapi Ayah bilang.”

“Nah.”

Ia ikut tersenyum.

Sore itu sebelum pulang, aku memasukkan kaleng biskuit kembali ke lemari.

Dulu aku tidak pernah peduli apa yang disimpan di sana.

Aku percaya keluarga berarti tidak perlu bertanya terlalu banyak.

Sekarang aku tahu kepercayaan bukan berarti menutup mata.

Kadang kepercayaan justru berarti berani membuka pembicaraan yang membuat semua orang tidak nyaman.

Aku berjalan ke teras.

Ayah sudah berdiri di dekat pagar.

Tidak mau diantar sampai mobil, katanya.

Aku memasukkan tas ke kursi belakang.

“Besok Bu Rini datang jam delapan,” kataku.

“Ayah tahu.”

“Obat malam jangan lupa.”

“Ayah tahu.”

“Kalau mau naik kursi ambil barang…”

“Ayah tahu.”

Aku tertawa.

Ayah mengangkat tangan menyuruhku pergi.

Aku masuk mobil.

Sebelum menyalakan mesin, aku melihat melalui kaca.

Ayah masih berdiri di teras rumah yang hampir dijual tanpa pernah benar-benar kami bicarakan.

Ia tidak lagi hidup sendirian sepenuhnya.

Ada Bu Rini.

Ada Pak Hendra.

Ada jadwal.

Ada pegangan kamar mandi yang dulu ia benci.

Ada tiga anak yang akhirnya belajar bahwa merawat orang tua tidak sama dengan mengambil alih hidup mereka.

Dan ada aku, anak sulung yang akhirnya mengerti bahwa menjadi orang yang bisa diandalkan bukan berarti harus selalu menjadi orang yang membayar semuanya.

Ayah mengangkat tangan sekali lagi.

Aku membalas.

Lalu pintu pagar ditutup perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak ia jatuh, suara besi pagar itu tidak terdengar seperti sesuatu yang sedang berakhir.

Terdengar seperti batas yang akhirnya berada di tempat yang tepat.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai selesai. Semoga kita dan keluarga selalu diberi kesehatan, rezeki yang cukup, serta keberanian untuk membicarakan hal-hal sulit sebelum rasa sungkan berubah menjadi luka. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan melakukan hal yang sama terhadap Andi dan Ayah, atau kamu akan memilih jalan yang berbeda? Aku ingin membaca pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, silakan bagikan kepada orang yang mungkin juga sedang belajar bahwa menyayangi keluarga tetap membutuhkan batas.