Pagi Pertama Menjadi Menantu, Nisa Belum Turun Sampai Pukul Sepuluh. Saat Bu Ratna Membuka Pintu, Tongkatnya Jatuh

Avatar penulis
Cerita 01
17 menit baca 61 tayangan
Pagi Pertama Menjadi Menantu, Nisa Belum Turun Sampai Pukul Sepuluh. Saat Bu Ratna Membuka Pintu, Tongkatnya Jatuh
Indeks

Pagi Pertama Menjadi Menantu, Nisa Belum Turun Sampai Pukul Sepuluh. Saat Bu Ratna Membuka Pintu, Tongkatnya Jatuh

Bagian 1

Pukul sepuluh pagi hampir tiba, tetapi menantu baru Bu Ratna belum juga turun dari kamar.

Bagi orang lain, mungkin itu bukan masalah besar setelah pesta pernikahan yang baru selesai semalam. Namun di rumah dua lantai milik keluarga Pak Hendra itu, dapur biasanya sudah menyala sejak pukul lima pagi dan sarapan selalu tersedia sebelum pukul enam.

Rumah mereka berdiri di dalam sebuah gang lebar di Semarang. Selama bertahun-tahun, ritme kehidupan di sana hampir tidak pernah berubah.

Pak Hendra biasa bangun paling awal untuk membuka pintu depan dan menyiram tanaman. Bu Ratna masuk ke dapur tak lama setelahnya. Anak-anak mereka dibesarkan dengan kebiasaan sarapan bersama sebelum memulai aktivitas masing-masing.

Arif, putra bungsu mereka, baru menikah sehari sebelumnya.

Pagi Pertama Menjadi Menantu, Nisa Belum Turun Sampai Pukul Sepuluh. Saat Bu Ratna Membuka Pintu, Tongkatnya Jatuh

Setelah resepsi yang berlangsung sejak siang sampai malam, ruang tengah masih dipenuhi kardus berisi hadiah, tas pakaian, bunga yang mulai layu, serta beberapa baki makanan yang belum sempat dibereskan. Bu Ratna sendiri baru tidur lewat tengah malam.

Meski pinggangnya pegal karena seharian berdiri menyambut tamu, pukul lima pagi ia sudah bangun seperti biasa.

Ia merapikan sisa piring di dapur, memanaskan air, lalu menyapu bagian rumah yang masih berantakan. Sesekali matanya melirik tangga menuju lantai dua.

Ia menunggu Nisa, istri Arif yang baru sehari resmi menjadi bagian dari keluarga mereka.

Bu Ratna sebenarnya tidak berharap Nisa langsung memasak untuk semua orang pada pagi pertama. Ia tahu anak itu pasti lelah. Namun setidaknya, pikirnya, Nisa akan turun, menyapa, lalu duduk sebentar di meja makan bersama keluarga.

Pukul tujuh lewat.

Tidak terdengar langkah kaki.

Bu Ratna menuangkan teh ke cangkirnya sambil menahan rasa tidak nyaman di pinggang.

Pukul delapan lewat.

Pak Hendra yang duduk membaca pesan-pesan ucapan selamat dari kerabat akhirnya bertanya, “Arif sama Nisa belum bangun?”

“Belum kelihatan.”

“Mungkin kecapekan.”

Bu Ratna tidak menjawab.

Ia berusaha berpikir sama. Resepsi kemarin memang melelahkan. Arif bahkan beberapa kali menguap ketika membantu membereskan kursi setelah tamu terakhir pulang.

Namun ketika jarum jam melewati pukul sembilan, ketenangannya mulai menipis.

Di keluarganya, tidur sampai hampir tengah hari selalu dianggap kebiasaan buruk. Sejak anak-anak masih sekolah, Bu Ratna tidak suka melihat pintu kamar tertutup lama ketika matahari sudah tinggi.

Yang semakin mengganggunya adalah tidak adanya suara apa pun dari kamar pengantin baru itu.

Tidak ada suara kamar mandi.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada pintu terbuka.

Ia berdiri di bawah tangga.

“Nisa!” panggilnya. “Kalau sudah bangun, turun dulu. Kita bereskan dapur sedikit.”

Tidak ada jawaban.

Bu Ratna menunggu.

“Nisa?”

Tetap sunyi.

Pak Hendra menurunkan ponselnya.

“Coba telepon Arif.”

“Kalau telepon saja harus dilakukan untuk menyuruh orang turun dari lantai dua, kapan mereka belajar?”

Nada Bu Ratna mulai mengeras.

Ia sadar dirinya sedang kelelahan, tetapi justru karena itulah rasa kesalnya terasa lebih mudah muncul. Sejak pagi ia sudah menyapu, mencuci beberapa peralatan, memisahkan hadiah pernikahan yang tercecer, lalu menyiapkan minuman sendiri.

Sementara itu menantu barunya belum memperlihatkan diri.

Pikiran Bu Ratna mulai melompat pada hal-hal yang sebenarnya belum ia ketahui.

Jangan-jangan Nisa memang terbiasa bangun siang.

Jangan-jangan selama masa pacaran Arif terlalu banyak menutupi kebiasaan istrinya.

Jangan-jangan setelah menikah, semua urusan rumah dianggap otomatis menjadi tanggung jawab ibu mertua.

Bu Ratna memejamkan mata sesaat.

Ia tidak ingin memulai hari pertama bersama menantunya dengan pertengkaran.

Namun semakin ia mencoba menahan diri, semakin kuat pula rasa bahwa dirinya sedang disepelekan.

Ia kembali memanggil.

“Nisa! Arif!”

Tidak ada jawaban.

Kali ini Bu Ratna mengambil tongkat kayu pendek yang biasa dipakainya saat lutut kanan dan pinggangnya kambuh. Ia mulai menaiki tangga perlahan.

Pak Hendra memandang dari bawah.

“Jangan langsung marah.”

“Aku cuma mau lihat.”

“Ratna.”

“Sudah.”

Bu Ratna terus naik.

Di depan kamar Arif dan Nisa, ia mengetuk pintu tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

“Nisa?”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lebih keras.

“Arif!”

Tetap tidak terdengar apa-apa.

Rasa kesal yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.

Bu Ratna memukul daun pintu dengan ujung tongkatnya.

“Sudah jam segini!”

Ia meraih gagang pintu. Tidak terkunci.

“Kalau tinggal serumah, jangan sampai orang di bawah harus berkali-kali memanggil!”

Bu Ratna mendorong pintu hingga terbuka.

Kalimat berikutnya berhenti di tenggorokannya.

Tongkat di tangannya jatuh ke lantai.

Nisa tidak sedang tidur pulas di bawah selimut seperti yang dibayangkannya.

Perempuan muda itu berada di sisi tempat tidur dengan tubuh setengah membungkuk. Wajahnya pucat, bibirnya hampir tidak berwarna, dan keringat tipis membasahi dahinya.

Kedua tangannya menekan perut.

Arif duduk di sampingnya dengan rambut berantakan dan wajah yang sama pucatnya. Sebuah baskom berisi air hangat berada di lantai, bersama beberapa handuk kecil.

“Nisa?”

Bu Ratna langsung mendekat.

Seluruh kemarahan yang dibawanya dari bawah lenyap begitu saja.

Nisa membuka mata sebentar tetapi tidak menjawab. Tubuhnya kembali melipat karena rasa sakit.

Bu Ratna berbalik pada putranya.

“Ini kenapa?”

Arif berdiri tergesa-gesa.

“Bu…”

“Kenapa wajahnya begini? Kenapa tidak bilang dari tadi?”

Arif mengusap wajahnya. Ia tampak seperti belum tidur sama sekali.

“Tadi sekitar jam empat pagi Nisa mulai sakit perut parah.”

Bu Ratna menatap jam dinding di kamar, lalu kembali melihat putranya.

“Jam empat?”

Arif mengangguk.

“Semalam setelah semua orang tidur, dia masih membereskan koper sama hadiah-hadiah sampai hampir jam dua. Aku sudah suruh berhenti, tapi katanya kalau dibiarkan nanti rumah tambah berantakan.”

Bu Ratna menatap beberapa kardus yang sudah tertata rapi di sudut kamar.

Arif melanjutkan dengan suara terburu-buru.

“Kayaknya dia juga salah makan waktu resepsi. Sejak jam empat bolak-balik ke kamar mandi. Badannya lemas sekali.”

“Lalu kenapa kamu diam saja?”

“Aku pikir masih bisa aku tangani.”

Arif menunjuk gelas air hangat dan obat lambung yang belum sempat diminum.

“Tadi jam enam dia malah bilang mau turun bantu Ibu bikin sarapan. Begitu turun dari tempat tidur, dia langsung jatuh. Untung aku sempat pegang.”

Bu Ratna memandang Nisa.

Perempuan itu masih memegangi perut dengan napas pendek.

Arif menelan ludah.

“Aku takut Ibu sama Bapak sudah terlalu capek habis resepsi. Jadi aku pikir biar Nisa istirahat sebentar, aku kasih air hangat, terus kalau sudah agak kuat baru aku bawa periksa.”

Wajah Arif berubah semakin cemas.

“Tapi sakitnya malah tambah berat, Bu.”

Bagian 2

“Tapi sakitnya malah tambah berat, Bu.”

Bu Ratna hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengambil keputusan.

“Tidak usah tunggu lagi. Kita bawa ke rumah sakit sekarang.”

Arif tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya sudah membungkuk mengambil tas kecil Nisa dari kursi.

“Bapak!” teriak Bu Ratna ke arah tangga. “Tolong keluarkan mobil!”

Pak Hendra yang mendengar nada panik istrinya langsung berdiri dari ruang tengah.

“Ada apa?”

“Nisa sakit. Kita ke rumah sakit.”

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil.

Arif duduk di kursi belakang sambil menopang tubuh istrinya. Nisa menyandarkan kepala ke bahunya, kedua matanya terpejam.

Bu Ratna duduk di sebelah mereka.

Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali menatap wajah menantunya.

Wajah yang tadi pagi, bahkan sebelum dilihatnya sendiri, sudah sempat ia nilai.

Pemalas.

Tidak tahu aturan.

Tidak menghormati keluarga suami.

Bu Ratna menundukkan kepala.

Tiba-tiba semua pikiran itu terasa memalukan.

Ia teringat bagaimana tadi dirinya berdiri di bawah tangga sambil mengeluh karena harus membereskan beberapa baki dan kardus.

Padahal di lantai atas, perempuan yang baru sehari menjadi menantunya sedang menahan sakit sambil masih memikirkan apakah dirinya harus turun membantu menyiapkan sarapan.

“Nisa,” panggil Bu Ratna pelan.

Perempuan muda itu membuka mata sedikit.

“Iya, Bu?”

Suara itu begitu lemah hingga dada Bu Ratna terasa sesak.

“Jangan bicara dulu. Istirahat saja.”

Nisa mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian ia berbisik, “Maaf, Bu.”

Bu Ratna langsung menoleh.

“Maaf apa?”

“Saya bangun kesiangan.”

Bu Ratna membeku.

Di sebelahnya, Arif memejamkan mata sejenak.

Nisa melanjutkan dengan napas pendek.

“Saya sebenarnya mau turun dari pagi. Tapi Arif tidak kasih.”

Bu Ratna meraih tangan menantunya.

Dingin.

“Nisa, tidak usah pikirkan itu.”

“Tapi hari pertama…”

“Sudah.”

Suara Bu Ratna bergetar.

“Tidak ada sarapan atau dapur yang lebih penting daripada kesehatanmu.”

Untuk pertama kalinya sejak berangkat, Nisa membuka matanya lebih lebar.

Ia menatap tangan mertuanya yang menggenggam tangannya.

Bu Ratna tidak tahu apakah Nisa menyadari rasa bersalah di wajahnya.

Namun perempuan muda itu tidak mengatakan apa-apa lagi.

Setibanya di rumah sakit, Nisa segera diperiksa.

Dokter mengatakan kondisinya kemungkinan besar dipicu gangguan pencernaan setelah konsumsi makanan tertentu, ditambah kelelahan dan kekurangan cairan karena muntah serta diare sejak dini hari. Tekanan darahnya turun dan tubuhnya sudah menunjukkan tanda dehidrasi.

Ia perlu mendapat cairan infus dan dipantau beberapa jam.

Arif duduk di kursi ruang observasi dengan bahu jatuh.

“Aku harusnya langsung bawa dia dari tadi,” katanya.

Pak Hendra menepuk pundaknya.

“Sekarang sudah di sini. Yang penting jangan mengulang kesalahan yang sama.”

Arif mengangguk.

Bu Ratna berdiri di dekat tempat tidur Nisa.

Jarum infus sudah terpasang di tangan menantunya. Wajah Nisa masih pucat, tetapi napasnya mulai lebih teratur.

Ketika Arif keluar sebentar untuk mengurus administrasi, Bu Ratna dan Nisa tinggal berdua.

Beberapa menit mereka hanya diam.

Lalu Bu Ratna menarik kursi dan duduk.

“Nisa.”

“Iya, Bu?”

“Ibu mau minta maaf.”

Nisa menatapnya bingung.

“Untuk apa?”

Bu Ratna menarik napas.

“Tadi pagi Ibu marah.”

Nisa tersenyum tipis.

“Saya tidak dengar, Bu.”

“Tapi Ibu tetap marah.”

Bu Ratna menatap lantai.

“Ibu pikir kamu sengaja tidur sampai siang. Ibu bahkan sempat berpikir macam-macam tentang kamu.”

Nisa tidak langsung menjawab.

Bu Ratna melanjutkan.

“Ibu dibesarkan dengan aturan rumah yang keras. Setelah menikah, dulu Ibu juga tinggal dengan orang tua Bapak beberapa tahun. Jam lima pagi sudah harus bangun. Kalau terlambat sedikit saja, rasanya seperti melakukan kesalahan besar.”

Ia tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya.

“Mungkin tanpa sadar Ibu membawa kebiasaan itu sampai sekarang.”

Nisa memandang mertuanya dengan tenang.

“Saya tahu, Bu.”

Bu Ratna mengangkat kepala.

“Kamu tahu?”

“Arif pernah cerita kalau Ibu orangnya disiplin.”

“Dia cerita jelek tentang Ibu?”

Nisa tersenyum lebih jelas.

“Tidak. Dia bilang Ibu yang membuat semua anak Ibu bisa mandiri.”

Bu Ratna terdiam.

“Tapi dia juga bilang,” lanjut Nisa, “kadang Ibu terlalu keras kepada diri sendiri.”

Kalimat itu justru membuat Bu Ratna tidak mampu menjawab.

Nisa menatap selang infus di tangannya.

“Sebenarnya saya juga salah.”

“Jangan mulai.”

“Saya serius, Bu. Semalam Arif sudah bilang jangan bereskan apa-apa. Tapi saya takut pagi ini rumah masih berantakan dan Ibu menganggap saya tidak peduli.”

Bu Ratna mengernyit.

“Kamu pikir begitu?”

Nisa mengangguk pelan.

“Saya baru masuk ke keluarga ini. Saya ingin memberi kesan baik.”

Ia tersenyum malu.

“Saya bahkan sempat cari tahu dari Arif makanan kesukaan Bapak sama Ibu karena saya mau masak sarapan pagi ini.”

Bu Ratna merasa sesuatu menusuk dadanya.

“Masak apa?”

“Nasi goreng teri sama telur dadar.”

Bu Ratna tertawa kecil.

“Itu kesukaan Bapak. Kalau Ibu sukanya pecel.”

Nisa ikut tertawa, tetapi kemudian memegangi perut.

“Jangan ketawa dulu,” kata Bu Ratna cepat.

Keduanya kembali diam.

Beberapa saat kemudian Bu Ratna berkata, “Mulai sekarang, kalau kamu sakit, bilang.”

Nisa mengangguk.

“Kalau capek, istirahat.”

“Iya.”

“Kalau tidak sanggup masak, jangan masak.”

“Iya, Bu.”

“Dan kalau suatu hari kamu bangun jam sembilan…”

Nisa menatapnya hati-hati.

Bu Ratna menahan senyum.

“…asal bukan setiap hari, Ibu akan mencoba tidak naik ke atas membawa tongkat.”

Nisa tertawa.

Kali ini Bu Ratna ikut tertawa bersamanya.

Ketegangan yang sejak hari-hari sebelum pernikahan selalu terasa samar di antara mereka seolah mulai retak sedikit demi sedikit.

Menjelang sore, kondisi Nisa jauh lebih baik.

Dokter mengizinkannya pulang dengan beberapa obat, anjuran istirahat, serta instruksi untuk kembali bila keluhan berat muncul lagi.

Pak Hendra mengemudikan mobil lebih pelan dalam perjalanan pulang.

Begitu tiba di rumah, Nisa hendak berjalan menuju dapur.

Bu Ratna langsung menghadangnya.

“Mau ke mana?”

“Saya mau lihat dapur.”

“Tidak.”

Nisa berhenti.

“Saya cuma—”

“Tidak.”

Bu Ratna menunjuk tangga.

“Kamar.”

Nisa menatap Arif meminta bantuan.

Arif mengangkat kedua tangan.

“Jangan lihat aku. Hari ini aku di pihak Ibu.”

Pak Hendra terkekeh.

“Sekali-sekali keputusan yang bagus.”

Nisa akhirnya naik ke kamar.

Sore itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dapur keluarga Pak Hendra dipenuhi tiga laki-laki yang tampak tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Arif memasak bubur.

Pak Hendra mengiris daun bawang terlalu tebal.

Kakak Arif yang baru datang setelah mendengar Nisa dibawa ke rumah sakit bertugas mencuci piring.

Bu Ratna berdiri mengawasi mereka.

“Jangan terlalu banyak garam.”

“Bu, baru satu sendok.”

“Itu sendok makan!”

Arif langsung mematung.

Pak Hendra tertawa sampai batuk.

Dari lantai atas, Nisa mendengar keributan itu dan untuk pertama kalinya sejak pagi tersenyum tanpa rasa takut.

Malamnya, Bu Ratna sendiri yang membawa semangkuk bubur ke kamar.

Nisa sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur.

“Bu, saya bisa makan di bawah.”

“Besok.”

“Tapi—”

“Nisa.”

“Iya, Bu.”

Bu Ratna meletakkan nampan.

Ia hendak keluar ketika Nisa memanggil.

“Bu.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Bu Ratna menatap menantunya.

Kemudian ia berkata pelan, “Selamat datang di rumah.”

Bukan ucapan resmi.

Bukan kalimat yang dipersiapkan.

Tetapi entah mengapa, mata Nisa langsung berkaca-kaca.

Karena baru malam itu ia merasa bahwa pernikahan bukan hanya membuatnya menjadi istri Arif.

Ia benar-benar sedang memasuki sebuah keluarga.


Bagian 3

Seminggu kemudian, rumah itu kembali pada ritmenya.

Tetapi tidak sepenuhnya sama.

Pukul lima pagi, Bu Ratna masih bangun.

Pak Hendra masih menyiram tanaman.

Dapur masih menjadi ruangan pertama yang hidup setiap pagi.

Namun ada satu kebiasaan yang berubah.

Bu Ratna tidak lagi berdiri di bawah tangga menunggu pintu kamar Nisa terbuka.

Ia belajar bahwa setiap orang mempunyai ritme tubuh, pekerjaan, dan cara menjalani rumah tangga yang berbeda.

Nisa pun tidak berubah menjadi menantu yang tidur sampai siang.

Setelah pulih, hampir setiap pagi ia turun sekitar pukul enam lewat.

Kadang ia membantu membuat teh.

Kadang ia memotong buah.

Kadang ia hanya duduk di meja sambil berbicara dengan Bu Ratna.

Dan ternyata percakapan-percakapan kecil itulah yang membuat mereka semakin dekat.

Bu Ratna baru tahu Nisa biasa bekerja dari rumah sebagai admin toko daring dan sering menyelesaikan laporan sampai malam.

Nisa baru tahu lutut kanan Bu Ratna mulai sering sakit sejak beberapa tahun terakhir.

“Kenapa Ibu tidak bilang kalau lutut sering sakit?” tanya Nisa suatu pagi.

“Namanya juga umur.”

“Bukan jawaban.”

Bu Ratna menatap menantunya.

“Sekarang berani membantah?”

Nisa tersenyum.

“Saya belajar dari Arif.”

Dari ruang tengah terdengar suara Arif.

“Jangan bawa-bawa namaku!”

Mereka tertawa.

Beberapa minggu kemudian, Nisa membuat jadwal kecil untuk pekerjaan rumah.

Bukan karena diperintah.

Ia justru mengatakan rumah sebesar itu tidak mungkin terus-menerus ditangani Bu Ratna sendirian.

Arif kebagian membersihkan kamar mandi lantai atas dan mencuci kendaraan setiap akhir pekan.

Pak Hendra bertanggung jawab pada halaman serta belanja kebutuhan berat.

Nisa menangani sebagian pekerjaan dapur.

Bu Ratna sempat memprotes.

“Dari dulu Ibu bisa sendiri.”

Nisa menjawab, “Bisa bukan berarti harus.”

Bu Ratna tidak mampu membalas kalimat itu.

Karena kalimat yang sama sebenarnya berlaku pada dirinya selama bertahun-tahun.

Ia mampu mengurus rumah.

Mampu memasak.

Mampu membersihkan.

Mampu memaksakan tubuh tetap bergerak ketika pinggangnya sakit.

Tetapi ternyata mampu bukan berarti semuanya harus ditanggung sendiri.

Tiga bulan setelah pernikahan, suatu pagi Bu Ratna justru menjadi orang yang tidak turun sampai pukul delapan.

Pak Hendra mulai gelisah.

“Biasanya Ibu sudah bangun.”

Nisa yang sedang menyiapkan teh langsung menghentikan pekerjaannya.

Ia naik ke lantai dua.

Mengetuk kamar mertuanya pelan.

“Bu?”

Tidak ada jawaban.

Jantungnya sempat berdebar.

Ia membuka pintu.

Bu Ratna sedang tidur.

Bukan sakit.

Bukan pingsan.

Benar-benar tidur pulas.

Malam sebelumnya mereka baru pulang dari acara keluarga di Demak hampir pukul satu dini hari.

Nisa menutup pintu perlahan.

Ketika kembali ke bawah, Pak Hendra bertanya, “Gimana?”

Nisa mengangkat telunjuk ke bibir.

“Tidur.”

“Dibangunkan?”

“Jangan.”

Pak Hendra mengangguk.

Pukul sembilan Bu Ratna belum turun.

Arif baru keluar kamar dan bertanya, “Ibu mana?”

“Tidur.”

Arif melihat jam.

“Jam segini?”

Nisa langsung menyikut suaminya.

“Diam.”

Pukul sembilan tiga puluh, terdengar langkah di tangga.

Bu Ratna turun dengan rambut masih belum benar-benar rapi.

Begitu melihat jam dinding, wajahnya berubah.

“Ya Allah, sudah setengah sepuluh?”

Pak Hendra hanya tersenyum di balik koran.

Arif berusaha keras menahan tawa.

Bu Ratna menuju dapur dengan langkah cepat.

“Kenapa tidak ada yang bangunkan Ibu?”

Nisa berdiri di depan meja makan.

Di sana sudah tersedia teh hangat, pecel, telur rebus, dan beberapa potong buah.

“Ibu capek. Jadi kami biarkan tidur.”

Bu Ratna berhenti.

Pemandangan itu terasa aneh.

Selama puluhan tahun ia hampir selalu menjadi orang yang menyediakan sarapan.

Sekarang kursinya sudah ditarikkan.

Makanannya sudah tersedia.

Bahkan obat untuk lutut yang biasa diminumnya setelah sarapan sudah diletakkan Nisa di samping gelas air.

Bu Ratna menatap menantunya cukup lama.

Nisa tersenyum.

“Selamat pagi, Bu.”

Pak Hendra menambahkan, “Menantumu tadi bahkan melarang Bapak naik membangunkan.”

Bu Ratna duduk perlahan.

Arif tidak tahan lagi.

“Bu, kalau tinggal serumah, jangan sampai orang di bawah harus berkali-kali memanggil.”

Pak Hendra langsung tertawa keras.

Nisa menutup mulut menahan tawa.

Bu Ratna menatap putranya tajam.

Arif langsung mundur.

“Bercanda, Bu.”

Bu Ratna mengambil serbet kecil dari meja dan melemparkannya kepada Arif.

“Kamu ini.”

Rumah itu dipenuhi tawa.

Beberapa bulan berikutnya berlalu tanpa peristiwa besar.

Justru hal-hal kecil yang membuat hubungan mereka berubah.

Nisa mulai memanggil Bu Ratna ketika ingin membeli sayuran di pasar.

Bu Ratna mulai mengetuk kamar sebelum masuk, bahkan ketika pintunya terbuka.

Mereka belajar memasak resep masing-masing.

Sesekali berbeda pendapat.

Kadang juga saling kesal.

Tetapi mereka mulai berani membicarakannya.

Suatu malam, ketika keduanya sedang melipat pakaian di ruang tengah, Bu Ratna berkata tanpa melihat Nisa, “Dulu Ibu takut kamu mengambil Arif dari keluarga.”

Tangan Nisa berhenti.

Bu Ratna tersenyum kecil.

“Bodoh ya?”

Nisa tidak langsung menjawab.

“Tidak, Bu. Mungkin semua ibu pernah merasa begitu.”

“Tapi sekarang Ibu sadar.”

Bu Ratna menatapnya.

“Anak menikah bukan berarti keluarga kehilangan satu orang.”

Ia menggenggam tangan Nisa.

“Kadang kita justru mendapat satu orang lagi.”

Mata Nisa mulai berkaca-kaca.

“Ibu jangan bikin saya nangis.”

“Kenapa?”

“Nanti Arif pikir Ibu marahin saya.”

Dari dapur terdengar suara Arif.

“Aku dengar!”

Mereka tertawa lagi.

Setahun setelah pernikahan itu, Arif dan Nisa memutuskan pindah ke rumah kontrakan kecil sekitar lima belas menit dari rumah orang tuanya.

Keputusan tersebut justru pertama kali didukung Bu Ratna.

“Kalian harus punya rumah tangga sendiri,” katanya. “Dekat boleh. Tapi kalian juga perlu belajar membuat aturan sendiri.”

Pada hari kepindahan, kardus kembali memenuhi ruang tengah.

Persis seperti sehari setelah pernikahan mereka dahulu.

Nisa berdiri di dekat tangga sambil melihat kamar yang selama setahun ditempatinya bersama Arif.

Bu Ratna datang membawa sebuah tas.

“Ini ketinggalan.”

“Terima kasih, Bu.”

Nisa menerima tas itu, lalu tiba-tiba memeluk mertuanya.

Bu Ratna sempat kaku.

Kemudian kedua tangannya membalas pelukan itu.

“Kenapa nangis?”

“Saya tidak nangis.”

“Terus ini apa?”

“Keringat.”

“Di mata?”

Nisa tertawa di tengah tangisnya.

Bu Ratna ikut tersenyum.

Sebelum masuk ke mobil, Nisa berbalik.

“Bu.”

“Hm?”

“Besok pagi saya datang.”

“Ngapain?”

“Masak pecel.”

Bu Ratna mengangkat alis.

“Jam berapa?”

Nisa berpikir sebentar.

“Jam sembilan.”

Bu Ratna langsung tertawa.

“Ya sudah.”

“Tidak dimarahi?”

“Rumahmu sekarang. Bangun jam berapa terserah.”

Arif yang sedang memasukkan kardus ke bagasi menyela, “Aku saksi, ya. Ibu sudah bilang sendiri.”

Bu Ratna menunjuk putranya.

“Kamu beda.”

Semua kembali tertawa.

Mobil mereka perlahan keluar dari gang.

Bu Ratna berdiri di teras bersama Pak Hendra sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan.

Pak Hendra kemudian melirik istrinya.

“Sedih?”

“Sedikit.”

“Setahun lalu kamu hampir marah karena dia belum turun jam sepuluh.”

Bu Ratna tersenyum sambil menggeleng.

Ia masih mengingat pagi itu dengan sangat jelas.

Tongkat yang jatuh.

Wajah pucat Nisa.

Rasa bersalah yang menusuk ketika ia mengetahui kenyataan.

Pagi yang awalnya ia kira akan membuktikan seperti apa menantu yang baru masuk ke keluarganya justru mengajarkan sesuatu tentang dirinya sendiri.

Bahwa rumah bukan tempat untuk menghitung siapa yang bangun paling pagi.

Bukan tempat untuk menentukan siapa paling banyak bekerja.

Dan bukan tempat di mana kasih sayang harus dibuktikan dengan kelelahan.

Rumah adalah tempat seseorang boleh berkata bahwa ia sakit.

Boleh mengaku lelah.

Boleh meminta bantuan.

Dan tetap tahu bahwa ketika membuka pintu kamar, orang yang berdiri di baliknya tidak datang untuk menghakimi.

Tetapi datang untuk menjaga.

Keesokan paginya, tepat pukul sembilan lewat dua belas menit, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Bu Ratna yang sedang menyiram tanaman menoleh.

Nisa turun sambil membawa kantong berisi sayuran.

“Katanya jam sembilan,” seru Bu Ratna.

Nisa melihat jam tangannya.

“Telat dua belas menit saja, Bu.”

Bu Ratna berusaha memasang wajah galak.

Nisa segera mengangkat kantong sayuran seperti perisai.

“Jangan ambil tongkat!”

Bu Ratna tertawa begitu keras sampai Pak Hendra keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi.

Dan pagi itu, dapur mereka kembali ramai.

Bukan karena sebuah kewajiban.

Bukan karena seorang mertua sedang menguji menantunya.

Melainkan karena dua perempuan yang dulu sama-sama takut tidak diterima akhirnya mengerti bahwa mereka tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa menjadi keluarga.