SUAMIKU BILANG, “KAMU YANG MAU JADI IBU, JADI URUS SENDIRI,” LALU MENINGGALKANKU SENDIRIAN DENGAN BAYI KEMBAR KAMI YANG BARU BERUSIA ENAM BULAN — TAPI SAAT DIA PULANG, DIA LANGSUNG TERDIAM DI DEPAN PINTU.

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 41 tayangan
SUAMIKU BILANG, “KAMU YANG MAU JADI IBU, JADI URUS SENDIRI,” LALU MENINGGALKANKU SENDIRIAN DENGAN BAYI KEMBAR KAMI YANG BARU BERUSIA ENAM BULAN — TAPI SAAT DIA PULANG, DIA LANGSUNG TERDIAM DI DEPAN PINTU.
Indeks

SUAMIKU BILANG, “KAMU YANG MAU JADI IBU, JADI URUS SENDIRI,” LALU MENINGGALKANKU SENDIRIAN DENGAN BAYI KEMBAR KAMI YANG BARU BERUSIA ENAM BULAN — TAPI SAAT DIA PULANG, DIA LANGSUNG TERDIAM DI DEPAN PINTU.

BAGIAN 1

Aku dan suamiku, Arga, sudah bertahun-tahun berharap bisa menjadi orang tua.

Jadi ketika dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan memberi tahu bahwa aku mengandung anak kembar, kami benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan.

Arga bahkan tertawa sambil menggenggam tanganku.

“Dua sekaligus, Nad?”

Aku mengangguk sambil menangis.

Dia memelukku dan berkata bahwa rumah kami akhirnya akan benar-benar terasa seperti rumah.

Saat itu aku percaya padanya.

Aku percaya kami akan menjalani semuanya bersama.

SUAMIKU BILANG, “KAMU YANG MAU JADI IBU, JADI URUS SENDIRI,” LALU MENINGGALKANKU SENDIRIAN DENGAN BAYI KEMBAR KAMI YANG BARU BERUSIA ENAM BULAN — TAPI SAAT DIA PULANG, DIA LANGSUNG TERDIAM DI DEPAN PINTU.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa enam bulan setelah kedua putri kami lahir, satu kalimat darinya akan mengubah caraku memandang pernikahan kami.

Kami memberi nama kedua bayi perempuan kami Alya dan Alina.

Mereka sehat, cantik, dan menjadi pusat seluruh hidupku.

Tapi menjadi ibu dari bayi kembar ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah kubayangkan.

Tidur dua jam tanpa terbangun sudah terasa seperti kemewahan.

Ketika Alya tertidur, Alina bisa mulai menangis.

Ketika Alina selesai minum susu, Alya harus diganti popoknya.

Ketika keduanya akhirnya tidur bersamaan, aku harus mencuci botol susu, membereskan pakaian bayi, mensterilkan perlengkapan mereka, atau sekadar mandi secepat mungkin sebelum salah satu dari mereka terbangun.

Rumah kami di Bintaro yang dulu selalu rapi perlahan berubah.

Ada selimut bayi di sofa.

Botol susu di meja makan.

Keranjang pakaian yang belum sempat kulipat.

Mainan kecil di ruang keluarga.

Aku tahu rumah kami tidak lagi terlihat sempurna.

Tapi aku juga tahu alasannya.

Aku sedang merawat dua bayi.

Masalahnya, Arga seolah tidak melihat itu.

Dia hanya melihat rumah yang berantakan.

Dia melihat istrinya yang rambutnya hampir selalu diikat seadanya.

Dia melihat wajahku yang kelelahan.

Dia melihat piring yang kadang masih berada di wastafel ketika dia pulang kerja.

Tapi dia tidak pernah benar-benar melihat apa yang kulakukan sepanjang hari.

Awalnya aku mencoba memahami.

Arga bekerja di sebuah perusahaan properti di kawasan Kuningan. Dia sering berangkat pagi dan pulang setelah matahari terbenam.

Aku tahu pekerjaannya melelahkan.

Karena itu, hampir semua urusan bayi kutangani sendiri.

Aku yang bangun malam.

Aku yang mengganti popok.

Aku yang membuat susu.

Aku yang mencuci pakaian bayi.

Aku yang mengatur jadwal imunisasi dan kontrol.

Aku bahkan jarang meminta Arga membantu.

Kalaupun aku meminta, biasanya hanya hal sederhana.

Tolong pegang Alya sebentar.

Tolong ambilkan popok.

Tolong cuci dua botol susu.

Tapi semakin lama, permintaan kecil seperti itu pun mulai membuatnya kesal.

Sampai suatu malam semuanya berubah.

Saat itu kedua bayi sedang rewel bersamaan.

Alina menangis di pelukanku, sementara Alya berada di tempat tidurnya sambil terus merengek.

Aku belum makan malam.

Rambutku berantakan.

Ada beberapa botol susu kotor di dekat wastafel.

Arga baru pulang.

Aku melihatnya masuk sambil melepas sepatu.

“Ga,” kataku, “boleh bantu cuci botol mereka? Aku mau tidurkan Alya sama Alina dulu.”

Arga tidak langsung menjawab.

Dia memandang ke arah dapur.

Kemudian ke ruang keluarga.

Lalu kepadaku.

Dia mengembuskan napas panjang.

“Nadira, aku capek.”

“Aku tahu.”

“Aku baru pulang kerja.”

“Aku cuma minta tolong cuci botol.”

Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat ekspresinya berubah.

“Aku setiap hari pulang ke rumah isinya tangisan bayi, botol kotor, pakaian di mana-mana. Kamu juga selalu kelihatan stres.”

Aku terdiam.

Alina masih menangis di dadaku.

Aku menatap suamiku dan mencoba memahami apakah dia benar-benar sedang mengatakan semua itu kepadaku.

“Arga, mereka baru enam bulan.”

“Aku tahu.”

“Mereka bayi kembar.”

“Aku juga tahu.”

“Terus kamu mau aku bagaimana?”

Dia mengusap wajahnya.

“Aku cuma butuh istirahat.”

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Tapi karena aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku tidur semalaman.

Namun sebelum sempat menjawab, aku melihat sebuah tas besar di dekat pintu kamar kami.

Aku mengernyit.

“Itu tas apa?”

Arga berjalan melewatiku.

“Aku mau pergi beberapa hari.”

Aku mengira salah dengar.

“Pergi?”

“Iya.”

“Ke mana?”

“Ke Puncak. Anak-anak kantor sama beberapa teman mau mancing dan menginap.”

Aku memandangnya cukup lama.

“Kapan?”

“Besok pagi.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

“Empat hari.”

Aku menatap kedua bayi kami.

Kemudian kembali menatapnya.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Arga, aku bahkan belum tidur cukup selama berbulan-bulan.”

Dia diam.

“Aku sendirian mengurus dua bayi hampir setiap hari. Sekarang kamu mau pergi empat hari?”

“Aku butuh break, Nad.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku terasa runtuh.

“Dan aku?”

Dia mengangkat bahu.

Gerakan kecil itu justru lebih menyakitkan daripada kalau dia berteriak.

“Aku tidak bisa terus-terusan begini.”

Aku menatapnya.

“Begini bagaimana?”

“Pulang ke rumah dan selalu ada masalah.”

Aku hampir tidak percaya.

“Anak kita menangis bukan masalah, Ga. Mereka bayi.”

“Aku tidak bilang mereka masalah.”

“Tapi kamu bertingkah seolah mereka masalah.”

Dia tidak menjawab.

Aku menurunkan pandangan ke wajah Alina yang perlahan mulai tenang dalam pelukanku.

Lalu aku berkata pelan,

“Aku cuma minta kamu mencuci botol.”

Arga mengambil tasnya.

Kemudian dia mengucapkan kalimat yang sampai sekarang masih bisa kuingat dengan sangat jelas.

“Kamu yang ingin jadi ibu, Nad. Jadi ya bertindaklah seperti seorang ibu.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Aku menatapnya.

Tidak menangis.

Tidak berteriak.

Tidak memohon.

Aku hanya berdiri sambil menggendong putri kami.

Yang paling menyakitkan bukan sekadar kata-katanya.

Kami berdua yang menginginkan anak.

Kami berdua yang menunggu.

Kami berdua yang pernah duduk di ruang dokter sambil berharap mendapat kabar baik.

Kami berdua yang menangis bahagia ketika mengetahui ada dua detak jantung kecil.

Tapi sekarang, ketika menjadi orang tua tidak lagi terasa indah dan mudah, semuanya tiba-tiba menjadi tanggung jawabku.

Aku menarik napas.

“Baik.”

Arga tampak sedikit terkejut.

Mungkin dia mengira aku akan bertengkar.

Mungkin dia mengira aku akan memintanya membatalkan perjalanan.

Aku tidak melakukan keduanya.

Keesokan paginya, Arga pergi.

Dia mencium kening kedua bayi kami, mengambil tasnya, lalu berjalan keluar.

Beberapa menit kemudian aku mendengar mobilnya meninggalkan halaman.

Aku berdiri di balik jendela sambil menggendong Alya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku tidak merasa sedih melihat suamiku pergi.

Aku justru merasa pikiranku menjadi sangat jernih.

Empat hari berikutnya memang berat.

Sangat berat.

Aku hampir tidak tidur.

Ada malam ketika kedua bayi menangis bersamaan dan aku duduk di lantai kamar sambil memeluk mereka bergantian.

Tapi sesuatu yang aneh terjadi.

Tanpa Arga di rumah, aku justru merasa lebih tenang.

Tidak ada suara mengeluh ketika bayi menangis.

Tidak ada tatapan kesal ketika melihat botol di wastafel.

Tidak ada seseorang yang membuatku merasa bersalah karena rumah tidak sempurna.

Aku hanya mengurus anak-anakku.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak berani kuakui.

Aku sudah menjalani hidup seperti ibu tunggal.

Bedanya, selama ini aku masih memasak makan malam untuk seorang pria dewasa, mencuci pakaiannya, membereskan barang-barangnya, dan terus mencoba membuatnya merasa nyaman.

Kesadaran itu membuatku mengambil keputusan.

Aku menelepon seseorang.

Kemudian aku membuka sebuah map berisi dokumen yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah kusentuh.

Aku memeriksa rekeningku.

Aku membuat beberapa panggilan.

Dan sebelum Arga pulang, aku memastikan semuanya sudah selesai.

Empat hari kemudian, menjelang sore, aku mendengar suara mobilnya berhenti di depan rumah.

Aku sedang duduk di ruang keluarga.

Alya dan Alina tertidur dengan tenang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah terasa damai.

Kunci berputar di pintu depan.

Arga masuk sambil membawa tas besar dan sebuah kantong oleh-oleh.

“Nad?”

Tidak ada jawaban.

Dia melangkah masuk.

Lalu berhenti.

Benar-benar berhenti.

Tas di tangannya perlahan turun.

Matanya bergerak ke ruang keluarga.

Ke lorong.

Ke dinding.

Kemudian kembali kepadaku.

Wajahnya berubah.

“Apa…”

Dia menelan ludah.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku berdiri perlahan.

Aku tidak marah.

Aku tidak menangis.

Aku hanya menatap suamiku sambil teringat kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum meninggalkan rumah.

Kamu yang ingin jadi ibu, jadi bertindaklah seperti seorang ibu.

Dan selama empat hari dia pergi…

itulah tepatnya yang kulakukan.

Hanya saja Arga tidak pernah membayangkan bahwa menjadi ibu yang baik juga berarti aku akhirnya harus berhenti membiarkan seseorang memperlakukanku seperti ini.

Dan apa yang dia lihat di rumah sore itu hanyalah permulaan.

BAGIAN 2

Arga berdiri di ambang pintu cukup lama sampai aku bisa mendengar dengungan AC di ruang keluarga.

Tas besar yang tadi dibawanya sudah diletakkan di lantai.

Kantong oleh-oleh dari Puncak masih tergantung di tangan kirinya.

Matanya terus bergerak dari satu sudut rumah ke sudut lainnya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena rumah kami kosong.

Bukan juga karena aku sudah membawa pergi semua barang.

Justru sebaliknya.

Semuanya masih ada.

Sofa.

Meja makan.

Televisi.

Foto pernikahan kami.

Bahkan sepatu Arga masih tersusun di rak dekat pintu.

Tapi ada satu perubahan yang langsung dia sadari.

Barang-barangku dan kedua bayi kami sudah tidak berada di kamar utama.

Aku memindahkan semuanya ke kamar belakang yang selama ini kami gunakan sebagai ruang kerja.

Boks bayi.

Pakaian Alya dan Alina.

Tas perlengkapan mereka.

Dokumen-dokumen pentingku.

Semuanya.

Di atas meja makan, ada sebuah map cokelat.

Dan di sampingnya tergeletak kunci mobil cadangan serta sebuah kartu ATM.

Arga menatapku.

“Apa ini?”

Aku menunjuk sofa.

“Duduk dulu.”

“Aku tanya, apa ini?”

“Dan aku bilang duduk dulu.”

Mungkin nada suaraku membuatnya sadar bahwa perempuan yang dia tinggalkan empat hari sebelumnya sudah tidak sama.

Arga akhirnya meletakkan kantong oleh-oleh.

Dia duduk.

Aku tetap berdiri.

“Aku pikir banyak hal selama kamu pergi.”

Dia mengusap wajahnya.

“Nad, kalau ini soal aku pergi empat hari—”

“Bukan.”

Dia terdiam.

“Ini bukan soal empat hari.”

Aku menarik kursi di seberangnya.

“Ini soal enam bulan.”

Ekspresinya berubah.

“Enam bulan apa?”

“Enam bulan sejak Alya dan Alina lahir.”

Aku menatapnya lurus.

“Enam bulan aku bangun hampir setiap malam. Enam bulan aku mengatur jadwal dokter, susu, popok, cucian, obat, imunisasi, dan semua kebutuhan mereka.”

“Nadira, aku kerja.”

“Aku tahu.”

“Aku kerja buat keluarga.”

“Aku juga tahu.”

“Jadi jangan bicara seolah aku tidak melakukan apa-apa.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak pernah bilang kamu tidak melakukan apa-apa.”

Aku berhenti sejenak.

“Aku bilang kamu berhenti menjadi pasangan.”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Aku mengambil sebuah buku kecil dari atas meja.

Sampulnya biru tua.

Aku meletakkannya di depannya.

“Apa ini?”

“Catatan.”

“Catatan apa?”

“Empat hari terakhir.”

Dia mengernyit.

Aku membuka halaman pertama.

“Alya minum susu. Alina bangun. Alya ganti popok. Sterilisasi botol. Cuci pakaian. Tidurkan Alina. Alya bangun lagi.”

Aku membalik halaman.

“Begitu terus.”

Arga menghela napas.

“Nad, semua orang tahu merawat bayi itu capek.”

“Benar.”

Aku menutup buku itu.

“Tapi aku baru menyadari sesuatu.”

“Apa?”

“Selama empat hari kamu pergi, pekerjaanku tidak bertambah.”

Dia menatapku.

“Justru berkurang.”

Wajahnya menegang.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak perlu menyiapkan makan malam untukmu.”

“Aku tidak perlu mencuci pakaian kerjamu.”

“Aku tidak perlu mencari kaus kaki yang kamu taruh sembarangan.”

“Aku tidak perlu menjaga bayi tetap diam karena kamu bilang kepalamu sakit.”

“Aku tidak perlu meminta maaf karena rumah berantakan.”

Aku menatapnya.

“Dan yang paling mengejutkan, aku tidak perlu merasa gagal setiap hari.”

Arga menunduk.

Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung membela diri.

Tapi aku belum selesai.

Aku menarik map cokelat itu.

“Aku juga memeriksa rekening kita.”

Kepalanya langsung terangkat.

“Nadira.”

Ada sesuatu dalam nada suaranya.

Bukan marah.

Panik.

Aku menangkapnya.

Dan saat itulah aku tahu bahwa keputusan membuka rekening bersama kami adalah keputusan yang tepat.

“Ada yang ingin kamu jelaskan?”

“Jelaskan apa?”

Aku mengeluarkan beberapa lembar cetakan transaksi.

“Dua juta delapan ratus.”

Aku meletakkan lembar pertama.

“Empat juta.”

Lembar kedua.

“Tiga juta lima ratus.”

Lembar ketiga.

“Lima juta.”

Aku menatapnya.

“Total hampir dua puluh juta dalam beberapa bulan.”

Arga diam.

“Semua ditransfer ke rekening yang sama.”

Dia mengambil kertas itu.

Tangannya mulai gelisah.

“Itu urusan kantor.”

“Jangan bohong.”

“Nad—”

“Nama rekeningnya perempuan.”

Dia membeku.

Ruangan mendadak terasa berbeda.

Aku tidak tahu apakah aku siap mendengar jawabannya.

Selama empat hari itu, pikiranku sudah membayangkan berbagai kemungkinan.

Perselingkuhan.

Utang.

Judi.

Bisnis rahasia.

Apa pun.

Aku sudah mempersiapkan diri untuk yang terburuk.

“Siapa Maya Prameswari?”

Arga menutup mata.

Beberapa detik.

Kemudian dia berkata pelan,

“Adikku.”

Aku terdiam.

“Adik?”

“Iya.”

“Kamu tidak punya adik.”

“Itu yang kamu tahu.”

Kalimat itu membuatku lebih bingung daripada sebelumnya.

Arga menatap lantai.

“Ayahku pernah menikah sebelum menikah dengan Mama.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Pernikahan itu cuma sebentar. Mereka punya seorang anak perempuan. Setelah bercerai, anak itu ikut ibunya. Keluarga kami hampir tidak pernah membicarakannya.”

“Kenapa kamu mengirim uang kepadanya?”

Arga mengusap wajahnya.

“Dia kehilangan pekerjaan.”

“Dan?”

“Anaknya butuh biaya sekolah.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Jadi selama aku menghitung harga popok dan susu, kamu diam-diam mengirim jutaan rupiah setiap bulan kepada seseorang yang bahkan tidak pernah kamu ceritakan kepadaku?”

“Aku mau cerita.”

“Kapan?”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap transaksi terakhir.

Tanggalnya membuat dadaku sesak.

Transfer terbesar dilakukan dua hari sebelum Arga pergi ke Puncak.

“Lima juta ini?”

Arga terdiam lagi.

“Untuk apa?”

“Kontrakannya.”

Aku berdiri.

Bukan karena marah.

Aku hanya perlu bergerak supaya tidak menangis.

“Aku tidak marah karena kamu membantu adikmu.”

Arga menatapku.

“Aku marah karena kamu membuat keputusan menggunakan uang keluarga tanpa bicara kepadaku.”

“Nad—”

“Dan setelah itu kamu pulang ke rumah, melihat istrimu kelelahan mengurus dua bayi, lalu mengatakan kamu butuh istirahat.”

Mataku mulai panas.

“Aku bahkan merasa bersalah setiap kali membeli kopi.”

Arga menunduk.

“Aku tidak tahu kamu merasa seperti itu.”

“Itulah masalahnya.”

Aku mengusap air mata yang akhirnya jatuh.

“Kamu tidak tahu.”

Aku menunjuk kamar bayi.

“Kamu tidak tahu kapan Alya terakhir demam.”

“Kamu tidak tahu Alina harus ganti ukuran popok.”

“Kamu tidak tahu aku pernah menangis di kamar mandi karena terlalu lelah.”

Suaraku pecah.

“Karena kamu tidak pernah bertanya.”

Arga tidak membela diri lagi.

Dia hanya duduk.

Lalu tiba-tiba dia berkata,

“Aku tidak pergi ke Puncak.”

Aku berhenti.

“Apa?”

Dia menatapku.

“Aku tidak pergi mancing.”

Jantungku terasa jatuh.

“Lalu kamu pergi ke mana?”

Arga menelan ludah.

“Bandung.”

Aku menatapnya lama.

“Maya tinggal di Bandung.”

Saat itu aku yakin semua ketakutanku benar.

Aku mengambil napas.

“Jadi kamu menghabiskan empat hari bersamanya?”

“Iya.”

Aku menutup mata.

Namun Arga cepat-cepat melanjutkan.

“Bukan seperti yang kamu pikir.”

“Jangan.”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Aku sudah cukup mendengar.”

“Dia adikku.”

“Yang tidak pernah kamu ceritakan selama tujuh tahun pernikahan?”

“Iya.”

Aku meraih map.

“Kalau begitu kita sudah selesai.”

“Nadira.”

Aku berjalan menuju kamar.

Lalu suara Arga menghentikanku.

“Aku pergi ke Bandung karena ayahku meninggal.”

Aku membeku.

Perlahan aku menoleh.

Arga menangis.

Itu pertama kalinya aku melihatnya menangis sejak Alya dan Alina lahir.

“Apa?”

“Ayah kandungku.”

Aku merasa seluruh kemarahanku mendadak kehilangan arah.

Ayah yang selama ini kukenal sebagai ayah Arga masih hidup.

Dan saat itulah aku memahami bahwa ada bagian besar dari kehidupan suamiku yang tidak pernah kuketahui.

Arga duduk kembali.

Lalu menceritakan semuanya.

Ketika masih kecil, dia mengetahui bahwa lelaki yang membesarkannya bukan ayah biologisnya.

Ibunya pernah memiliki hubungan sebelum menikah lagi.

Ayah kandung Arga kemudian membangun keluarga lain.

Maya adalah putrinya dari pernikahan berikutnya.

Selama bertahun-tahun Arga menyimpan rahasia itu.

Bukan karena dia membenci Maya.

Justru sebaliknya.

Diam-diam mereka masih berhubungan.

“Ayah sakit beberapa bulan terakhir,” katanya.

“Kenapa kamu tidak cerita kepadaku?”

“Aku tidak tahu bagaimana caranya.”

“Kamu tinggal bersamaku tujuh tahun.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu pikir berbohong lebih mudah?”

Dia mengangguk kecil.

“Mungkin.”

Jawaban itu menyakitkan karena jujur.

“Tapi kenapa bilang pergi mancing?”

Arga menatapku.

“Karena aku pengecut.”

Aku tidak menyangka dia akan mengatakannya.

“Aku takut kamu marah soal uang. Aku takut harus menjelaskan semuanya. Aku juga marah pada keadaan di rumah.”

Dia menunduk.

“Jadi aku memilih alasan paling mudah.”

“Meninggalkan aku dengan dua bayi?”

“Iya.”

Dia menutup wajahnya.

“Dan kalimat yang aku bilang malam itu…”

Dia berhenti.

“Aku menyesal sejak keluar dari rumah.”

Aku diam.

“Tapi menyesal tidak membuatmu pulang, Ga.”

“Aku tahu.”

“Menyesal juga tidak membuat empat hari itu hilang.”

“Aku tahu.”

Kami terdiam lama.

Lalu terdengar tangisan kecil dari kamar.

Aku refleks berdiri.

Tapi kali ini Arga berdiri lebih dulu.

“Biar aku.”

Aku menatapnya.

Dia berjalan ke kamar.

Beberapa menit kemudian, dia keluar menggendong Alina.

Gerakannya canggung.

Sangat canggung.

Dia bahkan salah memasang kain sendawa di bahunya.

Biasanya aku akan langsung membetulkan.

Kali ini tidak.

Aku membiarkannya belajar.

Alina menangis semakin keras.

Arga mulai panik.

“Nad, kenapa dia—”

“Cari tahu.”

Dia menatapku.

Aku tidak mengatakan itu dengan kasar.

Aku hanya tidak menyelamatkannya.

Arga memeriksa popok.

Bukan itu.

Dia mencoba mengayun.

Bukan.

Kemudian dia melihat jam dan akhirnya menyadari waktunya susu.

Dia mengambil botol.

Menghangatkannya.

Menguji suhunya.

Lalu duduk sambil memberi susu kepada putrinya.

Perlahan Alina tenang.

Aku berdiri di pintu.

Dan sesuatu yang aneh terjadi.

Arga mulai menangis lagi.

Dia menatap wajah kecil Alina.

“Aku bahkan tidak tahu jadwal makan anakku sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Malam itu kami tidak berdamai.

Aku juga tidak memaafkannya.

Karena kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu.

Satu permintaan maaf tidak menghapus enam bulan.

Satu tangisan tidak memperbaiki pernikahan.

Dan satu rahasia yang akhirnya dibuka tidak otomatis mengembalikan kepercayaan.

Aku menunjukkan dokumen terakhir di dalam map cokelat.

Itulah dokumen yang sebenarnya membuat Arga terdiam ketika masuk.

Bukan surat cerai.

Bukan tiket pesawat.

Bukan surat penjualan rumah.

Itu adalah surat konfirmasi dari perusahaan tempatku dulu bekerja.

Aku akan kembali bekerja tiga bulan lagi.

Tidak penuh waktu.

Tiga hari seminggu.

Dan aku sudah menggunakan sebagian tabunganku sendiri untuk membayar pengasuh profesional pada hari-hari tersebut.

Arga menatap dokumen itu.

“Kamu kembali kerja?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku tersenyum kecil.

“Karena aku baru sadar aku kehilangan diriku sendiri.”

Sebelum melahirkan, aku bekerja sebagai analis keuangan.

Aku menyukai pekerjaanku.

Tapi ketika kami mengetahui akan memiliki anak kembar, Arga dan aku sepakat aku mengambil cuti panjang.

Entah kapan keputusan sementara itu berubah menjadi asumsi bahwa seluruh rumah adalah tanggung jawabku.

“Aku tetap ibu mereka,” kataku.

“Tapi aku juga Nadira.”

Arga mengangguk.

“Aku tahu.”

“Belum. Tapi kamu akan belajar.”

Kemudian aku memberinya selembar kertas lain.

Bukan dokumen hukum.

Sebuah jadwal.

Hari Senin dan Kamis malam, Arga bertanggung jawab penuh terhadap rutinitas bayi.

Sabtu pagi, aku punya waktu sendiri.

Semua pengeluaran di atas jumlah tertentu dari rekening bersama harus dibicarakan.

Tidak ada lagi perjalanan mendadak.

Tidak ada lagi rahasia keuangan.

Dan kalau dia menolak?

Aku sudah menyiapkan rekening pribadi dan rencana tempat tinggal sementara bersama kedua anakku.

Arga membaca semuanya.

“Ini ultimatum?”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Ini batas.”

Dia menatapku.

“Apa bedanya?”

“Ultimatum mencoba mengendalikanmu.”

Aku menunjuk kertas itu.

“Batas memberitahumu apa yang akan kulakukan kalau keadaan ini terus terjadi.”

Arga terdiam cukup lama.

Kemudian dia mengambil pena.

“Aku setuju.”

Aku menahan tangannya.

“Jangan tanda tangan kalau kamu cuma takut aku pergi.”

Dia menatapku.

“Kalau begitu kenapa?”

“Lakukan kalau kamu benar-benar ingin menjadi ayah dan pasangan.”

Arga meletakkan pena.

Dia tidak menandatangani.

Sebaliknya, dia berkata,

“Boleh aku mulai malam ini?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menunjuk ke dapur.

Masih ada enam botol susu kotor di wastafel.

Arga tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku ikut tertawa.

Tapi kisah kami tidak berubah dalam semalam.

Minggu pertama kacau.

Arga pernah memasang popok terbalik.

Dia lupa membawa baju cadangan saat kami pergi kontrol.

Dia pernah menghabiskan hampir empat puluh menit mencoba menidurkan Alya sebelum akhirnya menyadari putrinya hanya lapar.

Tapi perlahan sesuatu berubah.

Dia mulai pulang dan langsung bertanya,

“Aku pegang siapa?”

Bukan,

“Kenapa rumah berantakan?”

Dia mulai hafal botol mana milik Alya.

Dia tahu Alina lebih mudah tidur kalau digendong sambil berjalan.

Dia memasukkan jadwal imunisasi ke kalender ponselnya.

Dan suatu Sabtu pagi, aku terbangun setelah tidur hampir tujuh jam.

Aku panik.

Aku berlari keluar kamar.

Arga tertidur di sofa.

Alya berada di boks.

Alina juga.

Di meja ada dua botol kosong.

Dan di dekat wastafel ada secarik kertas.

Tulisan tangan Arga.

Mereka sudah minum. Tidur lagi. Aku bisa mengurusnya.

Aku berdiri di dapur sambil memegang kertas itu.

Dan menangis.

Bukan karena semuanya sudah sempurna.

Tapi karena untuk pertama kalinya sejak menjadi ibu, seseorang mengatakan kepadaku bahwa aku boleh beristirahat.

Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya bertemu Maya.

Dia datang dari Bandung.

Aku gugup.

Ternyata dia juga.

Dia membawa dua boneka kecil untuk Alya dan Alina.

Sebelum pulang, Maya menghampiriku.

“Mbak Nadira.”

“Iya?”

Dia mengeluarkan sebuah amplop.

Aku mengernyit.

“Apa ini?”

“Uang yang Mas Arga kirim.”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Tolong.”

Dia menatapku.

“Aku sudah dapat pekerjaan lagi. Aku cicil sedikit-sedikit.”

Aku tidak mengambilnya.

“Maya, aku tidak pernah marah karena Arga membantu kamu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku tahu.”

“Aku marah karena dia merasa harus menyembunyikanmu.”

Maya terdiam.

Kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Mungkin karena sejak kecil Mas Arga belajar kalau keluarga itu sesuatu yang harus disembunyikan kalau terlalu rumit.”

Aku menatap Arga yang sedang duduk di lantai bersama kedua putrinya.

Dan tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Aku selama ini berpikir cerita ini tentang suamiku yang egois.

Sebagian memang benar.

Dia telah bersikap egois.

Dia menyakitiku.

Dia meninggalkanku ketika aku sangat membutuhkannya.

Tapi di balik semua itu ada seorang lelaki yang sejak kecil belajar menghindari percakapan sulit.

Dan sekarang dia harus belajar cara berbeda.

Bukan hanya untukku.

Untuk kedua putrinya.

Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama Alya dan Alina, kami mengadakan acara sederhana di rumah.

Tidak ada pesta mewah.

Hanya keluarga dekat.

Kue kecil.

Balon.

Dan dua bayi yang lebih tertarik memainkan kardus daripada hadiah.

Aku berdiri di dapur ketika Arga menghampiriku.

Dia sedang membawa dua botol susu.

“Biar aku cuci.”

Aku menatapnya.

Lalu tertawa.

“Apa?”

“Kamu ingat?”

Dia diam sebentar.

Kemudian wajahnya berubah.

Dia ingat.

Semuanya bermula dari dua botol susu kotor.

Arga meletakkannya di wastafel.

“Nad.”

“Hmm?”

“Aku masih malu kalau ingat malam itu.”

“Bagus.”

Dia tertawa.

Kemudian menjadi serius.

“Aku pernah bilang kamu yang ingin jadi ibu, jadi kamu harus bertindak seperti ibu.”

Aku menatapnya.

Arga memandang kedua putri kami.

“Aku salah.”

Dia menarik napas.

“Kita berdua yang ingin menjadi orang tua.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu tidak pernah seharusnya melakukannya sendirian.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi air mataku langsung jatuh.

Karena ternyata selama ini itulah yang ingin kudengar.

Bukan hadiah.

Bukan bunga.

Bukan permintaan maaf besar.

Hanya pengakuan bahwa anak-anak kami adalah tanggung jawab kami berdua.

Aku memegang tangannya.

Dan mungkin kalian mengira akhir cerita ini adalah aku memaafkan Arga.

Bukan.

Karena sebenarnya aku tidak pernah memaafkannya dalam satu momen tertentu.

Kepercayaan kami kembali sedikit demi sedikit.

Lewat botol susu yang dicuci tanpa diminta.

Lewat malam-malam ketika dia bangun lebih dulu.

Lewat laporan rekening yang tidak lagi menyimpan rahasia.

Lewat hari Sabtu ketika dia mendorongku keluar rumah dan berkata,

“Pergi minum kopi. Aku sama anak-anak.”

Lewat percakapan-percakapan sulit yang dulu selalu dia hindari.

Dan ada satu hal terakhir yang baru kuketahui jauh setelah semuanya berubah.

Suatu malam aku menemukan buku biru yang dulu kubuat selama empat hari Arga pergi.

Aku membukanya.

Di halaman terakhir ada tulisan yang bukan milikku.

Tulisan Arga.

Ternyata dia menulisnya beberapa bulan sebelumnya.

Hanya satu paragraf.

“Hari ketika aku pulang dan berhenti di depan pintu, aku mengira Nadira sedang menghancurkan keluarga kami. Baru kemudian aku sadar, dia justru sedang memberi keluarga ini kesempatan terakhir untuk menjadi keluarga yang sebenarnya.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian menutup buku.

Di ruang sebelah, aku mendengar Arga tertawa karena Alya dan Alina sedang berebut boneka.

Aku berjalan ke pintu.

Dan melihat mereka bertiga.

Saat itulah aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kubayangkan pada malam suamiku meninggalkanku sendirian.

Empat hari itu hampir menghancurkan pernikahan kami.

Tapi empat hari itu juga menyelamatkanku.

Karena aku akhirnya mengerti bahwa menjadi ibu bukan berarti menghilang sebagai perempuan.

Menjadi istri bukan berarti harus menerima semuanya dalam diam.

Dan mencintai keluarga bukan berarti terus berkorban sampai tidak ada lagi bagian dari dirimu yang tersisa.

Kadang-kadang, cara menyelamatkan sebuah keluarga bukan dengan bertahan seperti sebelumnya.

Melainkan dengan mengatakan:

“Mulai sekarang, semuanya harus berubah.”

Dan kalau orang di sampingmu benar-benar mencintaimu, dia tidak hanya akan meminta kesempatan kedua.

Dia akan menunjukkan, lewat tindakannya setiap hari, bahwa kesempatan itu tidak kamu berikan dengan sia-sia.