MENJELANG AKHIR TAHUN, SUAMIKU BILANG SEMUA TIKET PESAWAT SUDAH HABIS, JADI KAMI TERPAKSA NAIK KERETA PULANG. AKU SEDANG HAMIL ENAM BULAN, TAPI DIA MENYURUHKU BERDIRI SEMENTARA DIA DAN ADIK PEREMPUANNYA DUDUK NYAMAN DI KELAS EKSEKUTIF SAMBIL TERTAWA, “BERDIRI SAJA, BAGUS BUAT IBU HAMIL!”

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 42 tayangan
MENJELANG AKHIR TAHUN, SUAMIKU BILANG SEMUA TIKET PESAWAT SUDAH HABIS, JADI KAMI TERPAKSA NAIK KERETA PULANG. AKU SEDANG HAMIL ENAM BULAN, TAPI DIA MENYURUHKU BERDIRI SEMENTARA DIA DAN ADIK PEREMPUANNYA DUDUK NYAMAN DI KELAS EKSEKUTIF SAMBIL TERTAWA, “BERDIRI SAJA, BAGUS BUAT IBU HAMIL!”
Indeks

MENJELANG AKHIR TAHUN, SUAMIKU BILANG SEMUA TIKET PESAWAT SUDAH HABIS, JADI KAMI TERPAKSA NAIK KERETA PULANG. AKU SEDANG HAMIL ENAM BULAN, TAPI DIA MENYURUHKU BERDIRI SEMENTARA DIA DAN ADIK PEREMPUANNYA DUDUK NYAMAN DI KELAS EKSEKUTIF SAMBIL TERTAWA, “BERDIRI SAJA, BAGUS BUAT IBU HAMIL!”

Aku hanya tersenyum.

Begitu kereta berhenti di stasiun pertama, aku turun membawa tasku dan tidak pernah naik kembali.

Saat mereka akhirnya sampai di rumah keluarga suamiku, wajah mereka langsung berubah ketika melihat siapa yang sudah menunggu di sana…

MENJELANG AKHIR TAHUN, SUAMIKU BILANG SEMUA TIKET PESAWAT SUDAH HABIS, JADI KAMI TERPAKSA NAIK KERETA PULANG. AKU SEDANG HAMIL ENAM BULAN, TAPI DIA MENYURUHKU BERDIRI SEMENTARA DIA DAN ADIK PEREMPUANNYA DUDUK NYAMAN DI KELAS EKSEKUTIF SAMBIL TERTAWA, “BERDIRI SAJA, BAGUS BUAT IBU HAMIL!”

BAGIAN 1

“Kamu berdiri saja, Nad.”

Suamiku, Arga, mengatakannya dengan santai di peron Stasiun Pasar Senen yang penuh sesak menjelang libur akhir tahun.

“Kamu kan lagi hamil. Anggap saja olahraga ringan.”

Aku menatap wajahnya beberapa detik, mencoba memastikan bahwa laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama hampir enam tahun itu benar-benar serius.

Dia serius.

Di tangannya ada dua tiket kelas eksekutif untuk perjalanan kami menuju Surabaya.

Dua tiket.

Padahal kami bertiga.

Aku sedang hamil enam bulan.

Dan tiket kedua bukan untukku.

Tiket itu untuk adik perempuan Arga, Citra.

Citra berdiri di sebelah kakaknya dengan mantel tipis bermerek, tas mahal menggantung di bahunya, dan sebuah koper kecil di samping kakinya.

“Aduh, Nadira, sebenarnya aku nggak enak banget,” katanya dengan suara manis.

Namun senyum kecil di sudut bibirnya mengatakan sesuatu yang berbeda.

“Tapi kamu tahu sendiri aku gampang pusing kalau perjalanan jauh. Kalau aku nggak dapat tempat nyaman, nanti bisa mual sepanjang jalan.”

Aku menatapnya.

Lalu menatap Arga.

Beberapa hari sebelumnya, Arga mengatakan bahwa semua penerbangan menjelang liburan sudah penuh atau harganya tidak masuk akal.

Dia bilang satu-satunya pilihan yang masih tersedia adalah kereta.

Aku percaya.

Bahkan ketika dia mengatakan pemesanan tiket sangat sulit karena musim liburan, aku tetap percaya.

Sampai kami tiba di stasiun dan aku melihat dua tiket kelas eksekutif di tangannya.

“Kalau aku?” tanyaku.

Arga mengangkat bahu.

“Sudah habis.”

“Jadi aku duduk di mana?”

Dia menjawab tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Ya cari tempat kosong dulu. Kalau nggak ada, berdiri sebentar juga nggak apa-apa.”

Aku mengira dia bercanda.

Ternyata tidak.

“Arga, aku hamil enam bulan.”

“Aku tahu.”

“Dokter bilang aku jangan terlalu lama berdiri.”

Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi kesal.

“Nadira, jangan mulai bikin drama di stasiun.”

Citra memalingkan wajah, seolah berusaha menyembunyikan senyum.

Arga mendekat kepadaku.

“Kita cuma perlu sampai Surabaya. Nanti kalau ada kursi kosong, kamu duduk. Masa masalah kecil begini saja harus dibesar-besarkan?”

Masalah kecil.

Aku mengusap perutku.

Putriku bergerak pelan di dalam sana.

Anehnya, aku tidak marah.

Tidak menangis.

Tidak membentak.

Aku hanya mengangguk.

“Baik.”

Arga tampak lega.

Seolah dia baru saja memenangkan sesuatu.

Dia mengambil koper Citra dan membawanya menuju gerbong mereka.

Koperku?

Tetap berada di samping kakiku.

“Ketemu nanti, ya,” kata Citra.

Lalu dia tertawa kecil.

“Jangan berdiri terus, Nad. Nanti betisnya makin besar.”

Arga ikut tertawa.

Aku tersenyum.

Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya pernikahanku dengan Arga sudah berakhir jauh sebelum kereta itu meninggalkan Jakarta.

Aku hanya belum memberitahunya.

Kereta mulai bergerak.

Arga dan Citra masuk ke gerbong eksekutif mereka yang hangat dan nyaman.

Aku berdiri dekat sambungan gerbong sambil memegang pegangan.

Setiap kali kereta bergoyang, satu tanganku otomatis melindungi perut.

Aku memperhatikan orang-orang yang duduk bersama keluarga mereka.

Seorang ibu membagi makanan dengan anaknya.

Seorang suami membantu istrinya menyimpan tas.

Seorang lelaki tua bahkan menawarkan tempat duduknya kepadaku.

Aku menolak dengan halus karena dia sendiri tampak kesulitan berdiri.

Saat itulah aku menyadari sesuatu yang terasa sangat menyakitkan.

Orang asing di kereta itu lebih peduli pada kehamilanku dibandingkan suamiku sendiri.

Ponselku bergetar.

Pesan WhatsApp dari Arga.

Ga:

Nad, tadi aku lupa beli makanan.

Aku membaca pesan berikutnya.

Pas berhenti nanti, turun sebentar ya. Belikan aku nasi ayam atau apa saja yang hangat.

Lalu satu pesan lagi masuk.

Citra mau kopi juga.

Aku menatap layar.

Belum selesai.

Kami mau tidur dulu. Jangan telepon.

Beberapa detik aku hanya diam.

Kemudian aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Entah kenapa, setelah bertahun-tahun menahan kecewa, kemarahan, penghinaan kecil, dan permintaan yang selalu harus kuturuti, sesuatu di dalam diriku akhirnya terasa putus.

Arga menyuruh istrinya yang sedang hamil berdiri.

Memberikan tempat nyaman kepada adiknya.

Lalu meminta istrinya turun membeli makanan untuk mereka.

Dan dia benar-benar yakin aku akan menurut.

Aku membuka tote bag yang sejak tadi tidak pernah kulepaskan.

Di dalamnya ada dompet, paspor, charger, sebuah map berwarna cokelat, dan amplop tebal yang sudah kusimpan selama hampir dua minggu.

Tanganku menyentuh amplop itu.

Aku sudah tahu tentang Arga.

Aku tahu jauh lebih banyak daripada yang dia bayangkan.

Semuanya bermula ketika aku menemukan tagihan hotel di Bandung.

Arga mengatakan saat itu dia sedang menghadiri pertemuan dengan klien di Semarang.

Aku tidak langsung menuduhnya.

Aku memeriksa rekening kami.

Lalu menemukan pembayaran restoran.

Hotel.

Hadiah.

Semuanya terjadi pada hari-hari ketika Arga mengatakan sedang melakukan perjalanan kerja.

Awalnya aku takut aku hanya salah paham.

Jadi aku mencari kepastian.

Dan akhirnya aku mendapatkannya.

Foto.

Bukan foto buram.

Bukan dugaan.

Bukan tangkapan layar yang bisa dibantah.

Foto-foto jelas Arga bersama seorang perempuan.

Mereka makan malam bersama.

Masuk hotel bersama.

Dan pada satu foto, tangan Arga berada di pinggang perempuan itu sementara perempuan tersebut mencium pipinya.

Aku mengenal perempuan itu.

Namanya Selma.

Salah satu rekan bisnis keluarga Arga.

Yang lebih menyakitkan, beberapa bulan sebelumnya aku pernah bertemu dengannya dalam acara ulang tahun ibu mertuaku.

Selma tersenyum kepadaku malam itu.

Dia bahkan menyentuh perutku dan berkata,

“Wah, sebentar lagi jadi ibu. Selamat ya.”

Saat itu aku belum tahu bahwa dia sedang tidur dengan suamiku.

Aku tidak langsung menghadapi Arga.

Aku menunggu.

Aku mengumpulkan semuanya.

Bukti transfer.

Reservasi hotel.

Pesan yang berhasil kudapat setelah Arga meninggalkan akun WhatsApp Web-nya terbuka di laptop rumah.

Dan foto-foto yang akhirnya dikirim seseorang kepadaku secara anonim.

Aku mencetak semuanya.

Lalu memasukkannya ke dalam amplop.

Rencanaku awalnya sederhana.

Aku akan menunggu sampai kami tiba di Surabaya.

Keluarga besar Arga selalu berkumpul di rumah orang tuanya menjelang tahun baru.

Ayahnya, Pak Surya, sangat menjunjung tinggi citra keluarga.

Ibunya, Bu Ratna, selama bertahun-tahun selalu mengatakan kepadaku,

“Kalau ada masalah rumah tangga, perempuan harus lebih sabar.”

Aku ingin melihat apakah dia masih akan mengatakan itu setelah melihat bukti tentang putranya sendiri.

Namun Arga mengubah rencanaku.

Saat kereta mulai memperlambat laju memasuki pemberhentian berikutnya, aku berdiri tegak.

Pengumuman terdengar dari pengeras suara.

Penumpang mulai bersiap.

Aku mengambil tasku.

Ponselku kembali berbunyi.

Arga.

Jangan lupa kopinya Citra. Tanpa gula.

Aku tersenyum.

Baik, balasku.

Hanya satu kata.

Kereta berhenti.

Pintu terbuka.

Aku turun.

Udara sore terasa dingin dan angin menerpa wajahku.

Aku berjalan beberapa langkah di peron.

Lalu berhenti.

Menoleh ke belakang.

Kereta masih berada di sana.

Di salah satu gerbong itu, suamiku mungkin sedang merebahkan tubuh di kursi nyaman sambil merasa puas karena sekali lagi istrinya menuruti semua perintahnya.

Citra mungkin sedang tertawa sambil memainkan ponsel.

Mereka mengira aku sedang mencari makanan.

Mereka mengira beberapa menit lagi aku akan kembali sambil membawa kopi dan makan malam.

Mereka salah.

Pintu kereta tertutup.

Aku tidak bergerak.

Kereta mulai berjalan.

Perlahan.

Kemudian semakin cepat.

Aku berdiri di peron sambil menyaksikannya menghilang.

Dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku merasa bisa bernapas.

Aku mengeluarkan ponsel.

Ada satu hal yang tidak diketahui Arga.

Aku sebenarnya sudah membeli tiket pesawat sendiri.

Bukan dari Jakarta.

Aku punya rencana cadangan dari kota tempat aku turun.

Masih ada penerbangan menuju Surabaya malam itu.

Dan tiketku sudah terkonfirmasi sejak beberapa hari sebelumnya.

Aku memesan mobil menuju bandara.

Dalam perjalanan, pesan mulai berdatangan.

Ga:

Kamu di mana?

Lalu:

Kereta sudah jalan.

Lalu:

NADIRA???

Aku tidak menjawab.

Telepon masuk.

Aku menolak.

Dia menelepon lagi.

Aku matikan suara ponsel.

Beberapa menit kemudian, Citra mengirim pesan.

Kak Nad, serius kamu ketinggalan?

Aku tersenyum.

Ketinggalan?

Tidak.

Untuk pertama kalinya, justru aku yang memilih pergi.

Ketika sampai di bandara, aku membeli air mineral dan sesuatu untuk dimakan.

Aku duduk dekat jendela sambil mengusap perutku.

“Maaf,” bisikku kepada bayi di dalam kandunganku.

“Seharusnya Mama melakukan ini lebih cepat.”

Penerbanganku berangkat tanpa masalah.

Ketika pesawat mendarat di Surabaya, Arga dan Citra masih berada berjam-jam jauhnya di atas rel.

Aku langsung menuju rumah mertuaku.

Bu Ratna membuka pintu.

Begitu melihatku berdiri sendirian dengan sebuah tas dan perut hamilku, wajahnya berubah.

“Nadira?”

Matanya melihat ke belakangku.

“Arga mana?”

Aku masuk tanpa menjawab.

Pak Surya keluar dari ruang tengah.

“Kok kamu sudah sampai?”

Aku meletakkan tote bag di atas meja makan.

Lalu mengeluarkan amplop cokelat itu.

Bu Ratna menatapnya.

“Apa itu?”

Aku duduk perlahan.

“Pak, Bu… sebelum Arga sampai, ada sesuatu yang perlu kalian lihat.”

Aku membuka amplop.

Foto pertama kuletakkan di meja.

Wajah Bu Ratna langsung pucat.

Foto kedua.

Pak Surya berdiri.

Foto ketiga.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Kemudian aku mengeluarkan bukti transfer dan reservasi hotel.

Tangan Bu Ratna mulai gemetar.

“Nadira…”

Aku menatapnya.

“Masih ada.”

Aku mengeluarkan beberapa lembar percakapan yang sudah kucetak.

Pak Surya membacanya.

Rahangnya mengeras.

Lalu dia bertanya dengan suara rendah,

“Arga tahu kamu punya semua ini?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Pak Surya melihat jam di dinding.

“Dia sampai kapan?”

Aku menatap ponselku.

Puluhan panggilan tak terjawab memenuhi layar.

Aku tersenyum tipis.

“Masih lama.”

Malam itu, aku tidur di kamar tamu rumah mertuaku.

Sementara Arga terus menelepon.

Aku tidak menjawab satu pun.

Keesokan harinya, rumah terasa sunyi.

Terlalu sunyi.

Amplop cokelat itu masih berada di atas meja makan.

Pak Surya sengaja tidak memindahkannya.

Menjelang waktu kedatangan Arga, Bu Ratna duduk di ruang tengah dengan wajah tegang.

Aku berada di kursi dekat jendela.

Tanganku berada di atas perut.

Lalu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Pintu pagar terbuka.

Beberapa detik kemudian, suara Citra terdengar.

“Bu! Kami sampai!”

Pintu depan terbuka.

Arga masuk sambil menarik koper.

Dia terlihat lelah dan kesal.

“Nadira benar-benar—”

Kalimatnya berhenti.

Matanya menemukan aku.

Duduk tenang di ruang tengah.

Wajahnya langsung membeku.

Citra muncul di belakangnya.

Begitu melihatku, dia ikut berhenti.

“Kok…?”

Aku tersenyum.

“Hai.”

Arga menatapku seolah sedang melihat hantu.

“Bagaimana kamu bisa sampai duluan?”

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya, Pak Surya berdiri dari kursinya.

Dia mengambil amplop cokelat dari meja.

Kemudian melemparkannya tepat di depan Arga.

Foto-foto berhamburan di lantai.

Wajah Selma terlihat jelas di salah satunya.

Arga menunduk.

Seluruh warna di wajahnya menghilang.

Bu Ratna berdiri dengan mata berkaca-kaca.

“Arga,” katanya pelan.

“Jelaskan.”

Citra menatap foto-foto itu.

Lalu menatap kakaknya.

“Kak… ini apa?”

Arga tidak menjawab.

Dia hanya menatapku.

Dan dari ekspresinya, aku tahu dia akhirnya mengerti.

Aku tidak turun dari kereta karena tertinggal.

Aku tidak turun untuk membeli makanan.

Aku turun karena perjalanan itu adalah kesempatan terakhir yang kuberikan kepadanya untuk menunjukkan apakah dia masih menganggapku sebagai istrinya.

Dan dia memilih memperlakukanku seperti pelayan.

Yang belum Arga ketahui adalah bahwa foto-foto itu bukan bukti paling buruk yang kubawa.

Di bagian paling bawah amplop masih ada satu dokumen lain.

Dokumen yang belum kutunjukkan kepada siapa pun.

Dokumen yang membuktikan bahwa perselingkuhan itu bukan satu-satunya hal yang dia sembunyikan dariku.

Dan ketika Pak Surya akhirnya menarik lembar terakhir itu keluar dari amplop, tangannya langsung berhenti.

Dia membaca baris pertama.

Kemudian menatap putranya.

“Arga…”

Suaranya berubah.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

BAGIAN 2 — DOKUMEN TERAKHIR YANG MENGUBAH SEGALANYA

Pak Surya membaca lembar terakhir itu sekali lagi.

Kemudian sekali lagi.

Tangannya yang biasanya tenang mulai gemetar.

“Arga…”

Suara ayah mertuaku terdengar begitu pelan sampai ruang tamu yang tadinya penuh ketegangan mendadak terasa semakin sunyi.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Arga tidak langsung menjawab.

Matanya terpaku pada dokumen di tangan ayahnya.

Aku melihat perubahan kecil di wajahnya.

Bukan kebingungan.

Bukan keterkejutan.

Ketakutan.

Dan saat itulah aku mendapat jawaban atas satu pertanyaan yang selama berminggu-minggu menghantuiku.

Arga tahu.

Dia tahu persis dokumen apa itu.

Citra membungkuk mengambil salah satu foto yang berserakan di lantai.

“Ini Selma, kan?”

Arga masih diam.

“Kak,” desaknya, “ini Selma?”

“Citra, jangan ikut campur.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Pak Surya langsung membentak.

“Yang tidak boleh ikut campur itu kamu!”

Aku belum pernah mendengar ayah mertuaku berbicara sekeras itu.

Arga menatap ayahnya.

Pak Surya mengangkat dokumen tersebut.

“Pinjaman delapan ratus lima puluh juta rupiah?”

Bu Ratna menutup mulutnya.

Citra membeku.

Pak Surya melanjutkan membaca.

“Dengan Nadira tercantum sebagai penjamin?”

Arga akhirnya menatapku.

“Nad…”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

Hanya satu kata.

Dia langsung berhenti.

Aku bangkit perlahan dari kursi.

Bayi di dalam perutku bergerak kecil.

Aku mengusapnya, lalu menatap keluarga yang selama hampir enam tahun kusebut keluargaku sendiri.

“Aku menemukan dokumen itu sebelas hari lalu.”

Bu Ratna memandangku.

“Bagaimana?”

“Sebuah perusahaan pembiayaan menelepon.”

Aku masih mengingat panggilan itu dengan sangat jelas.

Saat itu aku sedang membeli kebutuhan bayi di sebuah toko di Jakarta Selatan.

Nomor tidak dikenal masuk.

Seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai petugas verifikasi.

Dia meminta konfirmasi tentang pengajuan fasilitas pembiayaan atas nama sebuah perusahaan bernama Asteria Hospitality Indonesia.

Aku hampir menutup telepon karena mengira itu penipuan.

Lalu perempuan tersebut menyebut namaku lengkap.

Nomor identitasku.

Dan alamat rumah kami.

Aku langsung berhenti berjalan.

“Apa hubungan saya dengan perusahaan itu?” tanyaku.

Perempuan tersebut menjawab,

“Ibu tercantum sebagai penjamin pasangan dari Bapak Arga Pratama.”

Dunia seperti berhenti beberapa detik.

Aku tidak pernah mendengar nama perusahaan itu.

Tidak pernah menandatangani pinjaman apa pun.

Tidak pernah menyetujui menjadi penjamin.

Aku meminta salinan dokumennya.

Awalnya mereka menolak.

Aku datang langsung ke kantor mereka keesokan harinya membawa identitas dan meminta pemeriksaan resmi karena aku merasa dataku telah digunakan tanpa persetujuan.

Dari sanalah semuanya mulai terbuka.

Di dokumen tersebut ada salinan identitasku.

Ada data pernikahan kami.

Dan ada sesuatu yang tampak seperti tanda tanganku.

Hampir sempurna.

Hampir.

Tapi aku tahu itu bukan tanda tanganku.

Aku sudah menyerahkan masalah itu kepada pengacara sebelum perjalanan kami dimulai.

Itulah alasan sebenarnya aku membawa amplop tersebut.

Foto perselingkuhan hanyalah satu bagian.

Dokumen pinjaman adalah bagian yang jauh lebih serius.

Pak Surya menatap putranya.

“Kamu memalsukan tanda tangan istrimu?”

“Ayah, dengarkan dulu.”

“Jawab!”

Arga mengembuskan napas keras.

“Itu cuma sementara.”

Aku hampir tertawa.

“Delapan ratus lima puluh juta rupiah itu sementara?”

“Aku akan melunasinya.”

“Dengan apa?”

“Aku punya rencana.”

“Rencana apa?”

Arga terdiam.

Aku berjalan ke meja dan mengambil salah satu dokumen lain.

“Asteria Hospitality bukan perusahaanmu.”

Wajah Arga semakin pucat.

Aku menatap Selma dalam foto yang tergeletak di lantai.

“Perusahaan itu milik Selma.”

Bu Ratna langsung duduk.

Citra memandang kakaknya dengan mulut terbuka.

Pak Surya perlahan menurunkan dokumen dari tangannya.

Aku melanjutkan.

“Arga tidak cuma berselingkuh dengan Selma.”

Aku menatap suamiku.

“Dia membiayai bisnis perempuan itu.”

“Nadira, cukup.”

“Belum.”

Aku mengambil ponselku.

Ada satu percakapan yang sengaja tidak kucetak.

Aku membukanya.

“Ini pesanmu kepada Selma tiga bulan lalu.”

Arga bergerak satu langkah ke arahku.

Pak Surya langsung berdiri di antara kami.

“Jangan mendekat.”

Arga berhenti.

Aku membaca pesan itu.

“Begitu dana cair, kita bisa mulai renovasi tempat kedua. Setelah semuanya stabil, aku akan urus masalah rumah.”

Ruangan kembali sunyi.

Bu Ratna menatap putranya.

“Masalah rumah?”

Aku menjawab untuknya.

“Yang dia maksud adalah aku.”

Wajah Bu Ratna runtuh.

Untuk pertama kalinya sejak aku menikah dengan Arga, aku tidak melihat seorang ibu yang selalu membela anak laki-lakinya.

Aku melihat seorang perempuan yang akhirnya menyadari bahwa dia tidak mengenal putranya sendiri.

Arga mengusap wajah.

“Nadira, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku tersenyum kecil.

Kalimat paling tua di dunia.

“Kalau begitu jelaskan.”

“Aku memang dekat dengan Selma.”

“Dekat?”

“Aku salah. Oke? Aku mengaku salah.”

Dia menunjuk dokumen di meja.

“Tapi pinjaman itu untuk investasi. Bisnisnya bagus. Aku cuma butuh modal.”

“Kenapa memakai namaku?”

“Karena profil keuanganmu lebih bersih.”

Jawaban itu keluar begitu saja.

Aku bahkan tidak perlu memaksanya.

Pak Surya memejamkan mata.

Citra berbisik,

“Ya Tuhan…”

Arga baru menyadari apa yang dia katakan.

Dia mencoba memperbaikinya.

“Nad, maksudku—”

“Aku tahu maksudmu.”

Selama bertahun-tahun aku selalu mengatur keuanganku dengan hati-hati.

Aku bekerja sebagai konsultan desain interior sebelum hamil.

Aku punya tabungan sendiri.

Aku tidak pernah menunggak cicilan.

Tidak punya utang konsumtif.

Arga tahu itu.

Dan justru karena aku berhati-hati, dia menggunakan namaku.

Bukan sebagai pasangan.

Sebagai aset.

Aku menarik napas.

“Pengacaraku sudah mengirim pemberitahuan resmi kepada perusahaan pembiayaan. Tanda tangan itu sedang diperiksa. Aku juga sudah menyatakan secara tertulis bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan.”

Arga langsung menatapku.

“Kamu melibatkan pengacara?”

“Tentu.”

“Nadira, kamu bisa menghancurkan semuanya!”

Aku memandangnya.

Aneh.

Setelah semua yang terjadi, kalimat itulah yang akhirnya membuatku benar-benar tenang.

“Bukan aku yang menghancurkannya, Ga.”

Aku menunjuk dokumen itu.

“Kamu.”

Arga mulai berjalan mondar-mandir.

“Aku bisa memperbaiki ini.”

Tidak ada yang menjawab.

“Aku akan bicara dengan perusahaan pembiayaan.”

Tetap sunyi.

“Aku bisa menjual mobil.”

Pak Surya akhirnya berkata,

“Mobilmu masih dicicil.”

Arga berhenti.

Aku menoleh kepada ayah mertuaku.

Ternyata dia tahu lebih banyak daripada yang kuduga.

Pak Surya menghela napas.

“Dua bulan lalu dia meminjam uang dariku.”

Aku membeku.

Berapa banyak lagi?

“Berapa?”

“Dua ratus juta.”

Bu Ratna langsung menoleh kepada suaminya.

“Kamu tidak pernah bilang.”

Pak Surya menggeleng.

“Dia bilang untuk menutup masalah proyek.”

Aku menatap Arga.

“Uangnya ke mana?”

Arga tidak menjawab.

Namun Citra tiba-tiba berbicara.

“Ke Bali?”

Semua kepala menoleh kepadanya.

Wajah Citra berubah.

“Aku pernah dengar Selma bicara soal tempat di Bali.”

Arga langsung membentak.

“Citra!”

Adiknya mundur.

“Aku nggak tahu soal semua ini!”

“Diam!”

“Jangan suruh dia diam,” kataku.

Citra menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kesombongan di wajahnya hilang.

Dia tampak takut.

“Aku pikir Selma cuma teman bisnis Kak Arga.”

Aku tidak menjawab.

Citra menelan ludah.

“Waktu itu aku pernah ketemu mereka di sebuah restoran. Kak Arga bilang jangan cerita ke siapa-siapa karena mereka sedang membahas investasi kejutan.”

Bu Ratna memandang putrinya.

“Kamu tahu mereka sering bertemu?”

“Aku nggak tahu mereka selingkuh, Bu.”

“Kenapa kamu tidak cerita kepada Nadira?”

Citra menunduk.

Tidak ada jawaban yang diperlukan.

Karena jawabannya sederhana.

Dalam keluarga itu, aku selalu orang luar.

Mereka melindungi satu sama lain.

Sampai perlindungan itu berubah menjadi kebiasaan menutupi kesalahan.

Aku mengambil tasku.

“Aku mau pergi.”

Arga langsung menatapku.

“Ke mana?”

“Hotel.”

“Kita perlu bicara.”

“Tidak malam ini.”

“Kamu istriku.”

Aku berhenti.

Lalu menatapnya.

“Dan tadi pagi kamu menyuruh istrimu yang hamil enam bulan berdiri di kereta supaya adikmu bisa duduk nyaman.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Lucunya, Ga, perselingkuhanmu bukan alasan terakhir aku pergi.”

Wajahnya menunjukkan kebingungan.

“Pinjaman itu juga bukan.”

“Lalu apa?”

Aku mengusap perut.

“Kereta.”

Dia menatapku.

“Kereta?”

Aku mengangguk.

“Aku sudah tahu semuanya sebelum kita berangkat. Tapi ada bagian bodoh dalam diriku yang masih berharap mungkin masih ada sesuatu yang bisa diselamatkan.”

Mataku mulai panas.

Namun aku tidak menangis.

“Lalu aku melihatmu memberikan kursi kepada Citra. Aku bilang dokter melarangku berdiri terlalu lama. Kamu tidak peduli.”

Arga membuka mulut.

Aku belum selesai.

“Kemudian kamu mengirim pesan menyuruhku turun membeli makanan untuk kalian.”

Aku tersenyum getir.

“Dan saat itulah aku sadar, bahkan kalau Selma tidak pernah ada, pernikahan kita tetap sudah rusak.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak punya jawaban.

Aku meninggalkan rumah malam itu.


Tiga minggu berikutnya terasa seperti hidup milik orang lain.

Aku kembali ke Jakarta dan tinggal sementara di apartemen kecil milik sepupuku di Depok.

Pengacaraku mengurus semuanya.

Aku mengajukan proses perceraian.

Pemeriksaan dokumen menunjukkan adanya ketidaksesuaian tanda tangan dan prosedur verifikasi.

Perusahaan pembiayaan membekukan proses pencairan lanjutan sambil melakukan investigasi.

Karena aku sudah bertindak sebelum dana tambahan dilepas, tanggung jawab yang berusaha ditempelkan kepadaku dapat dipersoalkan melalui jalur resmi.

Tapi kejutan terbesar belum datang.

Selma menghilang.

Bukan secara harfiah.

Dia masih berada di Indonesia.

Namun dia berhenti menjawab telepon Arga.

Kemudian pengacaraku menemukan bahwa beberapa minggu sebelum perjalanan kereta kami, Selma sudah mengajukan perubahan struktur perusahaan.

Nama Arga tidak pernah dimasukkan sebagai pemegang saham.

Tidak satu persen pun.

Semua uang yang dia keluarkan selama berbulan-bulan masuk sebagai pinjaman pribadi dan biaya operasional.

Arga mengira dia sedang membangun masa depan bersama Selma.

Selma ternyata sedang membangun masa depannya sendiri.

Ketika Arga meneleponku setelah mengetahui hal itu, aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

“Nad…”

Suaranya terdengar berbeda.

Tidak ada lagi nada memerintah.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku berdiri di balkon apartemen sambil memandang hujan turun di Depok.

“Tidak semuanya.”

“Aku kehilangan Selma.”

Aku diam.

“Ayah nggak mau bicara denganku. Ibu terus menangis. Perusahaan pembiayaan mengejarku. Aku mungkin harus menjual hampir semua yang kupunya.”

Aku masih diam.

Lalu dia berkata,

“Aku kehilangan kamu.”

Aku menutup mata.

Dulu, kalimat itu mungkin akan menghancurkanku.

Sekarang tidak.

“Tidak, Ga.”

“Apa?”

“Kamu tidak kehilangan aku.”

Aku mengusap perutku.

“Kamu melepaskanku sedikit demi sedikit.”

Dia mulai menangis.

Benar-benar menangis.

“Nadira, aku salah.”

“Iya.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

“Aku akan berubah.”

“Aku harap begitu.”

Dia terdiam.

Mungkin dia mengira aku akan mengatakan kami bisa mencoba lagi.

Aku tidak mengatakannya.

“Berubahlah untuk dirimu sendiri,” kataku. “Dan kalau nanti kamu ingin menjadi ayah yang baik, buktikan kepada anakmu. Bukan kepadaku.”

Aku menutup telepon.


Beberapa bulan kemudian, putriku lahir.

Aku memberinya nama Alya Kirana.

Arga datang ke rumah sakit.

Dia tidak membawa Selma.

Tidak membawa keluarganya.

Tidak membawa alasan.

Hanya sebuket kecil bunga putih.

Dia berdiri di dekat pintu kamar dan bertanya,

“Aku boleh masuk?”

Itu mungkin pertama kalinya dalam bertahun-tahun dia meminta izin sebelum memasuki ruangku.

Aku mengangguk.

Arga mendekati tempat tidur bayi.

Begitu melihat Alya, wajahnya berubah.

Dia menutup mulut dengan tangan.

Air matanya jatuh.

“Dia kecil sekali.”

Aku tersenyum.

“Sehat.”

“Boleh aku gendong?”

Aku menatapnya cukup lama.

Kemudian mengangguk.

Aku memperhatikan Arga menggendong putri kami.

Tangannya gemetar.

“Maaf,” bisiknya.

Aku tidak tahu apakah dia berbicara kepadaku atau kepada Alya.

Mungkin keduanya.

Perceraian kami selesai beberapa waktu setelah itu.

Aku tidak mengambil kembali Arga.

Tapi aku juga tidak menggunakan Alya untuk menghukumnya.

Kami membuat aturan yang jelas.

Semua tentang Alya harus transparan.

Tidak ada keputusan sepihak.

Tidak ada kebohongan.

Tidak ada penggunaan uang atau identitas anak tanpa persetujuan yang diperlukan.

Arga menyetujuinya.

Dan untuk pertama kalinya, dia belajar bahwa menjadi bagian dari hidup seseorang bukanlah hak tanpa batas.

Itu adalah tanggung jawab.


Hampir setahun setelah perjalanan kereta itu, aku kembali ke Surabaya membawa Alya.

Pak Surya mengadakan makan siang kecil.

Bu Ratna menyambutku di depan pintu.

Hubungan kami tidak pernah kembali seperti dulu.

Tapi mungkin itu justru baik.

Sebelum aku pulang, Bu Ratna memanggilku ke dapur.

“Nadira.”

Aku menoleh.

Dia menyerahkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada gelang emas mungil untuk Alya.

“Aku ingin minta maaf.”

Aku diam.

“Bukan hanya karena Arga.”

Matanya berkaca-kaca.

“Karena selama bertahun-tahun aku selalu mengajarimu untuk sabar. Padahal sebenarnya aku sedang mengajarimu menerima sesuatu yang seharusnya tidak kamu terima.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Bu Ratna menunduk.

“Aku dulu juga seperti itu.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum sedih.

“Dulu ibuku selalu bilang istri yang baik harus menjaga rumah tangga apa pun yang terjadi. Jadi aku mengulang kalimat yang sama kepadamu.”

Dia melihat Alya yang tertidur di gendonganku.

“Tolong jangan ajarkan itu kepada dia.”

Aku akhirnya menangis.

Bukan karena Arga.

Bukan karena pernikahanku.

Tapi karena aku tiba-tiba memahami bahwa beberapa luka dalam keluarga tidak dimulai dari satu orang.

Luka itu diwariskan.

Dari ibu kepada anak perempuan.

Dari ayah kepada anak laki-laki.

Dari satu pernikahan kepada pernikahan berikutnya.

Sampai seseorang memutuskan berhenti.

Aku memeluk Bu Ratna.

“Tidak akan.”


Sebelum kembali ke Jakarta, aku menerima pesan dari Citra.

Dia mengirim sebuah foto.

Dua tiket kereta.

Aku mengernyit.

Lalu membaca pesannya.

Kak Nad, aku mau ke Jakarta minggu depan. Aku beli dua kursi. Satu buat aku, satu buat Mama.

Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.

Ternyata nggak susah memastikan semua orang punya tempat duduk.

Aku tertawa.

Benar-benar tertawa kali ini.

Kemudian aku membalas,

Hati-hati di jalan.

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.

Alya tertidur di dadaku.

Di luar jendela mobil, Surabaya perlahan menghilang di belakang kami.

Dan saat itulah aku teringat kembali pada peron itu.

Hari ketika aku berdiri sendirian sambil melihat kereta membawa suamiku pergi.

Dulu aku mengira momen terbesar dalam hidupku adalah ketika aku menemukan foto perselingkuhan.

Ternyata bukan.

Bukan pula ketika aku menemukan tanda tangan palsu.

Bukan ketika aku mengajukan perceraian.

Momen terbesar itu jauh lebih sederhana.

Itu adalah ketika pintu kereta terbuka…

dan aku memilih turun.

Aku tidak tahu persis apa yang menungguku setelah itu.

Aku hanya tahu bahwa aku tidak mau kembali ke tempat yang membuatku merasa kecil.

Orang-orang mungkin mengatakan aku meninggalkan suamiku karena dia berselingkuh.

Sebagian mungkin mengatakan karena uang.

Sebagian lagi mungkin menganggap semuanya bermula dari sebuah kursi kereta.

Tapi bagiku, alasannya lebih sederhana.

Aku pergi ketika akhirnya memahami bahwa cinta tanpa rasa hormat hanyalah alasan yang kita gunakan untuk bertahan terlalu lama.

Dan aku tidak ingin putriku tumbuh melihat ibunya menerima penghinaan lalu menyebutnya kesabaran.

Suatu hari nanti, ketika Alya cukup besar untuk bertanya kenapa ayah dan ibunya tidak tinggal dalam satu rumah, aku tidak akan menceritakan kisah tentang perempuan lain terlebih dahulu.

Aku juga tidak akan memulai dengan utang delapan ratus lima puluh juta rupiah.

Aku akan menceritakan tentang sebuah perjalanan.

Tentang seorang perempuan hamil yang berdiri di dalam kereta sambil memegang perutnya.

Tentang sebuah pintu yang terbuka di stasiun.

Dan tentang bagaimana perempuan itu akhirnya menyadari sesuatu yang sangat sederhana:

Tidak semua orang yang turun dari perjalanan berarti tersesat.

Kadang-kadang…

mereka akhirnya menemukan jalan pulang.

TAMAT.