AKU TERBANGUN DI HOTEL KAMI DI THAILAND DAN MENYADARI SUAMIKU BESERTA KELUARGANYA SUDAH PERGI. MEREKA MEMBAWA PONSEL DAN PASPORKU, LALU MEMBATALKAN TIKET PULANGKU KE INDONESIA.

Avatar penulis
Cerita 04
18 menit baca 49 tayangan
AKU TERBANGUN DI HOTEL KAMI DI THAILAND DAN MENYADARI SUAMIKU BESERTA KELUARGANYA SUDAH PERGI. MEREKA MEMBAWA PONSEL DAN PASPORKU, LALU MEMBATALKAN TIKET PULANGKU KE INDONESIA.
Indeks

AKU TERBANGUN DI HOTEL KAMI DI THAILAND DAN MENYADARI SUAMIKU BESERTA KELUARGANYA SUDAH PERGI. MEREKA MEMBAWA PONSEL DAN PASPORKU, LALU MEMBATALKAN TIKET PULANGKU KE INDONESIA.

Suamiku hanya meninggalkan secarik kertas di meja.

“Urus sendiri bagaimana caramu pulang.”

Tapi tulisan ibu mertuaku jauh lebih menyakitkan.

“Sekarang kita lihat siapa yang akan datang menolongmu.”

Mereka mengira aku benar-benar sendirian.

Yang tidak diketahui suamiku adalah aku memiliki satu kode darurat yang tidak pernah kuceritakan kepadanya.

Dan sekali kode itu dikirimkan, ada beberapa hal yang akan bergerak tanpa membutuhkan ponsel ataupun pasporku.

AKU TERBANGUN DI HOTEL KAMI DI THAILAND DAN MENYADARI SUAMIKU BESERTA KELUARGANYA SUDAH PERGI. MEREKA MEMBAWA PONSEL DAN PASPORKU, LALU MEMBATALKAN TIKET PULANGKU KE INDONESIA.

BAGIAN 1

Aku terbangun di sebuah hotel di Phuket dengan perasaan aneh.

Bukan karena suara kendaraan dari jalan.

Bukan karena cahaya pagi yang menembus sela tirai.

Melainkan karena kamar itu terlalu sunyi.

Aku membuka mata.

Sisi tempat tidur di sebelahku kosong.

“Arga?”

Tidak ada jawaban.

Aku duduk dan melihat ke sekeliling.

Koper suamiku sudah tidak ada.

Tas milik ibu mertuaku juga hilang.

Begitu pula koper Citra, adik perempuan Arga yang ikut bersama kami dalam liburan keluarga ini.

Awalnya aku masih berusaha berpikir positif.

Mungkin mereka sedang sarapan.

Mungkin Arga turun lebih dulu karena harus mengurus kendaraan ke bandara.

Hari itu memang jadwal kami kembali ke Jakarta.

Aku meraih meja kecil di samping tempat tidur untuk mengambil ponsel.

Tanganku menyentuh permukaan meja yang kosong.

Aku berhenti.

Ponselku tidak ada.

Aku memeriksa bawah bantal.

Tidak ada.

Tas tangan.

Tidak ada.

Koper.

Tidak ada.

Jantungku mulai berdegup lebih cepat.

Lalu aku teringat sesuatu.

Pasporku.

Sejak tiba di Thailand, aku selalu menyimpan paspor di dalam kantong tahan air kecil yang kusembunyikan di bagian dalam koper.

Aku langsung turun dari tempat tidur.

Resleting koper kubuka begitu cepat sampai tanganku gemetar.

Baju-bajuku masih ada.

Dompet kecilku masih ada.

Kosmetik.

Sandal.

Semuanya terlihat normal.

Kecuali satu benda.

Kantong tahan air itu sudah hilang.

Aku membongkar seluruh isi koper.

Tidak ada.

Aku memeriksa lemari.

Brankas.

Kamar mandi.

Bahkan tempat sampah.

Tidak ada.

Pasporku hilang.

Saat itulah aku melihat selembar kertas terlipat di atas meja dekat televisi.

Tulisan tangan Arga.

Aku mengenalinya dengan sangat baik setelah tujuh tahun menikah.

Hanya ada satu kalimat.

“Urus sendiri bagaimana caramu pulang.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Aku masih berharap ini lelucon yang sangat buruk.

Kami memang bertengkar malam sebelumnya.

Masalahnya sebenarnya sederhana.

Ibu mertua ingin aku membayar sebagian besar biaya tambahan liburan karena menurutnya penghasilanku lebih stabil daripada Arga.

Aku menolak.

Bu Ratna langsung mengatakan aku terlalu perhitungan terhadap keluarga sendiri.

Arga membelanya.

Citra ikut menyindir.

Aku akhirnya memilih masuk kamar lebih dulu karena tidak ingin pertengkaran menjadi semakin buruk.

Namun tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa mereka akan melakukan ini.

Aku bahkan tidak memakai sandal.

Aku langsung berlari keluar kamar dan menuju lift.

Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di depan meja resepsionis dengan napas tersengal.

Seorang perempuan muda berseragam hotel menatapku dengan ekspresi profesional, tetapi jelas berhati-hati.

“Maaf,” kataku dalam bahasa Inggris, berusaha menjaga suaraku tetap stabil. “Keluarga saya. Suami saya. Apakah mereka sudah turun?”

Resepsionis itu memeriksa komputer.

Kemudian ekspresinya berubah.

“Mrs. Mahendra?”

Aku mengangguk.

“Mr. Mahendra sudah menyelesaikan proses check-out pagi tadi.”

Aku membeku.

“Jam berapa?”

Dia memeriksa layar sekali lagi.

“Sekitar pukul lima pagi.”

Dadaku terasa kosong.

“Dengan siapa?”

“Seorang perempuan yang lebih tua dan seorang perempuan lainnya. Mereka menggunakan shuttle menuju bandara.”

Aku mencengkeram ujung meja resepsionis.

“Mereka membawa koper?”

“Ya, Bu.”

“Apakah suami saya meninggalkan sesuatu untuk saya?”

Perempuan itu tampak ragu.

“Tidak ada yang tercatat.”

Aku menarik napas.

“Ponsel saya hilang. Paspor saya juga hilang.”

Kali ini wajahnya benar-benar berubah.

Dia segera memanggil supervisornya.

Aku kembali ke kamar bersama seorang staf hotel untuk memastikan barang-barangku.

Saat kami masuk, seorang petugas housekeeping sedang berdiri di dekat pintu.

Dia memegang selembar kertas.

“Madam?”

Dia menyerahkannya kepadaku.

“Ini ditemukan di lantai dekat meja.”

Aku langsung mengenali tulisan tangan itu.

Bukan tulisan Arga.

Tulisan Bu Ratna, ibu mertuaku.

Hurufnya besar dan tegas.

Aku membuka lipatannya.

“Sekarang kita lihat siapa yang akan datang menolongmu.”

Untuk beberapa detik aku hanya berdiri diam.

Kalimat itu memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar ejekan.

Bu Ratna tahu aku dibesarkan tanpa orang tua.

Ayahku meninggal ketika aku masih kuliah.

Ibuku menyusul beberapa tahun kemudian.

Aku tidak memiliki kakak atau adik.

Selama bertahun-tahun, Bu Ratna menggunakan fakta itu setiap kali kami bertengkar.

Menurutnya, keluarga Arga adalah satu-satunya keluarga yang kupunya.

Dan karena itu, aku seharusnya selalu mengalah.

Selalu membantu.

Selalu membayar.

Selalu diam.

Kini dia ingin membuktikan sesuatu.

Bahwa tanpa mereka, aku tidak punya siapa-siapa.

Aku duduk di ujung tempat tidur.

Barulah aku memahami bahwa apa yang terjadi bukan keputusan spontan setelah pertengkaran.

Mereka telah merencanakannya.

Ponselku tidak mungkin hilang secara kebetulan.

Paspor yang kusimpan tersembunyi juga tidak mungkin ikut terbawa secara tidak sengaja.

Dan mereka meninggalkan hotel sebelum aku bangun.

Ini bukan sekadar meninggalkanku.

Mereka sengaja memastikan aku kesulitan pulang.

Telepon kamar tiba-tiba berdering.

Aku tersentak.

Resepsionis tadi menelepon.

“Mrs. Mahendra?”

“Ya.”

“Saya sudah memeriksa informasi penerbangan yang Anda berikan saat check-in.”

Aku menutup mata.

“Apakah pesawatnya sudah berangkat?”

Ada jeda.

“Masalahnya bukan Anda ketinggalan pesawat.”

Aku membuka mata.

“Apa maksud Anda?”

Suaranya menjadi lebih pelan.

“Tiket kepulangan Anda ke Jakarta sudah dibatalkan.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Dibatalkan karena saya tidak check-in?”

“Bukan.”

Jeda lagi.

“Pembatalannya dilakukan sebelumnya.”

Aku berdiri.

“Kapan?”

“Sehari sebelum keberangkatan.”

Tanganku perlahan terlepas dari gagang telepon.

Jadi Arga tidak bangun pagi lalu memutuskan meninggalkanku karena masih marah.

Dia sudah membatalkan tiketku bahkan sebelum kami tidur malam sebelumnya.

Sebelum pertengkaran kami selesai.

Mungkin bahkan sebelum dia mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Aku menatap dua catatan yang tergeletak di meja.

Urus sendiri bagaimana caramu pulang.

Sekarang kita lihat siapa yang akan datang menolongmu.

Mereka bukan hanya meninggalkanku di negara lain.

Mereka sengaja memutus jalur pulangku.

Aku tidak memiliki ponsel untuk membuka aplikasi perbankan.

Tidak bisa menerima kode verifikasi.

Tidak punya paspor di tanganku.

Bahkan nomor-nomor penting yang biasanya kusimpan di ponsel tidak bisa kuakses.

Untuk pertama kalinya sejak bangun, rasa takut yang sebenarnya datang.

Namun rasa takut itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Sebuah nomor.

Bukan nomor Arga.

Bukan nomor teman.

Nomor itu sengaja kuhafalkan bertahun-tahun lalu karena seseorang pernah berkata kepadaku:

“Kalau suatu hari kamu berada dalam keadaan darurat dan kehilangan semuanya, jangan bergantung pada ponselmu. Hafalkan ini.”

Aku berjalan kembali menuju telepon kamar.

Jari-jariku masih gemetar ketika mengangkat gagangnya.

Aku menekan nomor internasional yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kugunakan.

Nada sambung terdengar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian seseorang menjawab.

Aku tidak menjelaskan panjang lebar.

Aku hanya menyebut namaku.

Lalu mengucapkan sebuah kombinasi pendek yang selama ini kukira mungkin tidak akan pernah kubutuhkan.

Di ujung telepon terjadi keheningan.

Kemudian suara seorang laki-laki berubah serius.

“Ulangi kode itu.”

Aku mengulanginya.

Dia langsung berkata,

“Jangan tinggalkan hotel. Jangan menandatangani dokumen apa pun yang dikirim atas nama suami Anda. Saya akan menghubungi Anda kembali melalui resepsionis.”

Aku menahan napas.

“Apa yang terjadi?”

Namun jawabannya justru membuatku semakin bingung.

“Kalau Arga membawa paspor Anda tanpa izin dan membatalkan perjalanan Anda, masalah Anda sekarang bukan sekadar bagaimana pulang ke Indonesia.”

Dia berhenti sejenak.

“Yang perlu kita cari tahu adalah kenapa dia begitu yakin Anda tidak boleh kembali sebelum dirinya tiba di Jakarta.”

Sambungan terputus.

Aku berdiri memegang telepon.

Kemudian mataku jatuh pada koper yang tadi kubongkar.

Ada sesuatu yang aneh.

Di bagian dasar koper terdapat kantong kecil yang hampir tidak pernah kugunakan.

Resletingnya terbuka.

Aku memasukkan tangan.

Kosong.

Padahal sebelum berangkat ke Thailand, aku yakin sekali telah memasukkan satu amplop berisi salinan beberapa dokumen penting ke sana.

Saat itulah pikiranku kembali pada percakapan Arga dengan ibunya beberapa hari sebelumnya.

Mereka mengira aku sedang mandi.

Aku hanya sempat mendengar Bu Ratna berbisik:

“Yang penting dia jangan sampai pulang lebih dulu.”

Saat itu aku tidak memikirkannya.

Sekarang seluruh tubuhku terasa dingin.

Karena mungkin perjalanan ini sejak awal bukan benar-benar liburan keluarga.

Dan mungkin mereka tidak mencuri pasporku hanya untuk mempermalukanku.

Mereka sedang membeli waktu.

Pertanyaannya hanya satu:

Apa yang sedang menunggu mereka di Jakarta sehingga mereka begitu takut aku tiba di sana lebih dahulu?

BAGIAN 2 — MEREKA TIDAK MENINGGALKANKU KARENA MARAH

Aku berdiri di tengah kamar hotel di Phuket sambil menatap kantong kosong di dasar koper.

Kalimat Bu Ratna terus berputar di kepalaku.

“Yang penting dia jangan sampai pulang lebih dulu.”

Tiba-tiba semuanya terasa berbeda.

Pertengkaran soal biaya liburan.

Arga yang bersikap terlalu tenang malam sebelumnya.

Pasporku yang hilang.

Ponselku yang dibawa.

Tiket pulang yang sudah dibatalkan sehari sebelumnya.

Bahkan amplop dokumen yang sekarang tidak ada.

Mereka tidak sedang menghukumku.

Mereka sedang menahanku.

Telepon kamar kembali berdering.

Aku langsung mengangkatnya.

“Nadira?”

Suara laki-laki yang tadi menjawab kode darurat terdengar lagi.

“Ya.”

“Nama saya Damar Prasetyo.”

Aku memejamkan mata.

Nama itu kukenal.

Bukan secara pribadi.

Damar adalah rekan lama almarhum ayahku.

Bertahun-tahun lalu, ketika ayah sedang sakit, dia pernah memaksaku menghafalkan nomor kantor Damar.

Ayah berkata sesuatu yang waktu itu terdengar berlebihan.

“Kalau kehilangan dompet, kamu masih bisa cari uang. Kalau kehilangan ponsel, kamu masih bisa beli baru. Tapi kalau seseorang sengaja membuatmu kehilangan akses ke identitasmu, jangan anggap itu kecelakaan.”

Aku masih berusia dua puluhan ketika mendengarnya.

Aku tertawa.

Ayah tidak.

Dia memberiku sebuah kombinasi angka.

Kode darurat.

Setelah ayah meninggal, aku tidak pernah menggunakannya.

Sampai hari ini.

“Pak Damar,” kataku, “saya benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.”

“Dengarkan saya baik-baik. Saya sudah menghubungi seseorang di Jakarta dan meminta pengecekan terhadap dokumen yang pernah dititipkan ayahmu.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Dokumen apa?”

“Ayahmu meninggalkan instruksi perlindungan untuk beberapa aset atas namamu.”

Aku terdiam.

“Aset?”

“Rumah lama orang tuamu di Jakarta Selatan dan saham minoritas pada perusahaan distribusi yang dulu didirikan ayahmu bersama dua rekannya.”

Aku hampir tertawa karena bingung.

“Rumah itu sudah dijual bertahun-tahun lalu.”

“Tidak.”

Jawaban Damar cepat.

“Rumah itu tidak pernah dijual.”

Aku duduk perlahan.

“Tapi Arga bilang—”

Aku berhenti sendiri.

Arga.

Tiga tahun lalu Arga yang memberitahuku bahwa pengurusan rumah peninggalan orang tuaku sudah selesai.

Dia mengatakan aset itu dilepas untuk menutup biaya pajak dan administrasi lama.

Saat itu aku sedang sibuk membangun karier dan mempercayainya mengurus banyak hal.

Damar melanjutkan.

“Rumah itu sekarang disewakan. Pendapatannya masuk ke rekening penampungan yang dibuat ayahmu. Kamu adalah penerima manfaatnya.”

Kepalaku mulai berdenyut.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena instruksi ayahmu cukup khusus. Pengelolaan penuh baru berpindah kepadamu setelah usia tertentu, kecuali terjadi kondisi darurat.”

Aku menggenggam gagang telepon semakin erat.

“Kondisi darurat seperti apa?”

“Upaya mengambil alih aset, penyalahgunaan identitas, atau pemaksaan terhadap penerima manfaat.”

Ruangan terasa semakin sunyi.

“Dan kode yang saya ucapkan tadi?”

“Itu mengaktifkan pemeriksaan.”

Aku menelan ludah.

“Apa yang ditemukan?”

Damar diam beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Pagi ini ada janji di sebuah kantor notaris di Jakarta.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Untuk apa?”

“Pengalihan hak pengelolaan rumah.”

Aku berdiri.

“Atas persetujuan siapa?”

“Atas namamu.”

Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.

“Saya tidak pernah menyetujui itu.”

“Saya tahu.”

“Siapa yang membawa dokumennya?”

Damar menjawab pelan.

“Suamimu.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Sekarang aku mengerti.

Mereka membutuhkan waktu.

Arga harus tiba di Jakarta sebelum aku.

Ponselku membuatku tidak bisa menerima pemberitahuan.

Pasporku membuatku kesulitan meninggalkan Thailand.

Tiket yang dibatalkan memastikan keterlambatan.

Dan amplop yang hilang dari koper kemungkinan berisi salinan dokumen yang ingin mereka gunakan.

“Pak Damar…”

Suaraku pecah.

“Apakah tanda tangan saya dipalsukan?”

“Kami belum menyimpulkan itu. Jangan menuduh siapa pun sebelum dokumen diperiksa.”

Dia berhenti.

“Tapi saya sudah meminta transaksi dihentikan sampai identitas dan persetujuanmu diverifikasi langsung.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, aku bisa menarik napas panjang.

Namun Damar belum selesai.

“Ada hal lain.”

“Apa?”

“Rumah itu bukan alasan utama mereka melakukan semua ini.”

Aku membeku.

“Lalu?”

“Nilai rumahnya besar. Tapi kepemilikan saham yang diwariskan ayahmu jauh lebih besar.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan seseorang mencoba menjadikan aset itu sebagai jaminan pembiayaan.”

Tanganku mulai dingin.

“Perusahaan siapa?”

Damar menjawab dengan dua kata.

“Perusahaan Arga.”

Aku memejamkan mata.

Akhirnya semua kepingan masuk ke tempatnya.

Selama dua tahun terakhir, Arga selalu mengatakan bisnis keluarganya sedang berkembang.

Dia membeli mobil baru.

Menyewa kantor lebih besar.

Membawa Bu Ratna dan Citra berlibur.

Setiap kali aku bertanya dari mana modalnya, jawabannya sama.

“Investor.”

Ternyata mungkin bukan investor.

Mungkin aku.

Atau lebih tepatnya, sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.


Pihak hotel membantuku menghubungi perwakilan Indonesia dan pihak berwenang terkait dokumen perjalanan.

Aku menjelaskan semuanya tanpa melebih-lebihkan.

Bahwa pasporku tidak berada dalam penguasaanku.

Bahwa aku menduga paspor itu dibawa orang lain.

Bahwa tiketku dibatalkan tanpa sepengetahuanku.

Prosesnya tidak ajaib.

Tidak ada pesawat pribadi datang menjemput.

Tidak ada orang misterius membawa paspor baru dalam lima menit.

Ada formulir.

Verifikasi.

Panggilan.

Menunggu.

Dan banyak pertanyaan.

Namun untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian.

Staf hotel membantuku menghubungi pihak yang tepat.

Damar mengurus persoalan hukum di Jakarta.

Aku mendapatkan akses sementara untuk menghubungi bank dan mengamankan beberapa akun.

Yang paling penting, aku meminta satu hal.

Jangan beri tahu Arga bahwa aku sudah mengetahui semuanya.

Aku ingin melihat seberapa jauh dia akan pergi.


Sore berikutnya, aku akhirnya bisa menghubungi Arga melalui nomor kantor Damar.

Dia menjawab pada dering kedua.

“Nadira?”

Nada suaranya tidak terdengar khawatir.

Dia terdengar kesal.

“Kamu dapat telepon dari mana?”

Pertanyaan pertamanya bukan:

Kamu baik-baik saja?

Bukan:

Di mana kamu?

Bukan:

Bagaimana paspormu?

Melainkan:

Kamu dapat telepon dari mana?

Aku tersenyum pahit.

“Hotel membantu.”

Arga mengembuskan napas.

“Nad, dengar. Kemarin semuanya sudah kelewatan. Mama juga emosi.”

“Kalian membawa pasporku.”

“Tidak sengaja.”

Aku hampir tertawa.

“Pasporku berada dalam kantong tersembunyi di dalam koper.”

Diam.

Lalu Arga berkata,

“Mungkin Citra mengira itu punya Mama.”

“Dan ponselku?”

“Mungkin tertukar.”

“Dan tiketku yang dibatalkan sehari sebelumnya?”

Kali ini dia benar-benar diam.

Aku menunggu.

Akhirnya Arga berkata,

“Pulang saja nanti. Aku transfer uang.”

Seolah-olah itu menyelesaikan semuanya.

“Arga.”

“Ya?”

“Kenapa kamu begitu terburu-buru pulang ke Jakarta?”

Hening.

Lalu dia menjawab,

“Ada urusan kantor.”

Aku menatap laut dari jendela hotel.

“Semoga urusannya lancar.”

Aku menutup telepon.

Damar yang mendengarkan dari sambungan lain hanya berkata,

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Karena dia baru saja mengonfirmasi bahwa paspormu berada bersama rombongan mereka tanpa menyangkal bahwa mereka meninggalkanmu.”

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa sedih.

Tujuh tahun menikah.

Dan aku baru memahami bahwa orang yang paling sering mengatakan kita keluarga ternyata bisa memperlakukanku seperti hambatan administratif.


Dua hari kemudian aku kembali ke Indonesia setelah dokumen perjalananku selesai diurus.

Aku tidak langsung pulang ke rumah yang kutinggali bersama Arga.

Aku menuju kantor Damar.

Di atas meja sudah ada sebuah map cokelat tebal.

Damar membukanya.

Ada salinan surat.

Riwayat pengelolaan aset.

Dokumen perusahaan.

Dan beberapa halaman yang membuat perutku mual.

Arga memang memiliki masalah keuangan.

Bisnis keluarganya tidak sedang berkembang.

Bisnis itu sedang tenggelam.

Utang kepada pemasok.

Pinjaman jangka pendek.

Pembayaran yang terlambat.

Satu proyek gagal.

Dan kewajiban bernilai miliaran rupiah.

“Kenapa dia tidak bilang kepadaku?”

Damar menatapku.

“Mungkin karena mengatakan kebenaran berarti harus menerima kemungkinan kamu berkata tidak.”

Aku membuka halaman berikutnya.

Di sana ada rancangan persetujuan menggunakan aset peninggalan ayahku sebagai bagian dari jaminan.

Di bawahnya ada tanda tangan.

Namaku.

Tapi bukan tanda tanganku.

Tanganku gemetar.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

“Saya tahu.”

“Bagaimana Anda tahu?”

Damar mengambil sebuah amplop lama dari laci.

Kertasnya sudah menguning.

“Karena ayahmu meninggalkan contoh tanda tanganmu dan satu instruksi tambahan.”

Dia menyerahkannya.

Tulisan tangan ayahku.

Aku langsung mengenalinya.

Jika suatu hari Nadira menikah, jangan pernah memberikan akses kepada pasangan atau keluarga pasangan hanya berdasarkan hubungan keluarga. Nadira harus hadir dan menyatakan persetujuannya sendiri.

Air mataku langsung jatuh.

Aku menutup mulut.

Ayah telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Namun pada pagi ketika keluarga suamiku berkata,

“Sekarang kita lihat siapa yang akan datang menolongmu,”

ternyata orang pertama yang menolongku adalah seseorang yang sudah lama tidak bisa datang secara fisik.

Ayahku sendiri.

Melalui satu tindakan perlindungan yang dibuatnya bertahun-tahun sebelumnya.

Aku menangis untuk pertama kalinya sejak Thailand.

Bukan karena Arga.

Karena Ayah.


Namun kejutan terbesar datang keesokan paginya.

Bu Ratna menelepon kantor Damar.

Dia meminta bertemu denganku.

Aku hampir menolak.

Tapi akhirnya setuju.

Pertemuan dilakukan di ruang rapat kecil dengan Damar dan seorang penasihat hukum hadir.

Arga datang bersama ibunya.

Citra tidak ikut.

Arga terlihat seperti tidak tidur semalaman.

Bu Ratna masih berusaha terlihat tegar.

Begitu duduk, dia langsung berkata,

“Kita ini keluarga. Jangan dibuat seperti kriminal.”

Aku tidak menjawab.

Damar meletakkan salinan dokumen di meja.

“Bu Ratna, siapa yang menyiapkan ini?”

Dia melihat Arga.

Arga menunduk.

“Arga sedang terdesak,” katanya. “Dia cuma mau menyelamatkan perusahaan.”

“Dengan aset saya?”

Aku bertanya untuk pertama kalinya.

Bu Ratna menatapku.

“Nanti juga dikembalikan.”

“Kenapa paspor saya dibawa?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa tiket saya dibatalkan?”

Diam.

“Kenapa ponsel saya diambil?”

Bu Ratna mulai kehilangan ketenangan.

“Kami hanya butuh dua hari!”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Ruangan langsung sunyi.

Aku menatapnya.

“Dua hari untuk apa?”

Bu Ratna menyadari kesalahannya.

Tapi sudah terlambat.

Arga menutup wajah.

Akhirnya dia berkata,

“Untuk menyelesaikan pengajuan.”

Aku menatap laki-laki yang pernah berjanji melindungiku.

“Jadi Thailand itu apa?”

Arga tidak menjawab.

“Liburan?”

Mataku mulai panas.

“Atau cara membawa saya keluar dari Indonesia?”

“Nad…”

“Jawab.”

Arga mengangkat kepala.

Wajahnya hancur.

“Mama bilang kalau kamu tahu kondisi perusahaan, kamu tidak akan setuju.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

“Tentu saya tidak akan setuju.”

“Aku mau mengembalikannya.”

“Bukan itu masalahnya.”

Aku menunjuk dokumen.

“Kamu tidak bertanya.”

Lalu aku menunjuk dirinya.

“Kamu memutuskan bahwa hakku untuk berkata tidak adalah masalah yang harus disingkirkan.”

Arga mulai menangis.

Aku belum pernah melihatnya menangis seperti itu.

“Nadira, aku panik.”

“Aku juga panik.”

Suaraku pelan.

“Aku bangun sendirian di negara lain tanpa ponsel dan paspor.”

Arga menunduk.

“Aku minta maaf.”

Aku mengangguk.

“Aku percaya kamu menyesal.”

Dia menatapku dengan harapan.

Namun aku melanjutkan,

“Menyesal tidak selalu berarti semuanya bisa kembali seperti semula.”


Kemudian Damar mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Masih ada sesuatu yang perlu Nadira ketahui.”

Aku menatapnya.

“Apa lagi?”

Dia mendorong sebuah laporan rekening ke arahku.

Ada transfer rutin selama hampir tiga tahun.

Jumlahnya tidak kecil.

Penerimanya adalah perusahaan Arga.

Aku menatap Damar.

“Ini apa?”

“Dana dari rekening pribadi seseorang.”

“Siapa?”

Damar menatap Bu Ratna.

Aku ikut melihatnya.

Wajah ibu mertuaku tiba-tiba pucat.

Arga terlihat bingung.

“Mama?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Damar berkata,

“Bu Ratna sudah memasukkan hampir seluruh tabungan pribadinya ke perusahaan Arga.”

Aku tercengang.

Ternyata Bu Ratna bukan hanya ibu yang ingin mencuri milikku demi anaknya.

Dia telah menghabiskan hampir semua yang dia miliki lebih dulu.

Rumah kecil yang diwariskan suaminya telah diagunkan.

Tabungan pensiunnya terkuras.

Bahkan perhiasan keluarganya dijual.

Arga tidak mengetahui semuanya.

“Mama…”

Suara Arga pecah.

“Kenapa?”

Bu Ratna akhirnya menangis.

“Karena kamu anak Mama.”

Dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang selama ini tidak kupahami.

Bu Ratna bukan hanya serakah.

Dia takut.

Takut anak laki-lakinya gagal.

Takut keluarga kehilangan status.

Takut orang-orang tahu bahwa bisnis yang selalu mereka banggakan sebenarnya runtuh.

Ketakutan itu membuatnya mengorbankan dirinya.

Kemudian, ketika dirinya tidak lagi punya apa-apa untuk diberikan, dia memutuskan aku harus menjadi korban berikutnya.

Aku merasa kasihan kepadanya.

Tapi rasa kasihan tidak menghapus apa yang dia lakukan.

Aku berdiri.

Bu Ratna memegang tanganku.

“Nadira.”

Aku menatapnya.

“Maafkan Mama.”

Aku perlahan melepaskan tangannya.

“Saya bisa memaafkan Ibu suatu hari nanti.”

Matanya penuh harapan.

“Tapi memaafkan bukan berarti memberikan kembali akses kepada hidup saya.”


Aku tidak kembali tinggal bersama Arga.

Proses setelah itu panjang.

Dokumen yang bermasalah diperiksa melalui jalur hukum yang semestinya.

Aset peninggalan orang tuaku diamankan.

Aku mengganti akses seluruh rekening dan dokumen penting.

Pasporku akhirnya dikembalikan melalui proses yang melibatkan pihak terkait.

Dan pernikahan kami?

Aku tidak mengakhirinya pada hari itu karena marah.

Aku mengambil waktu.

Berbulan-bulan.

Arga meminta konseling.

Dia mengakui utang-utangnya.

Menjual mobilnya.

Menutup kantor yang terlalu mahal.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berhenti meminta ibunya menyelamatkan setiap masalah.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan permintaan maaf.

Kepercayaan.

Akhirnya aku mengajukan perceraian.

Arga tidak melawan.

Pada pertemuan terakhir kami, dia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada catatan yang dia tinggalkan di Thailand.

“Urus sendiri bagaimana caramu pulang.”

Dia menyimpannya.

Di bawah kalimat itu, dia menulis sesuatu yang baru.

“Ternyata kamu selalu tahu bagaimana caranya pulang. Aku yang tidak tahu bagaimana menjadi rumah untukmu.”

Aku membaca kalimat itu lama.

Lalu melipat kertasnya.

Aku tidak membawanya pulang.


Setahun kemudian aku kembali ke Thailand.

Sendirian.

Banyak teman menganggap itu aneh.

Mengapa kembali ke tempat yang menyimpan kenangan buruk?

Jawabannya sederhana.

Aku tidak ingin satu kamar hotel, satu pengkhianatan, dan satu keluarga menentukan bagaimana aku mengingat sebuah negara.

Aku duduk di pantai Phuket saat matahari hampir tenggelam.

Di dalam tas kecilku ada paspor.

Ponsel.

Dompet.

Dan selembar fotokopi tulisan tangan ayah.

Bukan karena aku takut kehilangan semuanya lagi.

Melainkan karena aku akhirnya memahami pesan yang sebenarnya.

Ayah tidak meninggalkan kode darurat agar seseorang selalu datang menyelamatkanku.

Dia meninggalkannya agar ketika dunia terasa runtuh, aku memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diriku sendiri.

Aku memandang laut.

Lalu teringat tulisan Bu Ratna.

“Sekarang kita lihat siapa yang akan datang menolongmu.”

Setahun lalu, kalimat itu menghancurkanku.

Sekarang aku bisa menjawabnya.

Banyak orang datang.

Resepsionis yang tidak mengabaikan kepanikanku.

Staf hotel yang membantuku.

Damar yang menjaga janji kepada ayahku.

Orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah denganku.

Dan seseorang yang selama bertahun-tahun kulupakan.

Diriku sendiri.

Aku memang tumbuh tanpa orang tua.

Aku memang tidak punya saudara kandung.

Tetapi ternyata kesendirian dan tidak memiliki siapa-siapa adalah dua hal yang sangat berbeda.

Aku berdiri, membersihkan pasir dari rokku, lalu berjalan kembali menuju hotel.

Kali ini tidak ada seorang pun yang memegang pasporku.

Tidak ada seorang pun yang menentukan tiketku.

Tidak ada seorang pun yang memiliki akses ke rekeningku tanpa izin.

Dan tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa aku harus menerima perlakuan buruk hanya karena mereka menyebut dirinya keluarga.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang mungkin sudah ingin diajarkan Ayah kepadaku sejak dulu:

Keluarga bukanlah orang yang membuatmu tak berdaya agar kamu membutuhkan mereka.

Keluarga adalah orang yang tetap menghormati hakmu untuk berdiri dengan kakimu sendiri.

Dan terkadang, pulang bukan berarti kembali kepada seseorang.

Pulang berarti kembali menjadi dirimu sendiri.

TAMAT.