SELAMA BERJAM-JAM, PUTRIKU YANG BERUSIA DELAPAN TAHUN MENOLAK MENJAUH DARI PETI JENAZAH AYAHNYA, MESKI SELURUH KELUARGA TERUS MEMBUJUKNYA. LALU DIA MENATAPKU DAN BERBISIK, “MAMA… AYAH BELUM MENINGGAL.”

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 44 tayangan
SELAMA BERJAM-JAM, PUTRIKU YANG BERUSIA DELAPAN TAHUN MENOLAK MENJAUH DARI PETI JENAZAH AYAHNYA, MESKI SELURUH KELUARGA TERUS MEMBUJUKNYA. LALU DIA MENATAPKU DAN BERBISIK, “MAMA… AYAH BELUM MENINGGAL.”
Indeks

SELAMA BERJAM-JAM, PUTRIKU YANG BERUSIA DELAPAN TAHUN MENOLAK MENJAUH DARI PETI JENAZAH AYAHNYA, MESKI SELURUH KELUARGA TERUS MEMBUJUKNYA. LALU DIA MENATAPKU DAN BERBISIK, “MAMA… AYAH BELUM MENINGGAL.”

Aku tidak memarahinya.

Aku juga tidak mengatakan bahwa dia hanya sedang syok karena kehilangan ayahnya.

Entah kenapa, aku justru mengulurkan tangan dan menyentuh wajah suamiku.

Lalu aku langsung meminta seseorang menelepon 112 dan memanggil bantuan medis.

Namun sebelum petugas datang, mataku tanpa sengaja tertuju pada ponsel kakak suamiku yang tergeletak di atas meja.

Layarnya menyala karena sebuah pesan baru.

Aku hanya sempat membaca beberapa kata.

Tapi kalimat itu cukup untuk mengubah semua yang selama ini kupercaya tentang “kematian” suamiku.

SELAMA BERJAM-JAM, PUTRIKU YANG BERUSIA DELAPAN TAHUN MENOLAK MENJAUH DARI PETI JENAZAH AYAHNYA, MESKI SELURUH KELUARGA TERUS MEMBUJUKNYA. LALU DIA MENATAPKU DAN BERBISIK, “MAMA… AYAH BELUM MENINGGAL.”

BAGIAN 1

Putriku yang baru berusia delapan tahun tiba-tiba naik ke sisi peti jenazah ayahnya.

Beberapa anggota keluarga langsung berdiri.

“Nadya!”

“Turun, Sayang!”

“Jangan begitu!”

Namun Nadya tidak mendengarkan siapa pun.

Dia memasukkan satu lutut ke dalam peti, lalu membungkuk dan menempelkan telinganya tepat di dada ayahnya.

Aku membeku.

Kakak suamiku bahkan mencoba menariknya.

Tetapi kemudian Nadya mengangkat kepala.

Wajahnya pucat.

Matanya menatap lurus kepadaku.

“Mama…”

Aku mendekatinya.

“Iya, Sayang?”

Bibirnya bergetar.

“Ayah belum meninggal.”

Rasanya seluruh kekuatan di kakiku lenyap.

Sampai saat itu, Nadya sudah berjam-jam duduk di samping peti jenazah ayahnya, Arga Mahendra.

Dia tidak menangis.

Tidak mau makan.

Air mineral yang kuberikan pun hanya diminumnya dua teguk.

Rumah duka sederhana itu dipenuhi keluarga besar kami dari Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.

Beberapa orang berbisik bahwa Nadya mungkin belum bisa menerima kenyataan.

Sebagian mengatakan dia sedang mengalami syok.

Tapi aku mengenal anakku.

Kalau Nadya takut, dia akan menangis.

Kalau dia bingung, dia akan bertanya tanpa henti sampai mendapatkan jawaban.

Namun sejak melihat tubuh ayahnya, Nadya tidak melakukan keduanya.

Dia hanya…

memperhatikan.

Suamiku, Arga, baru berusia tiga puluh sembilan tahun.

Sejauh yang kuketahui, dia tidak memiliki penyakit serius.

Tidak pernah menjalani pengobatan jantung.

Tidak pernah mengeluhkan sesak napas yang mencurigakan.

Namun aku diberi tahu bahwa dia meninggal mendadak setelah kolaps ketika melakukan pemeriksaan di salah satu gudang berpendingin milik perusahaan keluarganya di kawasan industri Tangerang.

Perusahaan itu diwariskan oleh ayah Arga kepada kedua putranya.

Arga mengurus operasional.

Kakaknya, Raka Mahendra, mengurus keuangan dan kontrak.

Dan justru Raka yang meneleponku untuk menyampaikan kabar bahwa suamiku telah meninggal.

Aku masih ingat suara Raka.

“Nadira… kamu harus ke klinik.”

Aku sedang berada di rumah ketika telepon itu masuk.

“Ada apa?”

“Arga pingsan di gudang.”

Aku langsung berdiri.

“Dia dibawa ke rumah sakit mana?”

Ada jeda singkat.

Kemudian Raka menjawab nama sebuah klinik swasta kecil di pinggiran Tangerang.

Aku bahkan belum pernah mendengar nama klinik itu.

“Kenapa bukan ke rumah sakit besar?”

“Yang penting tadi paling dekat,” katanya cepat. “Datang saja dulu.”

Ketika aku sampai, semuanya sudah terlambat.

Atau setidaknya…

itulah yang kukira.

Arga sudah berada di sebuah ruangan kecil.

Tubuhnya ditutupi kain putih.

Seorang dokter bernama dr. Surya menjelaskan bahwa tim medis telah berusaha melakukan resusitasi, tetapi tidak berhasil.

“Kami turut berduka, Bu Nadira.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Dunia seperti berhenti bergerak.

Aku menarik kain itu sedikit dan melihat wajah suamiku.

Dingin.

Diam.

Tidak ada respons ketika kusentuh.

Aku bahkan tidak mampu berdiri lama.

Raka memegang bahuku.

“Sudah, Nad. Jangan menyiksa diri.”

Aku menangis di lorong klinik sampai ibu mertuaku datang.

Saat itu aku terlalu hancur untuk bertanya.

Aku tidak memeriksa dokumen dengan teliti.

Aku tidak bertanya kenapa ambulans membawa Arga ke klinik kecil itu.

Aku tidak bertanya siapa yang pertama kali menemukan tubuhnya.

Aku bahkan tidak bertanya mengapa proses setelah kematiannya berjalan begitu cepat.

Namun saat duduk di rumah duka dan memperhatikan Nadya, semua pertanyaan yang sebelumnya tenggelam oleh kesedihan mulai muncul satu per satu.

Terutama karena satu percakapan terakhirku dengan Arga.

Sebelum pergi bekerja, Arga berdiri di dapur sambil memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas laptopnya.

Dia terlihat tegang.

Aku bertanya apakah ada masalah.

Dia sempat diam.

Lalu berkata,

“Nad, kalau besok terjadi sesuatu yang aneh di perusahaan, jangan tanda tangani dokumen apa pun yang dibawa Raka.”

Aku tertawa kecil karena mengira kakak-adik itu sedang berselisih soal bisnis.

“Maksudmu?”

“Aku belum bisa menjelaskan.”

“Masalah uang?”

Dia menatapku.

Ekspresinya membuat senyumku menghilang.

“Aku harus memastikan sesuatu dulu.”

“Memastikan apa?”

Arga menggeleng.

“Nanti aku jelaskan kalau aku sudah punya bukti.”

Itulah percakapan terakhir kami.

Tidak ada penjelasan berikutnya.

Tidak ada telepon.

Tidak ada pesan.

Hanya kabar bahwa suamiku mendadak meninggal.

Dan sekarang anak kami duduk di samping petinya seolah sedang menunggu sesuatu.

Aku mendekati Nadya.

“Sayang, ikut Mama sebentar.”

Dia menggeleng.

“Kamu harus istirahat.”

“Aku nggak mau.”

“Kamu belum makan.”

Nadya tetap menatap wajah ayahnya.

Kemudian dia berkata pelan,

“Ayah juga belum istirahat.”

Bulu kudukku berdiri.

Aku berjongkok di sampingnya.

“Maksud Nadya apa?”

Dia tidak menjawab.

Raka yang berdiri tidak jauh dari kami langsung menyela.

“Anak kecil kalau kehilangan orang tua memang sering ngomong aneh.”

Aku menoleh.

Nada suaranya membuatku tidak nyaman.

Bukan karena kalimatnya.

Tapi karena caranya mengatakannya.

Terlalu cepat.

Seolah dia ingin percakapan itu segera berhenti.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, mencoba menenangkan suasana.

“Bawa Nadya pulang saja sebentar, Nadira. Kasihan.”

Aku hampir menurut.

Lalu mataku tertuju pada pergelangan tangan Arga.

Jam tangannya masih terpasang.

Sebuah jam analog yang kubelikan untuk ulang tahunnya.

Jarum detiknya bergerak.

Tik.

Tik.

Tik.

Aku menatapnya lama.

Tentu saja jam yang masih berjalan tidak membuktikan seseorang masih hidup.

Namun sesuatu tentang benda itu membuatku teringat pada sebuah foto.

Aku mengambil ponsel.

Tanganku gemetar ketika membuka galeri.

Saat berada di klinik, tanpa sadar aku sempat mengambil foto tangan Arga.

Bukan karena ingin memotret jenazahnya.

Aku hanya ingin menyimpan gambar terakhir cincin pernikahan kami yang masih berada di jarinya.

Aku memperbesar foto itu.

Jam tangannya masih terpasang.

Aku menatap tubuh Arga di depanku.

Jam itu masih ada di posisi yang sama.

Cincinnya juga masih ada.

Aku mulai memperhatikan hal-hal lain.

Raka sebelumnya mengatakan bahwa keluarga tidak ingin terlalu banyak prosedur dilakukan terhadap tubuh Arga karena Arga pernah menyampaikan keinginan agar semuanya dilakukan sesederhana mungkin.

Raka pula yang mengatur tempat persemayaman.

Dia memilih penyedia jasa yang katanya dikenalnya melalui seorang rekan bisnis.

Saat itu aku menganggap dia sedang membantu.

Sekarang…

aku tidak yakin.

Aku kembali berjongkok di samping putriku.

“Nadya.”

Dia menoleh.

“Mama mau tanya sesuatu. Jawab jujur, ya.”

Dia mengangguk.

“Dari tadi sebenarnya kamu memperhatikan apa?”

Nadya memandang ayahnya lagi.

“Awalnya Nadya pikir salah lihat.”

“Apa?”

Dia menunjuk ke wajah Arga.

“Hidung Ayah.”

Jantungku berdegup keras.

“Hidungnya kenapa?”

“Kadang bergerak sedikit.”

Aku menahan napas.

“Bergerak bagaimana?”

Nadya mengangkat telunjuknya dan menunjuk tepat di bawah hidungnya sendiri.

“Kayak ada angin kecil.”

Aku menatap wajah Arga.

Tidak ada gerakan.

Aku menunggu.

Beberapa detik.

Tidak terjadi apa-apa.

“Nadya yakin?”

Dia mengangguk.

“Makanya Nadya nggak mau pergi.”

Aku merasakan tangan seseorang menyentuh bahuku.

Raka.

“Sudah cukup.”

Aku berdiri.

“Jangan.”

Dia mengernyit.

“Nadira, kamu sedang berduka. Nadya juga. Jangan biarkan imajinasi anak kecil—”

“Jangan sentuh aku.”

Beberapa anggota keluarga mulai memperhatikan kami.

Raka menurunkan suaranya.

“Dengar. Arga sudah diperiksa dokter.”

“Aku tahu.”

“Ada suratnya.”

“Aku tahu.”

“Jadi jangan membuat suasana semakin kacau.”

Kalimat terakhirnya membuatku menatapnya.

Membuat suasana semakin kacau?

Suamiku meninggal mendadak.

Putriku mengatakan melihat tanda-tanda pernapasan.

Dan hal pertama yang dikhawatirkan Raka adalah suasana menjadi kacau?

Aku kembali menatap Nadya.

Kemudian semuanya terjadi begitu cepat.

Nadya berdiri di kursinya.

“Nadya!”

Dia meletakkan lutut di tepi peti.

Beberapa tante langsung berteriak.

“Nadya, jangan!”

Namun sebelum aku bisa menghentikannya, putriku sudah membungkuk masuk.

Dia menempelkan telinga tepat ke dada ayahnya.

Raka langsung maju.

“Angkat dia!”

Tangannya hampir meraih lengan Nadya.

Aku refleks menepisnya.

“Jangan sentuh anakku!”

“Nadira, kamu sudah keterlaluan!”

“Diam!”

Semua orang membeku.

Aku tidak pernah berteriak kepada Raka sebelumnya.

Nadya masih menempelkan telinganya ke dada Arga.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Kemudian tubuh kecilnya tiba-tiba menegang.

Dia mengangkat kepala.

Matanya membesar.

“Mama.”

Aku maju.

“Apa?”

Nadya menelan ludah.

“Ada suara.”

“Suara apa?”

Dia menempelkan telinganya sekali lagi.

Ruangan menjadi begitu sunyi hingga suara pendingin udara terdengar jelas.

Lalu Nadya mengangkat wajahnya.

“Dua kali.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Apanya dua kali?”

Dia menunjuk dada ayahnya.

“Duk… duk.”

Aku langsung memasukkan tangan ke dalam peti.

“Nadira!”

Aku tidak peduli.

Telapak tanganku menyentuh sisi wajah Arga.

Dingin.

Tapi tidak sedingin yang kubayangkan.

Tanganku berpindah ke lehernya.

Aku tidak terlatih mencari denyut nadi.

Aku bahkan tidak tahu apakah yang kurasakan benar atau hanya detak jantungku sendiri yang begitu keras sampai menjalar ke ujung jari.

“Telepon ambulans,” kataku.

Tidak ada yang bergerak.

Aku berteriak.

“TELEPON BANTUAN MEDIS SEKARANG!”

Salah satu sepupuku langsung mengambil ponselnya.

Raka maju.

“Ini gila.”

Aku menatapnya.

“Kalau dia benar-benar sudah meninggal, petugas medis akan memastikan.”

“Kita sudah punya dokter yang memastikan!”

“Kalau begitu kamu tidak perlu takut mereka datang.”

Wajah Raka berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

Takut.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Takut.

Dan pada saat itulah sebuah ponsel bergetar di atas meja kecil dekat sofa.

Aku mengenali casing kulit hitam itu.

Ponsel Raka.

Layarnya menyala.

Aku sebenarnya tidak berniat membacanya.

Namun nama pengirim dan bagian awal pesannya terlihat jelas dari tempatku berdiri.

Pesan itu berasal dari seseorang yang disimpan dengan nama:

S.

Aku melangkah mendekat.

Raka menyadari arah pandanganku.

“Nadira.”

Terlambat.

Aku sudah membaca notifikasi yang muncul di layar.

“Efek obat seharusnya bertahan lebih lama. Kenapa pemakamannya belum dipercepat?”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku menatap layar itu.

Lalu menatap Raka.

Wajahnya berubah pucat.

“Berikan ponselku.”

Aku mundur selangkah.

Di luar rumah, samar-samar mulai terdengar suara kendaraan mendekat.

Raka mengulurkan tangan.

“Nadira. Berikan. Sekarang.”

Aku memandang kakak suamiku.

Kemudian aku melihat tubuh Arga.

Lalu Nadya.

Putriku menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku menerima telepon tentang kematian suamiku, sebuah kemungkinan mengerikan muncul di kepalaku.

Bagaimana kalau Arga tidak pernah mengalami serangan jantung?

Bagaimana kalau dia sengaja dibuat terlihat seperti sudah meninggal?

Dan kalau pesan itu benar…

siapa sebenarnya “S” yang sedang menghubungi Raka?

Suara kendaraan di luar semakin dekat.

Namun sebelum bantuan medis sempat masuk, Raka tiba-tiba bergerak menuju meja dan meraih ponselnya.

Aku lebih cepat.

Aku mengambil ponsel itu.

Dan ketika layar terbuka karena belum terkunci, aku melihat percakapan lengkapnya.

Pesan paling atas membuat tanganku gemetar.

Bukan karena menyebut Arga.

Melainkan karena ada satu kalimat lain di bawahnya:

“Kalau dia bangun sebelum dokumen pengalihan saham ditandatangani istrinya, kita semua habis.”

Aku perlahan mengangkat kepala.

Raka sudah berdiri tepat di depanku.

Dan kali ini, dia tidak lagi terlihat seperti kakak ipar yang sedang berduka.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar.

Sementara dari arah pintu depan, terdengar ketukan keras.

Bantuan medis akhirnya tiba.

Aku menggenggam ponsel Raka semakin erat.

Karena sekarang aku tahu satu hal.

Malam itu bukan lagi tentang mengucapkan selamat tinggal kepada suamiku.

Malam itu adalah tentang mencari tahu siapa yang ingin memastikan Arga tidak pernah membuka matanya lagi.

BAGIAN 2 — KETIKA PETUGAS MEDIS MEMERIKSA “JENAZAH” SUAMIKU

Ketukan di pintu terdengar sekali lagi.

Keras.

“Petugas medis!”

Aku masih menggenggam ponsel Raka ketika pintu dibuka.

Dua petugas medis masuk membawa tas peralatan, disusul seorang perempuan dengan seragam paramedis. Wajah mereka sempat menunjukkan kebingungan ketika melihat peti jenazah di tengah ruangan.

“Siapa yang menelepon?”

“Saya.”

Suaraku hampir tidak keluar.

Aku menunjuk Arga.

“Tolong periksa suami saya.”

Raka langsung menyela.

“Pak, ini salah paham. Adik saya sudah dinyatakan meninggal oleh dokter.”

Paramedis perempuan itu menatapnya.

“Kapan?”

“Siang tadi.”

“Di rumah sakit mana?”

“Bukan rumah sakit. Klinik.”

Aku menyerahkan ponsel Raka kepada sepupuku, lalu mendekati peti.

“Anak saya mendengar sesuatu dari dadanya. Tolong periksa.”

Raka tertawa pendek.

Bukan tawa karena lucu.

Tawa orang yang sedang berusaha membuat sesuatu terdengar tidak masuk akal.

“Dia anak delapan tahun, Nadira.”

Paramedis itu menatap Raka dengan tajam.

“Pak, biarkan kami bekerja.”

Mereka mengeluarkan Arga dari peti dan membaringkannya di permukaan datar.

Aku memeluk Nadya.

Putriku gemetar.

Namun matanya tidak pernah meninggalkan ayahnya.

Salah satu petugas memasang alat pemantau.

Beberapa detik pertama terasa seperti satu jam.

Lalu aku mendengar suara.

Bip.

Aku menahan napas.

Kemudian—

bip.

Petugas itu langsung menatap rekannya.

“Ada aktivitas.”

Ruangan meledak oleh suara.

Ibuku mertua menjerit.

Salah satu tante menutup mulut.

Aku tidak mampu bergerak.

“Apa maksudnya ada aktivitas?” tanyaku.

Paramedis perempuan itu tidak menjawab pertanyaanku secara langsung.

Dia sudah memeriksa Arga dengan cepat.

“Denyut sangat lemah. Pernapasan sangat dangkal.”

Aku merasa lututku hampir roboh.

“Jadi dia hidup?”

“Bu, kami harus membawanya sekarang.”

Nadya mulai menangis.

Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu.

Tangisannya pecah begitu keras sampai aku ikut menangis.

“Aku bilang, Mama…”

Aku berlutut dan memeluknya.

“Iya.”

“Aku bilang Ayah belum pergi.”

“Iya, Sayang.”

Di belakangku terdengar suara langkah.

Aku menoleh.

Raka bergerak menuju pintu samping.

“Raka!”

Dia berhenti.

Semua orang memandangnya.

“Aku mau ikut ke rumah sakit,” katanya.

“Tidak.”

“Nadira—”

Aku mengambil ponselnya dari tangan sepupuku.

“Ponselmu tetap di sini.”

Wajah Raka menegang.

“Itu milikku.”

“Dan pesan ini tentang suamiku.”

Aku memperlihatkan layar.

Ibuku mertua mendekat.

“Ada apa?”

Aku membaca pesannya dengan suara bergetar.

“Efek obat seharusnya bertahan lebih lama. Kenapa pemakamannya belum dipercepat?”

Bu Ratna menatap putra sulungnya.

“Raka?”

Dia diam.

Aku membaca pesan berikutnya.

“Kalau dia bangun sebelum dokumen pengalihan saham ditandatangani istrinya, kita semua habis.”

Wajah Bu Ratna kehilangan warna.

“Raka… apa ini?”

Raka mengusap wajahnya.

“Kalian tidak mengerti.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Kalau begitu jelaskan.”

“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang.”

“Suamiku hampir dikubur hidup-hidup.”

“Itu bukan rencananya!”

Ruangan langsung sunyi.

Raka tampak menyadari kesalahannya.

Aku menatapnya.

“Bukan rencana siapa?”

Dia tidak menjawab.

Di luar, Arga sudah dibawa menuju ambulans.

Aku menoleh kepada sepupuku.

“Jangan biarkan Raka pergi. Hubungi polisi.”

Lalu aku membawa Nadya dan mengikuti suamiku.


Di rumah sakit, aku duduk di lorong IGD sambil memegang tangan Nadya.

Jam demi jam berlalu.

Dokter hanya mengatakan kondisi Arga sangat serius.

Tubuhnya mengalami penurunan kesadaran ekstrem, tekanan darah rendah, dan fungsi tubuh yang melambat drastis.

Mereka belum bisa menjelaskan penyebabnya.

Namun satu hal sudah pasti.

Arga tidak meninggal ketika dibawa ke klinik.

Aku terus memikirkan kalimat itu.

Tidak meninggal.

Berarti seseorang telah melihat suamiku bernapas sangat lemah dan tetap mengizinkan tubuhnya diperlakukan sebagai jenazah.

Atau lebih buruk—

seseorang memang menginginkannya terlihat seperti jenazah.

Menjelang pagi, polisi datang.

Aku menyerahkan ponsel Raka.

Aku menunjukkan pesan-pesannya.

Aku juga menceritakan percakapan terakhir Arga tentang dokumen perusahaan.

Raka kemudian dimintai keterangan.

Namun ternyata dia belum ditahan.

Karena ada masalah yang jauh lebih besar.

Nomor bernama “S” di ponselnya sudah tidak aktif.

Dan dr. Surya dari klinik tempat Arga dinyatakan meninggal…

menghilang.

Kliniknya tutup.

Ketika polisi mendatangi alamatnya, beberapa pegawai mengatakan dr. Surya tidak datang sejak malam sebelumnya.

Aku duduk di kursi rumah sakit sambil merasa seluruh hidupku berubah menjadi teka-teki.

Lalu sekitar pukul sembilan pagi, seorang laki-laki berusia sekitar lima puluhan datang menemuiku.

Namanya Pak Dimas.

Dia adalah kepala bagian keuangan perusahaan Arga dan Raka.

“Bu Nadira?”

Aku berdiri.

Dia membawa sebuah map cokelat.

“Saya harus memberikan ini kepada Ibu.”

“Apa?”

“Pak Arga menitipkannya kepada saya tiga hari lalu.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

“Kenapa baru sekarang?”

Pak Dimas menunduk.

“Karena beliau meminta saya menyerahkannya hanya kalau terjadi sesuatu padanya.”

Tanganku gemetar saat menerima map itu.

Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan, mutasi rekening perusahaan, dan beberapa kontrak.

Aku tidak memahami semuanya.

Namun ada satu angka yang berulang berkali-kali.

Rp14,8 miliar.

Uang perusahaan telah ditransfer selama hampir dua tahun ke tiga perusahaan vendor.

Masalahnya?

Ketiga perusahaan itu ternyata memiliki alamat korespondensi yang sama.

Sebuah ruko kosong di Bekasi.

“Arga menemukan ini?” tanyaku.

Pak Dimas mengangguk.

“Beliau curiga ada penggelapan.”

“Raka?”

Pak Dimas tidak langsung menjawab.

“Awalnya Pak Arga juga mengira begitu.”

Aku membeku.

“Awalnya?”

Pak Dimas mengeluarkan satu lembar terakhir.

Itu fotokopi dokumen pendirian salah satu perusahaan vendor.

Aku melihat nama pemegang sahamnya.

Aku tidak mengenalnya.

Lalu aku melihat nama komisaris sebelumnya.

Tanganku berhenti bergerak.

Ratna Mahendra.

Ibu mertuaku.

Aku menatap Pak Dimas.

“Ini pasti salah.”

“Saya berharap begitu.”

Aku membaca lagi.

Nama itu tetap sama.

Bu Ratna.

Perempuan yang semalam menangis ketika mengetahui anaknya masih hidup.

Perempuan yang memelukku saat aku diberi tahu Arga meninggal.

Perempuan yang selama ini memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.

“Tidak mungkin.”

Pak Dimas menarik napas.

“Pak Arga juga mengatakan hal yang sama.”


Aku tidak langsung menemui Bu Ratna.

Aku menunggu.

Dua hari kemudian, Arga akhirnya membuka mata.

Aku sedang duduk di samping tempat tidurnya ketika jarinya bergerak.

Awalnya sangat kecil.

Lalu matanya perlahan terbuka.

“Arga?”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku hampir jatuh.

Dia menatapku dengan pandangan kosong.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Nad…”

Aku menangis.

Aku tidak bisa menahannya lagi.

Aku mencium tangannya berkali-kali.

“Kamu di rumah sakit.”

Dia mencoba berbicara.

“Chloe…”

Aku tersenyum di tengah tangis.

“Nadya baik-baik saja.”

Dia menutup mata sejenak.

“Dia yang menemukanmu, Ga.”

Arga menatapku lagi.

“Apa?”

“Putrimu yang tahu kamu masih hidup.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

Beberapa jam kemudian, ketika kondisinya lebih stabil, polisi berbicara dengannya.

Aku berada di sana.

Dan akhirnya Arga menceritakan apa yang terjadi.

Hari itu, Raka memintanya datang ke gudang untuk membicarakan masalah laporan keuangan.

Mereka bertengkar.

Arga menuduh Raka menyembunyikan transaksi.

Raka akhirnya mengaku.

Namun pengakuannya bukan seperti yang kami bayangkan.

“Aku memang memindahkan uang,” kata Raka kepada Arga saat itu.

“Tapi bukan untukku.”

“Lalu untuk siapa?”

Raka menunjukkan beberapa dokumen.

Transfer itu diperintahkan bertahun-tahun sebelumnya oleh seseorang yang memiliki hak akses lama terhadap perusahaan.

Bu Ratna.

Setelah ayah Arga meninggal, Bu Ratna ternyata terlilit utang besar karena investasi properti yang gagal.

Dia takut kedua putranya mengetahui bahwa aset keluarga yang selama ini dianggap aman sebenarnya sudah dijaminkan.

Maka dia membuat vendor palsu untuk menarik uang perusahaan sedikit demi sedikit.

Raka mengetahuinya setahun kemudian.

Tetapi bukannya menghentikan ibunya…

dia menutupinya.

“Kenapa?” tanyaku.

Arga menatap langit-langit.

“Karena Ibu bilang kalau semuanya terbongkar, perusahaan akan hancur dan ratusan pegawai kehilangan pekerjaan.”

“Tapi itu bohong.”

Arga mengangguk lemah.

“Itu cara Ibu membuat Raka takut.”

Aku memikirkan Raka.

Dia bersalah.

Dia menutupi penggelapan.

Dia mencoba membuatku menandatangani pengalihan saham.

Namun masih ada satu pertanyaan.

“Siapa yang memberimu obat?”

Arga diam lama.

Kemudian berkata,

“Aku tidak tahu.”

Dia hanya ingat minum kopi di ruang rapat gudang.

Beberapa menit kemudian tubuhnya terasa berat.

Pandangan kabur.

Raka sedang berada di luar menerima telepon.

Ketika kembali, Arga sudah hampir tidak sadar.

Orang terakhir yang Arga lihat sebelum kehilangan kesadaran adalah seorang laki-laki berseragam klinik yang datang bersama ambulans.

Dr. Surya.


Polisi menemukan dr. Surya tiga hari kemudian di sebuah penginapan di Jawa Barat.

Dan pengakuannya menghasilkan kejutan terbesar.

Dia memang menerima uang untuk membuat kondisi Arga terlihat seperti kematian mendadak dan mengeluarkan dokumen yang tidak semestinya.

Namun orang yang membayarnya bukan Raka.

Bukan pula Bu Ratna.

Orang itu adalah…

Pak Dimas.

Aku merasa seperti ditampar ketika polisi memberitahuku.

Pria yang memberikan map bukti kepadaku.

Pria yang terlihat begitu loyal kepada Arga.

Pria yang membuatku mencurigai ibu mertuaku.

Ternyata dialah yang selama bertahun-tahun mengelola rekening vendor.

Bu Ratna memang pernah mendirikan salah satu perusahaan itu untuk investasi properti bertahun-tahun sebelumnya.

Namun perusahaan tersebut sudah tidak aktif.

Pak Dimas menggunakan identitas perusahaan lama itu, membuat dokumen transaksi palsu, lalu mengarahkan uang ke rekening yang dia kendalikan.

Ketika Arga mulai menemukan ketidaksesuaian laporan, Pak Dimas panik.

Dia membutuhkan seseorang untuk dijadikan kambing hitam.

Raka sempurna.

Karena Raka memang telah melakukan pelanggaran lain: menutup beberapa transaksi yang dibuat ibunya dan menyembunyikan masalah keuangan keluarga.

Pak Dimas memanfaatkan kekacauan itu.

Rencananya sederhana.

Buat Arga tidak sadar.

Buat kematiannya terlihat alami.

Dorong proses persemayaman berlangsung cepat.

Lalu buat aku menandatangani pengalihan kendali saham kepada Raka.

Setelah itu, ketika penggelapan terbongkar, semua bukti akan mengarah kepada keluarga Mahendra.

Namun satu hal menghancurkan seluruh rencananya.

Seorang anak delapan tahun yang tidak mau meninggalkan ayahnya.


Beberapa minggu kemudian, aku duduk bersama Nadya di taman rumah sakit.

Arga masih menjalani pemulihan.

Dia sudah bisa berjalan perlahan.

Ketika Nadya melihat ayahnya keluar menggunakan kursi roda ditemani perawat, dia langsung berlari.

“Ayah!”

Arga membuka kedua tangannya.

Nadya memeluknya begitu erat.

Aku melihat suamiku menangis di rambut putrinya.

“Terima kasih,” bisiknya.

Nadya mundur.

“Untuk apa?”

“Karena kamu nggak meninggalkan Ayah.”

Nadya terlihat bingung.

Lalu dia menjawab dengan kepolosan yang membuat dadaku sesak.

“Ayah kan selalu bilang kalau Nadya takut malam-malam, Ayah akan duduk di samping Nadya sampai Nadya tidur.”

Arga mengangguk.

“Jadi waktu Ayah sendirian…”

Dia menggenggam tangan ayahnya.

“…Nadya juga harus duduk di samping Ayah.”

Aku menutup mulut agar tangisku tidak terdengar.

Semua orang mengira Nadya tidak bisa menerima kematian ayahnya.

Padahal dia hanya melakukan apa yang selama ini diajarkan ayahnya.

Tidak meninggalkan orang yang kita sayangi ketika mereka sedang takut dan sendirian.


Kasus perusahaan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan.

Pak Dimas dan dr. Surya menjalani proses hukum atas peran mereka.

Raka juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya sendiri terkait manipulasi dokumen dan upayanya membuatku menandatangani pengalihan saham tanpa penjelasan yang jujur.

Bu Ratna tidak bebas dari tanggung jawab.

Dia memang bukan dalang di balik apa yang terjadi pada Arga, tetapi keputusan-keputusan keuangannya selama bertahun-tahun telah menciptakan lubang yang memungkinkan semua kebohongan itu tumbuh.

Hubungan keluarga kami tidak langsung pulih.

Beberapa luka memang tidak bisa diselesaikan dengan satu permintaan maaf.

Arga memilih mundur sementara dari perusahaan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berhenti mencoba menyelamatkan semua orang.

Dia fokus pada pemulihan.

Pada Nadya.

Pada kami.

Suatu malam, beberapa bulan setelah semuanya berakhir, aku menemukan Arga berdiri di depan lemari kamar.

Di tangannya ada jam tangan yang dipakainya pada hari kami mengira dia meninggal.

“Aku mau buang ini,” katanya.

Aku menatap jam itu.

Jarumnya masih bergerak.

Tik.

Tik.

Tik.

“Kenapa?”

“Setiap melihatnya, aku ingat peti itu.”

Aku mengambil jam tersebut dari tangannya.

Lalu Nadya muncul dari pintu.

“Jangan dibuang.”

Kami berdua menoleh.

“Kenapa?” tanya Arga.

Nadya mengambil jam itu.

Dia memegangnya dengan kedua tangan.

“Karena jam ini tetap jalan.”

Aku dan Arga saling berpandangan.

Nadya tersenyum kecil.

“Kayak Ayah.”

Arga langsung memeluknya.

Dan kali ini kami bertiga menangis.

Bukan karena takut.

Bukan karena kehilangan.

Tetapi karena akhirnya kami memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh uang, perusahaan, atau semua dokumen yang hampir menghancurkan keluarga kami.

Kadang-kadang orang dewasa terlalu sibuk mencari bukti besar.

Rekening.

Kontrak.

Tanda tangan.

Pesan rahasia.

Kami menganggap kebenaran pasti tersembunyi di tempat yang rumit.

Padahal malam itu, kebenaran pertama kali ditemukan oleh seorang anak kecil yang hanya memperhatikan sesuatu yang dilewatkan semua orang.

Napas yang terlalu tipis untuk dilihat.

Dua detak yang terlalu lemah untuk didengar dari kejauhan.

Dan seorang ayah yang belum siap meninggalkan putrinya.

Setahun kemudian, pada ulang tahun Nadya yang kesembilan, Arga memberikan sebuah kotak kecil kepadanya.

Di dalamnya ada jam tangan itu.

Sudah dibersihkan dan diperbaiki.

Di bagian belakangnya, Arga meminta seorang pengrajin mengukir satu kalimat pendek:

“Untuk Nadya, yang mau mendengarkan ketika semua orang berhenti mendengar.”

Nadya membacanya berkali-kali.

Lalu dia memeluk ayahnya.

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka sambil tersenyum.

Sampai hari ini, aku masih memikirkan satu pertanyaan.

Apa yang akan terjadi kalau malam itu aku memaksa Nadya pulang?

Bagaimana kalau aku mengatakan dia hanya anak kecil yang sedang berkhayal?

Bagaimana kalau kami menunggu beberapa jam lagi?

Aku tidak ingin mengetahui jawabannya.

Yang kutahu hanya satu.

Malam ketika semua orang datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Arga…

putri kami menolak mengucapkannya.

Dan karena keberaniannya untuk berkata,

“Mama, Ayah belum meninggal,”

kami akhirnya mendapatkan kesempatan kedua untuk mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting.

“Ayah, selamat datang kembali.”

TAMAT.