SEKRETARIS SUAMIKU MENGUSIRKU DARI LIFT EKSEKUTIF KARENA DIA MENGIRAKU ANAK MAGANG. AKU HAMPIR MEMBERITAHUNYA BAHWA AKULAH CEO BARU PERUSAHAAN ITU… SAMPAI AKU MELIHAT BENDA YANG MELINGKAR DI PERGELANGAN TANGANNYA.
BAGIAN 1
Di hari pertamaku sebagai CEO Mahendra Artha Group, sekretaris suamiku menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu berdiri tepat di depan pintu lift eksekutif.
“Anak magang pakai lift staf.”
Nada suaranya dingin, seolah keberadaanku saja sudah mengganggunya.
Dia sama sekali tidak tahu siapa aku.
Dan aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.
Setidaknya, belum.

Karena tepat ketika perempuan itu mengangkat tangan untuk menghalangi pintu lift, mataku menangkap sesuatu di pergelangan tangan kirinya.
Sebuah jam tangan keramik putih.
Desainnya sangat khas.
Di sekeliling bingkainya terdapat berlian kecil, sementara tepat di atas angka enam ada ornamen bulan sabit berwarna perak.
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku mengenali jam itu.
Bukan karena pernah melihat model serupa di internet.
Aku mengenalinya karena akulah yang memilihnya sendiri.
Jam tangan edisi terbatas itu seharusnya menjadi hadiah ulang tahun untuk ibu mertuaku, Bu Ratna.
Hanya ada beberapa unit yang dialokasikan untuk kawasan Asia Tenggara.
Sebulan sebelumnya, ketika aku masih berada di Surabaya menyelesaikan restrukturisasi salah satu anak perusahaan kami, aku menelepon suamiku, Raka Mahendra.
“Tolong ambilkan jam yang kukirim fotonya kemarin,” kataku. “Aku mau memberikannya untuk ulang tahun Mama.”
Raka bahkan tidak ragu.
“Tenang saja, Nad. Biar aku yang urus.”
Aku masih ingat suaranya.
Santai.
Hangat.
Meyakinkan.
“Hadiah dari kita berdua?”
Aku tertawa kecil.
“Boleh. Yang penting jangan sampai Mama tahu dulu.”
“Siap.”
Aku percaya begitu saja.
Namun sekarang…
Jam yang seharusnya masih berada di dalam kotak hadiah itu justru melingkar di pergelangan tangan Celine Pratama, sekretaris eksekutif suamiku.
Dan beberapa menit setelah itu, aku mulai menyadari bahwa masalah sebenarnya jauh lebih besar daripada sebuah hadiah ulang tahun yang diberikan kepada perempuan lain.
Pagi itu aku tiba di kantor pusat Mahendra Artha Group di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, tanpa rombongan, tanpa sopir menunggu di depan lobi, bahkan tanpa pakaian yang menunjukkan bahwa aku akan menduduki jabatan tertinggi operasional perusahaan.
Aku hanya mengenakan midi dress biru tua sederhana, sepatu flat kulit, dan membawa tas kerja tanpa logo mencolok.
Aku memang selalu seperti itu.
Selama enam tahun terakhir, sebagian besar pekerjaanku dilakukan jauh dari kantor pusat.
Aku masuk ke pabrik yang hampir bangkrut.
Mendatangi gudang.
Duduk bersama kepala cabang.
Memeriksa laporan keuangan sampai tengah malam.
Terbang Jakarta–Surabaya–Balikpapan dalam minggu yang sama.
Aku lebih terbiasa berbicara dengan supervisor operasional daripada berdiri di pesta perusahaan sambil membawa tas puluhan juta rupiah.
Aku tidak pernah merasa perlu menunjukkan posisiku lewat pakaian.
Rupanya Celine punya standar yang berbeda.
Dia berdiri di depan lift dengan blazer putih mahal, rok pensil hitam, sepatu hak tinggi, dan kartu akses khusus menggantung di lehernya.
“Kamu tidak dengar?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Dengar.”
“Kalau begitu gunakan lift staf.”
Aku melirik pintu lift di belakangnya.
“Apa lift ini rusak?”
Ekspresinya berubah seolah aku baru mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.
“Ini lift eksekutif.”
“Aku tahu.”
“Berarti kamu juga seharusnya tahu bahwa lift ini bukan untuk anak magang.”
Seorang perempuan muda yang berdiri beberapa langkah dariku langsung menundukkan kepala.
Usianya mungkin baru dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun.
ID card-nya menunjukkan nama Alya Putri — Junior Analyst.
Ketika Celine berbalik sebentar untuk memeriksa ponselnya, Alya mendekat kepadaku.
“Mbak…”
Suaranya hampir berbisik.
“Lebih baik ikut saja.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Dia tampak takut memastikan Celine tidak mendengar.
“Jangan cari masalah sama Bu Celine.”
Aku mengerutkan kening.
“Lift staf sampai lantai berapa?”
“Lantai enam puluh tiga.”
Aku melihat panel direktori gedung.
Kantor direksi berada di lantai enam puluh delapan.
“Kalau karyawan yang bekerja di lantai atas?”
Alya diam sesaat.
“Kami naik tangga dari lantai enam puluh tiga.”
Aku mengira aku salah dengar.
“Lima lantai?”
Dia mengangguk.
“Setiap hari?”
Sebelum Alya menjawab, suara Celine terdengar dari belakang.
“Kalau naik lima lantai saja sudah mengeluh, bagaimana mau bertahan bekerja di perusahaan besar?”
Alya langsung menjauh.
Wajahnya memerah.
Aku menatap perempuan di depanku itu lebih lama.
Tadinya aku hanya menganggapnya sombong.
Sekarang sesuatu dalam diriku berubah.
Karena persoalan ini bukan lagi tentang bagaimana dia memperlakukanku.
Aku tahu siapa diriku.
Aku bisa menghentikan semua ini hanya dengan satu kalimat.
Tetapi Alya tidak bisa.
Puluhan staf junior lain mungkin juga tidak bisa.
Dan dari cara mereka semua menghindari tatapan Celine, aku mulai memahami bahwa perilaku seperti ini bukan kejadian pertama.
Mereka sudah terbiasa.
Tiga hari sebelumnya, Dewan Komisaris dan pemegang saham utama Mahendra Artha Group telah menyetujui restrukturisasi kepemimpinan perusahaan.
Aku resmi ditunjuk sebagai Chief Executive Officer.
Pengumuman internal baru akan dikirim pukul sepuluh pagi.
Raka tahu aku akan kembali bekerja di kantor pusat.
Tapi ada satu hal yang belum sepenuhnya dia pahami.
Dalam restrukturisasi baru, aku tidak sekadar mendapat gelar CEO.
Divisi Operasional, Audit Internal, Human Resources, Pengadaan, dan Kepatuhan kini berada langsung di bawah kewenanganku.
Raka tetap menjadi Komisaris Utama.
Namun untuk urusan operasional perusahaan…
mulai pagi itu, keputusan terakhir ada di mejaku.
Celine kembali menghalangi pintu.
“Aku bilang sekali lagi. Jangan pakai lift ini.”
Aku melihat tangannya.
Sekali lagi, jam putih itu berkilau terkena cahaya lobi.
Kemudian aku menekan tombol lift.
Pintu terbuka.
Aku masuk.
Wajah Celine berubah.
“Kamu serius?”
Aku menekan tombol lantai 68.
Celine ikut masuk dan berdiri tepat di sampingku.
“Sepertinya kamu belum mengerti bagaimana perusahaan ini bekerja.”
Aku menatap pantulan kami di dinding logam lift.
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia tersenyum tipis.
“Setelah makan siang, kartu aksesmu mungkin sudah tidak aktif.”
“Kenapa?”
“Karena aku akan bicara dengan HR.”
Aku hampir tertawa.
“Sejak kapan sekretaris Komisaris Utama menentukan siapa yang boleh bekerja di perusahaan?”
Tatapan Celine berubah.
Ada sesuatu dalam caranya menjawab yang langsung membuatku waspada.
“Siapa pun yang ingin dekat dengan Pak Raka harus melewati aku.”
Bukan seperti sekretaris yang menjelaskan pekerjaannya.
Dia mengatakannya seperti seseorang yang merasa memiliki wilayah kekuasaan.
Lift berbunyi.
Pintu terbuka di lantai eksekutif.
Begitu kami keluar, beberapa staf langsung menoleh.
Celine berjalan cepat mendahuluiku.
Dalam hitungan menit, aku mendengar versinya tentang kejadian di bawah mulai menyebar.
“Anak baru itu nekat sekali.”
“Dia berani melawan Bu Celine?”
“Habislah.”
Seorang manajer senior bahkan mendekatiku.
Dia tidak mengenalku.
“Kalau boleh kasih saran, Mbak,” katanya pelan, “minta maaf saja sebelum Pak Raka selesai rapat.”
“Kenapa?”
Dia menurunkan suaranya.
“Pak Raka sangat percaya sama Bu Celine.”
“Seberapa percaya?”
Pria itu terdiam.
Kemudian menjawab hati-hati.
“Lebih dari kebanyakan direktur di gedung ini.”
Aku memandang lorong menuju ruang kerja suamiku.
Ada rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh di perutku.
Lalu kudengar dua staf berbicara pelan di dekat pantry.
“Direktur Finance saja pernah dipindahkan setelah ribut sama dia.”
“Serius?”
“Katanya Celine tinggal telepon Pak Raka.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Tapi aku mengingat semuanya.
Nama.
Wajah.
Kalimat.
Aku sudah bertahun-tahun melakukan restrukturisasi perusahaan.
Salah satu hal pertama yang kupelajari adalah bahwa budaya buruk jarang muncul dari satu orang.
Budaya buruk tumbuh karena seseorang yang punya kekuasaan membiarkannya.
Atau lebih buruk lagi…
melindunginya.
Aku kembali melihat jam di tangan Celine.
Cahaya putih dari langit-langit memantul tepat pada ornamen bulan sabit kecil di angka enam.
Tidak mungkin salah.
Itu jamnya.
Aku berjalan mendekat.
Celine sedang berbicara dengan resepsionis eksekutif ketika dia menyadari aku memperhatikan pergelangan tangannya.
Dia sengaja mengangkat tangannya lebih tinggi.
“Suka?”
Aku menatap jam itu.
“Bagus.”
“Tentu saja.”
“Model terbatas?”
Senyumnya melebar.
“Oh, jadi kamu tahu barang mahal juga?”
Aku mengabaikan sindirannya.
“Dapat dari mana?”
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ekspresi Celine berubah.
Kesombongannya tetap ada.
Tapi sekarang ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih personal.
Dia menyentuh permukaan jam itu dengan ujung jarinya.
Kemudian menatapku lurus-lurus.
“Pak Raka yang kasih.”
Dunia di sekelilingku seolah mendadak mengecil.
Sepuluh tahun pernikahanku dengan Raka terlintas dalam pikiranku.
Makan malam dengan klien yang semakin sering.
Perjalanan bisnis mendadak.
Telepon yang selalu dibalik layarnya ketika diletakkan di meja.
Pesan masuk tengah malam.
Dan alasan yang selalu terdengar masuk akal.
“Nad, ada masalah di kantor.”
“Nad, rapatnya molor.”
“Nad, aku harus ketemu investor.”
Selama ini aku tidak pernah memeriksa ponselnya.
Tidak pernah mengikuti mobilnya.
Tidak pernah menanyai sekretarisnya.
Karena aku percaya padanya.
Namun aku juga tahu satu hal.
Kecurigaan bukan bukti.
Dan aku tidak akan menghancurkan sepuluh tahun pernikahan hanya berdasarkan sebuah jam tangan.
Aku tersenyum tipis kepada Celine.
“Hadiah yang sangat bagus.”
Dia tampak puas.
“Pak Raka memang tahu bagaimana memperlakukan orang yang penting baginya.”
Kalimat itu disengaja.
Aku tahu.
Dia ingin melihat reaksiku.
Tapi dia belum tahu siapa aku.
Jadi aku memberinya reaksi yang dia harapkan.
Aku menunduk sedikit.
Seolah terintimidasi.
Lalu aku berjalan menuju toilet perempuan.
Begitu pintu tertutup di belakangku, aku mengeluarkan ponsel.
Aku tidak menelepon Raka.
Aku menelepon Dimas Santoso, Kepala Audit Internal.
Dia mengangkat setelah dering kedua.
“Selamat pagi, Bu Nadira.”
“Pak Dimas, pengumuman jabatan saya belum keluar, kan?”
“Belum. Sesuai jadwal pukul sepuluh.”
“Bagus.”
“Apakah ada masalah?”
Aku menatap pantulan wajahku di cermin.
“Mulai sekarang, jangan beri tahu siapa pun bahwa saya sudah berada di gedung.”
Dia diam.
“Baik.”
“Dan saya butuh pemeriksaan.”
“Pemeriksaan apa?”
Aku menarik napas.
“Semua transaksi pengadaan yang mendapat persetujuan khusus dari kantor Komisaris Utama selama dua belas bulan terakhir.”
Nada Dimas langsung berubah serius.
“Termasuk pengeluaran pribadi?”
“Terutama yang dikategorikan sebagai hadiah relasi, entertainment, perjalanan eksekutif, dan reimbursement.”
“Berapa lama?”
“Secepat mungkin.”
Aku hampir menutup telepon.
Kemudian teringat sesuatu.
“Pak Dimas.”
“Ya?”
“Cari satu transaksi lagi.”
Aku menyebutkan merek dan seri jam tangan itu.
“Harganya sekitar tiga ratus juta rupiah. Dibeli sekitar satu bulan lalu.”
Dimas terdiam beberapa detik.
“Ada alasan khusus?”
Aku melihat pintu toilet.
“Belum tahu.”
“Baik. Saya cek.”
Aku keluar beberapa menit kemudian.
Celine sudah tidak berada di meja sekretaris.
Pintunya menuju ruang kerja Raka terbuka sedikit.
Dari dalam, aku mendengar suaranya.
“Jangan khawatir.”
Kemudian suara Raka.
Suamiku.
Aku tidak bisa mendengar seluruh percakapan mereka.
Aku hanya menangkap beberapa kata.
“…sebelum pengumuman…”
Kemudian Celine tertawa.
Aku berdiri diam di lorong.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Dimas.
BU NADIRA, SAYA MENEMUKAN TRANSAKSI JAM TERSEBUT.
Aku membukanya.
Ada foto invoice.
Nominalnya cocok.
Serinya cocok.
Tanggalnya juga cocok.
Tapi bukan itu yang membuat tanganku membeku.
Jam tersebut ternyata tidak dibayar dari rekening pribadi Raka.
Pembeliannya dibebankan ke perusahaan sebagai:
HADIAH STRATEGIS UNTUK MITRA EKSTERNAL.
Aku membaca baris berikutnya.
Penerima resmi yang tercatat bukan Bu Ratna.
Bukan Celine.
Nama penerimanya adalah sebuah perusahaan konsultan yang belum pernah kudengar.
PT Arunika Strategic Advisory.
Aku langsung mengirim pesan kepada Dimas.
Siapa pemilik perusahaan ini?
Jawabannya datang beberapa menit kemudian.
Kami sedang telusuri. Ada yang aneh. Perusahaan baru berdiri delapan bulan lalu, tapi sudah menerima beberapa pembayaran dari Mahendra Artha Group.
Dadaku terasa semakin berat.
Berapa banyak?
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Lalu sebuah angka terpampang di layar.
Rp4,8 miliar.
Aku menatap angka itu lama.
Sebuah jam tangan tiga ratus juta rupiah kini terasa seperti masalah terkecil.
Kemudian Dimas mengirim satu dokumen tambahan.
Bu, saya menemukan nama pihak yang tercantum sebagai penerima manfaat akhir PT Arunika.
Aku membuka file itu.
Dan saat melihat nama di halaman terakhir, aku merasa darah di wajahku turun seketika.
Bukan Raka.
Bukan pula nama investor yang kukenal.
Nama itu adalah—
CELINE PRATAMA.
Aku perlahan mengangkat kepala.
Dari balik kaca ruang kerja Raka, aku bisa melihat Celine berdiri sangat dekat dengan suamiku.
Jam putih itu masih berada di pergelangan tangannya.
Tapi sekarang aku mengerti.
Aku datang pagi itu mengira mungkin aku sedang menemukan bukti perselingkuhan.
Ternyata aku menemukan sesuatu yang berpotensi jauh lebih besar.
Uang perusahaan.
Perusahaan bayangan.
Persetujuan dari kantor suamiku.
Dan sekretaris yang semua orang terlalu takut untuk lawan.
Tepat saat itu, seluruh ponsel di lantai eksekutif berbunyi hampir bersamaan.
Pukul sepuluh.
Pengumuman resmi perusahaan baru saja dikirim.
Celine mengambil ponselnya.
Aku melihat wajahnya saat membaca layar.
Senyumnya perlahan menghilang.
Dia membaca sekali lagi.
Kemudian kepalanya terangkat.
Matanya mencari seseorang di lorong.
Dan akhirnya berhenti tepat padaku.
Wajahnya langsung pucat.
Aku berjalan perlahan ke arahnya.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Celine tidak punya satu pun kata untuk mengusirku.
Aku berhenti beberapa langkah di depannya.
“Selamat pagi, Bu Celine.”
Aku mengulurkan tangan.
“Sepertinya kita belum sempat berkenalan dengan benar.”
Aku tersenyum.
“Saya Nadira Maheswari. CEO baru Mahendra Artha Group.”
Tangannya yang memakai jam itu perlahan turun ke samping tubuhnya.
Tapi aku belum selesai.
Karena di ponselku, Dimas baru saja mengirim pesan kedua.
Dan isi pesan itu membuatku sadar bahwa ketika aku membuka pintu ruang kerja suamiku nanti…
pernikahanku mungkin bukan satu-satunya hal yang akan berakhir.
BAGIAN 2
Wajah Celine berubah ketika membaca pengumuman di ponselnya.
NADIRA MAHESWARI RESMI MENJABAT SEBAGAI CHIEF EXECUTIVE OFFICER MAHENDRA ARTHA GROUP.
Beberapa detik sebelumnya, perempuan itu masih berdiri dengan dagu terangkat, seolah seluruh lantai enam puluh delapan adalah wilayah kekuasaannya.
Sekarang bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku mengulurkan tangan.
“Sepertinya kita belum sempat berkenalan dengan benar.”
Dia tidak menyambut tanganku.
Matanya berpindah dari wajahku ke layar ponselnya, lalu kembali kepadaku.
“Bu… Nadira?”
Aku tersenyum tipis.
“Yang tadi kamu sebut anak magang.”
Lorong mendadak sunyi.
Alya, junior analyst yang tadi memperingatkanku di depan lift, berdiri beberapa meter di belakang dengan wajah tidak percaya.
Manajer senior yang menyuruhku meminta maaf kepada Celine juga membeku.
Namun aku tidak menikmati momen itu.
Karena ponselku kembali bergetar.
Pesan baru dari Dimas.
Bu, jangan konfrontasi siapa pun dulu. Ada sesuatu yang lebih besar. Kami menemukan total transaksi yang terhubung ke PT Arunika bukan hanya Rp4,8 miliar.
Aku membuka pesan berikutnya.
Jika dihitung melalui tiga vendor terkait, nilainya mendekati Rp17,6 miliar.
Aku membaca angka itu dua kali.
Rp17,6 miliar.
Kemudian pesan ketiga masuk.
Dan sebagian besar persetujuannya menggunakan otorisasi kantor Pak Raka.
Aku mengangkat kepala.
Celine masih menatapku.
Di balik dinding kaca, Raka akhirnya keluar dari ruangannya.
Suamiku tersenyum ketika melihatku.
“Nadira?”
Dia berjalan mendekat dengan ekspresi seolah ini kejutan menyenangkan.
“Kamu sudah sampai? Kenapa tidak bilang? Aku bisa minta sopir menjemputmu.”
Kemudian dia melihat wajah Celine.
Senyumnya memudar.
“Ada apa?”
Aku memandang suamiku selama beberapa detik.
Laki-laki yang sudah kunikahi selama sepuluh tahun.
Orang yang selama ini kupikir paling kukenal.
Aku ingin bertanya tentang jam itu.
Tentang Rp17,6 miliar.
Tentang PT Arunika.
Tentang semua makan malam dan perjalanan bisnis yang tiba-tiba terasa berbeda dalam ingatanku.
Namun pengalaman mengajariku satu hal.
Jangan pernah menunjukkan seluruh kartu ketika lawanmu belum tahu apa yang kau pegang.
Jadi aku tersenyum.
“Tidak ada apa-apa.”
Celine menatapku tajam.
Aku melanjutkan.
“Celine hanya menjelaskan aturan penggunaan lift.”
Raka mengerutkan kening.
“Lift?”
“Katanya staf junior harus menggunakan lift sampai lantai enam puluh tiga, lalu naik tangga lima lantai.”
Raka menoleh kepada Celine.
“Benar?”
Celine langsung menjawab, “Itu prosedur keamanan, Pak.”
“Prosedur siapa?”
Dia terdiam.
Aku menatap Raka.
“Pertanyaan bagus.”
Raka tampak tidak nyaman.
“Nad, kita bisa membahas hal-hal operasional nanti.”
“Tidak.”
Aku tetap tenang.
“Mulai hari ini, hal-hal operasional adalah pekerjaan saya.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajah suamiku.
Bukan marah.
Bukan terkejut.
Takut.
Sangat kecil.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
Dan itu cukup.
Aku berbalik kepada staf.
“Mulai hari ini, semua lift penumpang dapat digunakan seluruh karyawan sesuai akses lantai masing-masing. Tidak ada staf yang diwajibkan naik lima lantai melalui tangga hanya karena jabatan mereka.”
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Aku justru senang.
Aku tidak membutuhkan pertunjukan.
Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aturan itu berakhir.
Kemudian aku menatap Celine.
“Dan Bu Celine, pukul sebelas datang ke ruang rapat utama.”
Dia menelan ludah.
“Untuk apa?”
“Audit.”
Jam putih di tangannya seolah tiba-tiba menjadi jauh lebih berat.
Aku masuk ke ruang CEO yang baru disiapkan untukku.
Dimas sudah menunggu.
Di meja ada tiga map.
Merah.
Hitam.
Abu-abu.
Dimas menutup pintu.
“Situasinya lebih buruk daripada yang saya pikir.”
Dia membuka map merah.
Di dalamnya ada daftar transaksi.
PT Arunika Strategic Advisory.
PT Nusa Prima Consulting.
PT Lentera Karya Mandiri.
Nama berbeda.
Alamat berbeda.
Namun setelah ditelusuri, ketiganya terhubung melalui nomor telepon, alamat korespondensi, dan dua orang komisaris yang saling berkaitan.
“Arunika milik Celine?” tanyaku.
“Secara legal, saham mayoritas atas nama kakaknya.”
“Lalu kenapa dokumen tadi mencantumkan Celine?”
“Karena dia penerima manfaat akhirnya.”
Aku menarik napas.
“Raka?”
Dimas membuka map hitam.
“Ini bagian yang aneh.”
Aku menatapnya.
“Sebagian persetujuan memakai kredensial kantor Pak Raka. Tapi ada pola.”
Dia menunjukkan beberapa dokumen digital.
“Semua persetujuan dilakukan antara pukul enam sore sampai hampir tengah malam.”
“Raka sering masih di kantor.”
“Benar. Tapi lihat tanggal ini.”
Dia menunjuk satu transaksi Rp1,2 miliar.
Tanggalnya membuatku berhenti.
Aku mengenal tanggal itu.
“Raka berada di Bali.”
Dimas mengangguk.
Aku bahkan ada bersamanya.
Kami menghadiri ulang tahun pernikahan orang tuanya.
Raka hampir tidak menyentuh laptop sepanjang malam.
“Berarti akunnya digunakan orang lain?”
“Kemungkinan.”
Aku langsung teringat kalimat Celine.
Siapa pun yang ingin dekat dengan Pak Raka harus melewati aku.
“Dia punya akses?”
“Sebagai sekretaris eksekutif, Celine memang punya beberapa hak delegasi. Tapi tidak seharusnya bisa memberikan persetujuan final.”
Aku menatap map ketiga.
“Yang abu-abu?”
Dimas tidak langsung menjawab.
“Bu Nadira… sebelum saya tunjukkan, saya ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”
“Apakah Ibu ingin kami memperlakukan Pak Raka seperti eksekutif lain dalam investigasi ini?”
Aku memahami pertanyaannya.
Bukan sebagai CEO.
Sebagai istri.
Aku melihat cincin pernikahan di jariku.
Lalu menjawab,
“Justru karena dia suami saya.”
Aku melepas cincin itu perlahan, meletakkannya di meja sebentar.
“Tidak boleh ada perlakuan khusus.”
Dimas membuka map abu-abu.
Di dalamnya ada salinan percakapan yang telah tersimpan dalam arsip server perusahaan.
Namaku muncul di salah satu pesan.
Aku membacanya.
Raka: Nadira akan kembali ke Jakarta bulan depan. Pastikan semua sudah bersih sebelum dia masuk kantor pusat.
Jantungku berhenti sejenak.
Pesan berikutnya dari Celine.
Tenang. Dia tidak akan menemukan apa pun.
Aku tidak bisa langsung melanjutkan membaca.
Jadi Raka tahu.
Suamiku tahu.
Aku menutup map.
“Panggil Legal.”
Pukul sebelas tepat, ruang rapat utama dipenuhi enam orang.
Aku.
Dimas.
Kepala Legal.
Direktur HR.
Celine.
Dan Raka.
Raka masuk terakhir.
“Apa sebenarnya ini?”
Aku menunjuk kursi.
“Duduk.”
“Nadira, kalau ini soal Celine dan lift—”
“Ini bukan soal lift.”
Aku mendorong salinan transaksi ke tengah meja.
Wajah Celine kehilangan warna.
Raka mengambil dokumen pertama.
“PT Arunika?”
“Kenal?”
Dia membaca.
“Tidak.”
Aku memperhatikannya.
“Rp17,6 miliar.”
Tangannya berhenti.
“Apa?”
“Dana yang keluar melalui beberapa perusahaan yang saling terhubung.”
Aku menunjuk Celine.
“Dan salah satu penerima manfaat akhirnya adalah sekretarismu.”
Raka menatap Celine.
Ekspresinya terlihat sangat nyata.
“Kamu bisa jelaskan ini?”
Celine tidak menjawab.
Aku kemudian mengeluarkan invoice jam.
“Dan ini.”
Raka melihatnya.
Aku bertanya,
“Kamu membeli jam ini?”
Dia langsung menjawab.
“Iya.”
“Untuk siapa?”
“Untuk Mama.”
Aku menatap pergelangan tangan Celine.
Raka mengikuti tatapanku.
Wajahnya berubah.
“Kenapa jam itu ada padamu?”
Celine tertawa kecil.
Aneh.
Di tengah situasi itu, dia justru tertawa.
Kemudian dia menatapku.
“Karena suami Anda memberikannya kepada saya.”
Raka berdiri.
“Apa?”
“Kamu sendiri yang kasih.”
“Aku memberikan kotaknya kepadamu untuk dikirim ke rumah Mama!”
Celine menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Dan siapa yang akan percaya itu?”
Ruangan hening.
Kemudian aku memahami sesuatu.
Jam itu bukan hadiah cinta.
Jam itu adalah jebakan.
Celine sengaja memakainya.
Dia sengaja mengatakan Raka memberikannya.
Dia ingin aku melihat.
“Kenapa?” tanyaku.
Celine menatapku.
Untuk pertama kalinya, kesombongannya hilang.
Yang muncul justru kemarahan.
“Karena semuanya selalu tentang keluarga Mahendra.”
Aku mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Dia tertawa getir.
“Suami Anda bahkan tidak ingat nama ayah saya.”
Raka terlihat bingung.
“Siapa ayahmu?”
Celine menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Surya Pratama.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku mengenal nama itu.
Surya Pratama pernah menjadi Direktur Procurement Mahendra Artha Group.
Delapan tahun lalu, dia diberhentikan karena skandal pengadaan.
Beberapa bulan kemudian, dia meninggal akibat serangan jantung.
Celine melanjutkan.
“Ayah saya dituduh mengambil uang perusahaan.”
Aku menatap Dimas.
Dia segera membuka laptop.
“Tapi investigasi waktu itu menemukan transaksi—”
“Investigasi yang dibuat untuk menemukan kambing hitam!” bentak Celine.
Air matanya akhirnya jatuh.
“Seluruh hidup kami hancur. Mama menjual rumah. Kakak saya berhenti kuliah. Ayah meninggal dengan semua orang menganggap dia pencuri.”
Raka perlahan duduk.
“Aku tidak tahu.”
“Tentu kamu tidak tahu.”
Celine tersenyum pahit.
“Kamu anak pemilik perusahaan. Bagimu itu cuma satu tanda tangan.”
Aku bertanya pelan,
“Jadi kamu masuk perusahaan untuk membalas dendam?”
Dia menatapku.
“Aku masuk untuk mencari bukti.”
“Lalu Rp17,6 miliar?”
Celine terdiam.
Itulah celahnya.
“Kalau tujuanmu hanya mencari bukti,” kataku, “kenapa uang itu masuk ke perusahaan keluargamu?”
Dia tidak punya jawaban.
Aku membuka satu dokumen lagi.
“Dan kenapa kamu membuat invoice konsultasi palsu?”
Wajahnya mengeras.
“Karena perusahaan ini berutang kepada keluarga saya.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Keadilan dan mengambil uang untuk diri sendiri adalah dua hal berbeda.”
Celine memukul meja.
“Kalian mengambil semuanya dari kami!”
“Kalau ayahmu difitnah, kita akan membuktikannya.”
Aku menatapnya lurus.
“Tapi kalau kamu mencuri karena merasa pernah dicurangi, itu tetap pencurian.”
Dia terdiam.
Kemudian Kepala Legal menyela.
“Ada satu hal lagi.”
Dia memutar laptop.
Sebuah dokumen lama muncul.
Audit internal delapan tahun lalu.
Ada lampiran yang selama ini tidak pernah masuk ke laporan akhir.
Aku membaca nama pemberi persetujuan.
Dan tubuhku membeku.
Bukan Surya Pratama.
Bukan Raka.
Melainkan—
Bambang Mahendra.
Ayah Raka.
Mertuaku sendiri.
Raka berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
“Tidak mungkin.”
Dimas berkata pelan,
“Dokumen asli ditemukan di arsip cadangan.”
Ternyata Surya memang tidak mencuri.
Ada manipulasi pengadaan bertahun-tahun lalu.
Surya menemukannya.
Ketika dia hendak melaporkan masalah tersebut, transaksi tertentu dialihkan menggunakan kredensial departemennya.
Dia dijadikan kambing hitam.
Namun ada bagian yang bahkan Celine tidak tahu.
Bambang bukan orang yang menikmati uang itu.
Dia menutupi kerugian yang dibuat oleh adiknya sendiri—paman Raka—yang saat itu diam-diam menggunakan dana perusahaan untuk menyelamatkan bisnis pribadinya.
Bambang memilih melindungi keluarga.
Dan seorang karyawan membayar harganya.
Celine menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
Selama delapan tahun dia percaya keluarga Mahendra menghancurkan ayahnya.
Dan sebagian dari keyakinan itu ternyata benar.
Namun cara dia membalasnya telah membuatnya melakukan hal yang hampir sama.
Menggunakan perusahaan.
Memalsukan dokumen.
Mengambil uang yang bukan miliknya.
Aku memandang Raka.
“Dan kamu?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengeluarkan percakapan yang tadi ditemukan Dimas.
Pastikan semua sudah bersih sebelum Nadira masuk kantor pusat.
Aku meletakkannya di depan Raka.
“Jelaskan.”
Wajahnya pucat.
“Nad…”
“Jelaskan.”
Dia duduk.
Kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Aku tahu soal ayah Celine.”
Celine berhenti menangis.
Aku menatapnya.
“Sejak kapan?”
“Enam bulan lalu.”
Raka mengusap wajah.
“Celine menemukan sebagian dokumen lama. Dia datang kepadaku. Dia bilang kalau kasus itu dibuka, nama Papa akan hancur.”
“Jadi kamu menutupinya?”
“Aku takut.”
Itu jawabannya.
Bukan konspirasi besar.
Bukan hubungan gelap.
Bukan alasan mulia.
Ketakutan.
“Aku pikir aku bisa menyelesaikannya diam-diam.”
“Dengan membiarkan dia tetap memiliki akses?”
“Aku tidak tahu dia mengambil uang sebanyak itu.”
“Tapi kamu tahu ada transaksi.”
Dia tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku runtuh.
Bukan karena Raka berselingkuh.
Ternyata dia tidak.
Justru kenyataannya terasa lebih menyakitkan.
Suamiku memilih menyembunyikan kebenaran dariku.
Dia tahu aku akan kembali sebagai pemimpin perusahaan.
Dan daripada mempercayaiku, dia mencoba membersihkan jejak masalah sebelum aku melihatnya.
Aku mengambil cincin yang tadi kulepas.
Raka melihatnya.
“Nadira…”
“Aku tidak akan membuat keputusan tentang pernikahan kita hari ini.”
Dia tampak sedikit lega.
Aku melanjutkan.
“Tapi kamu dinonaktifkan dari seluruh akses operasional sampai investigasi selesai.”
Wajahnya jatuh.
“Nad…”
“Di ruangan ini saya CEO.”
Aku menahan air mata.
“Di rumah nanti, baru kita bicara sebagai suami istri.”
Investigasi berlangsung berbulan-bulan.
Celine diberhentikan dan kasus transaksi yang melibatkannya diserahkan melalui proses hukum yang berlaku.
Namun aku juga menepati janjiku.
Kami membuka kembali kasus Surya Pratama.
Audit independen memastikan bahwa tuduhan utama terhadapnya bertahun-tahun lalu tidak didukung bukti yang semestinya.
Mahendra Artha Group secara resmi mengoreksi catatan internalnya dan memberikan kompensasi kepada keluarga Surya berdasarkan hasil peninjauan hukum.
Nama seorang lelaki yang meninggal dengan cap pencuri akhirnya dipulihkan.
Aku tidak melakukan itu untuk Celine.
Aku melakukannya karena kebenaran tidak boleh bergantung pada apakah orang yang menuntutnya baik atau buruk.
Sementara Raka?
Dia mengundurkan diri sebagai Komisaris Utama.
Bukan karena aku memaksanya.
Dia sendiri yang mengajukan surat itu.
Pernikahan kami hampir berakhir.
Kami tinggal terpisah beberapa bulan.
Tidak ada rekonsiliasi dramatis.
Tidak ada bunga seribu tangkai.
Tidak ada makan malam mahal yang tiba-tiba memperbaiki sepuluh tahun kepercayaan.
Raka harus belajar bahwa melindungi keluarga dengan menyembunyikan kesalahan justru bisa menghancurkan keluarga itu sendiri.
Dan aku harus belajar bahwa memaafkan seseorang tidak sama dengan langsung mempercayainya lagi.
Kami akhirnya memilih mencoba membangun ulang pernikahan kami.
Pelan-pelan.
Dengan transparansi.
Dengan batas yang jauh lebih jelas.
Dan dengan satu aturan sederhana:
Tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan atas nama “melindungi keluarga.”
Beberapa waktu kemudian, aku sedang menuju ruang rapat ketika lift berhenti di lantai enam puluh tiga.
Pintu terbuka.
Alya berdiri di sana.
Perempuan muda yang pertama kali memperingatkanku agar tidak membuat Celine marah.
Dia tampak ragu ketika melihatku.
“Bu Nadira.”
“Masuk.”
Dia melangkah masuk.
Ketika lift bergerak, dia tersenyum kecil.
“Dulu saya tidak pernah membayangkan bisa naik lift ini.”
Aku menatap angka lantai yang terus naik.
“Kenapa?”
“Karena kami pikir lantai atas memang bukan tempat untuk orang seperti kami.”
Kalimat itu menghantamku lebih kuat daripada yang dia sadari.
Pintu terbuka di lantai enam puluh delapan.
Aku menahannya agar Alya keluar lebih dulu.
Sebelum pergi, dia menoleh.
“Oh iya, Bu.”
“Apa?”
“Selamat ulang tahun untuk Bu Ratna.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
Malam itu aku pergi ke rumah ibu mertuaku membawa sebuah kotak kecil.
Bukan jam keramik putih.
Jam itu telah menjadi barang bukti dalam investigasi.
Aku membelikan Bu Ratna jam sederhana buatan pengrajin lokal.
Ketika membuka kotaknya, dia tertawa.
“Cantik sekali.”
“Tidak mahal, Ma.”
Dia menatapku.
“Siapa bilang hadiah harus mahal?”
Aku terdiam.
Kemudian ikut tertawa.
Di seberang meja, Raka menatapku.
Hubungan kami belum sempurna.
Mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Tapi anehnya, aku tidak menginginkannya kembali seperti dulu.
Karena “seperti dulu” adalah saat kami saling mencintai sambil menyimpan hal-hal yang seharusnya dibicarakan.
Aku menginginkan sesuatu yang lebih jujur.
Sesuatu yang harus dibangun, bukan diasumsikan.
Aku masih sering memikirkan pagi pertama itu.
Tentang lift.
Tentang Celine.
Tentang jam putih di pergelangan tangannya.
Aku datang ke kantor dengan keyakinan bahwa aku akan menjalani hari pertama sebagai CEO.
Aku hampir memperkenalkan diriku hanya untuk membungkam seorang sekretaris yang merendahkanku.
Untung aku tidak melakukannya.
Karena kalau aku langsung mengatakan siapa diriku, mungkin Celine akan meminta maaf.
Dia akan melepas jam itu.
Dia akan menghapus dokumen.
Semua orang akan kembali berpura-pura baik-baik saja.
Dan aku mungkin tidak pernah mengetahui apa yang tersembunyi di balik satu benda kecil di pergelangan tangannya.
Hari itu mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting daripada bagaimana memimpin perusahaan.
Kekuasaan tidak selalu terlihat dari siapa yang punya ruang kerja terbesar.
Kadang kekuasaan terlihat dari siapa yang bisa membuat orang lain takut menggunakan lift.
Kesetiaan juga bukan berarti menutup mata demi melindungi keluarga.
Dan memaafkan tidak berarti menghapus konsekuensi.
Beberapa kebenaran memang menghancurkan sesuatu.
Reputasi.
Karier.
Kepercayaan.
Bahkan gambaran kita tentang orang-orang yang kita cintai.
Tapi terkadang, sesuatu memang harus runtuh…
supaya kita berhenti hidup di dalam kebohongan dan mulai membangun sesuatu yang benar.
