Nama Perempuan Asing Itu Membuka Kebohongan Lima Tahun, dan Untuk Pertama Kalinya Suamiku Menyadari Aku Tidak Lagi Bisa Dikendalikan

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 77 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 – Nama Perempuan Asing Itu Membuka Kebohongan Lima Tahun, dan Untuk Pertama Kalinya Suamiku Menyadari Aku Tidak Lagi Bisa Dikendalikan

Aku menatap alamat yang tercetak di halaman terakhir itu berulang kali.

Tidak mungkin salah.

Nomor rumah, nama kompleks, bahkan kode posnya sama persis.

Itu rumah kami.

Rumah yang cicilannya kubayar selama lima tahun.

Namun di dalam dokumen investasi restoran, seorang perempuan bernama Nadira mencantumkan rumah itu sebagai alamat tempat tinggalnya.

Aku mengangkat kepala.

Suamiku tidak lagi marah.

Wajahnya justru pucat.

Dan perubahan kecil itu cukup untuk memberitahuku bahwa dia tahu sesuatu.

—Siapa Nadira?

Tidak ada jawaban.

Aku mengulanginya.

—Aku bertanya, siapa Nadira?

Adik iparku tiba-tiba menyela.

—Kak, kita pulang saja. Ini bukan tempat untuk membicarakan urusan keluarga.

Aku menatapnya.

—Aku tidak sedang bertanya kepadamu.

Dia langsung terdiam.

Suamiku menarik napas panjang.

—Dia hanya teman lama.

Aku hampir tertawa.

—Teman lama menggunakan alamat rumah kita?

—Itu cuma untuk keperluan administrasi.

—Administrasi apa?

Dia tidak menjawab.

Direktur proyek yang berdiri di sampingku kemudian berkata:

—Tim legal menemukan namanya karena dana 120 juta itu tidak langsung masuk ke rekening restoran. Uang tersebut lebih dulu masuk ke rekening perempuan ini, baru kemudian dipindahkan dalam beberapa transaksi.

Aku menoleh tajam kepada suamiku.

—Kamu bilang uang itu kamu pinjamkan kepada adikmu.

—Memang untuk restoran.

—Kalau begitu kenapa harus melalui rekening Nadira?

Kali ini justru ibu mertuaku yang terlihat gelisah.

Dia memegang lengan putranya.

—Sudahlah. Jelaskan saja semuanya.

Aku menatapnya.

—Ibu juga tahu?

Dia menghindari tatapanku.

Saat itulah aku mengerti.

Rahasia ini bukan hanya milik suamiku.

Aku menutup berkas tersebut.

—Baik. Kalian tidak perlu menjelaskannya di sini.

Suamiku terlihat lega.

Namun kalimatku berikutnya membuat ekspresinya kembali menegang.

—Kalian bisa menjelaskannya kepada pengacaraku.

—Pengacara?

Dia menatapku tak percaya.

—Kamu mau membawa masalah rumah tangga kita sejauh itu?

—Kamu mengambil uang dari rekening bersama tanpa persetujuanku, memindahkannya melalui rekening orang lain, dan menggunakan alamat rumah yang cicilannya kubayar untuk dokumen yang tidak pernah kuketahui. Menurutmu aku seharusnya melakukan apa?

—Aku suamimu!

Aku mengangguk.

—Itulah sebabnya aku memberimu kepercayaan selama lima tahun.

Aku mengembalikan berkas kepada direktur.

Kemudian aku berkata kepada petugas bank:

—Silakan lanjutkan urusan kendaraan. Itu bukan atas namaku.

Suamiku menatapku.

—Kamu benar-benar akan membiarkan mereka mengambil mobil itu?

—Mobil itu milikmu. Keputusan membayar atau tidak juga milikmu.

Aku berbalik dan berjalan kembali menuju lokasi proyek.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mampu menghentikanku.

Sore itu SUV tersebut dibawa pihak bank.

Restoran adik iparku juga ditutup sementara karena tunggakan sewa.

Namun masalah sebenarnya baru dimulai.

Aku menghubungi seorang pengacara dan menyerahkan seluruh riwayat transaksi keuangan lima tahun terakhir.

Hasilnya bahkan lebih buruk daripada dugaanku.

Selama pernikahan kami, aku telah membayar hampir seluruh cicilan rumah.

Tetapi enam bulan sebelumnya, suamiku diam-diam menggunakan dokumen rumah itu sebagai bagian dari jaminan sebuah pinjaman usaha.

Nama Nadira muncul sebagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan dana.

Dua hari kemudian, pengacaraku berhasil menemukan siapa perempuan itu.

Nadira bukan kekasih rahasia.

Kenyataan sebenarnya jauh lebih aneh.

Dia adalah sepupu jauh ibu mertuaku yang bekerja sebagai perantara pengajuan pinjaman.

Mereka menggunakan namanya karena adik iparku berkali-kali gagal mendapatkan pembiayaan.

Dengan bantuan Nadira, mereka mencoba membangun struktur seolah-olah restoran tersebut memiliki sumber modal dan aset pendukung yang lebih kuat.

Alamat rumahku dimasukkan tanpa sepengetahuanku.

Lebih buruk lagi, beberapa dokumen mencantumkan tanda tangan yang sekilas menyerupai milikku.

Aku menatap salinan itu cukup lama.

—Saya tidak pernah menandatangani ini.

Pengacaraku mengangguk.

—Karena itu jangan menghubungi mereka sendirian lagi. Simpan semua percakapan dan bukti transaksi.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Bukan karena masih mencintai suamiku.

Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Selama bertahun-tahun, aku mengira pengorbananku sedang membangun sebuah keluarga.

Ternyata bagi mereka, pengorbananku telah berubah menjadi sesuatu yang dianggap otomatis.

Aku membayar rumah, mereka menganggap wajar.

Aku membayar mobil, mereka menganggap wajar.

Aku menanggung kebutuhan ibu mertua, mereka menganggap kewajiban.

Sampai akhirnya mengambil uangku pun dianggap hal biasa.

Keesokan paginya, suamiku datang lagi.

Kali ini dia sendirian.

Dia menunggu di luar penginapan tempatku tinggal.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada kemeja rapi.

Dia terlihat kelelahan.

—Kita bicara sebentar.

Aku tidak mengundangnya masuk.

Kami duduk di bangku taman depan penginapan.

Dia menunduk cukup lama.

—Aku salah.

Itu pertama kalinya dalam lima tahun aku mendengar kalimat tersebut darinya.

Namun anehnya, aku tidak merasakan apa-apa.

—Tentang apa?

Dia terdiam.

Aku melanjutkan:

—Tentang mengambil 120 juta? Tentang menggunakan rumah sebagai jaminan? Tentang dokumen dengan tanda tanganku? Atau tentang membiarkan keluargamu menganggap penghasilanku sebagai milik mereka?

Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

—Aku pikir semuanya akan berhasil.

—Kalau restoran berhasil, apa kamu akan memberitahuku?

Dia tidak menjawab.

Dan diamnya adalah jawaban paling jujur yang pernah dia berikan.

—Aku bisa memperbaikinya.

Aku menggeleng.

—Yang rusak bukan restoran.

Dia menatapku.

—Lalu apa?

—Kepercayaanku.

Untuk pertama kalinya, matanya memerah.

—Jangan bicara seperti semuanya sudah berakhir.

Aku berdiri.

—Aku harus ke lokasi proyek.

Dia ikut berdiri.

—Lalu kita bagaimana?

Aku memandang laki-laki yang pernah menjadi pusat hampir seluruh rencana hidupku.

Aneh sekali.

Dulu aku takut kehilangan pernikahan ini.

Sekarang aku justru takut kembali menjadi diriku yang lama.

—Aku akan mengajukan perceraian.

Wajahnya berubah.

—Jangan.

—Keputusan ini bukan dibuat karena marah.

—Beri aku kesempatan.

Aku menggeleng.

—Lima tahun adalah kesempatan yang sangat panjang.

Aku meninggalkannya di sana.

Tiga minggu kemudian, proses hukum dimulai.

Setelah menerima surat resmi, ibu mertuaku menelepon puluhan kali.

Aku tidak menjawab.

Adik iparku mengirim pesan panjang.

Dia meminta maaf.

Untuk pertama kalinya, dia mengakui bahwa dirinya tahu uang restoran berasal dari tabungan kami.

Dia bahkan mengaku mengetahui rencana penggunaan alamat rumah.

“Aku pikir Kakak tidak akan mempermasalahkannya karena selama ini Kakak selalu membantu.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu aku membalas:

“Justru karena aku selalu membantu, kalian lupa bahwa aku juga berhak mengatakan tidak.”

Aku tidak lagi menjawab pesan berikutnya.

Beberapa bulan kemudian, restoran itu akhirnya ditutup permanen.

Sebagian perlengkapan dijual untuk melunasi utang.

Ibu mertuaku menggunakan sebagian tabungan hari tuanya untuk membantu menyelesaikan kewajiban yang sebelumnya dia katakan sama sekali tidak boleh disentuh.

Ironis.

Ketika uangku tersedia, uangnya adalah “jaminan hari tua”.

Ketika aku berhenti membayar, ternyata tabungan itu bisa digunakan juga.

Sementara itu, proyekku berkembang jauh lebih cepat daripada perkiraan.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku mempunyai hidup yang benar-benar milikku.

Aku makan ketika lapar.

Aku membeli sesuatu tanpa merasa bersalah.

Aku bahkan mulai mengirim uang setiap bulan untuk memperbaiki rumah orang tuaku—tujuan asli dari tabungan 120 juta itu.

Enam bulan setelah aku meninggalkan rumah, pengacaraku menelepon.

—Ada perkembangan.

Aku meletakkan pensil.

—Tentang perceraian?

—Tentang rumah.

Aku terdiam.

Dia melanjutkan:

—Pihak suami Anda akhirnya menyetujui penyelesaian. Karena sebagian besar cicilan dan uang muka dapat dibuktikan berasal dari penghasilan Anda, serta ada masalah penggunaan dokumen tanpa persetujuan, mereka menawarkan melepaskan klaim atas rumah untuk menyelesaikan sengketa.

Aku berdiri dari kursi.

—Artinya?

—Jika Anda setuju dengan persyaratan akhirnya, rumah itu akan menjadi milik Anda.

Aku melihat keluar jendela.

Matahari sore menyinari bangunan proyek yang hampir selesai.

Seharusnya aku merasa menang.

Tetapi anehnya, yang kurasakan justru tenang.

Aku akhirnya mengerti.

Yang paling kuinginkan bukan membuat mereka kalah.

Aku hanya ingin mendapatkan kembali sesuatu yang selama bertahun-tahun perlahan hilang.

Hak untuk menentukan hidupku sendiri.

Namun aku belum tahu bahwa sebelum perceraian itu benar-benar selesai, suamiku akan datang sekali lagi.

Dan kali ini dia membawa sebuah kotak kecil berisi sesuatu yang membuatku akhirnya mengetahui alasan sebenarnya mengapa ibunya begitu keras mempertahankan rumah tersebut.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)