Setahun Setelah Kebenaran Tentang Ibuku Terungkap, Aku Kembali ke Rumah Lama dan Menemukan Arga Menepati Janji Tanpa Memintaku Pulang

Avatar penulis
Cerita 05
8 menit baca 88 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Setahun Setelah Kebenaran Tentang Ibuku Terungkap, Aku Kembali ke Rumah Lama dan Menemukan Arga Menepati Janji Tanpa Memintaku Pulang

Setahun kemudian, aku kembali berdiri di depan rumah tua itu.

Namun kali ini tidak ada debu.

Tidak ada pintu rusak.

Tidak ada orang yang berteriak di halaman.

Sebuah papan kecil tergantung di dekat gerbang:

“Rumah Ratih — Pusat Pendampingan Perempuan.”

Aku tersenyum.

Setelah penyelidikan berlangsung berbulan-bulan, transaksi lama yang ditemukan dalam kartu memori berhasil diverifikasi melalui arsip perusahaan dan catatan keuangan lainnya.

Nama ibuku akhirnya dibersihkan dari berbagai tuduhan yang selama puluhan tahun beredar diam-diam.

Kebenaran ternyata tidak bisa mengembalikan orang yang sudah pergi.

Tetapi setidaknya, kebenaran mengembalikan martabatnya.

Untuk pertama kalinya aku bisa berdiri di depan fotonya dan berkata:

—Ibu tidak salah.

Ayah Arga harus mempertanggungjawabkan berbagai pelanggaran keuangan yang terbukti melalui proses penyelidikan.

Beberapa aset yang berkaitan dengan transaksi bermasalah dibekukan sementara untuk proses hukum.

Aku tidak mengikuti setiap detailnya.

Aku tidak ingin menghabiskan hidup dengan menunggu kehancuran orang lain.

Aku ingin membangun hidupku sendiri.

Dengan bantuan harta sederhana yang ditinggalkan Bibi Ratih dan sejumlah dana dari penjualan rumah lamanya yang lain, aku mengubah tempat ini menjadi pusat pendampingan bagi perempuan yang membutuhkan bantuan hukum dasar, pelatihan kerja, atau sekadar tempat aman untuk memulai kembali.

Sari ikut membantuku.

Setelah meninggalkan perusahaan lama, dia bergabung dengan sebuah firma audit independen.

Persahabatan kami dimulai dengan sangat aneh.

Perempuan yang dulu kukira merebut suamiku justru menjadi salah satu orang yang paling sering menemaniku minum kopi.

Suatu sore dia berkata:

—Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan.

—Apa?

—Arga datang ke kantorku tiga bulan lalu.

Tanganku berhenti menulis.

—Untuk apa?

—Dia bertanya apakah pusat ini membutuhkan dana.

Aku menghela napas.

—Aku sudah bilang aku tidak mau menerima uang darinya.

—Aku tahu. Dia juga tahu.

Sari tersenyum.

—Makanya dia tidak memberikan uang.

—Lalu?

—Dia menawarkan tenaga.

Aku menatapnya.

—Tenaga?

—Setiap akhir pekan dia membantu memperbaiki bangunan belakang.

Aku hampir menjatuhkan pena.

—Apa?

Sari menunjuk jendela.

Di halaman belakang ada bangunan kecil yang sedang direnovasi untuk menjadi ruang pelatihan.

—Orang yang selama ini datang sebelum kamu tiba setiap Sabtu pagi itu Arga.

Aku langsung berdiri.

—Kenapa tidak ada yang bilang?

—Karena dia meminta kami tidak mengatakannya.

Aku keluar.

Di belakang bangunan, seorang laki-laki sedang memperbaiki rak kayu.

Kaosnya penuh debu.

Rambutnya berantakan.

Aku mengenal punggung itu.

—Arga.

Tangannya berhenti.

Dia berbalik.

Selama beberapa detik kami hanya saling menatap.

Dia terlihat lebih kurus.

Namun wajahnya jauh lebih tenang.

—Hai.

—Jadi selama ini kamu yang memperbaiki tempat ini?

Dia mengangguk.

—Sebagian kecil.

—Kenapa?

Arga meletakkan peralatan di lantai.

—Karena Nenek meninggalkan surat lain untukku.

Aku terdiam.

—Apa katanya?

Dia tersenyum tipis.

—“Kalau suatu hari Kirana pergi, jangan kejar dia dengan janji. Kejar dirimu sendiri sampai kamu menjadi orang yang tidak perlu berbohong untuk melindungi seseorang.”

Dadaku terasa hangat sekaligus sakit.

—Kamu tidak pernah memberitahuku.

—Karena aku tidak datang untuk membuatmu kembali.

Kalimat itu membuatku teringat percakapan kami setahun lalu.

“Perbaiki hidupmu bukan karena berharap aku kembali.”

Ternyata dia mendengarnya.

Benar-benar mendengarnya.

Arga menceritakan bahwa dia telah keluar dari perusahaan keluarga.

Dia membangun usaha konsultasi kecil bersama dua mantan rekannya.

Tidak ada rumah besar.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada nama keluarga sebagai pintu masuk.

—Sulit? tanyaku.

—Sangat.

Aku tertawa kecil.

—Bagus.

Dia ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami berbicara tanpa rahasia berdiri di antara kami.

Tetapi aku masih memiliki satu pertanyaan.

—Arga, malam ketika aku meninggalkan rumah… kenapa kamu berdiri bersama Sari di lantai dua dan membiarkan ibumu mengusirku?

Senyumnya menghilang.

—Karena pagi itu Sari baru menemukan bukti bahwa Ayah sedang mengawasi kita. Aku pikir kalau Ayah percaya hubungan kita benar-benar berakhir, dia akan berhenti mengawasimu.

Aku menatapnya.

—Kamu masih memutuskan semuanya sendirian.

—Ya.

Arga mengangguk.

—Dan itu salah.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan panjang.

Hanya pengakuan.

Aneh sekali.

Dulu aku menunggu bertahun-tahun untuk mendengar Arga berkata bahwa dia salah.

Sekarang setelah dia mengatakannya, aku justru tidak merasakan kemenangan.

Aku hanya merasa tenang.

—Aku belum bisa melupakan semuanya.

—Aku tahu.

—Mungkin aku juga tidak akan pernah menjadi Kirana yang dulu.

—Aku tidak ingin kamu menjadi dia lagi.

Aku menatapnya.

Arga tersenyum.

—Kirana yang dulu terlalu sering mengalah supaya semua orang nyaman.

Mataku terasa panas.

—Kamu berubah.

—Sedikit.

—Jangan sombong.

Dia tertawa.

Sore itu kami minum teh di teras rumah tua.

Tidak ada pembicaraan tentang kembali menikah.

Tidak ada janji bahwa semuanya akan sempurna.

Kami hanya berbicara.

Tentang pekerjaan.

Tentang Bibi Ratih.

Tentang Nenek.

Tentang ibuku.

Dan untuk pertama kalinya, tentang masa depan tanpa memaksakan siapa yang harus berada di dalamnya.

Tiga bulan kemudian, Arga mengajakku makan malam.

Aku menerimanya.

Enam bulan kemudian, aku mengizinkannya mengantarku pulang.

Hampir dua tahun setelah aku meninggalkan rumah keluarga itu dengan koper kosong, Arga berdiri di halaman Rumah Ratih membawa sesuatu.

Bukan cincin.

Melainkan sebuah kunci.

Aku tertawa saat melihatnya.

—Kamu serius? Setelah semua masalah kita dimulai karena sebuah kunci?

Arga ikut tertawa.

—Makanya kali ini aku ingin melakukan sesuatu dengan benar.

Dia meletakkan kunci itu di telapak tanganku.

—Aku membeli rumah kecil.

Aku mengangkat alis.

—Lalu?

—Aku ingin kamu melihatnya.

—Sebagai apa?

Arga berpikir sejenak.

—Sebagai Kirana.

Jawaban itu membuatku tersenyum.

Kami pergi melihat rumah tersebut.

Tidak besar.

Hanya dua kamar tidur, halaman kecil, dan dapur yang menghadap taman.

Di ruang tengah tidak ada satu pun perabot.

—Kosong sekali.

—Sengaja.

—Kenapa?

Arga menatapku.

—Karena aku tidak mau mengisi rumah ini dengan keputusan yang kubuat sendiri.

Dia menarik napas.

—Kalau suatu hari kamu ingin tinggal di sini bersamaku, kita akan memilih semuanya bersama. Kalau kamu tidak mau, rumah ini tetap milikku dan aku akan baik-baik saja.

Aku menggenggam kunci itu.

Dulu aku meninggalkan rumahnya dengan sebuah koper kosong karena merasa tidak memiliki apa pun.

Sekarang aku memahami sesuatu.

Yang kubutuhkan bukan rumah besar.

Bukan keluarga kaya.

Bukan pula seorang suami yang mengaku ingin melindungiku dengan menyembunyikan kebenaran.

Aku membutuhkan hak untuk memilih.

Dan kali ini, pilihan itu benar-benar berada di tanganku.

Setahun kemudian, kami menikah lagi.

Tidak ada pesta besar.

Hanya belasan orang di halaman Rumah Ratih.

Sari menjadi salah satu saksi.

Ibu Arga datang sendirian.

Hubungan kami tidak pernah kembali seperti dulu.

Aku juga tidak menginginkannya.

Namun beberapa bulan sebelumnya, dia datang menemuiku dan mengatakan sesuatu yang tidak pernah kusangka akan kudengar.

—Aku tidak meminta kamu melupakan caraku memperlakukanmu. Aku hanya ingin meminta maaf tanpa menuntut kamu memaafkanku.

Hari itu aku tidak langsung memeluknya.

Aku hanya menjawab:

—Terima kasih sudah mengatakannya.

Kadang-kadang sebuah hubungan tidak harus kembali seperti semula untuk bisa menjadi lebih baik.

Sore setelah upacara sederhana kami selesai, aku berdiri di teras bersama Arga.

Di dinding ruang utama tergantung foto tiga perempuan.

Bibi Ratih.

Nenek Arga.

Dan ibuku.

Di bawahnya terdapat tulisan kecil:

“Untuk mereka yang memilih menyimpan kebenaran sampai generasi berikutnya cukup berani untuk membukanya.”

Arga menggenggam tanganku.

—Menyesal?

Aku menatapnya.

—Tentang apa?

—Memberiku kesempatan kedua.

Aku tersenyum.

—Aku tidak memberimu kesempatan kedua.

Dia mengernyit.

Aku melanjutkan:

—Aku memberi diriku sendiri kesempatan untuk memilih lagi. Kebetulan kali ini aku masih memilihmu.

Arga tertawa.

Mataku tertuju pada sebuah benda di atas meja.

Dua kunci kuningan tua tergeletak berdampingan.

Kunci milik Bibi Ratih.

Dan kunci pemberian Nenek.

Dulu kedua benda kecil itu membuka pintu menuju rahasia yang menghancurkan kehidupanku.

Namun pada akhirnya, rahasia itu juga membebaskanku.

Aku kehilangan rumah yang pernah kutinggali selama empat tahun.

Sebagai gantinya, aku menemukan nama baik ibuku.

Aku kehilangan keluarga yang kupaksakan untuk menerimaku.

Sebagai gantinya, aku menemukan orang-orang yang memilih berdiri di sampingku tanpa syarat.

Dan aku hampir kehilangan Arga.

Tetapi mungkin kami memang harus kehilangan versi lama dari diri kami terlebih dahulu sebelum bisa bertemu kembali sebagai dua manusia yang berbeda.

Aku mengambil kedua kunci tua itu dan memasukkannya ke dalam kotak kaca di ruang utama Rumah Ratih.

Aku tidak lagi membawanya ke mana-mana.

Aku tidak membutuhkannya.

Karena pintu terpenting dalam hidupku akhirnya sudah terbuka.

Bukan pintu rumah tua itu.

Bukan pintu menuju masa lalu ibuku.

Melainkan pintu menuju kehidupan yang bisa kupilih sendiri.

Aku menoleh kepada Arga.

—Pulang?

Dia mengulurkan tangan.

—Pulang.

Kali ini aku menyambut tangannya.

Bukan karena aku takut berjalan sendirian.

Melainkan karena setelah belajar berdiri dengan kakiku sendiri, aku tahu aku bebas memilih siapa yang pantas berjalan di sampingku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, kata “rumah” tidak lagi berarti sebuah tempat yang harus kutahan demi seseorang.

Rumah adalah tempat aku tidak perlu kehilangan diriku sendiri agar bisa dicintai.

Aku menutup pintu Rumah Ratih perlahan.

Di balik kaca, dua kunci tua itu berkilau terkena cahaya senja.

Kisah yang dimulai dengan sebuah koper kosong akhirnya berakhir dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta apa pun.

Kebenaran.

Kebebasan.

Dan sebuah keluarga yang kali ini kubangun dengan pilihanku sendiri.