Putraku Membawa Pacar Bertato yang Memanggilku “Mbak Ratna”—Tiga Hari Kemudian, Dialah yang Berdiri di Depanku Saat Mantan Suamiku Membawa Sertifikat Lama dan Menuntut Rumah yang Kubayar Sendiri
Bagian 1 — Aku Mengira Perempuan Bertato Itu Akan Membawa Masalah, Sampai Satu Ketukan Sendok di Meja Makan Membuat Putraku Tunduk dan Aku Mulai Ragu
Seumur hidup, aku tidak pernah berharap Bagas menikahi perempuan kaya atau anak orang terpandang.
Aku hanya ingin dia menemukan seseorang yang tahu cara menghargai keluarga, mau bekerja, dan tidak membuat hidupnya makin berantakan.
Aku membesarkan Bagas sendirian sejak dia kelas dua SMP. Pagi sampai sore aku menjadi kasir minimarket di Semarang, malamnya menerima pesanan nasi kotak dari tetangga. Bagas bukan anak nakal, tetapi sifatnya terlalu mudah mengikuti orang. Teman mengajak nongkrong, dia ikut. Bos meminta lembur mendadak, dia mengangguk. Bahkan membeli sepatu pun masih bertanya kepadaku.
Karena itu, ketika Jumat malam dia menelepon dan berkata, “Ma, besok aku mau bawa pacarku ke rumah,” aku sampai salah memasukkan gula ke sambal kecap.
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Pagi-pagi aku pergi ke Pasar Peterongan. Aku membeli ayam kampung, udang, daging sapi untuk semur, dan sekotak anggur yang harganya membuatku berpikir dua kali.
“Pertama kali calon menantu datang,” pikirku. “Jangan sampai jamuan kita memalukan.”
Pukul dua siang, bel berbunyi.
Aku membuka pintu dengan celemek masih terikat di pinggang.
Senyumku langsung kaku.

Perempuan di depan rumah berambut pendek sebatas rahang, memakai jaket denim hitam dan sepatu bot. Di telinga kirinya ada tiga tindik kecil. Dari pergelangan hingga lengan kanannya terbentang tato bunga peoni bercampur motif parang.
Dia lebih tinggi daripada Bagas.
Lalu dia menyerahkan dua kotak lapis legit sambil tersenyum lebar.
“Halo, Mbak Ratna. Aku Nadira. Akhirnya ketemu juga.”
Mbak Ratna?
Usiaku empat puluh delapan tahun.
Perempuan yang sedang dipacari anakku memanggilku “Mbak”.
Aku menoleh ke Bagas. Anak itu langsung sibuk menata sandal.
“Masuk,” kataku pendek.
Nadira masuk tanpa kikuk. Dia memuji sirih gadingku, melihat foto kelulusan Bagas, lalu membantu membawa piring ke meja tanpa diminta.
Tetapi hatiku sudah telanjur tidak nyaman.
Saat makan, aku sengaja duduk di seberangnya.
Dia makan lahap, tidak memilih-milih, bahkan memuji sambal goreng buatanku. Ponselnya sempat menyala sekali. Dia melihat layar, mematikannya, lalu kembali makan.
Sebaliknya, Bagas sejak duduk tidak berhenti menggulir video.
Aku sudah melotot tiga kali. Dia tidak sadar.
Aku baru hendak menegur ketika terdengar bunyi “tak!”
Nadira mengetukkan ujung sendok ke punggung tangan Bagas.
“Taruh ponselnya.”
Bagas terkejut. “Nad, sebentar saja.”
“Ibumu masak dari pagi. Kamu duduk di meja, tapi wajahmu cuma lihat layar. Makan yang benar.”
Bagas menatapku, lalu menatap Nadira.
Tanpa protes, dia menyimpan ponselnya.
Aku sampai lupa mengunyah.
Sudah berbulan-bulan aku menegur kebiasaan itu. Jawabannya selalu, “Iya, Ma, nanti.”
Perempuan ini cukup bicara satu kali.
Setelah makan, Nadira menyuruh Bagas mencuci piring.
“Yang masak ibumu. Kamu bagian bersih-bersih.”
Bagas mau mengeluh, tetapi akhirnya masuk dapur.
Aku duduk di sofa dengan perasaan campur aduk.
Kesal, iya.
Sedikit puas, juga iya.
Saat Bagas masih mencuci piring, aku mulai bertanya.
“Kamu umur berapa?”
“Tiga puluh.”
Lima tahun lebih tua dari Bagas.
“Kerja?”
“Aku punya workshop sablon, ilustrasi, dan custom helm di Tembalang. Ada tiga pegawai.”
Jawaban itu sedikit berbeda dari dugaanku.
“Orang tuamu?”
“Ibu tinggal di Salatiga. Ayah meninggal waktu aku kuliah.”
Nada suaranya berubah sebentar ketika menyebut ayah. Aku memilih tidak meneruskan.
Setelah Nadira pulang, aku menunggu Bagas di ruang tamu.
“Kamu serius?”
“Serius.”
“Dia lebih tua. Bertato. Cara bicaranya juga terlalu bebas. Kamu yakin?”
Bagas diam sesaat.
“Ma, Nadira memang tidak seperti bayangan Mama. Tapi dia orang pertama yang bikin aku berhenti hidup asal ikut orang.”
Kalimat itu membuatku tersinggung.
“Jangan nanti menyesal.”
Bagas menatapku. “Kalau aku menyesal, itu tanggung jawabku.”
Aku tidak menyangka anak yang biasanya menurut bisa menjawab begitu.
Keesokan harinya, Nadira datang lagi membawa kotak perkakas.
“Apa lagi ini?” tanyaku.
Dia menunjuk keran dapur yang menetes sejak sebulan lalu.
“Bagas bilang tagihan air naik. Aku cek, karet kerannya sudah rusak.”
Sebelum aku sempat melarang, dia sudah mengganti karet, mengencangkan sambungan pipa, lalu menyuruh Bagas membersihkan kerak di bawah wastafel.
“Kalau kamu bisa main game tiga jam, kamu bisa pegang sikat dua puluh menit,” katanya.
Bagas menurut.
Siangnya Nadira membeli pecel dan tahu gimbal untuk kami bertiga. Dia tidak memasak, tidak bersikap seperti pemilik rumah, hanya duduk di lantai dapur sambil membereskan perkakasnya.
Aneh sekali.
Rasa tidak sukaku turun sedikit.
Hanya sedikit.
Sampai hari ketiga.
Pagi itu, saat aku menyapu teras, nomor tak dikenal menelepon.
Begitu kuangkat, suara laki-laki dari masa lalu membuat tanganku dingin.
“Ratna. Ini Haris.”
Aku membeku.
Mantan suamiku.
Sebelas tahun lalu dia pergi bersama perempuan dari kantor ekspedisinya. Bagas baru SMP. Haris tidak pernah membayar nafkah secara teratur dan hampir tidak pernah menghubungi anaknya.
“Ada apa?”
“Aku mau bicara soal rumah.”
Sapuku jatuh.
Rumah ini dibeli saat kami masih menikah. Uang mukanya berasal dari warisan ayahku. Setelah Haris pergi, sisa cicilan delapan tahun kubayar sendiri.
Saat bercerai, dia menerima uang penyelesaian dan menandatangani kesepakatan bahwa dia tidak akan menuntut rumah lagi. Hanya saja, proses administrasi sertifikat dulu tidak pernah kuselesaikan karena biaya dan ketidaktahuanku.
“Aku sekarang butuh bagianku,” katanya. “Besok aku datang.”
Siang berikutnya, Haris benar-benar muncul.
Tidak sendiri.
Di belakangnya berdiri Siska—perempuan yang dulu ikut menghancurkan rumah tanggaku.
Haris memandang rumahku seperti orang menilai barang lelang.
“Rumah ini dibeli saat kita menikah. Aku mau setengah.”
“Kamu sudah melepas hakmu sebelas tahun lalu.”
Siska tertawa kecil.
“Kalau suratmu memang kuat, kenapa sertifikat lama masih mencantumkan nama Haris?”
Darahku seperti turun ke kaki.
Haris mengeluarkan map bening dan menunjukkan fotokopi sertifikat.
“Dua minggu,” katanya. “Jual rumah ini dan bagi uangnya, atau bayar aku enam ratus lima puluh juta.”
Tanganku mulai gemetar.
Lalu pintu pagar berbunyi.
Nadira baru datang membawa dua gelas es kopi. Begitu melihat wajahku, dia meletakkan minuman itu di meja teras dan berjalan mendekat.
Dia berdiri tepat di depanku.
Tatapan santainya hilang.
“Kalau Bapak mau menekan calon ibu mertua saya,” katanya dingin, “lewati saya dulu.”
Bagian 2 — Mantan Suamiku Membawa Fotokopi Sertifikat dan Ancaman Hukum, Namun Nadira Menemukan Satu Tanggal yang Membuat Ceritanya Mulai Retak di Depan Kami
Haris tertawa mengejek.
“Kamu siapa?”
“Nadira.”
“Pengacara?”
“Bukan.”
“Kalau bukan, jangan ikut campur.”
Nadira tidak bergeser.
“Betul, saya bukan pengacara. Jadi saya tidak akan sok bicara hukum. Tapi sebelum Bapak mengancam orang, boleh saya lihat dokumen yang Bapak bawa?”
Haris hendak menolak, tetapi Siska malah menyodorkan map.
“Silakan. Biar puas.”
Nadira membaca fotokopi sertifikat itu pelan, lalu menunjuk cap di sudut halaman.
“Salinan ini dibuat tahun berapa?”
Haris mengerutkan kening.
“2014,” jawabku setelah melihatnya.
Nadira menoleh kepadaku.
“Perceraian kapan?”
“2015.”
“Kesepakatan pembagian aset?”
“Bulan yang sama.”
Dia mengangguk.
“Berarti kertas ini hanya menunjukkan keadaan sebelum kesepakatan. Kita tetap harus cek dokumen setelahnya.”
Haris langsung merebut map.
“Jangan merasa pintar.”
Aku sebenarnya tahu urutan tahunnya. Tetapi saat panik, otakku seperti mati.
Setelah Haris dan Siska pergi, Nadira memintaku mengeluarkan semua dokumen, bukan hanya sertifikat.
Kami membuka kotak tua di lemari kamar.
Di sana ada putusan cerai, bukti transfer Rp70 juta kepada Haris, kuitansi penerimaan uang, dan akta kesepakatan pembagian harta yang dibuat di hadapan notaris.
Nadira membaca lembar demi lembar.
“Bukti cicilan setelah dia pergi?”
Aku menatapnya.
Ada.
Delapan tahun aku membayar melalui rekening yang sama. Aku masih menyimpan buku tabungan lama, slip pembayaran, dan surat pelunasan bank.
Nadira menyusun semuanya berdasarkan tanggal.
“Besok jangan debat lagi di rumah,” katanya. “Kita cari kantor notaris yang membuat akta ini. Minta salinan resmi dan tanya prosedur berikutnya. Setelah itu konsultasi ke orang yang memang mengerti hukum.”
Bagas yang baru pulang langsung pucat ketika tahu ayahnya datang.
“Ma, aku telepon Papa saja—”
“Jangan,” potong Nadira. “Kalau sedang emosi, jangan kasih dia kalimat yang bisa dipelintir. Semua lewat bukti.”
Bagas menutup mulut.
Keesokan paginya kami pergi ke kantor notaris lama di Jalan Pandanaran.
Notaris yang menangani perceraian kami sudah pensiun, tetapi arsip kantornya masih disimpan penerusnya.
Dua jam kemudian, aku memegang salinan legalisir akta yang selama bertahun-tahun bahkan tidak kuingat isinya secara lengkap.
Ada satu kalimat penting.
Haris telah menerima Rp70 juta sebagai penyelesaian penuh dan menyatakan tidak akan menuntut rumah tersebut lagi.
Kami kemudian berkonsultasi dengan advokat yang direkomendasikan kantor notaris.
Dia tidak menjanjikan kemenangan instan.
“Dokumen Ibu cukup berarti,” katanya. “Tapi status administrasi sertifikat jangan dibiarkan. Kami sarankan cek dengan PPAT dan BPN untuk langkah yang tepat. Kalau pihak sana menggugat, siapkan semua bukti pembayaran dan kesepakatan ini.”
Aku baru merasa bisa bernapas.
Dalam perjalanan pulang, aku akhirnya bertanya sesuatu yang sejak kemarin menggangguku.
“Kenapa kamu repot-repot begini? Ini bukan urusanmu.”
Nadira menatap jalan dari kursi depan beberapa detik.
“Dulu setelah Ayah meninggal, paman saya pernah mencoba mengambil kios kecil milik Ibu. Ibu saya terlalu takut untuk membaca surat-surat dan selalu bilang, ‘Sudahlah, mungkin memang bukan rezeki kita.’ Saya yang bolak-balik urus dokumen sampai selesai. Sejak itu saya paling tidak tahan melihat orang menyerah hanya karena lawannya bicara lebih keras.”
Aku terdiam.
Tiba-tiba tato, sepatu bot, dan cara bicaranya yang selama ini membuatku risih terasa tidak penting.
Untuk pertama kalinya aku memanggil namanya tanpa nada dingin.
“Nadira… terima kasih.”
Dia hanya menjawab, “Belum selesai, Mbak. Jangan terima kasih dulu.”
Sampai malamnya, Haris mengirim pesan.
Bukan kepadaku.
Kepada Bagas.
“Kalau ibumu keras kepala, Papa bawa ke pengadilan. Rumah bisa jadi objek sengketa. Kamu siap lihat ibumu kehilangan tempat tinggal?”
Bagas memperlihatkan pesan itu dengan tangan gemetar.
Lalu Haris mengirim foto kedua.
Foto tanda tangan Bagas pada sebuah surat.
Bagas langsung pucat.
“Aku pernah tanda tangan ini dua tahun lalu.”
“Apa?” tanyaku.
“Papa bilang cuma untuk pembaruan data keluarga. Aku tidak baca.”
Dadaku serasa ditusuk.
Di atas tanda tangan Bagas tertulis bahwa dia “mengetahui dan tidak keberatan atas klaim ayahnya terhadap rumah keluarga”.
“Bagas!” bentakku.
Dia menunduk.
“Ma, aku benar-benar tidak tahu.”
Aku ingin marah sekaligus menangis.
Lalu pesan terakhir masuk.
“Besok jam sepuluh aku datang dengan orang yang mau menaksir rumah. Kalau kalian menolak, kita ketemu di pengadilan.”
Nadira membaca layar cukup lama.
Kemudian dia berkata, “Bagus.”
Aku menatapnya tajam.
“Apanya yang bagus?”
Dia mengangkat wajah.
“Besok dia datang. Jangan cegah. Kita biarkan dia menjelaskan sendiri bagaimana tanda tangan Bagas bisa ada di surat itu.”
Bagian 3 — Saat Penaksir Rumah Datang, Haris Mengira Aku Sudah Menyerah, Padahal Rekaman Percakapan dan Dokumen Resmi Menutup Semua Jalan Pulangnya untuk Selamanya
Besok pukul sepuluh kurang lima, Haris datang bersama Siska dan seorang pria yang mengaku penaksir properti.
Aku membuka pintu.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak gemetar.
Nadira duduk di ruang tamu.
Bagas berdiri di sampingku.
Dan advokat yang kami temui kemarin duduk di kursi makan dengan map cokelat di tangannya.
Wajah Haris berubah.
“Ini apa?”
“Obrolan keluarga,” kataku. “Biar ada yang membantu menjelaskan.”
Haris mendengus, tetapi tetap masuk.
Pria penaksir mulai menanyakan luas tanah dan tahun renovasi. Advokat kami menghentikannya.
“Maaf, Bapak datang atas permintaan siapa?”
“Haris. Katanya rumah ini akan dijual.”
Advokat menoleh kepada Haris.
“Bapak pernah menandatangani akta kesepakatan pembagian harta tanggal 18 Agustus 2015?”
Haris diam.
Siska buru-buru menyela.
“Itu cuma surat lama.”
Advokat mengeluarkan salinan legalisir.
“Akta ini disertai bukti penerimaan Rp70 juta dan berkaitan dengan penyelesaian harta setelah perceraian. Kalau Bapak ingin menggugat, silakan melalui jalur hukum. Tapi jangan bertindak seolah rumah ini sudah bebas dijual.”
Wajah Haris menegang.
Kemudian dia menunjuk Bagas.
“Anak saya sendiri sudah menyatakan tidak keberatan.”
Advokat melihat foto surat itu.
“Bagas bukan pihak yang dapat menghapus kesepakatan antara kedua orang tuanya. Apalagi kalau tanda tangannya diperoleh dengan penjelasan berbeda.”
Nadira kemudian meletakkan ponselnya di meja.
“Haris, dua tahun lalu Bapak bilang kepada Bagas tanda tangannya hanya untuk pembaruan data keluarga, benar?”
Haris terdiam.
Lalu, mungkin karena merasa terpojok, dia menjawab, “Ya, awalnya saya bilang begitu. Kalau saya jelaskan soal rumah, dia pasti tidak mau tanda tangan.”
Ruangan langsung sunyi.
Bagas menatap ayahnya seperti baru pertama kali melihat orang asing.
Nadira menekan layar ponselnya.
Sejak Haris masuk, percakapan direkam untuk dokumentasi sengketa atas arahan advokat kami.
Siska berdiri.
“Kalian menjebak!”
Aku ikut berdiri.
“Sebelas tahun lalu kalian meninggalkan aku dengan anak SMP dan cicilan rumah. Sekarang kalian memakai tanda tangan anakku yang didapat dengan alasan berbeda untuk menekan aku. Kalau hari ini kalian merasa dijebak, itu karena akhirnya kalian mendengar ucapan kalian sendiri.”
Haris memerah.
“Aku tetap bisa gugat.”
Advokat mengangguk.
“Itu hak Bapak. Kami juga siap menyerahkan akta, bukti kompensasi, riwayat cicilan, dan komunikasi kepada Bagas. Pengadilan yang menilai.”
Pria penaksir langsung berdiri.
“Saya tidak mau terlibat kalau statusnya seperti ini.”
Dia pamit.
Di teras, Siska mulai memarahi Haris. Dari pertengkaran mereka, kami baru tahu alasan sebenarnya.
Mereka sudah membayar tanda jadi sebuah ruko untuk usaha katering Siska dan membutuhkan dana besar dalam waktu cepat.
Haris mengira rumahku adalah jalan termudah.
Ternyata bukan.
Seminggu kemudian, surat somasi dari kuasa hukum Haris datang.
Kami membalas secara resmi dengan dokumen lengkap.
Setelah itu tidak ada gugatan yang diajukan. Haris tidak datang lagi, dan semua komunikasi selanjutnya kami simpan melalui jalur tertulis.
Beberapa bulan kemudian, setelah proses dengan PPAT dan kantor pertanahan selesai sesuai dokumen yang kami miliki, administrasi kepemilikan rumah akhirnya dibereskan.
Aku memegang berkas barunya lama sekali.
Bukan karena rumah itu membuatku kaya.
Tetapi karena pintu masa lalu akhirnya benar-benar tertutup.
Masih ada satu urusan yang belum kuselesaikan.
Suatu Minggu, Nadira datang membawa martabak manis.
Aku menyuruhnya duduk.
“Nad.”
Dia menoleh.
“Mulai sekarang jangan panggil aku Mbak Ratna.”
Dia berkedip. “Terus panggil apa?”
Aku menahan senyum.
“Kalau memang serius sama Bagas, panggil Ibu.”
Nadira membeku.
Bagas yang sedang minum hampir tersedak.
Lalu perempuan bertato yang dulu membuatku ingin menutup pintu tersenyum lebar.
“Iya, Bu.”
Enam bulan kemudian mereka menikah sederhana di gedung serbaguna dekat rumah.
Bagas berubah jauh. Dia sudah berani pindah dari kantor yang bertahun-tahun menahannya dengan lembur tanpa bayaran, mulai mengatur uang sendiri, dan tidak lagi menjadikan aku tempat bertanya untuk setiap keputusan kecil.
Nadira tetap Nadira.
Rambut pendek.
Tato di lengan.
Tertawa keras.
Kadang terlalu terus terang.
Dan kalau Bagas menyentuh ponsel saat makan, Nadira masih mengetuk punggung tangannya dengan sendok.
Bedanya, sekarang aku ikut berkata, “Dengar istrimu.”
Kami bertiga tertawa.
Aku pernah menilai seseorang dari rambut, tato, umur, dan cara dia menyapaku.
Ternyata orang yang paling jauh dari bayanganku tentang “menantu ideal” justru berdiri paling depan saat rumah dan harga diriku hendak diambil.
Sejak saat itu aku belajar satu hal:
Penampilan bisa membuat kita salah menutup pintu.
Tetapi sikap seseorang ketika keluarga kita sedang jatuh—itulah yang menunjukkan siapa dia sebenarnya.
